Anda di halaman 1dari 19

PEMBERIAN INJEKSI INSULIN

D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
KELOMPOK 5

1.DONI SYAHDI
2. DIAN INDAH SARI
3.MEI YANTI MALAU
4. SALINDA MANURUNG
5. SALMA SAFITRI

KELAS : PSIK D2.1

PROGRAM STUDI NERS


FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARA INDONESIA
2018
KATA PENGANTAR
Kami panjatkan puji dan syukur kehadiran tuhan yang maha esa atas berkat dan
rahmat karunianya sehingga kami dapat menyusun makalah “PEMBERIAN INJEKSI
INSULIN ”. Dengan baik selesai penyusunannya berkat bantuan moral maupun material dari
berbagai pihak pada kesempatan ini kelompok mengucapkan terima kasih kepada :
j. Perlindungan purba,SH,MM,selaku ketua yayasan sari mutiara Medan
k. Dr. Ivan Elisabeth Purba,M,kep,selaku Rektor universitas sari mutiara Indonesia
l. Taruli Sinaga.SP,M.KM,selaku Dekan Fakultas farmasi dan ilmu kesehatan
m. Ns, Rinco Siregar,S,kep. M, kep, selaku ketua program studi ners fakultas farmasi dan
ilmu kesehatan universitas sari mutiara Indonesia
n. Ns.Agnes Silvia Marbun,S.kep,M,kep,(selaku dosen pengajar)”KEPERAWATAN
MEDIKAL BEDAH II” yang telah memberikan bimbingan,arahan, dan saran kepada
kelompok dalam menyelesaikan makalah ini.
Tim penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan dari isi
maupun susunannya, untuk tim penulis membuka diri terhadap kritik dan saran yang bersifat
membangun demi kesempurnaan makalah ini bermanfaat bagi pengembangan ilmu
pengetahuan khususnya dibidang keperawatan, akhir kata tim penulis mengucapkan
terimakasih.

Medan, 21 Maret 2019

Kelompok 5
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………….i
DAFTAR ISI…………………………………………………………………………………ii

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.................................................................................................................iii
1.2 Tujuan Penelitian.............................................................................................................iii
1.3 Tinjauan Pustaka Diabetes Melitus………………………………………………………iii

BAB 2 TINJAUAN TEORITIS


2.1 Insulin dan analognya .....................................................................................................v
2.2 Patofisiologi ....................................................................................................................vi
2.3 Pengobatan insulin...........................................................................................................viii
2.4 Cara penentuan dosis insulin............................................................................................ix
2.5 Tipe Insulin dan cara pemberian insulin ..........................................................................x
2.6 Komplikasi pengobatan Insulin .......................................................................................xii
2.7 Tipe Insulin dan frekuensi penggunaan ...........................................................................xii

