Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGUJIAN RHODAMIN B & METHANIL YELLOW PADA MAKANAN

MATA KULIAH
PENJAMINAN MUTU PERTANIAN

Oleh
Niken Ayu Widyasari
NIRM (05.1.4.16.0725)
Semester VI C

Dosen Pengampu : Ir. B. Budi Setiawati, MP


Tanggal Penugasan : Selasa, 2 April 2019

KEMENTERIAN PERTANIAN
BADAN PENYULUHAN DAN PENGEMBANGAN SDM PERTANIAN
POLITEKNIK PEMBANGUNAN PERTANIAN YOGYAKARTA-MAGELANG
JURUSAN PENYULUHAN PERTANIAN BERKELANJUTAN
YOGYAKARTA

2019
I. DASAR TEORI
A. Zat Pewarna Sintetis
Warna merupakan salah satu aspek penting dalam hal penerimaan
konsumen terhadap suatu produk pangan. Warna dalam bahan pangan
dapat menjadi ukuran terhadap mutu, warna juga dapat digunakan
sebagai indikator kesegaran atau kematangan juga menambahkan
bahwa apabila suatu produk pangan memiliki nilai gizi yang baik, enak
dan tekstur yang sangat baik akan tetapi jika memiliki warna yang tidak
sedap dipandang akan memberi kesan bahwa produk pangan tersebut
telah menyimpang (Winarno, 1992) dalam (Anzar, 2016).
Menurut Elbe et al. (1996), zat pewarna merupakan suatu bahan
kimia baik alami maupun sintetik yang memberikan warna.
Berdasarkan sumbernya, zat pewarna untuk makanan dapat
diklasifikasikan menjadi pewarna alami dan sintetik (Winarno, 1992)
dalam (Anzar, 2016).
Pewarna alami yaitu zat warna yang diperoleh dari hewan seperti ;
warna merah muda pada flamingo dan ikan salem sedangkan dari
tumbuh-tumbuhan seperti; karamel, coklat dan daun suji. Pewarna
buatan sering juga disebut dengan zat warna sintetik. Proses pembuatan
zat warna sintetik ini biasanya melalui perlakuan pemberian asam sulfat
atau asam nitrat yang seringkali terkontaminasi oleh arsen atau logam
berat lain yang bersifat racun (Winarno, 1994) dalam (Anzar, 2016).
Timbulnya penyalahgunaan disebabkan oleh ketidaktahuan
masyarakat mengenai pewarna untuk makanan, disamping itu harga zat
perwarna untuk industri jauh lebih murah dibandingkan harga zat
perwarna untuk makanan dan warna dari zat pewarna untuk industri
biasanya lebih menarik. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI
No.1168/Menkes/PER/X/1999 beberapa bahan tambahan pewarna yang
dilarang seperti Rodamin B (pewarna merah) dan Methanil yellow
(pewarna kuning) (Cahyadi, 2006) dalam (Anzar, 2016).
Adapun perbedaan antara zat pewarna sintetis dan alami dapat
dilihat pada tabel berikut :
Zat Pewarna Zat Pewarna
Pembeda
Sintetis Alami
Warna yang dihasilkan Lebih cerah Lebih pudar
Variasi warna Lebih banyak Sedikit
Harga Lebih murah Lebih mahal
Ketersediaan Tidak terbatas Terbatas
Kestabilan Stabil Kurang stabil
Sumber : Lee (2005) dalam (Anzar, 2016)

B. Rhodamin B
1. Mengenal Rhodamin B
Rhodamin B merupakan zat warna sintetik yang umum
digunakan sebagai pewarna tekstil (Djalil, dkk, 2005) dalam
(Wirasto, 2008). Zat ini ditetapkan sebagai zat yang dilarang
penggunaannya pada makanan melalui Permenkes Nomor 033
Tahun 2012. Namun penggunaan Rodamin B dalam makanan masih
terdapat di lapangan. Rumus Molekul dari Rodamin B adalah
C28H31N2O3Cl dengan berat molekul sebesar 479.000.

Gambar 1. Struktur Kimia Rhodamin B

Zat yang sangat dilarang penggunaannya dalam makanan ini


berbentuk kristal hijau atau serbuk ungu kemerah-merahan, sangat
larut dalam air yang akan menghasilkan warna merah kebiru-biruan
dan berfluorensi kuat. Rodamin B juga merupakan zat yang larut
dalam alkohol, HCl, dan NaOH, selain dalam air. Di dalam
laboratorium, zat tersebut digunakan sebagai pereaksi untuk
identifikasi Pb, Bi, Co, Au, Mg, dan Th dan titik leburnya pada suhu
165°C (Hamdani, 2013) dalam (Anzar, 2016).
Rodamin B merupakan pewarna sintetis yang digunakan pada
industri tekstil. Pengaruh buruk Rodamin B bagi kesehatan antara
lain menimbulkan iritasi pada saluran pernapasan, kulit, mata, dan
saluran pencernaan serta berpotensi terjadinya kanker hati.
Penyalahgunaan Rodamin B banyak ditemui pada makanan dan
minuman seperti es cendol, permen, sambal botol, dan kue (Wijaya,
2001) dalam (Anzar, 2016).
2. Pengujian Rhodamin B
Metode uji Rhodamin B Test Kit adalah suatu metode untuk
menguji kandungan Rhodamin B pada suatu sampel makanan
dengan mengamati perubahan warna yang terjadi pada sampel
bahan pangan setelah ditetesi Reagent. Terdapat dua Reagent yaitu
Reagent A dan Reagent B. Reagent A yang berisi larutan pereaksi
SbCl5 (StibiumClorida) dalam HCl5N. Sedangkan Reagent B yang
berisi larutan pereaksi toluene (Metil Benzena).
Suatu bahan makanan yang positif mengandung Rhodamin B
ditandai dengan tidak menghilangnya warna merah larutan saat
penambahan Reagent A yang dilakukan dengan pengocokan kuat.
Warna merah kembali muncul dengan intensitas warna yang
semakin menguat hingga menjadi warna ungu kemerahan saat
penambahan Reagent B. Cairan akhir hasil reaksi akan terlihat
memisah membentuk dua lapisan saat penambahan Reagent B. Hal
ini disebabkan karena Reagent A (SbCl5) dan Reagent B (C6H5CH3)
memiliki bobot jenis yang berbeda. Perbedaan inilah yang
mengakibatkan Reagent A berada pada lapisan bawah cairan dan
Reagent B berada pada lapisan atas cairan (Andayani, 2013).

