Anda di halaman 1dari 17

MORFOLOGI AKAR

Laporan Praktikum
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Struktur dan Perkembangan Tumbuhan 2
yang Dibina Oleh Dr. Murni Saptasari, M.Si. & Umi Fitriyati, S.Pd., M.Pd.

Disusun Oleh :
Kelompok 3
Offering C 2018
Lisa Meidya / 180341617515

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
S1 PENDIDIKAN BIOLOGI
September 2019
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
a. Mahasiswa dapat mengidentifikasi morfologi akar
b. Mahasiswa dapat membedakan sistem perakaran pada tumbuhan
c. Mahasiswa dapat menyebutkan bentuk-bentuk akar yang mengalami modifikasi
d. Mahasiswa dapat menjelaskan fungsi khusus pada akar yang sudah terspesialisasi
1.2 Dasar teori
Akar adalah bagian utama dari tumbuhan setelah batang dan daun. Akar memiliki fungsi
memperkuat berdirinya tumbuhan, menyerap air dan zat mineral dari dalam tanah, mengangkut
air dan zat mineral ke bagian lain yang membutuhkan dan juga bisa sebagai tempat menyimpan
cadangan makanan. Ciri-ciri dari akar ini biasanya ada di dalam tanah, tidak berbuku dan tidak
beruas, biasanya berwarna keputih-putihan atau kekuning-kuningan, tumbuh terus pada
ujungnya, dan bentuknya meruncing (Tjitrosoepomo, 2011).
Bagian dari akar ada leher akar (collum), ujung akar (apex radicis), batang akar (corpus
radicis), cabang-cabang akar (radix lateralis), serabut akar (fibrilla radicalis), rambut akar (pilus
radicalis), dan tudung akar (calyptra) (Tjitrosoepomo, 2011).
Rambut akar berkembang dari sel epidermis yang khusus dan sel tersebut mempunyai
ukuran yang berbeda dengan sel epidermis yang dinamakan trikoblas. Rambut akar merupakan
sel epidermis yang memanjang keluar tegak lurus permukaan akar dan membentuk tabung.
Rambut akar merupakan bagian yang sifatnya sementara, yaitu umurnya pendek dan hanya
terdapat pada ujung akar saja (Sumardin, 2010).
Bedasarkan asalnya dikenal dua macam akar yaitu akar primer dan akar liar/adventif.
Akar primer adalah akar yang berasal dari embrio dan akan tetap bertahan sepanjang hidupnya.
Sedangkan akar liar/adventif adalah akar yang berasal dari batang atau daun yang bersifat
permanen dan sementara. Tumbuhan yang memiliki akar primer biasanya mempunyai sistem
perakaran tunggang, dan tumbuhan yang memiliki akar liar/adventif biasanya mempunyai sistem
perakaran serabut. Peranan akar primer secara umum sama yaitu menyerap air dan garam-garam
dari dalam tanah. Sedangkan peranan akar liar sangat bervariasi, sesuai dengan peranan akarnya
(Issrep, 2007).
Sistem perakaran dibedakan menjadi dua, yaitu akar tunggang dan akar serabut.
Tumbuhan yang memiliki sistem perakaran tunggang adalah tumbuhan dikotil. Sedangkan
tumbuhan monokotil memiliki sistem perakaran serabut. Bagian dari kedua sistem perakaran ini
hampir sama hanya yang membedakan pada sistem akar tunggang terdapat akar pokok atau
primer sedangkan pada sistem akar serabut tidak memiliki akar primer. Modifikasi dari akar ada
akar tunggang bercabang, akar tunggang tidak bercabang yang meliputi berbentuk seperti
tombak (fusiformis), seperti gasing (napiformis), dan benang (filiformis) (Tjitrosoepomo, 2011).
Modifikasi akar berdasarkan penyesuaian cara hidup ada 8, yaitu akar gantung (radix
aereus), akar penghisap (haustorium) , akar pelekat (radix adligans), akar pembelit (cirrhus
radicalis), akar nafas (pneumathopora), akar tunjang, akar lutut, dan akar banir (Tjitrosoepomo,
2011).
BAB II

METODE PENELITIAN

2.1 Alat dan Bahan


Alat : - Lup
- Kamera Handphone

Bahan :- Akar Bawang Merah (Allium cepa L.)


