Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Teori Ca Mammae (Kanker Payudara)


1. Pengertian
Carsinoma mammae adalah neoplasma ganas dengan
pertumbuhan jaringan mammae abnormal yang tidak memandang
jaringan sekitarnya, tumbuh infiltrasi dan destruktif dapat bermetastase.
Carsinoma mammae (Ca Mammae) adalah keganasan yang berasal dari
sel kelenjar, saluran kelenjar, dan jaringan penjunjang payudara. Ca
mammae adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan payudara.
Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu,saluran susu,jaringan
lemak maupun jaringan ikat pada payudara (Wijaya, 2011).
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada
payudara yang terus-menerus tumbuh. Pada akhirnya, sel-sel kanker
bisa bermetastase pada bagian-bagian tubuh lain. Matastase bisa terjadi
pada kelenjar getah bening, ketiak, atau di atas tulang belikat. Selain
itu, sel-sel kanker bisa bersarang ditulang,paru-paru,hati, dan kulit
(Erik, 2015).
2. Etiologi
Etiologi kanker payudara tidak diketahui dengan pasti. Namun
beberapa faktor resiko pada pasien diduga berhubungan dengan
kejadian kanker payudara, yaitu :
a. Tinggi melebihi 170 cm
b. Masa reproduksi yang relatif panjang.
c. Faktor Genetik
d. Ca Payudara yang terdahulu
e. Keluarga Diperkirakan 5 % semua kanker adalah predisposisi
keturunan ini, dikuatkan bila 3 anggota keluarga terkena carsinoma
mammae.
f. Kelainan payudara ( benigna ). Kelainan fibrokistik ( benigna )
terutama pada periode fertil, telah ditunjukkan bahwa wanita yang
menderita / pernah menderita yang porliferatif sedikit meningkat.
g. Makanan, berat badan dan faktor resiko lain
h. Faktor endokrin dan reproduksi. Graviditas matur kurang dari 20
tahun dan graviditas lebih dari 30 tahun, Menarche kurang dari 12
tahun
i. Obat anti konseptiva oral. Penggunaan pil anti konsepsi jangka
panjang lebih dari 12 tahun mempunyai resiko lebih besar untuk
terkena kanker.
3. Manifestasi Klinis
Gejala umum Ca mamae adalah :
a. Teraba adanya massa atau benjolan pada payudara
b. Payudara tidak simetris / mengalami perubahan bentuk dan ukuran
karena mulai timbul pembengkakan
c. Ada perubahan kulit : penebalan, cekungan, kulit pucat disekitar
puting susu, mengkerut seperti kulit jeruk purut dan adanya ulkus
pada payudara
d. Ada perubahan suhu pada kulit : hangat, kemerahan , panas
e. Ada cairan yang keluar dari puting susu
f. Ada perubahan pada puting susu : gatal, ada rasa seperti terbakar,
erosi dan terjadi retraksi
g. Ada rasa sakit
h. Penyebaran ke tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan kadar
kalsium darah meningkat
i. Ada pembengkakan didaerah lengan
j. Adanya rasa nyeri atau sakit pada payudara.
k. Semakin lama benjolan yang tumbuh semakin besar.
l. Mulai timbul luka pada payudara dan lama tidak sembuh meskipun
sudah diobati, serta puting susu seperti koreng atau eksim dan
tertarik ke dalam.
m. Kulit payudara menjadi berkerut seperti kulit jeruk (Peau d'
Orange).
n. Benjolan menyerupai bunga kobis dan mudah ber¬darah.
o. Metastase (menyebar) ke kelenjar getah bening sekitar dan alat
tubuh lain
4. Pemeriksaan Laboratorium Dan Diagnostik
a. Pemeriksaan labortorium meliputi: Morfologi sel darah, LED,
Test fal marker (CEA) dalam serum/plasma, Pemeriksaan
sitologis
b. Test diagnostik lain:
Non invasive: Mamografi, Ro thorak, USG, MRI, PET
Invasif : Biopsi, Aspirasi biopsy (FNAB), True cut / Care biopsy,
Incisi biopsy, Eksisi biopsy
Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan :
1. Pemeriksaan payudara sendiri
2. Pemeriksaan payudara secara klinis
3. Pemeriksaan manografi
4. Biopsi aspirasi
5. True cut
6. Biopsi terbuka
7. USG Payudara, pemeriksaan darah lengkap, X-ray dada, therapy
medis, pembedahan, terapi radiasi dan kemoterapi.
5. Penatalaksanaan Medis
Ada 2 macam yaitu kuratif (pembedahan) dan paliatif (non
pembedahan). Penanganan kuratif dengan pembedahan yang dilakukan
secara mastektomi parsial, mastektomi total, mastektomi radikal,
tergantung dari luas, besar dan penyebaran kanker. Penanganan non
pembedahan dengan penyinaran, kemoterpi dan terapi hormonal.
6. Komplikasi
Metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe (limfogen) ke
paru,pleura, tulang dan hati.
B. Konsep Teori Mastectomy
1. Pengertian
Modified Radical Mastectomy adalah suatu tindakan
pembedahan onkologis pada keganasan payudara yaitu dengan
mengangkat seluruh jaringan payudara yang terdiri dari seluruh stroma
dan parenkhim payudara, areola dan puting susu serta kulit diatas
tumornya disertai diseksi kelenjar getah bening aksila ipsilateral level
I, II/III secara en bloc TANPA mengangkat m.pektoralis major dan
minor.
Tipe mastektomi dan penanganan kanker payudara bergantung
pada beberapa factor meliputi :
a. Usia
b. Kesehatan secara menyeluruh
c. Status menopause
d. Dimensi tumor
e. Tahapan tumor dan seberapa luas penyebarannya
f. Stadium tumor dan keganasannya
g. Status reseptor homon tumor
h. Penyebaran tumor telah mencapai simpul limfe atau belum
Tipe pembedahan secara umum dikelompokkan kedalam tiga kategori:
mastektomi radikal, mastektomi total dan prosedur yang lebih terbatas
( contoh segmental, lumpektomi ).
a. Mastektomi preventif ( preventife mastectomy) disebut juga
prophylactic mastectomy.operasi ini dapat berupa total mastektomi
dengan mengangkat seluruh payudara dan putting atau berupa
subcutaneous mastectomy dimana seluruh payudara diangkat
namun putting tetap dipertahankan .
b. Mastektomi total ( sederhana ) mengangkat semua jaringan
payudara tetapi semua atau kebanyakan nodus limfe dan otot dada
tetap utuh.
c. Mastektomi radikal modifikasi mengangkat seluruh payudara ,
beberapa atau semua nodus limfe dan kadang-kadang otot
pektoralis minor.otot dada mayor masih utuh.Mastektomi radikal (
halsted ) adalah prosedur yang jarang dilakukan yaitu
pengangkatan seluruh payudara, kulit, otot pektoralis mayor dan
minor, nodus limfe ketiak dan kadang-kadang nodus limfe mamari
internal atau supra klavikular.
d. Prosedur membatasi ( contoh : lumpektomi ) mungkin dilakukan
pada pasien rawat jalan yang hanya berupa tumor dan beberapa
jaringan sekitarnya diangkat. Lumpektomi dianggap tumor non-
metastatik bila kurang dari 5 cm ukurannya yang tidak melibatkan
putting.prosedur meliputi dignostik ( menentukan tipe sel ) dan
atau pengobatan bila dikombinasi dengan terapi radiasi.
Berdasarkan tujuan terapi pembedahan, mastektomi dibedakan
menjadi dua macam yaitu tujuan kuratif dan tujuan paliatif. Prinsip
terapi bedah kuratif adalah pengangkatan seluruh sel kanker tanpa
meninggalkan sel kanker secara mikroskopik. Terapi bedah kuratif ini
dilakukan pada kanker payudara stadium dini(stadium 0, I dan II).
Sedangkan tujuan terapi bedah palliatif adalah untuk mengangat kanker
payudara secara makroskopik dan masih meninggalkan sel kanker
secara mikroskopik. Pengobatan bedah palliatif ini pada umumnya
dilakukan untuk mengurangi keluhan-keluhan penderita seperti
perdarahan, patah tulang dan pengobatan ulkus, dilakukan pada kanker
payudara stadium lanjut,yaitu stadium III dan IV.
