Anda di halaman 1dari 29

BAGIAN ANESTESIOLOGI

FAKULTAS KEDOKTERAN REFERAT


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR Oktober 2019

INNITIAL ASSESSMENT AND MANAGEMENT

OLEH :
Nurfitria Wulandari Diaswara
1054050913

PEMBIMBING:
dr. Zulfikar Tahir, M.kes., Sp.An

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS


KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ANESTESIOLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2019

i
LEMBAR PENGESAHAN

Yang bertanda tangan dibawah ini menyatakan bahwa :

Nama : Nurfitria Wulandari Diaswara

NIM : 10542049513

Judul Referat : Innitial assessment and management

Telah menyelesaikan referat dalam rangka Kepanitraan Klinik di Bagian

Anestesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Makassar.

Makassar,Oktober 2019

Pembimbing,

(dr. Zulfikar Tahir, M.kes., Sp.An)

ii
KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Wr. Wb.


Dengan mengucapkan puji syukur atas kehadirat Allah SWT karena atas
rahmat, hidayah, kesehatan dan kesempatan-Nya sehingga referat dengan judul
“Innitial assessment and management” ini dapat terselesaikan. Salam dan shalawat
senantiasa tercurah kepada baginda Rasulullah SAW, sang pembelajar sejati yang
memberikan pedoman hidup yang sesungguhnya.

Pada kesempatan ini, secara khusus penulis mengucapkan terima kasih dan
penghargaan yang setinggi-tingginya kepada dosen pembimbing dr. Zulfikar Tahir,
M.kes.,Sp.An yang telah memberikan petunjuk, arahan dan nasehat yang sangat
berharga dalam penyusunan sampai dengan selesainya referat ini.
Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak terdapat kelemahan dan
kekurangan dalam penyusunan referat ini, baik dari isi maupun penulisannya. Untuk
itu kritik dan saran dari semua pihak senantiasa penulis harapkan demi
penyempurnaan referat ini.
Demikian, semoga laporan kasus ini bermanfaat bagi pembaca secara umum
dan penulis secara khususnya.
Billahi Fi Sabilill Haq Fastabiqul Khaerat
Wassalamu Alaikum WR.WB.
Makassar, Oktober 2019

Penulis

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN...................... .................................................. i

KATA PENGANTAR ................................................................................. ii

DAFTAR ISI ............................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................. 11

BAB IV KESIMPULAN ............................................................................ 27

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

Initial assessment adalah penilaian awal untuk memprioritaskan pasien dan

memberikan penanganan segera. Informasi digunakan untuk membuat keputusan

tentang intervensi kritis dan waktu yang dicapai. Ketika melakukan pengkajian,

pasien harus aman dan dilakukan secara cepat dan tepat dengan mengkaji tingkat

kesadaran (Level Of Consciousness) dan pengkajian ABC (Airway, Breathing,

Circulation), pengkajian ini dilakukan pada pasien memerlukan tindakan

penanganan segera dan pada pasien yang terancam nyawanya. Pengelolaan

penderita yang terluka parah memerlukan penilaian yang cepat dan pengelolaan

yang tepat guna menghindari kematian. Pada penderita trauma, waktu sangat

penting, karena itu diperlukan adanya suatu cara yang mudah dilaksanakan. 1

Kecelakaan lalu lintas merupakan penyebab terbanyak terjadinya cedera di

seluruh dunia. Pada penelitian yang dilakukan di Kanada selama 5 tahun, 96,3%

trauma disebabkan oleh trauma tumpul. Penyebab trauma tumpul berhubungan

dengan kecelakaan lalu lintas (70%), bunuh diri (10%), jatuh (8%), pembunuhan

(7%), dan lain-lain (5%). Banyak kejadian tersebut yang akhirnya menuju

kedalam kegawatdaruratan.2

Berdasarkan penelitian diatas, seorang tenaga kesehatan harus mampu

melakukan penilaian awal, sehingga mampu memberikan tindakan yang tepat

sesuai dengan tujuan penilaian awal. Tujuan penilaian awal adalah untuk

4
menstabilkan pasien, mengidentifikasi cedera / kelainan yang mengancam jiwa

dan untuk memulai tindakan sesuai, serta untuk mengatur kecepatan dan efisiensi

tindakan.

