Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM MEKANIKA FLUIDA I

MODUL 6

PERIODE I (2019/2020)

KELOMPOK V

Nama Mahasiswa/NIM : Givson Gabriel/104118029

PROGRAM STUDI TEKNIK SIPIL

FAKULTAS PERENCANAAN INFRASTRUKTUR

UNIVERSITAS PERTAMINA

2019
PENGUKURAN KEHILANGAN ENERGI PADA PIPA

Arya Fadila Fergiawan5, Fira Riska Syahrun5, Givson Gabriel5*, Hans Kelsen
Christian Hutajulu5, Muhammad Daffa Firdian5, Nabiela Puspaningtyas5

5
Program Studi Teknik Sipil, Fakultas Perencanaan Infrastruktur,

Universitas Pertamina

*Coressponding author: givsong@gmail.com

Abstrak : Pada praktikum yang dilaksanakan pada tanggal 22 Oktober 2019 kita melakukan sebuah
penelitian mengenai Pengukuran Kehilangan Energi Pada Pipa. Dengan tujuan mengetahui penyebab
terjadinya kehilangan energi pada sistem perpipaan, jenis aliran yang dihasilkan, dan kehilangan energi
yang didapatkan. Fluida yang kita gunakan yaitu air. Lalu kita mendapatkan hasil bahwa kehilangan energi
terpengaruh dengan besarnya nilai bilangan Reynolds dan kekasaran relatif
Kata Kunci : Kehilangan Energi, Pipa, Jenis Aliran, Jenis Kehilangan Energi, Fluida.

Abstract : In the practicum that we have done on October 22nd, 2019 we conducted a
study on the Measurement of Headloss in Pipes. With the aim of knowing the causes of
the headloss in the piping system, the type of flow produced, and the headloss obtained.
The fluid we use is water. Then we get the result that headloss is affected by the magnitude
of the Reynolds number and relative roughness
Keywords: Headloss, Pipes, Flow Types, Headloss Types, Fluid.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam melakukan pengamatan kajian ilmu fisika, kita pasti perlu
adanya pengukuran, seperti pengukuran yang ditimbulkan dari sebuah
alat. Salah satunya kehilangan energi pada sistem perpipaan. Kehilangan
energi pada sistem perpipaan terjadi karena gesekan aliran air dengan
permukaan pipa dan gesekan antar partikel fluida itu sendiri. Faktor yang
menyebabkan kehilangan energi pada sistem perpipaan bergantung pada
besar Bilangan Reynold dan kekasaran relatif.
Pada laporan ini kami membahas pengukuran yang terkesan tidak
terlalu penting, tetapi sebenarnya perlu kita kaji, terlebih untuk
perhitungan hidrolisis. Selain mengetahui penyebab terjadinya kehilangan
energi pada sistem perpipaan, jenis aliran akibat kehilangan energi pada
pipa dan jenis kehilangan pada setiap perlakuan bukaan katupnya pun
kami bahas pada laporan ini. Untuk itulah dibuat makalah ini dalam
memudahkan pemahaman mengenai kehilangan energi pada sistem
perpipaan.
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana bisa terjadi kehilangan energi pada sistem perpipaan?
b. Bagaimana cara mengetahui jenis aliran yang terjadi pada pipa yang
mengalami kehilangan energi?
c. Apa hubungan dari kehilangan energi dengan setiap perlakuan bukaan
katup?

1.3 Tujuan
a. Mengetahui penyebab terjadinya kehilangan pada sistem perpipaan.
b. Mengetahui jenis aliran yang terjadi pada pipa yang mengalami
kehilangan energi.
c. Mendapatkan hubungan dari kehilangan energi pada setiap perlakuan
bukaan katup.
1.4 Dasar Teori
Headloss adalah kerugian energi per satuan berat fluida dalam pengaliran
cairan dalam sistem perpipaan yang tidak dapat dihindari, atau headloss dapat
didefinisikan sebagai kehilangan energi mekanik persatuan massa fluida.
Headloss terdiri dari Mayor Headloss (Major Losses) dan Minor Headloss
(Minor Losses). Hal yang menyebabkan kehilangan energi yaitu gesekan
antara zat cair dengan dinding pipa serta gesekan antar partikel-partikel fluida
yang bergantung pada besarnya bilangan Reynold untuk faktor gesekan dan
kekasaran relatif pada permukaan pipa. Hubungan antara Re dan 𝜀/D dengan
f dapat dilihat pada diagram Moody.
Persamaan Headloss:

𝑉2
𝐻𝐿 = 𝐾𝐿 · 2·𝑔 (persamaan 1.1)

*keterangan :

HL = tinggi energi yang hilang (m)

KL = koefisien kecepatan

V = kecepatan (m/s)

g = gravitasi (m/s2)

F = fungsi (Re,𝜀/D) (persamaan 1.2)


Major losses adalah kerugian pada aliran dalam pipa yang disebabkan oleh
friksi yang terjadi disepanjang aliran fluida yang mengalir terhadap
dinding pipa. Besarnya major losses ditentukan oleh fungsi f (friction factor),
V (rata-rata kecepatan fluida), L (panjang pipa), D (diameter pipa), e (nilai
kekasaran pipa), μ (viskositas fluida), ρ (densitas fluida).

Persamaan Major Losses :

𝐿 𝑉2
𝐻𝐿 = 𝑓 · 𝐷 · 2·𝑔 (persamaan 1.3)

*keterangan :

HL = tinggi energi yang hilang (m)

KL = koefisien kecepatan

f = friction factor

V = kecepatan (m/s)

g = gravitasi (m/s2)

D = diameter (m)

Minor losses merupakan kerugian head pada fitting dan valve yang
terdapat sepanjang sistem perpipaan.
Dalam sistem perpipaan pun dikenal dengan kehilangan tekanan akibat
aksesoris pipa.Perlengkapan pipa secara umum terdiri dari sambungan (fittin
g) pipa seperti penyempitan, belokan (elbow), saringan (strainer),
losses pada bagian entrance, losses pada bagian exit, pembesaran pipa
(expansion), pengecilan pipa (contraction) percabangan (T joint; V joint ),
percabangan (tee) dan katup (valve). Dalam jaringan perpipaan kehilangan
tekanan ini jauh lebih kecil daripada kehilangan akibat gesekkan di dalam
pipa.
Persamaan Minor Losses :

(𝑉1 −𝑉2 )2
𝐻𝐿 = 𝑓 · (persamaan 1.4)
2·𝑔

*keterangan :

HL = tinggi energi yang hilang (m)

KL = koefisien kecepatan

f = friction factor

g = gravitasi (m/s2)

V = kecepatan (m/s)

Gambar 1.1 Diagram Moody


METODE PENELITIAN

2.1 Alat dan Bahan


Alat yang kami gunakan pada praktikum modul 6 ini yaitu pipe
friction apparatus, hydraulic bench, stopwatch, bak penampang, dan
termometer.
Untuk bahan yang kami gunakan adalah fluida jenis air.

Gambar 2.1 Stopwatch Gambar 2.2 Termometer Gambar 2.3 Pipe


Friction Apparatus
dan Bak Penampang

Gambar 2.4 Hydraulic Bench Gambar 2.5 Tabung Ukur

2.2 Cara Kerja


Sebelum memulai praktikum, pastikan alat dan bahan terlebih dahulu.
Setelah itu, pancing pompa pada hydraulic bench hingga aliran konstan.
Setelah aliran konstan, matikan hydraulic bench dan ganti selang pancing
dengan selang apparatus. Pastikan kran output sesuai dengan perlakuan,
pada praktikum kali ini kelompok kami mendapatkan perlakukan
1⁄ , 1, dan 1 1⁄ . Nyalakan hydraulic bench dan sesuaikan bukaan katup
2 2
untuk menghasilkan aliran lambat melalui pipa. Buka kran output sesuai
dengan perlakuan. Lalu, catat nilai skala pada piezometer dan ukur
volume, waktu dan suhu aliran keluar. Lakukan prosedur untuk setiap
perlakuan yang berbeda.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil

Tabel 3.1 Data Hasil Pengamatan


Pembacaan Head
Panjang Diameter Suhu Viskositas
Volume Waktu Manometer Loss
Perlakuan Pipa Pipa Air Kinematik
(𝒎𝟑 ) (t) 𝟐 𝑯𝟏 𝑯𝟐 (∆H)
(L) (D) (˚C) (𝒎 ⁄𝒔)
(mm) (mm) (m)
1⁄ 0,5 m 3 x 10-3 m 100 x 10-6 43,69 s 30 0,802 x 10-6 284 228 0,056
2
1 0,5 m 3 x 10-3 m 100 x 10-6 36,37 s 30 0,802 x 10-6 293 218 0,075
1 1⁄2 0,5 m 3 x 10-3 m 100 x 10-6 31,01 s 30 0,802 x 10-6 300 207 0,093

Tabel 3.2 Data Hasil Pengamatan

Debit Kecepatan Faktor Bilangan


Ln Ln Ln Ln Ln Ln
(Q) (V) Friksi Reynold ∆Hf
f Re h V Hf Q
(m3/s) (m/s) (f) (Re)
2,21 x 10-6 0,312 0,054 1167,08 -2,91 7,06 -2,88 -1,16 0,044 -3,12 -13,02
2,75 x 10-6 0,389 0,044 1455,11 -3,12 7,28 -2,59 -0,94 0,056 -2,88 -12,80
3,22 x 10-6 0,455 0,037 1701,99 -3,29 7,43 -2,37 -0,78 0,065 -2,73 -12,65
Gambar 3.1 Pembacaan Skala Gambar 3.2 Pembacaan Skala Gambar 3.3 Pembacaan Skala
Hasil Perlakuan ½ Hasil Perlakuan 1 Hasil Perlakuan 1 ½

Gambar 3.4 Pembacaan Skala


Temperatur

3.2 Pembahasan

3.2.1 Perlakuan ½
• Luas Penampang
1
𝐴= · 𝜋 ∙ 𝑑2
4
1
= · 𝜋 ∙ 0,0032
4

= 7,069 x 10−6 m2
• Ketinggian Head Loss

∆H = 𝐻1 − 𝐻2

= 284 − 228

= 56 mm
56
= 1000

= 0,056 m

• Debit
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
𝑄=
𝑡

100 𝑥 10−6
=
43,69

= 2,21 𝑥 10−6 m3/s


• Kecepatan
𝑄
𝑉=
𝐴
2,21 10−6
=
7,069 𝑥 10−6
= 0,312 m/s
• Bilangan Reynold
𝑉·𝐷
𝑅𝑒 =
𝑉𝑖𝑠𝑘𝑜𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐾𝑖𝑛𝑒𝑚𝑎𝑡𝑖𝑘
0,312·0,003
= 0,802 𝑥 10−6

= 1167,08
• Faktor Friksi
64
𝑓=
𝑅𝑒
64
= 1167,08

= 0,054
• ∆Hf

𝑓·𝐿·𝑉 2
∆Hf = 2·𝑔·𝐷

0,054·0,5·0,3122
= 2·9,81·0,003

= 0,044
3.2.2 Pelakuan 1

• Luas Penampang
1
𝐴= · 𝜋 ∙ 𝑑2
4
1
= · 𝜋 ∙ 0,0032
4

= 7,069 x 10−6 m2
• Ketinggian Head Loss

∆H = 𝐻1 − 𝐻2

= 293 − 218

= 75 mm

75
= 1000

= 0,075 m

• Debit
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
𝑄=
𝑡

100 𝑥 10−6
= 36,37

= 2,75 𝑥 10−6 m3/s


• Kecepatan
𝑄
𝑉=
𝐴
2,75 𝑥 10−6
=
7,069 𝑥 10−6
= 0,389 m/s
• Bilangan Reynold
𝑉·𝐷
𝑅𝑒 =
𝑉𝑖𝑠𝑘𝑜𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐾𝑖𝑛𝑒𝑚𝑎𝑡𝑖𝑘
0,389·0,003
= 0,802 𝑥 10−6

