Anda di halaman 1dari 9

UNSUR GOLONGAN IV A

Unsur-unsur golongan IVA dalam sistem periodik panjang terletak pada grup 14. Unsur-
unsur golongna IVA terdiri dari enam unsur, yaitu Karbon (C), Silikon (Si), Germanium (Ge),
Timah (Sn), Timbal (Pb), dan Ununquadium (Uuq). Unsur golongan IVA terdiri dari sebuah
unsur unsur nonlogam (karbon), dua buah unsur metaloid (silikon dan germanium), dan tiga
buah unsur logam (timah, timbal, dan ununquadium).

1. KARBON (C)

1. Keberadaan unsur itu di alam


Karbon dalam bentuk amorf juga dihasilkan terbatas dari minyak bumi. Secara alami
karbon bentuk amorf dihasilkan dari bentuk gergaji, lignit, batu bara, gambut, tayu, batok
kelapa dan biji-bijian. Keberadaan karbon di alam terjadi dalam dua wujud, yang pertama
dalam wujud mineral dan yang kedua dalam wujud grafit. Intan merupakan wujud mineral
dari karbon. Ikatan C-C dalam intan berupa tetrahedron, sedangkan dalam grafit
membentuk lingkar enam dalam bidang datar yang beresonansi. Intan merupakan molekul
besar yang melebar dalam tiga dimensi (ruang), sehingga atom-atomnya terikat sangat kuat
satu sama lain. Hal ini mengakibatkan intan menjadi sangat keras. Selain itu, unsur karbon di
alam juga terdapat di dalam kerak bumi dalam bentuk unsur bebas dan senyawa. Senyawa
alamiah karbon yang utama adalah zat-zat organik, misalnya senyawa organik dalam
jaringan tubuh makhluk hidup baik tumbuhan maupun hewan. Selain itu, dalam bahan yang
berasal dari benda hidup seperti arang dan minyak bumi. Juga terdapat dalam senyawa
organik komersial, misalnya senyawa asam asetat (CH3COOH) dan freon (CFC). Senyawa
karbon lainnya adalah senyawa karbon anorganik, yaitu senyawa karbondioksida (CO2) dan
batuan karbonat (CO3) yang dikenal sebagai mineral seperti karbonat dari unsur IIA (MgCO3,
SrCO3, dan BaCO3). Juga kebanyakan terdapat dalam senyawa karbonat dan bikarbonat,
misalnya senyawa natrium karbonat (Na2CO3) dan natrium bikarbonat (NaHCO3).

2. Sifat-sifatnya (fisika):
 Fasa pada suhu kamar : padat
 Bentuk kristalin : intan dan grafit
 Massa jenis : 2,267 g/cm³ (grafit) dan 3,513 g/cm³ (diamond)
 Titik leleh : 4300-4700 K
 Titik didih : 4000 K
 Densitas : 2,267 g/cm3 (grafit) 3,515 g/cm3 (diamond)
 Kalor lebur : 100 kJ/mol (grafit ) dan 120 kJ/mol (diamond)
 Kalor uap : 355,8 kJ/mol
 Kalor jenis : 8,517 J/molK (grafit) dan 6,115 J/molK (diamond)
Sifat-sifatnya (kimia):
 arbon bereaksi langsung dengan Fluor, dengan reaksi sebagai berikut:
C (s) + 2 F2 (g) → CF4(g)
 Karbon dibakar dalam udara yang terbatas jumlahnya menghasilkan karbon
monoksida.
2C(s) + O2(g) → 2CO(g)
 Jika dibakar dalam kelebihan udara, akan terbentuk karbon dioksida
2CO(g) + O2(g) → 2CO2(g)
 Membentuk asam oksi. Bila karbon dipanaskan dalam udara, unsur ini bereaksi
dengan oksigen membentuk CO2 dan jika CO2 ini bereaksi dengan air akan
membentuk asam karbonat.
CO2(g) + H2O(l) → H2CO3(l)

3. Kegunaannya :
· Digunakan dalam bidang industri baja, plastik, cat, karet, dan lain-lain
· Dalam bentuk intan dapat digunakan sebagai perhiasan dan untuk membuat alat
pemotong, karena sifatnya yang sangat keras.
· Dalam bentuk senyawa-senyawa hidrokarbon seperti minyak bumi dan turunannya
digunakan sebagai bahan bakar, obat-obatan, dan industri-industri petrokimia.
· Gas korbondioksida oleh tumbuhan digunakan untuk proses fotosintesis yang
menghasilkan gas oksigen untuk pernapasan manusia.
· Isotop karbon-14 digunakan dalam bidang arkheologi.
· Dalam bentuk batubara digunakan sebagai bahan bakar.