BAB 3 PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................................xiv
KESIMPULAN…………….…………………………………………………………………xv
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Diabetes mellitus adalah suatu kumpulan problema anatomik dan kimiawi yang
merupakan dari sejumlah faktor yang terdapat defisiensi insulin absolut atau relatif dan
gangguan fungsi insulin (WHO, 2011). Menurut (Mashrani, 2007) Diabetes Mellitus
didefinisikan sebagai sindrom penyakit metabolisme dan ketidaksesuaian kadar gula
dalam darah yang dalam kaitannya penurunan sekresi insulin atau kombinasi resistensi
insulin. Sedangkan menurut American Diabetes Association, Diabetes merupakan
penyakit kronis yang memerlukan perawatan medis terus menerus dan pasien self-
management untuk mencegah komplikasi akut dan untuk mengurangi risiko komplikasi
(ADA, 2009). Kesalahan terapi insulin cukup sering ditemukan dan menjadi masalah
klinis yang penting. Bahkan terapi insulin termasuk dalam lima besar “pengobatan
berisiko tinggi (high-risk medication)” bagi pasien di rumah sakit. Sebagian 1 2 besar
kesalahan tersebut terkait dengan kondisi hiperglikemia dan sebagian lagi akibat
hipoglikemia. Jenis kesalahan tersebut antara lain disebabkan keterbatasan dalam hal
keterampilan (skill-based), cara atau protokol (rulebased), dan pengetahuan
(knowledge-based) dalam hal penggunaan insulin (PERKENI, 2008). Ketidakpatuhan
(non compliance) dan ketidaksepahaman (non corcondance) pasien dalam menjalankan
terapi merupakan salah satu penyebab kegagalan terapi. Hal ini sering disebabkan
karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman pasien tentang obat dan segala sesuatu
yang berhubungan dengan penggunaan obat untuk terapinya. Akibat dari
ketidakpatuhan dan ketidaktahuan pasien terhadap terapi/penggunaan obat yang
diberikan antara lain adalah kegagalan terapi, dan yang lebih berbahaya adalah
terjadinya toksisitas. Hal tersebut akibat dari kurangnya informasi dan komunikasi
antara tenaga kesehatan dengan pasien (DepKes, 2007) Penelitian Pennsylvania Patient
Safety Advisory (2010) menunjukkan bahwa penggunaan insulin di kaitkan dengan
kesalahan pengobatan. Dari Januari 2008 sampai 6 Juni 2009 fasilitas kesehatan
mendapat 2.685 laporan kesalahan pengobatan yang melibatkan penggunaan produk
insulin. Kesalahan pengobatan yang paling umum yang berhubungan dengan insulin
yaitu kelalaian obat (24,7%) diikuti oleh salah-obat (13,9%). Lebih dari 52% dari
peristiwa yang dilaporkan di mana pasien mungkin memiliki atau sebenarnya
menerima dosis yang salah atau tidak ada dosis insulin (misalnya, kelalaian dosis, dosis
yang salah, dosis terlalu tinggi / overdosis, dosis terlalu sedikit/underdosage, ) yang
dapat menyebapkan kesulitan dalam mengontrol gula darah (PPSA, 2010). Penelitian
Samodra (2013) menunjukkan bahwa penggunaan injeksi insulin pada semua
responden diabetes mellitus menggunakan Pen di RSUD Dr. Moewardi yang sudah
tepat penggunaannya meliputi pemakaian insulin Novomix sebesar 18 responden (60%)
di sertai frekuensi penyuntikan di lakukan 2x sehari paling banyak penggunaan pada
pagi dan sore hari sebesar 21 3 responden (70%), dan tempat penyimpanan sudah tepat
yaitu di kulkas sebesar 25 responden (83,3%). Sedangkan evaluasi cara injeksi insulin
menunjukkan 24 responden (80%) sudah benar dalam menginjeksi insulin. Berdasarkan
latar belakang di atas, maka dapat disimpulkan penulis untuk melakukan penelitian
tentang evaluasi cara penggunaan injeksi insulin pen pada pasien diabetes mellitus di
RSUD Dr. Raden Soedjati Purwodadi, yang meliputi ketepatan dalam cara
penyuntikan, dosis, waktu penggunaan insulin, jenis insulin yang digunakan dan
frekuensi penggunaannya, serta ketepatan dalam penyimpanan insulin. B. Rumusan
Masalah Permasalahan yang akan dibahas yaitu apakah pasien diabetes melitus di
RSUD Dr. Raden Soedjati Purwodadi telah mengerti ketepatan dalam cara penggunaan
injeksi insulin pen yang diberikan oleh dokter

1.2 Tujuan Penelitian

untuk mengevaluasi ketepatan cara penggunaan injeksi insulin pen pada pasien
diabetes mellitus

