Anda di halaman 1dari 35

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH III

ASUHAN KEPERAWATAN
PASIEN DENGAN KASUS STROKE

Disusun oleh
Kelas Tutor C

Dosen : Ns. Ani Widiastuti, M.Kep, Sp.Kep.MB

PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan
rahmatNya penulis dapat menyelesaikan pembuatan makalah dengan judul “ASUHAN
KEPERAWATAN PASIEN DENGAN KASUS STROKE ” dengan baik dan tepat waktu. Adapun
pembuatan makalah ini dilakukan sebagai pemenuhan nilai tugas dari mata kuliah
“KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH III”.
Selain itu, pembuatan makalah ini juga bertujuan untuk memberikan manfaat yang berguna
bagi ilmu pengetahuan.Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah terlibat
dan membantu dalam pembuatan makalah sehingga semua dapat terselesaikan dengan baik dan
lancar.Selain itu, penulis juga mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun terhadap
kekurangan dalam makalah agar selanjutnya penulis dapat memberikan karya yang lebih baik dan
sempurna.Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pengetahuan para pembaca.

Depok, 30 Agustus 2019

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.......................................................................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................................................................ii
BAB I...............................................................................................................................................................1
PENDAHULUAN...........................................................................................................................................1
1.1 LATAR BELAKANG.....................................................................................................................1
1.2 RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH....................................................................................2
1.3 TUJUAN..........................................................................................................................................2
BAB II..............................................................................................................................................................3
PEMBAHASAN..............................................................................................................................................3
1. Pengertian Stroke................................................................................................................................3
2. Klasifikasi Stroke................................................................................................................................3
3. Pathway...............................................................................................................................................5
4. Penatalaksanaan Medis......................................................................................................................6
5. Pemeriksaan penunjang Stroke.........................................................................................................9
6. KOMPLIKASI STROKE.................................................................................................................12
7. Asuhan Keperawatan.......................................................................................................................14
KASUS.......................................................................................................................................................16
Daftar Pustaka..............................................................................................................................................29

2
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Stroke merupakan penyakit atau gangguan fungsional otak berupa kelumpuhan saraf (deficit
neurologic) akibat terhambatnya aliran darah ke otak. Stroke adalah sindrom yang terdiri dari tanda
dan/atau gejala hilangnya fungsi sistem saraf pusat fokal (atau global) yang berkembang cepat
(dalam detik atau menit). Gejala-gejala ini berlangsung lebih dari 24 jam atau menyebabkan
kematian, selain menyebabkan kematian stroke juga akan mengakibatkan dampak untuk kehidupan.
Dampak stroke diantaranya, ingatan jadi terganggu dan terjadi penurunan daya ingat, menurunkan
kualitas hidup penderita juga kehidupan keluarga dan orang-orang di sekelilingnya, mengalami
penurunan kualitas hidup yang lebih drastis, kecacatan fisik maupun mental pada usia produktif dan
usia lanjut dan kematian dalam waktu singkat (Junaidi, 2011).
Stroke masih menjadi masalah kesehatan yang utama karena merupakan penyebab kematian
kedua di dunia. Sementara itu, di Amerika Serikat stroke sebagai penyebab kematian ketiga
terbanyak setelah penyakit kardiovaskuler dan kanker. Sekitar 795.000 orang di Amerika Serikat
mengalami stroke setiap tahunnya, sekitar 610.000 mengalam i serangan stroke yang pertama.
Stroke juga merupakan penyebab 134.000 kematian pertahun (Goldstein dkk., 2011). Dalam
terbitan Journal of the American Heart (JAHA) 2016 menyatakan terjadi peningkatan pada individu
yang berusia 25 sampai 44 tahun menjadi (43,8%) (JAHA, 2016). Meningkatnya jumlah penderita
stroke diseluruh dunia dan juga meningkatkan penderita stroke yang berusia dibawah 45 tahun.
Pada konferensi ahli saraf international di Inggris dilaporkan bahwa terdapat lebih dari 1000
penderita stroke yang berusia kurang dari 30 tahun (American Heart Association, 2010).
Penyakit stroke juga menjadi penyebab kematian utama hampir seluruh Rumah Sakit di
Indonesia dengan angka kematian sekitar 15,4%. Tahun 2007 prevalensinya berkisar pada angka
8,3% sementara pada tahun 2013 meningkat menjadi 12,1%. Jadi, sebanyak 57,9% penyakit stroke
telah terdiagnosis oleh tenaga kesehatan (nakes). Prevalensi penyakit stroke meningkat seiring
bertambahnya umur, terlihat dari kasus stroke tertinggi yang terdiagnosis tenaga kesehatan adalah
usia 75 tahun keatas (43,1%) dan terendah pada kelompok usia 15-24 tahun yaitu sebesar 0,2%
(Riskesdas, 2013). Menurut penelitian Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2013, prevalensi
penyakit stroke pada kelompok yang didiagnosis oleh nakes meningkat seiring dengan
bertambahnya umur. Prevalensi penyakit stroke pada umur ≥15 tahun 2013 di Sumatera Barat naik
dari 7,4% menjadi 12,2% diamana juga terjadi peningkatan pada usia 15-24 tahun (0,2 % menjadi
2,6%) usia 25-34 tahun (0,6% menjadi 3,9%) usia tahu 35-44 tahun (2,5% menjadi 6,4%) (Hasil
Riskesdas, 2013).
Penyakit stroke sering dianggap sebagai penyakit yang didominasi oleh orang tua. Dulu,
stroke hanya terjadi pada usia tua mulai 60 tahun, namun sekarang mulai usia 40 tahun seseorang
sudah memiliki risiko stroke, meningkatnya penderita stroke usia muda lebih disebabkan pola
hidup, terutama pola makan tinggi kolesterol. Berdasarkan pengamatan di berbagai rumah sakit,
justru stroke di usia produktif sering terjadi akibat kesibukan kerja yang menyebabkan seseorang
jarang olahraga, kurang tidur, dan stres berat yang juga jadi faktor penyebab (Dourman, 2013).
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya stroke pada usia muda kurang dari 40 tahun dibagi dua
1
kelompok besar yaitu faktor yang tidak dapat diubah (jenis kelamin, umur, riwayat keluarga) dan
faktor yang dapat di ubah seperti pola makan, kebiasaan olah raga dan lain-lain (Sitorus, 2012).

