Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN KASUS & REFERAT

TRAUMA KEPALA

Disusun oleh :

dr. Moch Rizky Ashari

dr. Priska Yudina Utami

dr. Ghiffari Al-Ashafari Gumelar

Pembimbing : dr Anggiat, Sp.BS

RSUD KOTA BANDUNG

Jl. Rumah Sakit No. 22, Ujung Berung, Kota Bandung

2019
BAB I
LAPORAN KASUS
I. Identitas Pasien

Nama : Ny. NY

Tanggal lahir : 01/01/1960

Usia : 59 tahun

Pendidikan : SMP

Pekerjaan : Pedagang

Alamat : Cipadung RT 04 RW 02 Cibiru

Status pernikahan : Menikah

II. Anamnesis

Keluhan utama : Penurunan kesadaran

Riwayat penyakit sekarang : Pasien dibawa oleh keluarga dalam keadaan penurunan
kesadaran. Keluarga pasien mengatakan keluhan pasien ini terjadi setelah pasien mengalami
kecelakaan. Mekanisme kecelakaan yang terjadi pada pasien adalah ketika kira-kira pukul
06.00 pagi pasien pergi dari rumah untuk berdagang kemudian ketika pasien berada disekitar
daerah teras cibiru, pasien menyebrang datang kendaraan motor yang menyerempet pasien
hingga pasien terjatuh dan mengenai tubuh pasien sebelah kiri.

Setelah kejadian pasien langsung tidak sadarkan diri. Keluhan penurunan kesadaran tidak
disertai muntah-muntah terlebih dahulu. Kemudian pasien tidak diberikan tindakan apapun
dan langsung dibawa ke UGD RSUD Ujung Berung memakai mobil sekitar pukul 06.30

Pemeriksaan Fisik

Keadaan : Tampak Sakit Berat

GCS : E1 M4 V2

Kesadaran : Koma

Tensi : 140/80 mmHg

2
Nadi : 84x/min

Respi : 20x/min

Suhu : 36,5ᵒC

SpO2 : 97%

Kepala : mata : Conjunctiva anemis (-/-), sclera icteric (-/-), edema palpebra (-/+),
pupil bulat isokor +/+, refleks cahaya +/+

Hematom pada dahi kiri atas +

Thorax : Bentuk dan Gerak simetris, jejas pada thoraks +

Pulmo : VBS kanan = kiri, ronki -/-, wheezing -/-

Cor : S1 S2 normal, murmur (-), gallop (-)

Abdomen : soepel, lembut, BU (+), NT (-)

Ekstremitas : akral hangat, CRT <2 detik

Pemeriksaan Penunjang

a. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan Tanggal
13/03/19
Hb 11,6
Ht 35
Leukosit 15.170
Trombosit 262.000
BT 1’30
CT 8’00
GDS 107
SGOT 27
SGPT 14

3
Kreatinin 0,53
Ureum 11
Natrium 143
Kalium 3,83
Clorida 111
Calsium 8,9

b. Foto rontgen

Kesimpulan : pada pemeriksaan foto


cervical, thoraks dan pelvis tidak
ditemukan fraktur, kelainan hanya
ditemukan osteofit di vertebra c3-c5,
kardiomegali tanpa bendungan paru.
.

4
c. CT-Scan Kepala Tanpa Kontras

Kesimpulan : perdarahan subarachnboid didaerah temporalis kanan, occipital kanan


dan kiri; contusio cerebri didaerah temporalis kanan dan occipitalis kanan; edema
cerebri; perdarahan di sinus ethmoidalis dan sphenoidalis kiri; perdarahan disinus
maksillaris kanan DD/sinusitis

d. USG Abdomen

5
Kesimpulan : tidak ada kelainan

Diagnosis Awal

Severe head injury

III. Tata Laksana Awal


 Primary survey :
o A : clear + pemasangan colleer neck
o B : RR = 20x/menit SpO2 = 97% pada pemeriksaan thoraks tidak
ditemukan kelainan + pemasangan nassal canule
o C : TD:140/80 mmHg, N:84x/menit, perdarahan aktif -
o D : GCS : 7 (koma), pupil bulat isokor, tanda lateralisasi dan
cedera spinal – ; motoris : kesan motorik ekstremitas bawah
menurun
o E : cegah hipotermi dengan selimut
 Secondary survey :
o Head to toe : jejas + dithoraks kanan, dan vulnus eksoriatum di
kaki kiri
o Riwayat AMPLE : pada pasien tidak ada riwayat alergi,
peminuman obat rutin, penyakit tertentu.
o Pemeriksaan penunjang : CT-Scan kepala tanpa kontras, rotngen
trauma series, USG FAST abdomen
 Medikamentosa
o IVFD RL 2000 cc/24 jam
o Advis dr Sp.BS
 Manitol 4 x 150 mg IV
 Ceftriaxone 1 x 2 gr iv
 Vit K 3 x 1 amp IV
 Ranitidin 2 x 1 amp IV
 Kalnex 3 x 500 mg IV