4. Reaksi-reaksinya :
a. Reaksi dengan Halogen
Karbon bereaksi langsung dengan fluorin, sedangkan dengan unsure halogen lainnya
bereaksi secara tidak langsung. Contoh reaksi : C + 2F2 CF4 (reaksi langsung) CF4 + Cl2 CH3Cl
+ HCl (reaksi tidak langsung)
b. Reaksi dengan Oksigen
Jika dipanaskan dalam udara, maka unsure-unsur karbon bereaksi dengan oksigen
(reaksi pembakaran) yang bersifat eksotermik membentuk oksida CO2. Oksida CO2 bersifat
asam dan bereaksi dengan air menghasilkan larutan asam lemah sekali. Reaksi : CO2 + H2O
H2CO3 (asam karbonat).

5. Cara mendapatkannya :
Kokas diperoleh dari pemanasan materi karbon tanpa adanya oksigen pada suhu tinggi
(sampai 10000C). Arang diperoleh dari pembakaran zat organik dengan oksigen terbatas pada
suhu yang tinggi. Arang akan menjadi karbon aktif apabila dipanaskan dengan uap air.
Pembakaran gas alam secara tidak sempurna akan menghasilkan jelaga berupa uap hitam.
Jelaga merupakan partikel-partikel karbon yang sangat kecil dan dapat diendpkan dengan
pengendap elektron statik.
B. SILIKON (Si)

1. Kegunaannya:
 bahan-bahan lain. Digunakan dalam indrustri baja sebagai campuran pokok baja
silikon, yang digunakan sebagai inti transformator karena baja-silikon menunjukkan
karakteristik histerisis yang rendah.
 Baja campuran yang dikenal dengan duriron (mengandung 15% silikon) digunakan
untuk mencegah korosi logam.
 Digunakan sebagai campuran logam tembaga, kuningan, dan perunggu.
 Digunakan sebagai bahan untuk membuat piranti, semikonduktor (elektronika)
seperti IC, dioda dan transistor.
 Silika dan silikat digunakan dalam pembuatan kaca, seme, dan porselin.
 Silikon monoksida (SiO) digunakan sebagi pelindung

2. Keberadaan unsur dialam:

Silikon (Latin: silicium) merupakan unsur kimia yang mempunyai simbol Si dan nomor
atom 14. Ia merupakan unsur kedua paling berlimpah setelah oksigen di dalam kerak Bumi,
mencapai hampir 25.7% . Unsur kimia ini ditemukan oleh Jons Jakob Berzelius. Terdapat
dialam dalam bentuk tanah liat, granit, kuartza dan pasir, kebanyakan dalam bentuk silikon
dioksida (dikenal sebagai silika) dan dalam bentuk silikat. Silikon adalah polimer nonorganik
yang bervariasi, dari cairan, gel, karet, hingga sejenis plastik keras. Beberapa karakteristik
khusus silikon: tak berbau, tak berwarna, kedap air, serta tak rusak akibat bahan kimia dan
proses oksidasi, tahan dalam suhu tinggi, serta tidak dapat menghantarkan listrik.