1.2 RUMUSAN DAN BATASAN MASALAH

Dengan melihat latar belakang yang dikemukakan sebelumnya maka beberapa masalah yang akan
dirumuskan dalam makalah ini adalah:
1. Pengertian Strok
2. Jenis/ Bentuk/ Klasifikasi Stroke
3. Faktor Resiko
4. Mekanisme Kausal Terjadinya Penyakit
5. Tanda dan Gejala Klinis
6. Diagnosis
7. Upaya Pencegahan
8. Pengobatan

1.3 TUJUAN

1. Untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Epidemiologi Kesehatan


2. Untuk mengetahui factor penyebab terjadinya Stroke
3. Untuk mengetahui seberapa besar pengembalian kesehatan orang yangterkena Stroke
4. Untuk mengetahui cara penyembuhan Stroke.

BAB II

PEMBAHASAN
1. Pengertian Stroke

Stroke adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perubahan neurologis yang
disebabkan oleh adanya gangguan suplai darah ke otak.

2
Menurut Brunner & Sudarth, stroke adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh
berhentinya suplai darah ke bagian otak.Stroke merupakan penyakit yang terajadi akibat
penyumbatan pada pembuluh darah otak atau pecahnya pembuluh darah di otak yang mendadak.
Sehingga akibat penyumbatan maupun pecahnya pembuluh darah tersebut, bagian otak tertentu
berkurang bahkan terhenti suplai oksigennya sehingga menjadi rusak bahkan mati. Akibatnya
timbullah berbagai macam gejala sesuai daerah otak yang terlibat, seperti wajah lumpuh sebelah,
bicara pelo (cedal),lumpuh anggota gerak, bahkan sampai koma dan dapat mengancam jiwa.

2. Klasifikasi Stroke

Stroke Iskemik
 Stroke Non Hemoragi adalah stroke yang terjadi karena sumbatan pembuluh darah otak.
Dapat berupa iskemik atauemboli dan trombosis serebral. Biasanya terjadi saat istirahat,
baru bangun tidur di pagi hari.
Menurut perjalanan penyakitnya, stroke non hemoragi dibedakan menjadi:
1. Transient Ishemic Attack (TIA)
Gangguam neurologis lokal yang terjadi selama beberapa menit sampai jam saja. Gejala
yang muncul akan hilang dengan spontan dan sempurna dalam waktu kurang dari 24
jam.
2. Reversible Ischemic Neurologic Defisit (RIND)
Terjadi lebih lama dari pada TIA, gejala hilang lebih dari 24 jam tetapi tidak lebih dari 1
minggu.
3. Stroke In Evolution (SIE)
Perkembangan stroke perlahan-lahan sampai alur munculnya gejala makin lama semakin
buruk, proses progresif beberapa jam sampai beberapa hari.
4. Complete Stroke
Gangguan neurologis yang timbul sudah menetap atau permanen. Sesuai dengan
namanya,stroke komplit dapat diawali oleh serangan TIA berulang pada stroke iskemik,
aliran darah ke otak terhenti karena penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh
darah atau bekuan darah yang telah menyumbat suatu pembuluh darah ke otak.
• Stroke Hemoragi
Stroke Hemoragi terjadi karena pecahnya pembuluh darah otak.
Dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1. Perdarahan Intraserebral
Pecahnya pembuluh darah terutama karena hipertensi mengakibatkan darah masuk ke
dalam jaringan otak dan menimbulkan edema otak. Peningkatan Tekanan Intra Kranial
yang terjadi cepat dapat mengakibatkan kematian mendadak karena herniasi otak
2. Perdarahan Subaraknoid
Perdarahan ini berasal dari pecahnya aneurismaberry. Aneurisma yang pecah ini berasal
dari pembuluh darah sirkulasi Willisi dan cabang-cabangnya yang terdapat diluar
parenkim otak.
Pecahnya arteri dan keluarnya ke ruang subaraknoid meyebabkan Tekanan Intra Kranial
meningkat mendadak, meregangnya struktur peka nyeri dan vasospasme pembuluh darah

3
serebral yang berakibat disfungsi otak global (sakit kepala, penurunan kesadaran),
maupun fokal (hemiparese, afasia dan lainnya)
Pecahnya arteri dan keluarnya darah ke subaraknoid mengakibatkan terjadinya
peningkatan tekanan intrakranial hebat, meregangnya strktur peka nyeri, sehingga timbul
nyeri kepala hebat, sering pula dijumpai kaku kuduk dan tanda-tanda rangsangan selaput
otak lainnya.

3. Pathway

4
4. Penatalaksanaan Medis

5
a. Stadium Hiperakut
Tindakan pada stadium ini dilakukan di instalasi Rawat Darurat dan merupakan
tindakan resusitasi serebro-kardio-pulmonal bertujuan agar kerusakan jaringan otak tidak
meluas. Pada stadium ini, pasien diberi oksigen 2 L/menit dan cairan kristaloid/koloid;
hindari pemberian cairan dexstrosa atau salin dalam H 2 O . dilakukan pemeriksaan CT
scan otak, elektrokardiografi, foto toraks, darah perifer lengkap dan jumlah trombosit,
protrombin time/INR, APTT, glukosa darah, kimia darah (termasuk elektrolit); jika hipoksia,
dilakukan analisis gas darah. Tindakan lain di Instalasi Rawat Darurat adalah memberikan
dukungan mental kepada pasien serta memberikan penjelasan pada keluarganya agar tetap
tenang.

