Anda di halaman 1dari 13

PT.

SUNPRIMA NUSANTARA PEMBIAYAAN (SNP FINANCE)

A. Profil Perusahaan
PT. Sunprima Nusantara Pembiayaan sering disingkat menjadi SNP adalah
perusahaan pembiayaan yang berdiri sejak tahun 2000, sempat vacum selama 2 tahun dan
kemudian Columbia Group mengambil alih kepemilikannya pada tahun 2002,
tetapi PT.SNP baru beroperasi secara penuh pada tahun 2004. SNP terutama bergerak dalam
bidang consumer finance yang disebut Prima Finance, dan dealer utama yang 100%
pembiayaannya di support oleh PT. SNP adalah semua konsumen Columbia Retail.
Produk yang dibiayai adalah semua kebutuhan rumah tangga, seperti semua produk
elektronik, furniture, hand phone, komputer, motor roda dua. Selain produk tersebut PT. SNP
juga melakukan pembiayaan untuk produk2 produktif seperti hand tractor, dan motor roda 3.
Principal yang bekerja sama sampai dengan hari ini seperti, Nozomi, Yanmar, Olympic,
Modena, Fujitec, Sanken, Galeri musik jakarta. Selain membiayai seluruh outlet
Columbia PT.SNP juga membiayai dealer yang lain, baik tradisional market maupun modern
market, melalui divisi Prima Finance. Saat ini melalui Columbia Group kami berada di 72
kota, dan melalui divisi Prima Finance kami berada di 10 kota