5
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian innitial assessment

Initial Assessment adalah proses penilaian awal pada penderita trauma


disertai pengelolaan yang tepat guna untuk menghindari kematian. Proses ini
dikenal sebagai initial assessment (penilaian awal).3

Initial assesment meliputi :


1. Persiapan
2. Triase
3. Primary survey
4. Resusitasi
5. Tambahan terhadap primary survey dan resusitasi
6. Pertimbangan kemungkinan rujukan
7. Secondary survey (pemeriksaan head to toe dan anamnesis)
8. Tambahan terhadap secondary survey
9. Pemantauan dan re-evaluasi berkesinambungan
10. Penanganan definitive.3

Baik primary survey maupun secondary survey dilakukan berulang kali


agar dapat mengenali penurunan keadaan pasien, dan memberikan terapi bila
diperlukan. Urutan kejadian diatas diterapkan seolah-olah berurutan
(sekuensial), namun dalam praktek sehari-hari dapat berlangsung bersama-
sama (simultan). Penerapan secara berurutan ini merupakan suatu cara atau
sistem bagi dokter untuk menilai perkembangan keadaan pasien.3

6
B. Proses innitial assesment
1. Persiapan
Penanganan penderita berlangsung dalam 2 tahap :
a. Tahap Pra-rumah sakit (Pre-Hospital)
b. Tahap rumah sakit
a. Tahap Pra-rumah sakit
Di Indonesia pelayanan pra-rumah sakit ini merupakan
bagian yang sangat terbelakang dari pelayanan penderita gawat
darurat secara menyeluruh. Hampir semua korban penderita trauma
dibawa oleh ambulans ke rumah sakit. Pelayanan korban trauma
pra-rumah sakit yang membawanya biasanya adalah keluarga
sendiri atau orang yang berbaik hati.
Prinsip utama adalah do not futher harm bahwa tidak
boleh membuat keadaan lebih parah. Keadaan yang ideal dimana “
Unit Gawat Darurat yang datang ke penderita”, dan merupakan
sebaliknya karena itu ambulan yang datang sebaiknya memiliki
perlatan yang lengkap. Petugas atau paramedik yang datang
membantu penderita juga sebaiknya mendapatkan latihan khusus,
karena pada saat menangani penderita mereka harus menguasai
keterampilan khusus yang dapat menyelamatkan nyawa. Sebaiknya
rymah sakit sudah diberitahukan sebelum penderita diangkat dari
tempat kejadian, dan koordinasi yang baik antara dokter di RS
dengan petugas lapangan akan menguntungkan penderita.

Yang harus dilakukan oleh seorang paramedik adalah :

- Menjaga Airway dan Breathing


- Kontrol perdarahan dan syok
- Imobilisasi penderita
- Pengiriman kerumah sakit terdekat yang cocok

Pada fase ini dibutuhkan :


 Koordinasi yang baik antara dokter di rumah sakit dan

7
petugas lapangan.
 Sebaiknya terdapat pemberitahuan terhadap rumah sakit
sebelum penderita mulai diangkut dari tempat kejadian.
 Pada fase pra-rumah sakit titik berat diberikan pada
penjagaan airway, kontrol perdarahan dan syok, imobilisasi
penderita dan segera ke rumah sakit terdekat.
 Pengumpulan keterangan yang akan dibutuhkan di rumah
sakit seperti waktu kejadian, sebab kejadian. Mekanisme
kejadian dapat menerangkan jenis dan berat perlukaan.

b. Tahap Rumah sakit

 Perencanaan sebelum penderita tiba dan sebaiknya ada


ruangan/daerah khusus resusitasi.
 Perlengkapan airway (laringoskop, endotracheal tube, dsb)
sudah dipersiapkan, dicoba dan diletakkan di tempat yang
mudah dijangkau.
 Cairan kristaloid yang sudah dihangatkan, disiapkan dan
diletakkan pada tempat yang mudah dijangkau.
 Pemberitahuan terhadap tenaga laboratorium dan radiologi
apabila sewaktu-waktu dibutuhkan.
 Persiapan rujukan ke pusat trauma jika dibutuhkan.
 Pemakaian alat-alat proteksi diri.

b. Triase

Triase adalah cara pemilihan penderita berdasarkan kebutuhan


terapi dan sumber daya yang tersedia. Terapi didasarkan pada
kebutuhan ABC (airway dengan kontrol vertebra cervical,
breathing, circulation dengan kontrol perdarahan) Diambil dari
bahasa perancis yang berarti pengelompokkan/sorting, merupakan
skrining pasien untuk menentukan prioritas penanganan. 3

