Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Obat merupakan salah satu komponen penting dan barang yang tidak
tergantikan dalam pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, obat perlu dikelola
dengan baik, efektif dan efisien. Tujuan pengelolaan obat dan perbekalan
kesehatan adalah untuk menjamin ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan
obat dengan jenis dan jumlah yang cukup, sehingga mudah diperoleh pada tempat
dan waktu yang tepat. Oleh karena itu, pengelolaan obat dan perbekalan
kesehatan di Kabupaten/Kota memegang peranan yang sangat penting dalam
menjamin ketersediaan, pemerataan dan keterjangkauan obat untuk pelayanan
kesehatan dasar. Dengan diserahkannya Gudang Farmasi kepada pemerintah
daerah, organisasi tersebut tidak selalu eksis di setiap Kabupaten/Kota. Untuk
Kabupaten/Kota yang masih mempertahankan Gudang Farmasi Kabupaten (GFK)
dengan segala implikasinya, minimal pengelolaan obat berjalan sebagaimana
semula. Dalam artian ada penanggung jawab, personal terlatih, sistem
pengelolaan obat dan juga sarana baik gedung, compute maupun kendaraan roda
empat. Berbeda dengan Kabupaten/Kota yang melikuidasi Gudang Farmasi,
kemungkinan pengelolaan obat tidak berjalan sebagaimana mestinya relatif besar,
karena personal terlatih di pindah tugaskan atau sarana diubah peruntukannya.
Demikian pula halnya dengan mekanisme pengelolaan obat yang telah dibina
bertahun-tahun dirubah tidak sesuai dengan standar yang berlaku. Selain
kemungkinan tersebut, ada alternatif lain yang bahkan menjadi lebih baik seperti:
bila semula ada UPTD Farmasi Gudang Farmasi dijadikan satu wadah, sarana
(gedung dsb), personal dan mekanisme pengelolaan obat, ada pelatihan lanjutan
bagi petugas terlatih dan sebagainya. Adanya Otonomi daerah membuka

1
berbagai peluang terjadi perubahan yang sangat mendasar di masing- masing
Kabupaten/Kota dalam melaksanakan pengelolaan obat.

Pada era sentralisasi, jaminan mutu dilakukan oleh Badan POM sedangkan
pada era desentralisasi jaminan mutu menjadi tanggung jawab Balai POM.
Penjaminan mutu oleh Balai POM ditingkat kabupaten/kota belum sepenuhnya
dilakukan. Monitoring dan supervisi pengelolaan obat dilakukan oleh dinas
kesehatan kabupaten/kota. Dinkes berperan ganda sebagai regulator dan operator
pengelolaan obat sehingga monitoringnya belum sepenuhnya dilakukan. Diskusi
Pemaparan dari Prof. Iwan memicu munculnya tanggapan dari peserta
mengenaiseleksi obat dan peningkatan branded drugs. Proses pengelolaan obat
terdiri dari beberapa tahap yaitu tahap perencanaan, tahap pengadaan,
penyimpanan, tahap distribusi dan tahap penggunaan (Quick et al., 1997).
Pengadaan obat adalah salah satu aspek penting dan menentukan dalam
pengelolaan obat. Tujuan pengadaan obat adalah tersedianya obat dengan jenis
dan jumlah yang cukup sesuai dengan kebutuhan dengan mutu yang terjamin serta
dapat diperoleh pada saat yang diperlukan. Untuk mencapai tujuan tersebut,
perencanaan yang merupakan salah satu fungsi dari pengelolaan obat harus
dilaksanakan sebaik mungkin sehingga obat yang telah direncanakan sesuai
dengan kebutuhan, tepat sasaran dan tepat guna. Untuk mendukung hal ini,
perencanaan obat secara terpadu antara obat untuk pelayanan kesehatan dasar
dengan obat program merupakan langkah yang harus dilakukan agar tidak terjadi
tumpang tindih dalam perencanaan dan pengadaan obat di sektor publik.

I.2 Tujuan PKL distribusi farmasi

Melalui kegiatan praktik kerja lapangan di PT. Pharma Indo Sukses gudang
farmasi mahasiswa diharapkan mampu :

2
1. Mengetahui tugas pokok dan fungsi gudang farmasi di PT. Pharma Indo
Sukses

2. Mengetahui cara perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan,


distribusi, dan pemusnahan obat kadaluarsa di PT. Pharma Indo Sukses
gudang farmasi

3. Melakukan monitoring terhadap waktu kadaluarsa obat, serta menjamin


kualitas obat di PT. Pharma Indo Sukses gudang farmasi

I.3 Manfaat PKL distribusi farmasi


1. Dapat mengetahui tugas pokok dan fungsi gudang farmasi di PT. Pharma
Indo Sukses
2. Dapat mengetahui cara perencanaan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan,
distribusi, dan pemusnahan obat kadaluarsa di PT. Pharma Indo Sukses
3. Ikut serta melakukan kegiatan kefarmasian di PT. Pharma Indo Sukses
sekaligus mendapatkan pelajaran berharga mengenai pengelolaan obat di
lapangan secara profesional
4. Dapat melakukan monitoring terhadap waktu kadaluarsa obat di PT. Pharma
Indo Sukses
5. Mampu membangun komunikasi yang baik dengan pihak dari PT. Pharma
Indo Sukses agar memperoleh ilmu yang bermanfaat mengenai pengelolaan
gudang farmasi

I.4 Waktu dan tempat PKL distribusi farmasi


1. Waktu Pelaksanaan PKL : 16 – 27 September 2019
2. Waktu kerja : senin – jumat (Selama 2 Minggu)
3. Jam kerja : 08.30 – 15.30
4. Tempat kerja : PT. Pahrma Indo Sukses jl. baji minasa makassar