B. Berita
Lima orang direksi dan manajer PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance)
diamankan pihak berwajib terkait kasus dugaan tindak pidana pemalsuan dokumen,
penggelapan, penipuan, dan pencucian uang dalam aktivitas usahanya sebagai perusahaan
pembiayaan (multifinance). SNP Finance merupakan bagian usaha Columbia, jaringan ritel
yang menawarkan pembelian barang rumah tangga secara kredit atau cicil. Dalam
kegiatannya, SNP lah yang menyokong pembelian barang yang dilakukan oleh Columbia
dengan sumber pendanaan dari perbankan atau surat utang.
Di industri multifinance, SNP Finance boleh dibilang pemain kelas menengah ke
bawah. Lihatlah, total pembiayaan yang disalurkannya pun tidak lebih dari Rp5 triliun per
tahun. Maklum, barang yang dibiayainya hanya kasur, lemari, sofa, dan perabot rumah
tangga lainnya. Berbeda dengan multifinance sekaliber BCA Finance, Astra Sedaya Finance,
FIF, dan Adira Finance yang membiayai kendaraan roda empat dan sepeda motor. Tak heran,
pembiayaan yang mereka salurkan selalu berkisar puluhan triliun per tahun. Wajarlah, teman-
teman seprofesi SNP Finance itu berinduk usaha pada bank umum.
SNP Finance diketahui menerima fasilitas kredit modal kerja dari 14 bank. Salah satu
dan yang paling besar berasal dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. SNP Finance sendiri telah
20 tahun menjadi nasabah Bank Mandiri. Namun, pada 2016, perusahaan mengajukan
restrukturisasi kredit. Saat itu, Bank Mandiri memasukkan SNP Finance dalam kelompok
kolektibilitas 2 (kol 2) atau dalam perhatian khusus. Restrukturisasi kredit diperlukan bukan
karena perusahaan menunggak pembayaran, melainkan agar perusahaan bisa mendapat
kucuran dana dari bank lain.
Alih-alih membaik, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas mengatakan
SNP Finance malah menunjukkan itikad buruk. Dalam beberapa bulan terakhir, kreditnya
mulai macet dan manajemen perusahaan mengajukan pailit sukarela. Padahal, kredit
macetnya saat itu mencapai Rp1,2 triliun. "Mereka sebanarnya sudah jadi nasabah kami 20
tahun dan reputasinya baik. Tapi tiba-tiba berubah hanya dalam beberapa bulan terakhir
kreditnya macet (Rp1,2 triliun). Jumlah itu termasuk pokok dan bunga yang diakumulasi
sejak beberapa tahun terakhir. Sekarang sudah jadi kredit macet," jelas dia.
Sekretaris Perusahaan SNP Finance Ongko Purba Dasuha menyatakan bahwa nilai
pinjaman yang mereka ambil secara total tak lebih dari Rp4 triliun. Hal itu juga tertuang
dalam Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU). "Ada dalam pengakuan utang di
PKPU," katanya. PKPU itu terbit pada 4 Mei 2018, setelah dikabulkan majelis hakim
Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dalam PKPU disebutkan total tagihan SNP Finance
mencapai Rp4,07 triliun dari 14 bank sebagai kreditur dengan jaminan Rp2,2 triliun, serta
336 pemegang MTN senilai Rp1,85 triliun.
Pada Desember 2017, menurut Sistem Informasi Debitur (SID) Bank Indonesia
kategori SNP Finance sebetulnya masih ada di kol 1 dengan status lancar. Tapi, Januari 2018,
terjadi peralihan dan di bawah kontrol OJK, yakni Sistem Layanan Informasi Keuangan
(SLIK) yang kemudian statusnya berubah menjadi kol 2. Hal itu berimbas pada timbulnya
pertanyaan bank-bank yang mengucurkan dana mereka ke SNP Finance dan berbuntut pada
seretnya aliran kredit dari bank-bank lain. Di sisi lain, sistem manajemen penagihan di
kantor-kantor cabang SNP Finance semakin lemah.
Gali Lubang Tutup Lubang, Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus
Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Besar Daniel Tahi Monang Silitong mengatakan
