Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Diabetes mellitus adalah penyakit multifaktorial, yang ditandai dengan sindroma
hiperglikemia kronis dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak serta protein yang
disebabkan insufisiensi sekresi insulin ataupun aktivitas endogen insulin atau keduanya.
(Price, S & Wilson, L, (2005).Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi
6. Jakarta : EGC 2).Hiperglikemia yang tidak terkontrol juga dapat menimbulkan banyak
penyakit komplikasi seperti neuropati, stroke dan penyakit pembuluh darah perifer. (Cade
W.T.(2008) Diabetes-related microvascular and macrovascular diseases in the physical
therapy setting. Phys. Ther.;88:1322–1335).Hiperglikemia adalah suatu kondisi medik
peningkatan kadar glukosa dalam darah melebuhi batas normal.
Prevalensi DM menurut WHO, bahwa lebih dari 382 juta jiwa orang di dunia telah
mengidap penyakit diabetes mellitus. (P.B. PERKENI (2011) Konsensus Pengelolaan dan
Pencegahan DM Tipe 2 di Indonesia 2011 Jakarta: PERKENI). Prevalensi DM di dunia
dan Indonesia akan mengalami peningkatan, secara epidemiologi, diperkirakan bahwa
pada tahun 2030 prevalensi Diabetes Melitus (DM) di Indonesia mencapai 21,3 juta orang.
(Almaida piteto,(2015). Health Education in the Management of Diabetes at the Primary
Health Care Level: is there a Gender Differens?. Eastern Mediterranean Health Journal,
8(1): 1823).
Diabetes melitus dibedakan menjadi dua, yaitu diabetes melitus tipe 1 dan diabetes
melitus tipe 2. DM tipe 1 terjadi karena pankreas tidak bisa memproduksi insulin. Pada
DM tipe 1 ini terdapat sedikit atau tidak sama sekali sekresi,sedangkan pasien yang
menderita diabetes tipe 2 adalah jika tubuhnya masih dapat memproduksi insulin, namun
insulin yang dihasilkan tidak cukup atau sel lemak dan otot tubuh menjadi kebal terhadap
insulin.
Penyakit DM sangat berpengaruh terhadap kualitas sumberdaya manusia dan
berdampak pada peningkatan biaya kesehatan yang cukup besar. Oleh karenanya semua
pihak, seharusnya ikut serta secara aktif dalam usaha penangglukosangan DM, khususnya
dalam upaya pencegahan.
Dm merupakan penyakit menahun yang akan disandang seumur hidup. Pengelolaan penyakit ini
memerlukan peran serta dokter, perawat, bidan ahli gizi dan tenaga kesehatan lain. Pasien dan
keluarga juga mempunyai peranyang penting, sehinggan perlu medapatkan edukasi untuk
memberikan pemahaman mengenai perjalan penyakit, pencegahan, penyulit dan penatalaksanaan
DM. Pemahaman yang baik akan sangat membantu meningkatkan ke ikutsertaan keluarga dan
upaya penatalaksanaan DM guna mencapai hasil yang lebih baik.

1.2. Permasalahan
Jumlah penduduk Indonesia saat ini diperkirakan mencapai 240 juta. Menurut data
RISKESDAS 2007, prevalensi nasional Dm di Indonesia untuk usia di atas 15 tahun
sebesar 5,7%. Berdasarkan data IDF tahun 2014, saai ini diperkirakan 9,1 juta orang
penduduk didiagnosis sebagai penyandang DM.dengan angka tersebut Indonesia
menempati peringkat ke-5 di dunia atau naik dua peringkat di banding data IDF tahun
2013 yang menempati peringkat ke-7 di dunia sengan 7,6 juta orang penyandang DM.
Masalah yang dihadapi Indonesia antara lain belum semua penyandang DM mendapatkan
akses ke pusat pelayanan kesehatan secara memadai. Demikian juga ketersediaan obat
hipoglikemia oral maupun injeksi pada layanan primer (Puskesmas) serta keterbatasan
sarana/prasaranan di beberapa pusat pelayanan kesehatan. Demikian juga kemampuan
petugas kesehatan yang belum optimal dalam penanganan kasus-kasus DM, baik dalam
aspek preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif.

1.3. Tujuan
Buku Saku ini dibuat dengan tujuan untuk memberikan rekomendasi yang berbasis
tentang patogenesis (penyebab), gejala, diagnosis, penatalaksanaan dan kontra indikasi
obat.
1.4. Sasaran
Tenaga Kesehatan dan Masyarakat Umum.
1.5. Metodologi
Buku saku ini menggunakan sumber pustaka dari berbagai jurnal elektronik,dengan
menggunakan kata kunci penelusuran” Jurnal Diabetes Miletus”. Penyusunan buku saku
ini juga berpedoman kan Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Miletus Tipe
2 di Indonesia 2011dan 2015.
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Dm merupakan satu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik
hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau kedua-
duannya.(ADA,2010).
Menurut WHO, Diabetes Melitus (DM) didefinisikan sebagai suatu penyakit atau
gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya
kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein
sebagai akibat dari insufisiensi fungsi insulin. Insufisiensi insulin dapat disebabkan oleh
gangguan produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas atau
disebabkan oleh kurang responsifnya sel-sel tubuh terhadap insulin (Depkes, 2008).
Berdasarkan Perkeni tahun 2011 Diabetes Mellitus adalah penyakit gangguan
metabolisme yang bersifat kronis dengan karakteristik hiperglikemia. Berbagai
komplikasi dapat timbul akibat kadar gula darah yang tidak terkontrol, misalnya
neuropati, hipertensi, jantung koroner, retinopati, nefropati, dan gangren.
Diabetes Melitus tidak dapat disembuhkan tetapi kadar gula darah dapat
dikendalikan melalui diet, olah raga, dan obat-obatan. Untuk dapat mencegah terjadinya
komplikasi kronis, diperlukan pengendalian DM yang baik (Perkeni, 2011).

