Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN 2

STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

PASIEN EFUSI PLEURA KANAN

Oleh:

QORI NUR AZIZAH

I4B019008

UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN

FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN

PROFESI KEPERAWATAN

2019
BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Masalah kesehatan dengan gangguan sistem pernafasan masih menduduki peringkat
yang tinggi sebagai penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Efusi pleura adalah
salah satu kelainan yang mengganggu sistem pernafasan efusi pleura sendiri sebenarnya
bukanlah diagnosa dari suatu penyakit melainkan hanya lebih merupakan symptom atau
komplikasi dari suatu penyakit. Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat
cairan berlebihan dirongga pleura, Dimana kondisi ini jika dibiarkan akan
membahayakan jiwa penderitanya (Anggraeni, 2014).
Menurut Adipratiwi (2015) efusi pleura menunjukkan tanda dan gejala seperti
sesak nafas, bunyi pekak atau datar pada saat perkusi di atas area yang berisi cairan,
bunyi nafas minimal atau tak terdengar dan pergeseran trachea menjauhi tempat yang
sakit. Umumnya pasien datang dengan gejala sesak nafas, nyeri dada, batuk, dan
demam.
Penyebab efusi pleura bisa bermacam-macam seperti gagal jantung, adanya
neoplasma (carcinoma bronchogenic dan akibat metastasis tumor yang berasal dari
organ lain), tubreculosis paru, infark paru, trauma, pneumonia, syndroma nefrotik,
hipoalbumin dan lain sebagainya. Efusi pleural merupakan manifestasi klinik yang
dapat dijumpai pada sekitar 50-60% penderita keganasan pleural primer. Sementara
95% kasus mesotelioma (keganasan pleura primer) dapat disertai efusi pleura dan
sekitar 50% penderita kanker payudara akhirnya akan mengalami efusi pleura. Kasus
Efusi Pleura di Sumatera Utara tergolong tinggi dengan ditemukannya sebanyak 15.614
penderita selama tahun 2010. Berdasarkan data Efusi Pleura nasional, Sumatera Utara
sampai triwulan ke III tahun 2010 menempati urutan ke-tujuh dengan jumlah penderita Efusi.
Pleura tertinggi setelah Gorontalo, Maluku, Sulawesi utara, Sulawesi Tenggara, Bangka
Belitung dan Jakarta. Angka drop out pengobatan Efusi Pleura Indonesia pada tahun 2008 yaitu
4% dan tahun 2009 yaitu 4,1 % (Monica, 2013).
Akibat lanjut pada pasien efusi pleura jika tidak ditangani dengan Water Sealed
Drainage (WSD) akan terjadi atalektasis pengembangan paru yang tidak sempurna
yang disebabkan oleh penekanan akibat efusi pleura, fibrosis paru dimana keadaan
patologis terdapat jaringan ikat paru dalam jumlah yang berlebihan, empiema dimana
terdapat kumpulan nanah dalam rongga antara paru-paru (rongga pleura), dan kolaps
paru. Tindakan yang dapat dilakukan pada efusi pleura adalah pemasangan WSD untuk
mengembalikan kondisi di dalam cavum pleura kembali normal. WSD adalah suatu
sistem drainage yang menggunakan water sealed untuk mengalirkan udara atau cairan
dari cavum pleura (rongga pleura) tujuannya adalah untuk mengalirkan udara atau