- Wortel (Daucus carota)
- Bengkoang (Pachyrhizus erosus)
- Akar Lombok/Cabai (Capsicum annum L.)
- Akar Sirih (Piper Bitle L.)
- Akar Kratok (Phaseolus lunatus)
- Tali Putri (Cassytha Filiformis L.)
- Akar Pandan (Pandanus amaryllifolius)
- Akar Beringin (Ficus benjamina)
- Akar Lamtoro (Leucaena leucocephala L.)
- Akar Monstera
2.2 Hasil Pengamatan
BAB III

PEMBAHASAN

Pada pengamatan mengenai struktur morfologi akar pada berbagai tumbuhan, diketahui
bahwa akar berfungsi untuk memperkokoh tubuh tumbuhan, menyerap air dan garam-garam
mineral dari dalam tanah. Hal tersebut sesuai dengan pernyataan Suprapti (2006) bahwa akar
berfungsi untuk memperkuat tubuh tumbuhan, menyerap air, dan unsur hara yang ada didalam
tanah.

Secara morfologi, struktur dari akar tersusun atas leher akar, batang akar, dan ujung akar.
Leher akar atau collum merupakan bagian pangkal tumbuhan akar, yang berada dekat dengan
permukaan tanah dan tersambung langsung dengan bagian pangkal akar. Leher akar biasanya
memiliki warna yang lebih terang, sehingga bagian ini lebih mudah dibedakan dari struktur akar
lainnya. Batang akar adalah akar yang terus menerus berkembang, dari bagian batang akar akan
berkembang menjadi cabang-cabang akar atau yang disebut dengan radix lateralis. Cabang-
cabang akar ini merupakan bagian-bagian akar yang tidak langsung bersambung dengan pangkal
batang, setiap cabang akar memiliki serabut akar yang disebut dengan fibrilla radicalis, serabut
akar merupakan cabang-cabang akar yang halus dan berbentuk serabut (Rosanti, 2003).

Sistem perakaran dibagi menjadi dua yaitu akar tunggang dan akar serabut. Tumbuhan
yang menjadi bahan amatan dan memiliki sistem perakaran tunggang adalah wortel, bengkoang,
lombok/cabai, kratok, pandan, beringin, lamtoro, monstera. Sedangkan tumbuhan yang menjadi
bahan amatan dan memiliki sistem perakaran serabut adalah bawang merah, dan sirih. Menurut
Issrep (2007) tumbuhan dengan sistem perakaran tunggang memiliki akar primer dan termasuk
dikotil, sedangkan tumbuhan yang memiliki perakaran serabut memiliki akar liar/adventif dan
termasuk monokotil.

Berdasarkan praktikum kemarin bentuk akar ada beberapa jenis, yaitu akar benang,
tombak, gasing, tongkat, banir, dan tiang. Bentuk akar benang (filiformis) dapat ditemukan pada
bawang merah, lombok/cabai, sirih, dan kratok. Sedangkan akar tombak dapat ditemukan pada
wortel, kemudian akar gasing dapat ditemukan pada bengkoang. Pada akar pandan memiliki
bentuk akar tongkat, sedangkan bentuk akan banir bisa ditemukan pada lamtoro dan beringin.
Menurut Tjitrosoepomo (2011) akar berbentuk tombak memiliki pangkal yang besar dan
meruncing ke ujung dengan serabut-serabut akar sebagai percabangan, akar berbentuk gasing
memiliki pangkal akar besar membulat dan akar-akar serabut sebagai cabang hanya pada ujung
yang sempit meruncing, akar berbentuk benang jika akar tunggang kecil panjang seperti akar
serabut saja dan juga sedikit sekali bercabang, akar berbentuk tongkat yaitu yang mempunyai
ukuran yang sama antara bagian pangkal dan ujungnya, akar berbentuk banir memiliki bentuk
seperti papan yang diletakkan miring, akar berbentuk tiang memiliki bentuk tegak lurus dari atas
sampai bawah.

Fungsi akar selain menyerap air dan garam-garam mineral yang ada didalam tanah, juga
memiliki fungsi yang sudah terspesialisasi seperti pada tanaman yang sudah diamati. Pada akar
bawang merah, lombok/cabai, kratok berfungsi untuk menyerap air dan garam-garam mineral
didalam tanah. Kemudian pada wortel yang memiliki bentuk tombak ini berfungsi untuk
menyimpan cadangan makanan. Setelah itu pada bengkoang yang memiliki bentuk yang berbeda
dengan wortel, tetapi fungsi kedua akar ini sama yaitu menyimpan cadangan makanan.
Selanjutnya pada akar sirih mempunyai fungsi sebagai akar pelekat yaitu untuk memanjat dan
menempel pada tumbuhan penunjangnya. Pada akar wortel memiliki fungsi sebagai akar tunjang
yang artinya untuk menujang batang agar jangan sampai rebah dan berguna untuk pengambilan
oksigen dari udara. Akar beringin dan lamtoro mempunyai akar banir yang berfungsi untuk
memperkokoh berdirinya batang pohon yang tinggi dan besar. Pada akar mounstera memiliki
akar pembelit yang berguna untuk memanjat tetapi dengan memeluk penunjangnya
(Tjitrosoepomo, 2011).

