Anda di halaman 1dari 60

INFEKSI LUKA INFUS

Ari Siswanto Efendi, Skep.Ns


HIPPII Surabaya & Sekitarnya
CURICULUM VITAE

Nama : Ari Siswanto Efendi


TTL : Sidoarjo, 28 Juni 1977
Alamat : Ds. Suruh RT 10 RW 02
Sukodono – Sidoarjo
Pendidikan : S1 Keperawatan
Pekerjaan : IPCN RSUD Kab. Sidoarjo
Diklat : 1. Workshop PPI, 2014
2. PPI Dasar ,2014
3. PPI Lanjut, 2014
4. Character Building IPCN,2015
5. PIT Hippii, 2015, 2016
6. Workshop PPI KARS, 2016
7. TOT PPI PPSDM Kemenkes, 2016

Kontak Person : 081 553 163 181, bbm 7D0E0295


TUJUAN PEMBELAJARAN UMUM

Setelah mengikuti sesi ini, diharapkan


peserta pelatihan mampu menjelaskan
tentang pencegahan infeksi luka
infus/phlebitis sesuai pedoman PPI
TUJUAN PEMBELAJARAN KHUSUS
Setelah mengikuti sesi ini, diharapkan peserta pelatihan
mampu :
1. Menjelaskan tentang latar belakang infeksi luka
infus/phlebitis sesuai pedoman PPI
2. Menjelaskan tentang definisi infeksi luka
infus/phlebitis sesuai pedoman PPI
3. Menjelaskan tentang tanda dan gejala infeksi luka
infus/phlebitis sesuai pedoman PPI
4. Menjelaskan tentang type infeksi luka infus/phlebitis
sesuai pedoman PPI
5. Menjelaskan tentang epidemiologi infeksi luka
infus/phlebitis sesuai pedoman PPI
6. Menjelaskan tentang strategi pencegahan infeksi luka
infus/phlebitis sesuai pedoman PPI
LATAR BELAKANG

1. Mayoritas pasien dirawat di rumah sakit sejak


abad ke-21 mendapatkan peralatan akses
vaskular (Petersen, 2002)
2. 99% pasien yang mendapatkan perawatan di
RS mendapat terapi melalui intravena
3. Teknik aseptik harus digunakan dan
kewaspadaan standar harus diperhatikan
dalam pemberian obat suntik dan cairan
intravena (NPSA, 2007)
LATAR BELAKANG

4. Phlebitis harus didokumentasikan


menggunakan skala standar untuk mengukur
derajat atau tingkat keparahan (Jackson,
1998; Gallant dan Schultz, 2006)
5. Perawat harus menyadari bahwa infus
adalah faktor risiko terjadinya infeksi aliran
darah dan tahu cara pencegahannya
(Weinstein, 2007).
DEFINISI
Phlebitis adalah peradangan pada intima tunika dari
vena. Ada tiga jenis flebitis: mekanik, kimia dan
infeksi (Macklin, 2003).

Plebitis adalah iritasi vena oleh alat IV, obat-obatan,


atau infeksi yang ditandai dengan kemerahan,
bengkak, nyeri tekan pada sisi intravena (Weinstein,
2001)

Plebitis merupakan inflamasi vena yang disebabkan


baik oleh iritasi kimia maupun mekanik yang sering
disebabkan oleh komplikasi dari terapi intravena
(La Rocca, 1998)
Tanda dan Gejala
1. Tenderness
2. Erytema
3. Swelling
4. Purulent
Discharge
5. Palpable Venous
Cord
Type Phlebitis

Ada tiga jenis


phlebitis:
1. Mekanik
2. Kimia
3. Infeksi
(Macklin, 2003)
CHAIN OF INFECTION
Infectius
Agent/Organism

Susceptible Host Reservoir

Portal of Entry Portal of Exit

Route of
Transmission
Infectius Agent/Organism
• Staphylococcus
Epidermidis
• Staphylococcus Aureus
• Enterococcus spp

• Klepsiella
• Pseudomonas

• E. Coli
• Serratia
• Candida
Reservoir

1. Kulit Pasien “Resident microflora”


2. Lingkungan
3. Peralatan
4. Cairan intravena dan obat
5. Tangan Petugas “Transient microflora”
Portal of Exit

1. Sekresi : cairan tubuh dan darah


2. Kulit tidak utuh : kulit bersisik
Route of Transmission
1. Kontak langsung : pada tangan petugas
kesehatan langsung
2. Kontak tidak langung : peralatan, cairan infus,
obat intravena yang terkontaminasi
3. Tertusukjarum benda tajam dikulit
(inoculation/blood borne)
Portal of Entry
Susceptible Host
1. Usia : anak – anak dan usia lanjut
2. Pasien operasi
3. Lama rawat di RS
4. Sistem immun yang rendah
5. Penyakit kronik
6. Antibiotik
7. Akses alat vaskuler yang terpasang
STRATEGI PENCEGAHAN
Gunakan CDC Isolation
Precaution Guideline
1  Standard precautions
 Transmission based
precautions
STRATEGI PENCEGAHAN
 Standard precaution
 Level minimal untuk
kewaspadaan dari
pencegahan dan
pengendalaian infeksi
 Transmission based precautions
 Contact precautions
 Droplet precautions
 Airborne precaution
STRATEGI PENCEGAHAN
Hand Hygiene
2  Fungsi kulit : Barier protection
 Transmisi bakteri pathogen di tangan
(Studies have doc. Contamination of HCWs
hands 100% carried gram negatif bacilli,
CDC 2002)
 Cairan untuk cuci tangan : produk
alkohol based lebih efektif sebagai
standar cuci tangan antiseptis
daripada sabun atau antimicrobial
(CDC, 2002)
STRATEGI PENCEGAHAN
APD
3  Sarung tangan mengandung bedak dan
sarung tangan plastik tidak di
rekomendasikan dalam prosedur
pemasangan infus
 APD lain digunakan sesuai risiko paparan
 Maximal barier precaution pada saat
pemasangan CVC

