Anda di halaman 1dari 9

d

undefined
undefined

Sistem Integumen pada Pisces

Written by Muhammad Isnan


Lapisan epidermis pada ikan selalu basah karena adanya lendir yang dihasilkan oleh sel-
sel yang berbentuk piala yang terdapat di seluruh permukaan tubuhnya. Epidermis
merupakan bagian tubuh yang berhubungan langsung dengan lingkungan dan sistem
somatis, mempunyai sejarah evolusi yang kompleks. Integumen sekalian hewan
merupakan lapisan protektif yang menjaga lalulintas air dan zat-zat yang terlarut di
dalamnya secara bebas. Epidermis tidak dilengkapi dengan pembuluh-pembuluh darah,
keperluan metabolisme diperoleh secara difusi, karena itu kecenderungan dari sel-sel
yang paling di luar untuk menjadi mati dan lepas sangat besar sekali. Epidermis bagian
dalam terdapat lapisan sel yang disebut stratum germinativum (lapisan malphigi).
Lapisan ini sangat giat dalam melakukan pembelahan untuk menggantikan sel-sel bagian
luar yang lepas dan untuk persediaan pengembangan tubuh.

Dermis yang didalamnya terkandung pembuluh darah, saraf dan jaringan pengikat
memiliki struktur yang lebih tebal dan sel-sel yang susunannya lebih kompak dari pada
epidermis. Derivat-derivat kulit juga juga dibentuk dalam lapisan ini. Lapisan dermisi
berperan dalam pembentukan sisik pada ikan yang bersisik, dan derivat-derivat kulit
lainnya. Asal mula terbentuknya dermis ini belum banyak diketahui; diperkirakan bahwa
jaringan ikat di bawah epidermis dulunya berubah, terutama sekali menjadi tulang pada
hewan nenek moyang vertebrata, seperti yang terlihat pada fosil-fosil Ostracodermi yang
mempunyai prisai-prisai tulang pada kulitnya, yang pertumbuhannya sangat baik.

LENDIR
Umumnya ikan yang tidak bersisik memproduksi lendir yang lebih banyak dan tebal
dibanding dengan ikan yang bersisik. Ketebalan lendir yang meliputi kulit ikan
dipengaruhi oleh kegiatan sel kelenjar yang berbentuk piala yang terletak di dalam
epidermis. Kelenjar ini akan memproduksi lendir lebih banyak pada saat tertentu,
misalnya pada saat ikan berusaha melepaskan diri dari bahaya/ genting dibanding pada
saat atau keadaan normal.

Lendir berguna untuk mengurangi gesekan dengan air supaya ia dapat berenang dengan
lebih cepat, mencegah infeksi dan menutup luka, berperan dalam osmoregulasi sebagai
lapisan semi-permiable yang mencegah keluar masuknya air melalui kulit. Pada beberapa
ikan tertentu menggunakan lendir sebagai alat perlindungan pada saat terjadi kekeringan,
misalnya ikan paru-paru (Protopterus)yang menanamkan diri pada lumpur selama musim
panas dengan membungkus tubuhnya dengan lendir hingga musim penghujan tiba.
Beberapa ikan yang menggunakan lendirnya untuk melindungi telur dari gangguan luar,
misalnya anggota dari genus Trichogaster.

SISIK
Ikan yang bersisik keras biasanya ditemukan pada golongan ikan primitive, sedangkan
pada ikan modern, kekerasan sisiknya sudah fleksibel. Hal tersebut sangat dipengaruhi
oleh jenis bahan yang dikandungnya. Sisik dibuat di dalam dermis sehingga sering
diistilahkan sebagai rangka dermis.

Di samping ikan bersisik terdapat pula ikan yang sama sekali tidak bersisik, di temukan
pada ikan lajur (Trichiurus, Lepturancanthus, Demissolinea), ikan sub-ordo Siluroidea
(Pegasius, Clarias, Fluta alba). Sebagai suatu kompensasi dari tidak terdapatnya lendir
pada tubuhnya, mereka memiliki lendir yang lebih tebal sehingga badannya menjadi lebih
licin.
Ada beberapa jenis ikan yang hanya ditemukan sisik pada bagian tubuh tertentu saja.
Seperti “paddle fish”, ikan yang hanya ditemukan sisik pada bagian operculum dan ekor.
Dan adapula yang hanya ditemukan sepanjang linea lateralis. Ikan sidat (Anguilla) yang
terlihat seperti tidak bersisik, sebenarnya bersisik tetapi sisiknya kecil dan dilapisi lendir
yang tebal.