pengungkapan kasus ini berawal dari laporan Bank Panin pada awal Agustus 2018 lalu.
Menurutnya, SNP Finance mengajukan pinjaman fasilitas kredit modal kerja dan rekening
koran kepada Bank Panin periode Mei 2016 sampai 2017 dengan plafon kepada debitur
sebesar Rp425 miliar.
Salah satu tindakan yang dilakukan oleh SNP Finance untuk mengatasi kredit
macetnya adalah menerbitkan surat utang berbentuk Medium Term Notes (MTN), yang
diperingkat oleh Pefindo, lembaga pemeringkat, berdasarkan laporan keuangan yang diaudit
oleh KAP DeLoitte. "Dapat disampaikan bahwa penerbitan MTN tidak melalui proses di
OJK, mengingat MTN adalah perjanjian yang bersifat private, namun memerlukan
pemeringkatan karena dapat diperjual-belikan," terang Anto.
Mengutip siaran pers Pefindo, biro kredit independen tersebut mendapuk SNP
Finance dengan peringkat idA- (single A minus) sejak Desember 2015-November 2017.
Lalu, peringkat itu dinaikkan menjadi idA (single A) pada Maret 2018. Padahal, saat itu,
keuangan SNP Finance mulai bermasalah. Dua bulan setelahnya, yakni Mei 2018, OJK
mengeluarkan sanksi Pembekuan Kegiatan Usaha (PKU) terhadap SNP Finance melalui
Surat Deputi Komisioner Pengawas IKNB II Nomor S-247/NB.2/2018.
Pefindo pun buru-buru menyematkan peringkat idCCC (triple C) atau credit watch
negative sebelum akhirnya menarik peringkat terhadap SNP Finance. Namun, sampai berita
ini diturunkan, pihak Pefindo belum merespons pertanyaan` Dengan diberlakukannya PKU,
maka SNP Finance dilarang melakukan kegiatan usaha pembiayaan. Jika mangkir dari hal itu,
maka OJK dapat langsung mengenakan sanksi pencabutan izin usaha. Tak cuma itu, selama
masa sanksi PKU, SNP Finance juga wajib menyampaikan dan melakukan tindakan korektif.
"Dalam jangka waktu 6 bulan sejak PKU, SNP Finance tidak memenuhi tindakan tersebut,
maka dapat dikenakan sanksi pencabutan izin usaha," imbuhnya.
Dengan kondisi itu, Anto menambahkan, OJK akan terus memonitor perkembangan
kasus SNP Finance, serta memantau tim audit internal bank yang melakukan investigasi
internal dan akan memberikan sanksi jika ada pegawai bank yang terlibat. OJK akan terus
berkoordinasi dengan instansi terkait, seperti Kepolisian dan Kementerian Keuangan untuk
penindakan yang diperlukan. OJK juga melarang penerbitan MTN tanpa seizin OJK dan
menyiapkan langkah koordinasi dengan Kemenkeu berkaitan dengan kerja Kantor Akuntan
Publik Langgar Standar Audit.
Kemenkeu menyebut dua akuntan publik yang mengaudit laporan keuangan SNP
Finance, yakni Akuntan Publik Marlinna dan Merliyana Syamsul melanggar standar audit
profesional. Mengutip data resmi Pusat Pembinaan Profesi Keuangan (PPPK), dalam
mengaudit SNP Finance tahun buku 2012 - 2016, mereka belum sepenuhnya menerapkan
pengendalian sistem informasi terkait data nasabah dan akurasi jurnal piutang pembiayaan.
Akuntan publik tersebut juga belum menerapkan pemerolehan bukti audit yang cukup dan
tepat atas akun piutang pembiayaan konsumen dan melaksanakan prosedur memadai terkait
proses deteksi risiko kecurangan, serta respons atas risiko kecurangan.
Selain dua akuntan publik di atas, Kemenkeu juga menyoroti DeLoitte Indonesia.
Mereka diberi sanksi berupa rekomendasi untuk membuat kebijakan dan prosedur dalam
sistem pengendalian mutu akuntan publik terkait ancaman kedekatan anggota tim perikatan
senior. Sekretaris Jenderal Kemenkeu Hadiyanto menuturkan bahwa sanksi diberikan untuk
memperbaiki mereka. "Sanksi administratif diberikan untuk membuat kebijakan dan prosedur
dalam sistem pengendalian mutu akuntan publik yang lebih baik," katanya.