(Prat et al, 2007)


STRATEGI PENCEGAHAN
Insertion Site Preparation
4 The Infusion Nurses Society (2000)
Standards of practice and CDC (2002)
o10% povidone iodine
o 70% isopropyl alcohol
o 2% aques chlorhexidine gluconate
o 2% tincture of chlorhexidine

Decontaminate the site using a 2%


chlorhexidine in alcohol solution for a
minimum of 30 seconds
(DH, 2007d)
STRATEGI PENCEGAHAN
Dressing IV Kateter
5  Dressing steril harus di terapkan dan di
jaga pada akses vaskuler
 Transparent, semipermiable
membrane (TSM)
 Kassa steril (pada pasien dengan
keringat berlebihan)
 Ganti dressing /penutup IV kateter jika
terlihat kotor, basah dan terkelupas

(Dougherty, 2006)
STRATEGI PENCEGAHAN
Administration Set/Infus set
 Diganti setelah tranfusi darah atau
6 produk darah lainnya setiap 12 jam
atau jika tranfusi telah komplit
diberikan
 Setelah 24 jam pada pemberian TPN
 Setelah 72 jam pada cairan biasa
 Administrasi set di ganti harus dengan
teknik aseptik

RCN, 2005b; Mc Clelland, 2007; Pratt et al., 2007.


INS, 2006; Pratt et al., 2007
STRATEGI PENCEGAHAN
Site Selection
 Vena yang harus dipertimbangkan
7 untuk IV kateter perifer adalah pada
dorsal dan permukaan ventral dari
ekstremitas atas termasuk
metacarpal , cephalic dan basilic
 Vena di ekstremitas bawah sebaiknya
tidak digunakan secara rutin pada
orang dewasa karena risiko emboli
dan tromboflebitis
Grffiths, 2007; Dougherty, 2008a; Timbangan, 2008a
STRATEGI PENCEGAHAN
Hair Removal
8 Mencukur bulu/rambut sekitar lokasi
insersi IV kateter harus dengan
menggunakan gunting atau clipper
elektrik
(Dougherty dan Watson, 2008; Hart, 2008b).
STRATEGI PENCEGAHAN
Vasculer Acces Device
Removal/Replacement
9
 IV kateter perifer harus diganti setiap 72-96
jam atau lebih cepat jika dicurigai terjadi
komplikasi dan jika masih diperlukan

 IV kateter perifer yang dipasang dalam


keadaan darurat , di mana teknik aseptik telah
dikompromikan, harus diganti dalam waktu 24
jam.
(DH, 2007c)
STRATEGI PENCEGAHAN
Vasculer Acces Device
Removal/Replacement
9
STRATEGI PENCEGAHAN
Rekonstitusi Obat
10
Sifat kimia, fisik, dan terapeutik serta
kompatibilitas harus diprioritaskan saat
rekonstitusi obat dengan teknik aseptik
Protokol rekonstitusi obat harus ditetapkan dan
dilaksanakan di bawah arahan farmasi
Daftar obat dimana perawat tidak mungkin
melakukan rekonstitusi harus diatur dalam
sebuah kebijakan

(NPSA, 2007b)
STRATEGI PENCEGAHAN
Injection
Untuk mencegah masuknya
11 mikroorganisme ke dalam sistem vaskular,
akses injeksi harus didekontaminasi
dengan single use cairan antiseptik,
seperti klorheksidin dan atau alkohol

Protokol untuk desinfektan, akses injeksi


dan akses port IV kateter harus
ditetapkan dalam kebijakan dan prosedur
dan harus sesuai dengan pedoman
pabrikan
(NICE, 2003; MHRA, 2005a; Pratt et al., 2007)
Pencampuran Obat IV
Tempat Pencampuran obat IV
Repacking Obat Injeksi Antibiotik
Stabilitas Obat Setelah Pencampuran
PEMBERIAN ANTIBIOTIKA IV
PEMBERIAN ANTIBIOTIKA IV
DOKUMENTASI
• Dokumentasi pada rekam medis pasien harus berisi
informasi lengkap tentang terapi infus dan akses
vaskuler serta reaksi obat (IPS,2000, INS 2006)
• Pendokumentasian setiap hari menunjukkan
assesment terhadap pemasangan IV katetertelah
dilakukan
• Dokumentasikan semua pemasangan,monitoring
tanda infeksi dan bundle prevention
Fakta
&
Realita??
RANGKUMAN
Terima Kasih
Ha Long Bay- Vietnam