Anda di halaman 1dari 4

SAVE GUNUNG TALANG

Perjuangan rakyat Salingka Gunung Talang semakin lama semakin rumit. Hal ini
disebabkan karena upaya pemaksaan yang terus-menerus dilakukan oleh pihak
pemerintah dan perusahaan.

Masyarakat Salingka Gunung Talang adalah sebutan untuk masyarakat yang


berada di sekitar Gunung Talang. Salingka dalam bahasa Indonesia artinya dapat
diterjemahkan secara gamblang sebagai “selingkaran”. Sebutan ini adalah
sebutan yang diberikan langsung oleh masyarakat tersebut untuk menyatukan
persatuan dan perjuangan masyarakat menjaga Gunung Talang yang saat ini
sedang terancam untuk sebuah megaproyek. Jauh daripada itu, mereka membuat
aliansi bernama HIMAPAGTA (Himpunan Masyarakat Pecinta Alam Gunung Talang).
Masyarakat yang terlibat hingga saat ini dalam gerakan ini adalah 3 kecamatan
(Kec. Lembang Jaya, Kec. Danau Kembar, dan Kec. Gunung Talang).

Juli 2017, masyarakat yang berada di lereng gunung ini dibuat bingung dengan
adanya pengumuman bahwa di daerah ini akan dibangun proyek geothermal di
lahan seluas 27.000 Ha yang terbentang dari Gunung Talang hingga Bukit Kili. Nah,
masyarakat yang berada di bawah kaki gunung Talang mulai mempertanyakan ini
kepada pihak-pihak kenagarian (setara desa). Namun, masyarakat tak pernah
mendapat jawaban yang memuaskan. Di tanah yang tak sedikit itu akan dibangun
sebuah pabrik, namun pabrik seperti apa dan bagaiman keberlangsungannya
terhadap wilayah masyarakat dan gunung tak pernah dapat dibahas.

Sosialisasi demi sosialisasi terus dilakukan oleh pihak perusahaan. Namun, apa yang
menjadi pertanyaan masyarakat tak pernah terjawab. Gambaran kasarnya,
masyarakat, suka tidak suka, siap tidak siap, memang harus menerima proyek ini.
Maka dari itu, masyarakat mulai mencari sendiri apa itu geothermal dan cara
kerjanya. Sementara, mereka terus mencari bantuan.

Dalam beberapa kajian yang dilakukan masyarakat, mereka menemukan


dokumen-dokumen yang memunculkan bahaya geothermal terhadap lingkungan
hidup dan gunung itu sendiri. Pertemuan demi pertemuan oleh masyarakat terus
digelar. Pertanyaan demi pertanyaan terus dilayangkan, namun masyarakat tak
pernah bisa mendapatkan informasi berimbang tentang apa itu geothermal.
Sejatinya, perusahaan dan pihak pemerintah terus berkampanye kepada
masyarakat bahwa proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (Geothermal) ini
adalah proyek terbaharukan dan sangat ramah lingkungan. Namun hal ini
berbanding terbalik dengan apa yang ditemukan oleh masyarakat sehingga
mereka menyadari bahwa ada yang tidak beres dalam perencanaan
pembangunan proyek ini.
Upaya masyarakat untuk memahami proyek ini begitu kuat. Mereka berupaya
menghubungi mahasiswa-mahasiswa di beberapa kota/kabupaten yang ada di
Sumatera Barat, dan menggandeng beberapa LSM. Alhasil, beberapa kali, dialog
dilaksanakan di beberapa tempat, baik di kampus, di kota-kota, di kantor
pemerintahan, dan di wilayah kenagarian mereka sendiri.

Dalam beberapa pertemuan, ada sebagian pihak yang mendukung dan getol
melaksanakan pembangunan proyek, karena proyek ini adalah proyek ramah
lingkungan dan bisa membangkitkan perekonomian daerah serta masyarakat itu
sendiri. Di sisi lain, sebagian pihak berupaya menjelaskan bahwa pembangunan
proyek ini tidak bisa dijalankan karena akan sangat berdampak buruk bagi gunung,
lahan pertanian, serta keberlangsungan agraria. Akhirnya, masyarakat memutuskan
dan memilih apa yang mereka yakini. Masyarakat meyakini bahwa pembangunan
proyek ini akan berdampak buruk bagi lahan pertanian, bagi gunung, dan
kebudayaan mereka. Terlebih, adanya fakta bahwa proyek geothermal di
beberapa tempat di Indonesia berujung pada kehancuran. Sebut saja; Mataloko
(NTT), Kertasari (Kab. Bandung), Gunung Slamet, Bali, dan beberapa wilayah
lainnya.

Atas dasar itu, dan untuk melindungi Gunung Talang sebagai simbol kehidupan
mereka, masyarakat beberapa kali melakukan demonstrasi ke kantor Bupati Solok.
Apa yang disuarakan dan dituntut tak pernah digubris dan mereka berdalih bahwa
pemerintah daerah tak dapat melakukan apa-apa karena ini kebijakan pusat.

Di sisi lain, perusahaan mencoba beberapa kali masuk untuk melaksanakan


rencana pembangunan proyek bersama pemerintah derah dengan dikawal Polisi,
TNI, hingga Satpol PP. Tidak hanya sekali saja. Berulang dan terus berulang. Apa
yang terjadi? Bentrok tak dapat dihindari. Puncaknya, 20 November 2017,
bentrokan antara masyarakat yang berjumlah ratusan bentrok dengan aparat.
Sebuah mobil terbakar dalam peristiwa tersebut.