3
BAB II

TINJAUAN UMUM

II.1 Pengertian Sarana Distribusi Farmasi

Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI


No.1148/MENKES/PER/VI/2011 tentang Pedagang Besar Farmasi yang
selanjutnya disingkat PBF tercantum bahwa PBF merupakan perusahaan
berbentuk badan hukum yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan,
penyaluran obat dan/atau bahan obat dalam jumlah besar sesuai ketentuan
peraturan perundangundangan. Selain mendistribusikan obat, PBF juga dapat
menyalurkan alat kesehatan. PBF yang akan melakukan usaha sebagai Penyalur
alat kesehatan (PAK) harus memiliki izin PAK.
Menurut SK Mentri Kesehatan no ; 243/MENKES/SK/V/1990 tentang
PBF sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan kefarmasian dewasa ini, maka
ditetapkan Peraturan Menteri Kesehatan no;918/MENKES/PER/X/1993 bahwa
PBF adalah badan hukum berbentuk perseroan terbatas atau koperasi yang
memiliki izin mengadakan penyimpanan dan menyalurkan perbekalan farmasi
dalam jumlah besar sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
PBF ada yang bersifat lokal dan nasional (utama).
1) PBF LOKAL
Keberadaan PBF lokal biasanya hanya meliput satu daerah tertentu saja.
Dengan demikian, apotek yang berada di luar ring daerah tersebut tidak akan
terliput oleh PBF tersebut. Alasan adanya PBF lokal ini sebenarnya dikarenakan
daya jangkau PBF utama tidak mencukupi daerah tersebut untuk diliputnya.
Untuk membentuk kepanjangan tangan, agar produk prinsipal tetap terdistribusi

4
merata, maka PBF utama akan menggandeng beberapa PBF lokal tersebut. PBF
lokal ini memiliki kerjasama dengan PBF utama dan biasanya tidak
berhubungan kontrak langsung dengan principal. Keberadaan stock dan aneka
program promo yang dijalankan biasanya akan dikontrol oleh PBF utama. Selain
itu, adanya beberapa principal lokal juga sering memanfaatkan keberadaan PBF
lokal ini.Hal ini tentu saja dengan pertimbangan adanaya efisiensi biaya
distribusi.

2) PBF NASIONAL (UTAMA)


Peliputan daerah yang luas ke seluruh penjuru tanah air dan adanya
perwakilan kantor cabang di tiap area menjadikan suatu PBF tersebut bersifat
nasional. Biasanya principalyang bonafid akan mempercayakan produknya ke
PBF semacam ini. Principal juga berharap bahwa berbagai item produknya akan
terdistribusi merata ke seluruh pelosok nusantara. Dengan
demikian principal tersebut akan mengukuhkan posisinya dalam
memperebutkan market share yang ada. Keuntungan bagi apotek dalam
berhubungan dengan PBF utama adalah adanya jaminan ketersediaan produk,
dan kemudahan prosesreturn (pengembalian) produk. Selain itu, kepastian
produk tersebut adalah produk asli tentu tak perlu diragukan lagi. Hal ini karena
memang supply produk PBF utama berasal dari gudang principal secara
langsung. Disisi lain, principal biasanya dalam membuat program promo akan
bekerjasama dengan PBF utama, sehingga bagi apotek yang loyal akan
mendapatkan beragam program promo.
Lantas bagaimana menciri PBF dalam pengadaan produk kefarmasian
untuk apotek, pertimbangan apa sajakah yang diperlukan ? Perilaku tiap apotek
dalam hal alasan untuk memilih bertransaksi terhadap PBF tentu akan beraneka
ragam, bergantung tujuan & latar belakangnya. Berbagai pengalaman empiris
yang telah dialami, setidaknya ada beragam alasan untuk bertransaksi dengan
suatu PBF, yaitu :

5
o Produk yang dimiliki PBF
o Tanggapan PBF dan pelayanannya
o Citra & reputasi PBF
o Sikap & kemampuan salesman PBF
o Pengiriman
o Pelayanan salesman
o Sifat & penampilan salesman
o Jaminan PBF atas produk yang dijual
o Kemudahan bertransaksi dengan PBF
o Diskon & bonus
o Informasi & lokasi PBF dengan apotek
o Hubungan jangka panjang yang telah terjalin
o Faktor harga
o Faktor pembayaran
o Komisi & entertainment
o Batas nilai pemesanan (credit limit)
o Masalah return (pengembalian) produk

Faktor – faktor tersebut diatas merupakan pertimbangan dalam


mempengaruhi terjadinya hubungan bisnis antara apotek dan PBF. Semakin
banyak faktor yang mampu dipenuhi PBF, tentu apotek akan menciri bahwa
PBF tersebut memang layak untuk dijadikan mitra bisnisnya. Hubungan bisnis
yang seimbang antara apotek dengan PBF demikianlah yang diharapkan terjadi
antar keduanya.

II.2 Tugas Dan Fungsi Sarana Distribusi

6
A. Tugas PBF yaitu :
 Tempat menyediakan dan menyimpan perbekalan farmasi yang meliputi
obat,bahan obat dan alat kesehatan
 Sebagai sarana mendistribusikan perbekalan farmasi kesarana pelayanan
kesehatan masyarakat yang meliputi :apotek,rumah sakit,toko obat berizin
dan sarana pelayanan kesehatan masyarakat lain serta PBF lainnya.
 Membuat laporan dengan lengkap setiap pengadaan
,penyimpanan,penyaluran,perbekalan farmasi sehingga dapat
dipertanggungjawabkan setiap dilakukan pemeriksaan.
 Untuk toko obat berizin,pendistribusian obat hanya pasa obat-obat
golongan obat bebas dab obat bebas terbatas ,sedangkan untuk
apotek,rumah sakit dan PBF lain melakukan pendistribusian obat bebas
,obat bebas bebas terbatas dan obat keras tertentu.

B. Fungsi PBF antara lain :


 Sebagai sarana distribusi farmasi bagi industri-industri farmasi.
 Sebagai saluran distribusi obat-obatan yang bekerja aktif ke seluruh tanah
air secara merata dan teratur guna mempermudah pelayanan kesehatan.
 Untuk membantu pemerintah dalam mencapai tingkat kesempurnaan
penyediaan obat-obatan untuk pelayanan kesehatan.
 Sebagai penyalur tunggal obat-obatan golongan narkotika dimana PBF
khusus,yang melakukannya adalah PT. Kimia Farma.
 Sebagai aset atau kekayaan nasional dan lapangan kerja.