b. Stadium Akut
Pada stadium ini, dilakukan penanganan faktor-faktor etiologik maupun penyulit.
Juga dilakukan tindakan terapi fisik, okupasi, wicara dan psikologis serta telaah sosial untuk
membantu pemulihan pasien. Penjelasan dan edukasi kepada keluarga pasien perlu,
menyangkut dampak stroke terhadap pasien dan keluarga serta tata cara perawatan pasien
yang dapat dilakukan keluarga.
1) Stroke Iskemik
Terapi umum : letakkan kepala pasien pada posisi 30 , kepala dan dada pada satu
bidang; ubah posisi tidur setiap 2 jam; mobilisasi dimulai bertahap bila hemodinamik
sudah stabil. Selanjutnya, bebaskan jalan napas, beri oksigen 1-2 liter/menit sampai
didaptkan hasil analisis gas darah. Jika perlu, dilakukan intubasi. Demam diatasi dengan
kompres dan antipiretik, kemudian dicari penyebabnya; jika kandung kemih penuh,
dikosongkan ( sebaiknya dengan kateter intermiten). Pemberian nutrisi dengan cairan
isotonic, kristaloid atau koloid 1500-2000 mL dan elektrolit sesuai kebutuhan, hindari
cairan mengandung glukosa atau salin isotonic. Pemberian nutrisi per oral hanya jika
fungsi menelannya baik; jika didaptkan gangguan menelan atau kesadran menurun,
dianjurkan melalui selang nasogastrik. Kadar gula darah >150 mg% harus dikoreks
sampe batas gula darah sewakru 150 mg% dengan insulin drip intravenakontinu selama
2-3 hari pertama. Hipoglikemia (kadar gula darah < 60 mg% atau < 80 mg% denga
gejala) diatasi segera dengan dekstrosa 40% IV sampai kembali normal dan harus dicari
penyebabnya. Nyeri kepala atau mual dan munta diatasi dengan pemberian obat-obatan
sesuai gejala. Tekanan darah tidak perlu segera diturunkan, kecuali bila tekanan sistolik
≥ 220 mmHg, diastolik ≥ 120 mmHg, Mean Arterial Blood Pressure (MAP) ≥
130 mmHg (pada 2 kali pengukuran dengan selang waktu 30 menit), atau didapatkan

6
infark miokard akut, gagal jantung kongresif serta gagal ginjal. Penurunan tekanan darah
maksimal adalah 20%, dan obat yang direkomendasikan : natrium nitroprusid, penyekat
reseptor alfa-beta, penyekat ACE, atau antagonis kalsium. Jika terjadi hipotensi , yaitu
tekanan sistolik ≤ 90 mmHg, diastolik ≤ 70 mmHg, diberi NaCl 0,9% 250 mL
selama 1 jam dilanjutkan 500 mL selama 4 jam dan 500 mL selama jam atau sampai
hipotensi dapat diatasi. Jika belum terkoreksi, yaitu tekanan darah sistolik masih < 90
mmHg, dapat diberi dopamin2-20 μg /kg/menit sampai tekanan darah sistolik ≥
110 mmHg. Jika kejang, diberi diazepam 5-20 mg IV pelan-pelan selama 3 menit,
maksimal 100 mg per hari; dilanjutkan pemberian antikonvulsan per oral (fenitoin,
karbamazepim). Jika kejang muncul setelah 2 minggu, diberikan antikonvulsan peroral
jangka panjang. Jika didapatkan tekanan intracranial meningkat, diberi manitol bolus
intravena 0,25 sampai 1 g/kgBB per 30 menit, dan jika dicurigai fenomena rebound atau
keadaan umum memburuk, dilanjutkan 0,25g/kgBB per 30 menit setiap 6 jam selama 3-
5 hari. Harus dilakukan pemantauan osmolalitas (<320 mmol); sebagai alternatif, dapat
diberikan larutan hipertonik (NaCl 3%) atau furosemid
Terapi khusus : Ditunjukkan untuk reperfusi dengan pemberian antiplatelet seperti
aspirin dan anti koagulan atau yang dianjurkan dengan trombolitik, rt-PA (recombinant
tissue Plasminogen Activatir). Dapat juga diberi agan neuroproteksi, yaitu sitikolin atau
pirasetam (jika didapatkan afasia)

2) Stroke Hemoragik
Terapi umum : Pasien stroke hemoragik harus dirawat di ICU jika volume hematoma
> 30 mL, pendarahan intraventrikuler dengan hidrosefalus, dan keadaan klinis cenderung
memburuk. Tekanan darah harus diturunkan sampai tekanan darah premorbid atau 15-
20% bila tekanan sistolik >180 mmHg, diastolik >120mmHg, MAP >130 mmHg dan
volume hematoma bertambah. Bila terdapat gagal jantung, tekanan darah harus segera
diturunkan dengan labetalol IV 10 mg (pemberian dalam 2 menit) sampai 20 mg
(pemberian dalam 10 menit) maksimum 300 mg; enalapril IV 0,625-1,25 mg per 6 jam;
kaptropil 3 kali 6,25-25 mg per oral. Jika didaptkan tanda tekanan intrakranial
meningkat, posisi kepala 30, posisi kepala dan dada di satu bidang, pemberian manitol
dan hiperventilasi (pCO, 20-35 mmHg). Penatalaksanaan umum sama dengan pada
stroke iskemik, tukak lambung diatasi dengan antagonis H2 parenteral, sukralfat atau
inhibitor pompa proton; komplikasi saluran napas dicegah dengan fisioterapi dan diobati
dengan antibiotik spectrum luas.

7
Terapi khusus : neuroprotektor dapat diberikan kecuali yang bersifat vasodilator.
Tindakan bedah mempertimbangkan usia dan letak pendarahan yaitu pada pasien yang
kondisinya kian memburuk dengan perdarahan serebelum berdiameter >3 cm 2 ,
hidrosefalus akut akibat perdarahan intraventrikel atau serebelum, dilakukan VP-
shunting, dan perdarahan lobar >60 mL dengan tanda peningkatan tekanan intrakranial
akut dan ancaman herniasi. Pada perdarahan subaraknoid, dapat digunakan antagonis.
Kalsium (nimodipin) atau tindakan bedah (ligasi, embolisasi, ekstirpasi, maupun gamma
knife) jika penyebabnya adalau aneurisma atau malformasi arteri-vena (arteriovenous
malformation, AVM)

c. Stadium Subakut
Tindakan medis dapat berupa terapi kognitif, tingkah laku, menelan, terapi wicara, dan
bladder training (termasuk terapi fisik). Mengingat perjalanan penyakit yang panjang,
dibutuhkan penatalaksanaan khusus intensif pasca stroke di rumah sakit dengan tujuan
kemandirian pasien, mengerti, memahami, dan melaksanakan program preventif primer dan
sekunder. Terapi fase subakut antara lain :
1) Melanjtkan terapi sesuai kondisi akut sebelumnya
2) Penatalaksanaan komplikasi
3) Restorasi/rehabilitasi (sesuai kebutuhan pasien) yaitu fisioterapi, terapi wicara, terapi
kognitif, dan terapi okupasi
4) Prevensi sekunder
5) Edukasi keluarga dan Discharge Planning