Berdasarkan bentuk dan bahan yang terkandung di dalamnya, sisik ikan dapat dibedakan
menjadi lima jenis, yaitu Placoid, Cosmoid, ganoid, Cycloid dan Ctenoid.
a. Sisik Placoid
Jenis sisik ini karakteristik bagi golongan ikan bertulang rawan (Chondrichthyes). Bentuk
sisik tersebut menyerupai bunga mawar dengan dasar yang bulat atau bujur sangkar. Sisik
macam ini terdiri dari keping basal yang letaknya terbenam di bagian dermis kulit, dan
suatu bagian yang menonjol berupa duri keluar dari permukaan epidermis. Sisik tersebut
merupakan struktur exoskeleton yang primitive yang mempunyai titik perkembangan
menuju ke lembaran sisik yang biasa terdapat pada osteichthyes yang terdiri atas lempeng
dasar, tangkai sentral dan duri. Bagian yang lunak dari sisik ini (pulp) berisikan
pembuluh darah dan saraf yang berasal dari dermis. Sisik placoid dibangunkan oleh
dentine sehinnga sering disebut dermal denticle yang di dalamnya terdapat rongga pulpa.
Pertumbuhan dari sisik placoid menyerupai pertumbuhan gigi, yaitu dimulai dengan
adanya pengelompokan dari sel-sel dermis yang seterusnya akan tumbuh menjadi lebih
nyata membentuk papila dermis yang mendesak epidermis yang ada di sebelah
permukaan. Gigi ikan hiu merupakan derivate dari sisik.

b. Sisik Cosmoid
Sisik ini hanya ditemukan pada ikan fosil dan ikan primitive yang sudah punah dari
kelompok Crossopterygii dan Dipnoi. Sisik ikan ini terdiri dari beberapa lapisan, yang
berturut-turut dari luar adalah vitrodentine, yang dilapisi semacam enamel, kemudian
cosmine yang merupakan lapisan terkuat dan noncellular, terakhir isopedine yang
materialnya terdiri dari substansi tulang. Pertumbuhan sisik ini hanya pada bagian bawah,
sedangkan pada bagian atas tidak terdapat sel-sel hidup yang menutup prmukaan. Tipe
sisik ini ditemukan pada jenis ikan Latimeria chalumnae.

c. Sisik Ganoid
Jenis sisik ini dimiliki oleh ikan-ikan Lepidosteus (Holostei) dan Scaphyrynchus
(Chondrostei). Sisik ini terdiri dari beberapa lapisan yakni lapisan terluar disebut ganoine
yang materialnya berupa garam-garam an-organik, kemudian lapisan berikutnya dalah
cosmine, dan lapisan yang paling dalam adalah isopedine. Pertumbuhan sisik ini dari
bagian bawah dan bagian atas. Ikan bersisik type ini adalah antara lain, Polypterus,
Lepisostidae, Acipenceridae dan Polyodontidae.

