Anda di halaman 1dari 30

Termodinamika adalah kajian tentang kalor (panas) yang berpindah.

Dalam termodinamika
kamu akan banyak membahas tentang sistem dan lingkungan. Kumpulan benda-benda yang
sedang ditinjau disebut sistem, sedangkan semua yang berada di sekeliling (di luar) sistem
disebut lingkungan.

Usaha Luar

Usaha luar dilakukan oleh sistem, jika kalor ditambahkan (dipanaskan) atau kalor dikurangi
(didinginkan) terhadap sistem. Jika kalor diterapkan kepada gas yang menyebabkan
perubahan volume gas, usaha luar akan dilakukan oleh gas tersebut. Usaha yang dilakukan
oleh gas ketika volume berubah dari volume awal V1 menjadi volume akhir V2 pada tekanan
p konstan dinyatakan sebagai hasil kali tekanan dengan perubahan volumenya.

W = p∆V= p(V2 – V1)

Secara umum, usaha dapat dinyatakan sebagai integral tekanan terhadap perubahan volume
yang ditulis sebagai

pers01Tekanan dan volume dapat diplot dalam grafik p – V. jika perubahan tekanan dan
volume gas dinyatakan dalam bentuk grafik p – V, usaha yang dilakukan gas merupakan luas
daerah di bawah grafik p – V. hal ini sesuai dengan operasi integral yang ekuivalen dengan
luas daerah di bawah grafik.

fig2004Gas dikatakan melakukan usaha apabila volume gas bertambah besar (atau
mengembang) dan V2 > V1. sebaliknya, gas dikatakan menerima usaha (atau usaha
dilakukan terhadap gas) apabila volume gas mengecil atau V2 < V1 dan usaha gas bernilai
negatif.

Energi Dalam

Suatu gas yang berada dalam suhu tertentu dikatakan memiliki energi dalam. Energi dalam
gas berkaitan dengan suhu gas tersebut dan merupakan sifat mikroskopik gas tersebut.
Meskipun gas tidak melakukan atau menerima usaha, gas tersebut dapat memiliki energi
yang tidak tampak tetapi terkandung dalam gas tersebut yang hanya dapat ditinjau secara
mikroskopik.

Berdasarkan teori kinetik gas, gas terdiri atas partikel-partikel yang berada dalam keadaan
gerak yang acak. Gerakan partikel ini disebabkan energi kinetik rata-rata dari seluruh partikel
yang bergerak. Energi kinetik ini berkaitan dengan suhu mutlak gas. Jadi, energi dalam dapat
ditinjau sebagai jumlah keseluruhan energi kinetik dan potensial yang terkandung dan
dimiliki oleh partikel-partikel di dalam gas tersebut dalam skala mikroskopik. Dan, energi
dalam gas sebanding dengan suhu mutlak gas. Oleh karena itu, perubahan suhu gas akan
menyebabkan perubahan energi dalam gas. Secara matematis, perubahan energi dalam gas
dinyatakan sebagai

untuk gas monoatomik

pers02

untuk gas diatomik


pers03

Dimana ∆U adalah perubahan energi dalam gas, n adalah jumlah mol gas, R adalah konstanta
umum gas (R = 8,31 J mol−1 K−1, dan ∆T adalah perubahan suhu gas (dalam kelvin).

Hukum I Termodinamika

Jika kalor diberikan kepada sistem, volume dan suhu sistem akan bertambah (sistem akan
terlihat mengembang dan bertambah panas). Sebaliknya, jika kalor diambil dari sistem,
volume dan suhu sistem akan berkurang (sistem tampak mengerut dan terasa lebih dingin).
Prinsip ini merupakan hukum alam yang penting dan salah satu bentuk dari hukum kekekalan
energi.

Sistem yang mengalami perubahan volume akan melakukan usaha dan sistem yang
mengalami perubahan suhu akan mengalami perubahan energi dalam. Jadi, kalor yang
diberikan kepada sistem akan menyebabkan sistem melakukan usaha dan mengalami
perubahan energi dalam. Prinsip ini dikenal sebagai hukum kekekalan energi dalam
termodinamika atau disebut hukum I termodinamika. Secara matematis, hukum I
termodinamika dituliskan sebagai

Q = W + ∆U

Dimana Q adalah kalor, W adalah usaha, dan ∆U adalah perubahan energi dalam. Secara
sederhana, hukum I termodinamika dapat dinyatakan sebagai berikut.

Jika suatu benda (misalnya krupuk) dipanaskan (atau digoreng) yang berarti diberi kalor Q,
benda (krupuk) akan mengembang atau bertambah volumenya yang berarti melakukan usaha
W dan benda (krupuk) akan bertambah panas (coba aja dipegang, pasti panas deh!) yang
berarti mengalami perubahan energi dalam ∆U.

Proses Isotermik

Suatu sistem dapat mengalami proses termodinamika dimana terjadi perubahan-perubahan di


dalam sistem tersebut. Jika proses yang terjadi berlangsung dalam suhu konstan, proses ini
dinamakan proses isotermik. Karena berlangsung dalam suhu konstan, tidak terjadi
perubahan energi dalam (∆U = 0) dan berdasarkan hukum I termodinamika kalor yang
diberikan sama dengan usaha yang dilakukan sistem (Q = W).

Proses isotermik dapat digambarkan dalam grafik p – V di bawah ini. Usaha yang dilakukan
sistem dan kalor dapat dinyatakan sebagai

pers04Dimana V2 dan V1 adalah volume akhir dan awal gas.

isothermal_process

Proses Isokhorik

Jika gas melakukan proses termodinamika dalam volume yang konstan, gas dikatakan
melakukan proses isokhorik. Karena gas berada dalam volume konstan (∆V = 0), gas tidak
melakukan usaha (W = 0) dan kalor yang diberikan sama dengan perubahan energi dalamnya.
Kalor di sini dapat dinyatakan sebagai kalor gas pada volume konstan QV.

QV = ∆U

Proses Isobarik

Jika gas melakukan proses termodinamika dengan menjaga tekanan tetap konstan, gas
dikatakan melakukan proses isobarik. Karena gas berada dalam tekanan konstan, gas
melakukan usaha (W = p∆V). Kalor di sini dapat dinyatakan sebagai kalor gas pada tekanan
konstan Qp. Berdasarkan hukum I termodinamika, pada proses isobarik berlaku

pers05Sebelumnya telah dituliskan bahwa perubahan energi dalam sama dengan kalor yang
diserap gas pada volume konstan

QV =∆U

Dari sini usaha gas dapat dinyatakan sebagai

W = Qp − QV

Jadi, usaha yang dilakukan oleh gas (W) dapat dinyatakan sebagai selisih energi (kalor) yang
diserap gas pada tekanan konstan (Qp) dengan energi (kalor) yang diserap gas pada volume
konstan (QV).

diag11

Proses Adiabatik

Dalam proses adiabatik tidak ada kalor yang masuk (diserap) ataupun keluar (dilepaskan)
oleh sistem (Q = 0). Dengan demikian, usaha yang dilakukan gas sama dengan perubahan
energi dalamnya (W = ∆U).

Jika suatu sistem berisi gas yang mula-mula mempunyai tekanan dan volume masing-masing
p1 dan V1 mengalami proses adiabatik sehingga tekanan dan volume gas berubah menjadi p2
dan V2, usaha yang dilakukan gas dapat dinyatakan sebagai

pers06Dimana γ adalah konstanta yang diperoleh perbandingan kapasitas kalor molar gas
pada tekanan dan volume konstan dan mempunyai nilai yang lebih besar dari 1 (γ > 1).

Proses adiabatik dapat digambarkan dalam grafik p – V dengan bentuk kurva yang mirip
dengan grafik p – V pada proses isotermik namun dengan kelengkungan yang lebih curam.

under → Uncategorized

teori kinetik gas


2010 June 24
Leave a comment
Posted by ekamulyasari

Persamaan Gas Ideal

Pada pembahasan sebelumnya (hukum-hukum gas – persamaan keadaan) gurumuda sudah


menjelaskan secara panjang pendek mengenai hukum om Boyle, hukum om Charles dan
hukum om Gay-Lussac. Ketiga hukum gas ini baru menjelaskan hubungan antara suhu,
volume dan tekanan gas secara terpisah. Hukum om obet Boyle hanya menjelaskan hubungan
antara Tekanan dan volume gas. Hukum om Charles hanya menjelaskan hubungan antara
volume dan suhu gas. Hukum om Gay-Lussac hanya menjelaskan hubungan antara suhu dan
tekanan gas. Perlu diketahui bahwa ketiga hukum ini hanya berlaku untuk gas yang memiliki
tekanan dan massa jenis yang tidak terlalu besar. Ketiga hukum ini juga hanya berlaku untuk
gas yang suhunya tidak mendekati titik didih. Oya, yang dimaksudkan dengan gas di sini
adalah gas yang ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Istilah kerennya gas riil alias gas
nyata… misalnya oksigen, nitrogen dkk…

Karena hukum om obet Boyle, hukum om Charles dan hukum om Gay-Lussac tidak berlaku
untuk semua kondisi gas maka analisis kita akan menjadi lebih sulit. Untuk mengatasi hal ini
(maksudnya untuk mempermudah analisis), kita bisa membuat suatu model gas ideal alias
gas sempurna. Gas ideal tidak ada dalam kehidupan sehari-hari; yang ada dalam kehidupan
sehari-hari cuma gas riil alias gas nyata. Gas ideal cuma bentuk sempurna yang sengaja kita
buat untuk mempermudah analisis, mirip seperti konsep benda tegar atau fluida ideal. Ilmu
fisika tuh aneh-aneh…. dari pada bikin ribet dan pusink sendiri lebih baik cari saja
pendekatan yang lebih mudah Kita bisa menganggap hukum Boyle, hukum Charles dan
hukum Gay-Lusac berlaku pada semua kondisi gas ideal, baik ketika tekanan dan massa jenis
gas sangat tinggi atau suhu gas mendekati titik didih. Adanya konsep gas ideal ini juga sangat
membantu kita dalam meninjau hubungan antara ketiga hukum gas tersebut.