= 1455,11
• Faktor Friksi
64
𝑓=
𝑅𝑒
64
= 1455,11

= 0,044
• ∆Hf
𝑓·𝐿·𝑉 2
∆Hf =
2·𝑔·𝐷

0,044·0,5·0,3892
= 2·9,81·0,003

= 0,056

3.2.3 Perlakuan 1 ½

• Luas Penampang
1
𝐴= · 𝜋 ∙ 𝑑2
4
1
= · 𝜋 ∙ 0,0032
4

= 7,069 x 10−6 m2
• Ketinggian Head Loss

∆H = 𝐻1 − 𝐻2

= 300 − 207

= 93 mm

93
= 1000

= 0,093 m

• Debit
𝑉𝑜𝑙𝑢𝑚𝑒
𝑄=
𝑡

100 𝑥 10−6
= 31,01
= 3,22 𝑥 10−6 m3/s
• Kecepatan
𝑄
𝑉=
𝐴
3,22 10−6
=
7,069 𝑥 10−6
= 0,455 m/s
• Bilangan Reynold
𝑉·𝐷
𝑅𝑒 =
𝑉𝑖𝑠𝑘𝑜𝑠𝑖𝑡𝑎𝑠 𝐾𝑖𝑛𝑒𝑚𝑎𝑡𝑖𝑘
0,455·0,003
= 0,802 𝑥 10−6

= 1701,99
• Faktor Friksi
64
𝑓=
𝑅𝑒
64
= 1701,99

= 0,037
• ∆Hf
𝑓·𝐿·𝑉 2
∆Hf = 2·𝑔·𝐷

0,037·0,5·0,4552
= 2·9,81·0,003

= 0,065
Grafik 3.1 Perbandingan antara Grafik 3.2 Perbandingan antar

Ln f (sb-x) terhadap Ln Re (sb-y) Ln h (sb-x) terhadap Ln V (sb-y)


7.5 1.4
1.2
7.4
1
7.3 0.8
7.2 0.6
0.4
7.1 0.2
7 0
2.8 2.9 3 3.1 3.2 3.3 3.4 0 1 2 3 4

Grafik 3.3 Perbandingan antara

Ln Hf (sb-x) terhadap Ln Q (sb-y)


13.1

13

12.9

12.8

12.7

12.6
2.7 2.8 2.9 3 3.1 3.2

Hasil dari perbandingan faktor friksi (f) secara eksperimen untuk setiap
percobaan pada pipa stainless steel mengalami perbedaan hasil dengan teori yang
didapatkan dari membaca diagram Moody. Untuk perlakuan ½ berdasarkan
ekperimen didapatkan hasil 0,054, sedangkan secara teori didapatkan hasil 0,056.
Untuk perlakuan 1 berdasarkan ekperimen didapatkan hasil 0,044, sedangkan
secara teori didapatkan hasil 0,043. Untuk perlakuan 1½ berdasarkan ekperimen
didapatkan hasil 0,037, sedangkan secara teori didapatkan hasil 0,038. Walaupun
perbedaan yang didapatkan pada interval yang kecil (0,001 - 0,002), perbedaan
hasil tersebut dimungkinkan karena ketidak telitian dalam pengamatan skala hasil
dan kesalahan pengukuran dalam praktikum.
Diketahui, bahwa headloss berbanding lurus dengan faktor gesek (f) dan
panjang pipa (L). Faktor gesek bergantung pada besarnya bilangan Reynold dan
kekasaran relatif permukaan pipa. Namun, headloss berbanding terbalik dengan
diameter pipa (D). Sesuai dengan alur grafik perbandingan ln f (sumbu x) terhadap
ln Re(sumbu y), didapatkan bahwa semakin besar nilai faktor friksi maka semakin
besar juga nilai bilangan Reynold (sesuai dengan teori, faktor gesek berbanding
lurus dengan bilangan Reynold). Pada grafik perbandingan ln h (sumbu x)
terhadap ln V (sumbu y), didapatkan bahwa semakin besar nilai ketinggian
kehilangan energi maka nilai kecepatan pun semakin besar. Pada grafik
perbandingan ln Hf (sumbu x) terhadap ln Q (sumbu y), didapatkan bahwa
semakin besar nilai kehilangan energi maka nilai debitnya pun semakin tinggi.
Sebagai keterangan, bahwa nilai negatif yang didapatkan pada hasil dimutlakkan
menjadi positif saat diplotkan kedalam grafik.

KESIMPULAN

Penyebab terjadinya headloss pada sistem perpipaan karena adanya gaya


gesek yang ditimbulkan antara aliran fluida dengan permukaan pipa, sehingga
terjadi kehilangan energi pada pergerakan fluida tersebut. Selain dari faktor
ekternal, faktor internal pun menjadi pengaruh terjadinya kehilangan energi, yaitu
pergesekan antar partikel-partikel fluida tersebut yang bertabrakan satu sama lain
dan menghasilkan gaya gesek karenanya.