8
Dua jenis keadaan triase dapat terjadi :
a. Multiple Casualties
Musibah massal dengan jumlah pasien dan beratnya cedera tidak
melampaui kemampuan RS. Dalam keadaan ini pasien dengan
masalah yang mengancam jiwa dan multi trauma akan dilayani
terlebih dahulu.
b. Mass Casualties
Musibah massal dengan jumlah pasien dan beratnya luka
melampaui kemampuan RS. Dalam keadaan ini yang akan dilayani
terlebih dahulu adalah pasien dengan kemungkinan survival yang
terbesar, serta membutuhkan waktu, perlengkapan dan tenaga
paling sedikit. 4
Seleksi korban berdasarkan :
• Ancaman jiwa mematikan dalam hitungan menit
• Dapat mati dalam hitungan jam
• Trauma ringan
• Sudah meninggal
• Menentukan mana yang harus didahulukan mengenai penanganan
dan pemindahan yang mengacu pada tingkat ancaman jiwa.
Tag Triase
Tag (label berwarna dengan form data pasien) yang dipakai oleh
petugas triase untuk mengidentifikasi dan mencatat kondisi dan
tindakan medik terhadap korban.

9
Gambar 1. Triase dan pengelompokan berdasar Tagging

Prioritas Nol (Hitam) :

Pasien mati atau cedera fatal yang jelas dan tidak mungkin di resusitasi.

Prioritas pertama (Merah) :

Pasien cedera berat yang memerlukan penilaian cepat serta tindakan medik
dan transport segera untuk tetap hidup (misal : gagal nafas, cedera torako-
abdominal, cedera kepala atau maksilo-facial berat, shock atau perdarahan
berat, luka bakar berat).

Prioritas Kedua (Kuning) :

Pasien memerlukan bantuan, namun dengan cedera yang kurang berat dan
dipastikan tidak akan mengalami ancaman jiwa dalam waktu dekat. Pasien
mungkin mengalami cedera dalam jenis cakupan yang luas (misal : cedera
abdomen tanpa shok, cedera dada tanpa gangguan respirasi, fraktura mayor
tanpa shok, cedera kepala atau tulang belakang leher tidak berat, serta luka
bakar ringan).

Prioritas Ketiga (Hijau) :

Pasien dengan cedera minor yang tidak membutuhkan stabilisasi segera,


memerlukan bantuan pertama sederhana namun memerlukan penilaian
ulang berkala (cedera jaringan lunak, fraktura dan dislokasi ekstremitas,

10
cedera maksilo-fasial tanpa gangguan jalan nafas, serta gawat darurat
psikologis.4

Penilaian Dalam Triage :


• Primary survey (A,B,C) untuk menghasilkan prioritas I dan seterusnya
• Secondary survey (Head to Toe) untuk menghasilkan prioritas I, II,
III,0 dan selanjutnya
• Monitoring korban akan kemungkinan terjadinya perubahan-perubahan
pada A, B, C, derajat kesadaran dan tanda vital lainnya.
• Perubahan prioritas karena perubahan kondisi korban
kelompok korban yang memerlukan transport segera atau tidak, atau
yang tidak mungkin diselamatkan atau mati. 3
2. Primary survey

Merupakan deteksi cepat dan koreksi segera terhadap kondisi yang


mengancam. Primary survey bertujuan untuk mengetahui kondisi pasien
yang mengancam jiwa dan kemudian dilakukan tindakan life saving.

Cara Pelaksanaan : Survei ini dikerjakan secara serentak dan harus selesai
dalam 2-5 menit. 5

Airway (Jalan Napas)


- Lihat, dengar, raba (Look, Listen, Feel)
- Buka jalan nafas, yakinkan adekuat
- Periksa :
o Apakah pasien sulit bernapas ?
o Apakah terdapat fraktur mandibula yang bisa menghalangi
jalan nafas ?
o Apakah terdapat perdarahan ?
- Bebaskan jalan nafas dengan proteksi tulang cervical dengan
menggunakan teknik Head Tilt/Chin Lift/Jaw Trust, hati-hati pada
korban trauma
- Cross finger untuk mendeteksi sumbatan pada daerah mulut

11
- Finger sweep untuk membersihkan sumbatan di daerah mulut
- Suctioning bila perlu

Breathing (Pernapasan)

- Apakah pertukaran udara pernafasan adekuat ? lalu evaluasi :


o Jika pertukaran udara tidak adekuat, beri oksigen
o Frekuensi napas
o Kualitas napas
o Keraturan napas
- Nilai warna membran mukosa
- Apakah distress pernapasan semakin memburuk dengan perubahan
posisi ?
- Apakah terdapat penetrasi toraks ?