IV. Prognosis

Quo Ad Vitam : Dubia Ad Bonam//Quo Ad Functionam : Dubia Ad Bonam

6
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pendahuluan

Cedera kepala adalah jenis trauma yang paling sering ditemukan di UGD. Banyak pasien
dengan cedera otak yang berat meninggal sebelum mencapai rumah sakit. Faktanya hampir
90% kematian berkaitan dengan trauma pra-rumah sakit. Sekitar 75% pasien dengan cedera
otak yang menerima perhatian medis dapat dikategorikan dalam cedera ringan, 15% cedera
sedang, dan 10% cedera berat. AS : 1.700.000 orang yang mangalami trauma cedera otak
terjadi setiap tahun, termasuk 275.000 orang mendapatkan perawatan RS dan 52.000 orang
meninggal. Survivor dari trauma cedera otak sering disertai dengan gangguan
neuropsikologis yang mengakibatkan kecacatan yang berdampak pada pekerjaan dan
aktivitas social -> 80.000 – 90.000.

Triage dalam cedera otak tergantung tingkat keparahan cedera dan fasilitas yang tersedia.
Apabila fasilitas tidak mempunyai dokter bedah saraf , pastikan rujukan setuju dengan
fasilitas perawatan yang lengkap ditempat yang dituju. Konsultasikan segera kepada dokter
bedah saraf secepatnya untuk pengobatan terapi. Untuk tatacara konsultasi yang baik dapat
dilihat digambar 1

Gambar 1. Konsultasi bedah saraf untuk pasien trauma kepala

Anatomi Kranial

SCALP memiliki suplai darah yang melimpah. Apabila terjadi perdarahan dapat
menyebabkan perdarahan mayor, syok hemoragik, dan sampai ke kematian. Tengkorak
memiliki dasar yang irregular dan permukaannya dapat berkomtribusi terhadapa cedera saat
otak bergerak dalam tengkorak ketika akselerai dan deselerasi terjadi saat peristiwa trauma.

7
Dalam fossa anterior terdapat lubus frontalis, pada fossa tengah terdapat lobus temporalis dan
pada fossa posterior terdapat batang otak dan cerebellum.

Meningeal melapisi otak dan memiliki 3 lapisan yaitu durameter, arachnoid meter,
dan piameter. Durameter itu kuat, membrannya fibrosa yang melekat kuat pada permukaan
internal tengkorak. Pada bagian tertentu dura terbagi menjadi 2 bagian yang menutupi sinus
vena besar yang menyediakan drainase. Sinus sagitalis superior garis tengah mengalir ke
kedua sinus sigmoid dan transversal. Arteri meningealis terletak diantara dura dan permukaan
internal tengkorak di rongga epidural sehingga apa bila terjadi kelainan dapat menyebabkan
epidural hematom yang bersumber dari sinus dura dan fraktur tengkorak. Arachnoid meter
tipis dan tranparan dan tidak melekat pada durameter sehingga terdapat rongga subdural
yang mana dapat terjadi sebuah perdarahan yang disebut subdural hematom diakibatkan oleh
vena yang berasal dari permukaan otak yang menuju ke vena sinus. Piameter melekat kuat
pada permukaan otak, LCS mengisi rongga subaracknoidalis, sebagai bantalan otak dan
sumsum tulang belakang sehingga dapat menyebabkan subaracknoid hematom yang berasal
dari kontusio otak dan cedera pembuluh darah utama pada pangkal otak.