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180926143029-78-333372/kronologi-snp-
finance-dari-tukang-kredit-ke-tukang-bobol

SNP Finance merupakan bagian dari Columbia, toko yang menyediakan pembelian
barang secara kredit. Dalam kegiatannya SNP Finance mendapatkan dukungan pembiayaan
pembelian barang yang bersumber dari kredit perbankan. Deputi Komisioner Pengawas
Perbankan III Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Slamet Edy Purnomo mengungkapkan jika
permasalahan pada SNP Finance sudah tercium sejak Juli 2017. "Jadi yang membongkar
awal adalah pengawas. Jadi di 2017 sudah tertangkap ada angka CAPS itu suatu
aplikasi connecting antara SNP sebagai multifinance dengan bank seperti Bank Mandiri yang
paling besar. Jadi ada beda itu (angka)," jelas dia di Jakarta, Rabu (26/9/2018)

OJK kemudian meminta dilakukan pemeriksaan kepada pihak perbankan secara


internal dan oleh pengawas. Pada 2018, OJK kembali melakukan evaluasi. Lembaga ini
dikatakan terlebih dulu memberi kesempatan kepada internal perbankan untuk menyelesaikan
saat diketahui terjadi masalah. "Jadi dilakukan oleh investigator internal Bank Mandiri dan
ditemukan memang terrnyata tidak pernah dilakukan reconcile antara banking dan dari situ
kita dalami lagi prosesnya dan ternyata ada kesalahan di sistem yang tidak sempurna," jelas
dia.
Slamet Edy menuturkan, terlepas dari kesalahan sistem yang bisa diperbaiki, tim
kemudian berkoordinasi dengan pengawas SNP di Industri Keuangan Non Bank (IKNB).
"Lalu muncul akhirnya hasil seperti itu dan akhirnya ketemu lagi sampai masalah
MTN. Semua dipanggil Pefindo, semuanya dipanggil. Dan dari hasil pemeriksaan saya lihat
semua pengawasan jalan baik dari Bank Mandiri," tegas dia. Dia menuturkan, jika
permasalahan ada terkait data yang diberikan SNP. Adapun mekanisme pemberian pinjaman
kepada SNP Finance yang dilakukan dengan sistem executing. Bank memberikan kredit
berupa joint financing atau memberikan langsung ke perusahaan pembiayaan tersebut.
Kemudian SNP Finance yang meneruskannya kepada pengguna.
Untuk mendapatkan kredit ini, terlebih dulu ditunjuk auditor publik yang bertugas
memeriksa laporan keuangan. Auditor yang ditunjuk adalah Kantor Akuntan Publik (KAP)
Deloitte yang menilai kondisi keuangan SNP Finance. "Kalau laporan keuangan dia bagus
harus diaudit eksternal dan biasanya menunjuk standar internasional," tutur Slamet Edy.
Kemudian seiring dengan turunnya bisnis toko Columbia, kredit perbankan tersebut
mengalami permasalahan menjadi Non Performing Loan (NPL). Kondisi tersebut telah
diantisipasi perbankan dengan melakukan pencadangan (PPAP) pada tahun yang sudah lewat,
sehingga perbankan dapat meng-absorb risiko gagal bayar.
Salah satu tindakan yang dilakukan oleh SNP Finance untuk mengatasi kredit
bermasalah tersebut adalah melalui penerbitan Medium Term Note (MTN), yang diperingkat
oleh Pefindo berdasarkan laporan keuangan SNP yang diaudit DeLoitte. Slamet Edy
mengatakan jika penerbitan MTN tidak melalui proses di OJK. Ini mengingat MTN adalah
perjanjian yang bersifat private, namun memerlukan pemeringkatan karena dapat
diperjualbelikan.
Sebelumnya diketahui jika SNP Finance mendapatkan peringkat efek periode
Desember 2015-2017 idA-/stable dari Pefindo. Kemudian pada Maret 2018, rating SNP
Finance naik menjadi idA/stable. Namun Pefindo kembali menurunkan rating SNP Finance
sebanyak 2 kali. Pertama pada bulan Mei 2018, diturunkan menjadi idCCC/credit watch
negative dan pada bulan yang sama menurunkan lagi ke peringkat idSD/selective default.
Akhirnya, saat terjadi permasalahan, SNP Finance mengajukan penundaan kewajiban
pembayaran utang (PKPU) terhadap kewajibannya sebesar kurang lebih Rp 4,07 triliun, yang
terdiri dari kredit perbankan Rp 2,22 triliun dan MTN sebesar Rp 1,85 triliun.
PT Bank Mandiri Tbk angkat bicara mengenai kasus pembobolan dana di 14 bank
oleh Lembaga pembiayaan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance) yang
merupakan anak usaha Columbia. Bank Mandiri termasuk salah satu bank tersebut. Corporate
Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas menjelaskan, SNP Finance adalah perusahaan
pembiayaan yang menjadi debitur Bank Mandiri sejak 2004. Selama belasan tahun menjadi
debitur Bank Mandiri, SNP Finance memiliki catatan yang baik dengan kualitas kredit yang
lancar. Hal ini juga yang membuat banyak bank kemudian ikut memberikan pembiayaan
kepada SNP Finance.
Atas hal tersebut, Bank Mandiri melihat permasalahan di SNP Finance saat ini bukan
semata-mata disebabkan oleh ketidak hati-hatian perbankan dalam penyaluran kredit. Apalagi
saat ini regulator telah menetapkan rambu-rambu yang sangat ketat bagi perbankan.
"Kekisruhan di SNP Finance justru disebabkan itikad tidak baik pengurus perseroan untuk
menghindari kewajiban mereka," jelas Rohan seperti dikutip dari keterangan tertulis, Rabu
(26/9/2018). Buktinya, SNP Finance langsung mengajukan PKPU Sukarela, setelah kualitas
kredit turun menjadi kol. 2. Modus ini sering dilakukan dengan memanfaatkan celah dari
ketentuan hukum terkait Kepailitan.

