Anda di halaman 1dari 13

PANDUAN PRAKTIK KLINIS

MATA
INSTALASI GAWAT DARURAT

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH JEND. AHMAD YANI


JL. JEND. AHMAD YANI NO 13 METRO
2016
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

DAFTAR ISI ii

1. Benda Asing di Kornea / Kelopak Mata………………………………………… 1

2. Kelainan Kornea Mata : Erosi……………………………………………………3

3. Kelainan Kornea Mata : Ulkus / Abses………………………………………… 4

4. Trauma Mata : Trauma Tumpul………………………………………………… 5

5. Trauma Mata : Tajam / Tembus………………………………………………… 7


DISAHKAN OLEH
PANDUAN PRAKTIK DIREKTUR UTAMA
KLINIK

BENDA ASING DI
RUMAH SAKIT KORNEA / KELOPAK
UMUM DAERAH JEND. MATA Drg. Endang Nuriyati
A. YANI METRO NIP.19600110 198701 2 001
NOMOR DOKUMEN TANGGAL :
23 Februari 2016

A. Pengertian ( Definisi ) Benda asing yang masuk ke dalam mata terdiri dari:
1. Benda logam (magnit dan bukan magnit) seperti emas,
perak, platina, timah hitam, seng, nikel, aluminium,
tembaga, besi.
2. Benda bukan logam, misalnya batu, kaca, bahan
tumbuh-tumbuhan, bahan pakaian, bulu mata.
3. Benda inert (benda yang terbuat dari bahan yang tidak
menimbulkan reaksi jaringan mata, terjadi reaksi hanya
ringan dan tidak mengganggu fungsi mata) : emas,
perak, platina, batu, kaca, porselin, plastic tertentu.
4. Benda reaktif (benda yang dapat menimbulkan reaksi
jaringan mata sehingga mengganggu fungsi mata):
timah hitam, seng, nikel, tembaga, kuningan, besi,
aluminium, bulu ulat.

B. Anamnesis Nyeri, sensasi benda asing, fotofobia, air mata yang


mengalir terus, mata merah.

C. Pemeriksaan Fisik Tajam penglihatan normal dan menurun, injeksi


konjungtiva, injeksi silier, tampak benda asing pada mata,
oedem kornea,

D. Kriteria Diagnosis Anamnesis + pemeriksaan Fisik


E. Diagnosis Benda Asing di kornea/ kelopak mata

F. Diagnosis Banding Trauma mata

G. Pemeriksaan Penunjang Lup dengan senter


X-ray pada orbita pada posisi AP dan lateral

H. Terapi Semua benda asing di mata harus dikeluarkan, kecuali


bahan inert (kaca).
Benda asing yang dapat diambil, dilakukan ekstraksi
secepatnya.
Bila masuk di segmen belakang bola mata, dirujuk ke sub
vitreo retina.

I. Edukasi Menyebabkan terbentuk ulkus dan jaringan.


Perforasi bola mata pada trauma yang disebabkan logam
atau kecepatan tinggi, jika telah terjadi ulkus yang tidak
ditangani dillakukan terapi pembedahan

J. Prognosis Di permukaan tanpa menimbulkan perforasi, mudah


dikeluarkan dan sedikit menimbulkan bekas prognosisnya
baik.
Bila menimbulkan perforasi, prognosis tergantung dari
jenis benda asing.
Benda inert, prognosisnya baik.
Benda reaktif magnetik yang lebih mudah dikeluarkan
daripada yang non magnetik prognosisnya lebih baik.
Benda asing yang terletak di segmen anterior prognosisnya
baik.

K. Tingkat Evidens II

L. Tingkat Rekomendasi B

M. Penelaah kritis SMF Mata

N. Indikator Medis

O. Kepustakaan : Jack Kanski Brad Bowling, Clinical Ophthalmology a


Sistemic Approach. 2011.

Disetujui oleh : Dibuat Oleh :


Ketua Komite Medis Ketua SMF Mata

Dr. Andreas Infianto, Sp P Dr. Yulkhaizar, Sp M


DISAHKAN OLEH
PANDUAN PRAKTIK DIREKTUR UTAMA
KLINIK

RUMAH SAKIT KELAINAN KORNEA


UMUM DAERAH MATA Drg. Endang Nuriyati
JEND. A. YANI E NIP.19600110 198701 2 001
METRO EROSI
NOMOR DOKUMEN TANGGAL :
23 Februari 2016

A. Pengertian Suatu keadaan terlepasnya epitel kornea akibat trauma tumpul


( Definisi ) atau trauma tajam pada kornea.

B. Anamnesis Sesegera sesudah trauma mata terasa sakit, mata berair,


blefarospasme, lakrimasi, fotofobia, penglihaatan terganggu,
tajam penglihatan menurun..

C. Pemeriksaan Fisik Penglihatan terganggu


Konjungtiva bulbi: injeksi perikornea (+)
Pada tempat erosi, kornea lebih tipis, warna iris dibelakang erosi
tampak lebih hitam.