C. Metahnil Yellow
1. Mengenal Methanil Yellow
Methanil yellow atau kuning metanil merupakan bahan pewarna
sintetik berbentuk serbuk, berwarna kuning kecoklatan, bersifat
larut dalam air dan alkohol, agak larut dalam benzen dan eter, serta
sedikit larut dalam aseton. Pewarna ini umumnya digunakan sebagai
pewarna pada tekstil, kertas, tinta, plastik, kulit, dan cat, serta
sebagai indikator asam-basa di laboratorium. Namun pada
prakteknya, di Indonesia pewarna ini sering disalahgunakan untuk
mewarnai berbagai jenis pangan antara lain kerupuk, mi, tahu, dan
pangan jajanan yang berwarna kuning, seperti gorengan (Mariska,
2014).
Saat ini banyak kuning (methanil yellow) disalahgunakan untuk
pangan, beberapa diantaranya telah ditemukan di dalam bahan
pangan jajanan berwarna kuning dan banyak juga sebagai pewarna
pada tahu. Ciri pangan yang mengandug pewarna metanil yellow di
antaranya berwarna kuning menyolok dan cenderung berpendar,
banyak memberikan titik-titik warna karena tidak homogen,
misalnya pada kerupuk (Mariska, 2014).
Methanil yellow sangat berbahaya bagi kesehatan tubuh. Oleh
karena itu, pemerintah melalui Menteri Kesehatan telah
mengeluarkan peraturan tegas melalui Permenkes Nomor 033
Tahun 2012 tentang zat warna tertentu yang dinyatakan berbahaya
dan dilarang untuk ditambahkan ke dalam makanan atau minuman.
Pewarna kuning (methanil yellow) sangat berbahaya jika terhirup,
mengenai kulit, mengenai mata, dan tertelan. Dampak yang terjadi
dapat berupa iritasi pada saluran pernafasan, iritasi pada kulit, iritasi
pada mata, dan bahaya kanker pada kandung dan saluran kemih.
Apabila tertelan dapat menyebabkan iritasi saluran cerna, mual,
muntah, sakit perut, diare, demam, lemah, dan tekanan darah rendah
(Mariska, 2014).
2. Pengujian Methanil Yellow
Metode pengujian Methanil Yellow dilakukan dengan
menggunakan alat uji chem kit untuk Methanil Yellow. Suatu bahan
dikatakan mengandung Methanil Yellow apabila terbentuk warna
ungu hasil reaksi dengan peraksi pada chem kit, atau terjadi
perubahan warna dari warna sebelumnya juga dapat
mengindikasikan adanya pewarna Methanil Yellow dalam makanan.
Pembentukan warna ungu didasarkan pada reaksi Methanil Yellow
dengan asam yang terdapat dalam pereaksi chem kit (Azizahwati
dkk., 2007) dalam (Aprilia, 2015).

