Anda di halaman 1dari 14

BAHAN BAKAR DAN PELUMAS

DOSEN PENGAMPU :
JANTER P SIMANJUNTAK, S.T, M.T, Ph.D
HANAFI HASAN, S.T, M.T

DISUSUN OLEH :
MHD REZA SAPUTRA NST (5183122013)
JANU EFRIN SIHOTANG (5181122004)

JURUSAN PENDIDIKAN TEKNIK OTOMOTIF

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur atas kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat,
Taufik dan Hidayahnya sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Makalah ini berisikan tentang beberapa
peranan guru dalam pembelajaran, kemudian ada beberapa pendapat dari tokoh yang
terkemuka mengenai peran guru dalam proses pembelajaran, dan kinerja guru makalah
ini dapat memberikan informasi kepada kita tentang peran guru dalam pembelajaran
maupun kinerja guru yang baik dan optimal.

Kami mengakui bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena
itu, kami mengharapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan
yang membangun sehingga kedepannya makalah kami bisa menjadi lebih baik lagi.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang sudah terlibat
langsung dalam penyusunan makalah ini sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa
melindungi dan merangkul kita dalam dekapan mulianya dan juga meridhoi segala usaha
kita. Amin ya robbalalamin

Medan,20 September 2019

Penulis

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. 2

DAFTAR ISI ................................................................................................ 3

BAB I PEMBAHASAN ............................................................................... 4

A.Proses Pembakaran Bahan Bakar Padat ......................................... 4


B.Bahan Bakar Cair ............................................................................ 6
C.Bahan Bakar Gas ............................................................................. 9
BAB II PENUTUP....................................................................................... 13
1.Kesimpulan .................................................................................... 13
DAFTAR PUSTAKA

3
BAB I
PEMBAHASAN

A.Proses Pembakaran Bahan Bakar Padat


Batubara memiliki nilai kalor yang cukup potensial sebagai bahan bakar padat, dan
proses pembakaran bahan bakar padat jauh lebih kompleks daripada bahan bakar cair
ataupun gas, dimana pada umumnya bahan bakar padat mengalami 3 tahapan proses
pembakaran yang dijelaskan pada Gambar 1 sebagai berikut.

Gambar 1. Proses Pembakaran Bahan Bakar Padat

1. Pengeringan

Pada tahap ini partikel bahan bakar dipanaskan di atas temperatur vaporasi. Proses ini
berlangsung secara konveksi dengan melewatkan udara panas pada padatan. Air yang
terkandung dalam bahan bakar terdiri dari dua bentuk, yang pertama yaitu air terikat,
dimana air tertahan dalam ikatan kimiawi yang lemah atau terperangkap dalam struktur
mikro bahan bakar. Tahap kedua adalah air tak terikat yaitu berasal dari air terikat yang
berlebih atau air yang terdapat pada struktur makro padatan (pada pori-pori padatan).

2. Devolatilisasi/Pirolisis

Setelah kadar air dihilangkan maka temperatur dari partikel semakin meningkat sehingga
partikel mulai terdekomposisi dan terjadi proses pelepasan zat–zat yang mudah menguap
(volatile matter). Volatile matter merupakan bagian dari bahan bakar padat yang bisa
terbakar. Bagian ini terdiri dari bagian yang ringan sampai berat. Bagian yang ringan
akan menguap terlebih dahulu. Volatile matter keluar rongga bahan bakar dan memenuhi
pori-pori. Hal ini menyebabkan oksigen dari luar tidak dapat masuk kedalam partikel.
Pada tahap ini terjadi pemanasan partikel tanpa kehadiran oksigen yang disebut pirolisis.
Sebagian dari gas hasil pirolisis bereaksi dengan air dan gas produk pirolisis lain. Tabel
1.1 menunjukkan reaksi- reaksi yang terjadi selama pirolisis.

4
Tabel 1.1 Reaksi Kimia pada proses devolatilisasi/pirolisis

Hasil pirolisis terbakar dan membentuk nyala yang memperbesar devolatilisasi. Pada
bagian yang lain uap air akan mengalir keluar melewati pori-pori sehingga temperatur
pembakaran turun. Setelah seluruh air keluar maka nyala api akan lebih besar dan
temperatur naik.

3. Pembakaran Char (Kabon Tetap)

Char atau fixed carbon merupakan gumpalan matriks karbon dengan sedikit hidrogen
yang terdapat pada senyawa bahan bakar. Bagian ini sangat berpori yang berarti luas
permukaan bagian dalam sangat besar. Jika terdapat oksigen maka akan terjadi
pembakaran pada char. Char memiliki nilai kalor yang paling tinggi dibandingkan
dengan volatile matter. Ketika terjadi pembakaran pada char, maka temperatur akan naik
lebih tinggi dari sekitarnya. Proses ini merupakan tahapan akhir dari proses pembakaran
pada bahan bakar padat.