Prosedur pengangkatan sel kanker dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
a. Mastektomi radikal, yaitu Mengangkat seluruh payudara, kulit, otot
mayor dan minor, nodus limfe aksila dan jaringan lemak
disekitarnya.
b. Mastektomi radikal modifikasi, seperti mastektomi radikal tetapi
otot pektoralis mayor dipertahankan.
c. Mastektomi sederhana, Mengangkat payudara dengan
mempertahankan otot-otot yang menyokong.
d. Mastektomi parsial, Mengangkat lesi dan jaringan disekitarnya
termasuk nodus limfe.
e. Lumpektomi, Mengangkat lesi dan 3 sampai 5 cm jaringan
ditepinya, jaringan payudara dan kulitnya dipertahankan.
2. Tipe Mastectomy
a. Mastektomi Preventif (Preventive Mastectomy)
Mastektomi preventif disebut juga prophylactic mastectomy.
Operasi ini dapat berupa total mastektomi dengan mengangkat
seluruh payudara dan puting. Atau berupa subcutaneous
mastectomy, dimana seluruh payudara diangkat namun puting tetap
dipertahankan. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat kekambuhan
kanker payudara dapat dikurangi hingga 90% atau lebih setelah
mastektomi preventif pada wanita dengan risiko tinggi.
b. Mastektomi Sederhana atau Total (Simple or Total Mastectomy)
Mastektomi dengan mengangkat payudara berikut kulit dan
putingnya, namun simpul limfe masih dipertahankan. Pada beberapa
kasus, sentinel node biopsy terpisah dilakukan untuk membuang
satu sampai tiga simpul limfe pertama.
c. Mastektomi Radikal Termodifikasi (Modified Radical Mastectomy)
Terdapat prosedur yang disebut modified radical
mastectomy (MRM)-mastektomi radikal termodifikasi. MRM
memberikan trauma yang lebih ringan daripada mastektomi radikal,
dan ssat ini banyak dilakukan di Amerika. Dengan MRM, seluruh
payudara akan diangkat beserta simpul limfe di bawah ketiak, tetapi
otot pectoral (mayor dan minor) – otot penggantung payudara –
masih tetap dipertahankan. Kulit dada dapat diangkat dapat pula
dipertahankan, Prosedur ini akan diikuti dengan rekonstruksi
payudara yang akan dilakukan oleh dokter bedah plastik.
d. Mastektomi Radikal (Radical Mastectomy)
Mastektomi radikal merupakan pengangkatan payudara
‘komplit’, termasuk puting. Dokter juga akan mengangkat seluruh
kulit payudara, otot dibawah payudara, serta simpul limfe (getah
bening). Karena mastektomi radikal ini tidak lebih efektif namun
merupakan bentuk mastektomi yang lebih ‘ekstrim’ , saat ini jarang
dilakukan.
e. Mastektomi Parsial atau Segmental (Partial or Segmental
Mastectomy)
Dokter dapat melakukan mastektomi parsial kepada wanita
dengan kanker payudara stadium I dan II. Mastektomi parsial
merupakan breast-conserving therapy- terapi penyelamatan
payudara yang akan mengangkat bagian payudara dimana tumor
bersarang. Prosedur ini biasanya akan diikuti dengan terapi radiasi
untuk mematikan sel kanker pada jaringan payudara yang tersisa.
Sinar X berkekuatan penuh akan ditembakkan pada beberapa bagian
jaringan payudara. Radiasi akan membunuh kanker dan
mencegahnya menyebar ke bagian tubuh yang lain.
f. Quandrantectomy
Tipe lain dari mastektomi parsial disebut quadrantectomy.
Pada prosedur ini, dokter akan mengangkat tumor dan lebih banyak
jaringan payudara dibandingkan dengan lumpektomi. Mastektomi
tipe ini akan mengangkat seperempat bagian payudara, termasuk
kulit dan jaringan konektif (breast fascia). Cairan berwarna biru
disuntikkan untuk mengidentifikasi simpul limfe yang mengandung
sel kanker.
g. Lumpectomy atau sayatan lebar
Merupakan pembedahan untuk mengangkat tumor payudara
