Anda di halaman 1dari 14

PERCOBAAN 9

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA FISIKA I

KINETIKA REAKSI SAPONIFIKASI ETIL ASETAT

OLEH
KELOMPOK 6
1. ABDILLAH AL FARRABY (170332614545)
2. KARINA KURNIA SARI (170332614539)
3. NADIA ERLINA MAYANGSARI (170332614557)*

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
APRIL 2019

1
PERCOBAAN 9
KINETIKA REAKSI SAPONIFIKASI ETIL ASETAT

1.1 TUJUAN PERCOBAAN


Menunjukan bahwa reaksi penyabunan etil asetat oleh ion
hidroksida adalah reaksi orde dua, dan menentukn konstanta kecepatan
reaksi pada reaksi tersebut.

1.2 DASAR TEORI


Kinetika kimia merupakan bagian dari ilmu kimia yang mempelajari
tantang kecepatan reaksi-reaksi dan mekanisme reaksireaksi yang
bersangkutan. tidak semua reaksi kimia dapat dipelajari secara kinetik.
Reaksi-reaksi yang berjalan sangat cepat seperti reaksi-reaksi ion atau
pembakarandan reaksi-reajsu yang sangat lambat seperti perkaratan, tidak
dapat dipelajari secara kinetik.
Kecepatan reaksi adalah kecepatan perubahan konsentrasi terhadap
waktu, jadi –dC/dt, tanda negatif menunjukkan bahwa konsentrasi berkurang
bila waktu bertambah. Laju reaksi merupakan lajuberkurangnya pereaksi atau
bertambhanya hasil reaksi persatuan waktu. Bila laju reaksi dengan
persamaan aA + bB cC + dD.
Semakin besar konsentrasi zat-zat pereaksi cenderung akan
mempercepat laju reaksi, tetapi seberapa cepat menemukan orde reaksi
merupakan salah satu cara memperkirakan sejauh mana konsentrasi zat
pereaksi mempengaruhi laj reaksi tertentu.
Orde reaksi adalah jumlah pangkat faktor konsentrasi dalam hukum
laju bentuk differensial, orde reaksi merupakan ukuran konstribsi setiap
konsentrasi perekasi atau zat yang berperan dalam laju reaksi. Pada
umumnya orde reaksi merupakan bilangan bulat dan hasil namun dalam
beberapa hal pecahan dan nol.
Saponifikasi adalah suatu reaksi yang menghasilkan sabun dan
gliserol, dengan menghidrolisa degan basa, suatu lemak atau minyak.
Persamaannya adaah sebagai berikut :
CH3COOC2H5(aq) + NaOH(aq)  CH3COONa(aq)+ C2H5OH(aq)....... (1)
Meskipun reaksi (1) bukan reaksi sederhana, namun reaksi ini merupakan
reaksi orde dua dengan hukum laju reaksinya sebagai berikut:
d[ester] 𝑑𝑥
- = k1 [ester] [OH-] (2) atau = k1 (a-x) (b-x) (3)
dt 𝑑𝑡

Dengan :
a = konsentrasi awal ester (mol/L)

2
b = konsentrasi awal ion OH- (mol/L)
x = jumlah mol/L ester atau basa yang telah bereaksi
k1 = tetapan laju reaksi
persamaan (3) dapat diintergrasikan dengan memeprhatikan keadaan:
 Bila a ≠ b
Bila persamaan (3) diintergrasikan akan memberikan :
b (a−x)
ln a (b−x) = ln (a-b)t........ (4)

yang dapat dituliskan menjadi :


1 b (a−x)
k1 = ln a (b−x) ..........(4a)
a (b−x)

atau
ln (a-x)(b-x) = k1 (a-b)t + ln a/b ............(4b)
Menurut persamaan (4b) apabila ln (a-x)/(b-x) dialurkan terhadapan
takan diperoleh garis lurus dengan arah lereng k1 (a-b), sehingga penentuan
arah lereng ini memungkinkan perhitungan dari tetapan laju reaksi k1.
 Bila a = b
Bila konsentrasi dari kedua pereaksi sama, maka persamaan (3) dapat
dituliskan sebagai :
𝑑𝑥
= k1 (a-x)2...........(5)
𝑑𝑡

yang dapat diintergrasikan menjadi


1 1
k1t = -
(a−x) a
1
persamaan terakhir ini mengungkapkan bahwa aluran terhadap
(a−x)

merupakan garis lurus dengan rara lereng sama dengan k1

1.3 ALAT DAN BAHAN


a. Alat :
1. Kaca arloji
2. Labu ukur
3. Erlenmeyer
4. Buret
5. Statif dan klem
6. Corong
7. Beaker glass
8. Stopwatch
9. Pipet gondok
10. Pipet tetes