II.3 Tujuan Sarana Distribusi Farmasi

7
II.4 Persyaratan Sarana Distribusi Farmasi

Suatu PBF baru dapat beroperasi setelah mendapat surat izin. Selama PBF
tersebut masih aktif melakukan kegiatan pengelolaan obat, maka seluruh
kegiatan yang dilaksanakan di PBF tersebut wajib berdasarkan kepada CDOB.
Agar dapat beroperasi, PBF harus mempunyai lokasi dan bangunan yang
memenuhi persyaratan serta menyediakan perlengkapan yang diperlukan dalam
kegiatan distribusi.

1. Tempat/Lokasi
Lokasi PBF dapat dipilih dengan mempertimbangkan segi efisiensi dan
efektifitas dalam pengadaan dan penyaluran obat ke sarana pelayanan
kesehatan dan faktor-faktor lainnya.
2. Bangunan (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2012)
Suatu PBF harus mempunyai luas bangunan yang cukup dan memenuhi
persyaratan teknis, sehingga dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas
dan fungsi PBF. Suatu PBF paling sedikit memiliki ruang tunggu, ruang
penerimaan obat, ruang penyiapan obat, ruang administrasi, ruang kerja
apoteker, gudang obat jadi, ruang makan dan kamar kecil. Bangunan PBF
dilengkapi dengan sumber air yang memenuhi syarat kesehatan, pencahayaan
yang memadai, alat pemadam kebakaran, ventilasi dan sanitasi yang baik.

Bangunan harus dirancang dan disesuaikan untuk memastikan bahwa


kondisi penyimpanan yang baik dapat dipertahankan, mempunyai keamanan
yang memadai dan kapasitas yang cukup untuk memungkinkan penyimpanan
dan penanganan obat yang baik, serta area penyimpanan dilengkapi dengan
pencahayaan yang memadai untuk memungkinkan semua kegiatan
dilaksanakan secara akurat dan aman.

8
Area penerimaan, penyimpanan dan pengiriman harus terpisah, terlindung
dari kondisi cuaca, dan harus didesain dengan baik serta dilengkapi dengan
peralatan yang memadai. Akses masuk ke area penerimaan, penyimpanan dan
pengiriman hanya diberikan kepada personil yang berwenang yakni dengan
adanya sistem alarm dan kontrol akses yang memadai.
Selain itu harus disediakan area khusus, antara lain:
a) Harus ada area terpisah dan terkunci antara obat yang menunggu keputusan
lebih lanjut mengenai statusnya, meliputi obat yang diduga palsu, yang
dikembalikan, yang ditolak, yang akan dimusnahkan, yang ditarik, dan yang
kedaluwarsa dari obat yang dapat disalurkan.
b) Harus tersedia kondisi penyimpanan khusus untuk obat yang membutuhkan
penanganan dan kewenangan khusus sesuai dengan peraturan
perundangundangan (misalnya narkotika).
c) Harus tersedia area khusus untuk penyimpanan obat yang mengandung
bahan radioaktif dan bahan berbahaya lain yang dapat menimbulkan risiko
kebakaran atau ledakan (misalnya gas bertekanan, mudah terbakar, cairan
dan padatan mudah menyala) sesuai persyaratan keselamatan dan
keamanan. Bangunan dan fasilitas penyimpanan harus bersih, bebas dari
sampah dan debu serta harus dirancang dan dilengkapi, sehingga
memberikan perlindungan terhadap masuknya serangga, hewan pengerat
atau hewan lain. Selain itu, ruang istirahat, toilet dan kantin untuk personil
harus terpisah dari area penyimpanan.

3. Perlengkapan PBF
Suatu PBF baru yang ingin beroperasi harus memiliki perlengkapan yang
memadai agar dapat mendukung pendistribusian obat jadi. Perlengkapan
yang harus dimiliki antara lain :
a. Peralatan dan tempat penyimpanan obat seperti lemari obat jadi, lemari
pendingin (kulkas), lemari untuk menyimpan produk kembalian,

9
container untuk pengiriman barang dan box es untuk pengiriman obat
dengan suhu penyimpanan rendah
b. Perlengkapan administrasi terkait dokumen penjualan, pembelian dan
penyimpanan. Dokumen tersebut seperti blanko pesanan, blanko faktur,
blanko faktur, bilyet giro, blanko faktur pajak, blanko surat jalan, kartu
stok obat, bukti penerimaan pembayaran, form retur, blanko faktur pajak
dan stempel PBF\
c. Buku-buku dan literatur standar yang diwajibkan, serta kumpulan
perundangundangan yang berhubungan dengan kegiatan di PBF.

Syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk mendirikan suatu PBF adalah sebagai
berikut:

 Harus ada izin dari Menteri Kesehatan RI

 Dilakukan oleh badan hukum berbentuk perseroan terbatas,koperasi, atau


perusahaan modal asing yang telah memiliki izin usaha industri farmasi
indonesia dengan perusahaan nasional.
 Memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP)
 Memiliki apoteker penanggung jawab (AP)
 Anggota direksi tidak pernah terlibat pelanggaran ketentuan perundang-
undangan di bidang farmasi.

10
II.5 Pengelolaan Sarana Distribusi Farmasi

1. Pengadaan Barang
Pengadaan barang dilakukan dengan membuat pesenan atau PO (percising
Order) kepada pabrik untuk periode tertentu. Misalnya satu pesanan untuk satu
bulan penjualan, ini dilakukan PBF yang letaknya dekat PBF order.
Pelengkapan pengadaan barang adalah:
a. Estimasi pesanan barang, sebelum membuat pesanan barang harus
membuat perkiraan pemesanan barang gunanya menentukan seberapa
banyak kita menjual. Dan menentukan jumlah stok bulan berikutnya dan
juga untuk menghindari terjadinya penumpukan barang.
b. Surat pesanan (Purcusing order)

Surat ini dibuat setelah berdasarkan estimasi pesanan yang sudah disetujui oleh
semua pihak (team penjualan, marketing, bag. Keuangan agen gudang dan
pimpinan), surat pesanan ini dibagi atas tiga macam. Surat pesanan obat keras
tertentu (OKT), surat ini berisikan nama dan jumlah pesanan obat OKT periode
tertentu. Surat ini terdiri dari 5 lembaran yang dibedakan dalam berbagai
warna:

a. Lembaran 1 putih ditunjukan kepada pabrik (produsen)


b. Lembaran 2 merah ditunjukan kepada dinas pengawasan narkoba.
c. Lembaran 3 kuning ditunjukkan kepada departemen kesehatan,
d. Lembaran 4 biru ditunjukkan kepada balai POM
e. Lembaran 5 hijau ditunjukan kepada apotek yang memesan.

