Anda di halaman 1dari 63

Laporan Tetap Kelompok 1

Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

LAPORAN TETAP
TEKNOLOGI PENGOLAHAN LIMBAH

Disusun Oleh :

Adelia Rahmayanti NIM 061840421424


Arga Romauli Sitohang NIM 061840421426
Dian Ani Destriyanti NIM 061840421428
Eti Nurmahdani NIM 061840421430
Febri Aris Mnunandar NIM 061840421444
Jabborov Behzod NIM 061840421433
Sebastian Hadinata NIM 061840421435
Yurik Dewi Safitri Liza NIM 061840421438

Dosen Pengampu :

Hilwatullisan S.T., M.T.

KELOMPOK 1
KELAS 3 KIA
PRODI DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI
JURUSAN TEKNIK KIMIA
TAHUN AJARAN 2019/2020

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

1|P a ge
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, karena berkat ridho-Nya kami dapat
menyelesaikan tugas Laporan Tetap Praktikum Teknologi Pengolahan Limbah.
Dalam menyusun laporan tetap ini, terdapat hambatan yang penulis alami,
namun berkat dukungan, dorongan dan semangat dari rekan- rekan kelas sehingga
penulis mampu menyelesaikan laporan tetap ini. Oleh karena itu penulis tidak
lupa pada kesempatan ini mengaturkan terima kasih kepada Ibu Hilwatullisan,
S.T.,M.T selaku dosen pembimbing.
Kami menyadari bahwa terdapat banyak kekurangan dalam laporan tetap
ini. Oleh karena itu penulis mengaharapkan kritik dan saran yang membangun
dari pembaca. Semoga laporan tetap praktikum ini bermanfaat bagi pembaca dan
penulis.

Palembang, Oktober 2019

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

2|P a ge
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

DAFTAR ISI

COVER DEPAN : .........................................................................................................1


KATA PENGANTAR ...................................................................................................2
DAFTAR ISI .................................................................................................................3
PENGUKURAN PARAMETER AIR LIMBAH .............................................................4
PENENTUAN KONDISI PENGENDAPAN OPTIMUM DARI KOAGULASI –
FLOKULASI ................................................................................................................ 20
PENJERNIHAN MINYAK JELANTAH ...................................................................... 41
PENGUKURAN KEBISINGAN ................................................................................... 53
GAMBAR ALAT ......................................................................................................... 60
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................... 63

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

3|P a ge
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

PENGUKURAN PARAMETER AIR LIMBAH

I. TUJUAN
- Menentukan kadar kandungan COD pada sampel air limbah artificial
bekas cucian
-Menguji karakteristik air ( pH, TDS, DO, Kekeruhan) pada limbah air
rumah tangga

II. ALAT DAN BAHAN


2.1 Alat yang digunakan :
-Cyberscan water Proof -Neraca Analitik
-Turbidity -Hot Plate
-Erlenmeyer -Spatula
-Biuret -Kaca Arloji
-Pipet Ukur -pH Meter
-Bola Karet -Gelas Kimia
-Labu takar -Gelas Ukur

2.2 Bahan Yang Digunakan :


-Air Limbah
-KmnO4
-H2SO4
-H2C2O4

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

4|P a ge
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

III. DASAR TEORI


Limbah domestik atau limbah rumah tangga terdiri dari pembuangan air
kotor dari kamar mandi, kakus dan dapur. Kotoran-kotoran itu merupakan
campuran dari zat-zat bahan mineral dan organik dalam banyak bentuk, termasuk
partikel-partikel besar dan kecil, benda padat, sisa-sisa bahan-bahan larrutan dalam
keadaan terapung dan dalam bentuk koloid dan setengah koloid (Martopo, 1987).
Menurut keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.12 Tahun 2003 yang dimaksud
dengan limbah domestik adalah air limbah yang berasal dari usaha dan kegiatan
permukiman, rumah makan, perkantoran, perniagaan, apartemen dan asrama.
Parameter air limbah rumah tangga terdiri dari suhu, kekeruhan dan padatan
tersuspesi. Sedangkan untuk parameter kimia air limbah domestik terdiri dari nilai
pH, DHL( daya hantar listrik). BOD(Biological Oxygen Demand) dan COD (
Chemical Oxygen Demand).
DO, BOD dan COD
Do adalah jumlah oksigen terlarut dalam air yang berasal dari fotosintesis
dan absorbsi atau udara. Oksigen terlarut disuatu perairan sangat berperan dalam
proses penyerapan makanan oleh makhluk dalam air. Oksigen terlarut atau juga
sering disebut dengan kebutuhan oksigen merupakan ssalah satu parameter penting
dalam analisis kualitas air ( Fioca, 2009). Dengan melihat kandungan oksigen yang
terlarut di dalam air dapat ditentukan seberapa jauh tingkat pencemaran air
lingkungan telah terjadi. Dapat diketahui dengan menggunakan uji BOD dan COD.
BOD atau kebutuhan oksigen biologi, untuk memecah (mendegradasi)
bahan buangan di dalam air limbah oleh mikroorganisme. Dalam hal ini buangan
organik akan dioksidasi oleh mikroorganisme di dalam air limbah , proses ini adalah
alamiah yang mudah terjadi apabila air lingkungan mengandung oksigen yang
vukup. Sedangkan COD atau oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan
buangan di dalam air, dalam hal ini buangan akan dioksidasi oleh bahan kimia yang
di gunakan sebagai sumber oksigen oxiding agent.

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

5|P a ge
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

A. Turbidity
1. Pengertian dan penggunaan Turbidity Meter .

Turbidity Meter adalah salah satu alat umum yang biasa digunakan
untuk keperluan analisa kekeruhan air atau larutan. Turbidity meter
merupakan alat pengujian kekeruan dengan sifat optik akibat dispersi sinar
dan dapat dinyatakan sebagai perbandingan cahaya yang dipantulkan
terhadap cahaya yang datang. Intensitas cahaya yang dipantulkan oleh suatu
suspensi padatan adalah fungsi konsentrasi jika kondisi-kondisi lainnya
konstan. Alat ini banyak digunakan dalam pengolahan air bersih untuk
memastikan bahwa air yang akan digunakan memiliki kualitas yang baik
dilihat dari tingkat kekeruhanya.
1.1. Kekeruhan
Kekeruhan pada suatu cairan biasanya disebabkan oleh beberapa hal
diantaranya yaitu partikel-partikel mikroskopis seperti mikro organisme
yang ada pada cairan tersebut, zat padat terlarut dan lainya.
1.2. Apa yang dimaksud dengan Kekeruhan?
Kekeruhan dilihat pada konsentrasi ketidaklarutan, keberadaan
partikel pada suatu cairan yang diukur dalam satuan Nephelometric
Turbidity Units(NTU). Penting untuk diketahui bahwa kekeruhan adalah
ukuran kejernihan sampel, bukan warna. Air dengan penampilan keruh atau
tidak tembus pandang dapat dipastikan memiliki tingkat ataukadar
kekeruhan yang tinggi, sementara air yang jernih atau tembus pandang pasti
memiliki kadar kekeruhan lebih rendah. Nilai kekeruhan yang tinggi dapat
disebabkan oleh partikel yang terlarut dalam air seperti lumpur, tanah liat,
mikroorganisme, dan material organik. Berdasarkan keterangan diatas,
kekeruhan bukan merupakan ukuran langsung dari partikel-partikel akan
tetapi merupakan suatu ukuran bagaimana sebuah partikel menghamburkan
cahaya dalam suatu cairan.
1.3. Apa Pentingnya Menganalisa Tingkat Kekeruhan Dengan
Turbidity Meter?
Pengukuran atau analisa kekeruhan dan kejernihan pada air sangat
penting dalam proses industri, seperti pada produksi air minum atau

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

6|P a ge
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

minuman, pengolahan makanan, dan instalasi pengolahan air minum. Serta


dalam pengolahan sumber air bersih. Dalam proses pengolahan dan
produksi air minum, nilai kekeruhan dapat dijadikan sebagai indikator
keberadaan bakteri patogen, atau partikel yang dapat melindungi organisme
berbahaya dari proses desinfeksi. Oleh sebab itu, pengukuran tingkat
kekeruhan sangat berguna untuk instalasi pengolahan air untuk memastikan
kebersihan nya. Pada proses industri, kekeruhan dapat menjadi bagian dari
Quality Control untuk memastikan efisiensi dalam pengolahan atau proses
industri terkait.
1.4. Bagaimana cara melakukan teknik analisa kekeruhan dengan
menggunakan Turbidity Meter?
Turbidity Meter adalah salah satu alat umum yang digunakan untuk
analisa kekeruhan. Berikut adalah informasi tentang teknik analisa yang
harus diketahui.

2. Kekeruhan
Kekeruhan dari suatu cairan disebabkan oleh partikel
mikroskopis. Pada pengukuran suatu parameter,
konsentrasiakan sebandingdengan intensitas warna dengan bantuan
penambahan pereaksi.
2.1. Tentang Pengukuran Kekeruhan
a. Apa yang dimaksud dengan Kekeruhan?
Kekeruhan mengacu pada konsentrasi ketidaklarutan, keberadaan
partikel dalam cairan yang diukur dalam Nephelometric Turbidity
Units(NTU). Penting untuk diketahui bahwa kekeruhan adalah ukuran
kejernihan sampel, bukan warna. Air dengan penampilan keruh atau tidak
tembus pandang akan memiliki kekeruhan tinggi, sementara air yang jernih
atau tembus pandang akan memiliki kekeruhan rendah. Nilai kekeruhan
yang tinggi disebabkan oleh partikel seperti lumpur, tanah liat,
mikroorganisme, dan material organik. Berdasarkan definisi, kekeruhan
bukan merupakan ukuran langsung dari partikel-partikel melainkan suatu
ukuran bagaimana partikel menghamburkan cahaya.
b. Mengapa Analisa Kekeruhan Penting?

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

7|P a ge
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

Penetapan kekeruhan dan kejernihan air penting dalam pelaksanaan


produksi seperti produksi minuman, pengolahan makanan, dan
instalasi pengolahan air minum. Dalam aplikasi untuk air minum, nilai
kekeruhan dapat memberikan indikasi keberadaan bakteri, patogen, atau
partikel yang dapat melindungi organisme berbahaya dari proses desinfeksi.
Oleh karena itu, pengukuran kekeruhan sangat berguna untuk instalasi
pengolahan air untuk memastikan kebersihan nya. Dalam proses industri,
kekeruhan dapat menjadi bagian dari kontrol kualitas untuk memverifikasi
efisiensi dalam pengolahan atau proses manufaktur.
c. Teknik Pengukuran yang Baik
Kekeruhan adalah pengukuran analisis yang sangat kompleks yang
dapat dipengaruhi oleh banyak faktor. Beberapa sudah ada dalam desain
instrumen seperti sudut pembacaan , sumber sinar , panjang gelombang dan
sensitivitas warna dari fotosel. Namun, ada faktor-faktor lain seperti
kekuatan sinar, gelembung udara dan vial yang rusak, yang dapat dicegah
melalui perawatan yang tepat pada peralatan dan aksesoris.

B. Saliniti atau salinitas

Salinitas adalah tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam air.
Salinitas juga dapat mengacu pada kandungan garam dalam tanah.

