Anda di halaman 1dari 4

UJIAN TENGAH SEMESTER

“PERSAINGAN INDUSTRI MIE INSTAN DI INDONESIA”

Manajemen Strategi

Dosen Pengampu :

Dr. Drs. Zakhyadi Ariffin M.Si

Dibuat Oleh :

Leonardo William Prawiranata

1710313310041

S1-Akuntansi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Lambung Mangkurat

2019
KASUS MIE INSTAN DI INDONESIA

1. Jelaskan apakah industri mie instan di Indonesia memberikan peluang untuk


mendapatakan Above-Average Return bagi perusahaan yang akan memasuki industri ini?
Jelaskan alasan jawaban anda!
Jawab : Menurut saya, industri mie instan SANGAT BERPELUANG bagi perusahaan
untuk memperoleh Above-Average Return. Hal ini dikarenakan penduduk Indonesia yang
sangat senang mengkonsumsi mie instan. Bahkan, ada kalangan masyarakat yang
menjadikan mie instan sebagai makanan mereka setiap hari.

2. Jelaskan dalam konteks dinamika strategi, mengapa Indofood mampu bertahan


mendominasi pasar mie instan di Indonesia?
Jawab : Dalam konteks dinamika strategi, pasar mie instan sudah bisa dikategorikan
sebagai hiperkompetensi, dimana seluruh pemain di dalam pasar harus bergerak cepat
untuk mengambil posisi yang lebih menguntungkan dan merusak/menetralisir pesaing
untuk mendapat keunggulan bersaing. Indofood sendiri memutuskan untuk melakukan
inovasi dalam merespon munculnya pesaing yang terus menggerus pangsa pasarnya.
Inovasi yang dilakukan Indofood seperti menciptakan rasa mie instan baru dan bahkan
membuat mie kuah tanpa kuah nampaknya berhasil menjaga posisi Indofood tetap di
nomor satu.

3. Strategi apa yang digunakan Conscience Food (CSF) dalam teori generic strategi
(strategi tingkat bisnis) sehingga mampu bersaing dalam industri yang persaingannya
ketat?
Jawab : Conscience Food menggunakan strategi tingkat bisnis yang terfokus. Conscience
Food memilih untuk memasarkan produknya di provinsi tertentu saja seperti Jambi dan
Sumatra Utara. Selain karena provinsi ini dekat dengan markas CSF yang tentunya dapat
memangkas biaya angkut produk dan membuat harga produk lebih bersaing, CSF juga
lebih mengenal daerah ini daripada para pesaingnya, sehingga CSF bisa menemukan
ceruk/niche pasar yang belum dieksploitasi oleh pesaing-pesaingnya.
Selain itu, CSF juga melakukan segmentasi pelanggan berdasarkan geografi, psikologis,
dan persepsi. Geografi terlihat dari peta distribusi CSF yang hanya bergerak di daerah
Sumatra sehingga CSF bisa menggunakan distribusi darat saja untuk memasarkan
produknya. Sisi psikologis terlihat dari cara penamaan produk CSF yang terdengar religius
(seperti Santremie dari kata “santri” dan Alimie). Daerah Sumatra (terutama Sumatra
Utara) masih kental pengaruh agamanya, sehingga CSF dapat mengeksploitasi gaya hidup
pelanggan yang religius ini. Persepsi agama yang kental di masyarakat juga berkaitan
dengan faktor psikologis yang telah kita bahas tadi.

4. Dalam corporate strategi, tergolong diversifikasi apakah masuknya perusahaan biskuit


seperti Mayora dan Nissin ke dalam industri mie instan? Jelaskan alasan jawaban anda!
Jawab : Menurut saya, diversifikasi yang dilakukan oleh Mayora dan Nissin masih
tergolong low-level diversification - Dominant Bussiness karena walau mereka telah
mengeluarkan produk mie instan, tetapi pendapatan mereka masih didominasi oleh
industri biskuit (Sekitar 70-95%). Oleh karena itu, diversifikasi mereka masibh tergolong
low level.

5. Apakah masuknya Mayora dan Nissin ke industri mie instan memberikan dampak
economies of scope bagi perusahaan ini? Jelaskan alasan jawaban anda!
Jawab : Menurut saya, masuknya Mayora dan Nissin ke dalam industri mie instan
memberikan dampak economies of scope bagi perusahaan ini. Seperti yang kita ketahui,
economies of scope adalah menurunnya biaya produksi karena kegiatan produksi barang
yang bermacam-macam dalam sekali jalan. Mayora dan Nissin yang sudah bergerak di
bidang biskuit sejak lama tentunya dapat dengan mudah merumuskan produksi mie instan
dan menyelaraskannya ke dalam lini produk mereka.

6. Jelaskan dalam strategi tingkat bisnis dengan Generic Strategi termasuk strategi apakah
yang dilakukan oleh Conscience Food (CSF) sehingga dapat bersaing dengan competitor
besar dalam industri mie instan?
Jawab : Mari kita asumsikan “competitor besar” yang dimaksud adalah Indofood dengan
produk Indomie-nya. Maka kita dapat mengetahui bahwa strategi utama yang digunakan
CSF adalah fokus pada ceruk pasar di Sumatra. Indofood memang menjadi market leader
dan selalu menjual produk yang paling banyak dalam pasar ini. Namun, Indofood
menyerang pasar di seluruh penjuru Indonesia, menyebabkan perhatian mereka terbagi-
bagi dan tidak mampu menggapai ceruk-ceruk pasar yang ada, terutama di daerah
Sumatra, markas dari CSF sendiri.
7. Dalam pemetaan unit bisnis dengan menggunakan Boston Consulting Group (BCG)
Matrix, termasuk sel manakah perusahaan mie instan dari Indofood? Jelaskan alasan
jawaban anda!
Jawab : Kita ihat perkembangan pasar ie instan sangat baik, maka kita berikan 1 untuk
merket growth, dan untuk market share karena Indofood berada di posisi market leader
maka kta beri skor 1 pula pada market sharenya.
Setelah kita temukan dua posisi untuk Indofood, maka dapat kita letakan Indofood pada
titik koordinat (1,1) dan titik ini terletak pada sel “STAR”. Sel ini melambangkan bahwa
perusahaan Indofood memiliki dominasi pasar dan pangsa pasarnya berkembang dengan
cepat. Indofood perlu melakukan banyak Investasi untuk mempertahankan posisi ini dan
melakukan inovasi-inovasi untuk mencapai keunggulan atas pesaing. Indofood juga
memgang pendapatan terbesar dari industri ini dibanding para pesaingnya yang lain. Bila
Indofood mampu menjaga posisi mereka hingga keadaan market growth menurun dengan
sendirinya, mereka dapat mengubah perusahaan ini menjadi Cash Cow.