1.3 Tinjauan Pustaka Diabetes Mellitus


a. Etiologi Diabetes mellitus atau kencing manis adalah suatu penyakit yang
disebabkan oleh peningkatan kadar gula dalam darah (hiperglikemi) akibat
kekurangan hormon insulin. Baik tidak ada insulin sama sekali maupun
insulin relatif jumlahnya lebih rendah dari kebutuhan atau daya kerjanya
kurang (Rismayanthi, 2010). Menurut American Diabetes Association
(ADA) tahun 2010, Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit
metabolik dengan 4 karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena
kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya (PERKENI,
2011). Diabetes mellitus adalah kondisi kronis yang terjadi ketika kadar
gula dalam darah berada di atas kadar normal. Ini terjadi jika pankreas
tidak cukup memproduksi insulin (hormon yang mengatur gula darah) atau
ketika tubuh tidak efektif menggunakan insulin yang diproduksi tersebut
(WHO, 2011).
b. Diagnosis Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa
darah. Diagnosis tidak dapat ditegakkan atas dasar adanya glukosuria.
Guna penentuan diagnosis DM, pemeriksaan glukosa darah yang
dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan
darah plasma vena. Penggunaan bahan darah utuh, vena ataupun kapiler
tetap dapat dipergunakan dengan memperhatikan angka- angka kriteria
diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan oleh WHO. Sedangkan untuk
tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan
pemeriksaan glukosa darah kapiler (PERKENI, 2011). Diagnosis DM dapat
ditegakkan melalui tiga cara: 1) Jika keluhan klasik ditemukan, maka
pemeriksaan glukosa plasma sewaktu >200 mg/dL sudah cukup untuk
menegakkan diagnosis DM 2) Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥ 126
mg/dL dengan adanya keluhan klasik. 3) Tes toleransi glukosa oral
(TTGO). Meskipun TTGO dengan beban 75 g glukosa lebih sensitif dan
spesifik dibanding dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa, namun
pemeriksaan ini memiliki keterbatasan tersendiri. TTGO sulit untuk
dilakukan berulang-ulang dan dalam praktek sangat jarang dilakukan
karena membutuhkan persiapan khusus 4) Sasaran terapi sebagai acuan
yaitu untuk gula darah puasa Normal 126 mg/dL sedangkan gula darah
2jam postprandial Normal 200 mg/dL (DepKes 2005). Biasanya penderita
DM tipe 2 terjadi pada usia lebih dari 40 tahun. Namun juga dapat diderita
oleh pasien dengan pasien usia muda, yang disertai dengan resiko
kebiasaan tidak aktif, turunan pertama dari orang tua dengan riwayat DM,
diabetes mellitus ( BOP, 2010)
c. Klasifikasi Klasifikasi DM telah disahkan oleh WHO dan telah dipakai
diseluruh dunia, terdapat empat klasifikasi DM, namun ada dua tipe primer
yang dikenali yaitu: DM tipe 1 dan DM tipe 2. DM tipe 1, yang sebelumya
disebut DM yang bergantung insulin, merupakan penyakit autoimun, yang
ditentukan secara genetik dengan gejala-gejala yang pada akhirnya menuju
pada proses bertahap perusakan imunologik sel-sel yang memproduksi insulin.
Pada DM tipe ini, pasien sudah tergantung terhadap insulin karena sel beta
pankreas sudah rusak, sehingga tidak dapat memproduksi insulin, oleh karena
itu sangat dibutuhkan insulin dari luar tubuh. DM tipe 2, sebelumnya disebut
dengan DM tidak bergantung insulin, merupakan suatu bentuk kelainan
metabolik kronik yang disebabkan oleh berkurangnya sekresi insulin, bentuk
kelainan ini diketahui dari adanya hiperglikemia, baik pada saat puasa atau
sesudah makan (BOP, 2010). Jenis DM yang ketiga yaitu DM kehamilan atau
disebut diabetes gestasional (GDM), yaitu suatu gangguan toleransi glukosa
yang memiliki derajat keparahan yang berfariasi dengan awitan dikenalinya
pertama kali selama kehamilan dan mempengaruhi 7% dari semua kehamilan.
Faktor resikonya, etnik, obesitas, riwayat keluarga, dan riwayat GDM
terdahulu. Perempuan yang menderita GDM cenderung mengalami abortus
spontan, kematian janin, ukuran janin besar, dan bayi prematur. Tetapi sekarang
ini kehamilan ibu-ibu dengan DM telah mengalami perbaikan berkat
pengontrolan glukosa darah yang lebih ketat selama kehamilan (BOP, 2010).
BAB II
TINJAUAN TEORITIS