D. Standar Mutu Bahan Pangan


1. Kerupuk
Menurut SNI 01-2713-1999, kerupuk adalah suatu produk
makanan kering yang dibuat dari tepung pati, daging atau ikan,
dengan penambahan bahan-bahan lainnya dan bahan tambahan
makanan yang diizinkan.
Kerupuk yang baik memiliki kualitas sensori dan mikrobiologis
sesuai standar mutu yang telah ditetapkan. Syarat mutu kerupuk
menurut SNI 01-2713-1999, yaitu :
No. Kriteria Uji Satuan Persyaratan
1 Bau - Normal
2 Rasa - Normal
3 Warna - Normal
4 Rhodamin B % (b/b) Tidak ada
5 Methanil Yellow % (b/b) Tidak ada
Sumber : Standar Nasional Indonesia, 1999
2. Gethuk
Menurut SNI 01-4299-1996, gethuk adalah makanan yang
terbuat dari singkong, dikukus, dicampur dengan gula, digiling/
dilumatkan, kemudian dibentuk dengan atau tanpa penambahan
bahan makanan dan baha tambaha makanan lain yang diijinkan.
Gethuk yang baik memiliki kualitas sensori dan mikrobiologis
sesuai standar mutu yang telah ditetapkan. Syarat mutu gethuk
menurut SNI 01-4299-1996, yaitu :
No. Kriteria Uji Satuan Persyaratan
1 Bau - Manis khas
2 Rasa - Normal
3 Warna - Normal
4 Rhodamin B % (b/b) Tidak ada
5 Methanil Yellow % (b/b) Tidak ada
Sumber : Standar Nasional Indonesia, 1996
3. Sirup
Menurut SNI 3544 : 2013, sirup adalah produk minuman yang
dibuat dari campuran air dan gula dengan kadar larutan gula
minimal 65% dengan atau tanpa bahan pangan lain dan atau bahan
tambahan pangan yang diijinkan sesuai ketentuan yang berlaku.
Sirup yang baik memiliki kualitas sensori dan mikrobiologis
sesuai standar mutu yang telah ditetapkan. Syarat mutu sirup
menurut SNI 3544 : 2013, yaitu :
No. Kriteria Uji Satuan Persyaratan
1 Bau - Manis khas
2 Rasa - Normal
3 Total gula % (b/b) Minimal 65
4 Rhodamin B % (b/b) Tidak ada
5 Methanil Yellow % (b/b) Tidak ada
Sumber : Standar Nasional Indonesia, 2013
4. Saus Cabe
Menurut SNI 01-2976-2006, saus cabe adalah saus yang
diperoleh dari bahan utama cabe (Capsicum sp) yang baik, yang
diolah dengan penambahan bumbu-bumbu dengan atau tanpa bahan
makanan lain dan bahan tambahan pangan yang diizinkan.
Saus cabe yang baik memiliki kualitas sensori dan
mikrobiologis sesuai standar mutu yang telah ditetapkan. Syarat
mutu saus cabe menurut SNI 01-2976-2006, yaitu :
No. Kriteria Uji Satuan Persyaratan
1 Bau - Manis khas
2 Rasa - Normal
3 pH - Maksimal 4
4 Rhodamin B % (b/b) Tidak ada
5 Methanil Yellow % (b/b) Tidak ada
Sumber : Standar Nasional Indonesia, 2006
5. Minuman Sari Buah
Menurut SNI 3719 : 2014, minuman sari buah adalah minuman
yang diperoleh dengan mencampur air minum, sari buah atau
campuran sari buah yang tidak difermentasi, dengan bagian lain dari
satu jenis buah atau lebih, dengan atau tanpa penambahan gula,
bahan pangan lainnya, bahan tambahan pangan yang diizinkan.
Minuman sari buah yang baik memiliki kualitas sensori dan
mikrobiologis sesuai standar mutu yang telah ditetapkan. Syarat
mutu minuman sari buah menurut SNI 3719 : 2014, yaitu :
No. Kriteria Uji Satuan Persyaratan
1 Bau - Khas, normal
2 Rasa - Khas, normal
3 Warna - Khas, normal
4 Rhodamin B % (b/b) Tidak ada
5 Methanil Yellow % (b/b) Tidak ada
Sumber : Standar Nasional Indonesia, 2014
6. Selai Buah / Jam
Menurut SNI 3746 : 2008, selai buah adalah produk makanan
semi basah yang dapat dioleskan yang dibuat dari pengolahan buah-
buahan (segar, beku, dalam kaleng, bubur buah, puree, konsentrat)
dan gula dengan atau tanpa penambahan bahan pangan lain dan
bahan tambahan pangan yang diijinkan.
Selai buah yang baik memiliki kualitas sensori dan
mikrobiologis sesuai standar mutu yang telah ditetapkan. Syarat
mutu selai buah menurut SNI 3746 : 2008, yaitu :
No. Kriteria Uji Satuan Persyaratan
1 Bau - Normal
2 Rasa - Normal
3 Warna - Normal
4 Serat Buah - Positif
5 Rhodamin B % (b/b) Tidak ada
6 Methanil Yellow % (b/b) Tidak ada
Sumber : Standar Nasional Indonesia, 2008
7. Minuman Instan Serbuk
Menurut SNI 01-4320-1996, minuman serbuk adalah bahan
minuman berbentuk serbuk atau granula yang dibuat dari campuran
gula dan bahan lain (sari buah, rempah-rempah) dengan atau tanpa
penambahan bahan makanan lain dan bahan tambahan makanan
yang diizinkan.
Minuman instan serbuk yang baik memiliki kualitas sensori dan
mikrobiologis sesuai standar mutu yang telah ditetapkan. Syarat
mutu minuman instan serbuk menurut SNI 01-4320-1996, yaitu :
No. Kriteria Uji Satuan Persyaratan
1 Bau - Khas, normal
2 Rasa - Khas, normal
3 Warna - Khas, normal
4 Rhodamin B % (b/b) Tidak ada
5 Methanil Yellow % (b/b) Tidak ada
Sumber : Standar Nasional Indonesia, 1996
8. Tahu
Menurut SNI 01-3142-1998, tahu adalah suatu produk makanan
padatan lunak yang dibuat melalui proses pengolahan kedelai
(Glycine Species) dengan cara pengendapan proteinnya, dengan atau
tanpa penambahan bahan lain yang diijinkan.
Dalam pengolahan tahu kuning, biasanya produsen
menggunakan methanol yellow sebagai pewarna agar warnanya
lebih menarik dan digemari oleh para para konsumen tahu di
pasaran.
Tahu yang baik memiliki kualitas sensori dan mikrobiologis
sesuai standar mutu yang telah ditetapkan. Syarat mutu tahu
menurut SNI 01-3142-1998, yaitu :
No. Kriteria Uji Satuan Persyaratan
1 Bau - Normal
2 Rasa - Normal
3 Warna - Putih normal/kuning
normal
4 Penampakan - Normal, tidak berlendir,
dan tidak berjamur
5 Methanil Yellow % (b/b) Tidak ada
Sumber : Standar Nasional Indonesia, 1998