Biar dirimu lebih nyambung, gurumuda tulis kembali penyataan hukum Boyle, hukum
Charles dan hukum Gay-Lussac.

Hukum Boyle

Berdasarkan percobaan yang dilakukannya, om Robert Boyle menemukan bahwa apabila


suhu gas dijaga agar selalu konstan, maka ketika tekanan gas bertambah, volume gas semakin
berkurang. Demikian juga sebaliknya ketika tekanan gas berkurang, volume gas semakin
bertambah. Istilah kerennya tekanan gas berbanding terbalik dengan volume gas. Hubungan
ini dikenal dengan julukan Hukum Boyle. Secara matematis ditulis sebagai berikut :

hukum-gas-ideal-aKeterangan :

hukum-gas-ideal-b

Hukum Charles

Seratus tahun setelah om Obet Boyle menemukan hubungan antara volume dan tekanan,
seorang ilmuwan berkebangsaan Perancis yang bernama om Jacques Charles (1746-1823)
menyelidiki hubungan antara suhu dan volume gas. Berdasarkan hasil percobaannya, om
Cale menemukan bahwa apabila tekanan gas dijaga agar selalu konstan, maka ketika suhu
mutlak gas bertambah, volume gas pun ikt2an bertambah, sebaliknya ketika suhu mutlak gas
berkurang, volume gas juga ikut2an berkurang. Hubungan ini dikenal dengan julukan hukum
Charles. Secara matematis ditulis sebagai berikut :

Hukum Gay-Lussac

Setelah om obet Boyle dan om Charles mengabadikan namanya dalam ilmu fisika, om Joseph
Gay-Lussac pun tak mau ketinggalan. Berdasarkan percobaan yang dilakukannya, om Jose
menemukan bahwa apabila volume gas dijaga agar selalu konstan, maka ketika tekanan gas
bertambah, suhu mutlak gas pun ikut2an bertambah. Demikian juga sebaliknya ketika
tekanan gas berkurang, suhu mutlak gas pun ikut2an berkurang. Istilah kerennya, pada
volume konstan, tekanan gas berbanding lurus dengan suhu mutlak gas. Hubungan ini dikenal
dengan julukan Hukum Gay-Lussac. Secara matematis ditulis sebagai berikut :

Hubungan antara suhu, volume dan tekanan gas

Hukum Boyle, hukum Charles dan hukum Gay-Lussac baru menurunkan hubungan antara
suhu, volume dan tekanan gas secara terpisah. Bagaimanapun ketiga besaran ini memiliki
keterkaitan erat dan saling mempengaruhi. Karenanya, dengan berpedoman pada ketiga
hukum gas di atas, kita bisa menurunkan hubungan yang lebih umum antara suhu, volume
dan tekanan gas. Gurumuda tulis lagi ketiga perbandingan di atas biar dirimu lebih nyambung
:

hukum-gas-ideal

Jika perbandingan 1, perbandingan 2 dan perbandingan 3 digabung menjadi satu, maka akan
tampak seperti ini :

hukum-gas-ideal-fPersamaan ini menyatakan bahwa tekanan (P) dan volume (V) sebanding
dengan suhu mutlak (T). Sebaliknya, volume (V) berbanding terbalik dengan tekanan (P).

Perbandingan 4 bisa dioprek menjadi persamaan :

hukum-gas-ideal-g

Keterangan :

P1 = tekanan awal (Pa atau N/m2)

P2 = tekanan akhir (Pa atau N/m2)

V1 = volume awal (m3)

V2 = volume akhir (m3)

T1 = suhu awal (K)

T2 = suhu akhir (K)

(Pa = pascal, N = Newton, m2 = meter kuadrat, m3 = meter kubik, K = Kelvin)


Contoh soal ada di bagian akhir tulisan ini… Tuh di bawah

Hubungan antara massa gas (m) dengan volume (V)

Sejauh ini kita baru meninjau hubungan antara suhu, volume dan tekanan gas. Massa gas
masih diabaikan… Kok gas punya massa ya ? yupz… Setiap zat alias materi, termasuk zat
gas terdiri dari atom-atom atau molekul-molekul. Karena atom atau molekul mempunyai
massa maka tentu saja gas juga mempunyai massa. Kalau dirimu bingung, silahkan pelajari
lagi materi Teori atom dan Teori kinetik.

Pernah meniup balon ? ketika dirimu meniup balon, semakin banyak udara yang dimasukkan,
semakin kembung balon tersebut. Dengan kata lain, semakin besar massa gas, semakin besar
volume balon. Kita bisa mengatakan bahwa massa gas (m) sebanding alias berbanding lurus
dengan volume gas (V). Secara matematis ditulis seperti ini :

hukum-gas-ideal-hJika perbandingan 4 digabung dengan perbandingan 5 maka akan tampak


seperti ini :

hukum-gas-ideal-i

Jumlah mol (n)

Sebelum melangkah lebih jauh, terlebih dahulu kita bahas konsep mol. Dari pada kelamaan,
kita langsung ke sasaran saja… 1 mol = besarnya massa suatu zat yang setara dengan massa
molekul zat tersebut. Massa dan massa molekul tuh beda. Biar paham, amati contoh di
bawah…

Contoh 1, massa molekul gas Oksigen (O2) = 16 u + 16 u = 32 u (setiap molekul oksigen


berisi 2 atom Oksigen, di mana masing-masing atom Oksigen mempunyai massa 16 u).
Dengan demikian, 1 mol O2 mempunyai massa 32 gram. Atau massa molekul O2 = 32
gram/mol = 32 kg/kmol

Contoh 2, massa molekul gas karbon monooksida (CO) = 12 u + 16 u = 28 u (setiap molekul


karbon monooksida berisi 1 atom karbon (C) dan 1 atom oksigen (O). Massa 1 atom karbon =
12 u dan massa 1 atom Oksigen = 16 u. 12 u + 16 u = 28 u). Dengan demikian, 1 mol CO
mempunyai massa 28 gram. Atau massa molekul CO = 28 gram/mol = 28 kg/kmol

Contoh 3, massa molekul gas karbon dioksida (CO2) = [12 u + (2 x 16 u)] = [12 u + 32 u] =
44 u (setiap molekul karbon dioksida berisi 1 atom karbon (C) dan 2 atom oksigen (O).
Massa 1 atom Carbon = 12 u dan massa 1 atom oksigen = 16 u). Dengan demikian, 1 mol
CO2 mempunyai massa 44 gram. Atau massa molekul CO2 = 44 gram/mol = 44 kg/kmol.

Sebelumnya kita baru membahas definisi satu mol. Sekarang giliran jumlah mol (n). Pada
umumnya, jumlah mol (n) suatu zat = perbandingan massa zat tersebut dengan massa
molekulnya. Secara matematis ditulis seperti ini :

hukum-gas-ideal-j1

Contoh 1 : hitung jumlah mol pada 64 gram O2


Massa O2 = 64 gram

Massa molekul O2 = 32 gram/mol

hukum-gas-ideal-k

Contoh 2 : hitung jumlah mol pada 280 gram CO

Massa CO = 280 gram

Massa molekul CO = 28 gram/mol

hukum-gas-ideal-l

Contoh 3 : hitung jumlah mol pada 176 gram CO2

Massa CO2 = 176 gram

Massa molekul CO2 = 44 gram/mol

hukum-gas-ideal-m

Konstanta gas universal (R)

Perbandingan yang sudah diturunkan di atas (perbandingan 6) bisa diubah menjadi


persamaan dengan menambahkan konstanta perbandingan. Btw, berdasarkan penelitian yang
dilakukan om-om ilmuwan, ditemukan bahwa apabila kita menggunakan jumlah mol (n)
untuk menyatakan ukuran suatu zat maka konstanta perbandingan untuk setiap gas memiliki
besar yang sama. Konstanta perbandingan yang dimaksud adalah konstanta gas universal (R).
Universal = umum, jangan pake bingung…

R = 8,315 J/mol.K

= 8315 kJ/kmol.K

= 0,0821 (L.atm) / (mol.K)

= 1,99 kal / mol. K

(J = Joule, K = Kelvin, L = liter, atm = atmosfir, kal = kalori)

HUKUM GAS IDEAL (dalam jumlah mol)

Setelah terseok-seok, akhirnya kita tiba di penghujung acara pengoprekan rumus.


Perbandingan 6 (tuh di atas) bisa kita tulis menjadi persamaan, dengan memasukan jumlah
mol (n) dan konstanta gas universal (R)…

PV = nRT

Persamaan ini dikenal dengan julukan hukum gas ideal alias persamaan keadaan gas ideal.
Keterangan :

P = tekanan gas (N/m2)

V = volume gas (m3)

n = jumlah mol (mol)

R = konstanta gas universal (R = 8,315 J/mol.K)

T = suhu mutlak gas (K)

CATATAN :

Pertama, dalam penyelesaian soal, dirimu akan menemukan istilah STP. STP tuh singkatan
dari Standard Temperature and Pressure. Bahasanya orang bule… Kalau diterjemahkan ke
dalam bahasa orang Indonesia, STP artinya Temperatur dan Tekanan Standar. Temperatur =
suhu.