2.1 Insulin dan Analognya


Insulin adalah hormone yang dihasilkan oleh sel beta pulau-pulau langerhan kelenjar
pancreas. Insulin endogen adalah insulin yang dihasilkan oleh pancreas, insulin eksogen
adalah insulin yang disuntikkan dan merupakan produk farmasi. Pada DMT 2
direkomendasikan untuk menggunakan insulin sedini mungkin untuk menghambat laju
progresifitas perjalanan DMT 2 dan menghambat munculnya komplikasi

Pada mulanya, insulin didapat dari ekstrak pankreas binatang sapi dan babi, kemudian
dari manusia (human insulin), dan terakhir lahirlah insulin analog. Insulin analog
merupakan upaya untuk membuat insulin yang menyerupai profile insulin yang
fisiologis (normal) di tubuh kita. Pada human insulin, masih terjadi resiko hiperglikemia
(tingginya kadar gula dalam darah) pada saat 1-2 jam setelah makan, dan hipoglikemik
(rendahnya kadar gula dalam darah) 4-5 jam setelah makan.

Dalam kondisi fisiologis, kebutuhan insulin pasien DM dibagi atas insulin basaldan
insulin prandial. Insulin basal adalah jumlah kebutuhan insulin eksogen perunit yang
dibutuhkan untuk mencegah hiperglikemia puasa. Insulin prandial adalah jumlah insulin yang
dibutuhkan untuk mengkonversi bahan nutrient ke dalam bentuk energi cadangan sehingga
tidak terbentuk hiperglikemik setelah makan.

Insulin basal terdiri dari insulin intermediate, dan insulin long acting. Insulin prandial
terdiri dari short acting dan rapid acting

Cara pemberian :

SC : insulin short acting, rapid acting, intermediate, dan insulin long acting

IV : biasa langsung IV ( dicampur dalam botol infuse yang mengandung
glukosa) atau syringe pump (insulin short
acting dan rapid acting)  CSII (continous
subcutan insulin
[o,imunb

o. Meningkatkan pembentukan tulang (peningkatan Osteogenesis)


p. Penurunan lipolisis (penurunan FFA & Trigliserida, peningkatan HDL-C
q. Penjagaan/penyediaan hormone LH, FSH, Testosteron
2.2 PATOFISIOLOGI

Bagaimana DMT2 bisa terjadi ?

Berdasarkan patofisiologi DMT2, resistensi insulin terjadi paling dini. Resistensi


insulin adalah kondisi di mana

konsentrasi insulin dalam tubuh sangat tinggi akan tetapi tubuh tidak memberikan respon
yang semestinya terhadap kerja insulin, sehingga seakan-akan tubuh kita kekurangan insulin.
Gbr.1. Resistensi insulin
Keadaan ini tak berubah jika tidak diperbaiki. Pada keadaan resistensi insulin, terjadi
hiperinsulinema (peningkatan produksi insulin oleh sebagai kompensasinya), keadaan ini
tidak bisa dipertahankan terus menerus karena sel β

menurun fungsinya sehingga produksi insulin berkurang. Sehingga gula darah menjadi
meningkat 1 jam setelah makan dan diikuti peningkatan gula darah puasa

Berikut skema sederhananya :

Patofisiologi DMT2 : resistensi insulin hiperinsulinemia penurunan


fungsi sel beta produksi insulin menurun gula darah 1 jam post
prandial naik kenaikan gula darah puasa