5. Pemeriksaan penunjang Stroke

Pemeriksaan penunjang penting untuk mendiagnosis secara tepat stroke dan subtipenya, untuk
menidentifikasi penyebaba utamanya dan penyakit terkait lain, untuk menentukan terapi dan strategi
pengelolaan terbaik, serta untuk memantau kemajuan pengobatan. Pemeriksaan yang dilakukan
akan berbeda dari pasien ke pasien.
8
a. CT dan MRI
Pemeriksaan paling penting untuk mendiagnosis subtipe dari sroke adalah
Computerised Topography (CT) dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) pada kepala.
Mesin CT dan MRI masing-masing merekam citra sinar X atau resonansi magnet. Setiap
citra individual memperlihatkan irisan melintang otak, mengungkapkan daerah abnormal
yang ada di dalamnya.

Pada CT, pasien diberi sinar X dalam dosis sangat rendah yang digunakan
menembus kepala. Sinar X yang digunakan serupa dengan pada pemeriksaan dada, tetapi
dengan panjang ke radiasi yang jauh lebih rendah. Pemeriksaan memerlukan waktu 15 – 20
menit, tidak nyeri, dan menimbulkan resiko radiasi minimal keculi pada wanita hamil. CT
sangat handal mendeteksi perdarahan intrakranium, tetapi kurang peka untuk mendeteksi
stroke iskemik ringan, terutama pada tahap paling awal. CT dapat memberi hasil negatif-
semu (yaitu, tidak memperlihatkan adanya kerusakan) hingga separuh dari semua kasus
stroke iskemik.

Mesin MRI menggunakan medan magnetik kuat untuk menghasilkan dan mengukur
interaksi antara gelombang-gelombang magnet dan nukleus di atom yang bersangkutan
(misalnya nukleus Hidrogen) di dalam jaringan kepala. Pemindaian dengan MRI biasanya
berlangsung sekitar 30 menit. Alat ini tidak dapat digunakan jika terdapat alat pacu jantung
atau alat logam lainnya di dalam tubuh. Selain itu, orang bertubuh besar mungkin tidak
dapat masuk ke dalam mesin MRI, sementara sebagian lagi merasakan ketakutan dalam
ruangan tertutup dan tidak tahan menjalani prosedur meski sudah mendapat obat penenang.

Pemeriksaan MRI aman, tidak invasif, dan tidak menimbulkan nyeri. MRI lebih
sensitif dibandingkan CT dalam mendeteksi stroke iskemik, bahkan pad stadium dini. Alat
ini kurang peka dibandingkan CT dalam mendeteksi perdarahan intrakranium ringan.

b. Ultrasonografi
Pemindaian arteri karotis dilakukan dengan menggunakan gelombang suara untuk
menciptakan citra. Pendaian ini digunakan untuk mencari kemungkinan penyempitan arteri
atau pembekuan di arteri utama. Prosedur ini aman, tidak menimbulkan nyeri, dan relatif
cepat (sekitar 20-30 menit).
9
c. Angiografi otak
Angiografi otak adalah penyuntikan suatu bahan yang tampak dalam citra sinar-X
kedalam arteri-arteri otak. Pemotretan dengan sinar-X kemudian dapat memperlihatkan
pembuluh-pembuluh darah di kepala dan leher. Angiografi otak menghasilkan gambar paling
akurat mengenai arteri dan vena dan digunakan untuk mencari penyempitan atau perubahan
patologis lain, misalnya aneurisma. Namun, tindakan ini memiliki resiko kematian pada satu
dari setiap 200 orang yang diperiksa.

d. Pungsi lumbal
Pungsi lumbal kadang dilakukan jika diagnosa stroke belum jelas. Sebagai contoh,
tindakan ini dapat dilakukan untuk menyingkirkan infeksi susunan saraf pusat serta cara ini
juga dilakukan untuk mendiagnosa perdarahan subaraknoid. Prosedur ini memerlukan waktu
sekitar 10-20 menit dan dilakukan di bawah pembiusan lokal.

e. EKG
EKG digunakan untuk mencari tanda-tanda kelainan irama jantung atau penyakit
jantung sebagai kemungkinan penyebab stroke. Prosedur EKG biasanya membutuhkan
waktu hanya beberapa menit serta aman dan tidak menimbulkan nyeri.

f. Foto toraks
Foto sinar-X toraks adalah proses standar yang digunakan untuk mencari kelainan
dada, termasuk penyakit jantung dan paru. Bagi pasien stroke, cara ini juga dapat
memberikan petunjuk mengenai penyebab setiap perburukan keadaan pasien. Prosedur ini
cepat dan tidak menimbulkan nyeri, tetapi memerlukan kehati-hatian khusus untuk
melindungi pasien dari pajanan radiasi yang tidak diperlukan (Feigin, 2009).

g. Pemeriksaan darah dan urine


Pemeriksaan ini dilakukan secara rutin untuk mendeteksi penyebab stroke dan
untuk menyingkirkan penyakit lain yang mirip stroke. Pemeriksaan yang
direkomendasikan:

 Hitung darah lengkap untuk melihat penyebab stroke seperti trombositosis,


trombositopenia, polisitemia, anemia (termasuk sikle cell disease).

10
 Laju endap darah untuk medeteksi terjadinya giant cell arteritis atau vaskulitis
lainnya.

 Serologi untuk sifilis.

 Glukosa darah untuk melihat DM, hipoglikemia, atau hiperglikemia.

 Lipid serum untuk melihat faktor risiko stroke (Greenberg, 2002).


Analisis urine mencakup penghitungan sel dan kimia urine untuk
mengidentifikasi infeksi dan penyakit ginjal (Feigin, 2009).

