Anda di halaman 1dari 14

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut WHO, kesehatan jiwa bukan hanya tidak ada gangguan jiwa, melainkan
mengandung berbagai karakteristik yang positif yang menggambarkan keselarasan dan
keseimbangan kejiwaan yang mencerminkan kedewasaan kepribadiannya. Menurut
data WHO pada tahun 2012 450 juta orang diseluruh dunia menderita gangguan
mental, dan sepertiganya tinggal di negara berkembang, sebanyak 8 dari 10 penderita
gangguan mental itu tidak mendapatkan perawatan.

Berdasarkan hasil rekapitulasi data di RSKD Dadi Makassar, terhitung jumlah


pasien dengan gangguan halusinasi pada tahun 2010 sebanyak 12.914 orang pasien dan
pada tahun 2011 jumlah pasien menurun menjadi 11.410 orang sedangkan pada tahun
2012 jumlahnya meningkat menjadi 14.008 orang.

Maka penulis tertarik dan ingin memberikan asuhan keperawatan jiwa khususnya
pada pasien halusinasi dengan pelayanan kesehatan secara holistik dan komunikasi
terapeutik dalam meningkatkan kesejahteraan serta mencapai tujuan yang diharapkan.
Untuk mencegah dampak lanjut dari halusinasi maka dibutuhkan peran perawat dalam
melakukan asuhan keperawatan yaitu sebagai pelaksana asuhan keperawatan dimana
perawat memberikan pelayanan keperawatan jiwa dengan memperhatikan aspek bio-
psiko-sosio-spiritual. Sebagai pendidik yaitu perawat mengajarkan klien teknik
mengontrol halusinasinya dengan cara menghardik, bercakap-cakap dengan orang lain,
melakukan aktivitas dan mengontrol halusinasi dengan minum obat.
Berdasarkan uraian di atas saya membahas kasus Halusinasi Pengecapan.
2

2.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum
Mampu memahami dan mendeskripsikan Halusinasi Pengecapan.
1.2.2 Tujuan khusus
1. Mampu memahami definisi Halusinasi
2. Mampu memahami rentang respon Halusinasi
3. Mampu memahami etiologi Halusinasi
4. Mampu memahami manifestasi klinis Halusinasi
5. Mampu memahami Batasan kararakteristik Halusinasi
6. Mampu memahami tahap Halusinasi
7. Mampu memahami pohon masalah Halusinasi
8. Mampu memahami penatalaksanaan Halusinasi
9. Mampu memahami komplikasi Halusinasi

2.3 Manfaat
1. Mampu memahami, menyusun serta menganalisis askep pada klien dengan
Gangguan Persepsi Sensori : Halusinasi Pengecapan.
2. Mengetahui askep yang benar sehingga menjadi bekal untuk praktik di rumah
sakit.
3

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 PENGERTIAN
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan jiwa di mana klien
mengalami perubahan sensori persepsi,merasakan sensasi palsu beruba
suara,pengelihatan,pengecapan,perabaan atau penghiduan.Klien mersakan
stimulus yang sebetulnya tidak ada.(Darmayanti,2008)
Halusinasi adalah persepsi yang tanpa dijumpai adanya rangsangan
dari luar.Walaupun tampak sebagai sesuatu yang “khayal”,halusinasi
sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan mental penderita yang
“teresepsi”(Yosep,2010)
Halusinasi adalah perubahan dalam jumlah atau pola stimulus yang
datang disertai gangguan respond yang kurang,berlebihan,atau distori terhadap
stimulus tersebut(Nanda-I,2012).
Halusinasi pengecap adalah Merasa mengecap rasa seperti rasa darah,
urin atau feses. (stuart,2007)
2.2 Rentan Respond Neurobiologis