Proses resistensi insulin dan penurunan fungsi sel β terjadi kurang lebih 10 tahun sebelum
terdiagnosa diabetes. Sehingga pada saat pasien datang ke Dokter dengan keluhan seperti,
banyak makan, banyak minum, banyak kencing, penurunan berat badan, selalu merasa
lelah/kekurangan
energi, gatal di daerah kemaluan, kesemutan sampai mati rasa di tungkai bawah, luka borok
lama sembuh,pengelihatan kabur sampai buta, cuci darah berulang, sebenarnya sudah terjadi
kerusakan atau ( penurunan )

2.3 PENGOBATAN INSULIN PADA DMT2

Pengobatan/terapi insulin bukan hal tahap akhir. Hal ini dipercaya oleh banyak
penderita bahwa pengobatan insulin merupakan akhir dari penyakitnya. Pandangan ini muncul
karena memori dari banyak keluarga seperti kakek/nenek meninggal, gagal ginjal,, amputasi
kaki setelah terapi insulin. Insulin merupakan terapi Diabetes yang tepat untuk mencapai
target gula darah dibandingkan dengan cara lainnya. Penggunaan insulin lebih dini diduga
dapat memperbaiki produksi sel β pancreas dan mencegah penggunaan beberapa macam obat
atau kombinasi insulin di kemudian hari.

Seperti telah diketahui, pada pasien DM terjadi gangguan pengeluaran insulin basal (puasa)
dan prandial (setelah makan) untuk mempertahankan kadar gula darah dalam batas normal
baik pada keadaan puasa
maupun setelah makan. Dengan mengetahui mekanisme tersebut, maka telah dipahami bahwa
hakikat pengobatan DM adalah menurunkan kadar glukosa darah baik puasa maupun setelah
makan. Dalam rangka mencapai sasaran pengobatan yang baik, maka diperlukan insulin
dengan karakteristik insulin menyerupai orang sehat(insulin fisiologis), yaitu kadar insulin
yang sesuai dengan kebutuhan puasa dan setelah makan. Pemberian insulin basal dan insulin
prandial, merupakan salah satu strategi pengobatan untuk memperbaiki kadar gula darah
puasa atau sebelum makan. Oleh karena glukosa darah setelah makan merupakan keadaan
yang dipengaruhi oleh kadar glukosa darah puasa, maka diharapkan dengan menurunkan
kadar glukosa darah basal, kadar glukosa darah setelah makan juga ikut turun
2.4 Berikut cara penentuan dosis insulin

Hitung Insulin Harian Total


(IHT) = 0.5
unit x berat badan (kg)
atau
(penjumlahan dosis
terakhir)
Misal BB 60 kg, IHT =
30 unit

Insulin Prandial Total Insulin basal Total


(IPT) (IBT)
(lispro,Aspart, reguler) = (NPH, Glargin, Ultralente) =
60 % dari 40 % dari
IHT IHT
eg : 60% x 30 unit = 18
unit Mis : 40% x 30 unit =12 unit

Dosis Sarapan Dosis makan


= Dosis makan siang=
malam = 1/3 dari
1/3 dari IPT 1/3 dari IPT Dosis sebelum
IPT
mis : 1/3 x 18
unit Mis : 1/3 x 18 unit = tidur = IBT
Mis : 1/3 x 18
= 6 unit 6 unit
unit = 6 unit

Gambar : Memulai terapi insulin injeksi harian multiple pada pasien DMT1 ( Cheng and
Zinman, 2005)
Idealnya pemberian insulin sesuai dengan keadaan fisiologis tubuh, terapi insulin
diberikan sekali untuk kebutuhan basal dan tiga kali dengan insulin prandial untuk kebutuhan
setelah makan. Namun demikian, terapi insulin yang diberikan dapat divariasikan sesuai
dengan kenyamanan penderita selama terapi insulin mendekati kebutuhan fisiologis.