3. Sifat-sifatnya (Kimia):

 SilikSilikon murni berwujud padat seperti logam dengan titik lebur 14100C. silikon dikulit
bumi terdapat dalam berbagai bentuk silikat, yaitu senyawa silikon dengan oksigen. Unsur
ini dapat dibuat dari silikon dioksida (SiO2) yang terdapat dalam pasir, melalui reaksi:
SiO2(s) + 2C(s) → Si(s) + 2CO(g)
 Silikon murni berstruktur seperti Intan ( tetrahedral) sehingga sangat keras dan tidak
menghantarkan listrik, jika dicampur dengan sedikit unsur lain, seperti alumunium (Al) atau
boron (B). silikon bersifat semikonduktor (sedikit menghantarkan listrik), yang diperlukan
dalam berbagai peralatan, elektronik, seperti kalkulator dan Komputer. Itulah sebabnya
silikon merupakan zat yang sangat penting dalam dunia modern. Untuk itu dibutuhkan
silikon yang kemurniannya sangat tinggi dan dapat dihasilkan dengan reaksi:
SiCl4(g) + 2H2(g) → Si(s) + 4HCl(g)
 Jari-jari silikon lebih besar dari karbon, sehingga tidak dapat membentuk ikatan π (rangkap
dua atau tiga) sesamanya, hanya ikatan tunggal (σ). Karena itu silikon tidak reaktif pada suhu
kamar dan tidak bereaksi dengan asam, tetapi dapat bereaksi dengan basa kuat seperti
NaOH. Si(s) + 4OH-(aq) → SiO4(aq) + 2H2(g)
 Pada suhu tinggi, silikon dapat bereaksi dengan hidrogen membentuk hidrida, dan dengan
halogen membentuk halide, seperti:
Si(s) + 2H2 → SiH4
Si(s) + 2Cl2 → SiCl4
 Batuan dan mineral yang mengandung silikon, umumnya merupakan zat padat yang
mempunyai titik tinggi, keras, yang setiap keping darinya merupakan suatu kisi yang kontinu
terdiri dari atom-atom yang terikat erat. Sebuah contoh dari zat padat demikian, adalah
silikon dioksida, yang terdapat dialam dalam bentuk kuarsa, aqata (akik), pasir, dan
seterusnya.

Sifat-sifatnya (Fisika):

 Titik lebur : 1410 °C


 Titik didih : 3265 °C
 Radius Vanderwaals : 0,132 nm
 Radius ionik : 0,271 (-4) nm, 0,041 (4)
 Isotop :5
 Konfigurasi : [Ne] 3S23P2
 Fase (suhu kamar) : Solid
 Massa Jenis : 2,33 g/cm3
 Titik leleh : 1687 K (14100 C, 5909 0F)
 Titik didih : 3538 K (2355 0C, 5909 0F)
 Kalor Lebur : 50,21 kJ/mol
 Kalor Penguapan : 359 kJ/mol
 Energi Pengionan : 8,2 eV/atm
 Jari-jari kovalen atom : 790 (1,17A)
 Jari-jari ion : 0,41 A (Si4+)
 Keelektronegatifan : 1,8
 Berat atom standar : 28,085 g.mol-1

1. Cara mendapatkannya:
Silikon dapat di temukan dalam bentuk senyawa silika (SiO2). Silikon dapat diperoleh
dengan cara mereduksi SiO2 pada:
a) suhu yg tnggi dgn pereduksi karbon
SiO2(s)+2C(s)=>Si(s)+2CO2(g)
b) Silikon yg di proleh blm murni. Pemurnian dilakukan dgn gas klorin
Si(s)+2Cl2(g)=>SiCl4(g)
c) SiCl4 direduksi oleh hidrogen pada suhu tinggi sehingga diperoleh silikon murni
SiCl4(g)+2H2(g)=>Si(s)+4HCl(g)