cairan dari rongga pleura untuk mempertahankan tekanan negatif rongga tersebut,
dalam keadaan normal rongga pleura memiliki tekanan negatif dan hanya terisi sedikit
cairan pleura / lubricant (Adipratiwi, 2015).
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Efusi pleura adalah salah satu kelainan yang mengganggu sistem pernafasan efusi
pleura sendiri sebenarnya bukanlah diagnosa dari suatu penyakit melainkan hanya
lebih merupakan gejala atau komplikasi dari suatu penyakit. Efusi pleura adalah
suatu keadaan dimana terdapat cairan berlebihan dirongga pleura, Dimana kondisi
ini jika dibiarkan akan membahayakan jiwa penderitanya (Astuti, 2015). Efusi
pleura merupakan penyakit slauran pernafasan dimana terjadi pengumpulan cairan
pada rongga pleura terletak dipermukaan viceral dan parietal. Pleura merupakan
lapisan tipis yang mengandung kolagen serta jaringan elastis yang melapisi rongga
dada (pleura parietalis) dan menyelubungi paru (pleura viceralis) (Anggraeni,
2014).
B. Etiologi
Efusi pleura dibagi menjadi dua. Pertama efusi pleura transudat bahwa
membran pleura tidak terkena penyakit tetapi akumulasi cairannya terjadi akibat
faktor sistemik yang memengaruhi produksi dan absorbsi cairan pleura salah satu
penyebabnya gagal jantung kongestif. Sedangkan efusi pleura eksudat terjadi
karena akibat kebocoran cairan melewati pembuluh kapiler rusak dan masuk ke
dalam paru yang dilapisi pleura atau ke dalam paru terdekat. Biasanya efusi pleura
eksudat disebabkan karena penyakit paru-paru, seperti kanker paru, tuberculosis,
bahkan akibat reaksi obat (Anggraeni, 2014).
Penyebab lainnya antara lain :
1. Trauma
2. Keganasan paru
3. Proses imunologis: pleuritis lupus, pleuritis rheumatoid, sarkoidosis, lupus
eritematosus sistemik; Lupus merupakan penyakit yang menyerang
perubahan sistem kekebalan perorangan, yang sampai kini belum diketahui
penyebabnya. Penyakit ini muncul akibat kelainan fungsi sistem kekebalan
tubuh. Dalam tubuh seseorang terdapat antibodi yang berfungsi menyerang
sumber penyakit yang akan masuk dalam tubuh. Uniknya, penyakit Lupus
ini antibodi yang terbentuk dalam tubuh muncul berlebihan. Hasilnya,
antibodi justru menyerang sel-sel jaringan organ tubuh yang sehat. Kelainan
ini disebut autoimunitas
4. Radang sebab lain seperti pankreatitis, asbestosis, pleuritis uremia dan akibat
radiasi.
5. Penyakit gagal jantung kiri
6. Emboli paru
7. Sirosis hepatis
8. Efusi pleura jarang pada keadaan rupture esophagus, penyakit pancreas,
abses intraabdomen, rheumatoid arthritis, sindroma Meig (asites, dan efusi
pleura karena adanya tumor ovarium)
9. Kadar protein darah yang rendah
10. Abses dibawah diafragma
11. Pemasanan selang untuk makanan atau selang intravena yang kurang baik.
C. Patofisiologi
Pleura parietalis dan viseralis letaknya berhadapan satu sama lain dan hanya
dipisahkan oleh selaput tipis cairan serosa. Lapisan tipis dari selaput ini
memperlihatkan adanya keseimbangan antara transudasi dari kapiler-kapiler pleura
dan reabsorpsi. Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan
dalam rongga pleura dapat berupa transudat dan eksudat. Transudat terjadi pada
peningkatan vena pulmonalis. Misalnya pada payah jantung kongestif dan pada
kasus ini keseimbangan kekuatan menyebbakan pengeluran caran dari pembuluh.
Transudat dapaat juga terjadi karena hipoproteinemia seperti pda penyakit hati
dan ginjal atau penekanan tumor pada vena kava. Penimbunan transudat dalam
rongga pleura dikenal dengan hidrotorak. Cairan pada pleura cenderung tertimbun
pada dasar paru-paru karena pengaruh gravitasi. Penimbunan eksudat timbul karena
adanya peradangan atau keganasan pleura serta peningkatan permeabilitas kapiler
dan gangguan absorpsi getah bening.
Proses penumpukan cairan dalam rongga pleura dapat disebabkan oleh
peradangan. Bila proses radang disebabkan oleh kuman piogenik akan terbentuk
pus atau nanah, sehingga terjadi empiema atau piotoraks. Bila proses ini mengenai
pembuluh darah sekitar pleura dapat menyebabkan hemotoraks. Proses terjadinya
pneumotoraks karena pecahnya alveoli dekat pleura parietalis sehingga udara akan
masuk ke dalam rongga pleura. Proses ini sering disebabkan oleh trauma dada atau
alveoli pada daerah tersebut yang kurang elastis lagi seperti pada pasien emfisema
paru.
D. Tanda gejala
1. Sesak napas
2. Rasa berat pada dada
3. Nafas pendek
4. Nyeri dada pleuritik
5. Takipnea
6. Hipoksemia bila ventilasi terganggu
7. Penurunan bunyi nafas di atas area yang sakit
8. Keluhan/gejala lain penyakit dasar efusi pleura seperti: bising jantung (pada
payah jantung), lemas disertai penurunan BB yang progresif (neoplasma), batuk
yang kadang berdarah pada perokok (karsinoma bronkus), tumor di organ lain
(metastasis), demam subfebril (pada TB), demam menggigil (pada empiema),
asites (pada sirosis hepatic), ascites dengan tumor di pelvis (pada sindrom
Meigh). Pada pemeriksaan fisik akan ditemukan: fremitus yang menurun,
perkusi yang pekak, tanda-tanda pendorongan mediastinum, suara napas yang
menghilang pada auskultasi.
E. Pemeriksaan penunjang
Diagnosis kadang-kadang dapat ditegakkan dengan pemeriksaan fisik saja,
tetapi kadang-kadang sulit juga, sehingga perlu pemeriksaan tambahan. Seperti:
1. Sinar tembus dada
Pemeriksaan dengan USG pada pleura dapat menentukan adanya cairan dalam
rongga pleura. CT scan torak, sangat memudahkan dalam menentukan adanya
efusi pleura karena adanya densitas cairan dengan jaringan sekitarnya. Hanya
saja tidak banyak dilakukan karena biayanya sangat mahal.
2. Torakosintesis
3. Biopsi pleura
Pemeriksaan histology satu atau beberapa contoh jaringan pleura dapat
menunjukkan 50-75% diagnosis kasus-kasus pleuritis tuberkulosa dan tumor
pleura.
4. Thorakoskopi
5. Fungsi pulmonary dari analisa gas darah
6. Bronkoskopi
Bronkoskopi kadang dilakukan untuk membantu menemukan sumber cairan
yang terkumpul. Bila efusi pleura telah didiagnosis, penyebabnya harus
diketahui, kemudian cairan pleura diambil dengan jarum, tindakan ini disebut
thorakosentesis. Setelah didapatkan cairan efusi dilakukan pemeriksaan
seperti, komposisi kimia, pemeriksaan hitung sel sitologi untuk
mengidentifikasi adanya keganasan.