https://www.liputan6.com/bisnis/read/3653257/begini-awal-mula-kasus-snp-finance-yang-
rugikan-14-bank

Publik sampai sekarang masih menunggu hasil perkembangan terbaru kasus


pembobolan 14 bank oleh PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP), dimana Bareskrim
Mabes Polri melakukan kerjasama dengan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)-RI untuk
melakukan audit investigasi. Bahkan Polri juga menjalin kerjasama dengan Pusat Pelaporan
dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) untuk mengungkap dugaan kasus Tindak Pidana
Pencucian Uang (TPPU).
Sebelumnya PT SNP diduga melakukan tindak pidana dengan cara mengajukan
pinjaman ke-14 bank dengan menyerahkan jaminan berupa list kontrak piutang pembiayaan
konsumen (end user). Tindakan tersebut diduga menimbulkan kerugian pada 14 bank
kreditur, diantaranya Bank Panin, Bank Mandiri, PT Bank Central Asia (BCA), Bank Jabar
Banten, Bank Sinar Mas, Bank Ganesa, Bank Capital Indonesia, Bank Nasional NOBU, Bank
Victoria, Bank JTrust, Bank Resona Perdania, Bank Nusantara Parahyangan, Bank Woori,
dan Bank CTBC.
Pada awalnya dilakukan audit investigasi bersama masih mendalami dugaan tindak
pidana korupsi terhadap PT Bank Mandiri (persero) TBK sebagai kreditur yang telah
memberikan limit fasilitas kredit kepada PT SNP dari tahun 2004 hingga 2015 sebesar
Rp10,52 triliun. Kemudian diduga outstanding macet PT SNP di Bank Mandiri mencapai
Rp1.403.833.000.000 dari total fasilitas kredit yang diterima sebesar Rp10,52 triliun.
Hasil pengawasan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menjadi salah satu langkah untuk
menyelidiki dugaan korupsi PT Bank Mandiri Tbk dalam pemberian kredit kepada PT SNP
Finance. Kredit macet ini ditemukan sejak tahun 2010 dimana PT SNP telah bermasalah
dengan keuangannya.
Tentu, tidak hanya Bank Mandiri yang menderita kerugian. BCA juga senasib. Dana
senilai Rp200 miliar yang dibobol PT SNP telah memasuki masa kredit macet (non
performing loan-NPL) dengan kolektabilitas 5 atau kategori macet.
Diketahui, PT SNP mulai mengajukan kredit ke BCA sejak Juni 2016. Besaran kredit
berjenjang hingga November 2017 nilainya mencapai Rp545 miliar. Semula, PT SNP
mengangsur secara rutin. Sisa kewajiban PT SNP terus berkurang hingga menjadi Rp210
miliar. BCA memberikan kepercayaan untuk menyalurkan kredit kepada SNP Finance
lantaran perusahaan pembiayaan Grup Columbia itu memiliki kinerja keuangan yang sehat.
Namun ujung-ujungnya, PT SNP mulai lalai dari kewajibannya membayar utang
kepada BCA dan beberapa bank lainnya. Namun, kasus yang sudah ditangani Ditipideksus
Bareskrim Mabes Polri telah menangkap dan menahan tujuh orang tersangka dari PT SNP.
Selain menetapkan tujuh orang sebagai tersangka, polisi juga melakukan pemblokiran
terhadap rekening PT SNP di 14 bank dimaksud. Menurut polisi, PT SNP diduga telah
menimbulkan kerugian sekitar Rp14 triliun.
Sejak mencuatnya kasus pembobolan 14 bank, saat ini PT SNP resmi menyandang
status pailit. Status tersebut resmi diberikan melalui putusan Majelis Hakim Pengadilan Niaga
Jakarta Pusat, pada Jumat (26/10) lalu. Pengurus Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
(PKPU) Sunprima Irfan Aghasar menyampaikan, dalam rapat pemungutan suara atas rencana
perdamaian Sunprima, hasilnya dari jumlah kreditur yang hadir, kreditur konkuren (tanpa
jaminan) 100% menyetujui perdamaian, sementara kreditur separatis (dengan jaminan) yang
hendak berdamai hanya 39%. Sisanya 61% ingin PT SNP pailit.
Sesuai pasal 281 ayat (1) UU 37/2004, perdamaian PKPU atau homologasi mesti
punya suara 51% dari tiap kategori kreditur yang memberikan suara. Makanya, Sunprima
pailit sebab 61% separatis enggan berdamai. Suara separatis yang menolak berdamai berasal
dari Bank Mandiri, BCA, dan Bank Panin. Ketiga bank ini memang punya tagihan yang
besar. Tagihan Mandiri Rp1,40 triliun, BCA Rp210,09 miliar, dan Panin Rp141,06 miliar.
Nah, untuk mendapatkan data finansial yang lebih akurat, publik menunggu hasil audit
investigatif yang melibatkan tim BPK, OJK dan PPATK sehingga masyarakat memperoleh
kepastian nilai kerugian riil dari 14 bank tersebut di awal 2019. Semoga!
http://neraca.co.id/article/111159/tindak-lanjut-kasus-snp

C. Pembahasan Kasus PT. SNP Finance


Belakangan ini sering dibahas di media cetak maupun di media elektronik, mengenai
kasus yang cukup menghebohkan masyarakat dan praktisi keuangan di tanah air, yaitu kasus
SNP Finance. Di seri pertama dari dua tulisan ini, kami ingin merunut kasus ini dari awal,
mulai dari keberadaan SNP Finance, hubungannya dengan perusahaan induknya, sampai
kemunduran bisnis yang memaksa SNP Finance memanipulasi laporan keuangannya.
Selamat menyimak!

Siapa SNP Finance?


Sun Prima Nusantara Pembiayaan (SNP) Finance merupakan perusahaan multi
finance, anak perusahaan dari grup bisnis Columbia. Siapa yang tak kenal Columbia?
Tentunya Anda mengetahui, Columbia adalah perusahaan retail yang menjual produk
perabotan rumah tangga seperti alat-alat elektronik dan furnitur. Dalam menjual produknya,
Columbia memberikan opsi pembelian dengan cara tunai atau kredit cicilan kepada
customernya. Nah, SNP Finance inilah yang menjadi partner Columbia dalam memfasilitasi
kredit dan cicilan bagi customer Columbia. Columbia sendiri mempunyai jumlah outlet yang
sangat banyak, tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, melihat kondisi seperti itu,
tentu SNP Finance harus memiliki modal kerja (working capital) dalam jumlah yang besar
untuk menutup kredit para customer Columbia.
Lalu dari mana SNP Finance memperoleh dana untuk mencukupi modal kerja yang
dibutuhkan? SNP Finance menghimpun dana melalui pinjaman Bank. Kredit yang diberikan
bank kepada SNP Finance terdiri dari dua jalur, yang pertama melalui joint financing, dimana
beberapa bank bergabung dan memberikan pinjaman, dan yang kedua adalah secara
langsung, dari sebuah bank kepada SNP Finance. Bank Mandiri tercatat sebagai pemberi
pijaman terbesar kepada SNP Finance. Bank-bank yang memberikan pinjaman tersebut
adalah kreditor, mereka punya kepentingan untuk mengetahui bagaimana dana yang mereka
pinjamakan ke SNP Finance. Apakah dana tersebut dikelola dengan benar, karena tentunya
bank juga mengharapkan keuntungan berupa bunga/interest, dan pengembalian pokok
pinjaman.
Dalam hal ini bank bergantung pada informasi keuangan yang tertuang dalam laporan
keuangan yang dibuat oleh manajemen SNP Finance. Untuk memastikan bahwa laporan
keuangan yang disusun tersebut terbebas dari kesalahan atau manipulasi, maka laporan
keuangan tersebut diaudit. SNP Finance menggunakan jasa Kantor Akuntan Publik (KAP)
Deloitte Indonesia yang merupakan salah satu Kantor Akuntan Publik (KAP) asing elit
(disebut the Big Four) untuk mengaudit laporan keuangannya.