3
11. Botol semprot
12. Termometer

b. Bahan :
1. Etil asetat
2. NaOH
3. HCl
4. Indikator pp
5. Akuades

1.4 PROSEDUR PERCOBAAN


LANGKAH KERJA HASIL PENGAMATAN

Etil asetat 0,02 N


- Disediakan 62,5 mL 62,5 mL Etil asetat 0,02N + 50 mL
- Disediakan NaOH 0,02 N 50 mL NaOH 0,02 N = larutan jernih tidak
- dimasukkan dengan pipet berwarna
sejumlah tertentu larutan NaOH
dan etil asetat masing-masing ke
dalam sebuah labu Erlenmeyer
- diletakkan kedua labu Erlenmeyer
ke dalam termostat utuk mecapai
suhu sama
- dipipet 20 mL HCl 0,02M masing- 62,5 mL Etil asetat 0,02N + 50 mL
masing ke dalam 7 Erlemeyer NaOH 0,02 N + 10 mL HCl = larutan
- diteteskan 3 tetes indikator PP jernih tidak berwarna
- dicampur dengan tepat larutan
NaOH dan etil asetat setelah 62,5 mL Etil asetat 0,02N + 50 mL
mencapai suhu termostat NaOH 0,02 N + 10 mL HCl +
- dikocok campuran indikator pp = larutan jernih tidak
- dijalankan stopwatch berwarna
- dimasukan campuran ke dalam
Erlenmeyer yang berisi 20 mL
HCl sebanyak 10 mL campuran
setelah 3 menit
- dititrasi kelebihan HCl dengan Larutan mejadi berwarna merah muda
NaOH 0,02 N Waktu (menit) Volume NaOH (mL)
- dilakukan pengambilan campuran 3 16,7

4
pada menit ke-8,15,25,40 dan 65 8 16,8
- dititrasi kelebihan HCl dengan 15 17,1
NaOH 0,02 N 25 15,9
Hasil 40 17,7
65 18.3
65 (dipanaskan) 18,7

1.5 ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Percobaan mengenai kinetika reaksi saponifikasi etil asetat yang


bertujuan untuk memberikan gambaran bahwa reaksi penyabunan hidroksida
adalah reaksi rde dua, dan menentukan konstanta kecepatan reaksi pada reaksi
tersebut. Langkah pertama adalah menyiapkan 62,5 mL etil asetat 0,02 N dan
50 mL NaOH 0,02 N, keduanya merupakan larutan tidak berwarna.
Selanjutnya kedua larutan dicampurkan menghasilkan larutan yang tidak
berwarna. Persamaan reaksinya adalah :
CH3COOC2H5(aq) + NaOH(aq)  CH3COONa(aq)+ C2H5OH(aq)
Campuran dikocok dengan selang waktu bebrda, selang waktu pertama
campuran dikocok sesekali dan ditunggu selama 3 ment, kemudian diambil
menggunakn pipet volume 10 mL yang beberapa larutan tidak berwarna dan
dimasukkan ke dalam Erlenmeyer yang telah berisi 20 mL HCl 0,02 N yang
telah juga diberikan 3 tetes indikator PP. Pada saat penambahan campuran
kedalam Erlenmeyer dihasilkan larutan yang tidak berwarna. Fungsi
penambahan HCl pada campuran adalah untk mengetahui NaOH yang
tersisapada proses reaksi saponifikasi NaOH dan etil asetat. Penambahan
indikator pp berfungsi untuk mengetahui titik akhir dimana mol NaOH sama
dengan mol HCl. Penitrasian larutan dengan NaOH 0,02 n dihentikan apabila
larutan berubah warna menjadi merah muda. Warna merah muda ini
menandakan titik akhir titrasi sudah tercapai.
Selang waktu pertama campuran larutan dikocok sesekali selama 8
menit, 15 menit, 25 menit 20 menit , 65 menit dan 65 menit yang disertai
pemanasan.
Reaksi total :
1. CH3COOC2H5(aq) + NaOH(aq)  CH3COONa(aq)+ C2H5OH(aq) +
NaOH(aq) sisa
2. HCl(aq) + NaOH(aq) sisa  NaCl(aq)+ H2O(l) + HCl(aq) sisa
3. HCl(aq) sisa + NaOH(aq) (titrasi)  NaCl(aq)+ H2O(l)