Respon Adaptif Respon Maladaptif


Pikiran logis Distori pikiran (pikiran Gangguan pikir/delusi
Persepsi akurat kotor) Halusinasi
Emosi konsisten Ilusi Prilaku social
dengan pengalaman Reaksi emosi Isolasi social
Perilaku sesuai berlebihan atau kurang
Hubungan sosial Perilaku aneh dan tidak
biasa
Menarik diri

a. Respon
Adaptif
Respond adaptif adalah respond yang dapat diterima norma-norma
social budaya yang berlaku. Dengan kata lain individu tersebut dalam
4

batas normal jika menghadapi suatu masalah akan dapat memecahkan


masalah tersebut,respond adaptif:
1) Pikiran logis adalah pandangan yang mengarah kepada kenyataan.
2) Persepsi akurat adalah pandangan yang tepat pada kenyataan.
3) Emosi konsisten dengan pengalaman yaitu perasaan yang timbul
dari pengalaman ahli.
4) Perilaku sosisal adalah sikap dan tingkahh laku yang masih dalam
batas kewajran
5) Hubungan social adalah proses suatu interaksi dengan orang lain
dan lingkungan.
b. Respond Maldaptif
Respond psikososial meliputi:
1) Proses pikir terganggu adalah proses yang menimbulkan gangguan
2) Ilusi adalah miss interpretasi atau penilaian yang salah terhadap
penerapan yang benar-benar terjadi (objek nyata) karena
rangsangan panca indera
3) Emosi berlebih atau berkurang
4) Perilaku tidak biasa adalah sikap dan tingkah laku yang melebihi
batas kewajaran
5) Menarik diri adalah percobaan menghindari interaksi dengan orang
lain
c. Respon maldaptif
Respond maldaptif adalah respond individu dalam menyelesaikan yang
menyimpang dari norm-norma social budaya dan lingkungan,adapun
respond maldaptif meliputi:
1) Kelainan pikiran adalah keyakinan yang secara koko dipertahankan
walaupun tidak diyakini oleh orang lain dan bertentangan dengan
kenyataan social
2) Halusinasi merupakan persepsi sensori yang salah satu atau persepsi
eksternal yang tidak realita atau tidak ada
3) Kerusakan proses emosi adalah perubahan sesusatu yang timbul dari
hati
4) Perilaku tidak terorganisir merupakan suatu yang tidak teratur
5) Isolasi social adlah kondisi kesendirian yang dialami oleh individu
dan diterima sebagai ketentuan oleh orang lain dan sebagai suatu
kecelakaan yang negative mengancam
5

2.3 Etiologi

1. Faktor Predisposisi
Menurut Yosep(2010) faktor predisposisi klien dengan halusinasi
adalah :
a) Faktor Perkembangan
Tugas perkembangan klien terganggu misalnya rendahnya
moral control dan kehangatan dalam keluarga menyebabkan
klien tidak mampu mandiri sejak kecil,mudah frustasi hilang
percaya diri dan lebih rentan terhadap stress.
b) Faktor Sosialkultural
Seseorang yang merasa tidak terima lingkungannya sejak bayi
akan merasa disingkirkan,kesepian, dan tidak percaya pada
lingkungannya.
c) Faktor Biologis
Mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa.
Adanya stress yang berlebihan dialami seseorang maka didalam
tubuh akan dihasilkan suaty zat yang dapat bersifat
halusinogenik neurokimia.Akibat stress bekerpanjangan
menyebabkan tervaksinasinya neurotransmitter otak.
d) Fakyor Psikologis
Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah
terjerumus pada penyalagunaan zat adiktif.Hal ini berpengaruh
pada ketidakmampuan klien dalam mengambil keputusan yang
tepat demi masa depannya.Klien lebih memilih kesenangan
sesaat dan lari dari alam nyata menuju alam khayal.
e) Faktor Genetik dan Pola asuh
Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang diasuh oleh
orang tua schizophrenia cenderung mengalami skizofrenia.
Hasil studi menunjukkan bahwa factor keliarga menunjuakkan
hubungan yang sangan berpengaruh pada penyakit ini.