Temperatur standar (T) = 0 oC = 273 K

Tekanan standar (P) = 1 atm = 1,013 x 105 N/m2 = 1,013 x 102 kPa = 101 kPa

Kedua, dalam menyelesaikan soal-soal hukum gas, suhu alias temperatur harus dinyatakan
dalam skala Kelvin (K)

Ketiga, apabila tekanan gas masih berupa tekanan ukur, ubah terlebih dahulu menjadi tekanan
absolut. Tekanan absolut = tekanan atmosfir + tekanan ukur (tekanan atmosfir = tekanan
udara luar)

Keempat, jika yang diketahui adalah tekanan atmosfir (tidak ada tekanan ukur), langsung
oprek saja tuh soal.

Contoh soal 1 :

Pada tekanan atmosfir (101 kPa), suhu gas karbon dioksida = 20 oC dan volumenya = 2 liter.
Apabila tekanan diubah menjadi 201 kPa dan suhu dinaikkan menjadi 40 oC, hitung volume
akhir gas karbon dioksida tersebut…

Panduan jawaban :

P1 = 101 kPa

P2 = 201 kPa

T1 = 20 oC + 273 K = 293 K

T2 = 40 oC + 273 K = 313 K

V1 = 2 liter
V2 = ?

Tumbangkan soal :

hukum-gas-ideal-nVolume akhir gas karbon dioksida = 1,06 liter

Contoh soal 2 :

Tentukan volume 2 mol gas pada STP (anggap saja gas ini adalah gas ideal)

Panduan jawaban :

hukum-gas-ideal-oVolume 2 mol gas pada STP (temperatur dan tekanan stadard) adalah 44,8
liter. Berapa volume 1 mol gas pada STP ? itung sendiri….

Contoh soal 3 :

Volume gas oksigen pada STP = 20 m3. Berapa massa gas oksigen ?

Panduan jawaban :

Volume 1 mol gas pada STP = 22,4 liter = 22,4 dm3 = 22,4 x 10-3 m3 (22,4 x 10-3 m3/mol)

Volume gas oksigen pada STP = 20 m3

hukum-gas-ideal-p

Massa molekul oksigen = 32 gram/mol (massa 1 mol oksigen = 32 gram). Dengan demikian,
massa gas oksigen adalah :

hukum-gas-ideal-q

Catatan :

Kadang massa molekul disebut sebagai massa molar. Jangan pake bingung, maksudnya sama
saja… Massa molar = massa molekul

Contoh soal 4 :

Sebuah tangki berisi 4 liter gas oksigen (O2). Suhu gas oksigen tersebut = 20 oC dan tekanan
terukurnya = 20 x 105 N/m2. Tentukan massa gas oksigen tersebut (massa molekul oksigen =
32 kg/kmol = 32 gram/mol)

Panduan jawaban :

P = Patm + Pukur = (1 x 105 N/m2) + (20 x 105 N/m2) = 21 x 105 N/m2

T = 20 oC + 273 = 293 K

V = 4 liter = 4 dm3 = 4 x 10-3 m3


R = 8,315 J/mol.K = 8,315 Nm/mol.K

Massa molekul O2 = 32 gram/mol = 32 kg/kmol

Massa O2 = ?

hukum-gas-ideal-rMassa gas oksigen = 110 gram = 0,11 kg

Guampang sekali khan ? hiks2…. Sering2 latihan, biar mahir

HUKUM GAS IDEAL (Dalam jumlah molekul)

Kalau sebelumnya Hukum gas ideal dinyatakan dalam jumlah mol (n), maka kali ini hukum
gas ideal dinyatakan dalam jumlah molekul (N). Sebelum menurunkan persamaannya,
terlebih dahulu baca pesan-pesan berikut ini…

Seperti yang telah gurumuda jelaskan sebelumnya, apabila kita menyatakan ukuran zat tidak
dalam bentuk massa (m), tapi dalam jumlah mol (n), maka konstanta gas universal (R)
berlaku untuk semua gas. Hal ini pertama kali ditemukan oleh alhamrum Amedeo Avogadro
(1776-1856), mantan ilmuwan Italia. Sekarang beliau sudah beristirahat di alam baka…
Almahrum Avogadro mengatakan bahwa ketika volume, tekanan dan suhu setiap gas sama,
maka setiap gas tersebut memiliki jumlah molekul yang sama. Kalimat yang dicetak tebal ini
dikenal dengan julukan hipotesa Avogadro (hipotesa = ramalan atau dugaan). Hipotesa
almahrum Avogadro ini sesuai dengan kenyataan bahwa konstanta R sama untuk semua gas.
Berikut ini beberapa pembuktiannya :

Pertama, jika kita menyelesaikan soal menggunakan persamaan hukum gas ideal (PV = nRT),
kita akan menemukan bahwa ketika jumlah mol (n) sama, tekanan dan suhu juga sama, maka
volume semua gas akan bernilai sama, apabila kita menggunakan konstanta gas universal (R
= 8,315 J/mol.K). Karenanya dirimu jangan pake heran kalau pada STP, setiap gas yang
memiliki jumlah mol (n) yang sama akan memiliki volume yang sama. Volume 1 mol gas
pada STP = 22,4 liter. Volume 2 mol gas = 44,8 liter. Volume 3 mol gas = 67,2 liter. Dan
seterusnya… ini berlaku untuk semua gas.

Kedua, jumlah molekul dalam 1 mol sama untuk semua gas. Jumlah molekul dalam 1 mol =
jumlah molekul per mol = bilangan avogadro (NA). Jadi bilangan Avogadro bernilai sama
untuk semua gas. Besarnya bilangan Avogadro diperoleh melalui pengukuran :

NA = 6,02 x 1023 molekul/mol = 6,02 x 1023 /mol

= 6,02 x 1026 molekul/kmol = 6,02 x 1026 /kmol

Untuk memperoleh jumlah total molekul (N), maka kita bisa mengalikan jumlah molekul per
mol (NA) dengan jumlah mol (n).

hukum-gas-ideal-sKita oprek lagi persamaan Hukum Gas Ideal :

hukum-gas-ideal-tIni adalah persamaan Hukum Gas Ideal dalam bentuk jumlah molekul.

hukum-gas-ideal
Keterangan :

P = Tekanan

V = Volume

N = Jumlah total molekul

k = Konstanta Boltzmann (k = 1,38 x 10-13 J/K)

T = Suhu

Punya soal ?

Masukan saja melalui komentar, nanti gurumuda oprek… Soalnya jangan banyak2…

Berikut ini seperangkat peralatan perang dan amunisi yang mungkin dibutuhkan :

Volume

1 liter (L) = 1000 mililiter (mL) = 1000 centimeter kubik (cm3)

1 liter (L) = 1 desimeter kubik (dm3) = 1 x 10-3 m3

Tekanan

1 N/m2 = 1 Pa

1 atm = 1,013 x 105 N/m2 = 1,013 x 105 Pa = 1,013 x 102 kPa = 101,3 kPa (biasanya dipakai
101 kPa)

Pa = pascal

under → Uncategorized

siklus otto
2010 June 24
Leave a comment
Posted by ekamulyasari

Siklus Otto adalah siklus thermodinamika yang paling banyak digunakan dalam kehidupan
manusia. Mobil dan sepeda motor berbahan bakar bensin (Petrol Fuel) adalah contoh
penerapan dari sebuah siklus Otto.
Secara thermodinamika, siklus ini memiliki 4 buah proses thermodinamika yang terdiri dari 2
buah proses isokhorik (volume tetap) dan 2 buah proses adiabatis (kalor tetap). Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat diagram tekanan (p) vs temperatur (V) berikut:
Proses yang terjadi adalah :
1-2 : Kompresi adiabatis
2-3 : Pembakaran isokhorik
3-4 : Ekspansi / langkah kerja adiabatis
4-1 : Langkah buang isokhorik
Beberapa rumus yang digunakan untuk menganalisa sebuah siklus Otto adalah sebagai
berikut :
1. Proses Kompresi Adiabatis
T2/T1 = r^(k-1); p2/p1 = r^k

2. Proses Pembakaran Isokhorik


T3 = T2 + (f x Q / Cv) ; p3 = p2 ( T3 / T2)

3. Proses Ekspansi / Langkah Kerja


T4/T3 = r^(1-k) ; p4/p3 = r^(-k)

4. Kerja Siklus
W = Cv [(T3 - T2) - (T4 - T1)]

5. Tekanan Efektif Rata-rata (Mean Effective Pressure)


pme = W / (V1 – V2)

6. Daya Indikasi Motor


Pe = pme . n . i . (V1-V2) . z

Dimana parameter – parameternya adalah :


p = Tekanan gas (Kg/m^3)
T = Temperatur gas (K; Kelvin)
V = Volume gas (m^3)
r = Rasio kompresi (V1 – V2)
Cv = Panas jenis gas pada volume tetap ( kj/kg K)
k = Rasio panas jenis gas (Cp/Cv)
f = Rasio bahan bakar / udara
Q = Nilai panas bahan bakar (kj/kg)
W = Kerja (Joule)
n = Putaran mesin per detik (rps)
i = Index pengali; i=1 untuk 2 tak dan i=0.5 untuk 4 tak
z = Jumlah silinder
P = Daya ( Watt )

under → Uncategorized

siklus carnot
2010 June 24
Leave a comment
Posted by ekamulyasari

siklus carnot (mesin pendingin)