d.Sisik Cycloid dan Ctenoid


Sisik ini ditemukan pada golongan ikan teleostei, yang masing-masing terdapat pada
golongan ikan berjari-jari lemah (Malacoptrerygii) dan golongan ikan berjari-jari keras
(Acanthopterygii). Perbedaan antara sisik cycloid dengan ctenoid hanya meliputi adanya
sejumlah duri-duri halus yang disebut ctenii beberapa baris di bagian posteriornya.
Pertumbuhan pada tipe sisik ini adalah bagian atas dan bawah, tidak mengandung dentine
atau enamel dan kepipihannya sudah tereduksi menjadi lebih tipis, fleksibel dan
transparan. Penempelannya secara tertanam ke dalam sebuah kantung kecil di dalam
dermis dengan susunan seperti genting yang dapat mengurangi gesekan dengan air
sehingga dapat berenang lebih cepat. Sisik yang terlihat adalah bagian belakang
(posterior) yang berwarna lebih gelap daripada bagian depan (anterior) karena bagian
posteriornya mengandung butir-butir pigmen (chromatophore). Bagian anterior (terutama
pada bagian tubuh) transparan dan tidak berwarna. Perbedaan antara tipe sisik cycloid
dengan ctenoid adalah pada bagian posterior sisik ctenoid dilengkapi dengan ctenii
(gerigi kecil). Focus merupakan titik awal perkembangan sisik dan biasanya
berkedudukan di tengah-tengah sisik.
Reaction
Sistem Integumen pada Pisces
Lapisan epidermis pada ikan selalu basah karena adanya lendir yang dihasilkan oleh sel-
sel yang berbentuk piala yang terdapat di seluruh permukaan tubuhnya. Epidermis
merupakan bagian tubuh yang berhubungan langsung dengan lingkungan dan sistem
somatis, mempunyai sejarah evolusi yang kompleks. Integumen sekalian hewan
merupakan lapisan protektif yang menjaga lalulintas air dan zat-zat yang terlarut di
dalamnya secara bebas. Epidermis tidak dilengkapi dengan pembuluh-pembuluh darah,
keperluan metabolisme diperoleh secara difusi, karena itu kecenderungan dari sel-sel
yang paling di luar untuk menjadi mati dan lepas sangat besar sekali. Epidermis bagian
dalam terdapat lapisan sel yang disebut stratum germinativum (lapisan malphigi).
Lapisan ini sangat giat dalam melakukan pembelahan untuk menggantikan sel-sel bagian
luar yang lepas dan untuk persediaan pengembangan tubuh.

Dermis yang didalamnya terkandung pembuluh darah, saraf dan jaringan pengikat
memiliki struktur yang lebih tebal dan sel-sel yang susunannya lebih kompak dari pada
epidermis. Derivat-derivat kulit juga juga dibentuk dalam lapisan ini. Lapisan dermisi
berperan dalam pembentukan sisik pada ikan yang bersisik, dan derivat-derivat kulit
lainnya. Asal mula terbentuknya dermis ini belum banyak diketahui; diperkirakan bahwa
jaringan ikat di bawah epidermis dulunya berubah, terutama sekali menjadi tulang pada
hewan nenek moyang vertebrata, seperti yang terlihat pada fosil-fosil Ostracodermi yang
mempunyai prisai-prisai tulang pada kulitnya, yang pertumbuhannya sangat baik.

LENDIR
Umumnya ikan yang tidak bersisik memproduksi lendir yang lebih banyak dan tebal
dibanding dengan ikan yang bersisik. Ketebalan lendir yang meliputi kulit ikan
dipengaruhi oleh kegiatan sel kelenjar yang berbentuk piala yang terletak di dalam
epidermis. Kelenjar ini akan memproduksi lendir lebih banyak pada saat tertentu,
misalnya pada saat ikan berusaha melepaskan diri dari bahaya/ genting dibanding pada
saat atau keadaan normal.

Lendir berguna untuk mengurangi gesekan dengan air supaya ia dapat berenang dengan
lebih cepat, mencegah infeksi dan menutup luka, berperan dalam osmoregulasi sebagai
lapisan semi-permiable yang mencegah keluar masuknya air melalui kulit. Pada beberapa
ikan tertentu menggunakan lendir sebagai alat perlindungan pada saat terjadi kekeringan,
misalnya ikan paru-paru (Protopterus)yang menanamkan diri pada lumpur selama musim
panas dengan membungkus tubuhnya dengan lendir hingga musim penghujan tiba.
Beberapa ikan yang menggunakan lendirnya untuk melindungi telur dari gangguan luar,
misalnya anggota dari genus Trichogaster.

SISIK
Ikan yang bersisik keras biasanya ditemukan pada golongan ikan primitive, sedangkan
pada ikan modern, kekerasan sisiknya sudah fleksibel. Hal tersebut sangat dipengaruhi
oleh jenis bahan yang dikandungnya. Sisik dibuat di dalam dermis sehingga sering
diistilahkan sebagai rangka dermis.