6. KOMPLIKASI STROKE
11
1. Fase Akut

a. Hipoksia serebral dan menurunnya aliran darah ke otak


Pada area otak yang infark atau terjadi kerusakan karena pendarahan maka terjadi gangguan
perfusi jaringan akibat terhambatnya aliran darah otak. Tidak adekuatnya aliran darah dan
oksigen mengakibatkan hipoksia jaringan otak. Fungsi dari otak akan sangat tergantung pada
derajat kerusakkan dan lokasinya. Aliran darah ke otak sangat tergantung pada tekanan darah,
fungsi jantung atau kardiak output, keutuhan pembuluh darah. Sehingga pada pasien dengan
stroke keadekuatan aliran darah sangat dibutuhkan untuk menjamin perfusi jaringan yang baik
untuk menghindari terjadinya hipoksia serebral.

b. Edema serebri
Merupakan respon fisiologis terhadap adanya trauma jaringan. Edema terjadi jika pada area
yang mengalami hipoksia atau iskemik maka tubuh akan meningkatkan aliran darah pada lokasi
tersebut dengan cara vasodilatasi pembuluh darah dan meningkatkan tekanan sehingga cairan
interstesial akan berpindah ke ekstraseluler sehingga terjadi edema jaringan otak.

c. Peningkatan intracranial (TIK)


Bertambahnya massa pada otak seperti adanya pendarahan atau edema otak akan
meningkatkan tekanan intracranial yang ditandai adanya defisit neurologi seperti adanya
gangguan motorik, sensorik, nyeri kepala, gangguan kesadaran. Peningkatan tekanan
intracranial yang tinggi dapat mengakibatkan herniasi serebral yang dapat mengancam
kehidupan.

d. Aspirasi
Pasien stroke dengan gangguan kesadaran atau koma sangat rentang terhadap adanya
aspirasi karna tidak adanya reflex batuk dan menelan.

2. Komplikasi pada masa pemulihan atau lanjut

a. Komplikasi yang sering terjadi pada masa lanjut atau pemulihan biasanya terjadi akibat
immobilisasi seperti :

 Pneumonia : Pasien stroke tidak bisa batuk dan menelan dengan sempurna, hal ini
menyebabkan cairan terkumpul di paru-paru dan selanjutnya menimbulkan
pneumoni.
12
 Decubitus : Bagian tubuh yang sering mengalami memar adalah pinggul, pantat,
sendi kaki dan tumit. Bila memar ini tidak dirawat dengan baik maka akan terjadi
ulkus decubitus dan infeksi.

 Atrofi dan kekakuan sendi (Kontraktur) : Hal ini disebabkan karena kurang gerak
dan immobilisasi.

 Thrombosis vena dalam (Bekuan darah) : Mudah terbentuk pada kaki yang lumpuh
menyebabkan penimbunan cairan, pembengkakan (edema) selain itu juga dapat
menyebabkan embolisme paru yaitu sebuah bekuan yang terbentuk dalam satu arteri
yang mengalirkan darah ke paru.

 Inkontinensia urin dan bowel.

b. Kejang : terjadi akibat kerusakan atau gangguan pada aktivitas listrik otak

c. Nyeri kepala kronis seperti : migraine, nyeri kepala tension, nyeri kepala cluster

d. Malnutrisi, karena intake yang adekuat

13
7. Asuhan Keperawatan

 PENGKAJIAN

Identitas pasien

Nama :

Jenis kelamin :

Tanggal masuk RS :

Usia :

Status perkawinan :

Suku bangsa :

Alamat :

Agama :

Pekerjaan :

Pendidikan :

Penanggung jawab

Nama :
Agama :
Pendidikan :
Pekerjaan :
Status perkawinan :
Alamat :

14
Hubungan dengan klien :

Riwayat keperawatan sekarang

- Keluhan utama

Parese pada tangan dan kaki kanan,pusing,dysphasia,dysphagia

- Riwayat penyakit sekarang

Pada saat masuk rumah sakit dilakukan pemeriksaan fisik dengan vital sign TD :
180/100 mmHg, RR : 24x/mnt, HR : 100x/mnt, suhu : 37⁰C. Keluarga mengatakan 8
jam sebelum dibawa ke RS ,pasien mengeluh sakit kepala,mual,lemas dan berjalan
sempoyongan.

- Riwayat penyakit dahulu

Keluarga pasien mengatakan pasien sudah lama menderita hipertensi .Pasien pernah
dirawat sebelumnya karena hipertensi dan aterosklerosis

- Riwayat penyakit keluarga

Keluarga pasien mengatakan bapak pasien juga pernah mengalami gejala stroke.

Pemeriksaan fisik

Keadaan umum : Compos mentis.

Tanda – tanda vital

Tekanan Darah : 180/00mmHg


Suhu : 370 C
Respirasi : 24 x/menit
HR : 100 x/menit

Pemeriksaan fisik

- Kepala : Warna rambut hitam, lurus, tersisir rapi dan bersih.

15
- Mata :Simetris, sklera tidak ikterik, konjungtivatidak anemis, Pupilnormal
berbentuk bulat, dan reflek cahaya langsung.

- Hidung : Tidak ada polip, rongga hidung bersih, tidak ada cuping hidung

- Mulut : Mulut bersih, tidak berbau, bibir berwarna merah muda, lidah
bersih, mukosa kering.

- Telinga : Daun telinga simetris antara kanan dan kiri, bersih tidak terdapat
serumen, fungsi pendengaran baik.

- Leher :Tidak terdapat pembesaran kelenjar thyroid, tidak ditemukan distensi


vena jugularis.

- Dada : Inspeksi: Bentuk simetris, Palpasi : fremitus normal antara sisi


kanan dankiri. Perkusi: sonor seluruh lapang paru. Auskultasi:suara dasar vesikuler,
tidak terdapat bunyi ronchi

- Perut :Inspeksi: Perut datar, lemas.Auskultasi:Peristaltik usus normal.


Palpasi: Tidak ada pembesaran hepar. Perkusi (usus): Timpani

- Ekstremitas : Ekstremitas atas : tangan kanan megalami parese ada kelemahan


otot.Ektremitas bawah : Kaki kanan mengalami parese, ada kelemahan otot

Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaaan lab: hypercholesterolemia

KASUS

Seorang pasien dirawat dengan perawatan umum untuk pasien gangguan neurologi dengan
kapasitas 24 pasien. Pasien dirawat dengan keluhan parase pada tangan dan kaki kanan, pusing,
dysphasia, dysphagia. Keluarga mengatakan 8 jam sebelum dibawa kerumah sakit klien
mengeluh sakit kepala, mual, lemas dan tampak berjalan sempoyongan. Keluarga juga
mengatakan klien sudah lama menderita hipertensi dan suka sekali memakan ikan asin. Saat
pengkajian diperoleh data bahwa pasien pernah dirawat sebelumnya karena hipertensi dan

16
aterosklerosis. Pemeriksaan fisik ditemukan : kesadaran compos mentis, TD: 180/100mmHg, N:
100, RR : 24x/menit, T: 37°C, gangguan pada nervus V, VII, X dan XII, Kekuatan otot :

Pemeriksaan diagnostic menunjukkan Lab: hypercholesterolemia.

