Anda di halaman 1dari 10

BAB 3 DINAMIKA GERAK LURUS

A. TUJUAN PEMBELAJARAN

1. Menerapkan Hukum I Newton untuk menganalisis gaya-gaya pada benda diam


2. Menerapkan Hukum II Newton untuk menganalisis gaya dan percepatan benda
3. Menentukan pasangan gaya aksi dan reaksi

B. URAIAN MATERI

1. Gaya

Gaya merupakan suatu besaran vektor yang dapat mengakibatkan terjadinya perubahan
kecepatan pada suatu objek. Sebagai contoh, seorang anak mendorong meja sehingga meja
menjadi bergerak. Anak memberikan gaya dorong pada meja, dan gaya dorong itulah yang
mengakibatkan meja bergerak. Gaya disimbolkan dengan F yang berasal dari kata “force”.
Sebagai besaran vektor, pengoperasian gaya mengikuti aturan operasi vektor.
Selain gaya dorong, ada berbagai macam gaya lainnya, seperti gaya berat (gaya gravitasi),
gaya normal, gaya gesekan, gaya tegangan tali, gaya pegas, gaya listrik, dan gaya magnet.
Gaya-gaya tersebut ada yang dikelompokkan menjadi kelompok gaya sentuh dan gaya tak
sentuh, dan kelompok gaya luar dan gaya konservatif. Namun pada dasarnya semua gaya di
alam ini hanya terdiri dari empat jenis. Secara berurutan dari gaya yang paling kuat ke gaya
yang paling lemah, yaitu gaya nuklir atau gaya inti, gaya elektromagnetik, gaya gravitasi, dan
gaya interaksi lemah. Dalam sudut pandang mikroskopis, sebagian besar gaya yang kita alami
sehari-hari merupakan gaya elektromagnetik. Pada pembahasan kali ini kita tidak membahas
mengenai keempat jenis gaya tersebut secara detail.

2. Hukum I Newton
Sebelumnya telah dijelaskan mengenai gerak lurus beraturan. Jika objek bergerak lurus
beraturan maka tidak ada perubahan kecepatan selama geraknya, dengan kata lain kecepatannya
konstan. Resultan gaya yang bekerja pada objek tersebut sama dengan nol, seperti yang
dinyatakan oleh Newton pada Hukum I-nya tentang gerak, bahwa jika resultan gaya yang
bekerja pada suatu objek sama dengan nol maka ada dua kemungkinan mengenai gerak objek
itu, bergerak lurus beraturan atau diam. Secara matematis, Hukum I Newton untuk satu
dimensi dinyatakan dengan
ΣF = 0 ................................................................................................... (1)
sedangkan untuk dua dimensi adalah
pada sumbu x : ΣF = 0 dan
pada sumbu y : ΣF = 0 ........................................................................ (2)

Pertanyaan yang mungkin muncul adalah darimana asal kecepatan yang dimiliki objek
yang melakukan GLB jika resultan gayanya nol sementara telah diketahui bahwa penyebab
gerak adalah gaya. Penyebab objek melakukan GLB adalah gaya sesaat. Gaya sesaat

Hand Out Pokok Bahasan Dinamika, 2015


menghasilkan kecepatan awal pada objek sehingga objek bergerak. Contohnya saat kita
melempar batu dengan tangan, kita memberikan gaya pada batu dalam waktu yang singkat yaitu
selama batu masih dalam genggaman. Contoh lainnya adalah gaya yang diberikan oleh kaki saat
menendang bola. Gaya bekerja dalam waktu yang singkat, hanya selama kaki menyentuh bola.

Contoh 1

Kita tinjau sebuah balok yang diam pada lantai datar dan licin!