2. Reaksi-reaksinya:
 suhu tinggi, silikon dapat bereaksi dengan hidrogen membentuk hidrida, dan dengan
halogen membentuk halide, seperti:
Si(s) + 2H2 → SiH4
Si(s) + 2Cl2 → SiCl4
 Silikon bereaksi dengan halogen; jika dipanaskan membentuk oksida; membentuk
garam dari asam oksi dan membentuk molekul-molekul dan ion-ion raksasa dengan
atom oksigen
 Silikon murni berwujud padat seperti logam dengan titik lebur 14100C. silikon dikulit
bumi terdapat dalam berbagai bentuk silikat, yaitu senyawa silikon dengan oksigen.
Unsur ini dapat dibuat dari silikon dioksida (SiO2) yang terdapat dalam pasir, melalui
reaksi:
SiO2(s) + 2C(s) → Si(s) + 2CO(g)
C. Germanium (Ge)
1. Keberadaannya dialam:
Di alam germanium terdapat dalam jumlah yang sedikit dalam biji perak, tembaga, seng,
dan mineral germanit (mengandung 8% germanium). Germanium murni ditemukan dalam
bentuk yang keras, berkilauan, berwarna putih keabu-abuan, tapi merupakan metalloid
yang rapuh. Germanium stabil di udara dan air pada keadaan yang normal, dan sukar
bereaksi dengan alkali dan asam, kecuali dengan asam nitrat.
2. - Sifat-sifatnya (Fisika):
 Fasa : Padat
 Massa Jenis : 5.323 g/cm³
 Massa jenis cair pada titik lebur : 5.60 g/cm³
 Titik lebur : 1211.40 K
 Titik Didih : 3106 K
 Kalor peleburan : 36.94 kJ/mol
 Kalor penguapan : 334 kJ/mol

- Sifat-sifatnya (Kimia):
 Struktur kristal : cubic face centered
 Bilangan oksidasi : 4 (amphoteric oxide)
 Elektronegativitas : 2.01 (skala pauling)
 Energy ionisasi ke-1 : 762 kJ/mol
 Energi ionisasi ke-2 :1537.5 kJ/mol
 Energi ionisasi ke-3 : 3302.1 kJ/mol
 jari-jari atom : 125 pm
 jari-jari kovalen : 122 pm

3. Kegunaannya:
Ketika germanium ditambahkan dengan arsenik, galium atau unsur-unsur lainnya, ia
digunakan sebagai transistor dalam banyak barang elektronik. Kegunaan umum germanium
adalah sebagai bahan semikonduktor. Kegunaan lain unsur ini adalah sebagai bahan
pencampur logam, sebagai fosfor di bola lampu pijar dan sebagai katalis.

Germanium dan germanium oksida tembus cahaya sinar infra merah dan digunakan dalam
spekstroskopi infra merah dan barang-barang optik lainnya, termasuk pendeteksi infra
merah yang sensitif. Index refraksi yang tinggi dan sifat dispersi oksidanya telah membuat
germanium sangat berguna sebagai lensa kamera wide-angle dan microscope objectives.
Bidang studi kimia organogermanium berkembang menjadi bidang yang penting. Beberapa
senyawa germanium memiliki tingkat keracunan yang rendah untuk mamalia, tetapi
memiliki keaktifan terhadap beberap jenis bakteria, sehingga membuat unsur ini sangat
berguna sebagai agen kemoterapi.

Germanium anorganik mampu melindungi tubuh dari pertumbuhan tumor dan kanker ganas
dengan jalan memperkuat sistem imun. Germanium dibutuhkan oleh tubuh, dalam satu hari
minimal 1 mg. Seperti halnya selenium, germanium juga termasuk ke dalam golongan trace
mineral.

Germanium organik melindungi diri dari akumulasi amyloid, suatu produk oksidatif radikal
bebas (berdasarkan riset pada tikus). Kelebihan amyloid akan menyebabkan amyloidosis,
yaitu suatu penyakit yang diakibatkan ketidakseimbangan dalam proses pemecahan protein
yang menyebabkan terakumulasinya amyloid. Amyloidosis diketahui berhubungan dengan
penyakit inflammatori kronis, kelainan sel plasma, deposisi amyloid di organ neuroendokrin,
dan defisiensi kongenital enzim (terutama enzim yang berperan dalam penguraian prekursor
amyloid). Selain itu, germanium organik juga melindungi sistein (suatu asam amino sulfhidril)
dari oksidasi.