II. TUJUAN
Adapun tujuan dari kegiatan praktikum ini adalah untuk
mengidentifikasi indikasi adanya Rhodamin B dan Methanil Yellow pada
sampel bahan makanan melalui uji test kit.
III. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
1. Pengujian Rhodamin B
Peralatan yang diperlukan dalam kegiatan praktikum pengujian
Rhodamin B adalah sebagai berikut :
a. Neraca analitik e. Pipet
b. Tabung reaksi f. Air panas
c. Gelas ukur g. Test kit (Rhodamin B)
d. Tumbukan porselen h. Kertas (alas sampel)

2. Pengujian Methanil Yellow


Peralatan yang diperlukan dalam kegiatan praktikum pengujian
Methanil Yellow adalah sebagai berikut :
a. Neraca analitik e. Pipet
b. Tabung reaksi f. Air panas
c. Gelas ukur g. Test kit (Methanil Yellow)
d. Tumbukan porselen h. Kertas (alas sampel)

B. Bahan
1. Pengujian Rhodamin B
Bahan-bahan yang diperlukan dalam kegiatan praktikum
pengujian Rhodamin B adalah sebagai berikut :
a. Kerupuk
b. Gethuk
c. Sirup marjan coco pandan
d. Saus cabe
2. Pengujian Methanil Yellow
Bahan-bahan yang diperlukan dalam kegiatan praktikum
pengujian Methanil Yellow adalah sebagai berikut :
a. Buavita mangga e. Kerupuk
b. Selai nanas f. Gethuk
c. Nutrisari jeruk
d. Tahu kuning
IV. CARA KERJA
A. Pengujian Rhodamin B
Langkah-langkah dalam pengujian Rhodamin B adalah sebagai
berikut :
1. Jika sampel berbentuk cairan ambil 5 ml (1 sdm) sampel, masukkan
ke dalam tabung reaksi. Jika berupa padatan ambil 1 sdt dalam
cawan kemudian dihaluskan dan ditambah 20 ml air mendidih, aduk
dan diamkan sebentar.
2. Ambil 5 ml air larutan lalu masukkan ke dalam tabung reaksi.
3. Tambahkan 2 tetes Reagent A.
4. Tambahkan 4 tetes Reagent B.
5. Dikocok dengan kuat dan amati perubahan warna, jika terbentuk
warna coklat berarti hasil uji negatif. Jika terbentuk warna merah
keunguan maka sampel positif mengandung Rhodamin B.

B. Pengujian Methanil Yellow


Prosedur bila bahan berupa padatan :
1. Jika sampel berupa padatan, timbang sampel 20 gram (1 sdm) dalam
cawan kemudian dihaluskan dengan menambahkan 40 ml (8 sdm)
air panas dan masukkan ke dalam tabung/wadah gelas dan aduk
sampai tercampur rata.
2. Ambil 5 ml (1 sdm) airnya saja lalu tambahkan Reagent A sebanyak
4 tetes, lalu aduk dan biarkan dingin.
3. Ambil 3 ml (1 sdt) air dari campuran tadi, masukkan ke dalam
tabung reaksi.
4. Lalu tambahkan Reagent B sebanyak 4 tetes, bila terbentuk warna
merah jambon (merah keunguan, akan menjadi warna ungu jika
kandungan senyawa ini banyak) atau warna pink maka sampel
positif mengandung Methanil Yellow.
Prosedur bila bahan berupa cairan :
1. Ambil 2-3 ml (1 sdt) bahan yang akan diuji, masukkan ke dalam
tabung reaksi lalu tambahkan Reagent A sebanyak 4 tetes.
2. Lalu tambahkan Reagent B sebanyak 4 tetes, bila terbentuk warna
merah jambon (merah keunguan, akan menjadi warna ungu jika
kandungan senyawa ini banyak) atau warna pink maka sampel
positif mengandung Methanil Yellow.

V. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil Pengamatan
1. Pengujian Rhodamin B
a. Sampel dan Karakteristik Sampel
Sampel yang digunakan dalam pengujian Rhodamin B
adalah kerupuk warna merah, gethuk warna merah, sirup marjan
coco pandan, dan saus cabe. Berikut adalah tabel sampel dan
karakteristik sampel yang digunakan dalam pengujian
Rhodamin B.

Nama Karakteristik Fisik


No Gambar
Produk (Sebelum Uji)
1 Kerupuk Warna : Merah muda
Rasa : Gurih, asin
Aroma : Kerupuk
Tekstur : Renyah, agak
Lengket
2 Gethuk Warna : Merah muda
menyala
Rasa : Manis
Aroma : Harum
Tekstur : Agak kenyal,
Empuk
3 Sirup Warna : Merah tua
Marjan Rasa : Manis
Aroma : Pandan
Tekstur : Kental
4 Saus Warna : Orange
Cabe kemerahan
Rasa : Manis, pedas,
asam
Aroma : Agak asam
Tekstur : Kental
b. Hasil Uji Rhodamin B Pada Sampel
No Nama Produk Hasil Uji Warna
1 Kerupuk Negatif (–) Coklat muda
2 Gethuk Positif (+) Merah muda keunguan
3 Sirup Marjan Negatif (–) Coklat tua
4 Saus Cabe Negatif (–) Coklat muda

Keterangan :
(–) = Sampel negatif mengandung Rhodamin B
(+) = Sampel positif mengandung Rhodamin B (rendah)
(++) = Sampel positif mengandung Rhodamin B (sedang)
(+++) = Sampel positif mengandung Rhodamin B (tinggi)