F. Pathway

Etiologi eksudat:
Keseimbangan antara Sirosis Etiologi transudat:
Peradangan oleh
cairan dan protein hepatis autoimun
kuman Transudat disebabkan oleh
dalam rongga pleura
payah jantung, penyakit
ginjal, penyait hati

Perubahan tekanan
osmotik

Penumpukan cairan Proses pembedahan Nyeri


di rongga pleura Pemasangan WSD akut

Nafas pendek complains paru


- Manajemen nyeri
dengan usaha kuat menurun  sesak Bersihan jalan nafas - Terapi relaksasi
tidak efektif
- Pemberian analgesik
kelelahan Ketidakefektifan
pola nafas
- Manajemen jalan nafas
Kesulitan tidur - Manajemen batuk
- Terapi oksigen
- Manajemen jalan nafas
- Terapi oksigen
- Monitor pernafasan

Gangguan pola tidur


- Peningkatan tidur
kurang dari kebutuhan
- Manajemen lingkungan
- Pemberian obat

Intoleransi
aktivitas

- Terapi aktivitas
- Terapi oksigen
- Manajemen pengobatan
G. Pengkajian
1. Identitas Pasien
Pada tahap ini perawat perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis
kelamin, alamat rumah, agama atau kepercayaan, suku bangsa, bahasa
yang dipakai, status pendidikan dan pekerjaan pasien.
2. Keluhan Utama
Keluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien mencari
pertolongan atau berobat ke rumah sakit. Biasanya pada pasien dengan efusi
pleura didapatkan keluhan berupa: sesak nafas, rasa berat pada dada, nyeri
pleuritik akibat iritasi pleura yang bersifat tajam dan terlokasilir terutama pada
saat batuk dan bernafas serta batuk non produktif.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien dengan effusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya tandatanda
seperti batuk, sesak nafas, nyeri pleuritik, rasa berat pada dada, berat
badan menurun dan sebagainya. Perlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu
muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau
menghilangkan keluhan keluhannya tersebut.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Perlu ditanyakan apakah pasien pernah menderita penyakit seperti
TBC paru, pneumoni, gagal jantung, trauma, asites dan sebagainya. Hal ini
diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor predisposisi.
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Perlu ditanyakan apakah ada anggota keluarga yang menderita
penyakitpenyakit yang disinyalir sebagai penyebab effusi pleura seperti kanker
paru, asma, TB paru dan lain sebagainya
6. Riwayat Psikososial
Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara
mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang
dilakukan terhadap dirinya.
H. Diagnosa keperawatan
1. Bersihan jalan nafas tidak efektif b.d. penumpukan cairan pada rongga pleura.
2. Ketidakefektifan pola nafas b.d. sesak.
3. Nyeri akut b.d. cidera biologis ditandai dengan nyeri pada dada.
4. Gangguan pola tidur b.d. sering terbangun karena sesak.
5. Intoleransi aktivitas b.d. sesak dan kelelahan.
I. Fokus Intervensi

No Diagnosa Keperawatan Tujuan Intervensi

1. Bersihan jalan nafas tidak Setelah dilakukan tindakan Manajemen jalan nafas
efektif keperawatan diharapkan
1. Posisikan pasien untuk
hambatan jalan nafas teratasi
Yaitu ketidakmampuan memaksimalkan
dengan kriteria hasil:
membersihkan sekresi atau ventilasi
2. Lakukan fisioterapi
obstruksi dari saluran napas Indikator
dada sebagaimana
untuk mempertahankan Target mestinya
bersihan jalan napas. 3. Buang secret dengan
- memotivasi pasien
untuk melakukan batuk
atau sedot lender
4. Motivasi pasien untuk
batuk efektif
Domain 11 5. Posisikan pasien agar
keamanan/perlindungan mengurangi sesak.
No 00031 Peningkatan (manajemen)
batuk
Kelas 2 cedera fisik
1. Damping pasien untuk
bisa duduk pada posisi
dengan kepala sedikit
lurus, bahu relaks, dan
lutut ditekuk atau
posisi fleksi.
2. Dukung pasien
menarik nafas dalam
beberapa kali.
3. Dukung pasien untuk
melakukan nafas
dalam, tahan selama 2
detik, bungkukkan ke
depan, tahan 2 detik,
dan batukkan 2-3 kali.
4. Minta pasien untuk
menarik nafas dalam,
bungkukkan ke depan ,
lakukan tiga atau
empat kali hembusan.
5. Mita pasien untuk
menrik nafas dalam
beberapa kali,
keluarkan perlahan dan
batukkan di akhir
penghembusan.

Terapi oksigen

1. Bersihkan jalan nafas


dari sekret
2. Pertahankan jalan
nafas tetap efektif
3. Berikan oksigen
sesuai intruksi
4. Monitor aliran
oksigen, kanul oksigen
dan sistem humidifier
5. Beri penjelasan
kepada klien tentang
pentingnya pemberian
oksigen
6. Observasi tanda-tanda
hipo-ventilasi
7. Monitor respon klien
terhadap pemberian
oksigen
8. Anjurkan klien untuk
tetap memakai
oksigen selama
aktifitas dan tidur

2 Ketidakefektifan pola nafas Setelah dilakukan tindakan Manajemen jalan nafas


b.d. sesak keperawatan, diharapkan sesak
pasien berkurang dengan 1. Posisikan pasien untuk
Yaitu inspirasi dan atau memaksimalkan
kriteria hasil:
ekspirasi yang tidak ventilasi
2. Lakukan fisioterapi
memberi ventilasi adekuat. Indikator
dada sebagaimana
Target mestinya
Domain 4 aktivitas/istirahat
3. Buang secret dengan
- memotivasi pasien
No 00032
untuk melakukan batuk
Kelas 5 respons atau sedot lender
4. Motivasi pasien untuk
kardiovaskular/pulmonal
batuk efektif
5. Posisikan pasien agar
mengurangi sesak.