Circulation (perdarahan)

- Jika jantung pasien berhenti darah dan oksigen bisa bersikulasi ke


otak maka akan terjadi perubahan ireversible pada otak yang mulai
dalam 4-6 menit. Kematian sel biasanya terjadi dalam 10 menit.
Periksa sirkulasi, jika dibutuhkan lakukan resusitasi
kardiopulmoner.
- Apakah terdapat perdarahan ?
o jika terdapat perdarahan eksternal, maka hentikan segera
dengan cara:
 Bebat tekan pada luka
 Elevasi
 Kompres es
 Torniquet hanya pada luka/trauma khusus
o Segera pasang dua jalur infus dengan jarum besar (14-16G)
o Beri infus cairan
- Perhatikan tanda-tanda syok/ gangguan sirkulasi, seperti :

12
o Apakah membran mukosa sianosis?
o Apakah nadi lemah dan cepat?
o Apakah ekstrimitas dingin?
o Apakah capillary refill time lama?

Disability (susunan saraf pusat)

Trauma kepala yang serius bisa menyebabkan kematian. Maka nilai


kesadaran pasien dengan cepat, apakah pasien sadar, hanya respon
terhadap nyeri atau sama sekali tidak sadar. Jika diduga terdapat
trauma kepala atau leher, pasang neck collar. Tidak dianjurkan
mengukur Glasgow Coma Scale, maka gunakan sistem yang cepat
menggunakan :

A = Awake
V = Verbal response
P = Painful response
U = Unresponsive
- Apakah terdapat cedera kepala?
- Perhatikan pergerakan dari pasien
- Apakah pasien sadar penuh dan responsif?
- Apakah pasien berespon terhadap stimulus nyeri?
- Apakah pupil berdilatasi, konstriksi, bentuknya sama dan berespon
terhadap cahaya?
- Apakah terdapat cedera leher?
- Perhatikan cedera pada tulang belakang.6

13
14
3. Resusitasi
Dilakukuan untuk pengelolaan syok, jalur infus, RL yang dihangatkan.
Meneruskan pengelolaan masalah yang mengancam nyawa yang dikenali
pada saat primary survey. Bertujuan untuk oksigenasi dan ventilasi
 Re-evaluasi ABC
A. Airway
Pada penderita yang masih sadar dapat dipakai nasofaringeal
airway. Bila penderita tidak sadar dan tidak ada refleks batuk (gag refleks)
dapat dipakai orofaringeal airway

B. Breathing
Kontrol jalan nafas pada penderita yang airway terganggu karena
faktor mekanik, ada gangguan ventilasi dan atau ada gangguan kesadaran,
dicapai dengan intubasi endotrakheal bail oral maupun nasal. Surgical
airway/krikotiroidotomi dapat dilakukan bila intubasi endotrakheal tidak
memungkinkan karena kontraindikasi atau karena masalah teknis.

C. Circulation
Bila ada gangguan sirkulasi harus dipasang minimal dua IV line.
Kateter IV yang dipakai harus berukuran besar. Pada awalnya sebaiknya
menggunakan vena pada lengan. Selain itu bisa juga digunakan jalur IV
line yang seperti vena seksi atau vena sentralis. Pada saat memasang

15
kateter IV harus diambil contoh darah untuk pemeriksaan laboratorium
rutin serta pemeriksaan kehamilan pada semua penderita wanita berusia
subur.