dan sedikit jaringan normal di sekitarnya. Lumpektomi
(lumpectomy) hanya mengangkat tumor dan sedikit area bebas
kanker di jaringan payudara di sekitar tumor. Jika sel kanker
ditemukan di kemudian hari, dokter akan mengangkat lebih banyak
jaringan. Prosedur ini disebuat re-excision (terjemahan :
pengirisan/penyayatan kembali).
h. Excisional Biopsy
Biopsi dengan sayatan juga mengangkat tumor payudara dan
sedikit jaringan normal di sekitarnya. Kadang, pembedahan lanjutan
tidak diperlukan jika biopsy dengan sayatan ini berhasil mengangkat
seluruh tumor.
3. Indikasi dan Kontra Indikasi Operasi
b. Indikasi operasi
1) Kanker payudara stadium dini (I,II)
2) Kanker payudara stadium lanjut lokal dengan persyaratan
tertentu
3) Keganasan jaringan lunak pada payudara.
c. Kontra indikasi operasi
1) Tumor melekat dinding dada
2) Edema lengan
3) Nodul satelit yang luas
4) Mastitis inflamatoar
4. Teknik Operasi
Secara singkat tekhnik operasi dari mastektomi radikal
modifikasi dapat dijelaskan sebagai berikut:
a. Penderita dalam general anaesthesia, lengan ipsilateral dengan
yang dioperasi diposisikan abduksi 900, pundak ipsilateral dengan
yang dioperasi diganjal bantal tipis.
b. Desinfeksi lapangan operasi, bagian atas sampai dengan
pertengahan leher, bagian bawah sampai dengan umbilikus, bagian
medial sampai pertengahan mammma kontralateral, bagian lateral
sampai dengan tepi lateral skapula. Lengan atas didesinfeksi
melingkar sampai dengan siku kemudian dibungkus dengan doek
steril dilanjutkan dengan mempersempit lapangan operasi dengan
doek steril
c. Bila didapatkan ulkus pada tumor payudara, maka ulkus harus
ditutup dengan kasa steril tebal ( buick gaas) dan dijahit melingkar.
d. Dilakukan insisi (macam –macam insisi adalah Stewart, Orr, Willy
Meyer, Halsted, insisi S) dimana garis insisi paling tidak berjarak
2 cm dari tepi tumor, kemudian dibuat flap.
e. Flap atas sampai dibawah klavikula, flap medial sampai parasternal
ipsilateral, flap bawah sampai inframammary fold, flap lateral
sampai tepi anterior m. Latissimus dorsi dan mengidentifikasi vasa
dan. N. Thoracalis dorsalis
f. Mastektomi dimulai dari bagian medial menuju lateral sambil
merawat perdarahan, terutama cabang pembuluh darah interkostal
di daerah parasternal. Pada saat sampai pada tepi lateral
m.pektoralis mayor dengan bantuan haak jaringan maamma
dilepaskan dari m. Pektoralis minor dan serratus anterior
(mastektomi simpel). Pada mastektomi radikal otot pektoralis
sudah mulai
g. Diseksi aksila dimulai dengan mencari adanya pembesaran KGB
aksila Level I (lateral m. pektoralis minor), Level II (di belakang
m. Pektoralis minor) dan level III ( medial m. pektoralis minor).
Diseksi jangan lebih tinggi pada daerah vasa aksilaris, karena dapat
mengakibatkan edema lengan. Vena-vena yang menuju ke jaringan
mamma diligasi. Selanjutnya mengidentifikasi vasa dan n.
Thoracalis longus, dan thoracalis dorsalis, interkostobrachialis.
KGB internerural selanjutnya didiseksi dan akhirnya jaringan
mamma dan KGB aksila terlepas sebagai satu kesatuan (en bloc)
h. Lapangan operasi dicuci dengan larutan sublimat dan Nacl 0,9%.
i. Semua alat-alat yang dipakai saat operasi diganti dengan set baru,
begitu juga dengan handschoen operator, asisten dan instrumen
serta doek sterilnya.
j. Evaluasi ulang sumber perdarahan
k. Dipasang 2 buah drain, drain yang besar ( redon no. 14) diletakkan
dibawah vasa aksilaris, sedang drain yang lebih kecil ( no.12)
diarahkan ke medial.
l. Luka operasi ditutup lapais demi lapi