Temperatur nyala adalah temperatur pada saat jumlah zat mudah terbakar meningkat
secara cepat dan tepat sebelum bereaksi dengan oksigen secara kimia. Setiap unsur
memiliki temperatur nyala yang berbeda, misalnya karbon (C) memiliki temperatur nyala
sekitar 343 deg C. Pada kondisi nyata, setiap zat tidak terbakar secara tepat pada
temperatur nyala. Bentuk ruang bakar, rasio udara terhadap bahan bakar dan beragam
dampak dari campuran zat yang mudah terbakar mempengaruhi temperatur nyala.
Temperatur nyala bahan bakar batubara umumnya berada pada temperatur nyala karbon.
Komponen volatil pada bahan bakar batubara akan terlepas seiring dengan peningkatan
temperatur, namun tidak akan terbakar sebelum temperatur nyala tercapai.

5
B.Bahan Bakar Cair
Bahan bakar cair merupakan gabungan senyawa hidrokarbon yang
diperoleh dari alam maupun secara buatan. Bahan bakar cair umumnya berasal
dariminyak bumi. Dimasa yang akan datang, kemungkinan bahan bakar cair yang
berasal dari oil shale, tar sands, batubara dan biomassa akan meningkat. Minyak
bumi merupakan campuran alami hidrokarbon cair dengan sedikit belerang,
nitrogen, oksigen, sedikit sekali metal, dan mineral (Wiratmaja, 2010).
Dengan kemudahan penggunaan, ditambah dengan efisiensi thermis yang
lebih tinggi, serta penanganan dan pengangkutan yang lebih mudah, menyebabkan
penggunaan minyak bumi sebagai sumber utama penyedia energi semakin
meningkat. Secara teknis, bahan bakar cair merupakan sumber energi yang
terbaik, mudah ditangani, mudah dalam penyimpanan dan nilai kalor
pembakarannya cenderung konstan. Beberapa kelebihan bahan bakar cair
dibandingkan dengan bahan bakar padat antara lain :
- Kebersihan dari hasil pembakaran
- Menggunakan alat bakar yang lebih kompak
- Penanganannya lebih mudah
Salah satu kekurangan bahan bakar cair ini adalah harus menggunakan proses
pemurnian yang cukup komplek.

Karakteristik Bahan Bakar Cair


Karakteristik bahan bakar cair yang akan dipakai pada penggunaan
tertentu untuk mesin atau peralatan lainnya perlu diketahui terlebih dahulu,
dengan maksud agar hasil pembakaran dapat tercapai secara optimal. Secara
umum karakteristik bahan bakar cair yang perlu diketahui adalah sebagai berikut :

1. Berat Jenis, Specific Gravity, oAPI Gravity


Berat jenis dan oAPI Gravity menyatakan densitas atau berat persatuan volume
sesuatu zat. oAPI Gravity dapat diukur dengan hidrometer (ASTM 287),
sedangkan berat jenis dapat ditentukan dengan piknometer (ASTM D 941 dan
D 1217). Pengukuran oAPI Gravity dengan hidrometer dinyatakan dengan
angka 0-100. Hubungan oAPI Gravity dengan berat jenis adalah sebagai
berikut :

6
oAPI Gravity = 141,5 - 131,5 (Kern, 1965)
Specifik Gravity (60 oF)

2. Titik Tuang (Pour Point)


Titik tuang adalah suatu angka yang menyatakan suhu terendah dari bahan
bakar minyak sehingga bahan bakar tersebut masih dapat mengalir karena gaya
gravitasi. Titik tuang ini diperlukan sehubungan dengan adanya persyaratan
praktis dari prosuder penimbunan dan pemakaian dari bahan bakar minyak,
hal ini dikarenakan bahan bakar minyak sering sulit untuk di pompa, apabila
suhunya telah dibawah titik tuang.