4. Reaksi-reaksinya:
Germanium agak lebih reaktif daripada silikon dan melarut dalam H2SO4 dan HNO3 pekat.
 Reaksi germanium dengan oksigen adalah sebagai berikut.
2Ge(s) + O2(g) 2GeO(S)
Ge(s) + O2(g) GeO2(S) (Stabil)
 Germanium bereaksi dengan klorin membentuk senyawa berikut.
Ge+ 2X2 → GeX4
Contoh: Ge + 2Cl2 → GeCl4(S)
 Reaksi dengan Hidrogen. Hidrida germanium yang stabil hanya GeH4.
Ge(s) + 2H2 → GeH4(s)

5. Cara mendapatkannya:
Keberadaan germanium dialam sangat sedikit, yan diperoleh dari batu bara dan bantuan
seng pekat. Unsure ini lebih reaktif dari pada silicon, dan dapat larut dalam HNO₃ dan H₂SO₄
pekat seperti silicon.

D. Timah (Sn)

1. Keberadannya dialam :
Timah merupakan slah satu unsur golongan IVA yang merupakan unsur logam dan telah
digunakan sejak jaman dahulu. Di alam, biji timah terdapat dalam bentuk mineral kasiterit
atau tinstone (SnO2), dan dapat dibuat dalam laboratorium melalui proses elektrolisis.
Timah tidak begitu melimpah di alam. Ia hanya unsur ke-49 yang paling banyak
keberadaannya di kerak bumi. Diperkirakan bahwa kerak bumi mengandung 1 sampai 2
bagian timah dari 1 juta bagian.Kasiterit telah lama di tambang oleh penduduk bumi sebagai
sumber utama timah.

2. Reaksi-reaksinya:
Pada suhu yang tinggi timah dapat bereaksi dengan udara dan oksigen membentuk
senyawa H2SnO4. Timah larut dalam asam hidroklorik membentuk SnCl4 yang bereaksi
dengan larutan natrium hidroksida. Timah juga bereaksi dengan unsur-unsur halogen
membentuk senyawa seperti timah klorida dan tima bromida.

3. Kegunaannya:
 Biasanya digunakan dalam membuat paduan logam perunggu.
 Timah digunakan dalam proses Pilkington untuk memproduksi kaca jendela.
 Timah digunakan untuk membentuk banyak alloy yang berguna. Perunggu adalah
paduan timah dan tembaga.
 Garam timah dapat disemprotkan ke kaca untuk membuat lapisan elektrik
konduktif. Ini kemudian dapat digunakan untuk membuat pencahayaan panel dan
kaca depan frost-free. Fluoride stannous (SnF2) digunakan dalam beberapa jenis
pasta gigi.
4. Sifat-sifatnya(Fisika)
 Titik Didih : 2602°C
 Titik Lebur : 231.97°C
 Kalor Jenis : 0.227 J/gK
 Kalor Uap : 295.80 kJ/mol
 Kalor Lebur : 7.029 kJ/mol
 Konduktivitas Panas : 0.666 W/cmK
 Energi Ionisasi I :7.3438 V
 Energi Ionisasi II :14.632 V
 Energi Ionisasi III :30.502 V

Sifat-sifatnya (Kimia):
 Timah punya sifat tahan karat ketika terkena air tetapi tidak tahan terkena asam dan
alkali. Ia tidak terlalu terpengaruh oleh air dan oksigen pada suhu kamar, tidak
karatan dan tidak mudah korosi.
 Timah merupakan logam lunak, fleksibel, dan warnanya abu-abu metalik.
 Timah tidak mudah dioksidasi dan tahan terhadap korosi disebabkan terbentuknya
lapisan oksida timah yang menghambat proses oksidasi lebih jauh.
 Timah tahan terhadap korosi air distilasi dan air laut, akan tetapi dapat diserang oleh
asam kuat, basa, dan garam asam. Proses oksidasi dipercepat dengan meningkatnya
kandungan oksigen dalam larutan.
 Jika timah dipanaskan dengan adanya udara maka akan terbentuk SnO2. Timah ada
dalam dua alotrop yaitu timah alfa dan beta. Timah alfa biasa disebut timah abu-abu
dan stabil dibawah suhu 13,2 C dengan struktur ikatan kovalen seperti diamond.
Sedangkan timah beta berwarna putih dan bersifat logam, stabil pada suhu tinggi,
dan bersifat sebagai konduktor.
 Timah larut dalam HCl, HNO3, H2SO4, dan beberapa pelarut organic seperti asam
asetat asam oksalat dan asam sitrat. Timah juga larut dalam basa kuat seperti NaOH
dan KOH.
 Timah umumnya memiliki bilangan oksidasi +2 dan +4. Timah(II) cenderung memiliki
sifat logam dan mudah diperoleh dari pelarutan Sn dalam HCl pekat panas.
 Timah bereaksi dengan klorin secara langsung membentuk Sn(IV) klorida.
 Hidrida timah yang stabil hanya SnH4.