Mesin Carnot adalah mesin kalor hipotetis yang beroperasi dalam suatu siklus reversibel yang
disebut siklus Carnot. Model dasar mesin ini dirancang oleh Nicolas Léonard Sadi Carnot,
seorang insinyur militer Perancis pada tahun 1824. Model mesin Carnot kemudian
dikembangkan secara grafis oleh Émile Clapeyron 1834, dan diuraikan secara matematis oleh
Rudolf Clausius pada 1850an dan 1860an. Dari pengembangan Clausius dan Clapeyron inilah
konsep dari entropi mulai muncul.
Setiap sistem termodinamika berada dalam keadaan tertentu. Sebuah siklus termodinamika
terjadi ketika suatu sistem mengalami rangkaian keadaan-keadaan yang berbeda, dan
akhirnya kembali ke keadaan semula. Dalam proses melalui siklus ini, sistem tersebut dapat
melakukan usaha terhadap lingkungannya, sehingga disebut mesin kalor.
Sebuah mesin kalor bekerja dengan cara memindahkan energi dari daerah yang lebih panas
ke daerah yang lebih dingin, dan dalam prosesnya, mengubah sebagian energi menjadi usaha
mekanis. Sistem yang bekerja sebaliknya, dimana gaya eksternal yang dikerjakan pada suatu
mesin kalor dapat menyebabkan proses yang memindahkan energi panas dari daerah yang
lebih dingin ke energi panas disebut mesin refrigerator.
Pada diagram di samping, yang diperoleh dari tulisan Sadi Carnot berjudul Pemikiran tentang
Daya Penggerak dari Api (Réflexions sur la Puissance Motrice du Feu), diilustrasikan ada
dua benda A dan B, yang temperaturnya dijaga selalu tetap, dimana A memiliki temperatur
lebih tinggi daripada B. Kita dapat memberikan atau melepaskan kalor pada atau dari kedua
benda ini tanpa mengubah suhunya, dan bertindak sebagai dua reservoir kalor. Carnot
menyebut benda A “tungku” dan benda B “kulkas”.[1] Carnot lalu menjelaskan bagaimana
kita bisa memperoleh daya penggerak (usaha), dengan cara memindahkan sejumlah tertentu
kalor dari reservoir A ke B.
Diagram modern
Dibawah ini adalah diagram mesin Carnot sebagaimana biasanya dimodelkan dalam
pembahasan modern

Diagram mesin Carnot (modern) – kalor mengalir dari reservoir bersuhu tinggi TH melalui
“fluida kerja”, menuju reservoir dingin TC, dan menyebabkan fluida kerja memberikan usaha
mekanis kepada lingkungan, melalui siklus penyusutan (kontraksi) dan pemuaian (ekspansi).
Dalam diagram tersebut, sistem (“fluida kerja”), dapat berupa benda fluida atau uap apapun
yang dapat menerima dan memancarkan kalor Q, untuk menghasilkan usaha. Carnot
mengusulkan bahwa fluida ini dapat berupa zat apapun yang dapat mengalami ekspansi,
seperti uap air, uap alkohol, uap raksa, gas permanen, udara, dll. Sekalipun begitu, pada
tahun-tahun awal, mesin-mesin kalor biasanya memiliki beberapa konfigurasi khusus, yaitu
QH disuplai oleh pendidih, dimana air didihkan pada sebuah tungku, QC biasanya adalah
aliran air dingin dalam bentuk embun yang terletak di berbagai bagian mesin. Usaha keluaran
W biasanya adalahh gerakan piston yang digunakan untuk memutar sebuah engkol, yang
selanjutnya digunakan untuk memutar sebuah katrol. Penggunaannya biasanya untuk
mengangkut air dari sebuah pertambangan garam. Carnot sendiri mendefinisikan “usaha”
sebagai “berat yang diangkat melalui sebuah ketinggian”.
Teorema Carnot
Sebuah mesin nyata (real) yang beroperasi dalam suatu siklus pada temperatur TH and TC
tidak mungkin melebihi efisiensi mesin Carnot.

Sebuah mesin nyata (kiri) dibandingkan dengan siklus Carnot (kanan). Entropi dari sebuah
material nyata berubah terhadap temperatur. Perubahan ini ditunjukkan dengan kurva pada
diagram T-S. Pada gambar ini, kurva tersebut menunjukkan kesetimbangan uap-cair ( lihat
siklus Rankine). Sifat irreversibel sistem dan kehilangan ekalor ke lingkungan (misalnya,
disebabkan gesekan) menyebabkan siklus Carnot ideal tidak dapat terjadi pada semua
langkah sebuah mesin nyata.
Teorema Carnot adalah pernyataan formal dari fakta bahwa:Tidak mungkin ada mesin yang
beroperasi diantara dua reservoir panas yang lebih efisien daripada sebuah mesin Carnot yang
beroperasi pada dua reservoir yang sama. Artinya, efisiensi maksimum yang dimungkinkan
untuk sebuah mesin yang menggunakan temperatur tertentu diberikan oleh efisiensi mesin
Carnot,

Implikasi lain dari teorema Carnot adalah mesin reversibel yang beroperasi antara dua
reservoir panas yang sama memiliki efisiensi yang sama pula.
Efisiensi maksimum yang dinyatakan pada persamaan diatas dapat diperoleh jika dan hanya
jika tidak ada entropi yang diciptakan dalam siklus tersebut. Jika ada, maka karena entropi
adalah fungsi keadaan, untuk membuang kelebihan entropi agar dapat kembali ke keadaan
semula akan melibatkan pembuangan kalor ke lingkungan, yang merupakan proses
irreversibel dan akan menyebabkan turunnya efisiensi. Jadi persamaan diatas hanya
memberikan efisiensi dari sebuah mesin kalor reversibel.

under → Uncategorized

fluida
2010 June 24
Leave a comment
Posted by ekamulyasari

Pengertian Fluida

Fluida adalah zat yang dapat mengalir atau sering disebut Zat Alir.

Jadi perkataan fluida dapat mencakup zat cair atau gas.

Antara zat cair dan gas dapat dibedakan :

Zat cair adalah Fluida yang non kompresibel (tidak dapat ditekan) artinya tidak berubah
volumenya jika mendapat tekanan.

Gas adalah fluida yang kompresibel, artinya dapat ditekan.

Pembahasan dalam bab ini hanya dibatasi sampai fluida yang non kompresibel saja.

Bagian dalam fisika yang mempelajari tekanan-tekanan dan gaya-gaya dalam zat cair disebut
: HIDROLIKA atau MEKANIKA FLUIDA yang dapat dibedakan dalam :

Hidrostatika : Mempelajari tentang gaya maupun tekanan di dalam zat cair yang diam.

Hidrodinamika : Mempelajari gaya-gaya maupun tekanan di dalam zat cair yang bergerak.

(Juga disebut mekanika fluida bergerak)

1. Statika Fluida
Statika fluida, kadang disebut juga hidrostatika, adalah cabang ilmu yang mempelajari
fluida dalam keadaan diam, dan merupakan sub-bidang kajian mekanika fluida. Istilah ini
biasanya merujuk pada penerapan matematika pada subyek tersebut. Statika fluida mencakup
kajian kondisi fluida dalam keadaan kesetimbangan yang stabil. Penggunaan fluida untuk
melakukan kerja disebut hidrolika, dan ilmu mengenai fluida dalam keadaan bergerak disebut
sebagai dinamika fluida.

Tekanan statik di dalam fluida


Karena sifatnya yang tidak dapat dengan mudah dimampatkan, fluida dapat menghasilkan
tekanan normal pada semua permukaan yang berkontak dengannya. Pada keadaan diam
(statik), tekanan tersebut bersifat isotropik, yaitu bekerja dengan besar yang sama ke segala
arah. Karakteristik ini membuat fluida dapat mentransmisikan gaya sepanjang sebuah pipa
atau tabung, yaitu, jika sebuah gaya diberlakukan pada fluida dalam sebuah pipa, maka gaya
tersebut akan ditransmisikan hingga ujung pipa. Jika terdapat gaya lawan di ujung pipa yang
besarnya tidak sama dengan gaya yang ditransmisikan, maka fluida akan bergerak dalam arah
yang sesuai dengan arah gaya resultan.

Konsepnya pertama kali diformulasikan, dalam bentuk yang agak luas, oleh matematikawan
dan filsuf Perancis, Blaise Pascal pada 1647 yang kemudian dikenal sebagai Hukum Pascal.
Hukum ini mempunyai banyak aplikasi penting dalam hidrolika. Galileo Galilei, juga adalah
bapak besar dalam hidrostatika.

Tekanan Hidrostatik

sevolume kecil fluida pada kedalaman tertentu dalam sebuah bejana akan memberikan
tekanan ke atas untuk mengimbangi berat fluida yang ada di atasnya. Untuk suatu volume
yang sangat kecil, tegangan adalah sama di segala arah, dan berat fluida yang ada di atas
volume sangat kecil tersebut ekuivalen dengan tekanan yang dirumuskan sebagai berikut

(dalam satuan SI),

P = tekanan hidrostatik (dalam pascal);

ρ = massa jenis fluida (dalam kilogram per meter kubik);

g = percepatan gravitasi (dalam meter per detik kuadrat);

h = tinggi kolom fluida (dalam meter).

Apungan

Sebuah benda padat yang terbenam dalam fluida akan mengalami gaya apung yang besarnya
sama dengan berat fluida yang dipindahkan. Hal ini disebabkan oleh tekanan hidrostatik
fluida.