2.5 Tipe Insulin dan Cara Pemberian Insulin

Cara pemberian insulin yang umum dilakukan adalah dengan semprit dan jarum,
pen insulin, atau pompa insulin (CSII). Sampai saat ini, penggunaan CSII di Indonesia masih
sangat terbatas.
Pen insulin kini lebih popular dibandingkan semprit dan jarum. Cara penggunaannya lebih
mudah dan nyaman, serta dapat dibawa kemana-mana. Kelemahannya adalah kita tidak dapat
mencampur dua jenis insulin menjadi berbagai kombinasi, kecuali yang sudah
tersedia dalam Gbr. Pen insulin
sediaan tetap (insulin premixed)

Tipe Insulin dan Cara Pemberian Insulin

Cara pemberian insulin yang umum dilakukan adalah dengan semprit dan jarum,
pen insulin, atau pompa insulin (CSII). Sampai saat ini, penggunaan CSII di Indonesia masih
sangat terbatas.

Pen insulin kini lebih popular dibandingkan semprit dan jarum. Cara penggunaannya lebih
mudah dan nyaman, serta dapat dibawa kemana-mana. Kelemahannya adalah kita tidak
dapat mencampur dua jenis insulin menjadi berbagai kombinasi, kecuali yang sudah

tersedia dalam Gbr. Pen insulin

sediaan tetap (insulin premixed)


Gbr. Pen insulin
2.6 KOMPLIKASI PENGOBATAN INSULIN

A. Hipoglikemia
Komplikasi terapi insulin yang paling penting adalah hipoglikemia. Terapi insulin intensif
untuk mencapai sasaran kendali glukosa darah yang normal atau mendekati normal cenderung
meningkatkan risiko hipoglikemia. Edukasi terhadap pasien dan penggunaan rejimen terapi
insulin yang mendekati fisiologis dapat mengurangi frekuensi hipoglikemia.

B. Peningkatan berat badan


Pada pasien dengan kendali glukosa yang buruk, peningkatan berat badan tidak dapat
dihindari karena terapi insulin memulihkan massa otot dan lemak (pengaruh anabolik insulin).
Penyebab peningkatan berat badan yang lain adalah makan yang berlebihan serta kebiasaan
mengudap untuk menghindari hipoglikemia. Pasien yang menjalani terapi insulin umumnya
melakukan diet yang lebih longgar dibandingkan dengan diet ketat saat terapi dengan obat
antidiabetik oral. Hal tersebut juga dapat menyebabkan peningkatan berat bad

C. Edema insuli
Edema (bengkak) dapat muncul pada pasien yang memiliki kendali glukosa darah buruk
akibat retensi garam dan air yang akut. Edema dapat menghilang secara spontan dalam
beberapa hari. Kadang-kadang dibutuhkan terapi diuretika (mengeluarkan cairan lewat
kencing) untuk menatalaksana hal tersebut.

D.Reaksi lokal terhadap suntikan insulin


Lipohipertrofi merupakan pertumbuhan jaringan lemak yang berlebihan akibat pengaruh
lipogenik dan growth-promoting dari kadar insulin yang

E. Alergi
Saat ini, dengan penggunaan sediaan insulin yang sangat murni, alergi insulin sudah sangat
jarang terjadi.
tinggi di tempat penyuntikan. Hal itu dapat muncul pada pasien yang menjalani beberapa kali
penyuntikan dalam sehari dan tidak melakukan rotasi tempat penyuntikan. Lipoatrofi adalah
hilangnya jaringan lemak pada tempat penyuntikan. Saat ini, dengan penggunaan sediaan
insulin yang sangat murni, lipoatrofi sudah sangat jarang terjadi
2.7 Tipe insulin dan frekuensi penggunaan insulin Outline of Various
Types of Insulin