5. Cara mendapatkannya:
Biji timah yang biasa digunakan untuk produksi adalah dengan kandungan 0,8-1%, kemudian
dihancurkan dan kemudian dipisahkan dari material-material yang diperlukan. Kemudian biji
timah dikeringkan dan dilewatkan dalam alat pemisah magnetic sehingga kita dapat
memisahkan biji timah dari impuritas yang berupa logam besi. Biji timah yang keluar dari
proses ini memiliki konsentrasi antara 70-77% semua hampir mineral cassiterite. Cassiterite
diletakkan difurnace. Karbon bereaksi dengan CO₂ yang ada didalam furnance membentuk
CO, CO ini kemudian bereaksi membentuk timah.

E. Timbal (Pb)
1. Cara Mendapatkannya:
Kandungan sulfida dalam biji timbal dihilangkan dengan cara memanggang biji timbal
sehingga akan terbentuk timbal oksida. Reaksi yang terjadi MSn + 1,5 O₂ MOn +nSO₂.
Timbal oksida yang terbentuk direduksi dengan menggunakan alat yang dinamakan “blast
furnace” dimana pada proses ini hampir semua timbal oksida akan direduksi menjadi logam
timbal.

2. Kegunaannya:
 Digunakan dalam accu dimana accu ini banyak dipakai dibidang automotif.
 Timbal dipakai sebagai agen pewarna dalam bidang pembuatan keramik terutama
untuk warna kuning dan merah.
 Timbal dipakai dalam industry plastic PVC untuk menutup kawat listrik.
 Sebagai bahan pelapis dinding dalam studio music.
 Untuk pelindung alat-alat kedokteran laboratorium yang menggunakan radiasi.
Misalnya sinar-X.
 Untuk solder untuk industry elektronik.

3. Sifat-sifatnya (Fisika) :
 Fasa : Padatan
 Titik leleh : 327,5 C
 Titik didih : 1749 C
 Titik lebur :327,46 C
 Kalor peleburan : 4,77 kJ/mol
 Kalor penguapan : 179,5 kJ/mol

Sifat-sifatnya (Kimia) :
 Berbagai macam timbale oksida mudah direduksi menjadi logamnya. Hal ini bisa
dilakukan dengan menggunakan reduktor glukosa, atau mencampur antara PbO
dengan PbS kemudian dipanaskan.
PbO + PbS → 3 Pb + SO2
 Logam Pb tahan terhadap korosi, jika kontak dengan udara maka akan segera
terbentuk lapisan oksida yang akan melindungi logam Pb dari proses oksidasi lebih
lanjut. Logam Pb tidak larut dalam asam sulfat maupun asam klorida, melainkan
larut dalam asam nitrat dengan membentuk gas NO dan timbale nitrat yang larut.
3Pb + 8H+ + 8 NO3- → 2 Pb2+ + 6 NO3- + 2NO + 4HO
 Bila dipanaskan dengan nitrat dari logam alkali maka logam timbale akan
membentuk PbO yang umumnya disebut sebagai litharge. PbO adalah representasi
dari timbale dengan biloks 2 PbO larut dalam asam nitrat dan asam asetat. PbO juga
larut dalam larutan basa membentuk garam Plumbit.
PbO + 2OH- + H2O → Pb(OH)24-
 Klorinasi terhadap larutan diatas menghasilkan timbale dengan biloks 4.
Pb(OH)24- + Cl2 → PbO2 + 2Cl- + 2H2O
 PbO2 adalah representasi dari timbale dengan biloks 4 dan merupakan agen
pengoksidasi yang kuat. Karena PbO larut dalam asam dan basa maka PbO bersifat
amfoter. Senyawa timbale dengan dua macam biloks juga ada yaitu Pb3O4 yang
dikenal dengan nama minium.