Sebagai contoh, sebuah kapal kontainer dapat mengapung sebab gaya beratnya diimbangi
oleh gaya apung dari air yang dipindahkan. Makin banyak kargo yang dimuat, posisi kapal
makin rendah di dalam air, sehingga makin banyak air yang “dipindahkan”, dan semakin
besar pula gaya apung yang bekerja.

Prinsip apungan ini ditemukan oleh Archimedes.

2. Dinamika Fluida

Dinamika fluida adalah subdisiplin dari mekanika fluida yang mempelajari fluida bergerak.
Fluida terutama cairan dan gas. Penyelsaian dari masalah dinamika fluida biasanya
melibatkan perhitungan banyak properti dari fluida, seperti kecepatan, tekanan, kepadatan
dan suhu sebagai fungsi ruang dan waktu. Disiplini ini memiliki beberapa subdisiplin
termasuk aerodinamika (penelitian gas) dan hidrodinamika(penelitian cairan). Dinamika
fluida memliki aplikasi yang luas. Contohnya, ia digunakan dalam menghitung gaya dan
moment padapesawat, mass flow rate dari petroleum dalam jalur pipa, dan perkiraan pola
cuaca, dan bahkan teknik lalulintas, di mana lalu lintas diperlakukan sebagai fluid yang
berkelanjutan. Dinamika fluida menawarkan struktur matematika yang membawahi disiplin
praktis tersebut yang juga seringkali memerlukan hukum empirik dan semi-empirik,
diturunkan dari pengukuran arus untuk menyelesaikan masalah praktikal.

under → Uncategorized

benda tegar
2010 June 24
Leave a comment
Posted by ekamulyasari

1. Dinamika Rotasi Benda Tegar

sebuah benda tegar bergerak rotasi murni jika setiap partikel pada benda tersebut bergerak
dalam lingkaran yang pusatnya terletak pada garis lurus yang disebut sumbu rotasi.

2. Titik Berat Benda Tegar

Telah dikatakan sebelumnya bahwa suatu benda tegar dapat mengalami gerak translasi (gerak

lurus) dan gerak rotasi. Benda tegar akan melakukan gerak translasi apabila gaya yang

diberikan pada benda tepat mengenai suatu titik yang yang disebut titik berat

Titik berat merupakan titik dimana benda akan berada dalam keseimbangan rotasi (tidak
mengalami rotasi). Pada saat benda tegar mengalami gerak translasi dan rotasi sekaligus,
maka pada saat itu titik berat akan bertindak sebagai sumbu rotasi dan lintasan gerak dari titik
berat ini menggambarkan lintasan gerak translasinya.

Mari kita tinjau suatu benda tegar, misalnya tongkat pemukul kasti, kemudian kita lempar
sambil sedikit berputar. Kalau kita perhatikan secara aeksama, gerakan tongkat pemukul tadi
dapat kita gambarkan seperti membentuk suatu lintasan dari gerak translasi yang sedang
dijalani dimana pada kasus ini lintasannya berbentuk parabola. Tongkat ini memang berputar
pada porosnya, yaitu tepat di titik beratnya. Dan, secara keseluruhan benda bergerak dalam
lintasan parabola. Lintasan ini merupakan lintasan dari posisi titik berat benda tersebut.

Demikian halnya seorang peloncat indah yang sedang terjun ke kolam renang. Dia
melakukan gerak berputar saat terjun. sebagaimana tongkat pada contoh di atas, peloncat
indah itu juga menjalani gerak parabola yang bisa dilihat dari lintasan titik beratnya.
Perhatikan gambar berikut ini.

Jadi, lintasan gerak translasi dari benda tegar dapat ditinjau sebagai lintasan dari letak titik
berat benda tersebut. Dari peristiwa ini tampak bahwa peranan titik berat begitu penting
dalam menggambarkan gerak benda tegar.

Cara untuk mengetahui letak titik berat suatu benda tegar akan menjadi mudah untuk benda-
benda yang memiliki simetri tertentu, misalnya segitiga, kubus, balok, bujur sangkar, bola
dan lain-lain. Yaitu d sama dengan letak sumbu simetrinya. Hal ini jelas terlihat pada contoh
diatas bahwa letak titik berat sama dengan sumbu rotasi yang tidak lain adalah sumbu
simetrinya.

Di sisi lain untuk benda-benda yang mempunyai bentuk sembarang letak titik berat dicari
dengan perhitungan. Perhitungan didasarkan pada asumsi bahwa kita dapat mengambil
beberapa titik dari benda yang ingin dihitung titik beratnya dikalikan dengan berat di masing-
masing titik kemudian dijumlahkan dan dibagi dengan jumlah berat pada tiap-tiap titik.
dikatakan titik berat juga merupakan pusat massa di dekat permukaan bumi, namun untuk
tempat yang ketinggiannya tertentu di atas bumi titik berat dan pusat massa harus dibedakan.

3. Keserimbangan benda tegar

Sebuah benda bisa bergerak lurus jika gaya yang dikerjakan pada benda itu lebih besar
daripada gaya hambat (gaya gesekan). Selisih antara gaya yang dikerjakan pada benda
dengan gaya gesekan disebut gaya total. Jadi yang membuat benda bisa bergerak lurus adalah
gaya total. Mengenai hal ini sudah kita pelajari dalam hukum II Newton (Dinamika).
Selain melakukan gerak lurus, benda juga bisa melakukan gerak rotasi. Benda yang
melakukan gerak rotasi disebabkan oleh adanya Torsi. Jika torsi yang dikerjakan pada benda
yang diam lebih besar dari torsi yang menghambat, maka benda akan berputar alias berotasi.
Dalam hal ini selisih antara torsi yang dikerjakan pada benda dengan torsi yang menghambat
disebut torsi total. Jadi sebenarnya yang membuat benda berotasi adalah torsi total. Torsi =
gaya x lengan gaya. Ketika kita memberikan torsi pada sebuah benda, sebenarnya kita
memberikan gaya pada benda itu, tapi gaya itu dikalikan juga dengan panjang lengan gaya.

Misalnya beton yang digunakan untuk membangun jembatan bisa bengkok,


bahkan patah jika dikenai gaya berat yang besar (ada kendaraan raksasa yang lewat di
atasnya) Derek bisa patah jika beban yang diangkat melebihi kapasitasnya. Mobil bisa
bungkuk kalau gaya berat penumpang melebihi kapasitasnya. Dalam hal ini benda‐benda itu
mengalami perubahan bentuk. Jika bentuk benda berubah, maka jarak antara setiap bagian
pada benda itu tentu saja berubah alias benda menjadi tidak tegar lagi. Untuk menghindari hal
ini, maka kita perlu mempelajari faktor‐faktor apa saja yang dibutuhkan agar sebuah benda
tetap tegar

under → Uncategorized
momentum, impuls, dan tumbukan
2010 June 24
Leave a comment
Posted by ekamulyasari

A. Pengertian Momentum

Momentum suatu benda adalah hasil kali massa dan kecepatan.


Dirumuskan dengan persamaan:

p = m.v m = massa ( kg)


v = kecepatan ( m/s )
p = momentum ( kg.m/s )

Momentum juga disebut jumlah gerak.


Momentum adalah besaran vector. Momentum 45 kgm/s ke utara berbeda dengan momentum
45 kgm/s ke selatan, walaupun nilai keduanya sama. Penjumlahan momentum mengikuti
aturan penjumlahan vector. Misal momentum p1 dan p2 membentuk sudut α , maka resultan/
jumlah kedua momentum tersebut dapayt dituliskan dengan persamaan :

p = √ p12 + p22 + 2 p1 p2 cos α

B. Pengetian Impuls

Impuls adalah hasil kali antara gaya yang bekerja dan selang waktu gaya itu bekerja. Impuls
juga sering disebut pukulan.
Dirumuskan dengan persamaan :

I = F. ∆t F = gaya ( N )
∆t = selang waktu ( s )
I = Impuls ( Ns )

Impuls merupakan besaran vector.

C. Hubungan antara imupls dan momentum

Sebuah benda massa m mula-mula bergerak dengan kecepatan v1, kemudian dipukul dengan
gaya F hingga kecepatannya menjadi v2, seperti gambar di bawah, maka besarnya impuls
yang bekerja pada benda tersebut adalah:
∆t
v1
v2
F
m

Sesuai dengan hukum II Newton:


I = F. ∆t , karena
v2 – v1
F = m.a dan a = –––––––––––, maka :
∆t
v2 – v1
I = m.–––––– . ∆t
∆t
I = m (v2 – v1 ) –––––> I = m v2 – m v1 atau I = p2 – p1

Dapat juga dituls I = ∆p ( Impuls merupakan perubahan momentum benda )


Contoh Soal
Sebuah benda massa 5 kg bergerak dengan kecepatan 10m/s. Hitunglah momentum yang
dimiliki benda!
Penyelesian : Diketahui : m = 5 kg; v = 10 m/s
Ditanya : p = …?
Jaab : p = m.v = 5.10 = 50 kgm/s

Sebuah benda mula-mula bergerak ke utara dengan kecepatan 6 m/s, kemudian berbelok ke
barat dengan kecepatan 8 m/s. Apabila massa benda 50 kg, berpakah momentum total yang
dimiliki benda ?
Penyelesaian : Diketahui : v1 = 6 m/s; v2 = 8 m/s; m = 5 kg
Ditanya : p = …?
Jawab : p1 = m. v1 = 50.6 = 300 kgm/s
p1
p
P2 P2 = m. v2 = 50.8 = 400 kgm/s