5
Hasil pengamatan yang diperoleh tiap-tiap waktu
Waktu (menit) Volume NaOH (mL)
3 16,7
8 16,8
15 17,1
25 15,9
40 17,7
65 18,3
65 (dipanaskan) 18,7
Hasil yang diperoleh sudah sesuai teori yang mana semakin lama
waktu volume NaOH yang digunakan untuk menitrasi makin banyak. Hal ini
menandakan semakin lama waktu, konsentrasi NaOH yang digunakan dalam
reaksi saponifikasi semakin banyak. Makin banyak HCl sisa dan semakin
banyak pula volme NaOH yang digunakan untuk menitrasi HCl sisa. Namun
pada menit ke-25 terjadi ketidaksesuaian antara data dan teori. Faktor
koreksinya kemungkinan pada saat mengambil 20 mL HCl ke Erlenmeyer,
pipet volume yang digunakan kurang bersih sehingga memengaruhi
konsentrasi HCl dan memengaruhi valume NaOH pada saat titrasi, dan
campuran larutan NaOH dan etil asetat konsentrasinya beruba atau kurang
baik pada saat pengocokan larutan.
 Volume mula-mula NaOH = 50 mL
 Volume mula-mula CH3COOC2H5 = 62,5 Ml
 Konsentrasi NaOH = 0.02 M
 Konsentrasi CH3COOC2H5 = 0.02 M
 Mol NaOH = M x V
= 0,02 M x 50 mL = 1 mmol
 Mol etil asetat = M x V
= 0,02 M x 62,5 mL = 1,25 mmol
 Mol HCl = M x V
= 0,02 M x 20 mL = 0,4 mmol
CH3COOC2H5(aq) + NaOH(aq)  CH3COONa(aq)+ C2H5OH(aq)
M 1,25 mmol 1 mmol - -
B x mmol x mmol x mmol x mmol
S (1,25-x) mmol (1-x) mmol x mmol x mmol

6
 HCl sisa :
1. t = 3 menit
mmol HCl = mmol NaOH
= 0,02 M x 16,7 mL = 0,334 mmol
2. t = 8 menit
mmol HCl = mmol NaOH
= 0,02 M x 16,8 mL = 0,336 mmol
3. t = 15 menit
mmol HCl = mmol NaOH
= 0,02 M x 17,1 mL = 0,342 mmol
4. t = 25 menit
mmol HCl = mmol NaOH
= 0,02 M x 15,9 mL = 0,318 mmol
5. t = 40 menit
mmol HCl = mmol NaOH
= 0,02 M x 17,7 mL = 0,354 mmol
6. t = 65 menit
mmol HCl = mmol NaOH
= 0,02 M x 18,3 mL = 0,3664 mmol
7. t = 65 menit dipanaskan
mmol HCl = mmol NaOH
= 0,02 M x 18,7 mL = 0,374 mmol
 Mol NaOH sisa (b-x)
1. t = 3 menit  (0,4-0,334)mmol = 0,066 mmol
2. t = 8 menit  (0,4-0,336)mmol = 0,064 mmol
3. t = 15 menit  (0,4-0,342)mmol = 0,058 mmol
4. t = 25 menit  (0,4-0,318)mmol = 0,082 mmol
5. t = 40 menit  (0,4-0,354)mmol = 0,046mmol
6. t = 65 menit  (0,4-0,3664)mmol = 0,0336 mmol
7. t = 65 menit dipanaskan  (0,4-0,374)mmol = 0,026 mmol
 Mol NaOH sisa (b-x) = mol HCl bereaksi (x)
 Mol NaOH yang bereaksi dengan etil asetat (x)?
1. t = 3 menit
b-x = 0,066 mmol
x = (1-0,066) mmol = 0,934 mmol
2. t = 8 menit
b-x = 0,064 mmol