Terapi oksigen

1. Bersihkan jalan nafas


dari sekret
2. Pertahankan jalan
nafas tetap efektif
3. Berikan oksigen sesuai
intruksi
4. Monitor aliran oksigen,
kanul oksigen dan
sistem humidifier
5. Beri penjelasan kepada
klien tentang
pentingnya pemberian
oksigen
6. Observasi tanda-tanda
hipo-ventilasi
7. Monitor respon klien
terhadap pemberian
oksigen
8. Anjurkan klien untuk
tetap memakai oksigen
selama aktifitas dan
tidur

Monitor pernafasan
1. Monitor kecepatan,
irama, kedalaman, dan
kesulitan bernafas..
2. Catat pergerakan dada,
ketidaksimestrisan,
penggunaan otot
pernafasan.
3. Monitor suara nafas
tambahan seperi
ngorok atau mengi.
4. Monitor pola nafas.
5. Monitor saturasi
oksigen.
6. Perkusi pada daerah
paru kanan dan kiri.
7. Auskultasi suara nafas
8. Monitor sekresi
pernafasan pasien.
9. Monitor keluhan sesak
nafas pasien.
3 Nyeri akut b.d. cidera Setelah dilakukan tindakan Manajemen nyeri
biologis dengan nyeri pada keperawatan, diharapkan skala 1. Lakukan pengkajian
dada nyeri pasien berkurang dengan nyeri meliputi lokasi,
kriteria hasil: karakteristik, durasi,
Domain 12 kenyamanan kualitas, dan factor
Indikator pencetus.
No 00132 Target 2. Pastikan perawatan
Kelas 1 kenyamanan fisik analgesik bagi pasien
dilakukan dengan
pemantauan ketat.
3. Kurangi faktr-faktor yg
dapat mencetuskan
nyeri.
4. Pilih dan
implementasikan
tindakan yang beragam
(farmakologi,
nonfarmakologi,
interpersonal)
5. Ajarkan prinsip-prinsip
manajemen nyeri.

Terapi relaksasi
1. Berikan deskripsi
detail terkait intervensi
relaksasi yang dipilih
2. Ciptakan lingkungan
yang tenang dan tanpa
distraksi dengan lampu
yang redup dan suhu
lingkungan yang
nyaman, jika
memungkinkan.
3. Dorong klien untuk
mengambil posisi yang
nyaman dengan
pakaian yang longgar.
4. Minta klien untuk
rileks dan merasakan
sensasi yang terjadi.
5. Gunakan suara yang
lembut dengan irama
yang lambat untuk
setiap kata.
6. Tunjukkan dan
praktikan teknik
relaksasi pada klien.
7. Antisipasi kebutuhan
penggunaan relaksasi.

Pemberian analgesik
1. Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas,
dan keparahan nyeri
sebelum mengobati
pasien.
2. Cek perintah
pengobatan meliputi
obat, dosis, dan
frekuensi obat
analgesic yang
diberikan.
3. Cek adanya riwayat
alergi obat.
4. Pilih analgesik atau
kombinasi analgesik
yang sesuai ketika lebh
dari satu diberikan.
5. Pilih rute intravena
darpada rute
intramuscular untuk
injeksi pengobatan
nyeri yang sering, jika
memungkinkan.
6. Monitor ttv sebelum
dan sesudah pemberian
obat.
7. Evaluasi keefektifan
analgesik.
8. Dokumentasi respn
dan adanya efek
samping.