Surat pesanan obat prekursor, ini berisikan obat golongan prekursor (jumlah
dan nama obatnya). Obat prekursor adalah obat yang bisa di salah gunakan,
kegunaannya dari yang seharusnya. Contohnya formalin, lacoldin (PT,Lapi),
efedrin Hcl (PT.Kimia Farma), quantidex tab (PT. Infars), lapifed (PT. Lapi).
Surat pesanan obat bebas dan obat keras untuk periode tertentu surat pesan
obat bebas dan obat keras dapat digabungkan

Perbedaan dari surat pesanan di atas adalah:

11
a. Jenis surat pesanan
b. Lembaran surat pesanan untuk golongan psikotropika dan prekursor surat
pesanannya dibuat terpisah sementara surat pesanan obat keras bisa
digabung dengan surat pesanan obat bebas.

2. Penjualan Barang
Penjualan proses pemasaran obat-obatan yang telah ada di gudang
konsumen (rumah sakit, apotek, toko obat, PBF lain) dengan menyatakan
faktur penjualan ini ada beberapa ketentuan yang harus dipatuhi:
PBF hanya boleh menjual obat bebas kepada toko obat yang ada izin.
a. PBF hanya boleh menjual obat bebas, obat keras, dan obat keras tertentu
ke apotek, rumah sakit dan PBf lain.
b. PBf hanya boleh menjual obat keras tertentu kepada apotek, rumah sakit,
PBF lain harus ada surat pesanan terlebih dahulu.
c. Pada barang kampas hanya boleh untuk obat bebas dan tidak dibolehkan
obat daftar G.

3. Pendistribusian Perbekalan Farmasi


Pedagang besar Farmasi (PBF) dalam menyelenggarakan pengadaan,
penyimpanan, dan penyaluran obat wajib menerapkan pedoman teknis
CDOB. Pabrik Farmasi dapat menyalurkan hasil produksinya langsung ke
PBF, Apotik, Toko Obat dan saran pelayanan kesehatan lainnya. (Permenkes
918/Menkes/Per/X/1993).
Apotek dilarang membeli atau menerima bahan baku obat selain dari PBF
Penyalur Bahan Baku Obat PT. Kimia Farma dan PBF yang akan ditetapkan
kemudian. (Permenkes 287/Menkes/SK/XI/76 tentang Pengimporan,
penyimpanan dan penyaluran bahan baku obat).Cara distribusi Obat yang
Baik (CDOB) yaitu memastikan bahwa kualitas produk yang dicapai melalui
CDOB dipertahankan sepanjang jalur distribusi. Aspek-aspek CDOB yaitu,
Personalia, dokumentasi, pengadaan dan penyaluran Penyimpanan serta
penarikan kembali. PBF hanya dapat menyalurkan obat kepada PBF lain, dan

12
fasilitas pelayanan kefarmasian sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan, meliputi apotek, instalasi farmasi rumah sakit, puskesmas, klinik
dan toko obat (selain obat keras). Dalam pelaksanaan penyaluran sediaan
farmasi di PBF terdapat beberapa ketentuan, yakni meliputi penyaluran obat,
narkotika dan psikotropika (Kementerian Kesehatan RI, 2011).

3. Pelaporan Penggunaan Psikotropika


Pabrik obat, pedagang besar farmasi, sarana penyimpanan sediaan farmasi
Pemerintah, apotek, rumah sakit, puskesma, balai pengobatan, dokter,
lembaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan, wajib membuat dan
menyimpan catatan mengenai kegiatan masing-masing yang berhubungan
dengan psikotropika. Pabrik obat, pedagang besar farmasi, apotek, rumah
sakit, puskesmas, lembaga penelitian dan/atau lembaga pendidikan wajib
melaporkan catatan kepada menteri secara berkala.
Sanksi Terhadap Pelanggaran Undang-Undang Psikotropika barang siapa :
a. Menggunakan psikotropika golongan I selain dimaksud dalam Pasal 4
ayat (2); atau
b. Memproduksi dan/atau menggunakan dalam proses produksi
psikotropika golongan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6; atau
c. Mengedarkan psikotropika golongan I tidak memenuhi ketentuan
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (3); atau
d. Mengimpor psikotropika golongan I selain untuk kepentingan ilmu
pengetahuan; atau
e. Secara tanpa hak memiliki, menyimpan dan/atau membawa psikotropika
golongan I; dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat)
tahun, paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit
Rp. 150.000.000,00 (seratus lima puluh juta rupiah), dan paling banyak
Rp.750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).
f. Jika tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan secara
terorganisasi dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur

13
hidup atau pidana penjara selama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda
sebesar Rp. 750.000.000,00 (tujuh ratus lima puluh juta rupiah).
g. Jika tindak pidana dalam pasal ini dilakukan korporasi, maka
disampingdipidananya pelaku tindak pidana, kepada korporasi dikenakan
denda sebesar Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).

4. Penarikan Kembali
Proses ini dilakukan untuk suatu nomor batch atau satu kode produksi
tertentu yang dinyatakan tidak layak untuk dikonsumsi. Contohnya setelah
Balai POM melakukan pengamatan untuk produk quantidex tab ditemukan
ketidak cocokan dengan keadaan fisiknya, maka balai POM memberi surat
kepada pabrik untuk menarik quantidex tab dari pasaran melalui distributor-
distributor yang memesan produk quantidex tersebut.Dari distributor akan
mengirim surat kepad pelanggan seperti toko obat, apotek, rumah sakit, dll.
Penyimpangan yang dilakukan PBF dalam distribusi narkotika, PBF bisa
bekerja sama dengan apotik ( sebagai apotik panel) mendistribusikan obat
kepada pihak-pihak lain seperti dokter, toko obat atau pihak-pihak lain yang
tidak berwenang.