Pasien di diagnosa Total anterior circulation stroke-infarct(TACI) / Stroke infark-sirkulasi


anterior total sesuai pada gambaran CT brain pasien

Keluarga mengatakan bingung dan takut bagaimana pasien bisa terkena stroke karena bapak
pasien meninggal setelah sakit dengan gejala yang sama. Pasien mendapatkan terapi captropil
12,5 mg, amlodipin 5mg, simvastatin 40 mg dan diet rendah garam dan rendah kolesterol.
Dokter, perawat, ahli gizi dan tim kesehatan lainnya melakukan perawatan secara terintegrasi
untuk menghindari/ mengurangi resiko komplikasi lebih lanjut.

 DATA FOKUS

Data subjektif Data objektif

 Pasien dirawat dengan keluhan parese  Pasien tampak berjalan sempoyongan


pada tangan dan kaki kanan
 Kesadaran composmentis
 Pasien dirawat dengan keluhan pusing
 TTV :
 Pasien dirawat dengan keluhan
-TD: 180/100mmHg
dysphasia

-HR: 100x/menit
 Pasien dirawat dengan keluhan
dysphagia. -RR : 24x/menit,

 Keluarga mengatakan 8 jam sebelum -S: 37°C.


dibawa ke rumah sakit klien mengeluh
 gangguan pada nervus V, VII, X dan XII
sakit kepala, mual, lemas dan tampak
berjalan sempoyongan.
 kekuatan otot:

 Keluarga juga mengatakan klien sudah


lama menderita hipertensi dan suka 2222 4444

17
2222 4444
sekali memakan ikan asin.
 Lab: hypercholesterolemia.
 Keluarga mengatakan bahwa pasien
pernah dirawat sebelumnya karena  Pasien di diagnosa Total anterior
hipertensi dan arterosklerosis. circulation stroke-infarct(TACI) / Stroke
infark-sirkulasi anterior total sesuai pada
 Keluarga mengatakan bingung dan
gambaran CT brain pasien
takut bagaimana pasien bisa terkena
stroke karena bapak pasien meninggal  Pasien mendapatkan terapi captropil 12,5
setelah sakit dengan gejala yang sama. mg, amlodipin 5mg, simvastatin 40 mg
dan diet rendah garam dan rendah
kolesterol.

 ANALISA DATA

No.D Data Masalah Etiologi


x
1 DS: Ketidakefektifan Hipertensi
perfusi jaringan
 Pasien dirawat dengan perifer
keluhan parese pada tangan
dan kaki kanan

DO:

 kekuatan otot lengan dan


tungkai kanan 2222

 kekuatan otot lengan dan


tungkai kanan melemah

 Keluarga juga mengatakan


klien sudah lama menderita
hipertensi dan suka sekali
memakan ikan asin.
18
 TTV :

-TD: 180/100mmHg

-HR: 100x/menit

-RR : 24x/menit,

-S: 37°C.
2 DS : Ketidakseimbangan Ketidakmampuan
nutrisi kurang dari makan (dysphagia)
 Pasien dirawat dengan keluhan kebutuhan tubuh
dysphagia.

 Keluarga mengatakan 8 jam


sebelum dibawa ke rumah sakit
klien mengeluh sakit kepala,
mual, lemas.

DO :

 pasien tampak berjalan


sempoyongan.

3 DS: Hambatan mobilias Penurunan kekuatan


fisik otot
 Klien mengeluh
pusing,sakit kepala
DO:

 kekuatan otot lengan dan


tungkai kanan 2222

 Kekuatan otot lengan dan


tungkai kanan melemah

19
 Pasien tampak berjalan
sempoyongan
4 DS : Hambatan Gangguan fisiologis
komunikasi verbal (stroke)
 Pasien dirawat dengan
keluhan dysphasia.
DO :

 gangguan pada nervus V, VII, X


dan XII

 Pasien di diagnosa Total


anterior circulation stroke-
infarct(TACI) / Stroke infark-
sirkulasi anterior total sesuai
pada gambaran CT brain pasien

 kekuatan otot:

2222 4444

2222 4444
5 DS : Ansietas Ancaman

 Keluarga mengatakan
bingung dan takut
bagaimana pasien bisa
terkena stroke karena bapak
pasien meninggal setelah
sakit dengan gejala yang
sama.
DO :

 Pasien di diagnosa Total


anterior circulation stroke-

20
infarct(TACI) / Stroke
infark-sirkulasi anterior
total sesuai pada gambaran
CT brain pasien
6 DS: Risiko jatuh Gangguan mobilitas

 Pasien dirawat dengan keluhan


parese pada tangan dan kaki
kanan
DO:

 gangguan pada nervus V, VII, X


dan XII

 Pasien di diagnosa Total


anterior circulation stroke-
infarct(TACI) / Stroke infark-
sirkulasi anterior total sesuai
pada gambaran CT brain pasien

 kekuatan otot:

2222 4444
2222 4444

 DIAGNOSA KEPERAWATAN:

1. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d hipertensi Domain 4. Aktivitas/istirahat, kelas


Respons kardiovaskular/pulmonal, hal 236 (nanda 2018-2020)

2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan makan


(dysphagia) Domain 2. Nutrisi, kelas 1. Makan, hal 153 (nanda 2018-2020)

21
3. Hambatan mobilitas fisik b.d Penurunan kekuatan otot . Domain 4. Aktivits/istirahat, kelas
2. Aktivitas/olahraga, Hal 232

4. Hambatan komunikasi verbal b.d gangguaan fisiologis (stroke). Domain 5. Persepsi/Kognisi,


Kelas5. Komunikasi, Hal 278

5. Ansietas b.d ancaman kematian, ancaman status terkini. Domain 9. Koping/Toleransi stres,
Kelas 2. Respons koping, Hal 343