3. Titik nyala (Flash Point)


Titik nyala adalah suatu angka yang menyatakan suhu terendah dari bahan
bakar minyak dimana akan timbul penyalaan api sesaat, apabila pada
permukaan minyak didekatkan pada nyala api. Titik nyala ini diperlukan
sehubungan dengan adanya pertimbangan-pertimbangan mengenai keamanan
dari penimbunan minyak dan pengangkutan bahan bakar minyak terhadap
bahaya kebakaran. Titik nyala tidak mempunyai pengaruh yang besar dalam
persyaratan pemakaian bahan bakar minyak untuk mesin diesel atau ketel uap.
4. Viskositas (Viscosity)
Viskositas adalah suatu angka yang menyatakan besar perlawanan / hambatan
dari suatu bahan cair untuk mengalir atau ukurannya tahanan geser dari bahan
cair. Makin tinggi viskositas minyak akan makin kental dan lebih sulit
mengalir. Demikian sebaliknya makin rendah viskositas minyak makin encer
dan lebih mudah minyak untuk mengalir, cara mengukur besar viskositas
adalah tergantung pada viscometer yang digunakan , dan hasil (besarnya
viskositas) yang dapat harus dibubuhkan nama viscometer yang digunakan
serta temperatur minyak pada saat pengukuran.
5. Nilai Kalor (Calorific Value)
Nilai kalor adalah suatu angka yang menyatakan jumlah panas / kalori yang
dihasilkan dari proses pembakaran sejumlah tertentu bahan bakar dengan
udara/ oksigen. Nilai kalor dari bahan bakar minyak umumnya berkisar antara

7
18,300 – 19,800 Btu/lb atau 10,160 -11,000 kkal/kg. Nilai kalor berbanding
terbalik dengan berat jenis (density). Pada volume yang sama, semakin besar berat
jenis suatu minyak, semakin kecil nilai kalornya, demikian juga sebaliknya
semakin rendah berat jenis semakin tinggi nilai kalornya. Nilai kalor atas untuk
bahan bakar cair ditentukan dengan pembakaran dengan oksigen bertekanan pada
bomb calorimeter. Peralatan ini terdiri dari container stainless steel yang dikelilingi
bak air yang besar. Bak air tersebut bertujuan meyakinkan bahwa temperatur akhir
produk akan berada sedikit diatas temperatur awal reaktan, yaitu 25 0C.
6. Angka Oktan
Angka oktan adalah suatu angka yang menyatakan kemampuan bahan bakar
minyak (khususnya mogas) dalam menahan tekanan kompresi untuk mencegah
gasoline terbakar sebelum busi menyala mencegah terjadinya denotasi (suara
mengelitik) didalam mesin bensin. Angka oktan mewakili suatu perbandingan antar
n-heptana yang memilki angka oktan nol dan iso- oktana yang memiliki angka
oktan seratus.
7. Kadar abu (Ash Content)
Kadar abu adalah jumlah sisa-sisa dari minyak yang tertinggal , apabila suatu
minyak dibakar sampai habis. Kadar abu ini dapat berasal dari minyak bumi sendiri
akibat kontak didalam perpipaan dn penimbunan (adanya partikel metal yang tidak
terbakar yang terkandung dalam bahan bakar minyak itu sendiri dan berasal dari
sistem penyaluran dan penimbunan.
8. Kandungan Belerang (Sulphur Content)
Semua bahan bakar minyak mengandung belerang/ sulfur dalam jumlah yang
sangat kecil. Walaupun demikian, berhubungan keberadaan belerang ini tidak
diharapkan karena sifatnya merusak, maka pembatasan dari jumlah kandungan
belerang dalam bahan bakar minyak adalah sangat penting dalam bahan bakar
minyak .
Hal ini disebabkan karena dalam proses pembakaran , belerang ini teroksidasi oleh
oksigen menjadi belerang oksida (SO2) dan belerang teroksida (SO3). Oksida
belerang ini apabila kontak dengan air merupakan bahan-bahan yang merusak dan
korosif terhadap logam-logam didalam ruang bakar dan sistem gas buang.

8
C.Bahan Bakar Gas
Bahan bakar dapat dianggap sebagai sumber daya yang terbatas energi potensial kimia
dimana energi yang tersimpan dalam struktur molekul senyawa tertentu dilepaskan melalui
reaksi kimia yang kompleks. “Marcel Dekker” mengklasifikasikan Bahan bakar kimia
dengan berbagai cara, termasuk dengan fase dan ketersediaan seperti yang ditunjukkan pada
Tabel 2.1. [1]

Tabel 2.1 Klasifikasi Bahan Bakar Kimia [1]


Bahan Bakar Sumber Daya Alam yang tersedia Sumber Daya yang melalui tahapan proses
 Batubara  Kokas
Padat  Kayu  Arang
 Tumbuh-tumbuhan  Anorganik limbah padat
 Organik limbah padat
 Minyak mentah  Minyak Sintetis
 Biologi minyak  Minyak sulingan
Cair  Bahan bakar tanaman  Alkohol
 Koloid bahan bakar
 Benzena
 Gas alam  Gas alam
 Marsh gas  Hidrogen
Gas  Biogas  Metana
 Propana
 Gasifikasi batubara

Bahan bakar gas umum digunakan adalah Liquefied Petroleum Gas (LPG), gas alam.
Nilai kalor bahan bakar gas dinyatakan dalam kilokalori per meter kubik normal (kCal/Nm3)
yaitu pada suhu normal (200C) dan tekanan (760 mmHg).