2.2 Klasifikasi
Klasifikasi etiologi Diabetes mellitus menurut American Diabetes Association, 2010
adalah sebagai berikut:
a. Diabetes tipe 1 (destruksi sel beta, umumnya menjurus ke defisiensi insulin
absolut):
1. Autoimun.
2. Idiopatik.
Pada Diabetes tipe 1 (Diabetes Insulin Dependent), lebih sering ternyata pada usia
remaja. Lebih dari 90% dari sel pankreas yang memproduksi insulin mengalami
kerusakan
secara permanen. Oleh karena itu, insulin yang diproduksi sedikit atau tidak
langsung dapat diproduksikan.
b. Diabetes tipe 2 (bervariasi mulai yang terutama dominan resistensi insulin disertai
defesiensi insulin relatif sampai yang terutama defek sekresi insulin disertai
resistensi
Insulin). Diabetes tipe 2 ( Diabetes Non Insulin Dependent) ini tidak ada
kerusakan pada pankreasnya dan dapat terus menghasilkan insulin, bahkan
kadang-kadang insulin pada tingkat tinggi dari normal. Akan tetapi, tubuh
manusia resisten terhadap efek insulin, sehingga tidak ada insulin yang cukup
untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Diabetes tipe ini sering terjadi pada dewasa
yang berumur lebih dari 30 tahun dan menjadi lebih umum dengan peningkatan
usia. Obesitas menjadi faktor resiko utama pada diabetes tipe 2. Sebanyak 80%
sampai 90% dari penderita diabetes tipe 2 mengalami obesitas.
c. Diabetes mellitus Gestasional
Cara diagnosis diabetes melitus dapat dilihat dari peningkatkan kadar glukosa
darahnya.
d. Diabetes tipe lain.
1. Defek genetik fungsi sel beta
2. DNA mitokondria.
3. Defek genetik kerja insulin.
4. Penyakit eksokrin pankreas :
a. Pankreatitis.
b. Tumor/ pankreatektomi.
c. Pankreatopati fibrokalkulus.
5. Endokrinopati.
a. Akromegali.
b. Sindroma Cushing.
c. Feokromositoma.
d. Hipertiroidisme.
6. Karena obat/ zat kimia.
7. Pentamidin, asam nikotinat.
8. Glukokortikoid, hormon tiroid

2.3 Penyebab
Diabetes Melitus umumnya diklasifikasikan menjadi 4 kategori dengan penyebab
yang berbeda-beda:
a. Diabetes Melitus Tipe 1 Disebut sebagai “Diabetes Melitus yang Tergantung pada
Insulin”. Terkait dengan faktor genetik dan sistem kekebalan tubuh, yang
mengakibatkan kerusakan sel-sel yang memproduksi insulin, sehingga sel tidak
mampu untuk memproduksi insulin yang dibutuhkan oleh tubuh. Kelompok orang
yang paling sering mengidap penyakit ini adalah anak-anak dan remaja, yang
mewakili 3% dari jumlah seluruh pasien yang ada.
b. Diabetes Melitus Tipe 2 Disebut “Diabetes Melitus yang Tidak Tergantung pada
Insulin”, yang mewakili lebih dari 90% kasus diabetes melitus. Terkait dengan faktor
pola makan yang tidak sehat, obesitas, dan kurangnya olahraga. Sel-sel tubuh
menjadi resisten terhadap insulin dan tidak bisa menyerap dan menggunakan
dekstrosa dan kelebihan gula darah yang dihasilkan secara efektif. Jenis diabetes
melitus ini memiliki predisposisi genetik yang lebih tinggi daripada Tipe 1.
c. Diabetes Melitus Gestasional: Terutama disebabkan oleh perubahan hormon yang
dihasilkan selama kehamilan dan biasanya berkurang atau menghilang setelah
melahirkan. Studi dalam beberapa tahun terakhir ini menunjukkan bahwa wanita
yang pernah mengalami diabetes melitus gestasional memiliki tingkat risiko yang
lebih tinggi untuk mengidap penyakit diabetes melitus tipe II, sehingga wanita
tersebut harus lebih memerhatikan pola makan yang sehat demi mengurangi risiko
tersebut.
d. Jenis lain dari Diabetes Melitus: Ada beberapa penyebab lain yang berbeda dari
ketiga jenis diabetes melitus di atas, termasuk sekresi insulin yang tidak memadai
yang disebabkan oleh penyakit genetik tertentu, disebabkan secara tidak langsung
oleh penyakit lainnya (misalnya pankreatitis, yaitu peradangan pada pankreas), yang
diakibatkan oleh obat atau bahan kimia lainnya.

2.4 Tanda dan Gejala


Beberapa pasien diabetes melitus mungkin mengalami gejala-gejala berikut dalam tahap
awal penyakit ini:
a. sering merasa haus
b. sering buang air kecil
c. sering merasa lapar
d. penurunan berat badan
e. kelelahan
f. penglihatan yang kabur
g. tingkat penyembuhan luka yang lambat
h. rasa gatal pada kulit, wanita mungkin merasa gatal di daerah vitalnya Beberapa
pasien mungkin tidak mengalami gejala-gejala di atas sama sekali, sehingga
pemeriksaan kesehatan secara rutin dianjurkan untuk menghindari penundaan
tindakan medis yang diperlukan.