II.6 Peraturan Dan Perundang-undangan Sarana Distribusi Farmasi

Penyelengggaraan PBF Menurut Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1148 / Menkes / Per / VI / 2011:

Pasal 13

1) PBF dan PBF Cabang hanya dapat mengadakan, menyimpan dan


menyalurkan obat dan/atau bahan obat yang memenuhi persyaratan mutu
yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.
2) PBF hanya dapat melaksanakan pengadaan obat dari industri farmasi
dan/atau sesama PBF.
3) PBF hanya dapat melaksanakan pengadaan bahan obat dari industri farmasi,
sesama PBF dan/atau melalui importasi.

14
4) Pengadaan bahan obat melalui importasi sebagaimana dimaksud pada ayat
(3) dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
5) PBF Cabang hanya dapat melaksanakan pengadaan obat dan/atau bahan obat
dari PBF pusat.

Pasal 14

1) Setiap PBF dan PBF Cabang harus memiliki Apoteker penanggung jawab
yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan ketentuan pengadaan,
penyimpanan dan penyaluran obat dan/atau bahan obat sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 13.
2) Apoteker penanggung jawab sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
memiliki izin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
3) Apoteker penanggung jawab dilarang merangkap jabatan sebagai
direksi/pengurus PBF atau PBF Cabang.
4) Setiap pergantian Apoteker penanggung jawab, direksi/pengurus PBF atau
PBF Cabang wajib melaporkan kepada Direktur Jenderal atau Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi selambat-lambatnya dalam jangka waktu 6 (enam) hari
kerja.

Pasal 15

1) PBF dan PBF Cabang harus melaksanakan pengadaan, penyimpanan dan


penyaluran obat dan/atau bahan obat sesuai dengan CDOB yang ditetapkan
oleh Menteri.
2) Penerapan CDOB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai
pedoman teknis CDOB yang ditetapkan oleh Kepala Badan.
3) PBF dan PBF Cabang yang telah menerapkan CDOB diberikan sertifikat
CDOB oleh Kepala Badan.

Pasal 16

15
1) Setiap PBF atau PBF Cabang wajib melaksanakan dokumentasi pengadaan,
penyimpanan, dan penyaluran di tempat usahanya dengan mengikuti
pedoman CDOB.
2) Dokumen sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dilakukan secara
elektronik.
3) Dokumentasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) setiap saat
harus dapat diperiksa oleh petugas yang berwenang.

Pasal 17

1) Setiap PBF dan PBF Cabang dilarang menjual obat atau bahan obat secara
eceran.
2) Setiap PBF dan PBF Cabang dilarang menerima dan/atau melayani resep
dokter.

Pasal 18

1) PBF dan PBF Cabang hanya dapat menyalurkan obat kepada PBF atau PBF
Cabang lain, dan fasilitas pelayanan kefarmasian sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.
2) Fasilitas pelayanan kefarmasian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. apotek;
b. instalasi farmasi rumah sakit;
c. puskesmas;
d. klinik; atau
e. toko obat.
3) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) PBF dan
PBF Cabang tidak dapat menyalurkan obat keras kepada toko obat.
4) Untuk memenuhi kebutuhan pemerintah, PBF dan PBF Cabang dapat
menyalurkan obat dan bahan obat kepada instansi pemerintah yang
dilakukan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 19

16
PBF Cabang hanya dapat menyalurkan obat dan/atau bahan obat di wilayah
provinsi sesuai surat pengakuannya.

Pasal 20

PBF dan PBF Cabang hanya melaksanakan penyaluran obat berupa obat keras
berdasarkan surat pesanan yang ditandatangani apoteker pengelola apotek atau
apoteker penanggung jawab.

Pasal 21

1) PBF dan PBF Cabang hanya dapat menyalurkan bahan obat kepada industri
farmasi, PBF dan PBF Cabang lain, apotek, instalasi farmasi rumah sakit dan
lembaga ilmu pengetahuan.
2) Penyaluran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berdasarkan surat pesanan
yang ditandatangani apoteker pengelola apotek atau apoteker penanggung
jawab.
3) Dikecualikan dari ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) surat
pesanan untuk lembaga ilmu pengetahuan ditandatangani oleh pimpinan
lembaga.

Pasal 22

Setiap PBF dan PBF Cabang yang melakukan pengadaan, penyimpanan, dan
penyaluran narkotika wajib memiliki izin khusus sesuai ketentuan peraturan
perundang-undangan.

Pasal 23

1) Setiap PBF atau PBF Cabang yang melakukan pengubahan kemasan bahan
obat dari kemasan atau pengemasan kembali bahan obat dari kemasan aslinya
wajib melakukan pengujian laboratorium.

17
2) Dalam hal dilakukan pengubahan kemasan atau pengemasan kembali bahan
obat sebagaimana dimaksud pada ayat (1), PBF atau PBF Cabang wajib
memiliki ruang pengemasan ulang sesuai persyaratan CDOB.

Pasal 24

Selain menyelenggarakan pengadaan, penyimpanan dan penyaluran obat dan/atau


bahan obat, PBF mempunyai fungsi sebagai tempat pendidikan dan pelatihan.

Syarat gudang PBF Menurut Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1148 /
Menkes / Per / VI / 2011:

Pasal 25

1) Gudang dan kantor PBF atau PBF Cabang dapat berada pada lokasi yang
terpisah dengan syarat tidak mengurangi efektivitas pengawasan intern oleh
direksi/pengurus dan penanggung jawab.
2) Dalam hal gudang dan kantor PBF atau PBF Cabang berada dalam lokasi
yang terpisah maka pada gudang tersebut harus memiliki Apoteker.

Pasal 26

1) PBF dan PBF Cabang dapat melakukan penambahan gudang atau perubahan
gudang.
2) Setiap penambahan atau perubahan gudang PBF sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) harus memperoleh persetujuan dari Direktur Jenderal.
3) Setiap penambahan atau perubahan gudang PBF Cabang sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) harus memperoleh persetujuan dari Kepala Dinas
Kesehatan Provinsi.