2. Pengujian Methanil Yellow


a. Sampel dan Karakteristik Sampel
Sampel yang digunakan dalam pengujian Methanil Yellow
adalah kerupuk warna kuning, gethuk warna kuning, buavita
mangga, selai nanas (pineapple jam), nutrisari jeruk, dan tahu
kuning. Berikut adalah tabel sampel dan karakteristik sampel
yang digunakan dalam pengujian Methanil Yellow.
Nama Karakteristik Fisik
No Gambar
Produk (Sebelum Uji)
1 Buavita Warna : Kuning muda
Mangga Rasa : Manis,
mangga
Aroma : Mangga
Tekstur : Cair

2 Pineaple Warna : Kuning


Jam bening
Rasa : Manis asam
Aroma : Agak asam
Tekstur : Kental,
Lengket
3 Nutrisari Warna : Orange
Jeruk Rasa : Manis, asam
Aroma : Jeruk
Tekstur : Butiran
4 Tahu Warna : Kuning (luar)
Kuning Putih (dalam)
Rasa : Asin, gurih
Aroma : Khas tahu
Tekstur : Lembut, agak
Padat

5 Kerupuk Warna : Merah muda


Rasa : Gurih, asin
Aroma : Kerupuk
Tekstur : Renyah, agak
Lengket
6 Gethuk Warna : Merah muda
menyala
Rasa : Manis
Aroma : Harum
Tekstur : Agak kenyal,
Empuk
b. Hasil Uji Methanil Yellow Pada Sampel
No Nama Produk Hasil Uji Warna
1 Buavita Mangga Negatif (–) Kuning keruh
2 Pineaple Jam Negatif (–) Bening
3 Nutrisari Jeruk Negatif (–) Orange
4 Tahu Kuning Negatif (–) Bening
5 Kerupuk Negatif (–) Kuning muda bening
6 Gethuk Negatif (–) Kuning muda keruh

Keterangan :
(–) = Sampel negatif mengandung Methanil Yellow
(+) = Sampel positif mengandung Methanil Yellow (rendah)
(++) = Sampel positif mengandung Methanil Yellow (sedang)
(+++) = Sampel positif mengandung Methanil Yellow (tinggi)

B. Pembahasan
1. Pengujian Rhodamin B
Pengujian Rhodamin B dilakukan pada empat sampel produk
pangan yaitu kerupuk, gethuk, sirup marjan dan saus cabe untuk
mengetahui apakah bahan-bahan tersebut mengandung bahan
pewarna sintetis Rhodamin B (pewarna merah) atau tidak. Uji
Rhodamin B dilakukan dengan metode uji Test Kit. Prinsip
kerjanya adalah dengan menambahkan cairan (Reagent A dan B)
pada bahan makanan yang diduga menggunakan Rhodamin B dan
mengamati perubahan warna yang terjadi pada sampel.
Sampel produk pangan yang positif mengandung Rhodamin B
ditandai dengan tidak menghilangnya warna merah larutan saat
penambahan Reagent A yang dilakukan dengan pengocokan kuat.
Warna merah kembali muncul dengan intensitas warna yang
semakin menguat hingga menjadi warna ungu kemerahan saat
penambahan Reagent B. Cairan akhir hasil reaksi akan terlihat
memisah membentuk dua lapisan saat penambahan Reagent B.
Reagent A berada pada lapisan bawah cairan dan Reagent B berada
pada lapisan atas cairan.
a. Kerupuk (Merah)
Produk kerupuk yang digunakan sebagai sampel pengujian
Rhodamin B adalah kerupuk yang berwarna merah.
Karakteristik kerupuk yang digunakan adalah berwarna merah
muda, rasanya gurih dan asin, aroma khas kerupuk, serta tekstur
yang renyah dan agak lengket saat dimakan. Karakteristik
tersebut tergolong normal sehingga sudah cukup sesuai dengan
syarat mutu kerupuk yang tercantum dalam SNI 01-2713-1999
baik dari segi warna, rasa, maupun aroma.
Hasil pengujian Rhodamin B terhadap sampel kerupuk
menunjukkan perubahan warna pada tabung reaksi dari merah
muda menjadi coklat muda. Perubahan warna ini menandakan
bahwa sampel yang diuji tidak mengandung bahan pewarna
sintetis Rhodamin B sehingga cukup aman untuk dikonsumsi.
Adapun ciri-ciri produk pangan yang mengandung
Rhodamin B antara lain berwarna merah mencolok (cerah) dan
cenderung berpendar, banyak memberikan titik-titik warna