Salinitas air berdasarkan persentase garam terlarut

Air tawar Air payau Air saline Brine

< 0,05 % 0,05—3 % 3—5 % >5 %

Kandungan garam pada sebagian besar danau, sungai, dan saluran


air alami sangat kecil sehingga air di tempat ini dikategorikan sebagai air
tawar. Kandungan garam sebenarnya pada air ini, secara definisi, kurang
dari 0,05%. Jika lebih dari itu, air dikategorikan sebagai air payau atau
menjadi saline bila konsentrasinya 3 sampai 5%. Lebih dari 5%, ia disebut

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

8|P a ge
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

brine. Air laut secara alami merupakan air saline dengan kandungan garam
sekitar 3,5%. Beberapa danau garam di daratan dan beberapa lautan
memiliki kadar garam lebih tinggi dari air laut umumnya. Sebagai contoh,
Laut Mati memiliki kadar garam sekitar 30%. [1] Istilah teknik untuk
keasinan lautan adalah halinitas, dengan didasarkan bahwa halida-halida—
terutama klorida—adalah anion yang paling banyak dari elemen-elemen
terlarut. Dalam oseanografi, halinitas biasa dinyatakan bukan dalam persen
tetapi dalam “bagian perseribu” (parts per thousand , ppt) atau permil (‰),
kira-kira sama dengan jumlah gram garam untuk setiap liter larutan.
Sebelum tahun 1978, salinitas atau halinitas dinyatakan sebagai ‰ dengan
didasarkan pada rasio konduktivitas elektrik sampel terhadap "Copenhagen
water", air laut buatan yang digunakan sebagai standar air laut dunia. [2] Pada
1978, oseanografer meredifinisikan salinitas dalam Practical Salinity Units
(psu, Unit Salinitas Praktis): rasio konduktivitas sampel air laut terhadap
larutan KCL standar.[3][4] Rasio tidak memiliki unit, sehingga tidak bisa
dinyatakan bahwa 35 psu sama dengan 35 gram garam per liter larutan. [5]

Salinitas didefinisikan sebagai jumlah garam dalam gram yang


terkandung dalam satu kilogram air laut dimana iodin dan bromin
digantikan nilainya oleh klorin, semua karbonat diubah menjadi oksida dan
semua bahan organik teroksidasi dengan sempurna (Pickard, 1983).
Salinitas akan mempengaruhi densitas, kelarutan gas, tekanan osmotik dan
ionik air. Semakin tinggi salinitas, maka tekanan osmotik air akan semakin
tinggi pula. Salinitas merupakan parameter kimia yang penting di laut dan
menjadi faktor pembatas karena hampir semua organisme di laut hanya
dapat hidup pada daerah yang perubahan salinitasnya sangat kecil,
walaupun ada organisme laut yang mampu bertolerasi terhadap perubahan
salinitas yang tinggi. Salinitas di perairan samudera berkisar antara 34 o/oo
sampai 35 o/oo (Nontji,1987). Di perairan Indonesia yang termasuk iklim
tropis, salinitas meningkat dari arah barat ke timur dengan kisaran antara
30-35 o/oo. Air samudera yang memiliki salinitas lebih dari 34 o/oo ditemukan
di Laut Banda dan Laut Arafuru yang diduga berasal dari Samudera Pasifik
(Wyrtki,1961).

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

9|P a ge
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

Pola distribusi vertikal menurut Ross (1970) dalam Rosmawati


(2004), sebaran menegak salinitas dibagi menjadi 3 lapisan yaitu lapisan
tercampur dengan ketebalan antara 50-100 m dimana salinitas hampir
homogen , lapisan haloklin yaitu lapisan dengan perubahan sangat
besar dengan bertambahnya kedalaman 600-1000 m dimana lapisan
tersebut dengan tegas memberikan nilai salinitas minimum. Adapun
sebaran horizontal salinitas di lautan diketahui bahwa semakin ke arah
lintang tinggi maka salinitas akan semakin tinggi. Dengan kata lain salinitas
lautan tropis lebih rendah dibanding dengan salinitas di lautan
subtropis. Dalam pola distribusi secara horizontal, daerah yang memiliki
salinitas tertinggi berada pada daerah lintang 30oLU dan 30oLS, kemudian
menurun ke arah lintang tinggi dan daerah khatulistiwa. hal tersebut dapat
dijelaskan sebagai berikut:
1. Presipitasi di daerah tropis jauh lebih tinggi, sehingga terjadi pengenceran
oleh air hujan.
2. Semakin bertambahnya lintang, maka suhu akan semakin turun akibat
perbedaan penyinaran sinar matahari. Ketika terjadi pendinginan hingga
membentuk es, maka serta merta es itu akan melepaskan partikel garam (es
akan tetap tawar). Sehingga akumulasi senyawa garam akan banyak
terbentuk di lintang tinggi.
Selain perbedaan lintang, salinitas suatu wilayah perairan bergantung pada
topografi daerah tersebut. Hal tersebut terkait dengan ada tidaknya limpasan
air tawar yang berasal dari sungai menuju muara. Akibatnya adanya
limpasan (run off) maka akan terjadi pengadukan yang berdampak pada
pengenceran
Sebaran salinitas dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti pola
sirkulasi air, penguapan (evaporasi), curah hujan (presipitasi) dan aliran
sungai (run off) yang ada di sekitarnya (Nontji, 1987). Salinitas di perairan
samudera dapat berubah menjadi rendah dari kisaran jika ada masukan air
tawar yang cukup banyak dari sungai–sungai yang besar atau bahkan dapat
mencapai nilai yang lebih tinggi bila tidak ada masukan air tawar dari
daratan dan penguapan di permukaan sangat tinggi (King, 1963). Perubahan

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

10 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

salinitas di perairan bebas ( laut lepas) relatif kecil dibandingkan perairan


pantai yang memiliki masukan massa air tawar dari sungai (Laevastu and
Hayes, 1981 dalam Harjoko, 1995).

C. TDS
Fakta yang menggambarkan mengenai TDS secara umum antara lain :
a. TDS merupakan patokan jumlah zat yang terlarut dalam air
b. Kader TDS yang diperbolehkan adalah 500mg/l
c. Tidak ada manfaat kesehatan dari air berTDS 0
d. Air yang tidak berasa punya TDS sesuai kadar standar PERMENKES
e. Air dengan TDS yang kurang dari 500mg/l bisa digunakan filter air
Nazava
f. TDS adalah singkatan dari Total Padatan Terlarut, dan mewakili jumlah
kandungan zat yang terlarut dalam air. Satuan biasanya miligram per
liter (mg/l). Zat yang umum yang dapat ditemukan dalam air
termasuk natrium (garam), kalsium, magnesium, kalium, karbonat,
nitrat, bikarbonat, klorida dan sulfat. Dalam jumlah tertentu zat ini
dibutuhkan oleh tubuh manusia.
1. Bagaimana padatan tersebut larut dalam air?
Air tanah mengandung tingkat padatan terlarut yang tinggi, karena
air telah mengalir melalui batuan yang memiliki kandungan mineral yang
tinggi. Zat terlarut juga dapat berasal dari limba khusus di daerah perkotaan.
2. Apa efek TDS yang tinggi terhadap kesehatan
TDS tidak berpengaruh kesehatan selama air masih tawar (bukan
asin) (sumber: WHO) Bahkan zat mineral dalam air dapat dimanfaatkan
oleh tubuh. Oleh karena itu WHO tidak keluarkan saran batas maksimal
kader TDS dalam air. Amerika Serikat, Uni Eropa dan Kanada menilai TDS
sebagai standar sekunder, atau yang kurang penting bagi kualitas air minum.
TDS dianggap TDS sebagai faktor estetis (rasa) saja.

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

11 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

3. Apa masalah dengan TDS yang terlalu rendah


Air dengan TDS 0 mempunyai kadar mineral yang mendekati nol.
Sedangkan tubuh kita sangat membutuhkan mineral yang terdapat dalam
air. Air yang tidak mengandung kadar mineral, berarti air tersebut tidak
alami sehingga badan kita akan sulit untuk menyerap air tersebut. Menurut
organisasi kesehatan dunia (WHO), dengan meminum air tanpa mineral
(seperti air yang diolah oleh RO (Reverse Osmosis)) bisa mengakibatkan
beberapa hal ini pada tubuh manusia yang mengkonsumsinya, diantaranya:

 Kekurangan kadar kalium dalam badan, dimana tanpa kalium saraf


tidak berfungsi.
 Kekurangan zat kalsium (Ca), akan menyebabkan gejala sebagai
berikut : banyak keringat, gelisah, sesak napas, menurunnya daya
tahan tubuh, kurang nafsu makan, sembelit, Susah buang air,
insomnia (susah tidur), kram, dan sebagainya.
 Kekurangan kadar Magnesium (Mg), dimana kekurangan
magnesium dapat memicu: kekakuan atau kejang pada salah satu
pembuluh koroner arteri, sehingga mengganggu peredaran darah
dan dapat menyebabkan serangan jantung.
 Sering buang air kecil dan dalam jumlah yang banyak karena badan
kita tidak bisa menyerap air yang tidak mengandung mineral.
 Kurangnya kemampuan tubuh memproduksi darah.
 Menurut organisasi kesehatan dunia, sebaiknya air memiliki TDS
di-atas 100.
4. Apa efek TDS terhadap rasa air ?
Dalam sebuah studi oleh World Health Organisation, sebuah
kelompok panel tasters berkesimpulan sebagai berikut mengenai
tingkat lebih baik dari TDS dalam air:

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

12 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

Tingkat TDS (miligram per liter) Penilaian


Kurang dari 300 Bagus sekali
300 - 600 Baik Baik
600 - 900 Bisa diminum
900 - 1.200 Kurang enak
900 - 1.200 Tidak dapat diterima

Sumber: Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)

Namun, banyak orang kurang menyukai rasa air dengan TDS yang
sangat rendah. Peningkatan konsentrasi padatan terlarut juga dapat
memiliki efek teknis.

5. Efek lain dari TDS yang tinggi (lebih dari 500 mg/l)
Padatan terlarut dapat menghasilkan air dengan
kesadahan/kekerasan tinggi, yang meninggalkan endapan pada peralatan
rumah tangga, pipa air dan lain-lain. Sabun dan detergen kurang
menghasilkan busa yang banyak apabila TDS terlalu tinggi. Namun,
walaupun TDS sendiri mungkin hanya faktor estetis (rasa) dan teknis,
konsentrasi tinggi TDS adalah indikator bahwa kontaminan berbahaya,
seperti zat sulfat dan bromida arsenik juga dapat hadir di dalam air. Hal ini
terutama berlaku bila air terkontaminasi dengan limbah dari kegiatan
manusia seperti industri dan perbengkelan. Oleh karena itu WHO
menyarankan untuk menguji air di laboratorium jika TDS lebih dari 1000
mg/l .

6. Standar baku mutu TDS


a. Di Indonesia tingkat maksimum TDS untuk air minum yaitu 500 mg
per liter untuk air minum (PERMENKES 492 19 April 2010
mengenai persyaratan_kualitas_air_minum)
b. Batas kader TDS untuk air Bersih adalah 1000 mg/l (PERMENKES
201990 persyaratan kualitas air bersih).pdf)

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

13 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

c. WHO tidak keluarkan saran untuk TDS. (pertimabangan dari WHO)

7. Sejauh mana TDS bisa dikurangi oleh filter air Nazava ?


TDS sehingga air yang bisa dipakai dalam filter air Nazava untuk
memenuhi Standar Baku Mutu adalah 500mg/l.

8. Bagaimana menurunkan TDS?


a. Reverse Osmosis
TDS bisa diturunkan dari air dengan menggunakan metode Reverse
Osmosis. Reverse osmosis menghilangkan hampir semua terlarut zat,
termasuk mineral berbahaya, dan juga mineral sehat seperti kalsium dan
magnesium.
b. Menggunakan air hujan
Air hujan memiliki TDS yang rendah. Bisa juga yang dilakukan adalah
mencampur air hujan dengan air sumur.

9. Apa Itu TDS (Total Dissolved Solids)Jumlah Padatan Terlarut ?


a. TDS (Total Dissolved Solids) atau ” Padatan Terlarut ” mengacu
pada setiap mineral, garam, logam, kation atau anion yang terlarut
dalam air. Ini mencakup apa pun yang ada dalam air selain molekul
air murni ( H20 ) dan limbah padat. ( Limbah padat adalah partikel
/ zat yang tidak larut dan tidak menetap dalam air, seperti bulir kayu
dll. )
b. Secara umum, total konsentrasi padatan terlarut adalah jumlah
antara ion kation ( bermuatan positif ) dan anion ( bermuatan
negatif ) dalam air.
c. Parts per Million ( ppm ) adalah rasio berat – ke berat dari setiap
ion ke air.
d. TDS Meter didasarkan pada konduktivitas listrik ( EC ) dari air.
H20 murni memiliki hampir nol konduktivitas. Konduktivitas
biasanya sekitar 100 kali total kation atau anion dinyatakan sebagai
setara. TDS dihitung dengan mengkonversi EC dengan faktor 0,5
sampai 1,0 kali EC, tergantung pada tingkatnya. Biasanya, semakin

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

14 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

tinggi tingkat EC, semakin tinggi faktor konversi untuk


menentukan TDS. CATATAN – Meskipun TDS Meter didasarkan
pada konduktivitas, akan tetapi TDS dan konduktivitas bukanlah
hal yang sama.