Kegagalan Bisnis dan Manipulasi oleh SNP Finance


Pada dasarnya perjanjian utang piutang antara SNP Finance dengan para kreditornya
(bank) tersebut adalah kerjasama yang sifatnya mutualistik. SNP Finance membutuhkan
dana, bank juga butuh menyalurkan kredit. Namun dalam perjalanan waktu, ternyata bisnis
retail Columbia yang merupakan induk dari SNP Finance mengalami kemunduran. Apa
penyebabnya? Kita bisa melihat bahwa perilaku pembelian customer telah berubah,
konsumen saat ini tidak lagi belanja produk furniture dan elektronik dengan datang ke toko,
melainkan mereka lebih suka membeli secara online melalui perangkat gadgetnya. Mulai
dari survey harga, survey spesifikasi produk, sampai dengan pembelian, semua dilakukan
secara online. Bahkan para online shop tersebut juga memberikan fasilitas kredit tanpa bunga
(bunga 0%) untuk tenor yang bahkan sampai 12 bulan. Kondisi perubahan perilaku
pembelian customer inilah yang memukul pangsa pasar dari Columbia, dan tentunya juga
berdampak pada SNP Finance. Buntutnya adalah kredit SNP Finance kepada para bank –
bank/krediturnya tersebut menjadi bermasalah, dalam istilah keuangan disebut Non
Performing Loan (NPL).
Apa yang dilakukan SNP Finance untuk mengatasi utangnya kepada bank tersebut?
SNP finance membuka keran pendanaan baru melalui penjualan surat utang jangka
menengah, disebut dengan MTN (Medium Term Notes). MTN ini sifatnya hampir mirip
dengan obligasi, hanya saja jangka waktunya adalah menengah, sedangkan obligasi jangka
waktunya panjang. MTN ini diperingkat oleh Pefindo (Pemeringkat Efek Indonesia) dan
kembali lagi bahwa Pefindo juga memberikan peringkat salah satunya adalah berdasarkan
laporan keuangan SNP Finance yang diaudit oleh Deloitte. Awalnya peringkat efek SNP
Finance sejak Desember 2015 – 2017 adalah A-, bahkan kemudian naik menjadi A di Maret
2018. Namun tidak lama kemudian, di bulan Mei 2018 ketika kasus ini mulai terkuak, perikat
efek SNP Finance turun menjadi CCC bahkan di bulan yang sama tersebut turun lagi
menjadi SD (Selective Default). Default dalam bahasa sederhananya adalah gagal bayar.
Berikutnya SNP Finance mengajukan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang
(PKPU), sebesar kurang lebih Rp 4,07 Trilyun yang terdiri dari kredit perbankan 2,22 Trilyun
dan MTN 1,85 Trilyun. Mengapa debitur dan pemegang MTN mau percaya dan menyalurkan
kredit kepada SNP Finance? Karena awalnya pembayaran dari SNP Finance lancar, dan para
kreditur tersebut juga menganalisis kesehatan keuangan SNP Finance melalui laporan
keuangannya, yang diaudit oleh kantor akuntan publik ternama, yaitu Deloitte. Namun
ternyata terjadi pemalsuan data dan manipulasi laporan keuangan yang dilakukan oleh
manajemen SNP Finance. Diantaranya adalah membuat piutang fiktif melalui penjualan
fiktif. Piutang itulah yang dijaminkan kepada para krediturnya, sebagai alasan bahwa nanti
ketika piutang tersebut ditagih uangnya akan digunakan untuk membayar utang kepada
kreditor. Untuk mendukung aksinya tersebut, SNP Finance memberikan dokumen fiktif yang
berisi data customer Columbia. Sangat disayangkan bahwa Deloitte sebagai auditornya gagal
mendeteksi adanya skema kecurangan pada laporan keuangan SNP Finance tersebut. Deloitte
malah memberikan opini wajar tanpa pengecualian pada laporan keuangan SNP Finance.