karena tidak homogen.
b. Gethuk (Merah)
Produk gethuk yang digunakan sebagai sampel pengujian
Rhodamin B adalah gethuk yang berwarna merah. Karakteristik
gethuk yang digunakan adalah berwarna merah muda menyala,
rasanya manis, aromanya harum, serta teksturnya agak kenyal
dan empuk. Karakteristik tersebut tergolong normal sehingga
sudah cukup sesuai dengan syarat mutu gethuk yang tercantum
dalam SNI 01-4299-1996 baik dari segi rasa dan aroma, namun
kurang sesuai dari segi warnanya yang mencolok.
Hasil pengujian Rhodamin B terhadap sampel gethuk
menunjukkan perubahan warna pada tabung reaksi dari merah
muda menyala menjadi merah muda keunguan. Perubahan
warna ini menandakan adanya indikasi Rhodamin B yang
terkandung pada sampel gethuk. Warna merah muda keunguan
termasuk ke dalam kategori rendah, artinya kandungan
Rhodamin B pada sampel gethuk masih relatif sedikit.
Meskipun demikian, penggunaan Rhodamin B sebagai bahan
tambahan pangan tetaplah dilarang sebagaimana tertera pada
Permenkes No 033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan
Pangan (BTP).
Sekecil apapun penggunaannya, Rhodamin B merupakan
zat berbahaya yang dapat menyebabkan dampak negatif apabila
dikonsumsi terus-menerus. Pengaruh buruk Rodamin B bagi
kesehatan antara lain menimbulkan iritasi pada saluran
pernapasan, kulit, mata, dan saluran pencernaan serta berpotensi
terjadinya kanker hati. Oleh karena itu, penggunaan Rhodamin
B dalam pewarnaan produk pangan sebaiknya tidak dilakukan.
Dalam pewarnaan produk pangan, produsen dapat
menggunakan bahan-bahan yang lebih aman seperti pewarna
alami atau bahan pewarna lainnya yang diijinkan di dalam
Permenkes Nomor 033 Tahun 2012.
c. Sirup Marjan
Produk sirup yang digunakan sebagai sampel pengujian
Rhodamin B adalah sirup marjan rasa coco pandan.
Karakteristik sirup marjan yang digunakan adalah berwarna
merah tua, rasanya manis, aroma pandan, serta kental.
Karakteristik tersebut tergolong normal sehingga sudah cukup
sesuai dengan syarat mutu sirup yang tercantum dalam SNI
3544 : 2013 baik dari segi rasa maupun aroma.
Hasil pengujian Rhodamin B terhadap sampel sirup marjan
menunjukkan perubahan warna pada tabung reaksi dari merah
tua menjadi coklat tua. Perubahan warna ini menandakan bahwa
sampel yang diuji tidak mengandung bahan pewarna sintetis
Rhodamin B sehingga cukup aman untuk dikonsumsi.
Adapun ciri-ciri produk pangan yang mengandung
Rhodamin B antara lain berwarna merah mencolok (cerah) dan
cenderung berpendar, banyak memberikan titik-titik warna
karena tidak homogen.
d. Saus Cabe
Produk saus cabe yang digunakan sebagai sampel pengujian
Rhodamin B adalah saus cabe merek Del Monte. Karakteristik
saus cabe yang digunakan adalah berwarna orange kemerahan,
rasanya manis, pedas, dan asam, aroma agak asam, serta kental.
Karakteristik tersebut tergolong normal sehingga sudah cukup
sesuai dengan syarat mutu saus cabe yang tercantum dalam SNI
01-2976-2006 baik dari segi rasa maupun aroma.
Hasil pengujian Rhodamin B terhadap sampel saus cabe
menunjukkan perubahan warna pada tabung reaksi dari orange
kemerahan menjadi coklat muda. Perubahan warna ini
menandakan bahwa sampel yang diuji tidak mengandung bahan
pewarna sintetis Rhodamin B sehingga cukup aman untuk
dikonsumsi.
Adapun ciri-ciri produk pangan yang mengandung
Rhodamin B antara lain berwarna merah mencolok (cerah) dan
cenderung berpendar, banyak memberikan titik-titik warna
karena tidak homogen.