10. Darimanakah Dissolved Solids itu Berasal?


a. Beberapa padatan terlarut ( Dissolved Solids) berasal dari material
organik seperti daun, lumpur, plankton, limbah industri dan
kotoran. Sumber-sumber lain berasal dari limpasan dari daerah
perkotaan, garam jalan yang digunakan di jalan selama musim
dingin, dan pupuk dan pestisida yang digunakan pada rumput dan
peternakan.
b. Selain itu Padatan Terlarut (Dissolved Solids) juga berasal dari
bahan anorganik seperti batu dan udara yang mungkin mengandung
kalsium bikarbonat, nitrogen, fosfor besi, sulfur, dan mineral
lainnya. Sebagian besar dari bahan-bahan ini membentuk garam,
yang merupakan senyawa yang mengandung keduanya yaitu logam
dan non logam. Garam biasanya larut dalam air membentuk ion.
Ion adalah partikel yang memiliki muatan positif atau negatif.
c. Air juga dapat mengambil logam seperti timah atau tembaga saat
mereka melakukan perjalanan melalui pipa yang digunakan untuk
mendistribusikan air kepada konsumen.
d. Perlu diperhatikan bahwa efektivitas sistem pemurnian air dalam
menghilangkan total padatan terlarut / TDS akan berkurang dari
waktu ke waktu, sehingga sangat dianjurkan untuk memantau
kualitas filter atau membran dan menggantinya bila diperlukan.

11. Mengapa Anda Harus Mengukur Tingkat TDS dalam Air Anda ?
EPA Secondary Regulations menyarankan tingkat kontaminasi
maksimum ( MCL ) dari 500mg/liter ( 500 part per million ( ppm ) ) untuk
TDS. Banyak persediaan air melebihi tingkat ini. Ketika tingkat TDS
melebihi 1000mg / L itu umumnya dianggap tidak layak untuk dikonsumsi
manusia. Tingkat TDS yang tinggi merupakan indikator potensi masalah

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

15 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

yang mengkhawatirkan, dan peringatan untuk penyelidikan lebih lanjut.


Paling sering, tingginya tingkat TDS disebabkan oleh adanya kalium,
klorida dan natrium. Ion-ion ini memiliki efek jangka pendek sedikit atau
tidak ada, tetapi ion beracun ( yang membawa arsenik, kadmium, nitrat dan
lain-lain ) juga dapat dilarutkan dalam air.

Bahkan sistem pemurnian air yang paling bagus di pasaran juga


memerlukan pemantauan untuk TDS untuk memastikan filter dan / atau
membran masih berfungsi secara efektif dalam menghilangkan partikel
yang tidak diinginkan dan bakteri dari air Anda .

12. Berikut ini adalah Tabel Standar Nilai TDS.

D. Perbedaan BOD, COD dan DO


COD, singkatan dari Chemical Oxygen Demand, atau kebutuhan
oksigen kimia untuk reaksi oksidasi terhadap bahan buangan di dalam air.
BOD singkatan dari Biological Oxygen Demand, atau kebutuhan
oksigen biologis untuk memecah bahan buangan di dalam air oleh
mikroorganisme. Melalui kedua cara tersebut dapat ditentukan tingkat
pencemaran air lingkungan. Perbedaan dari kedua cara uji oksigen yang
terlarut di dalam air tersebut secara garis besar adalah
sebagaiberikutini. Chemical oxygen demand adalah kapasitas air untuk
menggunakan oksigen selama peruraian senyawa organik terlarut dan
mengoksidasi senyawa anorganik seperti amonia dan nitrit. Biological
(biochemical) oxygen demand adalah kuantitas oksigen yang diperlukan
oleh mikroorganisme aerob dalam menguraikan senyawa organik terlarut.
Jika BOD tinggi maka dissolved oxygen (DO) menurun karena oksigen
yang terlarut tersebut digunakan oleh bakteri, akibatnya ikan dan organisme

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

16 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

air kekurangan DO. Hubungan keduanya adalah sama-sama untuk


menentukan kualitas air, tapi BOD lebih cenderung ke arah cemaran
organik.
DO atau dissolve oxygen ialah kadar oksigen yang terlarut dalam
air. semakin tinggi DO maka air tersebut akan semakin baik. pada suhu
20C. tingkat DO maksimal ialah 9ppm. ppm ialah satuan untuk
menunjukkan kadar atau satuan. ppm ialah singkatan dari part per million
atau sama dengan mg/L.
BOD atau biological oxygen demand ialah tingkat permintaan
oksigen oleh makhluk hidup dalam air tersebut. jadi semakin tinggi nilainya
maka semakin banyak mikrobanya dan membuat nilai DO turun. Semakin
tinggi nilai BOD maka akan semakin rendah kualitas air.
COD atau chemical oxygen demand mirip seperti BOD. Bedanya disini
ialah tingkat kebutuhan senyawa kimia terhadap oksigen. Bisa jadi dipakai
untuk mengurai dan sebagainya. Nilai COD juga berbanding terbalik
dengan DO.

IV. PROSEDUR KERJA


a. Menentukan nilai pH, tegangan, TDS, NaCl, resistensi. % DO dengan
menggunakan alat Water Proof Cyberscan
b. Mengukur kekeruhan dengan Turbidimeter
c. Melakukan kalibrasi pada kedua alat yang hendak dipakai
d. Mengukur nilai COD dengan cara sebagai berikut :
1. Membuat larutan KMnO4 0,05 M
2. Membuat larutan Asam Sulfat 0,1 N
3. Memipet 100 ml sampel air limbah
4. Menambahkan 10 ml larutan KMnO4 0,05 M
5. Menambahkan Asam Sulfat sebanyak 5 ml
6. Memanaskan larutan tersebut sampai mendidih, kemudian
menambahkan 10 ml Asam Oksalat 0,1 N
7. Mentitrasi larutan dengan KMnO4 hingga merah muda

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

17 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

VI. DATA PENGAMATAN


Hasil percobaan manual
Air Limbah Air Limbah Air Limbah
No Parameter
Cucian Genangan Selokan
1 Suhu 28 ˚C 28 ˚C 29 ˚C
2 pH 6 8 7
3 Kekeruhan 26,0 NTU 21,1 NTU 9,27 NTU
Hasil percobaan dengan menggunakan Cyberscan Waterproof
Catatan :
Air Limbah Air Limbah Air Limbah
No Parameter
Cucian Genangan Selokan
1 TDS 32,97 ppm 127,2 ppm 186,7 ppm
2 Konduktivitas 32,95 μs 127,3 μs 74,78 μs
0,7 % 0,8 % 0,7 %
3 DO
0,05 mg/L 0,05 mg/L 0,05 mg/L
4 pH 7,04 7,16 7,03
5 Tegangan 15,4 mV 8,0 mV 16,2 mV
6 NACL 327,1 ppm 133,4 ppm 763,5 ppm
7 Resistensi 151,4 Ώ 393,5 Ώ 668,5 Ώ
8 Warna Bening Keruh Keruh
Suhu :
1. Air limbah cucian = 28,8 ˚C
2. Air limbah genangan = 28,8 ˚C
3. Air limbah selokan = 28,9 ˚C

VII. ANALISA PERCOBAAN


Pada praktikum ini kami menganalisa kualitas air dengan
menggunakan alat waterproof cyberscan PCD 650.Parameter dari kualitas
air yang diuji terhadap sample ada nilai suhu, pH, Conductivity, TDS, %
DO, Konsentrasi DO , warna, resistensi, tegangan dan NaCl.
Larutan yang dianalisa pada praktikum ini ialah air limbah cucian,
air limbah genangan dan air limbah selokan

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

18 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

Berdasarkan hasil yang didapat dapat kita ketahui sample yang


mengandung zat terlarut atau mineral terlarut tertinggi yaitu pada air limbah
genangan memiliki nilai TDS ( total disolve solvent) 127,2. Karena TDS
merupakan parameter dalam mengukur kualitas air berdasarkan banyaknya
zat terlarut atau banyaknya mineral yang terkandung dalam suatu air.
Sedangkan sample air yang dapat menghantarkan listrik adalah air
genangan ,karena memiliki conductivity 127,3 ,karena conductivity
merupakan parameter dalam menentukan kualitas air berdasarkan sifat yang
dapat menghantarkan arus listrik. Akan tetapi sample air lombah genangan
dikatakan bukan merupakan air yang baik karena memiliki conductivity
yang tinggi dari conductivity sample lainnya.Sedangkan air yang baik
adalah air yang memiliki nilai conductivity yang rendah.

VIII. KESIMPULAN
Dari praktikum kali ini didapatlah bahwa :
1. Limbah domestik terdiri dari pembuangan air kotoran dari organik
2. Parameter yang digunakan meliputi :
 Fisika yaitu bentuk, warna dan bau dan kekeruhan
 Kimia yaitu pH, konduktivitas, TDS dan DO
 Biologi yaitu mikroba yang terkadungg didalamnya seperti
patogen dan BOD
3. Hasil pengamatan yang diperoleh dari 3 sampel
 Suhu (rata-rata) = 28,8 ˚C
 pH (rata-rata) = 7,07
 Tegangan (rata-rata) = 13,2 mV
 NaCl (rata-rata) = 408 ppm
 Resistensi (rata-rata) = 404,46 Ώ
 % DO (rata-rata) = 0.73 %
 DO (rata-rata) = 0,05 mg
/L
 TDS (rata-rata) = 78,31 ppm
 Konduktivitas (rata-rata) =73,34 μs

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

19 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

PENENTUAN KONDISI PENGENDAPAN OPTIMUM


DARI KOAGULASI –FLOKULASI

I. TUJUAN
 Menentukan kondisi optimum pengendapan dari koagulasi dan
flokulasi dengan metode jar test
 Mendapatkan dosis optimum dari koagulan

II. ALAT DAN BAHAN


Alat yang digunakan
 Jar test kit
 Gelas ukur 1 liter
 pH meter
 Turbidimeter
 Stopwatch
 Labu ukur
 Pipet ukur 10 mL
 Bola karet
 Gelas kimia 1 liter

Bahan yang digunakan

 Tawas
 Aquadest
 Sampel air

III. DASAR TEORI


Koagulasi adalah proses penggumpalan partikel koloid karena
penambahan bahan kimia sehingga partikel-partikel tersebut bersifat netral
dan membentuk endapan karena adanya gaya grafitasi. Koagulasi juga
merupakan penambahan koagulan dapat menetralkan muartan dan
meruntukannya yang berada disekitar koloid sehingga dapat menggumpal.
Sedamgkan koagulan adalah zat kimia yang menyebabkan destabilisasi
muatan negatif partkel didalam suspensi. Zat ini merupakan donor muatan
positif yang digunakan untuk mendestabilisasi muatan negatif partikel.
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses koagulasi sebagai berikut :

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

20 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

a. Suhu air
b. Derajat keasaman (pH)
c. Jenis koagulan
d. Kadar ion terlarut
e. Tingkat kekeruhan
f. Dosis koagulan
g. Kecepatan pengadukan
h. Alkalinitas
Flokulasi adalah proses pengadukan lambat agar campuran koagulan
dan air bakuyang telah merata membentuk gumpalan atau flok dan dapat
mengendap dengan cepat. Tujuan utama flokulasi adalah membawa partikel
kedalam hubunga sehingga partikel-partikel tersebut saling bertabrakan,
kemudian melekat, dan tumbuh menjadi ukuran yang siap turun mengendap.
Pengadukan lambat sangat diperlukan untuk membawa flok dan
menyimpannya pada bak flokulasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi
flokulasi :
Untuk mencapai kondisi flokulasi yang dibutuhkan, ada beberapa faktor
yang harus diperhatikan, seperti misalnya :
1. Waktu flokulasi
2. Jumlah energi yang diberikan
3. Jumlah koagulan
4. Jenis dan jumlah koagulan/flokulan pembantu
5. Cara pemakaian koagulan/flokulan pembantu
6. Resirkulasi sebagai lumpur (jika memungkinkan)
7. Penetapan pH pada proses koagulasi

Reaksi kimia untuk menghasilkan flok adalah :


Al2(SO4)3.14H2O+3Ca(HCO3)2 2 Al(OH)3+3CaSO4+14H2O+6CO2

Pada air yang mempunyai alkalinitas tidak cukup untuk bereaksi


dengan alum, maka perlu ditambahkan alkalinitas dengan menambahkan
kalsium-hidroksida.
Al2(SO4)3.14H2O+3Ca(OH)2 2 Al(OH)3+3CaSO4+14H2O

Derajat pH yang optimum untuk alum berkisar 4,5 hingga 8, karena


alumunium hidroksida relatif tidak terlarut.
Jar test adalah suatu percobaan skala laboratorium untuk
menentukan kondisi operasi optimum pada proses pengolahan air dan air
limbah. Metode ini dapat menentukan nilai pH, variasi dalam penambahan

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

21 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

dosis koagulan atau jenis polimer, pada skala laboratorium untuk


memprediksi kebutuhan pengolahan air sebenarnya.