Di samping ikan bersisik terdapat pula ikan yang sama sekali tidak bersisik, di temukan
pada ikan lajur (Trichiurus, Lepturancanthus, Demissolinea), ikan sub-ordo Siluroidea
(Pegasius, Clarias, Fluta alba). Sebagai suatu kompensasi dari tidak terdapatnya lendir
pada tubuhnya, mereka memiliki lendir yang lebih tebal sehingga badannya menjadi lebih
licin.
Ada beberapa jenis ikan yang hanya ditemukan sisik pada bagian tubuh tertentu saja.
Seperti “paddle fish”, ikan yang hanya ditemukan sisik pada bagian operculum dan ekor.
Dan adapula yang hanya ditemukan sepanjang linea lateralis. Ikan sidat (Anguilla) yang
terlihat seperti tidak bersisik, sebenarnya bersisik tetapi sisiknya kecil dan dilapisi lendir
yang tebal.

Sistem Integumen pada Mamalia


Binatang menyusui atau mamalia adalah kelas hewan vertebrata yang terutama dicirikan
oleh adanya kelenjar susu, yang pada betina menghasilkan susu sebagai sumber makanan
anaknya; adanya rambut; dan tubuh yang endoterm atau "berdarah panas". Otak mengatur
sistem peredaran darah, termasuk jantung yang beruang empat. Mamalia terdiri lebih dari
5000 genus, yang tersebar dalam 425 keluarga dan hingga 46 ordo, meskipun hal ini
tergantung klasifikasi ilmiah yang dipakai.

Secara filogenetik, yang disebut Mamalia adalah semua turunan dari nenek moyang
monotremata (seperti ekidna) dan mamalia therian (berplasenta dan berkantung atau
marsupial).

Mamalia memliki integumen yang terdiri dari tiga lapisan: paling luar adalah epidermis,
yang tengah adalah dermis, dan paling dalam adalah hipodermis. Epidermis biasanya
terdiri atas tiga puluh lapis sel yang berfungsi menjadi lapisan tahan air. Sel-sel terluar
dari lapisan epidermis ini sering terkelupas; epidermis bagian paling dalam sering
membelah dan sel anakannya terdorong ke atas (ke arah luar). Bagian tengah, dermis,
memiliki ketebalan lima belas hingga empat puluh kali dibanding epidermis. Dermis
terdiri dari berbagai komponen seperti pembuluh darah dan kelenjar. Hipodermis
tersusun atas jaringan adipose

d
undefined
undefined

Sistem Integumen pada Reptil

Written by Muhammad Isnan |0 comments


Tubuh reptil umumnya tertutupi oleh sisik-sisik yang beraneka bentuk, terkecuali anggota
suku Amphisbaenidae yang tak bersisik. Sisik-sisik itu dapat berukuran amat halus,
seperti halnya sisik-sisik yang menutupi tubuh cecak, atau pun berukuran besar seperti
yang dapat kita amati pada tempurung kura-kura. Sisik-sisik itu berupa modifikasi lapisan
kulit luar (epidermis) yang mengeras oleh zat tanduk, dan terkadang dilengkapi dengan
pelat-pelat tulang di lapisan bawahnya, yang dikenal sebagai osteoderm.

Beberapa bentuk sisik yang umum pada reptil adalah: sikloid (cenderung datar
membundar), granular (berbingkul-bingkul), dan berlunas (memiliki gigir memanjang di
tengahnya, seperti lunas perahu). Perbedaan bentuk dan komposisi sisik-sisik ini pada
berbagai bagian tubuh reptil biasa digunakan untuk mengidentifikasi spesies hewan
tersebut.

Integument pada Reptilia umumnya juga tidak mengandung kelenjar keringat. Lapisan
terluar dari integument yang menanduk tidak mengandung sel-sel saraf dan pembuluh
darah. Bagian ini mati, dan lama-lama akan mengelupas. Permukaan lapisan epidermal
mengalami keratinisasi. Lapisan ini akan ikut hilang apabila hewan berganti kulit. Pada
calotes (bunglon) integument mengalami modifikasi warna. Perubahan warna ini
dikarenakan adanya granulea pigment dalam dermis yang terkumpul atau menyebar
karena pengaruh yang bermacam-macam. Pada calotes (bunglon) perubahan ini relatif
cepat, karena selalu dibawah kontrol sistem nervosum outonomicum.
Reaction
undefined
undefined

Sistem Integumen pada Mamalia

Written by Muhammad Isnan |0 comments


Binatang menyusui atau mamalia adalah kelas hewan vertebrata yang terutama dicirikan
oleh adanya kelenjar susu, yang pada betina menghasilkan susu sebagai sumber makanan
anaknya; adanya rambut; dan tubuh yang endoterm atau "berdarah panas". Otak mengatur
sistem peredaran darah, termasuk jantung yang beruang empat. Mamalia terdiri lebih dari
5000 genus, yang tersebar dalam 425 keluarga dan hingga 46 ordo, meskipun hal ini
tergantung klasifikasi ilmiah yang dipakai.