––––––– –––––––––
p = √ p12 + p22 = √ 3002 + 4002 = 500 kgm/s

Sebuah gaya 25 N bekerja pada sebuah benda dalam selang waktu 0,2 sekon. Hitunglah
impuls yang dikerjakan gaya tersebut pada benda
Penyelesaian : Diketahui : F = 25 N; ∆t = 0,2 s
Ditanya : I = …?
Jawab : I = F. ∆t = 25. 0,2 = 5 Ns

Sebuah bola massanya 50 gram dilempar dengan kecepatan 10 m/s, kemudian dipukul
dengan gaya F hingga kecepatannya 20 m/s berlawanan arah dengan kecepatan semula.
Hitunglah impuls yang dikerjakan oleh gaya tersebut!
Jika besarnya gaya F = 150 N, berapa lama pemukul menyentuh bola?
Penyelesaian : Diketahui : m = 50 gram = 50.10–3 kg; v1 = – 10 m/s;
v2 = 20 m/s
Ditanya : a. I = …?
b. Jika F = 150 N –––> ∆t = …?
Jawab : a. I = m.( v2 – v1 ) = 50.10–3 [20 – (-10)]
= 50.10–3. 30 = 1500.10–3 = 1,5 Ns
b. I = F. ∆t ––––> 1,5 = 150. ∆t –––> ∆t = 0,01 s

D. Hukum Kekekalan Momentum dan Tumbukan


“Jumlah momentum suatu sistem sebelum dan sesudah tumbukan akan selalu tetap”
Pernyataan di atas disebut hukum kekekalan momentum dan ditulis dengan persamaan:

m1.v1 + m2.v2 = m1.v1’ + m2.v2’ m1 = massa benda 1


m2 = massa benda 2
v1 = kecepatan benda 1 sebelum tumbukan
v2 = kecepatan benda 2 sebelum tumbukan
v1’ = kecepatan benda 1 sesudah tumbukan
v2’ = kecepatan benda 2 sesudah tumbukan

E. Jenis-Jenis Tumbukan

Tumbukan Lenting Sempurna


Hukum Kekekalan Momentum dan Hukum Kekekalan Energi Kinetik berlaku pada peristiwa
tumbukan lenting sempurna karena total massa dan kecepatan kedua benda sama, baik
sebelum maupun setelah tumbukan. Hukum Kekekalan Energi Kinetik berlaku pada
Tumbukan lenting sempurna karena selama tumbukan tidak ada energi yang hilang.

Ketika dua bola billiard atau dua kelereng bertumbukan, apakah anda mendengar bunyi yang
diakibatkan oleh tumbukan itu ? atau ketika mobil atau sepeda motor bertabrakan, apakah ada
bunyi yang dihasilkan ? pasti ada bunyi dan juga panas yang muncul akibat benturan antara
dua benda. Bunyi dan panas ini termasuk energi. Jadi ketika dua benda bertumbukan dan
menghasilkan bunyi dan panas, maka ada energi yang hilang selama proses tumbukan
tersebut. Sebagian Energi Kinetik berubah menjadi energi panas dan energi bunyi. Dengan
kata lain, total energi kinetik sebelum tumbukan tidak sama dengan total energi kinetik
setelah tumbukan.

Nah, benda-benda yang mengalami Tumbukan Lenting Sempurna tidak menghasilkan bunyi,
panas atau bentuk energi lain ketika terjadi tumbukan. Tidak ada Energi Kinetik yang hilang
selama proses tumbukan. Dengan demikian, kita bisa mengatakan bahwa pada peritiwa
Tumbukan Lenting Sempurna berlaku Hukum Kekekalan Energi Kinetik.

Tumbukan Lenting Sebagian


Pada pembahasan sebelumnya, kita telah belajar bahwa pada Tumbukan Lenting Sempurna
berlaku Hukum Kekekalan Momentum dan Hukum Kekekakalan Energi Kinetik. Nah,
bagaimana dengan tumbukan lenting sebagian ?

Pada tumbukan lenting sebagian, Hukum Kekekalan Energi Kinetik tidak berlaku karena ada
perubahan energi kinetik terjadi ketika pada saat tumbukan. Perubahan energi kinetik bisa
berarti terjadi pengurangan Energi Kinetik atau penambahan energi kinetik. Pengurangan
energi kinetik terjadi ketika sebagian energi kinetik awal diubah menjadi energi lain, seperti
energi panas, energi bunyi dan energi potensial. Hal ini yang membuat total energi kinetik
akhir lebih kecil dari total energi kinetik awal. Kebanyakan tumbukan yang kita temui dalam
kehidupan sehari-hari termasuk dalam jenis ini, di mana total energi kinetik akhir lebih kecil
dari total energi kinetik awal. Tumbukan antara kelereng, tabrakan antara dua kendaraan,
bola yang dipantulkan ke lantai dan lenting ke udara, dll.

Sebaliknya, energi kinetik akhir total juga bisa bertambah setelah terjadi tumbukan. Hal ini
terjadi ketika energi potensial (misalnya energi kimia atau nuklir) dilepaskan. Contoh untuk
kasus ini adalah peristiwa ledakan.
Suatu tumbukan lenting sebagian biasanya memiliki koofisien elastisitas (e) berkisar antara 0
sampai 1. Secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :

Bagaimana dengan Hukum Kekekalan Momentum ? Hukum Kekekalan Momentum tetap


berlaku pada peristiwa tumbukan lenting sebagian, dengan anggapan bahwa tidak ada gaya
luar yang bekerja pada benda-benda yang bertumbukan.

Tumbukan Tidak Lenting Sama Sekali

Bagaimana dengan tumbukan tidak lenting sama sekali ? suatu tumbukan dikatakan
Tumbukan Tidak Lenting sama sekali apabila dua benda yang bertumbukan bersatu alias
saling menempel setelah tumbukan. Salah satu contoh populer dari tumbukan tidak lenting
sama sekali adalah pendulum balistik. Pendulum balistik merupakan sebuah alat yang sering
digunakan untuk mengukur laju proyektil, seperti peluru. Sebuah balok besar yang terbuat
dari kayu atau bahan lainnya digantung seperti pendulum. Setelah itu, sebutir peluru
ditembakkan pada balok tersebut dan biasanya peluru tertanam dalam balok. Sebagai akibat
dari tumbukan tersebut, peluru dan balok bersama-sama terayun ke atas sampai ketinggian
tertentu (ketinggian maksimum). Lihat gambar di bawah…

Apakah pada Tumbukan Tidak Lenting Sama sekali berlaku hukum Kekekalan Momentum
dan Hukum Kekekalan Energi Kinetik ?

Perhatikan gambar di atas. Hukum kekekalan momentum hanya berlaku pada waktu yang
sangat singkat ketika peluru dan balok bertumbukan, karena pada saat itu belum ada gaya
luar yang bekerja. Secara matematis dirumuskan sebagai berikut :

m1v1 + m2v2 = m1v’1 + m2v’2

m1v1 + m2(0) = (m1 + m2) v’

m1v1 = (m1 + m2) v’—- persamaan 1

Apakah setelah balok mulai bergerak masih berlaku hukum Kekekalan Momentum ?
Tidak…. Mengapa tidak ? ketika balok (dan peluru yang tertanam di dalamnya) mulai
bergerak, akan ada gaya luar yang bekerja pada balok dan peluru, yakni gaya gravitasi. Gaya
gravitasi cenderung menarik balok kembali ke posisi setimbang. Karena ada gaya luar total
yang bekerja, maka hukum Kekekalan Momentum tidak berlaku setelah balok bergerak.

Lalu bagaimana kita menganalisis gerakan balok dan peluru setelah tumbukan ?

Nah, masih ingatkah dirimu pada Hukum Kekekalan Energi Mekanik ? kita dapat
menganalisis gerakan balok dan peluru setelah tumbukan menggunakan hukum Kekekalan
Energi Mekanik. Ketika balok mulai bergerak setelah tumbukan, sedikit demi sedikit energi
kinetik berubah menjadi energi potensial gravitasi. Ketika balok dan peluru mencapai
ketinggian maksimum (h), seluruh Energi Kinetik berubah menjadi Energi Potensial
gravitasi. Dengan kata lain, pada ketinggian maksimum (h), Energi Potensial gravitasi
bernilai maksimum, sedangkan EK = 0.

Kita turunkan persamaannya ya


Catatan :

Ketika balok dan peluru tepat mulai bergerak dengan kecepatan v’, h1 = 0. Pada saat balok
dan peluru berada pada ketinggian maksimum, h2 = h dan v2 = 0.

Persamaan Hukum Kekekalan Energi Mekanik untuk kasus tumbukan tidak lenting sama
sekali.

EM1 = EM2

EP1 + EK1 = EP2 + EK2

0 + EK1 = EP2 + 0

½ (m1 + m2)v’2 = (m1 + m2) g h — persamaan 2

F. Hukum Kekekalan Momentum

momentum total sebelum tumbukan = momentum total setelah tumbukan. Hal ini berlaku
apabila tidak ada gaya luar alias gaya eksternal total yang bekerja pada benda yang
bertumbukan. Jadi analisis kita hanya terbatas pada dua benda yang bertumbukan, tanpa ada
pengaruh dari gaya luar. Sekarang perhatikan gambar di bawah ini.