6. Resiko Jatuh d.d gangguan mobilitas. Domain 11. Keamanan/Perlindungan, Kelas 2. Cedera
fisik, Hal 410

 INTERVENSI

N DIAGNOSA TUJUAN DAN KRITERIA INTERVENSI


O HASIL
D
X
1 Ketidakefektifan Setelah dilakukan asuhan NIC Hal 570
perfusi jaringan keperawatan selama 3x24 jam Monitor ttv (hal 237)
perifer b.d hipertensi diharapkan ketidakefektivan
1. Monitor TTV dengan
(hal 236 nanda 2018- perfusi jaringan perifer pasien
tepat
2020) dapat teratasidengan kriteria
hasil :
2. Monitor TD setelah
NOC hal 653
pasien minum obat jika
Tanda-tanda vital (hal 563)
memungkinkan
Terapi latihan: kontrol otot (hal
1. Tekanan darah sistolik
439)
normal (90-
120mmHg)
1. Bantu pasien untuk
berada pada posisi duduk
2. Tekanan darah
atau berdiri untuk
diastolic normal (60-
melakukan latihan sesuai
80mmHg)
kebutuhan

22
3. Suhu tubuh normal 2. Latih pasien secara visual
(36-37,5 derajat untuk melihat bagian
celcius) tubuh yang sakit ketika
melakukan adl atau
4. Tekanan nadi normal
latihan
(60-100x/mnt)
3. Instruksikan pasien untuk
5. Rr normal (16-
mengulangi gerakan
20x/mnt)
setiap kali latihan selesai
Koordinasi pergerakan (hal
dilakukan
280)
4. Evaluasi perkembangan
1. Kontraksi kekuatan
pasien terhadap
otot baik
peningkatan atau restorasi
fungsi dan pergerakan
2. Kemantapan gerakan
tubuh
baik

5. Berikan dukungan positif


3. Keseimbangan
terhadap usaha pasien
gerakan baik
dalam latihan dan
Manajemen diri hipertensi (hal
aktivitas fisik
291)
Manajemen obat (hal 199)
1. Mempertahankan
1. Tentukan obat apa yang
target tekanan darah
diperlukan dan kelola
2. Menggunakan obat menurut resep
obatan sesuai resep
2. Monitor efek sampan obat
3. Mengikuti diit yang
3. Pantau kepatuhan
direkomendasikan
mengenai regimen obat
4. Mengurangi asupan Manajemen nutrisi (hal 197)
garam
1. Anjurkan pasien terkkait
dengan kebutuhan diet

23
untuk kondisi sakit
(pembatasan makanan
yang mengandung garam)

2 Ketidakseimbangan Setelah dilakukan asuhan NIC Hal 558


nutrisi kurang dari keperawatan selama 3x24 jam Bantuan perawatan diri:
kebutuhan tubuh b.d diharapkan Ketidakseimbangan pemberian makan (hal 82)
ketidakmampuan nutrisi kurang dari kebutuhan
1. Monitor kemampuan
makan (dysphagia) hal tubuhpada pasien dapat
pasien untuk menelan
153 (nanda 2018- teratasidengan kriteria hasil :
2020) NOC Hal 644
2. Pastikan posisi pasien
Status menelan (hal 541)
yang tepat untuk
memfasilitasi menguyah
1. Pasien mampu
dan menelan
menguyah dengan baik

3. Berikan kebersihan mulut


2. Reflex menelan sesuai
sebelum makan
dengan waktunya

4. Posisikan pasien dalam


3. Usaha menelan
posisi makan yang
meningkat
nyaman
Status nutrisi (hal 551)
Terapi menelan (hal 441)
1. Asupan makanan
1. Bantu pasien untuk duduk
tercukupi
tegak untuk makan /
2. Asupan cairan latihan makan
tercukupi
2. Monitor tanda dan gejala
aspirasi

24
3. Monitor pergerakan lidah
pasien selama makan

4. Periksa mulut apakah ada


sisa makanan yang
berkumpul di satu tempat
setelah makan

5. Instruksikan pasien untuk


meraih sisa makanan
yang ada di bibir atau
dagu dengan lidah

Monitor nutrisi (hal 235)

1. Monitor adanya mual


muntah

2. Identifikasi perubahan
nafsu makan dan aktivitas
akhir akhir ini

3. Identifikasi perubahan
berat badan terakhir
3 Hambatan mobilitas Setelah dilakukan asuhan NIC 554
fisik b.d Penurunan keperawatan selama 3x24 jam Peningkatan Latihan : Pergerakan
kekuatan otot. Hal 232 diharapkan masalah Hambatan (hal 340)
mobilitas fisik pada pasien dapat
1. Membantu pasien untuk
teratasidengan kriteria hasil :
mengeksplorasi
Adaptasi terhadap Disabilitas
keyakinan
Fisik (hal 73)
sendiri,motivasi dan
1. Mampu tingkat kebugaran
menyampaikan secara neuromuskular

25
lisan kemampuan 2. Instruksikan untuk
untuk menyesuaikan menghindari gerakan
terhadap disabilitas cepat,kuat atau memantul
untuk mencegah stimulasi
2. mampu beradaptasi
berlebihan dari refleks
terhadap keterbatasan
myotatic atau nyeri otot
secara fungsional
yg berlebihan

3. memodifikasi gaya
3. Monitor gaya berjalan
hidup untuk
(terutama kecepatan)
mengakomodasi
keseimbangan dan tingkat
disabilitas
kelelahan dengan ambula

4. Pusing dan sakit


4. Bantu dengan aktivitas
kepala dapat teratasi
fisik secara teratur
(misalnya : ambulasi
5. Kekuatan otot lengan
transfer/berpindah,berput
dan tungkai kanan
ar dan kebersihan
dapat teratasi
diri)sesuai dengan
Klien tidak jalan kebutuhan
sempoyongan
5. Ciptakan lingkungan yg
aman untuk dapat
melakukan pergerakan
otot secara berkala sesuai
dengan indikasi