7
x = (1-0,064) mmol = 0,936 mmol
3. t = 15 menit
b-x = 0,058 mmol
x = (1-0,058) mmol = 0,942 mmol
4. t = 25 menit
b-x = 0,082 mmol
x = (1-0,082) mmol = 0,918 mmol
5. t = 40 menit
b-x = 0,046 mmol
x = (1-0,046) mmol = 0,954 mmol
6. t = 65 menit
b-x = 0,0336 mmol
x = (1-0,0336) mmol = 0,9664 mmol
7. t = 65 menit dipanaskan
b-x = 0,026 mmol
x = (1-0,026) mmol = 0,974 mmol
 Mol CH3COOH yang bereaksi = (x)
Mol CH3COOH awal = (a)
Mol CH3COOH sisa = (a-x)
1. t : 3 menit
a-x=1,25-0,934 mmol=0,316 mmol
2. t : 8 menit
a-x=1,25-0,936 mmol=0,314 mmol
3. t : 15 menit
a-x=1,25-0,942 mmol=0,308 mmol
4. t : 25 menit
a-x=1,25-0,918 mmol=0,332 mmol
5. t : 40 menit
a-x=1,25-0,954 mmol=0,296 mmol
6. t : 65 menit
a-x=1,25-0,9664 mmol=0,2836 mmol
7. t : 65 menit (dipanaskan)
a-x=1,25-0,974 mmol=0,276 mmol
Keterangan :
a=mol CH3COOH awal
b=mol NaOH awal
x=mol yang bereaksi

8
 Konstanta kecepatan reaksi pada masing-masing wktu:
1. t: 3 menit = 180 s
1 1 𝑏(𝑎−𝑥)
K1= 𝑡 𝑎−𝑏ln 𝑎(𝑏−𝑥)
1 1 1(0,316)𝑚𝑚𝑜𝑙
= 180 𝑠 1,25−1 𝑚𝑚𝑜𝑙ln 1,25(0,066)𝑚𝑚𝑜𝑙

=0,0298 s-1mol-1
2. t: 8 menit = 480 s
1 1 𝑏(𝑎−𝑥)
K2= 𝑡 𝑎−𝑏ln 𝑎(𝑏−𝑥)
1 1 1(0,314)𝑚𝑚𝑜𝑙
= 480 𝑠 1,25−1 𝑚𝑚𝑜𝑙ln 1,25(0,064)𝑚𝑚𝑜𝑙

=0,01139 s-1mol-1
3. t: 15 menit = 900 s
1 1 𝑏(𝑎−𝑥)
K3= ln
𝑡 𝑎−𝑏 𝑎(𝑏−𝑥)

1 1 1(0,308)𝑚𝑚𝑜𝑙
= 900 𝑠 1,25−1 𝑚𝑚𝑜𝑙ln 1,25(0,058)𝑚𝑚𝑜𝑙

=6,429 x 10-3 s-1mol-1


4. t: 25 menit = 1500 s
1 1 𝑏(𝑎−𝑥)
K4= 𝑡 𝑎−𝑏ln 𝑎(𝑏−𝑥)
1 1 1(0,332)𝑚𝑚𝑜𝑙
= 1500 𝑠 1,25−1 𝑚𝑚𝑜𝑙ln 1,25(0,082)𝑚𝑚𝑜𝑙

=3,134 x 10-3 s-1mol-1


5. t: 40 menit = 2400 s
1 1 𝑏(𝑎−𝑥)
K5= 𝑡 𝑎−𝑏ln 𝑎(𝑏−𝑥)
1 1 1(0,296)𝑚𝑚𝑜𝑙
= 2400 𝑠 1,25−1 𝑚𝑚𝑜𝑙ln 1,25(0,046)𝑚𝑚𝑜𝑙

=2,7309 x 10-3 s-1mol-1


6. t: 65 menit = 3900 s
1 1 𝑏(𝑎−𝑥)
K6= 𝑡 𝑎−𝑏ln 𝑎(𝑏−𝑥)
1 1 1(0,2836)𝑚𝑚𝑜𝑙
= 3900 𝑠 1,25−1 𝑚𝑚𝑜𝑙ln 1,25(0,0336)𝑚𝑚𝑜𝑙

=1,9588 x 10-3 s-1mol-1


7. t: 65 menit = 3900 s
1 1 𝑏(𝑎−𝑥)
K7= 𝑡 𝑎−𝑏ln 𝑎(𝑏−𝑥)
1 1 1(0,276)𝑚𝑚𝑜𝑙
= 3900 𝑠 1,25−1 𝑚𝑚𝑜𝑙ln 1,25(0,026)𝑚𝑚𝑜𝑙

=2,194 x 10-3 s-1mol-1

9
Grafik yang didapatkan

2.5

y = 0.0117x + 1.4268
R² = 0.7769
2
ln (a-x)/(b-x)

1.5

0.5

0
0 10 20 30 40 50 60 70 80
t (menit)