Secara filogenetik, yang disebut Mamalia adalah semua turunan dari nenek moyang
monotremata (seperti ekidna) dan mamalia therian (berplasenta dan berkantung atau
marsupial).

Mamalia memliki integumen yang terdiri dari tiga lapisan: paling luar adalah epidermis,
yang tengah adalah dermis, dan paling dalam adalah hipodermis. Epidermis biasanya
terdiri atas tiga puluh lapis sel yang berfungsi menjadi lapisan tahan air. Sel-sel terluar
dari lapisan epidermis ini sering terkelupas; epidermis bagian paling dalam sering
membelah dan sel anakannya terdorong ke atas (ke arah luar). Bagian tengah, dermis,
memiliki ketebalan lima belas hingga empat puluh kali dibanding epidermis. Dermis
terdiri dari berbagai komponen seperti pembuluh darah dan kelenjar. Hipodermis
tersusun atas jaringan adiposa dan berfungsi untuk menyimpan lemak, penahan benturan,
dan insulasi. Ketebalan lapisan ini bervariasi pada setiap spesies.

Reaction
undefined
undefined

Sistem Integumen

Written by Muhammad Isnan |0 comments


Sistem integumen adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan, melindungi, dan
menginformasikan hewan terhadap lingkungan sekitarnya. Sistem ini seringkali
merupakan bagian sistem organ yang terbesar yang mencakup kulit, rambut, bulu, sisik,
kuku, kelenjar keringat dan produknya (keringat atau lendir). Kata ini berasal dari bahasa
latin "integumentum", yang berarti "penutup".

-KULIT : MERUPAKAN SISTEM YANG BERVARIASI LAPISAN EPITHEL:


BERHUBUNGAN DENGAN LINGKUNGAN LUAR
-PERKEMBANGAN DARI LAPISAN ECTODERM PADA MASA EMBRIO >
EPIDERMAL > EPIDERMIS

Epidermis
Epidermis yang merupakan lapisan terluar dari kulit terdiri dari 3 bagian yaitu stratum
korneum, stratum spinosum dan stratum basale. Pada lapisan ini terdapat banyak sel sel
keratin dan keratinosit, terutama pada lapisan korneum yang kaya akan sel sel tanduk.
lapisan ini memiliki siklus pengelupasan yang normal setiap 2 hari. Tapi seiring dengan
berjalannya usia siklus ini kerap kali bergeser lebih lama, sehingga kulit tampak menjadi
kusam.
Epidermis berfungsi melindungi tubuh dari masuknya benda asing dan mencegah
evaporasi cairan berlebih. Pada lapisan ini pula terdapat sel melanosit yang menentukan
warna kulit kita.

Dermis
Pada lapisan dermis terdapat pembuluh darah, pembuluh limfe, folikel rambut, kelenjar
keringat, syaraf dan sel fibroblast.
Fibroblast ini berfungsi menghasilkan kollagen, yang sangat penting peranannya terhadap
kekenyalan dan elastisitas kulit. Selain itu pada lapisan ini juga terdapat reseptor yang
berfungsi untuk merasakan sensasi raba dan nyeri.

Hipodermis
Merupakan bagian terdalam dari kulit, yang terdiri dari banyak sel lemak sehingga
berfungsi sebagai bantalan terhadap cedera dan membantu dalam mempertahankan panas
tubuh.
-FUNGSI : PROTEKSI, EKSTRARESEPTOR (IRITABIL), RESPIRASI, EXCRETORI,
PENGATUR SUHU, HOMEOSTATIS, NOURISHMENT (NUTRISI) & GERAK ,
TDD :
o KULIT SEBENARNYA (EPIDERMIS & DERMIS).
o DERIVAT (SECARA EMBRIONAL DR EPIDERMIS & DERMIS).
o KULIT : TEBAL à (TELAPAK); TIPIS à (PERMUKAAN TUBUH)