Sanksi atas Kecurangan Laporan Keuangan


Untuk manajemen dari SNP Finance sendiri saat ini kasusnya telah ditangani oleh
Bareskrim Polri. Mereka diduga melanggar pasal berlapis, yaitu KUHP 362 tentang
pemalsuan surat, KUHP 362 tentang penggelapan dan KUHP 378 tentang penipuan.
Sementara apa sanksi untuk Deloitte sebagai auditornya? Sanksi kepada Deloitte diberikan
oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melalui siaran pers tertanggal 1 Oktober 2018, OJK
memberikan sanksi kepada Akuntan Publik (AP) Marlina dan AP Merliyana Syamsul,
keduanya dari KAP Satrio Bing Eni dan rekan (pemegang afiliasi Deloitte di Indonesia), dan
juga KAP Satrio Bing Eny dan rekan sendiri. Sanksi yang diberikan adalah pembatalan hasil
audit terhadap kliennya yaitu SNP Finance dan pelarangan untuk mengaudit sektor
perbankan, pasar modal dan Industri Keuangan Non Bank (IKNB).
Apa yang menjadi dasar dari OJK untuk pemberian sanksi tersebut? Bahwa AP
Marlinna, AP Merliyana Syamsul dan Deloitte telah melakukan pelanggaran berat yaitu
melanggar POJK Nomor 13/POJK.03/2017 tentang Penggunaan Jasa Akuntan Publik dan
Kantor Akuntan Publik. Pertimbangannya antara lain adalah sebagai berikut:
1. Telah memberikan opini yang tidak mencerminkan kondisi keuangan yang
sebenarnya
2. Besarnya kerugian terhadap industri jasa keuangan dan masyarakat yang
ditimbulkan atas opini kedua AP tersebut atas Laporan Keuangan Tahunan Audit
(LKTA) SNP Finance
3. Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan akibat dari
kualitas penyajian oleh akuntan publik.

Auditor di Pusaran Kecurangan Laporan Keuangan


Apa yang seharusnya dilakukan oleh Deloitte? Apa yang menjadi kewajiban bagi
auditor? Dalam hal ini seharusnya auditor mengetahui betapa pentingnya laporan keuangan
yang diaudit. Auditor mengetahui persis siapa saja yang menjadi para pengguna
utama (primary beneficiary) dari laporan keuangan yang diaudit tersebut, pihak – pihak yang
akan melakukan pengambilan keputusan dari laporan keuangan tersebut. Apalagi bukan
setahun dua tahun Deloitte mengaudit SNP Finance, tetapi dalam kurun waktu yang cukup
lama. Deloitte yang merupakan KAP big four melakukan kelalaian (negligence), yaitu
dengan kurang menerapkan prinsip kehati – hatian (professional skepticism) dalam
mengaudit kliennya tersebut.
Ketika terjadi peningkatan hutang dan hutang yang menjadi non performing loan,
harusnya ini sudah menjadi lampu kuning bagi Deloitte untuk memberikan opini going
concern atas laporan keuangan SNP Finance. Opini going concern adalah informasi
tambahan yang diberikan auditor di paragraph penjelas dalam laporan auditor independen
yang berfungsi untuk menyatakan bahwa perusahaan dalam kondisi beresiko mengalami
kebangkrutan. Dengan adanya opini tersebut, akan menjadi warning bagi para kreditornya
untuk berhati – hati dalam menyalurkan pinjaman. Selain itu dengan adanya kondisi kesulitan
keuangan yang dialami oleh SNP Finance, seharusnya Deloitte juga mengetahui bahwa hal
ini menjadi faktor tekanan/pressure bagi perusahaan untuk melakukan
kecurangan/fraud, yaitu dengan memanipulasi laporan keuangan agar tampak baik. Deloitte
seharusnya mengkategorikan kliennya tersebut sebagai high risk, atau beresiko tinggi
melakukan fraud. Dengan adanya kondisi high risk tersebut, mengacu pada standar audit
yang dikeluarkan oleh International Standard on Auditing (ISA) no 330 tentang respon
auditor terhadap resiko kecurangan klien, Deloitte seharusnya menambah porsi pengujian
substantive pada test of details, seperti menambah sampel untuk konfirmasi piutang
pelanggan. Sehingga dari prosedur audit tersebut akan terungkap apabila ternyata banyak
piutang fiktif yang sengaja dibuat oleh kliennya.
Kasus SNP Finance dan Deloitte ini hendaknya menjadi pelajaran bagi para pelaku
bisnis dan auditor. Pelaku bisnis yang ingin melakukan kecurangan, atau manipulasi laporan
keuangan juga berpikir dua kali, karena saat ini OJK telah bersikap kritis untuk menyelidiki
kasus kecurangan manajemen (white collar crime). Auditor dan Kantor Akuntan Publik juga
harus berhati-hati dalam memberikan opini audit, jangan sampai opini yang diberikan
menjadi menyesatkan bagi para pengguna laporan keuangan, sehingga dampaknya jadi
mengakibatkan kerugian material dalam jumlah besar.
http://accounting.binus.ac.id/2018/12/03/merunut-kasus-snp-finance-auditor-deloitte-
indonesia-2/
D. Sanksi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK)
SIARAN PERS
OJK KENAKAN SANKSI TERHADAP
AKUNTAN PUBLIK DAN KANTOR AKUNTAN PUBLIK AUDITOR
PT SUNPRIMA NUSANTARA PEMBIAYAAN