a. Balok diam b. DBB berupa balok c. DBB berupa titik

Gambar 1. Balok dan diagram benda bebasnya

Gaya yang bekerja pada balok adalah gaya berat ( = ) dan gaya normal ( ).
bekerja dari titik pusat massa balok dan mengarah lurus ke bawah sedangkan adalah gaya
normal. Oleh karena kedua benda diam terhadap sumbu y maka gaya ke atas dan ke bawah sama
besar (dalam gambar panjangnya sama). Gaya berat searah dengan percepatan gravitasi, yaitu
menuju pusat Bumi. Sementara itu, gaya normal adalah gaya kontak yang dikerjakan oleh
bidang terhadap benda di atasnya. Arah gaya normal selalu tegak lurus terhadap bidang dan
besarnya bergantung dari berat benda yang menekannya dan kemiringan bidang.
Gambar 1 (a) merupakan sketsa balok yang diam di atas lantai sedangkan Gambar 1 (b)
merupakan diagram benda bebas (DBB) berupa balok, dan Gambar 1 (c) merupakan diagram
benda bebas berupa titik. DBB adalah diagram gaya-gaya yang bekerja pada sebuah benda tanpa
menyertakan lingkungannya. Pada dasarnya DBB berupa balok dan DBB berupa titik sama saja.
Oleh karena itu, kita dapat menggunakan yang mana saja.

Oleh karena balok diam, sesuai dengan Hukum I Newton maka resultan gayanya sama
dengan nol.
Σ =0
− =0
=−
Nilai gaya berat sama dengan nilai gaya normal . Dalam gambar, kedua gaya tersebut
memiliki panjang yang sama.

Hand Out Pokok Bahasan Dinamika, 2015


Contoh 2
Sebuah balok diam dan berada di atas lantai datar dan licin. Balok lalu ditarik dengan
gaya ke kiri dan ke kanan. Jika balok tetap diam maka resultan gaya pada sumbu x dan
sumbu y adalah sama dengan nol.

Gambar 2. DBB berupa balok dan DBB berupa titik

Resultan gaya pada sumbu x Resultan gaya pada sumbu y


Σ =0 Σ =0
− =0 − =0
= =

Contoh 3

Bagaimana jika gaya-gaya yang bekerja pada suatu objek tidak


persis berada pada sumbu x atau sumbu y? Berikut ini diberikan
contohnya. Sebuah balok digantung dengan tali dan dalam keadaan
diam, seperti pada Gambar 3. Gaya-gaya yang bekerja pada balok dan
tali ditunjukkan oleh Gambar 4 (a). Gaya yang bekerja pada balok
adalah gaya berat w dengan arah ke bawah, dan gaya tegangan tali
berarah ke atas. Sementara gaya pada tali hanyalah gaya tegangan tali.
Gambar 4 (b) menunjukkan penguraian gaya-gaya pada simpul tali. Gambar 3. Balok diam
digantung dengan tali
Resultan gaya yang bekerja pada balok adalah
Σ =0
− =0
=

(a) (b)
Gambar 4. Sistem dan gaya-gayanya dan DBB untuk percabangan tali

Hand Out Pokok Bahasan Dinamika, 2015


Dari Gambar 4 (b), resultan gaya yang bekerja pada simpul tali dicari pada masing-
masing sumbu, yaitu resultan pada sumbu x dan resultan pada sumbu y
Resultan gaya pada sumbu x:
Σ =0
− ! =0
"#$ = ! "#$ .............................................................................. (3)
karena ! cos sama dengan "#$ maka dalam representasi gambar pun mesti sama
panjangnya.
Resultan gaya pada sumbu y:
Σ =0
! $() + $() − = 0
= ! $() + $()
dengan = = maka
= ! $() + $() ........................................................................ (4)
Sesuai dengan hasil pada persamaan (4) ini, penggambaran gaya harus sama panjang dengan
jumlah dari gaya + sin ) dan gaya + sin ), seperti yang terlihat pada Gambar 4 (b) di atas.
3. Gaya Gesekan
Gaya gesekan merupakan gaya yang sifatnya menghambat gerakan objek. Gaya gesekan
timbul pada dua bidang kasar yang bersentuhan. Arah gaya gesekan berlawanan dengan arah
gerak atau kecenderungan gerak benda. Walapun bersifat menghambat, ada banyak keuntungan
yang dihasilkan oleh gaya gesekan. Beberapa contoh manfaat dari adanya gaya gesekan yaitu
kita dapat berjalan kaki karena ada gaya gesekan antara alas kali dengan lantai, kendaraan dapat
melaju karena adanya gesekan antara roda dengan jalan yang membuat roda berputar tanpa slip.
Selain itu adalah benda-benda di sekitar kita menjadi mudah berhenti ketika ada gaya yang
mengenainya.
Gaya gesekan ada dua jenis, gaya gesekan statis dan gaya gesekan kinetis. Gaya gesekan
statis adalah gaya gesekan yang terjadi saat benda belum bergerak (masih diam) sedangkan gaya
gesekan kinetis adalah gaya gesekan yang terjadi saat benda bergerak. Besar gaya gesekan statis
tidak konstan, mulai dari nol sampai suatu nilai maksimum tertentu. Gambar 5 mengilustrasikan
perubahan pada gaya gesekan statis.