Pada tumbuhan tali putri tidak diketahui sistem perakaran dan bentuk akarnya karena
berbentuk suluran-suluran dan sukar dikenal sebagai akar. Menurut Sunaryo (1999) bahwa
tumbuhan tali putri termasuk jenis tumbuhan parasit anual bersifat obligat (holoparasit), dengan
sosok tubuh berupa herba yang berbelit-belit. Pada bagian-bagian belitan dimana terjadi
persinggungan antara batang sulur dengan bagian tumbuhan inang, terbentuk sejumlah alat
kontak yang disebut haustorium. Haustorium berfungsi untuk menjembatani antara jaringan
parasit dengan jaringan tumbuhan inangnya, sehingga melalui alat tersebut dimungkinkan
terjadinya penyerapan air dan nutrisi dari tumbuhan inang ke parasit (Visser and Doerr, 1987).
BAB IV

PENUTUP

4.1 Simpulan
a. Morfologi akar dapat diidentifikasi yaitu ada leher akar (collum), ujung akar (apex
radicis), batang akar (corpus radicis), cabang-cabang akar (radix lateralis), serabut akar
(fibrilla radicalis), rambut akar (pilus radicalis), dan tudung akar (calyptra).
b. Sistem perakaran dibedakan menjadi dua, yaitu akar tunggang dan akar serabut.
Tumbuhan yang memiliki sistem perakaran tunggang adalah tumbuhan dikotil. Sedangkan
tumbuhan monokotil memiliki sistem perakaran serabut. Bagian dari kedua sistem
perakaran ini hampir sama hanya yang membedakan pada sistem akar tunggang terdapat
akar pokok atau primer sedangkan pada sistem akar serabut tidak memiliki akar primer.

c. Modifikasi bentuk dari akar ada akar tunggang bercabang, akar tunggang tidak bercabang
yang meliputi berbentuk seperti tombak (fusiformis), seperti gasing (napiformis), dan
benang (filiformis). Selain itu, ada modifikasi akar berdasarkan penyesuaian cara hidup.
Yaitu akar gantung (radix aereus), akar penghisap (haustorium), akar pelekat (radix
adligans), akar pembelit (cirrhus radicalis), akar nafas (pneumathopora), akar tunjang,
akar lutut, dan akar banir.
d. Selain memiliki fungsi akar yang primer (menyerap air dan garam-garam mineral dari
dalam tanah), fungsi akar yang sudah terspesialisasi mempunyai variasi tertentu sesuai
dengan keadaan lingkungannya. Akar gantung digunakan untuk menyerap air dan zat gas
dari udara, akar penghisap digunakan untuk menyerap air maupun zat makanan dari
inangnya, akar pelekat digunakan untuk menempel pada penunjangnya, akar pembelit
digunakan untuk memnjat dengan cara memeluk penunjangnya, akar nafas dan akar lutut
digunakan untuk menyerap oksigen dari udara, akar tunjang digunakan untuk menunjang
batangnya dan pengambilan oksigen dari udara, dan akar banir digunakan untuk
memperkokoh berdirinya batang pohon yang tinggi dan besar.
4.2 Saran
Saran saya pada praktikum kali ini adalah sebaiknya mahasiswa sudah memiliki konsep
tentang morfologi akar terlebih dahulu sebelum memulai praktikum. Agar asisten praktikum
lebih mudah dan cepat dalam menjelaskan materi.
DAFTAR RUJUKAN

Issrep. 2007. Biologi Identifikasi Akar. Pekanbaru : Fakultas Pertanian Universitas Riau.
Rosanti, Dewri. 2003. Morfologi Tumbuhan. Jakarta : Erlangga.
Sumardin. 2010. Struktur Jaringan Akar. Yogyakarta : Fakultas Teknologi Industri Institusi Sains
dan Teknologi.
Sunaryo. 1999. Relung Ekologi dan Strategi Nutrisi Tumbuhan Parasit di Indonesia. Bogor : IPB
Press.
Suprapti. 2006. Prinsip-Prinsip Biologi Tumbuhan. Jakarta : Gramedia.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2011. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta : Gadjah Mada University
Press.
Visser JH & Doer I. 1987. The Houstorium. Dalam : Parasitic Weeds in Agriculture. Vol. I
Striga. Musselman, LJ (Ed.) : CRC Press.
LAMPIRAN

1. Foto Hasil Pengamatan


No Nama Bahan Pengamatan Hasil Pengamatan
1 Akar Bawang Merah

2 Wortel

3 Bengkoang
4 Akar Lombok

5 Akar Sirih

6 Akar Kratok

7 Tali Putri
8 Akar Pandan

9 Akar Beringin

10 Akar Lamtoro

11 Akar Monstera
2. Laporan Sementara