Sifat-sifat Bahan Bakar Gas


Karena hampir semua peralatan pembakaran gas tidak dapat menggunakan
kandungan panas dari uap air, maka perhatikan terhadap nilai kalor kotor menjadi
kurang. Bahan bakar harus dibandingkan berdasarkan nilai kalor netto. Hal ini benar
terutama untuk gas alam, dimana kandungan hidrogen akan meningkat tinggi karena
adanya reaksi pembentukan air selama pembakaran. [2]
Sifat-sifat dan kimia berbagai bahan bakar gas diberikan dalam tabel 2.2.

Tabel 2.2. Sifat-sifat fisik dan kimia bahan bakar gas. [2]

9
Bahan Massa Nilai Perbandinga Suhu Kecep
Bakar Jenis Kalori n Nyal atan
Gas Relati yang Udara (m 3) a api Nyala
f lebih terhadap (oC) api
tinggi Bahan (m/s)
kkal/N Bakar (m 3)
m3
Gas 0.6 9350 10 1954 0.290
Alam
Propan 1.52 22200 25 1967 0.460
a
Butana 1.96 28500 32 1973 0.870

2.1.1. Liquified petroleum Gas (LPG)


LPG terdiri dari campuran utama propana dan butan dengan sedikit persentase
hidrokarbon tidak jenuh (propilen dan butilene) dan beberapa fraksi C 2 yang lebih
ringan dan C 5 yang lebih berat. Senyawa yang terdapat dalam LPG adalah Propan
(C 3 H 8 ), Propolen (C 3 H 6 ), Normal dan Iso-Butan (C 4 H 10 ) dan Butilen (C 4 H 8 ). [2]
LPG merupakan campuran dari hidrokarbon tersebut yang membentuk gas
pada tekanan atmosfir, namun dapat diembunkan menjadi bentuk cair pada suhu
normal, dengan tekanan yang cukup besar. Walaupun digunakan sebagai gas,
namun untuk kenyamanan dan kemudahannya, disimpan dan ditransport dalam
bentuk cair dengan tekanan tertentu. LPG cair, jika menguap membentuk gas
dengan volum sekitar 250 kali.
Uap LPG lebih berat dari udara, butan beratnya sekitar dua kali berat udara
dan propan sekitar satu setengah kali berat udara. Sehingga, uap dapat mengalir
didekat permukaan tanah dan turun hingga ke tingkat yang paling rendah dar i
lingkungan dan dapat terbakar pada jarak tertentu dari sumber kebocoran. Pada
udara yang tenang, uap akan tersebar secara perlahan. Lolosnya gas cair walaupun
dalam jumlah sedikit, dapat meningkatkan campuran perbandingan volum uap atau
udara sehingga dapat menyebabkan bahaya. Sebuah perbandingan yang khas isi
karbon dalam minyak, batubara dan gas diberikan dalam tabel 2.3. [2]
Tabel 2.3. Perbandingan komposisi kimia berbagai bahan bakar. [2]

10
Bahan Bakar Gas
Batubara
Minyak Alam
Karbon 84 41.11 74
Hidrogen 12 2.76 25
Sulfur 3 0.41 -
Oksigen 1 0.89 Trace
Nitrogen Trace 1.22 0.75
Abu Trace 38.63 -
Air Trace 5.98 -

2.5. Gas Burner (Alat Pembakar Gas)


Gas Burner (alat pembakar Gas) adalah perangkat untuk menghasilkan api
untuk memanaskan produk yang menggunakan bahan bakar gas seperti asitelin, gas
alam atau propana. Beberapa burner memiliki saluran udara masuk untuk
mencampur bahan bakar gas dengan udara untuk membuat pembakaran sempurna.
Umumnya alat pembakar terbagi menjadi tiga jenis, masing -masing bahan
bakar memecah menjadi semburan halus (pengatoman) dengan cara yang berbeda.
Jenis-jenis alat pembakar tersebut adalah:

1. Gun-Type Burner
Gun-Type Burner merupakan sebuah alat pembakar senjata tipe tekanan
menyemprotkan suatu bahan bakar memaksa melalui nosel dan penyemprotan ke aliran udara
senjata seperti nosel atom. Cairan bentuk partikel mikroskopis atau tetesan yang tercampur
dan sebagian menguap sebelum dinyalakan dalam ruang pembakaran. Sebuah pembakar
senjata-tipe perumahan biasanya membutuhkan minyak 80-130 tekanan minyak psi.
Komersial dan pembakar industri membutuhkan 100 - 300 psi. Pistol tipe ini sangat fleksibel
dan dapat digunakan dalam berbagai macam aplikasi.