D. Kriteria Diagnosis Anamnesis+ Pemeriksaan Fisik

E. Diagnosis erosi kornea

F. Diagnosis Banding erosi kornea rekuren

G. Pemeriksaan -
Penunjang

H. Terapi  Siklopegia : mengurangi rasa sakit dan mengistirahatkan mata


 Anastesi topical, epitel yang terkelupas atau terlepas sebaiknya
dilepas atau dikupas
 Antibiotika tetes : jangan diberikan salep karena mengganggu
epitelisasi, antibiotika spektrum luas Neosporin, kloramfenicol
dan sulfasetamid tetes mata
 Bebat mata

I. Edukasi  Kontrol
 Kekambuhan dapat terjadi.
 Penanganan cepat dan tepat dapat mencegah terjadinya hal
yang lebih buruk atau komplikasi yang buruk seperti ulkus
kornea

J. Prognosis dubia

K. Tingkat Evidens II
L. Tingkat B
Rekomendasi
M. Penelaah kritis SMF Mata

N. Indikator Medis

O. Kepustakaan : Jack Kanski Brad Bowling, Clinical Ophthalmology a Sistemic


Approach. 2011

Disetujui oleh : Dibuat Oleh :


Ketua Komite Medis Ketua SMF Mata

Dr. Andreas Infianto, Sp P


Dr. Yulkhaizar, Sp M
DISAHKAN OLEH
PANDUAN PRAKTIK DIREKTUR UTAMA
KLINIK

RUMAH SAKIT KELAINAN KORNEA


UMUM DAERAH MATA Drg. Endang Nuriyati
JEND. A. YANI U NIP.19600110 198701 2 001
METRO ULKUS / ABSES
NOMOR DOKUMEN TANGGAL :
23 Februari 2016

A. Pengertian peradangan supuratif pada kornea mata disertai jaringan nekrotik


( (Definisi ) yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, alergi maupun
degenerasi.Biasanya dimulai dengan trauma kecil, seperti terkena
debu kemudian disusul dengan infeksi sekunder dengan kuman-
kuman.

B. Anamnesis Penglihatan menurun, mata merah silau, mata berair terus


menerus, nyeri sekitar mata dan kepala, biasanya didahului
trauma ringan pada mata

- Palpebra bengkak
C. Pemeriksaan Fisik - Mix Injeksi (Konjungtiva + silier)
- Keratic Presipitat
- Jaringan nekrotik (+)
- Hipopion (+) / (-)

D. Kriteria Diagnosis Anamnesis + Pemeriksaan Fisik

Ulcus kornea
E. Diagnosis
Ulkus serpens akut, ulkus cum hipopion, ulkus mooren, ulkus
F. Diagnosis Banding kornea marginalis

G. Pemeriksaan -
Penunjang

H. Terapi - Beri tetes mata larutan atrofin sulfat 1% 3-4 kali sehari
- Antibiotik: tetes mata 2 tetes/jam atau salep mata 3-5 kali/hari.
Efektif Tetramycin dengan Polymixin B sulfat,
Garamycin.Berikan antibiotic secara sistemik yang
berspektrum luas.
- Vitamin A 100000 IU
- Perbaikan status gizi, makanan yang baik, udara yang baik,
lingkungan sehat, roboransia vitamin.
- Mata ditutup dengan kasa steril.
*Non medikamentosa: keratotomy, kauterisasi, parasintesa, flap
konjungtiva, keratoplasti.

I. Edukasi Cepat tidaknya perforasi terjadi tergantung virulensi kuman dan


daya tahan penderita.

J. Prognosis dubia

II
K. Tingkat Evidens
L. Tingkat B
Rekomendasi

M. Penelaah kritis SMF Mata

N. Indikator Medis

O. Kepustakaan : Jack Kanski Brad Bowling, Clinical Ophthalmology Sistemic


Approach. 2011.

Disetujui oleh : Dibuat Oleh :


Ketua Komite Medis Ketua SMF Mata

Dr. Andreas Infianto, Sp P


Dr. Yulkhaizar, Sp M
DISAHKAN OLEH
PANDUAN PRAKTIK DIREKTUR UTAMA
KLINIK

RUMAH SAKIT TRAUMA TUMPUL MATA


UMUM DAERAH Drg. Endang Nuriyati
JEND. A. YANI NIP.19600110 198701 2 001
METRO
NOMOR DOKUMEN TANGGAL :
23 Februari 2016

A. Pengertian Trauma pada mata yang disebabkan oleh benda tumpul yang
( Definisi ) mengenai mata dengan keras maupun tidak keras yang bisa
berakibat kelainan, pada kelopak mata, konjungtiva, kornea, iris,
COA, lensa, retina, sklera.