6. Bantu klien dan keluarga


memantau perkembangan
klien terhadap pencapaian
tujuan

26
4 Hambatan komunikasi Setelah dilakukan asuhan NIC 539
verbal b.d gangguaan keperawatan selama 3x24 jam Mendengar Aktif (hal 223)
fisiologis (stroke). Hal diharapkan Hambatan komunikasi
1. Buat tujuan interaksi
278 verbalpada pasien dapat
teratasidengan kriteria hasil :
2. Tunjukkan ketertarikan
NOC 627
kepada klien
Komunikasi (hal 229)
3. Gunakan pertamyaan
1. Klien dapat
maupun pernyataan yang
menggunakan bahasa
mendorong klien untuk
tertulis
mengekspresikan
perasaan, pikiran dan
2. Klien dapat
kekhawatiran
menggunakan bahasa
Peningkatan Komunikasi: kurang
isyarat
bicara (hal 335)
3. Klien dapat
1. Monitor kecepatan bicara,
menggunakan bahasa
tekanan, kecepatan,
non verbal
kuantitas, volumr, dan
4. Klien mengenali pesan diksi.
yang diterima
2. Monitor roses kognitif,
anatomis dan fisiologi
terkait dengan
kemaampuan berbicara
( misalnya, memori,
pendengaran, dan bahasa)

3. Instruksikan asie atau


keluarga untuk
menggunakan proses
kognitif, anatomis dan
fisiologis yang terlibat
dalam kemampuan

27
berbicara

4. Sediakan metode
alternatif untuk
berkomunikkasi dengan
berbicara (misalnya,
menulis
dimeja,menggunakan
kartu, kedipan mata,
papan komunikasi dengan
gambar dan huruf, tanda
dengan tangan atau
postur, dan menggunakan
komputer)

5. Ulangi apa yaang


disampaikan klien untuk
menjamin akurasi
5 Ansietas b.d ancaman Setelah dilakukan asuhan NIC 498
kematian, ancaman keperawatan selama 3x24 jam Pengurangan Kecemasan (hal 319)
status terkini. Hal 343 diharapkan Ansietas pada pasien
1. Gunakan pendekatan
dapat teratasidengan kriteria
yang tenang dan
hasil :
meyakinkan
NOC 597
Tingkat Kecemasan (572)
2. Berikan informasi faktual
terkait diagnosis,
1. Klien dapat
perawatan dan prognosis
beristirahat dengan
nyaman
3. Dorong kuarga untuk
mendampingi klien
2. Klien tak gelisah
dengam cara yang tepat
3. Klirn dapat mengambil Terapi Relaksasi (hal446)
keputusan
1. Gambarkan rasionalisasi

28
4. Klien dapat dan manfaat serta jenis
berkonsentrasi relaksasi

2. Uji penurunan tingkat


energi saat ini,
ketidakmampuan untuk
konsentrasi ataau gejala
lain

3. Dorong kien untuk


mengambil posissi yang
nyaman

4. Tunjukan dan praktikan


teknik relaksasi
6 Resiko Jatuh b.d Setelah dilakukan asuhan NIC 529
gangguan mobilitas. keperawatan selama 3x24 jam Manajemen Lingkungan :
Hal 410 diharapkan Resiko Jatuh pada Keselamatan (hal 193)
pasien dapat teratasidengan
1. Identifikasi kebutuhan
kriteria hasil :
keamanan ppasien
NOC 699
berdasarkan fungsi fisik
Kejadian jatuh (hal 119)
dan kognitif
1. Klien tidaktuh saat
2. Identifikasi al hal yang
ditempat tidur
membahayakan di
2. Klien tidak jatuh saat lingkungan
dipindahkan
3. Monitor lngkungan
terhadap terjadinya
perubahan status
keselamatan
Pencegahan Jatuh (hal 274)

1. Identifikasi ekurangan

29
baik kognitif atau fisik
dari pasien

2. Identifikasi
perilaku/faktor yang
mempengaruhi rissiko
jatuh

3. Identifikasi karakteristik
dari lingkungan

30
Daftar Pustaka
-Buku Medikal Bedah dan Jurnal
-Media Gizi Indonesia, Vol. 10, No. 2 Juli–Desember 2015: hlm. 104–110
-www.spesialisanemia.web.id/diasis-care-capsule/
https://www.google.co.id/url?
sa=t&source=web&rct=j&url=http://eprints.ums.ac.id/18613/9/BAB_II.pdf&ved=2ahUK
Ewja59mB8qPdAhXOfCsKHR5iCwgQFjACegQICBAB&usg=AOvVaw1fpgHylt14ZHFs
DfxZj18w di unduh tanggal 3 september 2018 pukul 15:00
https://www.google.co.id/url?
sa=t&source=web&rct=j&url=http://eprints.ums.ac.id/18613/9/BAB_II.pdf&ved=2ahUK
Ewja59mB8qPdAhXOfCsKHR5iCwgQFjACegQICBAB&usg=AOvVaw1fpgHylt14ZHFs
DfxZj18w di unduh tanggal 3 september 2018 pukul 15:00
-Brunner, I ; Suddarth, Drs. (2002) Buku Ajaran Keperawatan Medical Bedah Volume 2.
Jakarta: EGC.
-Muttaqin, Arif.2008. Buku Ajar Auhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem
Persarafan/ Jakarta: Salemba medika
-Widjaja, Andreas C., Imam BW, Indranila Ks. 2010. Uji Diagnostik Pemeriksaan Kadar
D-Dimer Plasma pada Diagnosis Stroke Iskemik. File Type PDF/ Adobe Acrobat. Dari
--http://eprints.undip.ac.id/24038/1/Andreas_C._Widjaja-01.pdf Diakses pada tanggal 13
November 2012 Jam 16.00 WIB
-Misbach, Jusuf. 2011. Stroke. Jakarta : Balai Penerbit FKUI

-Saminathan, J. & T.V, V., 2011.

-Method Development and Validation of Olmesartan, Amlodipine, and Hidroklorothiazide


in Combined Tablet Dosage Form. International

-Journal of Pharmaceutical Research and Analysis, 1(1), pp. 7-14.

-https://www.alodokter.com/diet-rendah-garam-untuk-hindari-stroke-dan-penyakit-jantung

-Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan.
Jakarta : Salemba Medika

Tarwoto. 2013. Keperawatan Medikal Bedah; gangguan system pernafasan, Edisi II


Feigin, Valery., 2009. Stroke.Jakarta : PT. Bhuanailmu popular

31
32