8
Otak terdiri dari cerebrum, batang otak, cerebellum. Cerebrum terdiri dari hemisfer
kiri dan kanan yang dipisahkan oleh falx cerebri. Hemisfer kiri berfungsi untuk pusat Bahasa,
lobus frontalis mengontrol fungsi eksekutif, emosi, fungsi motoric, ekspresi bicara. Lobus
parietalis mengarahakan pada fungsi sensoris dan orientasi spasialis. Lobus termporalis
mengatur fungsi memori, dan lobus oksipitalis mengatur penglihatan. Batanf otak terdiri dari
midbrain, pons, dan medulla. Midbrain dan pons atas berisikan sistem aktivasi reticular yang
berfungsi untuk keadaan waspada. Pusat vital cardiorespirasi berada dimedulla. Lesi
padabatang otak dapat menyebabkan deficit neurologis. Cerebellum fungsi untuk koordinasi
dan keseimbangan.

9
Ventrikuler sistem berisikan LCS dan aquaductus. Kerusakan dapat menyebabkan
ganguan absorbs dan peningkatan tekanan intracranial pemeriksaan yang dapat dilakukan
adalah CT-Scan. Intrakranial kompartemen adalah tentorial cerebri yang membagi rongga
intracranial menjadi supratentorial dan kompartemen infratentorial. Midbrain melewati suatu
celah yang disebut hiatus tentorial atau notch dimana terdapat Nervus occulomotoris & jaras
parasimpatis. Bagian otak yang sering terjadi herniasi pada bagian medial dari lobus
temporalis yang dikenal dengan uncal

Fisiologi

ICP Peningkatan tekanan intracranial akan mengurangi perfusi ke otak dan


menyebabkan iskemia, normalnya sekitar 10 mmHg. Hukum Monro – Kellie menjelaskan
dinamika ICP. Hukum ini menjelaskan total volume yang mengisi intracranial harus berjalan
kontsan. Ketika voolume intracranial terlampaui darah vena dan LCS dapat dikompresi
keluar dari tengkorak, sehingga gumpalam darah dapat membesar sementara ICP tetap
normal. Tetapi apabila sekali batas perpindahan LCS dan darah intravaskular telah tercapai,
maka ICP meningkat dengan cepat.

10
CBF (aliran darah otak) adalah Aliran darah otak pada pasien trauma cedera otak yang
cukup parah mengurangai aliran tersebut pada jam pertama setelah cedera. Penurunan CBF
menunjukkan tidak tercukupi kebutuhan metabolic otak setelah cedera. Pembuluhdarah otak
prekapilari tipikal biasanya dapat kontriksi atau dilataso akibat respon dari perubahan rata-
rata MAP dan juga perubahan PaO2 dan PaCO2. CPP = MAP-ICP. MAP normal 50-150
yang mana akan terjadi autoregulasi untuk mempertahankan CBF konstan. MAP yang rendah
menyebabkan iskemik dan infark dan yang tinggi akan menyebabkan edema .

Pembagian cedera kepala berdasarkan keparahan dan morfologinya dapat dilihat dari
gambar dibawah ini

Morfologi pada trauma kepala terdiri dari fraktur tengkorak dan lesi intrakranial
seperti kontusio, hematom, cedera difuss dan pembengkakan seperti edem/hiperemia. Fraktur
tengkorak dapat terjadi di ruang tengkorak atau dasar tengkorak. Bisa linear atau stellata, bisa
terbuka atau terutup. Pemeriksaaan yang dapat dilakukan CT-Scan Bone Window. Tanda

11
fraktur tulang basilar terdiri dari raccon eyes (periorbitakl ekimosis), battle’s sgin (
retroauricular ekimosis, rinore atau otore, dan disfungsi nervus cranial VII dan VIII.
Terkadang fraktur transversa di kanal karotis dapat menyebabkan kerusakan arteri karotis
sehingga perlu dipertingbangkan CT- Angiografi. Lesi intrakranial dibagi menjadi fokal dan
difus

12
Epidural hematom

Epidural hematom relatif jarang terjadi dari pasien yang mengalami koma. Perdarahan
epidural sering terjadi di area temporal yang disebabkan oleh robeknya arteri meningea
media. Namun dapat juga terjadi akibat robekan dari sinus vena besar. pada ct scan
memberikan gambaran hiperdens seperti lensa cembung

Subdural hematom

Perdarahan subdural lebih sering terjadi. Perdarahan ini terjadi akibat robekan pembuluh
darah di korteks serebri. Prognosis pada perdarahan subdural lebih buruk.

Kontusio dan perdarahan intraserebral

Kontusio serebri sering terjadi sebagian besar di lobus frontal dan temporal. Pemeriksaan CT
scan secara berkala perlu dilakukan untuk memantau perluasan lesi.