DASAR TEORI TAMBAHAN


Koagulan yang paling banyak digunakan dalam praktek dilapangan
adalah alumunium sulfat Al2(SO4)3 karena mudah diperoleh dan harga
relatif murah. Agar pencampuran koagulan berlangsung efektif dibutuhkan
derajat pengadukan >500 /s, nilai ini disebut dengan gradien kecepatan (G)
untuk mencapai derajat pengadukan yang menandai berbagai cara
pengadukan dilakukan, diantaranya :
1. Pengadukan Mekanis
Dilakukan menggunakan turbin impeller, propeller ata paddle impller.
2. Pengadukan Pneumatis
Menggunakan penginjeksian udara dengan kompresor pada bagian
bawah bak koagulasi. Gradien kecepatan diperoleh dengan pengaturan
flowrate udara yang diinjeksikan.
3. Pengadukan Hidrolisis
Menggunakan sistem hidrolisis dengan berbagai cara yakni terjunan air
aliran air dalam pipa dan aliran dalam saluran. Nilai gradien dihitung
berdasarkan persamaan sebelumnya. Besar headlass masing-masing tipe
pengadukan hidrolisis berbeda-beda tergantung pada sistem hidrolisis
yang dipakai.

FLOKULASI
Proses bertujuan untuk mepercepat proses penghambatan flok-
flokm yang telah distabilkan selanjutnya saling bertumbukan serta
melakukan proses tarik menarik dan membentk flok yang ukurannya makin
lama makin besar serta mudah mengendap. Gradien kecepatan merupak
faktor penting dala bak flokulasi. Jika nilai gradien nilai gradien terlalu
besar maka gaya geser yang timbul akan mencegah pembentukan flok. Jika
nilai gradien renah/tidak memadai maka penggabungan antar partikulat
tidak akan terjadi dan flok besar serta mudah mengendap akan sulit
dihasilkan. Dianjurkan untuk nilai gradien kecepatan proses flokulasi
berkisar 90/detik hingga 30/detik. Untuk mendapatkan flok yang besar dan
mudah menguap maka bak flokulasi flok, kompartemen kedua terjadi proses
penggabungan flok, kompartemen ketiga terjadi pemadatan flok.
Pengadukan pada proses flokulasi dapat dilakukan dengan metode
yang sama dengan pengadukan cepat proses koagulasi, perbedaan terletak
pada nilai gradien.
Kekeruhan adalah salah satu parameter flok dalam persyaratan
kualitas air minum, partikel dan koloid itu antara lain zat organik, protein,
kwarti, tanah liat dan lain-lain.
Koloid memiliki muatan listrik dipermukaannya yang
mengakibatkan kestabilannya dalam air. Untuk mendestabilisasi muatan

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

22 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

koloid digunakan koagulan, seperti senyawa garam besi atau garam


alumunium sulfat. Destabilisasi koloid menggunakan koagulan dilakukan
dengan pengadukan lambat koloid tidak stabil tersebut akan bertumbukan
dan menyatu membentuk flok-flok yang lebih besar, karena gaya gravitasi,
maka flok yang besar akan lebih cepat mengendap.

IV. PROSEDUR KERJA


1. Menyiapkan gelas kimia 1 liter sebanyak 4 buah.
2. Menyiapakan contoh air dan mengatur pH kekeruhan.
3. Kemudian mengisi air sebanyak 400 mL kedalam masing-masing gelas
kimia. Jika pH awal todak netral, maka pH diatur kisaraan 6-8,
kemudian ditaruh dibawah alat jar test.
4. Selanjutnya ditambahkan 1% secara bertingkat mulai 10 mL, 25 mL,
50 mL, 75mL kedalam masing-masing gelas kimia.
5. Lalu diaduk dengan kecepatan 120 rpm selamat 1 menit. Dan dilakukan
dengan pengadukan dengan kecepatan 45 rpm selama 10 menit.
6. Setelah itu, larutan dibiarkan beberapa menit agar flok-flok mengendap.
7. Kemudian mengamati bentuk flok yang terjadi, waktu pengendapan
dan volume flok yang terbebntuk.
8. Setelah itu mengukur dan mencatat pH, kekeruhan dan warna dari
supernatan yang ada.

V. DATA PENGAMATAN
a. Sampel Air
Parameter Jumlah
pH 6
Turbidity 782 NTU
Warna Coklat muda
Volume 400 mL
Suhu 28˚C

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

23 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

b. Air Olahan
no mL PH Kelarutan Waktu Volume flok
Tawas 1% NTU Pengendapan (cm2)
(menit)
1 10 5 29,5 13 43,6
2 20 5 19,1 10 53,1
3 30 4 9,85 6 53,1
4 40 4 14,5 8 56

VI. PERHITUNGAN
Pembuatan larutan tawas Al2(SO4)3 dengan kinsentrasi 1% dari 100 mL
1
Gram = 100 x 100
= 1 gram

Jadi massa yang dibutuhkan sebesar 1 gram dalam 100 mL

VII. TUGAS
1. Tentukan dosis optimum dari koagulan yang digunakan !
Jawab : pada dosis optimum dari koagulan yang digunakan 40 mL
tawas dalam 400 mL sampel air.
2. Uraikan mengenai proses koagulasi !
Jawab :
Secara Fisika
a. Pemanasan : kenaikan suhu sistem koloid menyebabkan
tumbukkan anatr partikel sol dengan molekul air betambah
banyak
b. Pengadukan : contoh : tepung kanji
c. Pendinginan : contoh : agar-agar

Secara Kimia

a. Menggunkan prinsip elektroforensi 1 prinsip gerakan partikel


koloid yang bermuatan ke elektrode dengan muatan yang
berlawan
b. Penambahan koloid, koloid yang bermuatan negatif akan
menarik ion positif sedangkan koloid yang bermjatan positif
akan menarik ion negatif
c.

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

24 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

3. Uraikan mengenai proses flokulasi !


Jawab :
Proses flokulasi terdiri dari 3 langkah :
a. Pelarut reagen (koagulan) melalui pengadukan cepat (1 menit, 100
rpm ). Pemberian koagulan dapat menyebabkan pH larutan
menjadi rendah, sedangkan proses flokulasi memerlukan ph 6-8.
b. Pengadukan lambat (15 menit, 20 rpm) untuk pembentukan flok-
flok pengadukan yang terlalu cepat dapat merusak flok yang
terbentuk
c. Penghapusan flok-flok dengankoloid yang berkurang dari larutan
melalui sedimentasi
4. Uraikan jenis-jenis pengolahan air secara fisik !
Jawab :
a. Sendimentasi, proses pemisahan partikel yang tersuspensi di air,
partikel yang tersuspensi diair memilii massa jenis yang lebih besar
dari air.
b. Screening, merupakn pemisahan material berukuran besar seperti
kertas
c. Pemisahan igrinding, digunakan untuk memecahkan padatan yang
tertahan pada semen dan padatan ini dapat dikembalikan kedalam
aliran air limbah atau dibuang
d. Filtrasi, untuk pemisahan partikel (padatan) pada efifiuen
(pengeluaran) air secara kimia maupun biologi
e. Adsorpsi, proses pemisahan atom, ion, biomolekul atau molekul
dalam gas atau cairan dari padatn terlarut dengan menggunkan
media padatan berdasarkan gaya tarik yang terjadi antara adsorbat
dan adsorben.

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

25 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

5. Buat grafik dari data yang diproleh % tawa Vs kekeruhan, % tawas vs


pH, % tawas vs waktu pengamatan, % tawas vs vol endapan

Grafik volume koagulan terhdap


pH
6

3
Series 1
2

0
10 20 30 40

Grafik pengaruh volme koagulan


terhadap kekeruhan
35

30

25

20

15 Series 1

10

0
10 20 30 40

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

26 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

Grafik pengaruh volume koagulan


terhadap waktu pengendapan
14

12

10

6 Series 1

0
10 20 30 40

Grafik pengaruh volume koagulan


terhadap volume pengendapan
60

50

40

30
Series 1
20

10

0
10 20 30 40

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

27 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

VIII. ANALISA PERCOBAAN


Pada percobaan penentuan kondisi pengendapan optimum dari
koagulasi dan flokulasi. Pecobaan ini bertujuan untuk menentukan kondisi
optimum pengendapan dari koagulan dengan menggunakan metode jar test.
Koagulasi merupakan proses penggumpalan partikel koloid yang terjadi
karena penambahan bahan kimia (koagulan) sehingga partikel-partikel
bersifat netral dan dapat membentuk endapan dikarenakan adanya gaya
gravitasi. Sedangkan untuk membentuk endapan tersebut dilakukan
pengadukan yang lambat agar campuran koagulan dan air beku dapat
membentuk gumpalan/flok.
Sampel digunakan pada praktikum ini adalah air yang dicampurkan
dengan tanah kemdudian menggunakan tawas 1% kedalam masing-masing
gelas kimia dengan volume sampel masing-masing 400 mL. Sebelum
melakukan proses koagulasi dan flokulasi melakukan uji kekeruhan
menggunakan turbidity neter, uji pH dan suhu.
Pada proses koagulasi dengan flokulasi menggunakan jar test
dengan empat agitator. Agotator pertamam merupakan jenis agitatir paddle
berukuran besar sedangjan agitator kedua jenis paddle berukuran lebih
kecil. Dan agitator ketiga jenis baling-baling (pro[eller) dan agitator kempat
jenis turbin.
Pada proses koagulasi dengan kecepatan pada jar test 138 dan 133
rpm. Lalu pada flokulasi dengan kecepatan 90 dan 91 rpm. Pada grafik
volume koagulan terhadapp pH didapatkan bahwa pH bersifat asam yaitu
dibawah 7. Sedangkan grafik volume koagulan terhadap kekeruhan yang
memiliki kekeruhan paling tinggi gelas pertama dengan 10 mL tawas dan
bentuk agitator paddle besar. Dan kekeruhan palimg rendah pada gelas
ketiga dengan 30 mL tawas dan agitator propeller. Hal ini juga dipengaruhi
oleh mL tawas dan bentuk agitator. Dan grafik volume koagulan terhadap
waktu pengendapan hampir sama dengan grafik kekeruhan kerena saling
berhubungan. Untuk gelas ketiga yang paling jernih mempunyai waktu
pengendapan yang paling cepat. Dan grafik volume pengendapan, gelas
keempat memiliki volume pengendapan yang jauh lebih tingi karena
penambahan tawas banyak.

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

28 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

IX. KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan yaitu :

I. Pencapaian titik optimum koagulan dan flokulasi dari percobaan adalah


pada gelas ketiga dengan penambahan 30 mL tawas dlama 400 mL
sampel air dengan agitator baling-baling. Sampel ketiga memiliki
tingkat kekeruhan 9,85 NTU dan waktu pengendapan 6 menit.
II. Metode yang digunakan pada percobaan penentuan kondisi
pengendapan optimum dari koagulan-flokulasi adalah metode jar test
III. Waktu pengendapan flok :
 Gelas kimia 1, 10 mL tawas : 13 menit
 Gelas kimia 2, 20 mL tawas : 20 menit
 Gelas kimia 3, 30 mL tawas : 6 menit
 Gelas kimia 4, 40 mL tawas : 8 menit
IV. Kekeruhan pada
 Gelas kimia 1, 10 mL tawas : 29.5 NTU
 Gelas kimia 2, 40 mL tawas : 19.1 NTU
 Gelas kimia 3, 30 mL tawas : 9.85 NTU
 Gelas kimia 4, 40 mL tawas : 14.5 NTU

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

29 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

PENGOLAHAN LIMBAH CAIR DENGAN


MENGGUNAKAN ION EXCHANGE

I. TUJUAN PERCOBAAN
- Menghasilkan produk berupa air yang bebas ion-ion pengotor
- Membandingkan kualitas air sebelum dan sesudah
dikontakkan kedalam kolom Ion Exchnager
II. ALAT DAN BAHAN
2.1 Alat yang digunakan :
- Seperangkat alat unit ion exchanger
- Gelas kimia 250 ml
- Pipet ukur 10 ml
- Bola Karet
- Erlenmeyer 250 ml
- Spatula
- Kaca Arloji
- Batang Pengaduk
- Neraca Analitik
- Buret 50 ml
2.2 Bahan yang digunakan:
- Larutan NaCl 300 ppm
- Larutan AgNO3
- Larutan indikator kalium dikromat
-
III. DASAR TEORI
Penukar ion (ion exchanger)
Dalam kolom resin penukar kation terjadi reaksi pertukaran kation
pengotor air dengan H+ dari resin penukar ion terjadi pertukaran kation
pengotor air dengan ion OH - dari resin penukar anion. Pertukaran
kation pengotor air dengan OH - dari resin penukar anion.