Pasal 27

18
1) Permohonan penambahan gudang PBF diajukan secara tertulis kepada
Direktur Jenderal dengan mencantumkan :
a. alamat kantor PBF pusat;
b. alamat gudang pusat dan gudang tambahan;
c. nama apoteker penanggung jawab pusat; dan
d. nama apoteker penanggung jawab gudang tambahan.
2) Permohonan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditandatangani oleh
direktur/ketua dan dilengkapi dengan persyaratan sebagai berikut :
a. Fotokopi izin PBF;
b. Fotokopi Surat Tanda Registrasi Apoteker calon penanggung jawab
gudang tambahan;
c. surat pernyataan kesediaan bekerja penuh apoteker penanggung jawab;
d. surat bukti penguasaan bangunan dan gudang; dan
e. peta lokasi dan denah bangunan gudang tambahan.
3) Permohonan penambahan gudang PBF Cabang diajukan secara tertulis kepada
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dengan mengikuti ketentuan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2).

Pelaporan kegiatan PBF Menurut Mentri Kesehatan Republik Indonesia Nomor


1148 / Menkes / Per / VI / 2011:

Pasal 30

1) Setiap PBF dan cabangnya wajib menyampaikan laporan kegiatan setiap 3


(tiga) bulan sekali meliputi kegiatan penerimaan dan penyaluran obat dan/atau
bahan obat kepada Direktur Jenderal dengan tembusan kepada Kepala Badan,
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi dan Kepala Balai POM.
2) Selain laporan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Direktur
Jenderal setiap saat dapat meminta laporan kegiatan penerimaan dan
penyaluran obat dan/atau bahan obat.
3) Setiap PBF dan PBF Cabang yang menyalurkan narkotika dan psikotropika
wajib menyampaikan laporan bulanan penyaluran narkotika dan psikotropika
sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

19
4) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) dapat dilakukan
secara elektronik dengan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi.
5) Laporan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) setiap saat harus dapat
diperiksa oleh petugas yang berwenang.

BAB III

TINJAUAN SARANA DISTRIBUSI FARMASI

III.1 Sejarah PT. Pharma Indo Sukses

PT. Pharma Indo Sukses adalah sebuah pedagang besar farmasi di


Makassar yang didirikan pada tanggal 17 Desember 2003 berdasarkan Akte
Notaris No.03 NY. HARJATI REKSOATMOJO, S.H bertempat di jalan
Gunung Nona No.20 dengan izin PBF 129/Menkes/X/2004, namum sejalan
dengan kondisi lokasi yang kurang memadai maka pada tahun 2010 PT. Pharma
Indo Sukses dipindahkan ke jalan Baji Minasa No.16 Makassar dengan ijin PBF
terbaru HK 02.06 PBFN/0553/2016 dengan Direktur Bapak Deddy Hamindong.

III.2 Tata Ruang

A. Lantai 1 :

6 5
7
3
4

1
20
2

Keterangan :
(1) = Ruang Administrasi
(2) = Transito out
(3) = Karantina in/out
(4) = Lift Barang
(5) = Ruang Penyimpanan Injeksi
(6) = Ruang Direktur
(7) = Kamar Mandi

B. Lantai 2

4
2 1
5 3

Keterangan :

(1) = Ruang Penyimpanan Prekursor


(2) = Ruang Retail
(3) = Gudang Obat 1
(4) = Lift Barang

21
III.3 Struktur Organisasi PT. Pharma Indo Sukses

PT. Pharma Indo Sukses dikepalai oleh seorang direktur dan membawahi
Apoteker Penanggung Jawab dan Asisten Apoteker, membawahi 4 bagian yaitu,
Kepala Gudang, Bagian Pengadaan, Bagian fakturis, Bagian Penjualan/Salesman, dan
Bagian Bendahara.

DIREKTUR
Dedy Hamindong

APOTEKER
Salmiah, Z.S.Farm, Apt

PENANGGUNG JAWAB ALKES


ASISTEN APOTEKER Malasari, S.Farm
Mientje, vs

PENGADAAN FAKTURIS KASIR


SALESMAN
KEPALA GUDANG Andini Maulana Husna Haswiah
Muh. Nur Ilham Herry Permana Dwitia
S.Komp Puput
Ayuwandira
Annisa N DALAM KOTA LUAR KOTA
Budiono Djabar
ANAK GUDANG Maricar Matius
Zack Sudamo Muh. Saleh
Hasrun FAKTUR PAJAK
Muh. Ridwan Agnes Ina
Pandi Sartika
DRIVER
DRIVER
Rustam
Syahmuddin
Burhan
Lasmoro
Ori
Supardi
Saiful

22
III.4 Kegiatan Sarana Distribusi PT.Pharma Indo Sukses

Kegiatan perbekalan farmasi di PT. Pharma Indo Sukses meliputi :

a. Perencanaan dan pengadaan


b. Penerimaan dan penyimpanan
c. Pengeluaran/distribusi
d. Pelaporan
e. Pemusnahan

III.5 Pengelolaan

1. Perencanaan Dan Pengadaan


Setiap perusahaan sebelum melakukan pengadaan pertama-tama harus
membuat suatu perencanaan yaitu menghitung jumlah pengeluaran dan berapa
banyak yang dibutuhkan yang akan didakan atau dibeli. Perencanaan disusun
oleh PBF PT. Pharma Indo Sukses, terlebih dahulu melihat evaluasi stock
yang terdata pada komputer yang kemudian di cetak sebulan sekali, kemudian
melihat kebutuhan yang diperlukan oleh rumah sakit, Apotek, toko obat
berizin, serta pengadaan tender, perencanaan tersebut dibuat setelah itu
dibuatkan SP dan ditandatangani oleh apoteker penanggung jawab. SP
tersebut dikirim melalui email atau di antar langsung. PT.Pharma Indo Sukses
hanya dapat membeli obat hanya kepada industri maupun sesama PBF selain
itu juga pada saat melakukan Pesanan barang dilakukan hanya dari sumber-
sumber yang resmi yang dapat dipertanggungjawabkan mutunya, kualitas, dan
status kuantitasnya.