./ = 0 ./1
./

(a) (b) (c)

Gambar 5. Perubahan gaya gesekan statis

Suatu balok terletak di atas bidang kasar. Dua permukaan yang bersentuhan adalah lantai
dan permukaan dasar balok. Pada balok-balok tersebut, gaya-gaya yang bekerja pada sumbu
vertikal adalah gaya berat dan gaya normal, seperti telah dijelaskan pada contoh sebelumnya.

Hand Out Pokok Bahasan Dinamika, 2015


Sekarang gaya-gaya yang kita analisis adalah gaya-gaya pada sumbu horizontal. Balok
cenderung bergerak pada sumbu horizontal karena pengaruh gaya tarik. Gambar 5 (a)
merupakan sebuah balok yang diam di atas lantai kasar. Selama tidak ada gaya pada sumbu
horizontal yang bekerja pada balok maka gaya gesekan statis pada kedua bidang permukaan
tersebut sama dengan nol, ./ = 0.
Pada Gambar 5 (b), balok ditarik dengan gaya ke kanan namun balok tetap diam. Gaya
gesekan statis menghambat gerak balok. Karena balok tetap diam, sesuai dengan Hukum I
Newton maka gaya geseken statis bernilai sama besar dengan gaya tarik namun berlawanan
arah.
./ = −
atau secara skalar
23 =
Pada Gambar 5 (c), gaya tarik diperbesar dan balok hampir bergerak. Saat ini gaya
gesekan statis mencapai nilai maksimumnya karena jika gaya tarik diperbesar sedikit saja maka
balok akan bergerak, dan gaya gesekan yang bekerja adalah gaya gesekan kinetis. Besar gaya
gesekan statis maksimum (234 ) bergantung pada koefisien gesekan statis (53 ) dan gaya normal
( ) yang dikerjakan bidang terhadap balok. Secara matematis
234 = 53 ............................................................................................. (5)
Sementara itu, besar gaya gesekan kinetis bersifat konstan selama balok bergerak. Seperti
contoh pada Gambar 5 (c) di atas, jika gaya tarik diperbesar sedikit lagi maka balok menjadi
bergerak. Gaya gesekan yang bekerja adalah gaya gesekan kinetis. Besar gaya gesekan kinetis
lebih kecil daripada gaya gesekan statis maksimum. Besar gaya gesekan kinetis (26 ) bergantung
pada koefisien gesekan kinetis (56 ) dan gaya normal ( ), secara matematis di dirumuskan
26 = 56 ............................................................................................... (6)
Pada Gambar 6 diberikan grafik perubahan nilai gaya gesekan (2) terhadap gaya tarik ( )
yang dikerjakan pada balok.

2
234
(1)
(2)
26

234
Gambar 6. Perubahan nilai gaya gesekan terhadap gaya tarik

Penjelasan mengenai grafik ini yaitu untuk kurva (1), ketika yang bekerja pada balok
kurang dari atau sama besar dengan 234 maka balok tetap diam, dan besar gaya gesekan statis
yang bekerja saat itu adalah sama besar dengan gaya tarik. Selanjutnya untuk kurva (2), ketika
lebih besar 234 maka balok menjadi bergerak, dan gaya gesekan yang bekerja adalah gaya
gesekan kinetis yang besarnya konstan walaupun gaya tarik terus diperbesar.

Hand Out Pokok Bahasan Dinamika, 2015


Contoh 4

Sebuah balok berada pada bidang miring dengan sudut kemiringan θ dan dalam keadaan hampir
bergerak (Gambar 7. a). Jika diketahui massa balok m, dan percepatan gravitasi g maka kita
dapat menghitung koefisien gesekan statis bidang miring.