2.5 Penatalaksanaan Diabetes Mellitus


Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup penyandang
diabetes. Tujuan penatalaksanaan meliputi :
 Tujuan jangka pendek : menghilangkan keluhan DM, memperbaiki kualitas hidup,
dan mengurangi resiko komplikasi aku.
 Tujuan jangka panjang : mencegah dan menghambat progresivitas penyulit
mikroangiopati dan makroangiopati.
 Tujuan akhir pengolaan adalah turunnya morbiditasdan mortalitas DM.
Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah, berat
badan dan profil lipid melalui pengelolaan pasien secara komprehensif.
A. Langkah-langkah penatalaksanaan umum
Perlu dilakukan evaluasi medis yag lengkap pada pertemuan pertama, meliputi :
1. Riwayat penyakit
2. Pemeriksaan fisik
3. Evaluasi Laboratorium
4. Penapisan komplikasi

B. Langkah-langkah penatalaksanaan khusus


Penatalaksanaan DM dimulai dengan menerapkan pola hidup sehat (terapi nutrisi
medis dan aktivitas fisik) bersamaan dengan intervensi farmakologis dengan Obat
anti hiperglikemia secara oral maupun suntikanobat anti hiperglikemia oral dapat
diberikan sebagai terapi tunggal atau kombinasi. Pada keadaan emergency dengan
kompensasi metabolik berat, misalnya : ketoasidosis, stres berat, berat badan yang
menurun dengan cepat, atau adanya ketonuria, harus segera dirujuk ke pelayanan
kesehatan Sekunder atau Tersier.
BAB III

MASALAH-MASALAH KHUSUS

3.1 Kaki Diabetes


Kaki diabetik adalah infeksi, ulserasi, dan atau destruksi jaringan ikat dalam yang
berhubungan dengan neuropati dan penyakit vaskuler perifer pada tungkai bawah. Setiap
pasien dengan diabetes perlu dilakukan pemeriksaan kaki secara lengkap, minimal sekali
setiap satu tahun meliputi : inspeksi, perabaan pulsasi arteri dorsalispedis dan tibialis
posterior, dan pemeriksaan neuropati sensorik.
Deteksi Dini Kelainan Kaki denga resiko tinggi dapat dilakukan melalui
pemeriksaan karakteristik kelainan kaki :
o Kulit kuku yang kering, bersisik dan retak-retak serta kaku
o Rambut kaki yang menipis
o Kelainan bentuk dan warna kuku
o Kalus (mata ikan) terutama dibagian telapak kaki
o Perubahan bentuk jari-jari dan telapak kaki dan tulang-tulang kaki yang menonjol
o Riwayat luka atau amputasi jari
o Kaki kesemutan atau tidak terasa nyeri
o Kaki yang terasa dingin
o Perubahan warna kulit kaki (kemerahan,kebiruan, atau kehitaman)
Kaki diabetik dengan ulkus merupakan komplikasi diabetes yang sering terjadi.
Ulkus diabetik adalah luka kronik pada daerah di bawah pergelangan kaki, yang
meningkatkan morbiditas, mortalitas dan mengurangi kualitas hidup pasien. Ulkus kaki
diabetik disebabkan oleh proses neuropati perifer, penyakit arteri perifer ataupun
kombinasi keduanya.

3.2 Penatalaksanaan Kaki Diabetik


Penatalaksanaan kaki diabetik harus dilakukan sesegera mungkin. Kompenen
penting dalam manajemen kaki diabetik dengan ulkus :
o Kendali metabolik (metabolic Control )
Pengendaliam keadaan metabolik sebaik mungkin seperti pengendalian kadar glukods
darah,lipid, albumin, hemoglobin, dan sebagainya.
o Kendali Vaskular (Vascular Control)
Perbaikan asupan vaskular (dengan operasi atau angioplasti), biasanya dibutuhkan
pada keadaan ulkus iskemik .
o Kendali infeksi (infection control )
Jika terlihat tanda-tanda klinis infeksi harus diberikan pengobatan infeksi secara
agresif (adanya kolonisasi pertumbuhan organisme pada hasil usap namun tidak
terdapat tanda klinis, bukan merupakan infeksi)
o Kendali Luka (Wound Control)
Pembuangan jaringan terinfeksi dan nekrosis secara teratur. Perawatan lokal pada luka,
termasuk kontrol infeksi , dengan konsep TIME :
 Tissue debridement (membersihkan dari jaringan mati)
 Inflammation and Infection Control (Kontrol Inflamasi dan Infeksi)
 Moisture Balance (Menjaga Kelembapan)
 Epithelial edge advancement (mendekatkan tepi epitel
o Kendali tekanan (pressure control)
Mengurangi tekanan yang berulang dapat menyebabkan ulkus, sehingga harus
dihindari. Mengurangi tekanan merupakan hal yang sangat penting dilakukan pada
ulkus neuropatik. Pembuangan kalus dan memakai sepatu dengan ukuran yang sesuia
diperlukan untuk mengurangi tekanan
o Peyuluhan (education control )
Penyuluhan yang baik. Seluruh pasien dengan diabetes perlu diberikan edukasi
mengenai perawatan kaki seara mandiri.

3.3 Diabetes Milletus Gestasional


Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) adalah kelainan pada metabolisme
karbohidrat dari faktor yang memberatkan yang terjadi selama kehamilan (Marilyn,2001)

3.4 Pengaruh Diabetes Milletus terhadap Kehamilan


1. Dalam Khamilan
a. Insufisiensi plasenta menyebabkan:
1) Abortus-prematurius.
2) Kematian janin dalam rahim.
3) Kelainan kongenital meningkat
b. Komplikasi kehamilan dengan DM:
1) Hidramnion.
2) Makrosomia diikuti kelainan letak janin.
3) Pre-eklampsia dan eklampsia.
2. Pengaruh diabetes tehadap persalinan
a. Inersia uteri primer dan sekunder.
b. Persalinan operatif makrosomia.
3. Pengaruh terhadap kala nifas
Mudah terjadi infeksi sampai sepsis.
4. Pengaruh terhadap janin
Gangguan insufisiensi plasenta :
a. Abortus sampai kematian janin dalam rahim.
b. Makrosomia dengan komplikasinya.
c. Dismaturitas dan meningkatnya kematian neonatus kelainan kongenital.
d. Kelainan neurologis sampai IQ rendah.
e. Kematangan paru terhambat menimbulkan RDS, asfiksia, dan lahir mati.