C. Asuhan Keperawatan Peri Anestesi


1. Pre Anestesi
a. Pengkajian Pre Anestesi dilakukan sejak pasien dinyatakan akan
dilakukan tindakan pembedahan baik elektif maupun emergensi.
Pengkajian pre anestesi meliputi :
1) Identitas pasien
2) Riwayat kesehatan pasien dan riwayat alergi
3) Pemeriksaan fisik pasien meliputi : Tanda-tanda vital pasien,
pemeriksaan sistem pernapasan (breathing), sistem
kardiovaskuler (bleeding),sistem persyarafan (brain), sistem
perkemihan dan eliminasi (bowel), sistem tulang, otot dan
integument (bone).
4) Pemeriksaan penunjang berupa laboratorium, rontgen, CT-scan,
USG, dll.
5) Kelengkapan berkas informed consent.
b. Analisa Data
Data hasil pengkajian dikumpulkan dan dianalisa sehingga dapat
menilai klasifikasi ASA pasien. Data yang telah di analisa digunakan
untuk menentukan diagnosa keperawatan, tujuan,
perencanaan/implementasi dan evaluasi pre anestesi.
c. Diagnosa, Tujuan, Perencanaan/implementasi dan Evaluasi Pre
Anestesi
1) Dx : Cemas b/d kurang pengetahuan masalah pembiusan
2) Dx : Resiko gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit b/d
vasodilatasi pembuluh darah dampak obat anestesi.
2. Intra Anestesi
a. Pengkajian Intra Anestesi dilakukan sejak pasien. Pengkajian Intra
anestesi meliputi :
1) Persiapan pasien, alat anestesi dan obat-obat anestesi.
2) Pelaksanaan anestesi
3) Monitoring respon dan hemodinamik pasien yang kontinu setiap
5 menit sampai 10 menit.
b. Analisa Data
Data yang telah di analisa digunakan untuk menentukan diagnosa
keperawatan, tujuan, perencanaan/implementasi dan evaluasi intra
anestesi.
c. Diagnosa, Tujuan, Perencanaan/implementasi dan Evaluasi intra
anestesi
1) Dx : Pola nafas tidak efektif b/d penurunan tingkat kesadaran.
2) Dx : Resiko aspirasi b/d penurunan tingkat kesadaran
3) Dx : Resiko kecelakaan cedera b/d efek anestesi umum.
3. Post Anestesi
a. Pengkajian Post Anestesi dilakukan sejak pasien selesai dilakukan
tindakan pembedahan dan pasien akan dipindahkan ke ruang pemulihan.
Pengkajian Post anestesi meliputi :
1) Keadaan umum pasien dan tanda-tanda vital.
2) Status respirasi dan bersihan jalan napas.
3) Penilaian pasien dengan skala Aldert (untuk anestesi general) dan
skala Bromage (untuk anestesi regional)
4) Instruksi post operasi.
b. Analisa Data
Data yang telah di analisa digunakan untuk menentukan diagnosa
keperawatan, tujuan, perencanaan/implementasi dan evaluasi intra
anestesi.
c. Diagnosa, Tujuan, Perencanaan dan Evaluasi Post Anestesi
1) Dx : Bersihan jalan napas tidak efektif b/d mukus banyak,
sekresi tertahan efek dari general anestesi.
2) Dx : Gangguan rasa nyaman mual muntah b/d pengaruh
sekunder obat anestesi.
3) Dx : Nyeri akut b/d agen cidera fisik (operasi)
4) Dx : Hipotermi b/d berada atau terpapar di lingkungan dingin.
DAFTAR PUSTAKA

Majid, A., Judha, M., Istianah, U. 2011. Keperawatan Perioperatif . Yogyakarta:


Gosyen Publishing

Mangku, Gde., Senapathi, Tjokorda Gde A. (2010). Buku Ajar Ilmu Anestesia dan
Reaminasi. Jakarta: Indeks

Miller, Ronald D. (2010). Millers’s Anesthesia 7th. Amerika: Churchill


Livingstone Elsiever
Pramono, Ardi. (2016). Buku Kuliah : Anestesi. Jakarta : EGC

Sjamsuhidajat R dan Wim de Jong. 2011. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed 2. Jakarta:
EGC.

Smeltzer, S. & Bare, B. (2002). Buku ajar keperawatan medikal bedah


Brunner&Suddarth. Edisi 8 volume 2. (Waluyo, A., Kariasa, M., Julia,
Kuncara, A., & Asih, Y., Penerjemah). Jakarta: Penerbit buku kedokteran
EGC