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

30 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

Resin Penukar Ion


Resin penukar ion adalah senyawa hidrokarbon
terpolimerisasi sampai tingkat yang tinggi yang mengandung ikatan-
ikatan hubungan silang(cross linking) serta gugusan yang
mengandung ion-ion yang dipertukarkan berdasarkan gugusan
fungsionalnya, resin penukar ion terbagi menjadi dua, yaitu resin
penukar kation dan resin penukar anion. Resin penukar kation,
mengandung kation yang dapat dipertukarkan sedangkan resin
penukar anion mengandung anion yang dapat dipertukarkan.
Sifat-sifat penting resin penukar ion adalah sebagai berikut:
(Hartono,1995)
a. Kapasitas penukar resin
b. Selektivitas
c. Dearajat ikat silang (crosslinking)
d. Porositas
e. Kestabilan Resin

Aplikasi Penukar Ion (ion exchanger)


Dengan memahami prinsip dasar reaksi pertukaran ion dan
sifat-sifat resin, maka dengan mudah dapat dipahami berbagai
aplikasi resin penukar ion dalam industry diantaranya adalah :
1. Pelunakan Air (water softening)
Banyak air tanah yang dipakai dalam industry
mengandung unsure-unsur kalsium (Ca), dan magnesium
(Ma), terutama air tanah yang diambil di daerah-daerah
bergunung kapur. Unsure-unsur tersebut berada dalam
senyawa hidrokarbonat yang larut dalam air, sehingga
terlihat tetap jernih.
Air tersebut yang disebut air sadah mempunyai
banyak kerugian diantaranya :
a. Sebagai air minum mungkin akan menyebabkan
kecenderungan terbentuknya batu kandung kemih

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

31 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

b. Sebagai pencuci, air tersebut akan mengurangi daya cuci


sabun
c. Sebagai air minum umpan boiler akan menyebabkan
timbulnya

kerak CaCO3 atau MgCO3 yang menghambat hantaran


panas.
Oleh karena itu ion Ca2+ dan Mg2+ harus diambil dan salah
satu cara adalah resin penukar ion dalam bentuk R-Na :
2 R-Na + Ca2+ R2Ca + 2 Na2+

2 R-Na + Mg2+ R2Mg + 2 Na2+

2. Demineralisasi Air (water demenaralizer)


Air didalam banyak mengandung ion-ion baik kation
maupun anion. Air tersebut dapat diperoleh dengan
menggunakan resin penukar ion, kation – kation seperti Na+
, K+ , Ca+ , Mg+ , Fe+ dan sebagainya dapat diambil ileh resin
dalam bentuk R-H dengan reaksi :
R–H+K+ R–K+H
Diamna K+ adalah kation. Sedangkan anion – anion
seperti Cl- , NO3-, SO43- dapat diserap oleh resin penukar
anion dalam bentuk R
OH dengan reaksi :

R–OH+A- R–A+OH-

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

32 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

Dimana A- adalah anion. dan OH- dari reaksi akan


menjadi :

H+ + OH- H2O
Dengan demikian air akan keluar ion – ion atau disebut
bebas mineral. Oleh karena itu prosesnya disebut
demineralisasi atau biasanya disebut dengan aqua DM.
apabila resin telah jenuh, maka prosesx regenerasi dapat
dilakukan dengan mengalirkan asam 4N
Dalam industry atau lab dan kesehatan, banyak
diperlukan air bebas dari ion-ion tersebut atau ion bebas
mineral.
Dalam pembuatan alat demineral air, dapat 3 model
yaitu :
a. System 2 kolom (double bed)
b. Sistem satu kolom ( mixbed bed)

c. Sistem Kombinasi

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

33 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

3. Detoksifikasi air limbah dan daur ulang


Dengan kemampuan penukar ion seperti diatas, sudah
dapat diduga bahwa resin amat berpotensi dalam pengolahan
air limbah. Kontaminan atau polutan beracun seperti logam-
logam berat.
Dengan demikian proses yang terjadi adalah
pengambilan senyawa berbahaya yang dapat didaur ulang
dan dihasilkan air yang bebas mineral yang dapat digunakan
kembali.

IV. PROSEDUR KERJA


1. Mempersiakan unit ion exchanger
2. Menyiapkan larutan sampel yang akan dihilangkan
kandungan ion-ion atau limbah cair buatan seperti sabun.
3. Mengatur bukaan valve sesuai arah alirannya.
4. Menghidupkan pompa yang digunakan.
5. Mengambil sampel hasil dari pengontakan dengan resin
dengan membuka valve produk kolom ion exchanger untuk
kemudian melakukan analisa.

A. Kation
1. Membuat larutan CaCO3
Menimbang 0,4 gr CaCO3, kemudian melarutkan dalam
1000 ml aquadest.
2. Memipet 50 ml larutan CaCO 3 yang telah dibuat, sisanya
memasukkan ke dalam unit ion exchanger.
3. Memipet 50 ml larutan CaCO 3 yang telah dikontakkan ke
unit ion exchanger kedalam Erlenmeyer.

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

34 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

Standarisasi Larutan CaCO3


1. Menambahkan 5 ml indikator buffer amoniak pada
masing-masing Erlenmeyer.
2. Menambahkan 5 tetes indikator eriocrom.
3. Mentitrasi dengan EDTA hingga berubah warna dari
merah anggur menjadi biru.
4. Mencatat volume titrasi.

Penentuan Kesadahan
1. Memipet 50 ml aquadest ( sebagai sampel) ke dalam
Erlenmeyer.
2. Memipet 50 ml aquadest yang sebelumnya telah
dikontakkan pada ion exchanger, ke dalam Erlenmeyer
yang berbeda.
3. Menambahkan 1 ml indikator buffer amoniak pada
masing-masing Erlenmeyer.
4. Menambahkan 5 tetes indikator eriocrom.
5. Mentitrasi dengan EDTA hingga berubah warna dari
merah anggur menjadi biru.
6. Mencatat volume titrasi.
B. Kation
Standarisasi Larutan Baku HCl dengan NaCl
1. Membuat larutan 0,1 M HCl dengan volume 500 ml.
2. Menimbang dengan teliti 2,5 gr NaCl, melarutkan dengan
aquadest sampai 500 ml.
3. Menyiapkan 2 buah Erlenmeyer.
4. Menambahkan masing-masing 26 ml NaCl sebelum dan
yang sesudah dikontakkan dengan ion exchanger dalam
Erlenmeyer.
5. Menambahkan 2 tetes indikator metil merah, kemudian
mentitrasi dengan HCl.
6. Mencatat volume titrasi.

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

35 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

V. DATA PENGAMATAN

Sebelum
Sampel Turbidity Volume Volume
pH
(NTU) Titrasi 1 Titrasi 2
Anion
0,77 6 4,5 ml 4,3 ml
(NaCl)
Kation
40 6 50 ml 49,8 ml
( CaCo3)

Sesudah
Sampel Turbidity pH Volume Volume
(NTU) Titrasi 1 Titrasi 2
Anion
0,31 6 3,7 ml 3,2 ml
(NaCl)
Kation
6,77 6 42 ml 44 ml
( CaCo3)

Volume Volume Titran (ml) Rata-


Sampel
Analit 1 2 Rata Vol.
Anion 50 ml 34,2 34,5 34,35
Kation 50 ml 90,2 90,1 90,15

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

36 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

VI. DATA PERHITUNGAN

ANION
a. Larutan NaCl 500 ppm, 3 L
Gr NaCl = 500 mg/L x 3 L = 1,5 gram

b. Titrasi Sebelum
𝒎 𝑵𝒂𝑪𝒍
= 𝑽 𝑨𝒈𝑵𝒐𝟑 𝒙 𝑵 𝑨𝒈𝑵𝑶𝟑
𝑩𝑬 𝑵𝒂𝑪𝒍
1
𝑥 500
20
= 4,4 𝑚𝑙 𝑥 𝑁 𝐴𝑔𝑁𝑜3
58,5

N AgNO3 = 0,097 N

𝑉 𝐴𝑔𝑁𝑂3 𝑥 𝑁 𝐴𝑔𝑁𝑂3 𝑥 𝐵𝐸 𝐶𝑙
% Cl = 𝑥 100%
𝑀𝑔 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
4,4 𝑚𝑙 𝑥 0,097 𝑁 𝑥 35,5
= 𝑥 100%
500 𝑚𝑔

= 0,03 %
c. Titrasi Sesudah
𝒎 𝑵𝒂𝑪𝒍
= 𝑽 𝑨𝒈𝑵𝒐𝟑 𝒙 𝑵 𝑨𝒈𝑵𝑶𝟑
𝑩𝑬 𝑵𝒂𝑪𝒍
1
𝑥 500
20
= 3,45 𝑚𝑙 𝑥 𝑁 𝐴𝑔𝑁𝑜3
58,5

N AgNO3 = 0,12 N

𝑉 𝐴𝑔𝑁𝑂3 𝑥 𝑁 𝐴𝑔𝑁𝑂3 𝑥 𝐵𝐸 𝐶𝑙
% Cl = 𝑥 100%
𝑀𝑔 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
3,45 𝑚𝑙 𝑥 0,12 𝑁 𝑥 35,5
= 𝑥 100%
500 𝑚𝑔

= 0,029 %

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

37 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

KATION

a. Larutan CaCO3 500 ppm, 3 L


Mg CaCO3 = 500 mg/L x 3 L = 1500 mg = 1,5 gram

b. Titrasi Sebelum
𝒎 𝑪𝒂𝑪𝑶𝟑
= 𝑽 𝑬𝑫𝑻𝑨 𝒙 𝑵 𝑬𝑫𝑻𝑨
𝑩𝑬 𝑪𝒂𝑪𝑶𝟑
1
𝑥 500 𝑚𝑔
20
= 49,9 𝑚𝑙 𝑥 𝑁 𝐸𝐷𝑇𝐴
100,09

N EDTA = 0,005 N

𝑉 𝐸𝐷𝑇𝐴 𝑥 𝑁 𝐸𝐷𝑇𝐴 𝑥 𝐵𝐸 𝐶𝑎
% Cl = 𝑥 100%
𝑀𝑔 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
49,9 𝑚𝑙 𝑥 0,005 𝑁 𝑥 50,045
= 𝑥 100%
500 𝑚𝑔

= 0,025%

c. Titrasi Sesudah
𝒎 𝑪𝒂𝑪𝑶𝟑
= 𝑽 𝑬𝑫𝑻𝑨 𝒙 𝑵 𝑬𝑫𝑻𝑨
𝑩𝑬 𝑪𝒂𝑪𝑶𝟑
1
𝑥 500 𝑚𝑔
20
= 43 𝑚𝑙 𝑥 𝑁 𝐸𝐷𝑇𝐴
100,09

N EDTA = 0,006 N

𝑉 𝐸𝐷𝑇𝐴 𝑥 𝑁 𝐸𝐷𝑇𝐴 𝑥 𝐵𝐸 𝐶𝑎
% Cl = 𝑥 100%
𝑀𝑔 𝑆𝑎𝑚𝑝𝑒𝑙
43 𝑚𝑙 𝑥 0,005 𝑁 𝑥 50,045
= 𝑥 100%
500 𝑚𝑔