3.5 Penatalaksanaan DMG

Pengobatan dan penanganan penderita diabetes yang hamil dilakukan untuk mencapai
3 maksud utama, yaitu:

a. Menghindari ketosis dan hipoglikemi


b. Mengurangi terjadinya hiperglikemia dan glisuri
c. Mengoptimalkan gestasi.
Prinsipnya adalah mencapai sasaran normoglikemia, yaitu kadar glukosa
darah puasa < 105 mg/dl, 2 jam sesudah makan < 120 mg/dl, dan kadar HbA1c<6%.
Selain itu juga menjaga agar tidak ada episode hipoglikemia, tidak ada ketonuria, dan
pertumbuhan fetus normal. Pantau kadar glukosa darah minimal 2 kali seminggu dan
kadar Hb glikosila. Ajarka pasien memantau gula darah sendiri di rumah dan anjurkan
untuk kontrol 2-4 minggu sekali bahkan lebih sering lagi saat mendekati
persalinan. Obat hipoglikemik oral tidak dapat dipakai saat hamil dan menyusui
mengingat efek teratogenitas dan dikeluarkan melalui ASI, kenaikan BB pada
trimester I diusahakan sebesar 1-2,5 kg dan selanjutnya 0,5 kg /minggu, total kenaikan
BB sekitar 10-12 kg.
Penatalaksanaan Obstetric :
Pantau ibu dan janin dengan mengukur TFU, mendengarkan DJJ, dan secara
khusus memakai USG dan KTG. Lakukan penilaian setiap akhir minggu sejak usia
kehamilan 36 minggu. Adanya makrosomia pertumbuhan janin terhambat dan gawat
janin merupakan indikasi SC. Janin sehat dapat dilahirkan pada umur kehamilan cukup
waktu (40-42 minggu) dengan persalinan biasa.
Ibu hamil dengan DM tidak perlu dirawat bila keadaan diabetesnya terkendali
baik, namun harus selalu diperhatikan gerak janin (normalnya >20 kali/12 jam). Bila
diperlukan terminasi kehamilan, lakukan amniosentesis dahulu untuk memastikan
kematangan janin (bila UK <38 minggu). Kehamilan dengan DM yang berkomplikasi
harus dirawat sejak UK 34 minggu dan baisanya memerlukan insulin.
Penanganan pada penderita DM meliputi:

1. Diet

Penderita harus mendapatkan lebih banyak kalori karena berat badannya


bertambah menurun. Penderita DM dengan berat badan rata-rata cukup diberi diet
yang mengandung 1200-1800 kalori sehari selama kehamilan. Pemeriksaan urine
dan darah berkala dilakukan untuk mengubah dietnya apabila perlu. Diet
dianjurkan ialah karbohidrat 40%, protein 2 gr/kg berat badan, lemak 45-60gr.
Garam perlu dibatasi untuk mengurangi kecenderungan retensi air dan garam.
2. Olah raga

Wanita hamil perlu olah raga, tetapi sekedar untuk menjaga kesehatannya.
Kita tidak bisa memaksakan olah raga pada ibu hamil hanya untuk menurunkan
gula dalam darahnya.
3. Obat-obat antidiabetik
Selama kehamilan kadar darah diatur dengan antidiabetik. Pemeriksaan kadar
darah harus dilakukan lebih sering. Pemberian suntikan insulin merupakan salah
satu pengobatan bagi penderita penyakit DMG untuk mengontrol kadar gula
darahnya. Beberapa jenis obat-obat untuk penderita DM yang dapat dikonsumsi
dengan dimakan dan yang beredar di Indonesia hingga saat ini memang tidak
seluruhnya boleh diberikan pada ibu hamil, karena dapat menimbulkan efek yang
merugikan bagi janin yang dikandung. Misalnya menimbulkan cacat bawaan pada
janin.Pada trimester pertama paling sukar dilakukan pengobatan karena adanya
nausea dan vomitus. Pada timester kedua pengobatan tidak begitu sukar lagi
karena tidak perlu perubahan diet dan dosis antidiabetik. Dalam trimester ketiga
sering diperlukan lebih banyak antidiabetik karena meningginya toleransi hidrat
arang.
4. Diuretik
Jika ada hipertensi atau tanda-tanda retensi cairan dianjurkan miskin garam.
Jika ini tidak menolong dapat diberikan deuretik.
5. Steroid-steroid seks
Sekresi estrogen berkurang pada wanita hamil diabetik. Komplikasi pada
fetus berkurang jika selama kehamilan diberi estrogen dan progesteron dalan dosis
besar.
BAB IV