Pada saat datang penderita diinfus cepat dengan 2-3 liter cairan
kristaloid, sebaiknya Ringer Laktat. Bila tidak ada respon, berikan darah
segulungan atau (type specific). Jangan memberikan infus RL dan transfusi
darah terus menerus untuk terapi syok hipovolemik. Dalam keadaan harus
dilakukan resusitasi operatif untuk menghentikan perdarahan. 7

4. Tambahan pada primary survey

A. Pasang EKG
1. Monitor EKG dipasang pada semua penderita trauma
2. Disritmia, fibrilasi atrium atau ekstra-sistol dan perubahan segmen ST
dapat disebabkan kontusio jantung
3. Pulseless Electrical Activity mungkin disebabkan tamponade jantung,
tension pneumothoraks dan atau hipovolemia berat
4. Bila ditemukan bradikardi, konduksi aberan atau ekstrasistole harus
dicurigai adanya hipoksia dan hipoperfusi
5. Hipotermia dapat menampakkan gambaran disritmia
B. Pasang kateter uretra
1. Kecurigaan adanya ruptur uretra ditandai oleh adanya darah di
orifisium uretra eksterna, hematoma diskrotum dan perineum, pada colok
dubur prostat letak tinggi atau tidak teraba, adanya fraktur pelvis
merupakan kontra indikasi pemasangan kateter uretra.
2. Bila terdapat kesulitan pemasangan kateter karena striktur uretra atau
BPH, jangan dilakukan manipulasi atau instrumentasi, segera
konsultasikan pada bagian bedah.
3. Ambil sampel urine untuk pemeriksaan urine rutine.
4. Produksi urine merupakan indikator yang peka untuk menilai perfusi
ginjal dan hemodinamik penderita. Urine normal sekitar 0,5
ml/kgBB/jam pada orang dewasa, 1 ml/kgBB/jam pada anak-anak dan 2
ml/kgBB/jam pada bayi.

16
C. Pasang kateter lambung
Digunakan untuk mengurangi distensi lambung dan mengurangi kemungkinan
muntah.
1. Selalu tersedia alat suction selama pemasangan kateter lambung, karena
bahaya aspirasi bila pasien muntah.
2. Bila terdapat kecurigaan fraktur basis kranii atau trauma maksilofacial
yang merupakan kontraindikasi pemasangan nasogastric tube, gunakan
orogastric tube.
D. Monitoring hasil resusitasi dan laboratorium
Monitoring didasarkan atas penemuan klinis; nadi, laju nafas, tekanan darah,
Analisis Gas Darah (BGA), suhu tubuh dan output urine dan pemeriksaan
laboratorium darah.

E. Pemeriksaan foto rontgen dan pemeriksaan tambahan lainnya


1. Pemeriksaan foto rotgen harus selektif dan jangan sampai menghambat
proses resusitasi. Bila belum memungkinkan, dapat dilakukan pada saat
secondary survey
2. Foto thoraks dapat mengenali kelainan yang mengancam jiwa, foto pelvis
menunjukan adanya fraktur pelvis yang kemudian membutuhkan pemberian
darah dan foto servikal lateral yang menunjukan fraktur merupakan
penemuan yang sangat penting, tetapi bila tidak tampak fraktur belum
menyingkirkan kemungkinan fraktur.
3. Pemeriksaan DPL ( Diagnostic Peritoneal Lavage) dan USG abdomen
merupakan pemeriksaan yang bermanfaat untuk menentukan adanya
perdarahan intraabdomen.

6. Pertimbangan Rujukan Pasien

Setelah primary survey dan resusitasi, dokter sudah mempunyai cukup


informasi untuk mempertimbangkan rujukan. Proses rujukan sudah dapat
dimulai oleh petugas administrasi pada saat resusitasi. Pada saat keputusan

17
diambil untuk merujuk, perlu komunikasi antar petugas pengirim dan
penugas penerima rujukan. 3

7. Secondary Survey
1. Anamnesis
Anamnesis yang harus diingat :
A : Alergi
M : Medikasi ( obat yang sedang diminum saat ini)
P : Past illness
L : Last meal (makan minum terakhir)
E : Event/Environtment yang berhubungan dengan kejadian
perlukaan.
Jenis perlukaan dapat diramalkan dari mekanisme kejadian perlukaan,
misal trauma tumpul, trauma tajam, perlukaan karena suhu dan bahan
berbahaya. 9
2. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan Fisik pada Secondary Survey

Hal yang Identifikasi/ Penemuan Konfirmasi


Penilaian
dinilai Tentukan Klinis dengan

Tingkat • Beratnya • Skor GCS • 8, cedera • CT Scan


trauma kapitis kepala berat
Kesadaran • Ulangi tanpa
• 9 -12, cedera relaksasi Otot
kepala sedang