2. Faktor Presipitasi
1) Perilaku
Respond klien terhadap halusinasi dapat berupa
curiga,ketakutan,perasaan tidak aman,gelisah dan
6

bingung,perilaku menarik diri, kurang perhatian, tida mampu


mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan
nyata dan tidak nyata. Menurut Rawkin dan Heacock, 1993
mencoba memecahkan masalah halusinasi berlandaskan atas
hakikat kebenaran seseorang individu sebagai makhluk yang
dibangun atas dasar unsur-unsur
biopsikososialspiritual.Sehingga halusinasin dapat dilihat dari 5
dimensi yaitu:
 Dimensi Fisik
Halusinasi dapat ditimbulkan oleh beberapa kondisi fisik
seperti kelelahan yang luar biasa, pengunaan obat-
obatan,demam hingga derilium, intoleransi alhohol dan
kesulitan untuk tidur dalam waktu yang lama

 Dimensi Emosional
Perasaan cemas yang berlebihan atas dasar problem
yang tidak dapat diatasi merupakan penyebab halusinasi
itu terjadi,isi dari halusinasi dapat berupa perintah
memaksa dan menakutkan. Klien tidak sanggup lagi
menentang perintah tersebut hingga dengan kondisi
tersebut klien berbuat sesuatu terhadap ketakutan
tersebut.
 Dimensi Intelektual
Dalam dimensi intelektual ini menerangkan bahwa
individu dengan halusinasi akan memperlihatjan adanya
penurunan fungsi ego. Pada awalnya halusinasi
merupakan usaha dari ego sendiri untuk melawan implus
yang menekan, namun merupakan suatu hal yang
menimbulkan kewaspadaan yang dapat mengambil
seluruh perhatian klien dan tak jarang akan mengontrol
semua perilaku klien.
 Dimensi Sosial
Klien mengalami gangguan interaksi sosoal dalam fase
awal dan compforting. Klien menganggap bahwa hidup
bersosialisasi dalam nyata sangat membahayakan.Klien
asyik dengan halusinasinya,seolah-olah ia merupakan
tempat untuk memenuhi kebutuhan akan interaksi
social,control diri dan harga diri yang tidak didapatkan
di dunia nyata. Isi control oleh individu tersebut,
7

sehingga jika perintah halusinasi berupa ancaman,


dirinya atau orang lain individu cenderung keperawatan
kien dengan menanyakan suatu proses interaksi yang
menimbulkan pengalaman interpersonal yang
memuaskan,serta mengusahakan klien tidak menyendiri
sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkungannya
dan halusinasi tidak berlangsung.
 Dimensi Spiritual
Secara spiritual klien halusinasi mulai dengan
kehampaan hidup, rutinitas, tidak berkembang,
hilangnya aktivitas ibadah dan jarang berupaya secaea
spiritual untuk menyucikan diri, irama sirkardiannya
terganggu, karema ia sering tidur larut malam dan
bangun sangat sainag. Saat terbangun merasa hampa dan
tidak jelas tujuan hidupnya. Ia sering memaki takdir
tetapi lemah dalam upaya menjemput rezeki,
menyalahkan lingkungan dan orang lain yang
menyebabkan takdirnya memburuk.

2.4 Manifestasi Klinis


Adapun tanda dan gejala dari halusinasi pengecapan yaitu:
a. Data Objektif
1) Sering meludah.
2) Muntah.
b. Data Subjektif
Merasakan rasa seperti darah, urin atau feses.

2.5 Batasan Karakteristik Gangguan Persepsi Sensori:Halusinasi


Batasan karakteristik klien dengan gangguan persepsi sensori;Halusinasi
menurut Nanda- I (2012) yaitu:
 Perubahan dalam pola perilaku
 Perubahan dalam kemampuan menyelesaikan masalah,
 Perubahan dalam ketajaman sensori
 Perubahan dalam respond yang biasa terhadap stimulus
8

 Disorientasi
 Halusinasi
 Hambatan komunikasi
 Iritabilitas
 Konsentarsi buruk
 Gelisah
 Distrori sensori

2.6 Tahap Halusinasi

Menurut Yosep (2010) tahap halusinasi ada 5 fase, yaitu:


Tahapan Halusinasi Karakteristik
Stage 1: Sleep disorder Klien merasa banyak masalah, ingin
Fase awal seseorang menghindar dari lingkungan ,takut diketahi
sebelum muncul halusinasi orang lain bahwa dirinya banyak
masalah.Masalah makin terasa sulit karena
berbagai sressor terakumulasi, misalnya
kekasih hamil,terlibat narkoba, dihianati
kekasih, masalah kampus, drop
out,sdt.Masalah terasa menekan karean
terakumulasi seadangkan suppor system
kurang dan persepsi terhadap masalah sangat
buruk. Sulit tidur berlangsung tersu-menerus
sehingga terbiasa mengkahyal.Klien
menganggap lamunan awal tersebut sebagai
pemechan masalah.
Stage II:Comforting Klien mengalami emosi yangberlanjut seperti
Halusinasi secara umum ia adanya perasaan cemas ,kesepian, perasaab
terima sebagai sesuatu berdosa, ketakutan dan mencoba memusatkan
alami pemikiran pada timbulnya kecemasan. Ia
beranggapan bahwa pengalaman pikiran dan
sensorinya dapat dai control bial kecendrungan
klien merasa nyaman dengan halusinasinya.
Stage III:Condemning Pengalam sensori klirn menjadi sering datang
Secara umum halusinasi dan mengalami bias.Klien mulai merasa tidak
sering mendatangi klien berupaya mampu lagi mengontrolnya dan
mulai menjaga jarak anatar dirinya dengan
9

objek yang dipersepsikan klien mulai menarik


diri dari orang lain, dengan intensitas waktu
yang lama.
Stage IV:Controlling Klien mencoba melawan suara-suara atau
Severe Level Of Anxiety sensori abnormal yang datang.Klien dapat
Fungsi sensori menjadi merasakan kesepian bila halusinasinya
tidak relevan dengan berakhir.Dari sinilah dimulai fase gangguan
kenyataan psikotik.
Stage V:Conquering Panic Pengalaman sensorinya terganggu.Klien mulai
Level Of Anxiety terasa terancam dengan datangnya bau-bau
Klien mengalami terutaman bila klien tidak menurutin aroma
gangguan dalam menilai tersebut yang ia cium dengan
lingkungannya halusinasinya.Halusinasi dapatbberlangsung
selama minimal 4 jam atau seharian bila klien
tidak mendapatkan komunikasi
terapeutik.Terjadi gangguan psikotik berat.
2.7 Pohon Masalah

Resiko perilaku kekerasan(diri


sendiri, orang lain, lingkungan
dan verbal)
effect

Gangguan persepsi sensori:


halusinasi

Core Problem

Isolasi social

Causa
10

Pohon masalah terdiri dari masalah utama, penyebab, dan akibat. Masalah
utama adalah prioritas masalah klien dari beberapa masalah yang dimiliki
oleh klien. Umumnya, masalah utama berkaitan erat dengan alasan masuk
atau keluhan utama. Penyebab adalah salah satu dari beberapa masalah
klien yang merupakan penyebab masalah utama. Masalah ini dapat pula
disebabkan oleh salah satu masalah yang lain, demikian seterusnya.
Akibat adalah adalah salah satu dari beberapa masalah klien yang
merupakan efek atau akibat dari masalah utama.

2.8 Penatalaksanaan

Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara :


1. Menciptakan lingkungan yang terapeutik
Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan
pasien akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di
lakukan secara individual dan usahakan agar terjadi knntak mata, kalau
bisa pasien di sentuh atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara
fisik atau emosional. Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati
pasien, bicaralah dengan pasien. Begitu juga bila akan meninggalkannya
hendaknya pasien di beritahu. Pasien di beritahu tindakan yang akan di
lakukan. Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat
merangsang perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan
dengan realitas, misalnya jam dinding, gambar atau hiasan dinding,
majalah dan permainan.
2. Melaksanakan program terapi dokter
Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan
rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara
persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang di
berikan betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan.
11

3. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang


ada
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat
menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya
halusinasi serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan
data ini juga dapat melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain
yang dekat dengan pasien.
4. Memberi aktivitas pada pasien
Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik,
misalnya berolahraga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini
dapat membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan memupuk
hubungan dengan orang lain. Pasien menyusun jadwal kegiatan dan
memilih kegiatan yang sesuai.
5. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan
Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data
pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses
keperawatan, misalnya dari percakapan dengan pasien di ketahui bila
sedang sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila
ada orang lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat
menyarankan agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri
dalam permainan atau aktivitas yang ada. Percakapan ini hendaknya di
beritahukan pada keluarga pasien dan petugas lain agar tidak
membiarkan pasien sendirian.
6. Farmakotherapi (anti psikotik) harus ditinjang oleh psikoterapi seperti
Klorpromazin 150-600 mg/hari, Haloperidol 5-15 mg/hari, Porpenozin
12-24 mg/hari dan Triflufirazin 10-15 mg/hari. Obat dimulai dengan
dosis awal sesuai dengan dosis anjuran, dinaikkan dosis tiap 2 minggu
dan bisa pula dinaikkan sampai mencapai dosis (stabilisasi) , kemudian
diturunkan setiap 2 minggu sampai mencapai dosis pemeliharaan.
12

Dipertahankan 6 bulan-2 tahun (diselingi masa bebas obat 1-2


hari/minggu ). Kemudian tapering off, dosis diturunkan tiap 2- 4 minggu
dan dihentikan.
7. Satu macam pendekatan terapi tidak cukup, tujuan utama perawatan
dirumah sakit adalah ikatan efektif antara pasien dan sistem pendukung
masyarakat.
( Arif Mansjoer, 1999 : 2000 ).

2.9 Komplikasi
Dampak dari gangguan sensori persepsi: halusinasi menurut Stuart dan
Laraia 2007 adalah :
a. Resiko perilaku kekerasan
Hal ini terjadi bahwa klien dengan halusinasi kronik cenderung untuk
marah-marah dan mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya.
b. Kerusakan interaksi social
Hal ini terjadi karena perilaku klien yang sering marah-marah dan
resiko melakukan kekerasan, maka lingkungan akan menjauh dan
mengisolasinya.
13

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Halusinasi adalah persepsi yang tanpa dijumpai adanya rangsangan
dari luar.Walaupun tampak sebagai sesuatu yang “khayal”,halusinasi
sebenarnya merupakan bagian dari kehidupan mental penderita yang
“teresepsi”(Yosep,2010)
Berdasarkan etiologi Halusinasi ada 2 faktor yaitu Faktor Predisposisi
dan Faktor presipitasi Halusinasi merupakan salah satu respon maldaptive
individual yang berbeda rentang respon neurobiologi (Stuart and Laraia,
2005). Ini merupakan persepsi maladaptif. Jika klien yang sehat persepsinya
a.kurat, mampu mengidentifisikan dan menginterpretasikan stimulus
berdasarkan informasi yang diterima melalui panca indera (pendengaran,
pengelihatan, penciuman, pengecapan dan perabaan) klien halusinasi
mempersepsikan suatu stimulus panca indera walaupun stimulus tersebut
tidak ada..

Halusinasin Dapat Dilihat Dari 5 Dimensi Yaitu, Dimensi


Fisik,Dimensi Emosional,Dimensi Intelektual,Dimensi Sosial,Dimensi
Spiritual

3.2 Saran
Diharapkan mahasiswa dapat memahami tentang pengertian halusinasi,
dampak halusinasi,tahapan halusinasi,serta pohon masalah dari halusinasi
pengecapan sehingga dapat menentukan terapi yang tepat dalam menangani
klien dengan masalah gangguan persepsi sensori:Halusinasi.
14

Daftar Pustaka
 Damaiyanti Mukhripah .2012.Asuhan Keperawatan Jiwa
.Bandung:PT.Refika Aditama
 Purniaty Kamahi, Sudirman, H. Muhammad Nur.(2015). pengaruh
penerapan asuhan keperawatan pada klien halusinasi terhadap
kemampuan klien mengontrol halusinasi di rskd dadi makassar. Jurnal
Ilmiah Kesehatan Diagnosis Volume 5 Nomor 6 Tahun 2015.
file:///C:/Users/User/Documents/170-1-293-1-10-20170309.pdf