PENGOBATAN DIABETES MILLETUS

4.1 Penanganan Diabetes Milletus


Ada dua macam jenis terapi yaitu terapi farmakologi dan terapi non farmakologi.
Dimana pada terapi farmakologi menggunakan obat-obatan contohnya insulin,
sedangkan pada terapi non farmakologi dengan cara menurunkan berat badan,
menjaga berat badan, olah raga dimana akan menurunkan kadar gula dalam darah,
serta berhenti merokok. Terapi lain yang digunakan ada 3 macam yaitu :
1. Terapi sintomatik
Menghilangkan gejala-gejala penyakit yang ada dalam tubuh manusia.
2. Terapi kausal
Membunuh seluruh mikroorganisme yang ada dalam tubuh dengan
menggunakan antibiotik.
3. Terapi substitusi
Terapi yang lazim dibuat untuk menggantikan suatu zat yang ada dalam tubuh.
4.2 Penggolongan obat diabetes mellitus
a. Sufonilurea
Obat yang berbentuk tablet ini bekerja dengan menstimulasi sel-sel beta
dalam pankreas untuk memproduksi lebih banyak insulin. Obat ini juga membantu
sel-sel dalam tubuh menjadi lebih baik dalam mengelola insulin. Pasien yang
paling baik merespon sulfonylurea adalah pasien DM tipe 2 berusia di bawah 40
tahun, dengan durasi penyakit kurang dari lima tahun sebelum pemberian obat
pertama kali, dan kadar gula darah saat puasa kurang dari 300 mg/dL (16,7
mmol/L).
Adapun beberapa nama dagang dari jenis obat ini antara lain: Diabinese,
Daonil/ Euglocon, Diamicron, Gilbenese/ Minodia, Glurenom, Tolanase,
Rastinon.
Obat ini sebaiknya diberikan 20-30 menit sebelum makan. Beberapa jenis
obat yang mengandung sulfonylurea antara lain Tolbutamid (Rastinon),
Klorpropamida (Diabinese), Glikazida (Diamicron), Glimepirida (Amaryl),
Glibenklamid (Daonil, Euglucon), Glipizida (Aldiab, Glibinese), Glikidon
(Glurenorm).
Kebanyakan pasien bisa menerima sulfonylurea dengan baik selama 7
hingga 10 tahun sebelum efektifitasnya menurun. Untuk meningkatkan
manfaatnya, sulfonylureas bisa dikombinasikan dengan insulin dalam jumlah
kecil atau dengan obat diabetes lain seperti metformin atau thiazolidinedione.
Sulfonylurea sebaiknya tidak diberikan pada wanita hamil atau menyusui,
dan pasien-pasien yang elergi terhadap obat golongan sulfa. Efek samping utama
obat ini adalah kenaikan berat badan, dan retensi air. Meskipun sulfonylurea
memiliki risiko hipoglikemia lebih rendah dibandingkan insulin, namun
hipoglikemia yang diakibatkan sulfonylureas bisa berlangsung lama dan
berbahaya. Sulfonylureas jenis baru seperti glimipiride, memperlihatkan risiko
hipoglikemia hanya sepersepuluh dibandingkan sulfonylureas terdahulu.
Beberapa pasien juga dilaporkan mendapat risiko-meski kecil—gangguan pada
jantung.
Sulfonylureas berinteraksi dengan banyak sekali jenis obat, sehingga pasien
perlu ditanya obat-obat apa saja yang mereka konsumsi termasuk obat-obatan
alternatif.
 Monografi Obat golongan Sulfonilerea
1. Glibenklamid
Nama Paten : Daonil, Euglucon
Indikasi:
Diabetes militus pada orang dewasa, tanpa komplikasi yang tidak responsif
dengan diet saja.
Kontraindikasi:
Glibenklamida tidak boleh diberikan pada diabetes mellitus juvenil, prekoma
dan koma diabetes, gangguan fungsi ginjal berat dan wanita hamil. Gangguan
fungsi hati, gangguan berat fungsi tiroid atau adrenal. Ibu menyusui: Diabetes
militus dan komplikasi (demam, trauma, gangren), pasien yang mengalami
operasi.
Komposisi:
Tiap kaptab mengandung glibenklamida 5 mg.
Cara Kerja Obat:
Glibenklamida adalah hipoglikemik oral derivat sulfonil urea yang bekerja
aktif menurunkan kadar gula darah. Glibenklamida bekerja dengan
merangsang sekresi insulin dari pankreas. Oleh karena itu glibenklamida
hanya bermanfaat pada penderita diabetes dewasa yang pankreasnya masih
mampu memproduksi insulin. Pada penggunaan per oral glibenklamida
diabsorpsi sebagian secara cepat dan tersebar ke seluruh cairan ekstrasel,
sebagian besar terikat dengan protein plasma. Pemberian glibenklamida dosis
tunggal akan menurunkan kadar gula darah dalam 3 jam dan kadar ini dapat
bertahan selama 15 jam. Glibenklamida diekskresikan bersama feses dan
sebagai metabolit bersama urin.
Efek Samping:
Kadang-kadang terjadi gangguan saluran cerna seperti: mual, muntah dan
nyeri epigastrik. Sakit kepala, demam, reaksi alergi pada kulit.
Interaksi Obat:
- Efek hipoglikemia ditingkatkan oleh alkohol, siklofosfamid, antikoagulan
kumarina, inhibitor MAO, fenilbutazon, penghambat beta adrenergik,
sulfonamida.
- Efek hipoglikemia diturunkan oleh adrenalin, kortikosteroid, tiazida.
2. Klorpropamida
Nama paten : Diabinese
Komposisi :
Klorpropamida 100 mg; 250 mg
Indikasi :
Diabetes mellitus tanpa komplikasi tipe non ketotik ringan, sedang, dan
parah.
Kontraindikasi :
Diabetes mellitus tipe remaja dan pertumbuhan, diabetes parah atau tidak
stabil, diabetes terkomplikasi dengan ketosis dan asidosis, koma diabetik.
Efek samping :
Erupsi kulit, eritema multiform, dermatitis eksfoliatif
3. Gliklazida
Nama paten : Diamicron, Glibet
Komposisi :
Glikazida 80 mg
Indikasi :
Diabetes mellitus tipe 2, pasien dewasa tidak responsif dengan pembatasan
makanan (diet)
Kontraindikasi :
Diabetes mellitus tipe 1, diabetes mellitus dengan penyakit ketoasidosis,
koma diabetikum, operasi besar, infeksi berat, trauma berat, disfunsi berat
hati dan ginjal, kehamilan, menyusui, hipersensitivitas terhadap
sulfonilurea, pra komadiabetikum, neonatus, dan anak-anak
Efek samping :
Mual, sakit kepala, kemerahan dikulit, gangguan saluran cerna,
hipoglikemia dan reaksi hipersensitivitas.
4. Glimepirida
Nama paten : Amaryl
Komposisi :
Glimepirida 1 mg; 2 mg; 3 mg; 4 mg
Indikasi :
Diabetes mellitus tipe 2.
Kontraindikasi :
Diabetes mellitus tergantung insulin tipe I, diabetik ketoadosis, prekoma atau
koma diabetes, hipersensitivitas terhadap glimepirida, sulfonilurea lain,
sulfonamida lain; wanita hamil dan menyusui.
Efek samping :
Hipoglikemia, gangguan penglihatan
5. Glipizida
Nama paten : Aldiab, Glibinese, Glucotrol
Komposisi :
Glipizid GITS 10 mg
Indikasi :
Untuk kontrol hiperglisemia dan simptomatologi dikaitkan dengan
hiperglisemia pada pasien dengan siabetes mellitus tipe 2.
Kontraindikasi :
Hipersensitivitas, diabetes tipe I dan insufisiensi hati dan ginjal yang parah.
Efek samping :
Hipoglisemia, erupsi mukokutis, gangguan saluran cerna, gangguan hati, reaksi
hematologi.