4 Gangguan pola tidur b.d. Setelah dilakukan tindakan Peningkatan tidur


sering trebangun karena keperawatan selama, diharapkan 1. Tentukan pola
sesak. pasien dapat tidur dengan tidur/aktivitas pasien.
kriteria hasil : 2. Perkirakan siklus tidur
Yaitu interupsi jumlah pasien di dalam
waktu dan kualitas tidur Indikator perawatan perencanan.
akibat factor eksternal. Target 3. Tentukan efek dari
obat pasien terhadap
tidur.
Domain 4 4. Catat pola tidur dan
Aktivitas/istirahat jumlah jam tidur.
5. Bantu untuk
No 00198 mengjilangkan situasi
stress sebelum tidur.
Kelas 1 tidur/istirahat 6. Sesuaikan jadwal
pemberian obat untuk
mendukung
tidur/siklus bangun
pasien.
Manajemen lingkungan
1. Ciptakan lingkungan
yang aman bagi pasien.
2. Lindungi pasien
dengan pegangan pada
sisi/bantalan di sisi
ruangan yang sesuai.
3. Sediakan tempat tidur
dengan ketinggian
yang rendah, yang
sesuai.
4. Sediakan selang yg
cukup panjang untuk
memungkinkan
kebebaan pasien untk
bergerak.
5. Letakkan benda yang
sering digunakan
dalam jangkauan
pasien.
6. Batasi pengunjung.
Pemberian obat
1. Ikuti prosedur 5 benar
dalam pemberian obat.
2. Verifikasi resep obat-
obatan sebelum
pemberian obat.
3. Catat alergi yg dialami
pasien sebelum
pemberian obat.
4. Beritahukan klien
mengenai jenis obt,
fungsinya, dan
efeknya.
5. Hindari pemberian
obat yang tidak diberi
label.
6. Monitor ttv dan nilai
laboratorium sebelum
pemberian obat.
7. Bantu klien dalam
pemberian obat.

5 Intoleransi aktivitas b.d. Setelah dilakukan tindakan Terapi aktivitas


sesak dan kelelahan perawatan selama, diharapkan 1. Pertimbangkan
pasien dapat beraktivitas dengan kemampuan klien
Yaitu ketidakcukupan kriteria hasil: dalam berpartisipasi
energi psikologis atau melalui aktivitas
fisiologis untuk Indikator spesifik.
mempertahankan atau Target 2. Pertimbangkan
menyelesaikan aktivitas komitmen klien untuk
kehidupan sehar-hari yang meningkatkan
harus atau yang ingin frekuensi dan jarak
dilakukan. aktivitas
3. Bantu klien untuk
Domain 4 aktivitas/istirahat
mengidentifikasi
No 00092 aktivitas yang
diinginkan.
Kelas 2 respons 4. Bantu dengan aktivitas
kardiovaskular/pulmonal fisik secara teratur
(misalnya ambulasi,
berpindah, berputar)

Terapi oksigen
1. Bersihkan jalan nafas
dari sekret
2. Pertahankan jalan
nafas tetap efektif
3. Berikan oksigen sesuai
intruksi
4. Monitor aliran oksigen,
kanul oksigen dan
sistem humidifier
5. Beri penjelasan kepada
klien tentang
pentingnya pemberian
oksigen
6. Observasi tanda-tanda
hipo-ventilasi
7. Monitor respon klien
terhadap pemberian
oksigen
8. Anjurkan klien untuk
tetap memakai oksigen
selama aktifitas dan
tidur

Manajemen pengobatan
1. Tentukan obat apa
yang diperlukan dan
kelola resep.
2. Monitor efektifitas
cara pemberian obat
yang sesuai.
3. Monitor pasien
mengenai efek
terapeutik obat.
DAFTAR PUSTAKA

Anggraeni, D. 2014, ‘Hubungan antara Golongan Darah dengan Penyakit


Tuberculosis (TB) Paru di Balai Pengobatan Penyakit Paru-Paru (BP4)
Purwokerto’. Purwokerto: Universitas Jenderal Soedirman.
Adipratiwi, G. 2015, ‘Pengaruh Chest Therapi terhadap Derajat Sesak Nafas
pada Penderita Efusi Pleura Pasca Pemasangan Water Seaked Drainage
(WSD) di Rumah Sakit Paru Provinsi Jawa Barat’, Skripsi. Surakarta:
Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Heardman, T.S. 2018, NANDA-1 Diagnosis Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi
2018-2020. Jakarta: EGC
Gloria, M.B. et al. 2013, Nursing Interventions Classification (NIC) edisi 6,
Elsevier Singapore Pte Ltd