• 13-15, cedera
kepala ringan

• Jenis cedera • Ukuran • "mass effect" • CT Scan


kepala
• Bentuk • Diffuse axional

18
Pupil • Luka pada mata • Reaksi injury

• Perlukaan mata

Kepala • Luka pada kulit • Inspeksi • Luka kulit • CT Scan


kepala adanya luka kepala
dan fraktur
• Fraktur tulang • Fraktur impresi
tengkorak • Palpasi adanya
• Fraktur basis
fraktur

Maksilo • Luka jaringan • Inspeksi : • Fraktur tulang • Foto tulang


lunak deformitas wajah wajah
fasial
• Fraktur • Maloklusi

• Kerusakan • Palpasi : • Cedera jaringan • CT Scan tulang


syaraf krepitus lunak wajah

• Luka dalam
mulut/gigi

• Cedera faring • Inspeksi • Deformitas • Foto servikal


faring
• Fraktur servikal • Palpasi • Angiografi/
• Emfisema Doppler
Leher • Kerusakan • Auskultasi
subkutan
vaskular • Esofagoskopi
• Hematoma
• Cedera • Laringoskopi
esofagus  Murmur
 Nyeri , nyeri
• Gangguan
tekan C-spine
neurologis
• Tembusnya
platisma

• Perlukaan • Inspeksi • Jejas, • Foto toraks


deformitas,

19
dinding toraks • Palpasi gerakan • CT Scan

• Emfisema • Auskultasi • Paradoksal • Angiografi


subkutan
Toraks • Nyeri tekan • Bronchoskopi
• Pneumo/ dada, krepitus
• Tube
hematotoraks
• Bising nafas torakostomi
• Cedera berkurang
• Perikardio
bronchus
• Bunyi jantung sintesis
• Kontusio paru jauh
• USG Trans-
• Kerusakan • Krepitasi Esofagus
aorta torakalis mediastinum

• Nyeri
punggung hebat

• Perlukaan dd. • Inspeksi • Nyeri, nyeri • DPL


Abdomen tekan abdomen
• Palpasi • CT Scan
• Cedera intra- • Iritasi
Abdomen/ • Auskultasi • Laparotomi
peritoneal peritoneal
pinggang
• Tentukan arah • Foto dengan
• Cedera • Cedera organ
penetrasi kontras
retroperitoneal viseral
• Angiografi
• Cedera
retroperitoneal

• Cedera Genito- • Palpasi simfisis • Cedera Genito- • Foto pelvis


urinarius pubis rinarius
• Urogram:
(hematuria)
• Fraktur pelvis • Nyeri tekan Uretrogram
tulang pelvis • Fraktur pelvis
Sistogram

20
Pelvis • Tentukan • Perlukaan IVP
instabilitas perineum,
• CT Scan
pelvis (hanya rektum, vagina
dengan kontras
satu kali)

• Inspeksi
perineum

• Pem.
Rektum/vagina

• Trauma kapitis • Pemeriksaan • "mass effect" • Foto polos


motorik unilateral
Medula • Trauma medulla • MRI
spinalis • Pemeriksaan • Tetraparesis
spinalis
sensorik
• Trauma syaraf Paraparesis
perifer
• Cedera radiks
syaraf

• Fraktur • Respon verbal • Fraktur atau • Foto polos


terhadap nyeri, dislokasi
Kolumna • lnstabilitas • CT Scan
kolumna tanda lateralisasi
vertebralis
Vertebralis
• Nyeri tekan
• Kerusakan
• Deformitas
syaraf

• Cedera jaringan • Inspeksi • Jejas, • Foto ronsen


lunak pembengkakan,
• Palpasi • Doppler
pucat
• Fraktur
• Pengukuran
• Mal-alignment
• Kerusakan sendi tekanan
Ekstremitas
• Nyeri, nyeri

21
• Defisit neuro- tekan, kompartemen
vascular Krepitasi
• Angiografi
• Pulsasi hilang/
berkurang

• Kompartemen

• Defisit
neurologis

8. Tambahan pada Secondary survey

a) Sebelum dilakukan pemeriksaan tambahan, periksa keadaan


penderita dengan teliti dan pastikan hemodinamik stabil
b) Selalu siapkan perlengkapan resusitasi di dekat penderita karena
pemeriksaan tambahan biasanya dilakukan di ruangan lain
c) Pemeriksaan tambahan yang biasanya diperlukan :
1. CT scan kepala, dada, abdomen dan spine
2. USG abdomen, transoesofagus
3. Foto ekstremitas
4. Foto vertebra tambahan
5. Urografi dan angiografi
9. Pemantauan dan Re-evaluasi berkesinambungan
a. Penilaian ulang terhadap penderita, dengan mencatat dan
melaporkan setiap perubahan pada kondisi penderita dan respon
terhadap resusitasi.
b. Monitoring tanda-tanda vital dan jumlah urin
c. Pemakaian analgetik yang tepat diperbolehkan