Jenis aliran pada aliran yang kehilangan energi pun dapat dianalisa dari
besarnya nilai bilangan Reynolds yang dihasilkan. Sebagaimana kita ketahui,
aliran jenis laminar berada pada nilai bilangan Reynolds dibawah 2000, untuk
aliran jenis transisi berada pada interval nilai bilangan Reynolds 2000 – 4000, dan
untuk aliran jenis turbulen berada pada nilai bilangan Reynold diatas 4000. Pada
praktikum kali ini, kita mendapatkan nilai bilangan Reynold yang berbeda pada
setiap perlakuan bukaan katup yang berbeda. Pada bukaan katup ½ kita dapatkan
besar nilai bilangan Reynold 1167,08 (aliran laminar), bukaan katup 1 kita
dapatkan besar nilai bilangan Reynold 1455,11 (aliran laminar), dan bukaan katup
1 ½ kita dapatkan besar nilai bilangan Reynold 1701,99 (aliran laminar).
Terdapat jenis-jenis headloss, yaitu headloss mayor (primer)
dan headloss minor (sekunder) yang dapat dilihat dari penyebab
terjadinya headloss itu sendiri. Headloss mayor disebabkan oleh gesekan
antara fluida dan pipa sedangkan headloss minor disebabkan karena adanya
aksesoris seperti belokan, katup, penyempitan, ataupun pelebaran.
Semakin besar bukaan katup, maka headloss akan semakin besar. Dan
untuk praktikum kali ini, didapatkan bahwa jenis headloss pada
setiap perlakuan, yaitu mayor headloss.
DAFTAR PUSTAKA

Darmadi, Indra (2017). FENOMENA KEHILANGAN ENERGI PADA PIPA


MENGGUNAKAN PENDEKATAN MODEL FISIKA SKALA LABORATORIUM
ABSTRAK. Diakses dari https://docplayer.info/43941222-Fenomena-kehilangan-
energi-pada-pipa-menggunakanpendekatanmodel-fisik-skala-laboratorium-abstrak.html

Darmali, Iwan (2018). PENGUKURAN KEHILANGAN ENERGI AKIBAT


BELOKAN DAN KATUP (MINOR LOSSES) diakses dari
https://docplayer.info/73052939-Bab-iv-pengukuran-kehilangan-energi-akibat-belokan-
dan-katup-minor-losses.html

Fitriani, Liska Feby (2016). KEHILANGAN ENERGI DALAM SISTEM PERPIPAAN.


Diakses dari
https://www.academia.edu/32188166/LAPORAN_PRAKTIKUM_HIRDROLIKA_I_K
EHILANGAN_ENERGI

Hasby, Farisah Inarah Rahmat (2 Nov 2017). KEHILANGAN ENERGI DALAM


SISTEM PERPIPAAN. Diakses dari
https://www.coursehero.com/file/27907618/LAPORAN-PRAKTIKUM-MODUL-
04docx/

Larasati, Nani Dwi (15 Nov 2012). KEHILANGAN TEKANAN (ENERGI) PADA
ALIRAN DALAM PIPA MELALUI LENGKUNGAN, PERUBAGAN PENAMPANG
DAN KATUP. Diakses dari https://www.scribd.com/document/113354950/laporan-
mekflu

Munir, Najla Atiqadhia (1 Mar 2018). KEHILANGAN ENERGI DALAM SISTEM


PERPIPAAN. Diakses dari https://www.scribd.com/document/372711146/Laporan-
Praktikum-Mekanika-Fluida-Modul-4

Simanjuntak, Ir. Salomo, MT (2010). KEHILANGAN ENERGI PADA PIPA BAJA


DAN PIPA PVC. Diakses dari
https://akademik.uhn.ac.id/portal/public_html/TEKNIK/SIPIL/Salomo_Simanjuntak/Ke
hilangan_Energi_Pada%20Pipa_Baja_dan_Pipa_Pv
LAMPIRAN

Gambar 6.1 Data Hasil Perhitungan

Anda mungkin juga menyukai