= 0,021%

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

38 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

VII. ANALISA PERCOBAN


Pada percobaan dengan menggunakan ion exchanger dapat
dianalisa bahwa prinsip kerja dari alat ini dengan menukar ion-ion
pengotor dengan resin penukar ion. Resin penukar kation,
mengandung kation yang dapat dipertukarkan sedangkan resin
penukar ion mengandung anion yang dapat dipertukarkan.
Pada percobaan pertama, dilakukan dengan memurnikan aquadest
sebagai sampe dan larutan CaCO 3 sebagai larutan baku untuk
dilakukan standarisasi. Dimana, pada percobaan ini
membandingkan sampel ketika dimasukkan kedalam unit ion
exchanger dengan sampel yang tidak dimasukkan kedalam unit ion
exchanger. Dari data yang didapat bisa langsung diketahui bahwa
unit ion exchanger dapat meminimalizir konsentrasi ion kation
dalam sampel dengan resin kation.
Pada percobaan kedua, dilakukan dengan menurunkan
aquadest sebagai sampel dan larutan NaCl sebagai larutan baku.
Sama seperti percobaan sebelumnya, pada percobaan ini juga
membandingkan sampel baik sebelum maupun yang sesudah
dikontakkan dengan resin penukar ion. Dari data dapat diketahui
bahwa resin penukar anion dapat meminimalizir atau mengurangi
kadar anion dalam sampel dengan cara mengikat unsur anion dalam
bentuk R-OH. Pada larutan NaCl kadar anion sebelum dikontakkan
sebesar 0,03% sedangkan setelah dikontakkan sebesar 0,029%.
Pada percobaan pertama, sampel dititrasi dengan EDTA
sedangkan pada percobaan kedua sampel dititrasi dengan HCl.
Indikator yang digunakan dalam percobaan pertama yaitu indikator
eriocrom dan buffer amoniak. Dimana, tujuan dari indikator ini agar
warna larutan berubah dari merah anggur menjadi biru saat dititrasi.
Sedangkan pada percobaan kedua, indikator yang digunakan yaitu
metil merah, sebab saat dilakukan percobaan dengan indikator
fenolftalein dan indikator metil orange, sampel tidak mengalami
perubahan warna saat dititrasi. Pada larutan CaCO3 kadar kation

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

39 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

sebelum dikontakkan sebesar 0,025% sedangkan setelah


dikontakkan sebesar 0,021%.

VIII. KESIMPULAN
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Unit ion exchanger bertujuan untuk menyerap unsur-unsur
anion ataupun kation dengan menggunakan resin penukar ion.
2. Pada percobaan kation didapatkan kadar kation sebesar:
- Sebelum : 0,025 %
- Sesudah : 0,021 %
3. Pada percobaan anion didapatkan kadar anion sebesar :
- Sebelum : 0,03 %
- Sesudah : 0,029 %

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

40 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

PENJERNIHAN MINYAK JELANTAH

I TUJUAN
 Mampu menganalisa awal dan akhir minyak goreng bekas (jelantah)
 Mampu menjernihkan minyak bekas gorengan dengan berbagai
adsorben

II ALAT DAN BAHAN


 Alat yang digunakan
- Kertas saring
- Spatula
- Hot plate
- Gelas kimia 500ml
- Pipet ukur 25 ml
- Kaca arloji
- Termometer
- Magnetic stirer
- erlenmeyer
 Bahan yang digunakan
- Minyak goreng bekas
- Arang / karbon aktif
- KOH
- Asam palmintat
- Tymol blue
- Aquadest
- NaOH

III. DASAR TEORI


Minyak goreng merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia dalam
pengolahan bahan makanan. Setelah digunakan minyak goreng akan
mengalami penurunan sifat yang menyebabkan minyak goreng tersebut tidak

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

41 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

layak lagi digunakan. Agar minyak goreng tersebut dapat dimanfaatkan lagi
maka perlu dilakukan pengolahan sekunder dengan metode adsorbsi.
Praktikum yang dilakukan ini adalah mencoba meningkatkan kualitas
minyak goreng bekas dengan adsorben karbon aktif. Minyak goreng bekas
dipanaskan pada suhu 60℃. Kemudian dicampurkan dengan karbon aktif
dengan berbagai variasi yaitu 2,3,4 gram dan waktu pengadukan selama 30
menit.

Adsorbsi
Salah satu sifat penting dari permukaan zat adsorbsi. Adsorbsi adalah
suatu proses yang terjadi ketike fluida terikat pada suatu padatan dan akhirnya
membentuk suatu film (lapisan tipis) pada permukaan padatan tersebut.
Berbeda dengan adsorbsi dimana fluida terserap oleh fluida lainnya dengan
membentuk suatu larutan.
Definisi lain menyatakan adsorbsi sebagai suatu peristiwa penyerapan
pada lapisan permukaan atau antar fasa. Dimana molekul dan suatu materi
terkumpul pada bahan pengadsorbsi. Adsorbsi dibedakan menjadi dua jenis,
yaitu adsorbsi fisika yang disebabkan oleh gaya van der walls (penyebab
terjadinya kondensasi gas untuk membentuk cairan) yang ada pada
permukaan adsorben, banyaknya zat yang teradsorbsi tergantung pada sifat
khas zat padatnya yang merupakan fungsi tekanan dan suhu.

Faktor yang mempengaruhi adsorbsi :


1. Kecepatan Pengadukan
Berpengaruh pada kecepatan proses adsorbsi dan kualitas bahan yang
dihasilkan, jika pengadukan terlalu lambat maka proses akan berjalan lambat
pula, namun bila pengadukan terlalu cepat, akan ada kemungkinan struktur
adsorben mengalami kerusakan.

2. Luas Permukaan
Semakin luas permukaan adsorben, maka semakin banyak zat yang
teradsorbsi.

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

42 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

3. Temperatur
Naik turunnya tingkat adsorbsi dipengaruhi oleh temperatur. Pemanasan
adsorben akan menyebabkan pori-pori adsorben terluka dan menyebabkan
daya serapnya meningkat. Tetapi pemanasan yang terlalu tinggi juga dapat
membuat struktur adsorben rusak.
4. pH
Tingkat keasaman juga berpengaruh , adsorbat yang bersifat asam atau
asam organik lebih muda teradsorbsi pada pH rendah, sedangkan adsorbat
organik efektif pada pH tinggi.
5. Jenis dan Karakteristik Adsorben
Jenis adsorben yang digunakan umumnya adalah karbon aktif. Karbon
aktif adalah suatu bahan berpori yang merupakan hasil pembakaran bahan
yang mengandung karbon dan dilakukan aktivitas dengan menggunakan gas
CO2, uap air atau bahan-bahan kimia sehingga pori-porinya terbuka dan
dengan demikian daya adsorbsinya lebih tinggi.

Karbon aktif dan pembuatannya


Karbon aktif berbentuk kristal ukuran mikro. Karbon non grafit yang pori-
porinya telahh mengalami pengembangan sehingga kemampuan menyerap
fluida meningkat. Karbon aktif dapat dibuat dari semua bahan yang
mengandung karbon dengan syarat berstruktur berpori. Bahan-bahan tersebut
antara lain; kayu, batu bara, tulang tempurung kelapa, tandan kelapa sawit,
kulit buah, kopi, sekam padi, dll. Pembuatan meliputi proses karbonisasi pada
suhu tinggi dan proses aktivasi yang dapat meningkatkan porositas karbon
aktif.

TEORI TAMBAHAN
Minyak jelantah adalah minyak limbah yang berasal dari jenis-jenis
goreng seperti minyak kelapa sawit,minyak sayur, minyak samin, dsb.
Minyak jelantah merupakan minyak bekas pemakaian kebutuhan rumah
tangga. Dan jika ditinjau dari komposisi kimianya, minyak jelantah
mengandung minyak atau senyawa karsinogenik yang terjadi selama proses
penggorengan. Jadi pemakaian minyak jelantah yang berkelanjutan dapat

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

43 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

meruska kesehatan manusia, menimbulkan penyakit kanker dan akibat


berkelanjutannya dapat mengurangi kesehatan generasi berikutnya.
Asam lemak bebas adalah asam lemak yang berada sebagai asam bebas
terikat sebagai trigeliserida. Asam lemak bebas dihasilkan oleh proses
hidrolisis dan oksidasi dan biasanya bergabung dengan lemak netral. Hasil
reaksi hidrolisis minyak sawit adalah gliserol dan alb. Reaksi ini akan
dipercepat dengan faktor peras air, keasaman dan katalis enzim. Semakin
lama reaksi berlangsung maka semakin banyak kadar alb yang terbentuk.
Berikut berbagai cara penjernihan minyak jelantah :

1. Menggunakan Buah Mengkudu


Satu buah mengkudu besar bisa menjernihkan minyak jelantah hingga
sebanyak asam.

2. Menggunakan Arang Sekam


Arang sekam dicampur kemudian digoreng dengan minyak jelantah
ternyata mampu menjernihkan minyak tersebut. Menunjukkan bahwa
penggunaan arang sekam dapat mendaur ulang minyak jelantah menjadi
minyak baru yang kualitasnya mendekati minyak goreng segar.

3. Menggunakan Arang Kayu


Arang kayu lebih mudah ditemui dan harganya lebih murah. Dalam
prakteknya, arang atau karbon bisa menjadi aktif yang dapat menyerap
berbagai senyawa sehingga sering digunakan sebagai adsorben.

4. Menggunakan Arang Biji Salak


Biji salak bisa digunakan untuk menjernihkan minyak jelantah

5. Menggunkan Ampas Nanas


Ampas nanas memiliki kemampuan menyerap seperti karbon aktif
sehingga dapat menjernihkan minyak jelantah

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

44 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

6. Menggunakan Nasi
Nasi bisa digunakan untuk menjernihkan minyak yang kotor akibat remah-
remah sisa penggorengan yang tertinggal didalam minyak.

IV. PROSEDUR PERCOBAAN

1. Penjernihan Minyak Goreng Bekas Secaar Fisik


a. memasukkan 50 ml sampel minyak ke dalam 3 gelas kimia
b. menambahkan karbon aktif atau bentonit dengan berbagai variasi
ke dalam masing-masing sampel minyak jelantah 50ml yang telah
disiapkan
c. mengaduk sampel diatas hotplate dengan stirer selama kurang lebih
15 menit, pemanas tidak dihidupkan
d. mengendapkan sampel selama 1 jam
e. mengulangi langkah dengan mengganti adsorben berupa bentonit
dengan variasi berat tetap
2. Penjernihan Minyak Goreng Bekas Secara Kimia
a. memasukkan 50 ml minyak goreng ke dalam gelas kimia
b. menambahkan 17 ml alkohol
c. menambahkan 2 ml H2SO4
d. mengaduk sampel diatas hotplate dengan stirer selama kurang
lebih 15 menit, pemanas tidak dihidupkan
e. mengendapkan sampel selama 1 jam
3. Penentuan ALB
a. menempatkan 5ml minyak goreng bekas pada erlenmeyer
b. menambahkan thymol blue sebanyak 2 tetes
c. melakukan titrasi dengan KOH sampai terjadi perubahan warna
menjadi putih kebiru-biruan
d. mengulangi langkah untuk masing-masing sampel

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

45 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

4. Penjernihan Minyak Goreng Bekas Secara Alami


a. memasukkan 100ml minyak ke dalam 4 gelas kimia
b. menghaluskan kulit pisang dan kulit nanas
c. menambahkan 50gr kulit pisang ke dalam 2 gelas kimia yang
telah berisi minyak jelantah 100ml
d. menambahkan 50 gr kulitnanas ke dalam 2 gelas kimia yang
telah berisi minyak jelantah 100ml
e. mengaduk sampel diatas hot plate selama 30 menit untuk yang
pemanasan
f. menyaring minyak dan menimbang hasil yang didapatkan
g. mengendapkan sampel selama kurang lebih 1 jam

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

46 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

V. TUGAS

1. Apa yang dimaksud dengan ALB dan angka penyabunan?


Jawab:
- ALB (Asam Lemak Bebas) adalah asam lemak yang berada sebagai
asam bebas tidak terikat sebagai trigliserida atau asam yang
dibebaskan pada proses hidrolisis lemak oleh enzim
- Angka penyabunan adalah jumlah miligram KOH yang diperlukan
untuk meyabunkan 1 gr lemak atau minyak

2. Apa yang membuat minyak jelantah berbau tengik?


Jawab :
- Lepasnya komponen ALB pada minyak akibat proses lipolysis
- Adanya proses oksidasi lemak pada minyak melalui pembentukan
radikal bebas

3. Jelaskan proses adsorbsi dengan menggunakan adsorber?


Jawab :
Molekul teradsorbsi ditahan pada permukaan oleh gaya valensi yang
tipenya sama dengan yang terjadi antara atom-atom dalam molekul. Karena
adanya ikatan kimia pada permukaan adsorben akan terbentuk larutan yang
menghambat proses penyerapan selanjutnya oleh adsorben sehingga
efektivitasnya berkurang.