Penatalaksanaan cedera otak

Klasifikasi 13-15 9-12 3-8


GCS Cedera otak ringan Cedera otak sedang Cedera otak berat
Management Tanyakan mengenai riwayat Evaluasi dari bedah Konsultasi segera
awal penggunaan obat antikoagulan saraf atau perlu kepada bedah saraf
dirawat atau perlu di rawat
Dapat Dapat akui Primary survey dan Primary survey dan
dipulangkan sebagai lakukan resusitasi lakukan resusitasi
apabila tidak cedera
memenuhi kepala
kriteria yang dengan
ada indikasi
dibawah ini
Menentukan tidak Dikonsultasi ke bedah Lakukan intubasi
mekanisme memiliki CT saraf dan dilakukan untuk menjaga
kejadian. scan, Ct scan evaluasi dan pernafasan
Waktu abnormal, tatalaksana
kecelekaan, fraktur selanjutnya
GCS awal, tengkorak.
pusing, kejang, Kebocoran
nyeri kepala LCS
hebat, lupa
ingatan dll
Secondary Defeisit Fokus terhadap Lakukan
survey fokus focal pemeriksaan tatalaksana apabila
terhadap neuorologis terjadi hipotensi.
pemeriksaan Hipovolemi, dan
neurologis hipoksia
GCS tidak Secondary survey dan Fokus terhadap
membaik riwayat penyakit pemeriksaan

13
selama 2 jam neuorologis
Secondary survey
dan riwayat
penyakit
Diagnosis Ct scan untuk Ct scan Ct scan pada semua Ct scan pada semua
menentukan abnormal. kasus kasus
lesi pada otak Fraktur Evaluasi secara hati- Evaluasi secara
tenggkorak hati hati-hati
Transfusi darah Transfusi darah
Management Pemeriksaan Pemeriksaan Pemeriksaan berkala, Pemeriksaan yang
sekunder secara berkala secara mempertimbangkan berulang,
hingga GCS berkala, pemeriksaan CT scan PaCO3 35-40
pasien 15 ulangi CT 12-18 jam berikutnya mmHg
scan Pemeberian manitol
PaCO2 tidak boleh
di bawah 25
Dispotition Pulangkan Segera Ulangi ct scan apabila Lakukan segera
apabila tidak mendapatkan mengalami oleh bedah saraf
ditemukan penanganan perburukan atau
kelainan dari bedah ditemukan kelainan
saraf pada saraf dan perlu
Observasi di tatalaksana seperti
perbaikan cedera kepala berat
dari kelainan Rawat di trauma
saraf center

14
Definisi: pasien sadar dan berorientasi (GCS 13-15)

Riwayat
 Nama, umur, jenis kelamin, ras, pekerjaan
 Mekanisme cedera
 Waktu cedera
 Tidak sadar segera setelah cedera
 Tingkat kewaspadaan
 Amnesia : retrograde, antegrade
 Sakit kepala: ringan, sedang berat

Pemeriksaan umum untuk menyingkirkan cedera sistemik

Pemeriksaan neurologi terbatas

Pemeriksaan rontgen vetebra servikal dan lainnya sesuai indikasi

Pemeriksaan kadar alkohol darah dan zat toksik dalam urin

Pemeriksaan CT scan kepala merupakan indikasi bila


memenuhi kriteria kecurgiaan perlunya tindakan bedah saraf

Observasi dan dirawat di RS Dipulangkan dari RS

 Ct scan tidak ada  Tidak memenuhi


 Ct scan abnormal kriteria rawat
 Semua cedera  Diskusikan
tembus kemungkinan kembali
 Riwayat hilang ke rumah sakit bila
kesadaran memburuk dan
 Kesadaran menurun berikan kertas
 Nyeri kepala sedang- observasi
berat  Jadwalkan untuk
 Intoksikasi alkohol kontrol ulang
 Fraktur tulang
 Kebocoran LCS:
rhinorea-otorea
 Tak ada keluarga
dirumah
 GCS<15
 Defisit neuorologi
fokal

15
Cedera kepala ringan

Riawayat kehilangan kesadara pada cedera kepala ringan dipengaruhi oleh alkohol ataupun
zat-zat yang lainnya. Sebagian besar dengan kasus ini pasien pulih sempurna walaupun
meninggalkan nyeri kepala yang hebat. Hati-hati pasien cedera kepala yang mengonsumsi
obat antikoagulan karena harus di CT scan segera. Ditakutkannya terjadinya perdarahan yang
luas.