6. Glikidon
Nama paten : Glurenorm
Komposisi :
Glikuidon 30 mg
Indikasi :
Diabetes mellitus usia lanjut dan setengah umur.
Kontraindikasi :
Diabetes mellitus remaja dan masa pertumbuhan, koma dan prakoma diabetik,
diabetes disertai asidosis, wanita hamil.
Efek samping :
Kadang-kadang timbul reaksi hipoglikemik, reaksi alergi pada kulit, dan
gangguan pada saluran cerna.
7. Tolbutamida
Nama paten :Rastinon, Recodiabet Global
Komposisi :
Tolbutamida 500 mg
Indikasi :
NIDDM ringan-sedang.
Kontraindikasi :
Diabetes mellitus tipe remaja dan pertumbuhan, diabetes parah atau tidak stabil,
diabetes terkomplikasi dengan ketosis dan asidosis, koma diabetik.
Efek samping :
Erupsi kulit, eritema multiform, dermatitis eksfoliatif
b. K-Channel Blockers
Meglitinida juga termasuk jenis obat diebetes yang bekerja dengan menstimulasi
sel-sel beta di pankreas untuk memproduksi insulin. Yang termasuk golongan
Meglitinides adalah repaglinida (Prandin), nateglinida (Starlix), dan mitiglinida.
Mekanisme aksi dan profil efek samping repaglinida hampir sama dengan
sulfonylurea. Agen ini memiliki onset yang cepat dan diberikan saat makan, dua hingga
empat kali setiap hari. Repaglinida bisa sebagai pengganti bagi pasien yang menderita
alergi obat golongan sulfa yang tidak direkomendasikan sulfonylurea. Obat ini bisa
digunakan sebagai monoterapi atau dikombinasikan dengan metformin. Harus diberikan
hati-hati pada pasien lansia dan pasien dengan gangguan hati dan ginjal.
Efek samping umum golongan meglinitide adalah diare dan sakit kepala. Sama
dengan sulfnylurea, repaglinida memilki risiko pada jantung. Jenis yang lebih baru,
seperti nateglinida, memiliki risiko sama namun lebih kecil.