B. Anamnesis Mekanisme dan onset terjadinya trauma, bahan penyebab


trauma, pekerjaan untuk mengetahui objek penyebabnya.
Mata sakit, mata merah, silau, tajam penglihatan menurun.

Visus, hematoma palpebral, fotofobia, blefarospasme,


C. Pemeriksaan Fisik ecchymosis, luka laserasi palpebral, ptosis, hyperemia
konjungtiva, perdarahan subkonjungtiva, edema kornea,
hifema, luksasi/subluksasi, hemoftalmos.

D. Kriteria Diagnosis Anamnesis + Pemeriksaan Fisik

Trauma Tumpul Mata


E. Diagnosis
- Laserasi palpebral
F. Diagnosis Banding - Chemosis konjungitva
- Laserasi/ Perdarahan konjungtiva
- Adhesi iris kornea
- Bilik mata depan dangkal
- Efek iris, hipotoni, defek kapsul lensa, kekeruhan lensa,
perdarahan/ablasio retina.

G. Pemeriksaan Lup dengan senter


Penunjang

H. Terapi - Hifema : harus dirawat, parasintesis.


- Tergantung lokasi kelainan di mata.

I. Edukasi Setiap cedera yang cukup parah menyebabkan perdarahan


intraokular sehingga meningkatkan risiko perdarahan sekunder
dan glaucoma yang memerlukan perhatian khusus, seperti
hifema

J. Prognosis - Tergantung jenis dan parahnya kerusakan


- Sembuh dengan sikatriks kornea, gangguan visus
- Sembuh jika tanpa komplikasi berat
- Bila terjadi hifema berat dan lama, risiko terjadinya
hemosiderosis atau imbibisi kornea sehingga terjadi gangguan
visus berat.
II
K. Tingkat Evidens

L. Tingkat B
Rekomendasi

M. Penelaah kritis SMF Mata

N. Indikator Medis

O. Kepustakaan : Jack Kanski Brad Bowling, Clinical Ophthalmology Sistemic


Approach. 2011.

Disetujui oleh : Dibuat Oleh :


Ketua Komite Medis Ketua SMF Mata

Dr. Andreas Infianto, Sp P


Dr. Yulkhaizar, Sp M
DISAHKAN OLEH
PANDUAN PRAKTIK DIREKTUR UTAMA
KLINIK

RUMAH SAKIT TRAUMA


UMUM DAERAH TAJAM/TEMBUS MATA Drg. Endang Nuriyati
JEND. A. YANI NIP.19600110 198701 2 001
METRO
NOMOR DOKUMEN TANGGAL :
23 Februari 2016

B. Pengertian Trauma pada mata yang disebabkan oleh benda tajam yang
( Definisi ) mengenai mata dengan keras maupun tidak keras yang bisa
berakibat kelainan, pada kelopak mata, konjungtiva, kornea, iris,
COA, lensa, retina, sklera.

B. Anamnesis Mekanisme dan onset terjadinya trauma, bahan penyebab


trauma, pekerjaan untuk mengetahui objek penyebabnya.
Mata sakit, mata merah, silau, tajam penglihatan menurun.

C. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan visus/ tajam penglihatan dengan hitung jari


Dilakukan pemeriksaan segmen depan dengan Loupe dan senter

D. Kriteria Diagnosis Anamnesis + Pemeriksaan Fisik

Trauma Tajam/tembus Mata


E. Diagnosis
- Laserasi palpebral
F. Diagnosis Banding - Luka tembus pada kornea
- Chemosis konjungtiva
- Lacerasi / perdarahan konjungtiva
- Adhesi iris kornea
- Bilik mata depan dangkal
- Efek iris, hipotoni, defek kapsul lensa, kekeruhan lensa,
perdarahan/ ablasio retina
- Ruptur sclera, ruptur bola mata

G. Pemeriksaan Lup atau slit lamp


Penunjang

H. Terapi - Tutup luka


- Antibiotik topical
- Antibiotik sistemik
- Analgetika/Penenang
- Antitetanus
- Operasi tergantung keadaan dan lokasi mata.
Konservatif
Berikan salep mata antibiotic 3-5 kali/hari
Berikan antibiotic sistemik dengan dosis tinggi
ATS 1500U pada anak 750 U im

I. Edukasi Pencegahan trauma:


- perlindungan pekerja (helm, kacamata)
- keselamatan kerja
- anak-anak jangan bermain benda tajam
J. Prognosis - Sembuh dengan sikatriks kornea, gangguan visus
- Sembuh jika tanpa komplikasi berat

II
K. Tingkat Evidens

L. Tingkat B
Rekomendasi

M. Penelaah kritis SMF Mata

N. Indikator Medis

O. Kepustakaan : Jack Kanski Brad Bowling, Clinical Ophthalmology Sistemic


Approach. 2011.

Disetujui oleh : Dibuat Oleh :


Ketua Komite Medis Ketua SMF Mata

Dr. Andreas Infianto, Sp P


Dr. Yulkhaizar, Sp M