2. Pot-Type Burner
Pada Pot-Type Burner ini, bahan bakar menguap ke udara pembakaran. Dalam pemanas
tipe atmosfer gravitasi menyebabkan minyak mengalir ke kompor. Burner natural draft
bergantung pada rancangan alam di cerobong asap untuk pasokan udara. Pembakar forced
draft bergantung pada kipas mekanis dan atau cerobong untuk pasokan udara. Pembakar
lengan berlubang hanya digunakan dalam aplikasi kecil. Burner pot-type yang paling murah
dari pembakar bahan bakar gas dan memiliki biaya operasi terendah. Kelemahan dari jenis-

11
pot adalah kapasitas terbatas. Tipe ini pada umumnya paling cocok untuk aplikasi yang lebih
kecil.

3. Rotary Fuel Burner


Rotary Fuel Burner, beroperasi dengan gravitasi rendah tekanan dan bahan bakar
diberikan dan dilepaskan dari sebuah putaran dalam penyemprotan halus oleh gaya
sentrifugal.
Rotary Fuel Burner dapat diklasifikasikan sebagai:

 Rotary Nozzle
 Rotary Cup
Dengan burner nozzle putar berputar dengan kecepatan tinggi dan bahan bakar
diberikan melalui poros. Pembakar Cup minyak rotary berisi cangkir berbentuk kerucut yang
berputar di sekitar tabung pusat di mana bahan bakar minyak diberikan. Jenis berikut
pembakar minyak rotary yang tersedia, vertikal rotary burner, horizontal rotary burner,
dinding-api pembakar rotary.

12
BAB II
PENUTUP
1.Kesimpulan
Batubara memiliki nilai kalor yang cukup potensial sebagai bahan bakar padat, dan
proses pembakaran bahan bakar padat jauh lebih kompleks daripada bahan bakar cair ataupun
gas, dimana pada umumnya bahan bakar padat mengalami 3 tahapan proses pembakaran.
a) Pengeringan

Pada tahap ini partikel bahan bakar dipanaskan di atas temperatur vaporasi. Proses ini
berlangsung secara konveksi dengan melewatkan udara panas pada padatan.

b) Devolatilisasi/Pirolisis

Setelah kadar air dihilangkan maka temperatur dari partikel semakin meningkat
sehingga partikel mulai terdekomposisi dan terjadi proses pelepasan zat–zat yang
mudah menguap (volatile matter). Volatile matter merupakan bagian dari bahan bakar
padat yang bisa terbakar. Bagian ini terdiri dari bagian yang ringan sampai berat.
Bagian yang ringan akan menguap terlebih dahulu.

c) Pembakaran Char (Kabon Tetap)

Char atau fixed carbon merupakan gumpalan matriks karbon dengan sedikit hidrogen
yang terdapat pada senyawa bahan bakar. Bagian ini sangat berpori yang berarti luas
permukaan bagian dalam sangat besar.

Bahan bakar cair merupakan gabungan senyawa hidrokarbon yang diperoleh dari alam
maupun secara buatan. Bahan bakar cair umumnya berasal dariminyak bumi. Dimasa yang akan
datang, kemungkinan bahan bakar cair yang berasal dari oil shale, tar sands, batubara dan biomassa
akan meningkat. Minyak bumi merupakan campuran alami hidrokarbon cair dengan sedikit belerang,
nitrogen, oksigen, sedikit sekali metal, dan mineral

Bahan bakar dapat dianggap sebagai sumber daya yang terbatas energi potensial
kimia dimana energi yang tersimpan dalam struktur molekul senyawa tertentu dilepaskan
melalui reaksi kimia yang kompleks. “Marcel Dekker” mengklasifikasikan Bahan bakar
kimia dengan berbagai cara, termasuk dengan fase dan ketersediaan.

13
DAFTAR PUSTAKA

Dwi Ananto Pramudyo, M.T.2018. roses Pembakaran Bahan Bakar Padat.[internet].


https://berbagienergi.com/2018/01/17/proses-pembakaran-bahan-bakar-padat/

repository.unpas.ac.id.2018. Bahan Bakar Gas.[internet].


http://repository.unpas.ac.id/28720/1/BAB%20II%20DASAR%20TEORI%20%28Finish%2
01%29.doc.

14