4. Reaksi-reaksinya :
 Unsur Timbal mudah melarut dalam asam nitrat yang sedang kepekatannya (8 M),
dan terbentuk juga nitrogen oksida :
3Pb + 8HNO3 (pekat) ——> 3Pb(NO3)2(aq) + 2NO(g) + 4H2O(l)
 Gas nitrogen(II) oksida yang tak berwarna itu, bila bercampur dengan udara, akan
teroksidasi menjadi nitrogen dioksida yang merah:
2NO(g) (tidak berwarna) + O2(g) ——> 2NO2(g) (merah)
 Dengan asam nitrat pekat terbentuk lapisan pelindung berupa timbal nitrat pada
permukaan logam, yang mencegah pelarutan lebih lanjut. Asam klorida encer atau
asam sulfat encer mempunyai pengaruh yang hanya sedikit, karena terbentuknya
timbal klorida atau timbal sulfat yang tak larut pada permukaan logam itu.
 Endapan timbal sulfida terurai bila ditambahkan asam nitrat pekat, dan unsur
belerang yang berbutir halus dan berwarna putih akan mengendap :
3PbS (s) + 8HNO3(pekat) ——-> 3Pb(NO3)2(aq) + 3S(s) + 2NO(g) + 4H2O(l)

5. Keberadannya dialam :
Alam bumi mengandung timbal sekitar 13 ppm, dalam tanah antara 2.6–25 ppm, di
perairan sekitar 3 mg/L, dan dalam air tanah jumlahnya kurang dari 0.1 ppm.
Di alam, timbal terdapat sebagai galena (PbS); namun bijih lain yang mungkin terbentuk
sebagai akibat pengaruh iklim/cuaca pada galena yaitu sebagai karbonat, cerrusite (PbCO3),
dan sebagai sulfat, anglesite (PbSO4).

F. Ununquadium (Uuq) / Flerovium

1. Kegunaannya :
Digunakan kepentingan penelitian saja.

2. Keberadaannya dialam :
Pada tanggal 29 Mei 2012 nama Flerovium telah disetujui oleh IUPAC setelah sebelumnya
menggunakan nama Ununquadium. Nama diambil dari Flerov Laboratory of Nuclear
Reactions di Dubna, Rusia, tempat di mana unsur ini dibuat. Tidak terdapat dialam namun
dibuat melalui reaksi fusi nuklir.

3. Sifat-sifatnya (Kimia) :
1. Sifat kimia diekstrapolasikan
a) Oksidasi
Flerovium diproyeksikan untuk menjadi anggota kedua dari seri 7p unsur kimia
dan anggota terberat kelompok 14 (IVA) pada tabel periodik, di bawah memimpin.
Setiap anggota kelompok ini menunjukkan keadaan oksidasi kelompok + IV dan
anggota kedua memiliki peningkatan kimia + II karena terjadinya efek pasangan
inert.
Tin merupakan titik di mana stabilitas + II + IV dan negara serupa. Lead, anggota
terberat, menggambarkan beralih dari negara + IV ke negara + II. Oleh karena itu
Flerovium harus mengikuti tren ini dan memiliki sebuah pengoksidasi + negara IV
dan stabil + negara II.
b) Kimia
Flerovium harus menggambarkan sifat kimia eka-lead dan karenanya harus
membentuk monoksida, Flo, dan dihalides, FlF2, FlCl2, FlBr2, dan FlI2. Jika negara +
IV dapat diakses, ada kemungkinan bahwa itu hanya mungkin dalam oksida, FlO2,
dan fluoride, FlF4. Hal ini juga dapat menunjukkan campuran oksida, Fl3O4, analog
dengan Pb3O4.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa perilaku kimia flerovium mungkin
sebenarnya lebih dekat dengan bahwa dari radon gas mulia, dibandingkan dengan
yang memimpin.
Perhitungan menunjukkan bahwa flerovium tidak akan membentuk tetrafluoride,
FlF4, tetapi akan membentuk difluorida (FlF2) yang larut dalam air.