4. Faktor apa saja yang mempengaruhi proses penjernihan minyak jelantah?


Jawab:

- Kecepatan pengadukan
- pH
- luas permukaan
- temperatur
- jenis dan karakter adsorben

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

47 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

VI. DATA PENGAMATAN

Percobaan pekan pertama


Volume
No. Data Pengamatan pH sebelum pH setelah
titrasi
1. Bentonit (dipanaskan) 5 12 0,2 ml
2. Bentonit (suhu ruang) 5 12 0,4 ml
Alkohol + H2SO4
3. 5,5 12 0,1 ml
(dipanaskan)
Alkohol + H2SO4
4. 5,5 12 0,7 ml
(suhu ruang)

Percobaan pekan kedua


Volume
No. Data Pengamatan pH sebelum pH setelah
titrasi
1. Kulit nanas (dipanaskan) 5 5,5 1 ml
2. Kulit nanas (suhu ruang) 5 5,5 1,2 ml
3. Kulit pisang (dipanaskan) 5 5,5 1 ml
4. Kulit pisang (suhu ruang) 5 5 0,5 ml
5. Nasi (dipanaskan) 5 5,5 1,6 ml
6. Nasi (suhu ruang) 5 5,5 1,4 ml

VII. PERHITUNGAN
1. Perhitungan larutan KOH 0,5M
𝑀 × 𝑉 × 𝐵𝐸
𝑔𝑟 =
1000

0,5𝑀 × 250 𝑚𝑙 × 56,11𝑔𝑟/𝑚𝑜𝑙


𝑔𝑟 =
1000

𝑔𝑟 = 7,01 𝑔𝑟

2. Penentuan ALB
BM Asam Palmintat = 256 gr/mol

𝑔𝑟
𝜌 𝑀𝑖𝑛𝑦𝑎𝑘 ∶ 0,93
𝑐𝑚3

Massa contoh = 4,6 gr

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

48 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

A. Penjernihan
1. Alkohol dipanaskan
𝑀𝐾𝑂𝐻 × 𝑉 𝐾𝑂𝐻 × 𝐵𝑀 𝐶𝑝
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ × 1000

𝑔𝑟
0,5𝑀 × 0,1 𝑚𝑙 𝐾𝑂𝐻 × 256 𝑚𝑜𝑙
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
4,6 𝑔𝑟 × 1000

%𝐴𝐿𝐵 = 0,28%

2. Alkohol suhu ruang


𝑀𝐾𝑂𝐻 × 𝑉 𝐾𝑂𝐻 × 𝐵𝑀 𝐶𝑝
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ × 1000

𝑔𝑟
0,5𝑀 × 0,7 𝑚𝑙 𝐾𝑂𝐻 × 256 𝑚𝑜𝑙
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
4,6 𝑔𝑟 × 1000

%𝐴𝐿𝐵 = 1,94%

3. Bentonit dipanaskan
𝑀𝐾𝑂𝐻 × 𝑉 𝐾𝑂𝐻 × 𝐵𝑀 𝐶𝑝
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ × 1000

𝑔𝑟
0,5𝑀 × 0,2 𝑚𝑙 𝐾𝑂𝐻 × 256 𝑚𝑜𝑙
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
4,6 𝑔𝑟 × 1000

%𝐴𝐿𝐵 = 0,57%

4. Bentonit suhu ruang


𝑀𝐾𝑂𝐻 × 𝑉 𝐾𝑂𝐻 × 𝐵𝑀 𝐶𝑝
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ × 1000

𝑔𝑟
0,5𝑀 × 0,4 𝑚𝑙 𝐾𝑂𝐻 × 256 𝑚𝑜𝑙
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
4,6 𝑔𝑟 × 1000

%𝐴𝐿𝐵 = 1,1%

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

49 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

5. Kulit nanas dipanaskan


𝑀𝐾𝑂𝐻 × 𝑉 𝐾𝑂𝐻 × 𝐵𝑀 𝐶𝑝
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ × 1000

𝑔𝑟
0,5𝑀 × 1 𝑚𝑙 𝐾𝑂𝐻 × 256 𝑚𝑜𝑙
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
4,6 𝑔𝑟 × 1000

%𝐴𝐿𝐵 = 2,8%

6. Kulit nanas suhu ruang


𝑀𝐾𝑂𝐻 × 𝑉 𝐾𝑂𝐻 × 𝐵𝑀 𝐶𝑝
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ × 1000

𝑔𝑟
0,5𝑀 × 1,2 𝑚𝑙 𝐾𝑂𝐻 × 256 𝑚𝑜𝑙
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
4,6 𝑔𝑟 × 1000

%𝐴𝐿𝐵 = 3,3%

7. Kulit pisang dipanaskan


𝑀𝐾𝑂𝐻 × 𝑉 𝐾𝑂𝐻 × 𝐵𝑀 𝐶𝑝
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ × 1000

𝑔𝑟
0,5𝑀 × 1 𝑚𝑙 𝐾𝑂𝐻 × 256 𝑚𝑜𝑙
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
4,6 𝑔𝑟 × 1000

%𝐴𝐿𝐵 = 2,8%

8. Kulit pisang suhu ruang


𝑀𝐾𝑂𝐻 × 𝑉 𝐾𝑂𝐻 × 𝐵𝑀 𝐶𝑝
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ × 1000

𝑔𝑟
0,5𝑀 × 0,5 𝑚𝑙 𝐾𝑂𝐻 × 256 𝑚𝑜𝑙
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
4,6 𝑔𝑟 × 1000

%𝐴𝐿𝐵 = 1,4%

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

50 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

9. Nasi dipanaskan
𝑀𝐾𝑂𝐻 × 𝑉 𝐾𝑂𝐻 × 𝐵𝑀 𝐶𝑝
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ × 1000

𝑔𝑟
0,5𝑀 × 1 𝑚𝑙 𝐾𝑂𝐻 × 256 𝑚𝑜𝑙
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
4,6 𝑔𝑟 × 1000

%𝐴𝐿𝐵 = 4,5%

10. Nasi suhu ruang


𝑀𝐾𝑂𝐻 × 𝑉 𝐾𝑂𝐻 × 𝐵𝑀 𝐶𝑝
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
𝑚𝑎𝑠𝑠𝑎 𝑐𝑜𝑛𝑡𝑜ℎ × 1000

𝑔𝑟
0,5𝑀 × 1,4 𝑚𝑙 𝐾𝑂𝐻 × 256 𝑚𝑜𝑙
%𝐴𝐿𝐵 = × 100%
4,6 𝑔𝑟 × 1000

%𝐴𝐿𝐵 = 3,9%

VIII. ANALISA PERCOBAAN


Pada praktikum kali ini, kami melakukan percobaan pada
penjernihan minyak jelantah. Tujuan dari praktikum ini adalah mampu
menganalisa minyak minyak goreng dan mampu menjernihkan minyak
goreng bekas dengan berbagai adsorben yakni bentonit, kulit nanas, kulit
pisang, nanas dan asam sulfat.
Langkah pertama memipet minyak jelantah ke dalam gelas kimia
kemudian memasukkan adsorbennya. Selanjutnya dilakukan 2 perlakuan
yakni dipanaskan dan suhu ruang sambil diaduk sedang. Suhu pada proses
perlakuan pemanasan dijaga 70℃ − 80℃ selama 15 menit. Lalu,
didiamkan selama 1 jam. Selanjutnya diambil 5 ml untuk diuji ALB dengan
menambahkan indikator pada minyak goreng bekas dan dititrasi dengan
larutan KOH O,5M
Dari percobaan tersebut % ALB yng didapat pada adsorben bentonit
yang dipanaskan sebanyak 0,57%, bentonit pada suhu ruang 1,1%, alkohol
yang dipanaskan 0,28%, alkohol pada suhu ruang 1,94%, kulit pisang suhu

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

51 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

ruang 1,4%, kulit pisang yang dipanaskan 2,8%, nanas yang dipanaskan 4,5
% dan nanas pada suhu ruang 3,9%. Semakin banyak adsorben yang
digunakan maka semakin banyak pula ALB yang diikat.

IX. KESIMPULAN
- Semakin banyak adsorben yang digunakan maka kadar ALB semakin
banyak berkurang
- Jumlah penambahan adsorben pada minyak goreng bekas mempengaruhi
pengurangan kadar ALB
- Kadar ALB yang besar dapat menurunkan kualitas minyak goreng
- Data %ALB yang didapat :
 Bentonit dipanaskan : 0,57%
 Bentonit suhu ruang : 1,1%
 Alkohol dipanaskan : 0,28%
 Alkohol suhu ruang : 1,94%
 Kulit nanas dipanaskan : 2,8%
 Kulit nanas suhu ruang : 3,3%
 Kulit pisang dipanaskan : 2,8%
 Kulit pisang suhu ruang : 1,4%
 Nasi dipanaskan : 4,5%
 Nasi suhu ruang : 3,9%

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

52 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

PENGUKURAN KEBISINGAN

I. TUJUAN
 Untuk mengetahui intensitas kebisingan di suatu tempat kerja.
 Mahasiswa manmpu melakukan pengukuran kebisingan.
 Mahasiswa mampu menganalisa hasil pengukuran kebisingan.

II. ALAT
Alat yang digunakan:
- Sound Level Meter (SLM)

III. DASAR TEORI


A. Pengertian Kebisingan
Terdapat beberapa pendapat mengenai definisi kebisingan antara lain
(Wahyu, 2003):
 Menurut Dennis, Bising adalah suara yang timbul dari getaran-getaran
yang tidak teratur.
 Menurut Spooner, Bising adalalh suara yang tidak mengandung kualitas
musik.
 Menurut Sataloff, Bising adalah bunyi yang terdiri dari frekuensi yang
acak dan tidak berhubungan satu dengan yang lain.
 Menurut Burn, Littre dan Wail, Bising adalah dikehendaki kehadirannya
oleh yang mendengar dan mengganggu.
 Menurut Suma'mur, Bising adalah suara yang tidak dikeendaki (unwanted
sound).
 Menurut Menteri Negara Lingkungan Hidup RI No. Menteri
48/MENLH/11/1996, Kebisingan adalah bunyi yang tidak diinginkan dari
usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat
menimbulkan gengguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan.
 Menurut Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No. PER.
13/MEN/X/2011, Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki
yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan/atau alat-alat kerja yang
pada tingkat tertentu dapat mennimbulkan gangguan pendengaran.
B. Jenis-jenis Kebisingan
Kebisingan dapat diklasifikasikan dalam 3 (tiga) bentuk dasar (Wahyu,
2003):
a. Intermitten Noise (Kebisingan Terputus-putus)
Intermitten noise adalah kebisingan dimana suara timbul dan menghilang
secara perlahan-lahan. Termasuk dalam intermitten noise adalah

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

53 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

kebisingan yang ditimbulkan oleh suara kendaraan bermotor dan pesawat


terbang yang tinggal landas.
b. Steady State Noise (Kebisingan Kontinyu)
Dinyatakan dalam nilai ambang tekanan suara (sound pressure levels)
diukur dalam octave band dan perubahan-perubahan tidak melebihi
beberapa dB perdetik, atau kebisingan dimana fluktuasi dari intensitas
suara tidak lebih 6 dB, misalnya: suara kompressor, kipas angin, darur
pijar, gergaji sekuler, dan katub gas.
c. Impact Noise
Impact noise adalah kebisingan dimana waktu yang diperlukan untuk
mencapai puncak intensitasnya tidak lebih dari 35 detik, dan waktu yang
dibutuhkan untuk penurunan sampai 20 dB di bawah puncaknya tidak
Iebih dari 500 detik. Atau bunyi yang mempunyai perubahan-perubahan
besar dalam octave band. Contoh: suara pukulan palu, suara tembakan
meriam/senapan dan ledakan bom.
C. Dampak Kebisingan
Menurut Depnaker yang dikutip oleh Srisantyorini (2002) kebisingan
mempunyai pengaruh terhadap tenaga kerja, mulai dari gangguan ringan
berupa gangguan terhadap konsentrasi kerja, pengaruh dalam komunikasi dan
kenikmatan kerja Sampai pada cacat yang berat karena kehilangan daya
pendengaran (tuli) tetap.
1. Gangguan terhadap konsentrasi kerja dapat mengakibatkan menurunnya
kualitas pekerjaan. Hal ini pernah dibuktikan pada sebuah perusahaan film
dimana penurunan intensitas kebisingan berhasil mengurangi jumlah film
yang rusak sehingga menghemat bahan baku.
2. Gangguan terlhadap komunikasi, akan menganggu kerja sama antara
pekerja dan kadang-kadang mengakibatkan salah pengertian secara tidak
langsung dapat mcnurunkan kualitas atau kuantitas kerja. Kebisingan juga
mengganggu persepsi tenaga kerja terhadap lingkungan sehingga mungkin
sekali tenaga kerja kurang cepat.
3. Gangguan dalam kenikmatan kerja berbeda-beda untuk tiap-tiap orang.
Pada orang yang sangat rentan kebisingan dapat menimbulkan rasa pusing,
gangguan konsentrasi, dan kehilangan semangat kerja.
4. Penurunan daya pendengaran akibat yang paling serius dan dapat
menimbulkan ketulian total sehingga seseorang sama sekali tidak dapal
mendengarkat pembicaraan orang lain.