22
10. Terapi Definitif

A. Pasien dirujuk apabila rumah sakit tidak mampu menangani pasien


karena keterbatasan SDM maupun fasilitas serta keadaan pasien yang
masih memungkinkan untuk dirujuk.
B. Tentukan indikasi rujukan, prosedur rujukan dan kebutuhan penderita
selama perjalanan serta komunikasikan dengan dokter pada pusat
rujukan yang dituju.

BAB III

KESIMPULAN

Initial assessment adalah penilaian awal untuk memprioritaskan pasien dan

memberikan penanganan segera. Informasi digunakan untuk membuat keputusan

tentang intervensi kritis dan waktu yang dicapai. Ketika melakukan pengkajian,

pasien harus aman dan dilakukan secara cepat dan tepat dengan mengkaji tingkat

kesadaran (Level Of Consciousness) dan pengkajian ABC (Airway, Breathing,

Circulation), pengkajian ini dilakukan pada pasien memerlukan tindakan

penanganan segera dan pada pasien yang terancam nyawanya. Pengelolaan

23
penderita yang terluka parah memerlukan penilaian yang cepat dan pengelolaan

yang tepat guna menghindari kematian. Pada penderita trauma, waktu sangat

penting, karena itu diperlukan adanya suatu cara yang mudah dilaksanakan.

Proses Initial assessment (penilaian awal) dan meliputi :

Initial assesment meliputi :

1. Persiapan

2. Triase

3. Primary survey

4. Resusitasi

5. Tambahan terhadap primary survey dan resusitasi

6. Pertimbangan kemungkinan rujukan

7. Secondary survey (pemeriksaan head to toe dan anamnesis)

8. Tambahan terhadap secondary survey

9. Pemantauan dan re-evaluasi berkesinambungan

10. Penanganan definitive.3

Baik primary survey maupun secondary survey dilakukan berulang-kali agar dapat

mengenali penurunan keadaan penderita, dan memberikan terapi bila diperlukan.

Urutan kejadian di atas disajikan seolah-olah berurutan (sekuensial), namun

dalam praktek sehari-hari dapat berlangsung bersama-sama (simultan).

24
DAFTAR PUSTAKA

1. Anonim. Innitial Assessment. http:///Downloads/kupdf.net_konsep-initial-

assessment.pdf (diakses tanggal 18 Oktober 2019)

2. Yuniati Nur. (2013). Epidemologi trauma secara global. Fakultas


Kedokteran Universitas Udayana/ Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah
Denpasar.http://download.portalgaruda.org/article.php?article=82602&
val=970 (diakses tanggal 20 Oktober 2019).

3. Azhari Tania.(2015).Innitial Assessment. Fakultas Kedokteran


Universitas Yarsi/. (diakses tanggal 16 Oktober 2019).

4. Buku Kurikulum PTBMMKI Staf Pendidikan dan Pelatihan


PTBMMKI 2015/2016
25
5. Abid Muhammad Bashir. (2010). Primary survey. Faisalabad Pakistan.
https://www.researchgate.net/profile/Muhammad_Abid_Bashir/publica
tion/290449268_primary_survey/links/582227bf08aeebc4f8916353/pri
marysurvey.pdf?origin=publication_detail (diakses tanggal 22 Agustus
2018).

6. Anonim. Hubungan karakteristik perawat dengan pengetahuan tentang


triage di unit gawat darurat di salah satu rumah sakit swasta di
semarang. http://sasing.unimus.ac.id/files/disk1/166/jtptunimus-gdl-
dwilaraset-8283-3-babii.pdf

7. American College of Surgeons. (2008). Advanced Trauma Life


Support.United States of America: First Impression. American
College of Surgeon Committee of Trauma, 2004. Advanced Trauma
Life Support Eight Edition. Indonesia: Ikabi.

8. Basic Life Support for Healthcare Provider Handbook. American Red


Cross 2015.

9. Planas JH, Waseem M. (2018) Trauma, Secondary Survey. StatPearls


Publishing. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK441902/.
(diakses tanggal 21 Agustus 2018).

26
27
1