Anda di halaman 1dari 9

ALUR KEGAWAT DARURATAN

No Dokumen No Revisi Halaman


01 / IGD/ 03/ 2017 1/2
Ditetapkan Direktur RSU El-Syifa

Tanggal Terbit
SPO 01 Maret 2017

dr. Loudry Amsal Elfa Gustanar


NIK. 1111. RSES. 102
PENGERTIAN
TUJUAN
KEBIJAKAN
PROSEDUR 1. Perawat menerima pasien, kemudian catat identitas lengkapan
dan jelas dan informed concernt
2. Perawat melakukan anamnesa (auto dan hetero anamnesa)
3. Perawat melakukan pemeriksaan GCS, TTV (T, N, RR, S)
dan pemeriksaan fisik awal
4. Pengelompokan pasien dan diagnosa awal
a. Gawat darurat : memerlukan tindaklan segera dan
mengancam jiwa
b. Gawat non darurat : memerlukan tindakan segera tapi tidak
mengancam jiwa
c. Non gawat darurat : tidak urgent tindakan segera dan tidak
mengancam jiwa
5. untuk non gawat non darurat boleh diberi terapi simptomatis
(berdasar gejala) dan disarankan jika sakit berlanjut bisa
berobat lagi besok ke UGD/ BP
6. untuk gawat darurat dan gawat non darurat, perawat
menghubungi dokter jaga pada hari tersebut dan melaporkan
kondisi terakhir pasien dan boleh melakukan tindakan awal
pertolongan pertama/ baik live support (BLS) meliputi :
a. Air way
1) bebaskan jalan nafas
NO. DOKUMEN : NO. REVISI : HALAMAN :
01/ IGD/ 03/ 2017 2/2

2) jaw trust, chin lift dan hipereksten


3) bersihkan jalan nafas dari sumbatan ( secret, benda
asing)
b. Breathing
1) nafas buatan
2) pasang oksigen jika perlu
c. Circulation
1) tensi dan nadi turun, pasang infuse
2) monitor produksi urine, pasang kateter bila perlu
7. bila diperlukan doketr jaga harus datang guna pemeriksaan
dan tindakan lebih lanjut
8. pasien/ keluarga melengkapi administrasi
9. semua pemeriksaan, tindakan, terapi dan rujukan dengan
lengkap pada status pasien.
UNIT
TERKAIT
OBSERVASI PASIEN GAWAT
No Dokumen No Revisi Halaman
/ IGD/ 03/ 2017 1/1
Ditetapkan Direktur RSU El-Syifa

Tanggal Terbit
SPO 01 Maret 2017

dr. Loudry Amsal Elfa Gustanar


NIK. 1111. RSES. 102
PENGERTIAN Memantau keadaan pasien gawat
TUJUAN Sebagai acuan pemantauan/ observasi penderita gawat agar
selamat jiwanya
KEBIJAKAN 1. Pelayanan yang cepat dan tepat akan menyelamatkan jiwa
seseorang.
2. Pelaksanaan dilakukan oleh perawat, ataupun oleh dokter.
PROSEDUR a. Persiapan Alat
1) Stetoskope
2) Tensimeter
3) Thermometer
4) Stop watch/ jam
5) Senter
b. Penatalaksanaan
1) Menjelaskan tujuan pada keluarga pasien.
2) Membawa alat-alat ke dekat pasien.
3) Mengobservasi kondisi pasien tiap 5 – 15 menit sesuai
dengan tingkat kegawatannya
4) Hal-hal yang perlu diobservasi

UNIT
TERKAIT
MENGHENTIKAN PERDARAHAN
No Dokumen No Revisi Halaman
03 / IGD/ 03/ 2017 1/3
Ditetapkan Direktur RSU El-Syifa

Tanggal Terbit
SPO 01 Maret 2017

dr. Loudry Amsal Elfa Gustanar


NIK. 1111. RSES. 102
PENGERTIAN Suatu tindakan untuk menghentikan perdarahan baik pada kasus
bedah maupun non bedah.
TUJUAN Mencegah terjadinya syok
KEBIJAKAN Pelaksanaan dilakukan oleh perawat, ataupun oleh dokter.
PROSEDUR a. Persiapan alat
1) Alat pelindung diri (masker, sarung tangan, scort)
2) Balut tekan
3) Kain kasa steril
4) Sarung tangan
5) Tourniquet
6) Plester
7) Set untuk menjahit luka
8) Obat desinfektan
9) Spuit 20-50 cc
10) Waskom berisi air/NaCl 0,9 % dingin
11) Jelly
b. Pelaksanaan tindakan
Memakai masker, sarung tangan, scort
Perawat I
1) Menekan pembuluh darah proximal dari luka, yang dekat
dengan permukaan kulit dengan menggunakan jari tangan.
2) Mengatur posisi dengan cara meninggikan daerah yang luka
Perawat II
1) Mengatur posisi pasien
2) Memakai sarung tangan kecil
NO. DOKUMEN : NO. REVISI : HALAMAN :
03/ IGD/ 03/ 2017 2/3