Bila ct scan tidak ada. Pemeriksaan foto polos dapat dilakukan untuk cedera kepala tumpul
dan tajam, jika foto polos kepala (schedel) dilakukan carilah gamabaran fraktur linear atau
depresi, posisi glandula pineal di garis tengah, batas air-udara di daerah sinus, pneumosefal,
fraktur tulang wajah, dan benda asing. Foto polos jangan sampai menunda transfer pasien ke
rumah sakit.

Cedera kepala sedang

Pada pasien dengan cedera kepala sedang biasanya menunjukan gejala bingung atau
mengantuk dan dapat disertai defisit neurologis fokal seperti hemiparases. Pasien harus
dirawat di ruang perawatan insentif atau yang setara, dimana dapat dilakukan observasi ketat
dan pemeriksaan ct scan serial 12-24 jam.

Cedera kepala berat

Pasien dengan cedera kepala berat tidak dapat melakukan pemerintah sederhana walaupun
keaadaan kardiopulmonalnya stabil. Pasien dengan kondisi seperti ini harus mendapatkan
tindakan yang tepat dan cepat.

PRIMARY SURVEY AND RESUSCITATION


1. Airway And Breathing

 Intubasi endotrakheal dini segera dilakukan pada pasien koma

 Berikan ventilasi dengan O2 100% hingga hasil AGD diperoleh. Pertahankan saturasi
O2 >98%

2. Circulation

 Hipotensi biasanya tidak disebabkan oleh cedera otak

 Segera lakukan stabilisasi agar mencapai euvolemia dengan produk darah atau larutan
isotonik

 Pasien hipotensi yang tidak bereaksi terhadap stimulasi apapun dapat memberi respon
normal segera setelah tekanan darah diperbaiki

16
 Pertahankan SBP ≥100mmHg pada pasien usia 5-69 tahun atau ≥110mmHg pada
pasien usia 15-49 tahun atau usia > 70 tahun

3. Pemeriksaan Neurologis

 Bila status kardiopulmoner pasien sudah stabil  lakuakn pemeriksaan neurologis


cepat dan terfokus

 GCS

 Refleks cahaya pupil

 Defisit neurologis fokal

Hal yang sering menyertai cedera otak:

 Konsumsi obat-obatan

 Keracunan alkohol

 Cedera lainnya

 Pasien koma  bangkitkan respon motorik dengan merangsang/mencubit otot


trapezius atau menekan dasar kuku pasien atau menekan supraorbital ridge

 Bila respon bervariasi, Gunakan respon motorik terbaik  lebih akurat

17
 Doll’s eye movements (oculocephalic)  (hati2 cedera servikal!), tes kalori dengan
suhu dingin (oculovestibular) dan refleks kornea ditunda sampai ada dokter ahli bedah
saraf

4. Anestesi, Analgetik, Dan Sedatif

 Penggunaan obat-obat ini harus hati-hati. Kelebihan penggunaan agent dapat


mengakibatkan terlambatnya deteksi progresi cedera kepala serius, mengganggu
respirasi

 Gunakan obat short acting, sedasi ringan dan anti nyeri dengan dosis terendah

SECONDARY SURVEY
Pemeriksaan Neurologis

 Pemeriksaan serial GCS

 Tanda lateralisasi

 Reaksi pupil

 Pemeriksaan neurologis lainnya (cranial nerves, motorik, sensorik, refleks)

Tanda awal herniasi lobus temporal (uncal)  dilatasi pupil + refleks cahaya turun

Trauma langsung pada mata  respon pupil abnormal

18
PROSEDUR DIAGNOSTIK
CT Scan

 Pembengkakan kulit kepala

 Perdarahan sub galeal di tempat benturan

 Garis fraktur  lebih jelas pada CT scan bone window

 Penting! :

 Perdarahan intrakranial

 Kontusio

 Pergeseran garis tengah (midline shift)  efek massa

Pergeseran >5mm indikasi operasi untuk evakuasi bekuan darah atau kontusio

 Obliterasi sisterna basalis

TERAPI MEDIKAMENTOSA
Tujuan utama: mencegah kerusakan sekunder otak yang telah cedera

Prinsip dasar:

 bila sel saraf diberi suasana optimal untuk pemulihan, maka diharapkan sel tersebut
dapat berfungsi normal kembali