2. Penerimaan Dan Penyimpanan


Pada saat penerimaan, barang tidak langsung disimpan ke gudang obat tetapi
harus masuk pada ruang karantina terlebih dahulu kemudian yang dilakukan
adalah menerima bukti permintaan barang dari pengantar obat kemudian

23
melakukan pengecekan atau pemeriksaan barang sesuai dengan faktur, Setelah
itu dilakukan pengecekan fisik barang yang diterima meliputi nama barang,
bentuk dari sediaan obat, nomor batch, dan expire date, jumlah, kemudian
dilakukan pengecekan fisik dan kemasan dari obat
Untuk Penyimpanan pada PT. Pharma Indo Sukses disesuaikan dengan
petunjuk yang ada di etiket obat, serta melakukan penyimpanan berdasarkan
system FEFO, bentuk sediaan serta alphabet. Adapun obat-obat precursor di
tempatkan pada ruangan tersendiri. Begitu pula dengan obat injeksi dan untuk
obat yang butuh suhu tertentu, tidak lupa suhu nya dilakukan pengecekkan
tiap 3 hari sekali. Stock obat disimpan pada rak dengan jejeran yang rapi dan
diberi jarak agar petugas mudah untuk mengambil obat di bagian dalam serta
di beri huruf alphabet pada tiap rak untuk mempermudah pencarian barang.

Untuk lebih jelasnya pembagian gudang serta penjelasan yang terdapat pada
PBF PT. Pharma Indo Sukses sebagai berikut :
a. Gudang transit yaitu tempat penyimpanan barang yang masuk untuk
diperiksa kemudian dipindahkan ke ruangan yang telah disediakan, dan
sekaligus tempat penyimpanan barang yang akan dikeluarkan/dikirim
disetiap sarana yang membutuhkan
b. Gudang obat yaitu tempat penyimpanan berbagai macam obat gudang obat
terbagi atas dua gudang antara lain gudang obat injeksi dan gudang obat
precursor

3. Penyaluran/pendistribusian
Untuk mendistribusikan barang ke outlet maka PBF PT. Pharma Indo Sukses
mempekerjakan bagian marketing atau salesman yang mana bertugas
mengunjungi tempat-tempat konsumen yang memesan barang misalnya
apotek, toko obat, dan lain-lain. Salah satu syarat pendistribusian obat dari
PT.Pharma Indo Sukses kepada outlet yaitu harus memiliki izin yang lengkap
yaitu memiliki izin apotek/Toko obat dan izin tempat sehingga dapat dilayani.

24
Adapun outlet yang ingin membeli obat pada PT. Pharma Indo Sukses terlebih
dahulu harus membuat Surat Pesanan (SP) dan khusus unutk SP
OOT/Precursor harus dipisahkan dengan obat biasa, kemudian bagian fakturis
akan memeriksa kembali surat pesanan outlet tersebut, bila telah sesuai dan
stok obat tersedia maka dibuatkan lah faktur penjualan. Kemudian aktur
diserahkan ke bagian gudang dan barang disediakan sesuai dengan nota dan
sebelum di packing dilakukan pemeriksaan kembali untuk mencegah
kesalahan dalam penyiapan obat setelah itu dipacking setelah itu dipisahkan
barang yang akan dikirim ke luar daerah dan dalam daerah, dan siap untuk
dikirim.. Apabila pelanggan membutuhkan pesanan segera (CITO) pemesanan
dapat dilakukan melalui via telepon, kemudian di cek oleh gudang, jika obat
yang dipesan terdapat pada gudang, akan dibuatkan faktur pemesanan namun
apabila obat tersebut tidak terdapt di PBF, maka pihak PBF melaporkan ke
apotik, toko obat, rumah sakit, dan sebagainya bahwa obat tidak ada atau tidak
tersedia

4. Pelaporan
Pada PT.Pharma Indo Sukses memiliki 3 jenis Laporan, yaitu :
a. Laporan Triwulan
Laporan ini merupakan laporan secara umum untuk mengetahui distribusi
yang terjadi setelah tiga bulan, laporan ini dibuat oleh penanggungjawab
dan dikirim melalui via email ke Dinkes provinsi setempat dengan
tembusan badan POM setempat, yang termasuk dalam golongan barang
tersebut adalah :
1. Daftar obat keras (OKT)
2. Daftar obat bebas terbatas
3. Daftar obat bebas
b. Laporan OOT (Obat Obat Tertentu)

25
Merupakan laporan untuk melihat pengeluaran OOT dalam sebulan. Maka
dari itu dilakukan 1 x sebulan kemudian diikirim ke Dinas Kesehatan dan
tembusannya diberikan ke BPOM
c. Laporan Precursor
Merupakan laporan untuk melihat pengeluaran prekursor dalam sebulan.
Maka dari itu dilakukan 1 x sebulan kemudian diikirim ke Dinas
Kesehatan dan tembusannya diberikan ke BPOM.

5. Pemusnahan Barang
Barang yang rusak, sudah kadaluarsa atau karena sebab tertentu sehingga
sediaan tersebut harus dimusnahkan di kumpulkan sehingga memuat berita
acara yang berkaitan dengan pemusnahan sediaan, tanda tangan penanggung
jawab (Apoteker, Tenega Teknis Kefarmasian, dan saksi – saksi lainya)
sehingga berita acaranya dikirimkan ke Dinas Kesehatan / Balai besar POM.

BAB IV

PEMBAHASAN

PBF (Pedagang Besar Farmasi) adalah perusahaan berbentuk badan hukum


yang memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan penyaluran perbekalan farmasi
dalam jumlah besar, sesuai peraturan perundang undangan yang berlaku. Setiap PBF
harus memiliki apoteker penanggung jawab terhadap pelaksanaan ketentuan

26
pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran obat atau bahan obat, apoteker penanggung
jawab harus memiliki izin sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

PT. Pharma Indo Sukses adalah sebuah pedagang besar farmasi di Makassar
yang didirikan pada tanggal 17 Desember 2003. PT. Pharma Indo Sukses yang
dikepalai oleh Bapak Dedy Hamindong, Yang didampingi oleh Apoteker Penanggung
Jawab, ibu Salmiah, Z.S.Farm, Apt

Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Pedagang Besar Farmasi PT.