Akhirnya, polisi menetapkan 12 orang tersangka karena peristiwa itu. 3 orang


ditangkap dan 9 orang lainnya kabur dari wilayah ini dan hingga kini masih
berstatus DPO (Daftar Pencarian Orang). Dalam kasus hukum ini, banyak sekali
kejanggalan yang terjadi. Penangkapa yang dilakukan, dilaksanakan oleh Polda
Sumbar, bukan Polres atau Polsek yang jelas-jelas memiliki wilayah hukum di daerah
tersebut. Dalam proses itu juga berbagai kejadian aneh dan janggal terjadi. Ada
yang ditangap jam 2 malam tanpa surat, ada yang dipanggil sebagai saksi dan
malah akhirnya ditahan di hari yang sama, dsb. Proses persidangan juga tak
ketinggalan. Banyaknya kejanggalan kasus di mana mereka dituduh telah
memprovokasi dan ikut membakar mobil. Salah seorang tahanan, Ayu Dasril, dalam
pernyataan di persidangan menyebutkan “Saya dituntut 7 tahun penjara atas
perbuatan yang tidak pernah saya lakukan”.

Masyarakat menjadi ketakutan di mana terus terjadi teror bahwa akan ada lagi
yang akan ditangkap dan berbagai ancaman lainnya. Hal lain adalah mereka
ditakut-takuti dengan undang-undang yang tidak begitu mereka pahami. Upaya ini
jelas. Penetapan tersangka terhadap orang-orang tersebut adalah upaya untuk
menangkap tokoh-tokoh penggerak perjuangan masyarakat. Selain itu, ancaman
dan intimidasi dilakukan untuk pelemahan perjuangan mereka.

21 Maret 2018, terjadi bentrok lagi. Perusahaan membawa aparat dan


memaksakan melakukan pembangunan. 2 laki-laki, 3 perempuan dan 2 anak-anak
menjadi korban kekerasan aparat, dan lainnya mengalami luka ringan, meski 3
orang polisi juga babak belur. Media hanya meliput berita yang tidak berimbang
dan menyoroti kasus bentrok tanpa menjelaskan apa yang sebenarnya menjadi inti
perjuangan masyarakat. Malah beberapa berita menjelaskan secara detail bahwa
ada 3 polisi yang terluka, namun tak membahas sedikit pun apa yang terjadi
dengan masyarakat.

14 Agustus, ketiga tahanan ditetapkan hukuman 1 tahun penjara setelah


sebelumnya dituntut oleh Jaksa Penuntut Umum sebanyak 7 tahun penjara. Artinya,
ketiga orang yang ditahan akan ada yang bebas pada Desember 2018 dan ada
pula yang bebas pada Januari 2019 mendatang. Namun, belum puas. Banding
dilakukan. 6 November 2018, pemberitahuan mucul bahwa masa tahanan mereka
akan diperpanjang 1 tahun lagi. Artinya, mereka mendapat hukuman 2 tahun
penjara. Di balik kehancuran hati masyarakat, ternyata Kasasi kembali dilayangkan.
Hingga saat ini, JPU belum puas dengan hukuman tersebut. Hingga saat ini, hasilnya
belum keluar.

Berbagai upaya terus dilakukan pihak perusahaan dan pemerintah. Intel dikirim,
preman dikirim, polisi dikirim, Satpol PP dikirim, TNI dikirim, hingga yang terakhir
adalah Brimob sekitar 150 orang dikirim ke daerah ini untuk berkeliaran di daerah ini
tanpa tujuan jelas. Ini hanya dugaan saja. Mereka memang tidak mencoba masuk
ke lokasi, tapi hanya berkeliaran di wilayah nagari tanpa tujuan jelas. Karena
memang,ketika dipertanyakan masyarakat, Brimob yang datang, dengan konyol
menjawab bahwa mereka hanya menjalankan perintah dan tak tahu alasan
mereka dikirim. Camat dan Nagari tak tahu menahu bahwa ada Brimob.
Sedangkan Kapolda Sumbar menutup bibir manisnya tanpa sepatah kata pun
ketika dihubungi.

Hingga saat ini, masyarakat masih berhasil mempertahankan wilayah pintu masuk
perencanaan pembangunan proyek dan belum sama terjadi proses eksplorasi.
Mereka terus berjuang memperbanyak barisan, melakukan musyawarah secara
rutin, kegiatan-kegiatan penolakan di daerahnya, dll. Sementara LSM-LSM yang
terlibat masih terus mendampingi masyarakat berjuang. Mahasiswa dari berbagai
kota/kabupaten di Sumatera Barat terus bergerak memperjuangkan pembebasan
masyarakat. Turun ke lokasi dan mendampingi masyarakat terus dilakukan, dialog di
kampus-kampus terus dilakukan,aksi demonstrasi di Gubernuran dilakukan, Aksi
Kamisan terus digelar, dan upaya memperbesar gerakan melalui media-media
pergerakan di internet, panggung rakyat, tulisan, dll.
Perjuangan masyarakat belum begitu terang apakah tuntutannya agar PLTP
Gunung Talang ini segera dibatalkan akan terwujud. Upaya pemaksaan terus
dilakukan, upaya kriminalisasi terus berlangsung panjang. Keadilan juga tak begitu
jelas bentuknya. Masyarakat masih hidup dalam ketakutan dan bayang-bayang
penindasan.

Dokumen: GERAKAN TALANG MELAWAN

Email: gerakantalangmelawan@gmail.com