Cairan IV

 Cegah hipovolemia maupun hipervolemia

 Hindari cairan hipotonis

 Hindari cairan mengandung glukosa  hiperglikemia  merusak otak yang telah


cedera

 Dianjurkan  Ringer Lactat atau garam fisiologis

 Hati-hati hiponatremia, karena berhubungan dengan edema otak

Koreksi Antikoagulan

 Hati-hati dalam menangani pasien CK yang mengonsumsi antikoagulan atau


antiplatelet

 Cek INR dan CTscan

19
Hiperventilasi

 Pertahankan keadaan normokarbia (PaCO2 35 – 45 mmHg)

 Hiperventilasi  menurunkan kadar PaCO2  vasokonstriksi pembuluh darah otak


 prolonged  cerebral ischemia

 Hal ini terjadi bila PaCO2 < 30 mmHg

 Hypercarbia (PaCO2 > 45 mmHg )  vasodilatasi  TTIK

Mannitol

 Digunakan untuk menurunkan TIK

 Sediaan: larutan 20% (20 gr mannitol per 100 ml cairan)

 KI: hipotensi (SBP <90 mmHg)

 Dosis: 0,25-1 gram/kgBB

Hypertonic Saline

 Dapat digunakan untuk menurunkan TIK

 Konsentrasi 3% sampai 23,4%  bisa digunakan untuk pasien hipotensi

Barbiturat

 Barbiturat dosis tinggi direkomendasikan untuk mengontrol peningkatan TIK yang


refrakter terhadap pengobatan medikal maupun surgikal.

20
 Namun tidak direkomendasikan pada keadaan hemodinamik yang tidak stabil

Antikonvulsan

 Epilepsi pasca trauma terjadi pada 5% pasien yang dirawat di RS dengan cedera
kepala tertutup dan 15% pasien dengan CKB

 3 faktor yang mendasari:

 Kejang awal yang terjadi dalam minggu pertama

 Perdarahan intracranial

 Fraktur depresi

Antikonvulsan dapat menginhibisi recovery otak, jadi hanya gunakan saat diperlukan

 Fenitoin atau fosfenitoin adalah obat yang biasanya dipakai pada fase akut

 Dosis awal: 1 gr Fenitoin IV kecepatan < 50 mg/menit. Maintenance dose


100mg/8jam

 Valium (Diazepam) atau ativan (Lorazepam) dapat ditambahkan sampai


kejang berhenti

 Prolonged seizure (30-60 menit) dapat mengakibatkan cedera otak sekunder

TATALAKSANA PEMBEDAHAN
Luka Kulit Kepala

 Bersihkan secara adekuat dan jahit

 Perdarahan  balut tekan, kauterisasi maupun ligasi pembuluh besar, lalu jahit

 Bila terlihat CSF pada luka, menunjukkan adanya robekan dura

21
Fraktur Depresi Tulang Tengkorak

 Membutuhkan operasi bila tebal depresi lebih dari ketebalan tulang di dekatnya atau
luka terbuka dan terkontaminasi

 CT scan: identifikasi derajat depresi dan mengeksklusi intracranial hematome atau


contusion

Lesi Massa Intrakranial

 Lesi harus dikeluarkan dan dirawat oleh dokter spesialis bedah saraf

Cedera Tajam Pada Otak

 Membutuhkan pemeriksaan CT scan dan MRI (untuk cedera tajam ec kayu atau objek
non magnit)

 Berikan antibiotik profilaksis broad-spectrum pada pasien yang terkena cedera tajam,
open skull fracture, kebocoran CSF

 Objek tajam jangan dibuka!  operasi

MATI BATANG OTAK


Diagnosis

 Tidak ada kemungkinan sama sekali pulihnya fungsi otak

 Kriteria:

 GCS 3

 Pupil tidak bereaksi

 Hilangnya refleks batang otak refleks okulosefalik, kornea, Doll’s eye, dan
gag reflek

 Tidak ada usaha nafas spontan pada apnea testing

 Tidak adanya faktor perancu seperti intoksikasi alkohol dan obat-obatan atau
hipotermia

 Pemeriksaan lanjutan:

 EEG : tidak ada aktivitas

 Pemeriksaan Cerebral Blood Flow: No CBF (e.g. Isotope studies,


doppler studies, xenon CBF studies)

 Cerebral angiography

22