Type of Insulin Trade name Comment


Rapid-acting
insulin analogues Superior to regular human insulin in terms of more
- Aspart Novorapid rapid action profile with reduced risk hypoglycemia
- Lispro Humalog 2-5 hours after a meal or overnigt
- Gluisine Apidra
Premixed Usually used twice a day before breakfast and dinner;
insulin/protamin provides postprandial coverage with 2 injection per
- Aspart+aspart- Novolog Mix day, less flexible than use of basal-bolus therapy with
protamine a combination of rapid-acting and long aacting
- Lispro+lispro- Humalog Mix analogues
protamin
Long Acting - Can be used with 1 injection per day in patient
Insulin analogues with type 2 diabetes
- Glargine Lantus - Can be used with 1 injection per day in patient
with type 2 diabetes; excellent reproducibility of
- Detemir Levemir absorbtion profile within individuals; possibly
less weight gain than with other insulins
No recommended Onset of action is too slow and persistence of effect is
- Regular Humulin R too long to mimic a normal prandial physiologic
human insulin Novolin R profile; the result is impaired efficacy and increased
risk of delayed hypoglycemia
Does not provide a sufficiently flat “peakless” basal
- NPH insulin Humulin N insulin; highly variable absorbsion even within
Novolin N individuals; increased risk hipoglicemia compared
with the long acting insulin analogues glargin or
detemir.

Endocr Prac.2009;15(No.6)
Dikutip dari AACE/ACE Consensus Statement,2009
SUMMARY OF INSULIN REGIMENS
Insulin Regimen Components and frequency of administration Injection per day
Basal Glargin or Detemir (daily or twice a day) 1 or 2
Premixed Novolog Mix or Humalog Mix (usually twice 2
aday, occasionally used dayly or 3 times a day)
Prandial Novolog, Humalog, or Apidra (usually 3 times 3
a day)
Basal-Bolus (Multiple Novolog, Humalog, or Apidra (usually 3 times 4
daily injections) a day) in combination with glargin or detemir
(daily)
Continuous Novolog, Humalog, or Apidra Continuous
subcutaneous insulin
infusion
Endocr Prac.2009;15(No.6)
Dikutip dari AACE/ACE Consensus Statement,2009
DAFTAR PUSTAKA
1. Sony Wibisono (2011). Insulin Treatment in Diabetes Mellitus Type 2. Workshop
Sumetsu-7, Mecarsu-7, Sobu-2.Surabaya, 11 Februari
2. Sri Murtiwi A. (2011). Insulin and Its Analogue (Focus on Aspart, Detemir, and
Biphasic Insulin Aspart). Workshop Sumetsu-7, Mecarsu-7, Sobu-2. Surabaya, 11
Februari
3. Askandar Tjokroprawiro (2011). Practical Formula of Insulin Use in Daily Practice.
Joint Symposium Sumetsu-7, Mecarsu-7, Sobu-2. Surabaya, 12-13 Februari
4. American Diabetes association (2011). Standart of Medical Care in Diabetes-2011.
Diabetes Care 34(supl 1),521
5. Bolli CB,et al (1999). Insulin Analogue and Their Potensial in the Management of
Diabetess Mellitus. Diabetologia 42, 1151
6. PB Perkeni (2006). Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Mellitus Tipe 2
di Indonesia. Jakarta, Juni
BAB III
KESIMPULAN

3.1 Insulin adalah hormon utama yang mengendalikan glukosa dari darah ke
dalam sebagian besar sel (terutama sel otot dan lemak, tetapi tidak pada sel
sistem saraf pusat).
Fungsi insulin:
-Membantu pembakaran dan penyerapan glukosa oleh sel badan
-Mengimbangkan paras glukosa didalam darah dan mencegah kencing manis.
-Membantu sel menyimpan tenaga dalam bentuk glukosa didalam hati
-Membantu proses penyimpanan glukosa berlebihan dalam bentuk lemak
didalam hati.