Sebelumnya kita harus menentukan gaya-gaya yang dialami balok. Ada gaya berat dengan arah
lurus ke bawah, gaya normal dengan arah tegak lurus menjauhi bidang miring, dan gaya
gesekan statis maksimum yang arahnya melawan kecenderungan arah gerak balok. Tanpa
gesekan, balok akan bergerak menuruni bidang miring, maka arah gaya gesekan adalah naik
bidang miring. DBB ditunjukkan oleh Gambar 7 (b) dan (c).

./? ./?
/=> 9
θ /=> 9
78/ 9 θ
: x
78/ 9

(a) (b) (c)

Gambar 7. a) balok diam, b) DBB berupa balok, c) DBB berupa titik

Oleh karena benda belum bergerak, maka resultan gaya pada sumbu x dan sumbu y sama
dengan nol.
Σ =0
+ 78/ 9 = 0
− "#$ : = 0
= "#$ : .......................................................................................... (7)

Σ =0
$() : + ./1 = 0
$() : − 234 = 0
234 = $() : ........................................................................................ (8)

Sementara itu gaya gesekan statis maksimum adalah


234 = 53
$() : = 53 "#$ :
$() : = 53 "#$ :
$() :
53 =
"#$ :
53 = ;<) : ............................................................................................ (9)
Jadi koefisien gesekan statis sama dengan kemiringan bidang.

Hand Out Pokok Bahasan Dinamika, 2015


4. Hukum II Newton
Hukum II Newton merupakan hukum fundamental bagi mekanika klasik. Analisis
permasalahan gerak selalu berangkat hukum ini. dari Hukum ini menyatakan hubungan antara
resultan gaya dan massa terhadap percepatan suatu objek. Jika suatu resultan gaya (Σ ) bekerja
pada objek yang massanya ( ), maka objek tersebut akan mengalami percepatan (A) yang
besarnya berbanding lurus dengan resultan gaya yang dialaminya, dan berbanding terbalik
dengan massa objek itu sendiri.
Σ = A ....................................................................................... (10)
Sekilas tampak bahwa Hukum I dan Hukum II Newton saling berkaitan. Bisa dikatakan
bahwa secara matematis Hukum I tidak lain adalah bentuk Hukum II dengan percepatan nol.
Jika percepatan benda sama dengan nol (bendanya diam atau melakukan GLB) berarti resultan
gaya padanya sama dengan nol.

Contoh 5

Perhatikan gambar di samping! Gaya tarik yang diberikan


ke balok melebihi gaya gesekan statis maksimum sehingga balok .B
bergerak, dan gaya gesekan yang terjadi adalah gaya gesekan
kinetis. Pada gambar tersebut tampak bahwa digambar lebih Gambar 8. Balok ditarik
panjang daripada .B , yang berarti resultan gaya pada sumbu x tidak
nol. Karena balok tidak bergerak pada sumbu y maka resultan gaya
pada sumbu y adalah nol, sehingga = .

Persamaan gaya balok pada sumbu x:


Σ = A
+ .B = A
− 26 = < dengan 26 = 56 = 56 C
− 56 C = < .......................................................................... (11)

Contoh 6
Pada Gambar 9, sebuah balok diletakkan pada suatu bidang miring licin. Balok kemudian
bergerak menuruni bidang miring. Gambar 10 diberikan DBB berupa balok.
Pada sumbu y balok tidak bergerak maka diperoleh
= "#$ :
Sedangkan pada sumbu x resultan gaya tidak sama dengan nol.
Σ = A
$() : = <
< = C $() : ........................................................................................ (12)

Hand Out Pokok Bahasan Dinamika, 2015


a

/=> 9
θ
78/ 9
θ

Gambar 9. Balok bergerak Gambar 10. DBB berupa balok

Contoh 7

Mirip dengan Contoh 2, sekarang kita tinjau bidang miring yang kasar dan balok bergerak
menuruni bidang miring. Persamaan gaya pada sumbu y sama dengan sebelumnya. Pada sumbu
x, oleh karena ada gaya gesekan .B maka persamaan gayanya adalah
Σ = A
$() : − 56 = <
$() : − 56 "#$ : = < .B
Selanjutnya kita dapat menentukan /=> 9
percepatan balok, yaitu 78/ 9
$() : − 56 "#$ :
<=
< = C $() : − 56 C "#$ : Gambar 11. DBB berupa balok