3) Meletakkan kain kasa steril di atas luka, kemudian ditekan


dengan ujung-ujung jari
4) Meletakkkan lagi kain kasa steril di atas kain kasa yang
pertama, kemudian tekan dengan ujung jari bila perdarah
masih berlangsung. Tindakan ini dapat dilakukan secara
berulang sesuai kebutuhan tanpa mengangkat kain kasa yang
ada.
5) Menekan balutan
6) Meletakkan kain kasa steril di atas luka
7) Memasang verband balut tekan, kemudian letakkan benda
keras (verband atau kayu balut) di atas luka
8) Membalut luka dengan menggunakan verband balut tekan
9) Memasang tourniquet untuk luka dengan perdarahan hebat
dan trumatik amputasi
10) Menutup luka ujung tungkai yang putus (amputasi) dengan
menggunakan kain kasa steril
11) Memasang tourniquet lebih kurang 10 cm sebelah proximal
luka, kemudian ikatlah dengan kuat
12) Tourniquet harus dilonggarkan setiap 15 menit sekali secara
periodic
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pemasangan
tourniquete :
- Pemasangan tourniquet merupakan tindakan terakhir
jika tindakan lainnya tidak berhasil
- Hanya dilakukan pada keadaan amputasi atau sebagai
“live saving”
- Selama melakukan tindakan, perhatikan :Kondisi pasien
dan tanda-tanda vital, ekspresi wajah, perkembangan
pasien
NO. DOKUMEN : NO. REVISI : HALAMAN :
03/ IGD/ 03/ 2017 3/3

UNIT
TERKAIT
PENATALAKSANAAN HEACTING
No Dokumen No Revisi Halaman
04 / IGD/ 03/ 2017 1/2

Ditetapkan Direktur RSU El-Syifa

Tanggal Terbit
SPO 01 Maret 2017

dr. Loudry Amsal Elfa Gustanar


NIK. 1111. RSES. 102
PENGERTIAN Heacting adalah penjahitan luka terbuka
TUJUAN Sebagai acuan penatalaksanaan penjahitan sampai luka tertutup
oleh jahitan unutk menghindari infeksi lanjutanan
KEBIJAKAN
PROSEDUR a. Persiapan alat
1) Alat pelindung diri (masker, sarung tangan, scort)
2) Balut tekan
3) Kain kasa steril
4) Sarung tangan
5) Tourniquet
6) Plester
7) Set untuk menjahit luka
8) Obat desinfektan
9) Spuit 20-50 cc
10) Waskom berisi air/NaCl 0,9 % dingin
11) Jelly
b. Pelaksanaan tindakan
Memakai masker, sarung tangan, scort
Perawat I
1) Menekan pembuluh darah proximal dari luka, yang dekat
dengan permukaan kulit dengan menggunakan jari
tangan.
2) Mengatur posisi dengan cara meninggikan daerah yang
luka.
NO. DOKUMEN : NO. REVISI : HALAMAN :
04/ IGD/ 03/ 2017 2/2

Perawat II
1) Mengatur posisi pasien
2) Memakai sarung tangan kecil
3) Meletakkan kain kasa steril di atas luka, kemudian
ditekan dengan ujung-ujung jari
4) Meletakkkan lagi kain kasa steril di atas kain kasa yang
pertama, kemudian tekan dengan ujung jari bila perdarah
masih berlangsung. Tindakan ini dapat dilakukan secara
berulang sesuai kebutuhan tanpa mengangkat kain kasa
yang ada
5) Menekan balutan
6) Meletakkan kain kasa steril di atas luka
7) Memasang verband balut tekan, kemudian letakkan
benda keras (verband atau kayu balut) di atas luka
8) Membalut luka dengan menggunakan verband balut
tekan
9) Memasang tourniquet untuk luka dengan perdarahan
hebat dan trumatik amputasi
10) Menutup luka ujung tungkai yang putus (amputasi)
dengan menggunakan kain kasa steril
11) Memasang tourniquet lebih kurang 10 cm sebelah
proximal luka, kemudian ikatlah dengan kuat
12) Tourniquet harus dilonggarkan setiap 15 menit sekali
secara periodic
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pemasangan
tourniquete :
- Pemasangan tourniquet merupakan tindakan terakhir
jika tindakan lainnya tidak berhasil.
UNIT
TERKAIT