Jakarta, 1 Oktober 2018. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengenakan sanksi


administratif berupa pembatalan pendaftaran kepada Akuntan Publik (AP) Marlinna, Akuntan
Publik (AP) Merliyana Syamsul dan Kantor Akuntan Publik (KAP) Satrio, Bing, Eny dan
Rekan terkait hasil pemeriksaan OJK terhadap PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (PT
SNP).
Pembatalan pendaftaran KAP Satrio, Bing, Eny dan Rekan berlaku efektif setelah
KAP dimaksud menyelesaikan audit Laporan Keuangan Tahunan Audit (LKTA) tahun 2018
atas klien yang masih memiliki kontrak dan dilarang untuk menambah klien baru. Sementara
itu, untuk AP Marlinna dan AP Merliyana Syamsul pembatalan pendaftaran efektif berlaku
sejak ditetapkan OJK pada hari Senin (1/10) ini. Pengenaan sanksi terhadap AP dan KAP
dimaksud hanya berlaku di sektor Perbankan, Pasar Modal dan IKNB.
Laporan Keuangan Tahunan PT SNP telah diaudit AP dari KAP Satrio, Bing, Eny dan
Rekan dan mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian. Namun demikian, berdasarkan
hasil pemeriksaan OJK, PT SNP terindikasi telah menyajikan Laporan Keuangan yang secara
signifikan tidak sesuai dengan kondisi keuangan yang sebenarnya sehingga menyebabkan
kerugian banyak pihak.
Berkenaan dengan hal tersebut, OJK telah berkoordinasi dengan Pusat Pembinaan
Profesi Keuangan (P2PK) Kementerian Keuangan terkait dengan pelaksanaan audit oleh
KAP Satrio, Bing, Eny dan Rekan pada PT SNP. Berdasarkan hasil pemeriksaan P2PK,
kedua AP tersebut dinilai telah melakukan pelanggaran berat dan telah dikenakan sanksi oleh
Menteri Keuangan.
Dengan mempertimbangkan hal-hal tersebut di atas, OJK menilai bahwa AP Marlinna
dan AP Merliyana Syamsul telah melakukan pelanggaran berat sehingga melanggar POJK
Nomor 13/POJK.03/2017 Tentang Penggunaan Jasa Akuntan Publik Dan Kantor Akuntan
Publik, antara lain dengan pertimbangan:
1. Telah memberikan opini yang tidak mencerminkan kondisi perusahaan yang
sebenarnya.
2. Besarnya kerugian industri jasa keuangan dan masyarakat yang ditimbulkan atas opini
kedua AP tersebut terhadap LKTA PT SNP.
3. Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan akibat dari
kualitas penyajian LKTA oleh akuntan publik.
Oleh karena itu, OJK mengenakan sanksi berupa Pembatalan Pendaftaran pada AP
Marlinna, AP Merliyana Syamsul, dan KAP Satrio Bing, Eny dan Rekan.
Pengenaan sanksi terhadap AP dan KAP oleh OJK mengingat LKTA yang telah diaudit
tersebut digunakan PT SNP untuk mendapatkan kredit dari perbankan dan menerbitkan MTN
yang berpotensi mengalami gagal bayar dan/atau menjadi kredit bermasalah. Sehingga
langkah tegas OJK ini merupakan upaya menjaga kepercayaan masyarakat terhadap Industri
Jasa Keuangan.

https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/Siaran-Pers-OJK-Kenakan-
Sanksi-terhadap-Akuntan-Publik-dan-Kantor-Akuntan-Publik-Auditor-PT-Sunprima-
Nusantara-Pembiayaan.aspx