-EPIDERMIS : LAP TERLUAR YANG BERHUBUNGAN DENGAN LINGKUNGAN


LUAR
o STRATUM KORNEUM (MENANDUK, PIPIH & KERATIN)
o STRATUM LUSIDUM (BENING, ZAT ELEIDIN)
o STRATUM GRANULOSUM (PIPIH, PIGMEN KERATOHIALIN)
o STRATUM GERMINATIVUM (PIPIH, BER-DEFFERENSIASI)
o ANTARA EPIDERMIS DG DERMIS à LAP BASAL (SEL SILINDRIS & KUBIS)
o DERMIS : KORIUM; TDD SPONGIOSUM, PAPILARE, COMPACTUM, &
RETIKULARE

-DERIVAT-DERIVAT EPIDERMIS
1. BINTIL TANDUK : PENEBALAN STRATUM CORNEUM (BUFO sp)

2. SISIK TANDUK : SISIK EPIDERMAL (ST. KORNEUM) > KARAPAC (BAG


DORSAL & PLASTRON BAG VENTRAL (CELONIA SP. / KURA-KURA)

3. BULU : SISIK EPIDERMAL ; PLUMAE : KASAR, TDD TECTRICES (BULU


TUBUH). REMIGES (SAYAP), RETRICES (EKOR)
o TANGKAI (CALAMUS; UMBILICUS, RACHIS)
o VEXILUM (RAMI, RADII, RADIOLI)
o PLUMULAE (BULU HALUS) : RACHIS PENDEK
o FILOPLUMAE (BULU RAMBUT) : RADIOLI

4. RAMBUT : SPESIALISASI DARI EPIDERMAL


o LEKUK-2 SENSORI RAMBUT (PROTOTHRIK). CIRI KHAS PD MAMALIA

5. CAKAR, KUKU & TELAPOK (TDD ST. KERAS) à ST. KORNEUM YG


MENANDUK
o CAKAR : BAG. DORSAL (KONVEKS): UNGUIS, RUNCING; BAG VENTRAL
(KONKAF) : SUB-UNGUIS
o KUKU : LEBAR, PIPIH; SUB-UNGUIS LEBIH LUNAK, PANGKAL à SULCUS
UNGUIS (PARIT KUKU)
o TELAPOK : UNGUIS à PERISAI TANDUK; SUB-UNGUIS (HURUF U/V);
KUNEUS (VENTRAL SUB-UNGUIS MENANDUK)

6. TANDUK (BAHAN TULANG / ZAT TANDUK)


o TANDUK KOSONG (LANJUTAN DARI TL. FRONTAL, TUNGGAL) : KAMBING,
DOMBA, KERBAU, SAPI
o PRONG HORN : TANDUK KOSONG, BERCABANG, TIAP TAHUN BERGANTI;
ANTILOP
o CULA : RAMBUT MENYATU, TETAP (BADAK)
o RANGGA : TANDUK TULANG, BERGANTI (RUSA JANTAN)
o TANDUK JERAPAH : TL FRONTAL, PERMANEN.

7.STRUKTUR TANDUK LAIN


o SISIR IKAN PAUS : BALEIN (LEMPENG PALATIN) à PENYARING MAKANAN.
o RUGAE PALATINUM : PENEBALAN PD MULUT HW CARNIVORA.

8. KELENJAR : DERIVAT SEL EPITHEL


o SEBAGAI SEL PIALA / GOBLET
o TIPE :
• MEROKRIN (HANYA MENGELUARKAN SEKRET) : LUDAH, PANKREAS,
MUKUS
• HOLOKRIN (SELURUH SEL SBG SEKRET) : KERINGAT, LAMAK
• APOKRIN : SEKRET BAG. UJUNG/PUNCAK (KEL MAMAE)
oSEKRETNYA :
• KELENJAR MUKUS; (CAIRAN LENDIR)
• LEMAK; (SEBACEUS)
• SEROSA; (CAIRAN ENCER ; KERINGAT)
• SUSU (ATAVISME/PRIMITIV; POLYMASTISME / ESKTRA KELJ;
POLYTHELISME / EKSTRA PUTTING & GYNEKOMASTISME / KELENJAR
MAMAE PADA HEWAN JANTAN
Reaction