Pharma Indo Sukses yaitu :

Pengadaan obat-obatan dilakukan berdasarkan jumlah persediaan yang ada


digudang melalui kartu stok yang terdata pada komputer. Jika ada barang yang akan
habis maka segera dilakukan pemesanan barang ke pabrik. Pemesanan barang
dilakukan langsung oleh Apoteker penganggung jawab melalui Surat Pesanan (SP)
dan disetujui oleh pimpinan/direktur dengan mengirimkan surat pesanan langsung
kepada pabrik yang bersangkutan melalui faximile/whatsapp. Selanjutnya pabrik akan
mengirimkan barang sesuai dengan pesanan yang disertai faktur pengiriman barang
dari pabrik. Kemudian Pada saat penerimaan barang, pertama kali dilakukan adalah
menerima bukti permintaan barang dari pengantar obat kemudian melakukan
pengecekan atau pemeriksaan barang sesuai dengan faktur , jika terdapat
ketidaksesuain PO maka dari pihak PBF memberikan informasi kepada sales yang
bersangkutan, dan jika sesuai dengan PO maka dilakukan proses pembongkaran
barang dan pemasukan barang ke gudang sesuai dengan faktur pesanan obat. Setelah
itu dilakukan pengecekan fisik barang yang diterima meliputi nama barng, bentuk
dari sediaan obat, nomor batch, dan expire date, jumlah, kemudian dilakukan
pengecekan fisik dan kemasan dari obat

Penyimpanan barang dalam gudang menggunakan sistem FEFO (First


Expired Firs Out), kemudian diatur berdasarkan jenis sediaan obat, dan alfabetis serta
dipisahkan atau disimpan berdasarkan suhu dari masing-masing obat tersebut, dan

27
ada pula yang harus diperhatikan adalah penyimpanan barang dalam gudung yaitu rak
tidak menyentuh lantai dan tidak menempel pada dinding. hal itu dilakukan agar tidak
terjadi kelembaban yang bisa menyebabkan kerusakan pada obat. Penjualan barang
(obat) PBF Pharma Indo Sukses hanya menyalurkan obat kepada PBF lain, apotek,
instalasi farmasi rumah sakit, klinik dan toko obat (selain obat keras), melalui surat
pesanan (SP) dari apotek melalui sales dan dapat pula melakukan pemesanan melalui
via telfon atau whatsapp. Kemudian orderan disampaikan ke pada fakturis yang telah
di periksa oleh apoteker, setelah itu orderan atau pesanan di fakturkan dan
disiapkan.Pengeluaran barang yaitu dengan mengeluarkan barang-barang yang telah
di periksa kelengkapan dari barang tersebut, berdasarkan faktur penjualan kemudian
dilakukan penyiapan dan pengemasan barang, dan setelah barang siap untuk dikirim,
dan di cek kembali berapa banyak yang akan dikirim ke masing-masing Apotek,
setelah itu dipisahkan barang yang akan dikirim ke luar daerah dan dalam daerah, dan
siap untuk dikirim.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

V.1 Kesimpulan

Setelah melakukan PKL selama 2 minggu, kami dapat menyimpulkan bahwa


PBF (Pedagang Besar Farmasi) adalah perusahaan berbentuk badan hukum yang

28
memiliki izin untuk pengadaan, penyimpanan penyaluran perbekalan farmasi
dalam jumlah besar, sesuai peraturan perundang undangan yang berlaku. Setiap
PBF harus memiliki apoteker penanggung jawab terhadap pelaksanaan ketentuan
pengadaan, penyimpanan, dan penyaluran obat atau bahan obat, apoteker
penanggung jawab harus memiliki izin sesuai ketentuan peraturan perundang-
undangan.

PT.Pharma Indo Sukses adalah sebuah PBF atau pedagang besar farmasi,
berdiri dan memulai aktivitas penjualan sejak tanggal 17 Desember 2003 dengan
melakukan penyaluran perbekalan farmasi ke PBF lain, Apotek, Instalasi Rumah
Sakit, Puskesmas dan Toko Obat (hanya obat bebas)

V.2 Saran

1. Saran kepada institusi


a. Diharapkan agar kedepannya, waktu PKL lebih lama agar dapat lebih
mengetahui perbekalan farmasi di PBF.
b. Pembimbing PKL seharusnya lebih giat untuk mengontrol mahasiswa
selama PKL berlangsung dan memberikan bimbingan untuk kemajuan
mahasiswa.
2. Saran kepada PBF Pharma Indo Sukses
a. Diharapkan agar lebih melengkapi sarana dan prasarana yang ada di PBF
(Pedagang Besar Farmasi).
b. Diharapkan agar mampu menerapkan CDOB yang lebih maksimal, agar
bisa menjadi PBF yang lebih berkualitas dan lebih baik untuk kedepannya
lagi.

29
DAFTAR PUSTAKA

Badan Pengawas Obat dan Makanan, (2012). Peraturan Kepala Badan Pengawas
Obat dan Makanan RI. No. HK.03.1.34.11.12.7542 tahun 2012 tentang
Pedoman

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2011). Peraturan Menteri Kesehatan


Republik Indonesia No. 1148/MENKES/PER/VI/2011 Tentang Pedagang Besar
Farmasi. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik IndonesiaKementerian

30
Teknis Cara distribusi Obat Yang Baik. Jakarta: Kepala Badan Pengawas Obat dan
Makanan RI.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia, 2009, PP No. 51 tahun 2009. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia No.36


tahun 2009 Tentang Kesehatan. Jakarta.

Presiden Republik Indonesia. (1998). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No.


72 tahun 1998 Tentang Pengamanan Sediaan Farmasi Dan Alat Kesehatan.
Jakarta

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 918/ MENKES/ PER/


X/1993.

Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 1191/ MENKES/ SK/ IX/
2002.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 889/MENKES/


PER/V/2011.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 1148/ MENKES/


PER/VI/2011

31