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

54 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

D. Pengendalian Kebisingan
Menurut Pramudianto yang dikutip oleh Babba (2007), pada prinsipnya
pengendalian kebisingan di lempat kerja terdiri dari:
1. Pengendalian secara teknis
Pengendalian secara teknis dapat dilakukan pada sumber bising, media
yang dilalui bising dan jarak sumber bising terhadap pekerja. Pengendalian
bising pada sumbernya merupakan pengendalian yang sangat efektif dan
hendaknya dilakukan pada sumber bising yang paling tinggi.
Cara-cara yang dapat dilakukan antara lain :
a. Desain ulang peralatan untuk mengurangi kecepatan atau bagian yang
bergerak, menambah muffler pada masukan maupun keluaran suatu
buangan, mengganti alat yang telah usang dengan yang lebih baru dan
desain peralatan yang lebih baik.
b. Melakukan perbaikan dan perawatan dengan mengganti bagian yang
bersuara dan melumasi semua bagian yang bergerak.
c. Mengisolasi peralatan dengan cara menjauhkan sumber dari
pekerja/penerima, menutup mesin alaupun membuat
barrier/penghalang.
d. Meredam sumber bising dengan jalan memberi bantalan karet untuk
mengurangi getaran peralatan dari logam, mengurangi jatuhnya sesuatu
benda dari atas ke dalam bak maupun pada sabuk roda.
e. Menambah sekat dengan bahan yang dapat menyerap bising pada ruang
kerja. Pemasangan peredam ini dapat dilakukan pada dinding suatu
ruangan bising.
2. Pengendalian secara administratif
Pengendalian ini meliputi rotasi kcrja pada pckerja yang terpapar olch
kcbisingan dengan intensitas tinggi ke tempat atau bagian lain yang lebih
rendah, cara mengurangi paparan bising dan melindungi pendengaran.
3. Pemakaian alat pelindung telinga
Pengendalian ini tergantung terhadap pemilihan peralatan yang tepal untuk
tingkat kebisingan tertentu, kelayakan dan cara merawat peralatan.

Sound Level Meter adalah suatu perangkat alat uji untuk mengukur tingkat
kebisingan suara, hal tersebut sangat di perlukan terutama untuk lingkungan
industri, contoh pada industri penerbangan dimana lingkungan sekitar harus diuji
tingkat kebisingan suara atau tekanan suara yang ditimbulkannya untuk mengetahui
pengaruhnya terhadap lingkungan sekitar.
Jenis Kebisingan
1. Bising kontinu (terus menerus) seperti suara mesin, kipas angin, dll.

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

55 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

2. Bising intermitten (terputus putus) yang terjadi tidak terus menerus seperti
suara lalu lintas, suara pesawat terbang
3. Bising Impulsif yang memiliki perubahan tekanan suara melebihi 40 dB dalam
waktu yang cepat sehingga mengejutkan pendengarmya seperti suara senapan,
mercon, dll
4. Bising impulsif berulang yang terjadi secara berulang-ulang pada periode
yang Sama seperti suara mesin tempa.

Pengaruh Kebisingan terhadap tenaga kerja adalah sebagai berikut:


1. Gangguan fisiologis
Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah, nadi dan dapat
menyebabkan pucat dan gangguan sensoris

2. Gangguan psikologis
Gangguan psikologis berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, emosi,
dll.

3. Gangguan komunikasi
Gangguan komunikasi dapat menyebabkan terganggunya pekerjaan,
bahkan bisa berakibat kepada kecelakaan karena tidak dapat mendengar isyarat
ataupun tanda bahaya.

4. Gangguan pada pendengaran (Ketulian)


Merupakan gangguan yang paling serius karena pengaruhnya dapat
menyebabkan berkurangnya fungsi pendengaran. Gannguan pendengaran ini
bersifat progresif tapi apabila tidak dilakendalikan dapat menyehabkan ketulian
permanen.
Batasan tingkat kebisingan yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran
dibagi menjadi dua, yaitu untuk lingkungan dengan waktu pajanan 24 jam yang kita
kenal dengan Baku Mutu Lingkungan dan untuk tempat kerja dengan waktu
pajanan 8 jam kerja atau Nilai Ambang Batas (NAB).

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

56 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

IV. PROSEDUR KERJA


Berikut ini adalah cara menggumakan sound level meter yang dapat Anda
ikuti:
1. Pertama-tama aktifkan alat ukur sound level meter yang akan digunakan
untuk mengukur
2. Pilih selektor pada posisi fast untuk jenis kebisingan continue atau
berkelanjutan atau selektor pada posisi slow untuk jenis kebisingan
impulsive atau yang terputus-putus
3. Pilih selektor range intensitas kebisingan.
4. Kemudian, tentukan area yang akan diuku
5. Setiap area pengukuran dilakukan pengamatan selama 1-2 menit dengan
kurang lebih 6 kali pembacaan
6.Hasil pengukuran berupa angka yang ditunjukkan pada monitor
7.Tulis hasil pengukuran dan hitung rata-rata kebisingannya, maka akan
diketahui hasil pengukuran dari kebisingan tersebut.

V. DATA PENGAMATAN
Sumber Kebisingan/Lokasi
Tingkat Kebisingan (dB)
Kebisingan
Suara sepeda motor 1 65,07
Suara sepeda motor 2 66,8
Mesin distilasi (Lab. Teknik Kimia) 103
Kantin elektro 71,5
Kantin sipil 80
Bengkel teknik sipil 96,03
Bengkel teknik mesin 102

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

57 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

VI. TUGAS
1. Jelaskan definisi kebisingan menurut saudara!
Jawab:
Kebisingan adalah suara yang dihasilkan akibat suatu kegiatan manusia atau
alat yang membuat terganggunya kesehatan manusia dan kenyamanan
sekitar.
2. Apa dampak yang ditimbulkan dari kebisingan?
Jawab:
a. Ketulian
b. Gangguan fisiologi dan psikologi
c. Gangguan komuniikasi
d. Kurangnya pendengaran antar pekerja
3. Upaya apa yang dapat mengurangi kebisingan?
Jawab:
a. Pengendalian secara teknis
- Desain ulang peralatan
- Perbaikan dan perawatan
- Mengisolasi peralan
- Meredam sumber bising
- Menambah sekat pada sumber bising
b. Pengendalian secara administratif
c. Pemakaian alat pelindung telinga

VII. ANALISA PERCOBAAN


Praktikum kali ini mengukur tingkat kebisingan atau amplitudo dengan
menggunakan alat Sound Level Leter (SLM). Langkah pertama yang dilakukan
adalah menyiapkan peralatan, sumber suara kebisingan dan lokasi kebisingan.
Sumber kebisingan dan lokasi kebisingan yang diuji ialah suara sepeda motor,
suara mesin distilasi di lab. Teknik Kimia, bengkel Teknik Sipil, Bengkel Teknik
Mesin, kantin elektro dan kantin sipil. Lokasi tersebut dipilih karena kegiatan yang
dilakukan di lokasi tersebut menimbulkan kebisingan dan terjadi terus menerus
sedangkan pengujian suara sepeda motor dilakukan untuk mengukur tingkat
kehalusan suara sepeda motor tersebut.
Pada pengujian suara sepeda motor didapat hasil 65,07dB untuk sepeda motor
1 dan 66,08 dB untuk sepeda motor 2. Pada angka ini cukup aman karena masih

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

58 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

berada pada zona tingkat kebisingan yang aman. Selanjutnya pada kantin elektrro
dan kantin sipil didapat tingkat kebisingan sebesar 71,5 dB dan 80 dB . Pada angka
ini kebisingan cukup tinggi karena pada lokasi ini terdapat banyak orang sehingga
menimbulkan keadaan yang sangat bising. Kemudian pada bengkel Teknik Sipil
didapat angka 96,3 dB, bengkel Teknik Mesin sebesar 102 dB dan ruang mesin
distilasi pada lab. Teknik Kimia sebesar 103 dB. Dari ketiga lokasi tersebut, angka
tingkat kebisingan sangat tinggi sehingga dapat mengganggu pendengaran. Pada
lokasi dengan tingkat kebisingan yang tinggi dianjurkan untuk menggunakan alat
peredam kebisingan di telinga karena batas maksimum zona kebisingan yang aman
bagi pendengaran manusia berkisar antara 60-70 dB.

VII. KESIMPULAN
Dari praktikum yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa:
1. Sound Level Meter (SLM) adalah suatu perangkat alat uji yang digunakan
untuk mengukur tingkat kebisingan suara.
2. Faktor yang dapat menyebabkan kesalahan dalam pengukuran adalah alat
yang terkadang error pada saat digunakan.
3. Hasil pengukuran yang didapatkan:
a. Suara sepeda motor 1 : 65,07 dB
b. Suara sepeda motor 2 : 66,8 dB
c. Ruang mesin distilasi (Lab. Teknik Kimia) : 103 dB
d. Kantin elektro : 71,5 dB
e. Kantin sipil : 80 dB
f. Bengkel teknik sipil : 96,03 dB
g. Bengkel teknik mesin : 102 dB

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

59 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

GAMBAR ALAT

Turbidimeter Cyberscan Waterproof PCD 650

Gelas Kimia Kertas Lakmus

Jar Test Termometer

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

60 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

Ion Exchanger Pipet Ukur

Bola Karet Erlenmeyer

Spatula Batang Pengaduk

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

61 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

Buret
Neraca Analitik

Heater Sound Level Meter

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

62 | P a g e
Laporan Tetap Kelompok 1
Lab. Teknologi Pengolaham Limbah

DAFTAR PUSTAKA

Jobsheet.Penuntun Pratikum Teknologi Pengolahan Limbah ‘’Pengukuran


Parameter Air Limbah’’.Politeknik Negeri Sriwijaya.Palembang ; 2019
Jobsheet.Penuntun Pratikum Teknologi Pengolahan Limbah ‘’ Penentuan
Kondisi Pengendapan Optimum Dari Koagulasi –Flokulasi”.Politeknik
Negeri Sriwijaya.Palembang ; 2019
Jobsheet.Penuntun Pratikum Teknologi Pengolahan Limbah ‘’Pengolahan
Limbah Cair Dengan Menggunakan Ion Exchange”. Politeknik Negeri
Sriwijaya.Palembang ; 2019
Jobsheet.Penuntun Pratikum Teknologi Pengolahan Limbah ‘’Penjernihan
Minyak Jelantah”. Politeknik Negeri Sriwijaya.Palembang ; 2019
Jobsheet.Penuntun Pratikum Teknologi Pengolahan Limbah “Pengukuran
Kebisingan”.Politeknik Negeri Sriwijaya.Palembang ; 2019
Https://multimeter-digital.com/pengertian-dan-penggunaan-turbidity
meter.html
Https://alatalatlaborstorium.com/Blog/turbidity-meter
Https://id.wikipedia.org/wiki/salinitas
Https://andhikaprima.wordpress.com/2009/12/28/salinitas-salinity/
Https://www.nazava.com/en/fakta-mengenai-tds-dalam-air-murni?0
Https://multimeter-digital.com/apakah-itu-tds-total-dissolved.solid.html

DIV TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

63 | P a g e