2. Pengujian Methanil Yellow


Pengujian Methanil Yellow dilakukan pada enam sampel produk
pangan yaitu buavita mangga, selai nanas (pineapple jam), nutrisari
jeruk, tahu kuning, kerupuk dan gethuk untuk mengetahui apakah
bahan-bahan tersebut mengandung bahan pewarna sintetis Methanil
Yellow (pewarna kuning) atau tidak. Uji Methanil Yellow
dilakukan dengan metode uji Test Kit. Prinsip kerjanya adalah
dengan menambahkan cairan (Reagent A dan B) pada bahan
makanan yang diduga menggunakan Rhodamin B dan mengamati
perubahan warna yang terjadi pada sampel.
Sampel produk pangan dikatakan mengandung Methanil Yellow
apabila terbentuk warna ungu hasil reaksi dengan peraksi pada test
kit, atau terjadi perubahan warna dari warna sebelumnya juga dapat
mengindikasikan adanya pewarna Methanil Yellow dalam makanan.
a. Buavita Mangga
Produk buavita yang digunakan sebagai sampel pengujian
Methanil Yellow adalah buavita rasa mangga. Buavita
merupakan salah satu produk minuman sari buah. Karakteristik
buavita mangga yang digunakan adalah berwarna kuning muda,
rasanya manis mangga, aroma mangga, serta berupa cairan.
Karakteristik tersebut tergolong normal sehingga sudah cukup
sesuai dengan syarat mutu minuman sari buah yang tercantum
dalam SNI 3719 : 2014 baik dari segi warna, rasa, dan aroma.
Hasil pengujian Methanil Yellow terhadap sampel buavita
mangga menunjukkan tidak adanya perubahan warna yang
signifikan pada tabung reaksi. Warna cairan sampel awal adalah
kuning muda, setelah ditetesi Reagent A dan Reagent B menjadi
kuning keruh, artinya sampel yang diuji tidak mengandung
Methanil Yellow sehingga cukup aman untuk dikonsumsi.
Adapun ciri-ciri produk pangan yang mengandung Methanil
Yellow antara lain berwarna kuning mencolok (cerah) dan
cenderung berpendar, banyak memberikan titik-titik warna
karena tidak homogen.
b. Pineaple Jam
Produk selai nanas (pineaple jam) yang digunakan sebagai
sampel pengujian Methanil Yellow adalah merek Morita.
Karakteristik selai nanas yang digunakan adalah berwarna
kuning bening, rasanya manis dan asam, aroma agak asam, serta
tekstur kental dan lengket. Karakteristik tersebut tergolong
normal sehingga sudah cukup sesuai dengan syarat mutu selai
nanas yang tercantum dalam SNI 3746 : 2008 baik dari segi
warna, rasa, dan aroma.
Hasil pengujian Methanil Yellow terhadap sampel selai
nanas menunjukkan tidak adanya perubahan warna yang
signifikan pada tabung reaksi. Warna cairan sampel awal adalah
kuning bening, setelah ditetesi Reagent A dan Reagent B
menjadi bening, artinya sampel yang diuji tidak mengandung
Methanil Yellow sehingga cukup aman untuk dikonsumsi.
Adapun ciri-ciri produk pangan yang mengandung Methanil
Yellow antara lain berwarna kuning mencolok (cerah) dan
cenderung berpendar, banyak memberikan titik-titik warna
karena tidak homogen.
c. Nutrisari Jeruk
Produk nutrisari yang digunakan sebagai sampel pengujian
Methanil Yellow adalah nutrisari rasa jeruk florida. Nutrisari
merupakan salah satu produk minuman sari buah yang dibuat
menjadi serbuk. Karakteristik nutrisari jeruk yang digunakan
adalah berwarna orange, rasanya manis dan asam, aroma jeruk,
serta berupa serbuk (butiran kecil). Karakteristik tersebut
tergolong normal sehingga sudah cukup sesuai dengan syarat
mutu minuman sari buah yang tercantum dalam SNI 3719 :
2014 baik dari segi warna, rasa, dan aroma.
Hasil pengujian Methanil Yellow terhadap sampel nutrisari
jeruk menunjukkan tidak adanya perubahan warna pada tabung
reaksi. Warna cairan sampel awal adalah orange, setelah ditetesi
Reagent A dan Reagent B warnanya tetap orange, artinya
sampel yang diuji tidak mengandung Methanil Yellow sehingga
cukup aman untuk dikonsumsi.
Adapun ciri-ciri produk pangan yang mengandung Methanil
Yellow antara lain berwarna kuning mencolok (cerah) dan
cenderung berpendar, banyak memberikan titik-titik warna
karena tidak homogen.
d. Tahu Kuning
Produk tahu yang digunakan sebagai sampel pengujian
Methanil Yellow adalah tahu yang berwarna kuning.
Karakteristik tahu yang digunakan adalah berwarna kuning di
bagian luar dan putih di bagian dalam, rasanya asin dan gurih,
aroma khas tahu, serta tekstur lembut dan agak padat.
Karakteristik tersebut tergolong normal sehingga sudah cukup
sesuai dengan syarat mutu tahu yang tercantum dalam SNI 01-
3142-1998 baik dari segi warna, rasa, dan aroma.
Hasil pengujian Methanil Yellow terhadap sampel tahu
kuning menunjukkan tidak adanya perubahan warna pada
tabung reaksi. Warna cairan sampel awal adalah bening, setelah
ditetesi Reagent A dan Reagent B warnanya tetap bening,
artinya sampel yang diuji tidak mengandung Methanil Yellow
sehingga cukup aman untuk dikonsumsi.
Adapun ciri-ciri produk pangan yang mengandung Methanil
Yellow antara lain berwarna kuning mencolok (cerah) dan
cenderung berpendar, banyak memberikan titik-titik warna
karena tidak homogen.
e. Kerupuk (Kuning)
Produk kerupuk yang digunakan sebagai sampel pengujian
Methanil Yellow adalah kerupuk yang berwarna kuning.
Karakteristik kerupuk yang digunakan adalah berwarna kuning
muda, rasanya gurih dan asin, aroma khas kerupuk, serta tekstur
yang renyah dan agak lengket saat dimakan. Karakteristik
tersebut tergolong normal sehingga sudah cukup sesuai dengan
syarat mutu kerupuk yang tercantum dalam SNI 01-2713-1999
baik dari segi warna, rasa, maupun aroma.
Hasil pengujian Methanil Yellow terhadap sampel kerupuk
menunjukkan tidak adanya perubahan warna yang signifikan
pada tabung reaksi. Warna cairan sampel awal adalah kuning
muda, setelah ditetesi Reagent A dan Reagent B menjadi kuning
muda agak bening, artinya sampel yang diuji tidak mengandung
Methanil Yellow sehingga cukup aman untuk dikonsumsi.
Adapun ciri-ciri produk pangan yang mengandung Methanil
Yellow antara lain berwarna kuning mencolok (cerah) dan
cenderung berpendar, banyak memberikan titik-titik warna
karena tidak homogen.
f. Gethuk (Kuning)
Produk gethuk yang digunakan sebagai sampel pengujian
Methanil Yellow adalah gethuk yang berwarna kuning.
Karakteristik gethuk yang digunakan adalah berwarna kuning
muda, rasanya manis, aromanya harum, serta teksturnya agak
kenyal dan empuk. Karakteristik tersebut tergolong normal
sehingga sudah cukup sesuai dengan syarat mutu gethuk yang
tercantum dalam SNI 01-4299-1996 baik dari segi warna, rasa,
dan aroma.
Hasil pengujian Methanil Yellow terhadap sampel gethuk
menunjukkan tidak adanya perubahan warna yang signifikan
pada tabung reaksi. Warna cairan sampel awal adalah kuning
muda, setelah ditetesi Reagent A dan Reagent B menjadi kuning
muda agak keruh, artinya sampel yang diuji tidak mengandung
Methanil Yellow sehingga cukup aman untuk dikonsumsi.
Adapun ciri-ciri produk pangan yang mengandung Methanil
Yellow antara lain berwarna kuning mencolok (cerah) dan
cenderung berpendar, banyak memberikan titik-titik warna
karena tidak homogen.