1.6 KESIMPULAN
Reaksi saponifikasi merupakan reaksi pada orde dua dengan konstanta
 t: 3 menit = 0,0298 s-1 mmol-1
 t: 8 menit = 0,1139 s-1 mmol-1
 t: 15 menit = 6,429 x 10-3 s-1 mmol-1
 t: 25 menit = 3,134 x 10-3 s-1 mmol-1
 t: 40 menit = 2,7309 x 10-3 s-1 mmol-1
 t: 65 menit = 1,9588 x 10-3 s-1 mmol-1
 t: 65 menit (dipanaskan) = 2,194 x 10-3 s-1 mmol-1

1.7 DAFTAR PUSTAKA

Tim KBK Kimia Fisika. 2019. Petunjuk Praktikum Kimia Fisika. FMIPA:
Universitas Negeri Malang

Chang,Raymond.2003.Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti Edisi Ketiga Jilid


2.Jakarta: Airlangga

10
1.8 JAWABAN PERTANYAAN

Soal
1. Kenyataan apakah yang membuktikan bahwa reaksi penyabunan etil asetat
ini adalah reaksi orde 2?
2. Apakah perbedaan orde reaksi dengan kemolekulan reaksi?
a. Apakah yang mempengaruhi kecepatan reaksi?Jelaskan!
b. Apakah yang dimaksud dengan konstanta kecepatan reaksi?

Jawab
1. Dapat dilihat dari grafik. Bahwa grafik yang miring keatas menandakan
bahwa reaksi tersebut merupakan reaksi orde 2.
2. Orde reaksi: banyaknya factor konsentrasi zat reaktan yang mempengaruhi
kecepatan reaksi
Kemolekulan: banyaknya molekul zat pereaksi dalam sebuah persamaan
stokiometri reaksi yang sederhana. Kemolekulan reaksi selalu bilangan bulat
positif.
Contoh:
Reaksi: aA + bB  cC + dD
Kemolekulan reaksinya: a+b

a. Faktor yang mempengaruhi kecepatan reaksi:


 Luas permukaan bidang sentuh : luas permukaan bidang sentuh
memiliki peranan sangat penting dalam jumlah besar, sehingga
menyebabkan laju reaksi makin cepat . begitu juga sebaliknya, apabila
semakin kecil luas permukaan bidang sentuh, maka semakin kecil
tumbukan yang terjadi antar partikel sehinggalaju reaksi makin kecil.
 Suhu : Juga turut berperan mempengaruhi laju reaksi. Suhu dinaikkan
partikel reaksi semakin aktif bergerak ,sehingga tumbukan yang terjadi
makin sering, menyebabkan laju reaksi makin besar. Sebaliknya
apabila suhu diturunkan , partikel semakin tidak aktif , laju reaksi
semakin kecil.
 Katalis: Suatu zat yang mempercepat laju reaksi kimia pada suhu
tertentu , tanpa mengalami perubahan atau terpakai oleh reaksi itu
sendiri. Suatu katalis berperan dalam reaksi tapi bukans sebagai
pereaksi atau produk. Katalis memungkinkan reakasi berlangsung lebih
cepat atau memungkinkan reaksi pada suhu lebih rendah akibat
perubahan yang dipicunya terhadap pereaksi. Katalis menyebabkan
energi aktivitas rendah, sehingga mengurangi energi yang dibutuhkan
untuk berlangsungnya reaksi.
 Molaritas: Banyaknya mol zat terlarut tiap satuan volume zat pelarut.
Hubungannya dengan laju reaksi adalah bahwa semakin besar
molaritas suatu zat,maka semakincepat suatuberlangsung.
 Konsentrasi: Smakin tinggi konsentrasi , semakin banyak molekul
reaktan yang tersedia dengan demikian kemungkinan bertumbuknya
akan semakin banyak juga sehingga kecepatan reaksi meningkat.
b. Konstanta kecepatan reaksi(k): perbandingan antara laju reaksi dengan
konsentrasi reaktan. Nilai k akan semakin besar jika reaksi berlangsung
cepat,walaupun dengan konsentrasi reaktan dalam jumlah kecil. Nilai k
hanya diperoleh melalui analisis data eksperimen tidak berdasarkan
stokiometri / koefisien reaksi.

11
1.9 REFLEKSI

1. Pengetahuan
-mampu mengambil larutan dengan teliti denan pipet volume
-mampu menitrasi larutan tepat pada titik akhir titrasi.

2. Sifat
- sabar, teratur, teliti

3. Karakteristik Tim
- kerjasama, pembagian tugas baik,

4 Hal yang tidak perlu dilakukan


- mengambil larutan HCl dalam waktu yang berbeda

12
2.0 LAMPIRAN

13
14