Jika dua benda yang bertumbukan diilustrasikan dengan gambar di atas, maka secara
matematis, hukum kekekalan momentum dinyatakan dengan persamaan :

under → Uncategorized

Fluida ( zat alir ) adalah zat yang dapat mengalir,


misalnya zat cair dan gas. Fluida dapat digolongkan
dalam dua macam, yaitu fluida statis dan dinamis.
TEKANAN HIDROSTATIS Tekanan hidrostatis ( Ph)
adalah tekanan yang dilakukan zat cair pada bidang
dasar tempatnya. PARADOKS HIDROSTATIS Gaya
yang bekerja pada dasar sebuah bejana tidak tergantung
pada bentuk bejana dan jumlah zat cair dalam bejana,
tetapi tergantung pada luas dasar bejana ( A ), tinggi ( h )
dan massa jenis zat cair ( r ) dalam bejana. Ph = r g h Pt =
Po + Ph F = P h A = r g V r = massa jenis zat cair h =
tinggi zat cair dari permukaan g = percepatan gravitasi Pt
= tekanan total Po = tekanan udara luar HUKUM
PASCAL Tekanan yang dilakukan pada zat cair akan
diteruskan ke semua arah sama. P1 = P2 ® F1/A1 = F2/A2
HUKUM ARCHIMEDES Benda di dalam zat cair akan
mengalami pengurangan berat sebesar berat zat cair yang
dipindahkan. Tiga keadaan benda di dalam zat cair: a.
tenggelam: W>Fa Þ rb > rz b. melayang: W = Fa Þ rb = rz
c. terapung: W=Fa Þ rb.V=rz.V’ ; rb<rz W = berat benda
Fa = gaya ke atas = rz . V' . g rb = massa jenis benda rz =
massa jenis fluida V = volume benda V' = volume benda
yang berada dalam fluida Akibat adanya gaya ke atas ( Fa
), berat benda di dalam zat cair (Wz) akan berkurang
menjadi: Wz = W – Fa Wz = berat benda di dalam zat cair
TEGANGAN PERMUKAAN Tegangan permukaan ( g)
adalah besar gaya ( F ) yang dialami pada permukaan zat
cair persatuan panjang(l) g = F / 2l KAPILARITAS
Kapilaritas ialah gejala naik atau turunnya zat cair ( y )
dalam tabung kapiler yang dimasukkan sebagian ke
dalam zat cair
2010 June 21
Leave a comment
Posted by ekamulyasari

under → Uncategorized

Konsep dasar dalam termodinamika Pengabstrakan dasar


atas termodinamika adalah pembagian dunia menjadi
sistem dibatasi oleh kenyataan atau ideal dari batasan.
Sistem yang tidak termasuk dalam pertimbangan
digolongkan sebagai lingkungan. Dan pembagian sistem
menjadi subsistem masih mungkin terjadi, atau
membentuk beberapa sistem menjadi sistem yang lebih
besar. Biasanya sistem dapat diberikan keadaan yang
dirinci dengan jelas yang dapat diuraikan menjadi
beberapa parameter. [sunting] Sistem termodinamika
Sistem termodinamika adalah bagian dari jagat raya yang
diperhitungkan. Sebuah batasan yang nyata atau
imajinasi memisahkan sistem dengan jagat raya, yang
disebut lingkungan. Klasifikasi sistem termodinamika
berdasarkan pada sifat batas sistem-lingkungan dan
perpindahan materi, kalor dan entropi antara sistem dan
lingkungan. Ada tiga jenis sistem berdasarkan jenis
pertukaran yang terjadi antara sistem dan lingkungan: *
sistem terisolasi: tak terjadi pertukaran panas, benda atau
kerja dengan lingkungan. Contoh dari sistem terisolasi
adalah wadah terisolasi, seperti tabung gas terisolasi. *
sistem tertutup: terjadi pertukaran energi (panas dan
kerja) tetapi tidak terjadi pertukaran benda dengan
lingkungan. Rumah hijau adalah contoh dari sistem
tertutup di mana terjadi pertukaran panas tetapi tidak
terjadi pertukaran kerja dengan lingkungan. Apakah
suatu sistem terjadi pertukaran panas, kerja atau
keduanya biasanya dipertimbangkan sebagai sifat
pembatasnya: o pembatas adiabatik: tidak
memperbolehkan pertukaran panas. o pembatas rigid:
tidak memperbolehkan pertukaran kerja. * sistem
terbuka: terjadi pertukaran energi (panas dan kerja) dan
benda dengan lingkungannya. Sebuah pembatas
memperbolehkan pertukaran benda disebut permeabel.
Samudra merupakan contoh dari sistem terbuka. Dalam
kenyataan, sebuah sistem tidak dapat terisolasi
sepenuhnya dari lingkungan, karena pasti ada terjadi
sedikit pencampuran, meskipun hanya penerimaan sedikit
penarikan gravitasi. Dalam analisis sistem terisolasi,
energi yang masuk ke sistem sama dengan energi yang
keluar dari sistem. [sunting] Keadaan termodinamika
Ketika sistem dalam keadaan seimbang dalam kondisi
yang ditentukan, ini disebut dalam keadaan pasti (atau
keadaan sistem). Untuk keadaan termodinamika tertentu,
banyak sifat dari sistem dispesifikasikan. Properti yang
tidak tergantung dengan jalur di mana sistem itu
membentuk keadaan tersebut, disebut fungsi keadaan
dari sistem. Bagian selanjutnya dalam seksi ini hanya
mempertimbangkan properti, yang merupakan fungsi
keadaan. Jumlah properti minimal yang harus
dispesifikasikan untuk menjelaskan keadaan dari sistem
tertentu ditentukan oleh Hukum fase Gibbs. Biasanya
seseorang berhadapan dengan properti sistem yang lebih
besar, dari jumlah minimal tersebut. Pengembangan
hubungan antara properti dari keadaan yang berlainan
dimungkinkan. Persamaan keadaan adalah contoh dari
hubungan tersebut. [sunting] Hukum-hukum Dasar
Termodinamika Terdapat empat Hukum Dasar yang
berlaku di dalam sistem termodinamika, yaitu: * Hukum
Awal (Zeroth Law) Termodinamika Hukum ini
menyatakan bahwa dua sistem dalam keadaan setimbang
dengan sistem ketiga, maka ketiganya dalam saling
setimbang satu dengan lainnya. * Hukum Pertama
Termodinamika Hukum ini terkait dengan kekekalan
energi. Hukum ini menyatakan perubahan energi dalam
dari suatu sistem termodinamika tertutup sama dengan
total dari jumlah energi kalor yang disuplai ke dalam
sistem dan kerja yang dilakukan terhadap sistem. *
Hukum kedua Termodinamika Hukum kedua
termodinamika terkait dengan entropi. Hukum ini
menyatakan bahwa total entropi dari suatu sistem
termodinamika terisolasi cenderung untuk meningkat
seiring dengan meningkatnya waktu, mendekati nilai
maksimumnya. * Hukum ketiga Termodinamika Hukum
ketiga termodinamika terkait dengan temperatur nol
absolut. Hukum ini menyatakan bahwa pada saat suatu
sistem mencapai temperatur nol absolut, semua proses
akan berhenti dan entropi sistem akan mendekati nilai
minimum. Hukum ini juga menyatakan bahwa entropi
benda berstruktur kristal sempurna pada temperatur nol
absolut bernilai nol.
2010 June 21
Leave a comment
Posted by ekamulyasari

under → Uncategorized

teori kinetik gas


2010 June 21
Leave a comment
Posted by ekamulyasari

Di pertengahan abad ke-19, ilmuwan mengembangkan suatu teori baru untuk menggantikan
teori kalorik. Teori ini bedasarkan pada anggapan bahwa zat disusun oleh partikel-partikel
sangat kecil yang selalu bergerak. Bunyi teori Kinetik adalah sebagai berikut:

Dalam benda yang panas, partikel-partikel bergerak lebih cepat dan karena itu memiliki
energi yang lebih besar daripada partikel-partikel dalam benda yang lebih dingin.

Teori Kinetik (atau teori kinetik pada gas) berupaya menjelaskan sifat-sifat makroscopik gas,
seperti tekanan, suhu, atau volume, dengan memperhatikan komposisi molekular mereka dan
gerakannya. Intinya, teori ini menytakan bahwa tekanan tidaklah disebabkan oleh denyut-
denyut statis di antara molekul-molekul, seperti yang diduga Isaac Newton, melainkan
disebabkan oleh tumbukan antarmolekul yang bergerak pada kecepatan yang berbeda-beda.
Teori Kinetik dikenal pula sebagai Teori Kinetik-Molekular atau Teori Tumbukan atau Teori
Kinetik pada Gas.

Teori untuk gas ideal memiliki asumsi-asumsi berikut ini:

* Gas terdiri dari partikel-partikel sangat kecil, dengan [[massa] tidak nol.
* Banyaknya molekul sangatlah banyak, sehingga perlakuan statistika dapat diterapkan.
* Molekul-molekul ini bergerak secara konstan sekaligus acak. Partikel-partike yang
bergerak sangat cepat itu secara konstan bertumbukan dengan dinding-dinding wadah.
* Tumbukan-tumbukan partikel gas terhadap dinding wadah bersifat lenting (elastis)
sempurna.
* Interaksi antarmolekul dapat diabaikan (negligible). Mereka tidak mengeluarkan gaya satu
sama lain, kecuali saat tumbukan terjadi.
* Keseluruhan volume molekul-molekul gas individual dapat diabaikan bila dibandingkan
dengan volume wadah. Ini setara dengan menyatakan bahwa jarak rata-rata antarpartikel gas
cukuplah besar bila dibandingkan dengan ukuran mereka.
* Molekul-molekul berbentuk bulat (bola) sempurna, dan bersifat lentur (elastic).
* Energi kinetik rata-rata partikel-partikel gas hanya bergantung kepada suhu sistem.
* Efek-efek relativistik dapat diabaikan.
* Efek-efek Mekanika kuantum dapat diabaikan. Artinya bahwa jarak antarpartikel lebih
besar daripada panjang gelombang panas de Broglie dan molekul-molekul dapat diperlakukan
sebagai objek klasik.
* Waktu selama terjadinya tumbukan molekul dengan dinding wadah dapat diabaikan karena
berbanding lurus terhadap waktu selang antartumbukan.
* Persamaan-persamaan gerak molekul berbanding terbalik terhadap waktu.