 Monografi Obat golongan K-Channel Blockers


1. Repaglinida
Nama Paten :
Novonorm
Komposisi :
Repaglinid 0,5 mg; 1 mg; 2mg
Indikasi:
Diabetes mellitus tipe 2 yang tidak terkontrol dengan diet dan olah raga;
kombinasi dengan metformin; hipoglikemia lain.
Kontraindikasi:
Hipersensitivitas, ibu hamil dan menyusui, diabetes mellitus tipe I, diabetes
ketoadosis, gangguan fungsi hati dan ginjal parah.
Efek samping :
Hipoglikemia; kejadian efek tak diinginkan tidak berbeda dari yang teramati
pada insulin sekretagok oral lain.
c. Biguanida
Jenis obat ini telah digunakan lebih dari 50 tahun, dan yang dikenal antara lain
metformin. Obat ini mampu mengurangi penyerapan zat gula dari usus dan mempunyai
pengaruh yang rumit pada hati. Karena itu mereka yang punya masalah dengan hati
tidak boleh makan obat ini. Penderita dengan gangguan ginjal sebaiknya juga tidak
mengkonsumsi obat ini.
Namun yang lebih hati-hati lagi adalah penggunaan metformin pada gangguan
hati berat dan hipoksemia, dan pecandu alkohol berat maupun sedang. Pada pasien-
pasien ini, metformin bisa menyebabkan asidosis laktat, suatu kondisi yang pada 50
persen pasien bisa fatal.
Tak perlu khuatir jika tingkat gula darah menjadi turun drastis setelah minum
metformin, karena obat ini tidak merangsang dikeluarkannya insulin. Biasa diberikan
pada orang dengan berat badan lebih, karena mencegah rasa lapar dan tidak menambah
berat badan.
Efek samping obat ini antara lain; masalah pada gastrointestinal termasuk neusa
dan diare. Metformin juga mengurangi penyerapan vitamin B1 dan asam folat, yang
sangat penting mencegah gangguan jantung. Ada laporan ditemukannya asidosis laktat,
kondisi yang berpotensi mengncam jiwa, khususnya pada mereka yang memiliki faktor
risiko. Namun analisis kesluruhan menyebutkan tidak ada risiko metformin yang lebih
besar dibandingkan obat diabetes tipe 2 lain.
 Monografi Obat golongan Biguanida
1. Metformin
Nama Paten :
Gluchopage. Diabex
Komposisi :
Metformin HCl 500 mg/tablet; 850 mg/tablet forte
Indikasi:
Terapi diabetes orang dewasa yang tidak terkontrol dengan memuaskan oleh
diet dan obat lain, pengobatan utama dan tambahan, pengobatan tunggal atau
kombinasi dengan insulin atau sulfonilurea .
Kontraindikasi:
Koma diabetik dan ketoasidosis, gangguan fungsi ginjal yang serius, penyakit
hati kronis, kegagalan jantung, miokardial infark, alkoholism, keadaan penyakit
kronik atau akut berkaitan dengan hipoksia jaringan, keadaan berhubungan
dengan laktat asidosis, hipersensitivitas terhadap biguanida, komplikasi akut
diabetes mellitus dimana insulin tidak dapat diberikan, riwayat asidosis.
Efek samping :
Efek samping bersifat reversible pada saluran cerna termasuk anoreksia,
gangguan perut, mual, muntah, rasa logam pada mulut dan diare. Dapat
menyebabkan asidosis laktat tetapi kematian akibat insiden ini lebih rendah 10 -
15 kali dari fenformin dan lebih rendah dari kasus hipoglikemia yang disebabkan
oleh glibenklamid/sulfonilurea. Kasus asidosis laktat dapat dibati dengan
natrium bikorbonat. Kasus individual dengan metformin adalah anemia
megaloblastik, pneumonitis, vaskulitis.
d. Alpha-Glucosidase Inhibitors
Alpha-glucosidase inhibitor, termasuk di dalamnya acarbose (Precose,
Glucobay) dan miglitol (Glyset) memilki cara kerja mengurangi kadar glukosa dengan
menginterfensi penyerapan sari pati dalam usus.
Acarbose cenderung menurunkan kadar insulin setelah makan, yang merupakan
keuntungan khusus obat ini, karena kadar insulin yang tinggi setelah makan berkaitan
dengan pengingkatan risiko penyakit jantung.
Studi tahun 2002 juga menemukan bahwa obat ini kemungkinan bisa menunda
datangnya diabetes tipe 2 pada orang risiko tinggi. Alpha-glucosidase inhibitor tidak
seefektif obat lain bila digunakan sebagai terapi tunggal. Namun bila digunakan secara
kombinasi, misalnya dengan metformin, insulin, atau sulfonylurea, bisa meningkatkan
efektivitasnya.
Efek samping yang paling sering dikeluhkan adalah produksi gas dalam perut
dan diare, khususnya setelah konsumsi makanan tinggi kandungan karbohidrat yang
menyebabkan sepertiga pasien berhenti menggunakan obat ini. Medikasi obat ini
dilakukan saat makan. Obat ini juga kemungkinan mempengaruhi penyerapan zat besi.
 Monografi Obat golongan Penghambat-Glucosidase
1. Akarbose
Nama Paten :
Glucobay
Komposisi :
Akarbose 50 mg; 100 mg
Indikasi:
Terapi penambah untuk diet penderita diabetes mellitus
Kontraindikasi:
Hipersensitivitas, ganggusn intestinal kronis berkaitan dengan absorbsi dan
pencernaan, gangguan ginjal berat, kehamilan dan laktasi.
Perhatian:
Penigkatan enzim hati
Efek samping :
Gangguan pencernaan seperti kembung, diare, nyeri saluran cerna.
e. Thiazolidindion
Thiazolidinedione (sering juga disebut TZDs atau glitazone) berfungsi
memperbaiki sensitivitas insulin dengan mengaktifkan gen-gen tertentu yang terlibat
dalam sintesa lemak dan metabolisme karbohidrat. Thiazolidinedione tidak
menyebabkan hipoglikemia jika digunakan sebagai terapi tunggal, meskipun mereka
seringkali diberikan secara kombinasi dengan sulfonylurea, insulin, atau metformin.
Beberapa studi menunjukkan thiazolidinediones mengakibatkan berbagai efek
baik pada jantung, termasuk penurunan tekanan darah dan peningkatan trigliserida dan
kadar kolesterol (termasuk peningkatan kadar HDL, yang dikenal sebagi kolesterol
baik). Obat ini juga meredam molekul yang disebut 11Best HSK-1 yang berperan
penting pada sindrom metabolik (kondisi pre diabetes, termasuk tekanan darah tinggi
dan obesitas) dan diabetes melitus tipe 2.
Rosiglitazone (Avandia) dan pioglitazone (Actos) adalah obat dari golongan
thiazolidinedione yang sudah disetujui. Salah satu studi meyakini rosiglitazone bisa
memperbaiki fungsi sel beta dan membantu mencegah progresivitas diabetes. Tetapi,
di balik manfaatnya yang besar, efek samping obat golongan ini pun
mengkhawatirkan.
Thiazolidinediones bisa menyebabkan anemia dan bersama obat diabetes oral
lainnya bisa menaikkan berat badan meski masih dalam skala moderat. Obat ini juga
meningkatkan risiko peningkatan cairan yang akan memperburuk gagal jantung.
Faktanya, troglitazone (Rezulin), agen pertama golongan ini ditarik dari pasaran
setelah ditemukan laporan gagal jantung, gagal hati, dan kematian. Tetapi
thiazolidinedione saat ini tidak menunjukkan efek yang sama pada hati meskipun ada
beberapa laporan liver injury.
Pasien yang mendapat thiazolidinedione harus dimonitor secara teratur
menyusul studi tahun 2002 yang menemukan insiden cukup tinggi gagal jantung pada
pasien yang menggunakan obat ini. Meski studi ini tidak dibuktikan dengan relasi
penyebab dan ada dugaan temuan gagal jantung terjadi pada pasien yang memang
sudah mengidapnya, namun studi lebih lanjut tetap diperlukan. Beberapa pasien yang
mengalami kenaikan berat badan dengan cepat, retensi cairan, atau napas pendek harus
dipantau lebih ketat. Obat jenis ini belum diteliti secara intensif dan para ahli meyakni
seharusnya tidak digunakan secara rutin untuk manajemen diabetes melitus tipe 2,
hanya dalam konteks studi klinis.
 Monografi Obat golongan Tiazolidindion
1. Pioglitazon
Nama Paten :
Actos takeda pharmaceutical
Komposisi :
Pioglitazon 15 mg; 30 mg
Indikasi:
Hiperglikemia
Kontraindikasi:
Hipersensitivitas terhadap pioglitazon
Efek samping :
Udem, sakit kepala, hipoglikemia, mialgia, faringitis, sinusitis, gangguan gigi,
infeksi saluran pernapasan atas.
Peringatan :
Hentikan terapi jika ditemukan gangguan hati, gangguan jantung, kehamilan.
Interaksi :
Alovartastin dan ketokonazol mempengaruhi pioglitazon dan pioglitazon
mempengaruhi atorvastatin, midazolam, nifedipine, kontrasepsi oral.
2. Rosiglitazon
Nama Paten :
Avandia Glaxo Smith Kline
Komposisi :
Rosiglitazon
Indikasi:
Hiperglikemia
Kontraindikasi:
Hipersensitivitas terhadap rosiglitazon
Efek samping :
Nyeri punggung, sakit kepala, hiperglikemia, luka, sinusitis, anemia, ketika
digunakan bersamaan dengan metformin, udem ketika digunakan bersamaan
dengan insulin.
Peringatan :
Hentikan terapi jika ditemukan gangguan hati, gangguan jantung, kehamilan.
BAB V
PENUTUP
5.1 KESIMPULAN

