Anda di halaman 1dari 3

PENCEGAHAN HIPERTENSI

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko yang paling memengaruhi kejadian
penyakit jantung dan pembuluh darah. Hipertensi sering ditemukan tidak bergejala, sehingga
sering terlambat dideteksi dan baru disadari bila telah terjadi gangguan organ seperti gangguan
fungsi jantung atau stroke. Hipertensi juga tidak jarang ditemukan secara tidak sengaja saat
pemeriksaan kesehatan rutin atau datang ke fasilitas kesehatan dengan keluhan lain.
Untuk pengelolaan penyakit hipertensi dan juga termasuk penyakit tidak menular
lainnya, Kemenkes membuat kebijakan yaitu:
1. Mengembangkan dan memperkuat kegiatan deteksi dini hipertensi secara aktif (skrining).
2. Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan deteksi dini melalui kegiatan Posbindu
PTM.
3. Meningkatkan akses penderita terhadap pengobatan hipertensi melalui revitalisasi
Puskesmas untuk pengendalian PTM melalui Peningkatan sumberdaya tenaga kesehatan
yang profesional dan kompenten dalam upaya pengendalian PTM khususnya tatalaksana
PTM di fasilitas pelayanan kesehatan dasar seperti Puskesmas; Peningkatan manajemen
pelayanan pengendalian PTM secara komprehensif (terutama promotif dan preventif) dan
holistik; serta Peningkatkan ketersediaan sarana dan prasarana promotif-preventif, maupun
sarana prasarana diagnostik dan pengobatan.
Menurut Prof. Tjandra, upaya untuk mencegah dan menanggulangi hipertensi yaitu
dimulai dengan meningkatkan kesadaran masyarakat dan menciptakan pola hidup sehat di
masyarakat. Oleh sebab itu, sebagai fasilitas pelayanan kesehatan dasar, Puskesmas perlu
melakukan pencegahan primer untuk mengurangi atau menghentikan faktor risiko terjadinya
hipertensi, melalui promosi kesehatan misalnya diet sehat dengan cara makan sayur-sayuran
dan buah-buahan yang cukup, konsumsi makanan rendah garam dan lemak, rutin melakukan
oalhraga atau aktivitas fisik. dan tidak merokok.
Puskesmas juga perlu melakukan deteksi dini hipertensi sebagai bagian dari pencegahan
sekuner, agar saat ditemukan kasus, maka segera dapat dilakukan pengobatan secara dini.
Pencegahan tersier oleh Puskemas lebih difokuskan pada upaya mempertahankan
kualitas hidup penderita hipertensi. Pelaksanaannya dilakukan melalui tindak lanjut dini dan
pengelolaan yang tepat terhadap penderita hipertensi serta meminum obat secara teratur agar
tekanan darah dapat terkontrol dan tidak timbul komplikasi seperti penyakit jantung, stroke,
dan ginjal kronik. Penanganan yang cepat juga menjadi hal yang utama agar kecacatan dan
kematian dini akibat hipertensi dapat dikendalikan dengan baik. Pencegahan tersier dilakukan
agar penderita hipertensi terhindar dari komplikasi lebih lanjut serta meningkatkan kualitas
hidup dan memperpanjang lama ketahanan hidup.
Penatalaksanaan penyakit hipertensi membutuhkan waktu yang lama, bahkan seumur
hidup dan harus terus menerus. Apabila modifikasi gaya hidup tidak mampu mengontrol
tekanan darah ke tingkat yang diinginkan, maka penderita harus diberikan obat.
Telah banyak fasilitas pelayanan kesehatan yang menyediakan sarana dan prasarana
untuk mendiagnosis dan mengobati hipertensi, termasuk mendeteksi komplikasi atau
kemungkinan terjadi kerusakan organ target akibat hipertensi.
Adanya Posbindu PTM setiap bulan dalam wadah Desa Siaga aktif pada setiap kelurahan
sebenarnya sudah cukup untuk mewaspadai dan memonitor tekanan darah agar segera merujuk
penderita ke Puskesmas/fasilitas kesehatan terdekat jika tekanan darahnya tinggi.
Upaya pencegahan hipertensi dari masing-masing individu sangat penting dan utama
baik itu bagi yang memiliki faktor risiko maupun yang tidak. Pencegahan oleh personal dapat
sangat memengaruhi keefektivan dari program pencegahan yang dilakukan oleh pemerintah
melalui fasilitas-fasilitas kesehatan yang tersedia, karena jika kesadaran masyarakat masih
kurang maka program kesehatan sebagai upaya pencegahan hipertensi juga dapat menjadi tidak
maksimal. Upaya pencegahan hipertnesi rekomendasi WHO yang dapat dilakukan oleh
masing-masing individu antara lain sebagai berikut:

Memperbaiki Pola Makan


Hipertnesi dapat dicegah dengan memperbanyak mengkonsumsi makanan yang rendah lemak
dan kaya dengan kandungan serat, misalnya roti dari biji-bijian utuh, beras merah, buah-
buahan, dan sayur-sayuran. Membatasi konsumi garam juga dapat mencegah terjadinya
hipertensi, yakni dengan menggunakan garam dalam makanan tidak lebih dari 6 gram atau
sekitar satu sendok teh per hari.

Mengontrol Berat Badan.


Obesitas atau kelebihan berat badan kini telah dikategorikan sebagai penyakit oleh WHO. Hal
tersebut dikarenakan obesitas dapat menyebabkan timbulnya berbagai macam penyakit, salah
satunya hipertensi. Bagi orang yang berat badannya berlebih, menurunkan berat badan akan
memengaruhi tekanan darah dan juga dapat meningkatkan kualitas kesehatan secara
keseluruhan.
Olahraga Rutin
Olahraga secara rutin dapat menurunkan tekanan darah dan menjaga fungsi jantung dan
peredaran darah dalam kondisi tetap baik dan sehat. Olah raga yang dianjurkan khusunya bagi
orang dewasa yaitu aktivitas fisik dengan intensitas menengah seperti bersepeda atau jalan
cepat minimal dilakukan selama 2 sampai 3 jam setiap minggu.

Terapi Relaksasi,
Terapi relaksasi seperti yoga atau meditasi dapat dilakukan untuk menjaga pikiran tetap tenang
dan tidak mudah stress, sehingga mampu mengendalikan tekanan darah tetap stabil.

Menghindari Konsumsi Minuman Keras


Batas mengkonsumsi minuman keras yang dianjurkan adalah 2-2,5 kaleng bir perhari dengan
kadar alkohol 4,7% untuk pria, dan maksimal 2 kaleng bir dengan kadar alkohol 4,7% untuk
wanita. Konsumsi minuman keras yang berlebihan dapat meningkatkan risiko terjadinya
hipertensi.

Menghindari Rokok
Merokok memang tidak mengakibatkan hipertensi secara langsung. Akan tetapi kandungan zat
berbahaya rokok yang masuk ke dalam peredaran darah dapat memicu terjadinya penyempitan
arteri yang akan meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke. Kombinasi merokok dan
hipertensi dapat meningkatkan risiko penyakit jantung atau paru-paru secara drastis.

Mengurangi Konsumsi Minuman Berkafein


Berdasarkan penelitian diketahui bahwa meminum kopi lebih dari empat cangkir per harinya
dapat meningkatkan risiko hipertensi pada diri seseorang, dan hal tersebut juga dapat berlaku
pada minuman-minuman lainnya yang mengandung kafein. Oleh karena itu, agar mengurangi
risiko hipertensi dianjurkan mengurangi konsumsi minuman yang bnayak mengandung kafein
misalnya kopi, teh, coca cola, dan berbagai jenis minuman berenergi.