VI. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil praktikum pengujian bahan pewarna sintetis yaitu
Rhodamin B dan Methanil Yellow pada beberapa sampel produk pangan,
dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut :
a. Hasil uji sampel kerupuk warna merah negatif (-), artinya sampel
tersebut tidak mengandung bahan pewarna sintetis Rhodamin B.
b. Hasil uji sampel gethuk merah positif (+) dengan warna cairan merah
muda keunguan, artinya sampel tersebut mengandung bahan pewarna
sintetis Rhodamin B dengan kadar rendah.
c. Hasil uji sampel sirup marjan rasa coco pandan negatif (-), artinya
sampel tersebut tidak mengandung bahan pewarna sintetis Rhodamin B.
d. Hasil uji sampel saus cabe negatif (-), artinya sampel tersebut tidak
mengandung bahan pewarna sintetis Rhodamin B.
e. Hasil uji sampel buavita mangga negatif (-), artinya sampel tersebut
tidak mengandung bahan pewarna sintetis Methanil Yellow.
f. Hasil uji sampel selai nanas (pineaple jam) negatif (-), artinya sampel
tersebut tidak mengandung bahan pewarna sintetis Methanil Yellow.
g. Hasil uji sampel nutrisari jeruk negatif (-), artinya sampel tersebut tidak
mengandung bahan pewarna sintetis Methanil Yellow.
h. Hasil uji sampel tahu kuning negatif (-), artinya sampel tersebut tidak
mengandung bahan pewarna sintetis Methanil Yellow.
i. Hasil uji sampel kerupuk warna kuning negatif (-), artinya sampel
tersebut tidak mengandung bahan pewarna sintetis Methanil Yellow.
j. Hasil uji sampel gethuk warna kuning negatif (-), artinya sampel
tersebut tidak mengandung bahan pewarna sintetis Methanil Yellow.
VII. DAFTAR PUSTAKA

Andayani, Dahlia, dan Hardiono A. 2013. Analisis Zat Pewarna Rhodamin


B pada Gula Kapas Merah yang Dijual di Kota Mataram Tahun 2013.
https://osf.io/preprints (Diakses pada Minggu, 7 April 2019 pukul
10.09 WIB)
Aprilia, Ayu. 2015. Pengetahuan, Sikap dan Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Pedagang Jajanan Anak Sekolah Dasar Negeri
Terhadap Penggunaan Pewarna Metanil Yellow di Kecamatan
Sukarame Bandar Lampung Tahun 2015. http://digilib.unila.ac.id
(Diakses pada Minggu, 7 April 2019 pukul 11.14 WIB)
La Ifu, Anzar. 2016. Analisis Kandungan Zat Pewarna Sintetis Rhodamin B
pada Sambal Botol yang Diperdagangkan di Pasar Modern Kota
Kendari. https://sitedi.uho.ac.id (Diakses pada Minggu, 7 April 2019
pukul 08.40 WIB)
Mariska, Rafi. 2014. Analisis Zat Warna Methanil Yellow pada Sirup
Secara Kualitatif Menggunakan Kromatografi Lapis Tipis.
https://digilib.uin-suka.ac.id (Diakses pada Minggu, 7 April 2019
pukul 08.49 WIB)
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 033 Tahun 2012
tentang Bahan Tambahan Pangan
SNI 01-4299-1996 tentang Gethuk Singkong. https://documen.tips (Diakses
pada Sabtu, 6 April 2019 pukul 12.35 WIB)
SNI 01-3142-1998 tentang Tahu. https://dokumen.tips (Diakses pada Sabtu,
6 April 2019 pukul 11.30 WIB)
SNI 01-2713-1999 tentang Kerupuk Ikan. https://www.academia.edu
(Diakses pada Sabtu, 6 April 2019 pukul 12.04 WIB)
SNI 01-2976-2006 tentang Saus Cabe. https://dokumen.tips (Diakses pada
Sabtu, 6 April 2019 pukul 13.20 WIB)
SNI 3746 : 2008 tentang Selai Buah. https://kupdf.net (Diakses pada Sabtu,
6 April 2019 pukul 13.33 WIB)
SNI 3544 : 2013 tentang Sirup. https://kupdf.net (Diakses pada Sabtu, 6
April 2019 pukul 12.48 WIB)
SNI 3719 : 2014 tentang Minuman Sari Buah. https://kupdf.net (Diakses
pada Sabtu, 6 April 2019 pukul 13.31 WIB)
Wirasto. 2008. Analisis Rhodamin B dan Methanil Yellow dalam Minuman
Jajanan Anak SD di Kecamatan Laweyan Kotamadya Surakarta
dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis. https://etd.eprints.ums.ac.id
(Diakses pada Minggu, 7 April 2019 pukul 08.25 WIB)
DOKUMENTASI

Gambar 1. Bahan Praktikum Gambar 2. Peralatan Praktikum

Gambar 3. Test Kit Rhodamin B Gambar 4. Test Kit Methanil Yellow

Gambar 5. Penghalusan Sampel Gambar 6. Sampel yang Sudah Halus

Gambar 7. Air Panas Gambar 8. Pemasukan Cairan Sampel


Gambar 9. Sampel Rhodamin B (sebelum uji) Gambar 10. Pemberian Reagent Rhodamin B

Gambar 11. Sampel Rhodamin B (setelah uji) Gambar 12. Sampel Methanil Yellow
(sebelum uji)

Gambar 13. Pemberian Reagent Methanil Gambar 14. Sampel Methanil Yellow
Yellow (setelah uji)