Lebih banyak pengembangan menenangkan asumsi-asumsi ini dan didasarkan kepada


Persamaan Boltzmann. Ini dapat secara akurat menjelaskan sifat-sifat gas padat, sebab
mereka menyertakan volume molekul. Asumsi-asumsi penting adalah ketiadaan efek-efek
quantum, kekacauan molekular dan gradien kecil di dalam sifat-sifat banyaknya. Perluasan
terhadap orde yang lebih tinggi dalam kepadatan dikenal sebagai perluasan virial. Karya
definitif adalah buku tulisan Chapman dan Enskog, tetepi terdapat pengembangan yang lebih
modern dan terdapat pendekatan alternatif yang dikembangkan oleh Grad, didasarkan pada
perluasan momentum.[rujukan?] Di dalam batasan lainnya, untuk gas yang diperjarang,
gradien-gradien di dalam sifat-sifat besarnya tidaklah kecil bila dibandingkan dengan
lintasan-lintasan bebas rata-ratanya. Ini dikenal sebagai rezim Knudsen regime dan
perluasan-perluasannya dapat dinyatakan dengan Bilangan Knudsen.

Teori Kinetik juga telah diperluas untuk memasukkan tumbukan tidak lenting di dalam materi
butiran oleh Jenkins dan kawan-kawan.[rujukan?]
[sunting] Faktor
[sunting] Tekanan

Tekanan dijelaskan oleh teori kinetik sebagai kemunculan dari gaya yang dihasilkan oleh
molekul-molekul gas yang menabrak dinding wadah. Misalkan suatu gas denagn N molekul,
masing-masing bermassa m, terisolasi di dalam wadah yang mirip kubus bervolume V.
Ketika sebuah molekul gas menumbuk dinding wadah yang tegak lurus terhadap sumbu
koordinat x dan memantul dengan arah berlawanan pada laju yang sama (suatu tumbukan
lenting), maka momentum yang dilepaskan oleh partikel dan diraih oleh dinding adalah:

\Delta p_x = p_i – p_f = 2 m v_x\,

di mana vx adalah komponen-x dari kecepatan awal partikel.

Partikel memberi tumbukan kepada dinding sekali setiap 2l/vx satuan waktu (di mana l
adalah panjang wadah). Kendati partikel menumbuk sebuah dinding sekali setiap 1l/vx satuan
waktu, hanya perubahan momentum pada dinding yang dianggap, sehingga partikel
menghasilkan perubahan momentum pada dinding tertentu sekali setiap 2l/vx satuan waktu.

\Delta t = \frac{2l}{v_x}

gaya yang dimunculkan partikel ini adalah:

F = \frac{\Delta p}{\Delta t} = \frac{2 m v_x}{\frac{2l}{v_x}} = \frac{m v_x^2}{l}

Keseluruhan gaya yang menumbuk dinding adalah:

F = \frac{m\sum_j v_{jx}^2}{l}

di mana hasil jumlahnya adalah semua molekul gas di dalam wadah.


Besaran kecepatan untuk tiap-tiap partikel mengikuti persamaan ini:

v^2 = v_x^2 + v_y^2 + v_z^2

Kini perhatikan gaya keseluruhan yang menumbuk keenam-enam dinding, dengan


menambahkan sumbangan dari tiap-tiap arah, kita punya:

\mbox{Total Force} = 2 \cdot \frac{m}{l}(\sum_j v_{jx}^2 + \sum_j v_{jy}^2 + \sum_j


v_{jz}^2) = 2 \cdot \frac{m}{l} \sum_j (v_{jx}^2 + v_{jy}^2 + v_{jz}^2) = 2 \cdot \frac{m
\sum_j v_{j}^2}{l}

di mana faktor dua muncul sejak saat ini, dengan memperhatikan kedua-dua dinding menurut
arah yang diberikan.

Misalkan ada sejumlah besar partikel yang bergerak cukup acak, gaay pada tiap-tiap dinding
akan hampir sama dan kini perhatikanlah gaya pada satu dinding saja, kita punya:

F = \frac{1}{6} \left(2 \cdot \frac{m \sum_j v_{j}^2}{l}\right) = \frac{m \sum_j


v_{j}^2}{3l}

Kuantitas \sum_j v_{j}^2 dapat dituliskan sebagai {N} \overline{v^2}, di mana garis atas
menunjukkan rata-rata, pada kasus ini rata-rata semua partikel. Kuantitas ini juga dinyatakan
dengan v_{rms}^2 di mana vrms dalah akar kuadrat rata-rata kecepatan semua partikel.

Jadi, gaya dapat dituliskan sebagai:

F = \frac{Nmv_{rms}^2}{3l}

Tekanan, yakni gaya per satuan luas, dari gas dapat dituliskan sebagai:

P = \frac{F}{A} = \frac{Nmv_{rms}^2}{3Al}

di mana A adalah luas dinding sasaran gaya.

Jadi, karena luas bagian yang berseberangan dikali dengan panjang sama dengan volume, kita
punya pernyataan berikut untuk tekanan

P = {Nmv_{rms}^2 \over 3V}

di mana V adalah volume. Maka kita punya

PV = {Nmv_{rms}^2 \over 3}

Karena Nm adalah masa keseluruhan gas, maka kepadatan adalah massa dibagi oleh volume
\rho = {Nm \over V} .

Maka tekanan adalah

P = {2 \over 3} \frac{\rho\ v_{rms}^2}{2}


Hasil ini menarik dan penting, sebab ia menghubungkan tekanan, sifat makroskopik, terhadap
energi kinetik translasional rata-rata per molekul {1 \over 2} mv_{rms}^2 yakni suatu sifat
mikroskopik. Ketahuilah bahwa hasil kali tekanan dan volume adalah sepertiga dari
keseluruhan energi kinetik.
[sunting] Suhu dan energi kinetik

Dari hukum gas ideal

PV = NkBT(1)

dimana B adalah konstanta Boltzmann dan T adalah suhu absolut. Dan dari rumus diatas,
dihasilkan Gagal memparse (kesalahan sintaks): PV={Nmv_{rms}^2\overset 3}

Derivat:

Nk_BT=\frac{Nmv_{rms}^2}{3}
T=\frac{mv_{rms}^2}{3k_B}(2)

yang menuju ke fungsi energi kinetik dari sebuah molekul

mv_{rms}^2=3k_BT

Energi kinetik dari sistem adalah N kali lipat dari molekul K=\frac{Nmv_{rms}^2}{2}

Suhunya menjadi

T=\frac{2K}{3Nk_B}(3)

Persamaan 3 ini adalah salah satu hasil penting dari teori kinetik
“ Rerata energi kinetik molekuler adalah sebanding dengan suhu absolut. ”

Dari persamaan 1 dan 3 didapat:

PV=\frac{2K}{3}(4)

Dengan demikian, hasil dari tekanan dan volume tiap mol sebanding dengan rerata energi
kinetik molekuler. Persamaan 1 dan 4 disebut dengan hasil klasik, yang juga dapat diturunkan
dari mekanika statistik[1].

Karena 3N adalah derajat kebebasan (DK) dalam sebuah sistem gas monoatomik dengan N
partikel, energi kinetik tiap DK adalah:

\frac{K}{3 N}=\frac{k_B T}{2}(5)

Dalam energi kinetik tiap DK, konstanta kesetaraan suhu adalah setengah dari konstanta
Boltzmann. Hasil ini berhubungan dengan teorema ekuipartisi. Seperti yang dijelaskan pada
artikel kapasitas bahang, gas diatomik seharusnya mempunyai 7 derajat kebebasan, tetapi gas
yang lebih ringan berlaku sebagai gas yang hanya mempunyai 5. Dengan demikian, energi
kinetik tiap kelvin (gas ideal monoatomik) adalah:
* Tiap mole: 12.47 J
* Tiap molekul: 20.7 yJ = 129 μeV

Pada STP (273,15 K , 1 atm), didapat:

* Tiap mole: 3406 J


* Tiap molekul: 5.65 zJ = 35.2 meV

[sunting] Banyaknya tumbukan dengan dinding

Jumlah tumbukan atom dengan dinding wadah tiap satuan luar tiap satuan waktu dapat
diketahui. Asumsikan pada gas ideal, derivasi dari [2] menghasilkan persamaan untuk jumlah
seluruh tumbukan tiap satuan waktu tiap satuan luas:

A=\frac{N\cdot v_{avg}}{4V}=\frac{\rho}{4}\sqrt{\frac{8kT}{\pi m}}\frac{1}{m}.

[sunting] Laju RMS molekul

Dari persamaan energi kinetik dapat ditunjukkan bahwa:

v_{rms}^2=\frac{3RT}{\mbox{massa mol}}

dengan v pada m/s, T pada kelvin, dan R adalah konstanta gas. Massa molar diberikan
sebagai kg/mol. Kelajuan paling mungkin adalah 81.6% dari kelajuan RMS, dan rerata
kelajuannya 92.1% (distribusi kelajuan Maxwell-Boltzmann).