5. Hukum III Newton

Ketika objek pertama mengerjakan gaya pada objek kedua, maka objek kedua juga akan
mengerjakan gaya yang sama besar kepada objek pertama namun berlawanan arah. Hal ini
dinyatakan oleh Newton dengan Hukum III-nya. Secara matematis hubungan gaya aksi dan
gaya reaksi secara vektor dinyatakan

DEFG =− HIDEFG
atau
DEFG + HIDEFG = 0 ......................................................................... (13)

Perlu ditekankan bahwa gaya aksi dan gaya reaksi muncul secara bersamaan, tidak ada
yang mendahului yang lainnya. Pemakaian istilah gaya aksi dan gaya reaksi pun dapat
dipertukarkan pada kedua gaya yang merupakan pasangan gaya aksi-reaksi. Ada empat ciri
yang dimiliki oleh dua gaya yang merupakan pasangan gaya aksi-reaksi, yaitu:
1. bekerja pada dua objek yang berbeda,
2. berlawanan arah,
3. sama besar, dan
4. terletak pada satu garis lurus.

Hand Out Pokok Bahasan Dinamika, 2015


Contoh 8

Perhatikan Gambar 12! Apakah dan merupakan pasangan


gaya aksi-reaksi? Sekilas tampak jawabannya “iya”. Besar kedua
gaya tersebut sama, dan arahnya berlawanan. Selain itu, kedua gaya
tersebut juga segaris (melalui titik berat balok). Hanya saja di sini
dalam menggambar gaya dan tidak dibuat tepat segaris, dengan
tujuan untuk menghindari kesalahan pembaca dalam melihat panjang
kedua gaya karena salah satu akan menutupi yang lain. Namun
Gambar 12. Gaya
demikian, ada satu syarat yang tidak dipenuhi oleh dan jika normal dan gaya berat
merupakan pasangan gaya aksi-reaksi, yaitu syarat pertama. Kedua
gaya tersebut bekerja pada satu objek yang sama, yaitu balok. Jika demikian, mana pasangan
dari masing-masing gaya tersebut?

Contoh 9

Sekarang perhatikan Gambar 12, pasangan adalah


′ ′ ′
dan pasangan adalah . adalah gaya normal yang
dikerjakan oleh balok ke lantai. Selama ini gaya normal tersebut
tidak pernah disertakan. Hal ini karena sistemnya adalah balok
K
maka gaya-gaya yang dibahas adalah gaya-gaya yang bekerja
pada balok saja. Sementara itu, ′ adalah gaya tarik (gaya
K
gravitasi) yang dialami oleh Bumi yang ditimbulkan oleh balok.
Tentu saja gaya ini tidak berarti apa-apa jika bekerja pada Bumi
yang massanya jauh lebih besar dibandingkan massa balok.
pusat bumi

Gambar 13. Pasangan gaya


aksi-reaksi

Contoh 10

Sekarang perhatikan Gambar 13! Sebuah


balok di atas bidang kasar ditarik dengan tali. K
Pasangan gaya aksi-reaksinya adalah ./ dengan
./
./ ′ dan dengan K . Gaya gesekan ./ bekerja
pada balok sedangkan ./ ′ bekerja pada lantai. ./ ′
Keduanya terletak pada satu garis lurus. Gaya
lain, bekerja pada balok sedangkan Gambar 14. Pasangan gaya aksi-reaksi pada
balok yang ditarik dengan tali
pasangannya K , bekerja pada tangan yang
menarik tali tersebut.

Hand Out Pokok Bahasan Dinamika, 2015


Contoh 11

Sebuah beban digantung dengan tali dan diikatkan pada atap, seperti gambar di samping.
Maka gaya yang bekerja pada beban adalah gaya berat ( ) dan gaya tegangan tali ( ). Apakah
kedua gaya tersebut adalah pasangan gaya aksi-reaksi?
dan bukan pasangan gaya aksi reaksi. Pasangan gaya aksi-reaksinya adalah
K
dengan dan dengan K . Gaya dan K adalah gaya-gaya gravitasi antara beban dengan
Bumi sedangkan gaya dan K adalah gaya tegangan tali yang bekerja pada benda-benda yang
berbeda, bekerja pada beban sedangkan K bekerja pada atap.

beban

Bumi

Gambar 15. Pasangan gaya aksi-


reaksi pada beban yang digantung
dengan tali

Hand Out Pokok Bahasan Dinamika, 2015