Diabetes mellitus pada kehamilan adalah intoleransi karbohidrat ringan (toleransi


glukosa terganggu) maupun berat (DM), terjadi atau diketahui pertama kali saat
kehamilan berlangsung. Definisi ini mencakup pasien yang sudah mengidap DM
(tetapi belum terdeteksi) yang baru diketahui saat kehamilan ini dan yang benar-benar
menderita DM akibat hamil.
Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbohidrat yang
menunjang pemasokan makanan bagi janin serta persiapan untuk menyusui. Glukosa
dapat berdifusi secara tetap melalui plasenta kepada janin sehingga kadarnya dalam
darah janin hampir menyerupai kadar darah ibu. Insulin ibu tidak dapat mencapai janin
sehingga kadar gula ibu yang mempengaruhi kadar pada janin. Pengendalian kadar
gula terutama dipengaruhi oleh insulin, disamping beberapa hormon lain : estrogen,
steroid dan plasenta laktogen. Akibat lambatnya resopsi makanan maka terjadi
hiperglikemi yang relatif lama dan ini menuntut kebutuhan insulin.
Pada saat kehamilan kesehatan ibu dan janin adalah sangat penting dan saling
mempengaruhi. Kondisi janin yang baik sangat diperlukan tetapi keselamatan ibu
menjadi prioritas utama. Idealnya pengobatan ibu dengan obat-obatan, pemeriksaan
diagnostik dan pembedahan perlu dihindarkan pada ibu hamil, tetapi bila diperlukan
dapat dilakukan.
Diabetes mellitus merupakan komplikasi medis yang paling umum terjadi selama
kehamilan. Pengendalian kadar glukosa darah adalah hal penting selama kehamilan.
Pada pasien yang telah menderita DM sebelumnya jika kemudian hamil maka akan
cukup rawan untuk terjadi komplikasi pada janin yang dikandung, dan juga kesehatan
si ibu dapat memburuk apabila terjadi komplikasi-komplikasi diabetik.
DAFTAR PUSTAKA

1. International Diabetes Federation (IDF). IDF Diabetes Atlas


Sixth Edition, International Diabetes Federation (IDF). 2013.
2. Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS).2013.
3. P.B. PERKENI (2011) Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan DM Tipe 2 di
Indonesia 2011 Jakarta: PERKENI
4. http :// http://iyankchemiztry.blogspot.com/2010/12/diabetes-mellitus.html
diakses tgl 30 juni2018
5. American Diabetes Association (ADA) (2010). Standards of Medical Care In
Diabetes Diabetes Care.; 30: 65-73. [www.carediabetesjournals.org]. diakses
pada tanggal 22 januari 2015
6. WHO (2007).Risk Factor blood preasure.World Health Organization
7. Tjokroprawiro, Askandar dkk (2007)Diabetes mellitus, Buku ajaqr Penyakit
Dalam Fakultas Kedokteran Airlangga Rumah Sakit Pendidikan Dr. Soetomo
Surabaya, cetakan 1, Airlangga University press, Surabaya ,p.32-38,4670
8. Akhtyo, (2009).Senam Kaki Diabetes Mellitus.http:www
Akhtyo.blogspot.com//Senam-kakidiabetes mellitus. Diakses pada tanggan 30
juni 2018.