Anda di halaman 1dari 25

ASUHAN KEPERAWATAN

DEMAM KEJANG PADA AN. R


DI RUANG AMARILIS II
Dosen Pengampu : Ns. Erni Suprapti, M.Kep

Di Susun Oleh :
Cindy Avrilia Ayu Wulan Sari
17.018

AKADEMI KEPERAWATAN KESDAM IV/ DIPONEGORO


SEMARANG
2019

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala
rahmat, berkah, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah
yang berjudul epilepsi pada anak ini. Makalah ini disusun guna memenuhi tugas
mata kuliah “Anak” yang di ampu oleh dosen Ns. Erni Suprapti, M.Kep.
Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang sumbernya
berupa artikel dan tulisan telah penulis jadikan referensi guna penyusunan
makalah ini. Penulis berharap, semoga informasi yang ada dalam makalah ini
dapat berguna bagi kami khususnya dan bagi para pembaca pada umumnya. Kami
menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, banyak kekurangan dan
kesalahan. Penulis menerima kritik dan saran yang membantu guna
penyempurnaan makalah ini.

Semarang , 28 Juni 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Judul ............................................................................................. i


Kata Pengantar ............................................................................................. ii
Daftar Isi ............................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................... 1
1.2 Tujuan ............................................................................ 2
BAB II KONSEP DASAR
2.1 Pengertian Kejang Demam ............................................ 3
2.2 Etiologi Kejang Demam ................................................ 3
2.3 Patofisiologi Kejang Demam ......................................... 5
2.4 Pathway Kejang Demam ............................................... 6
2.5 Manifestasi Klinis .......................................................... 7
2.6 Pengobatan Kejang Demam........................................... 7
2.7 Pemeriksaan Penunjang ................................................. 9
BAB III KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 Pengkajian ...................................................................... 10
3.2 Diagnosa Keperawatan .................................................. 16
3.3 Intervensi ....................................................................... 16
3.4 Implementasi .................................................................. 19
3.5 Evaluasi .......................................................................... 20
BAB IV PENUTUP
4.1 Kesimpulan .................................................................... 21
4.2 Saran .............................................................................. 21

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kejang demam (febris convulsion, seizure), ialah perubahan aktifitas
motorik dan / atau behabivor yang bersifat paroksismal dan dalam waktu
terbatas akibat dari adanya aktifitas listrik abnormal di otak yang terjadi akibat
kenaikan suhu tubuh. Kejang pada anak umumnya diprovokasi oleh kelainan
somatik berasal dari luar otak yaitu demam tinggi, infeksi, sinkop, trauma
kepala, hipoksia, keracunan, atau aritmia jantung. Kejang adalah lazim terjadi
pada 10% dari anak pada umur antara 9 bulan - 5 tahun dengan onset
reratanya ialah 14-18 bulan, dengan angka kejadian sekitar 3-4%, serta
prognosisnya adalah baik sekali. Setiap anak dengan kejang demam perlu
diperiksa secara seksama untuk mencari bila terdapat sepsis, meningitis
bakteri, atau penyakit serius lainnya. Selain terkait dengan umur, kejang
demam terjadi dalam beberapa anggota keluarga, dan terdapat peta kromosom
yang membuktikan adanya kaitan predisposisi genetika yaitu kromosom 19p
dan 8q13-21 dan diwariskan dengan pola dominan autosom. Sampai umur 5
tahun anak yang mengalami kejang demam ialah sebanyak 0.5%-10%,
dominan pada anak laki-laki, umur terutama ialah 3 bulan – 5 tahun.
Pada kejang demam sederhana (simple febrile convulsion) biasanya
disertai kenaikan suhu tubuh yang cepat mencapai ≥ 390C, kejang bersifat
umum dan tonik-klonik, umumnya berlangsung beberapa detik / menit dan
jarang sampai 15 menit, tidak berulang dalam 24 jam, pada akhir kejang
kemudian diakhiri dengan suatu keadaan singkat seperti mengantuk
(drowsiness), dan bangkitan kejang terjadi hanya sekali dalam 24 jam. Bentuk
kedua disebut kejang demam kompleks (complex or complicated febrile
convulsion) dengan sifat berupa lama kejang > 15 menit, kejang dapat
berlangsung dalam 24 jam, dan terdapat kejang fokal atau temuan fokal dalam
masa pasca bangkitan (postictal period). Faktor resiko untuk timbul epilepsi
ialah gambaran kompleks waktu bangkitan dan pasca iktal, kejang bermula

1
pada umur < 12 bulan, milestone tumbuh kembang terlambat, dan terdapat
kelainan neurologik sebelumnya. Pada kejang demam tidak dijumpai adanya
kelainan pada uji cairan serebrospinal (CSS). Pada anak umur < 12 bulan
dengan kejang kompleks terutama bila kesadaran pasca iktal meragukan
pemeriksaan CSS sangat diperlukan untuk memastikan kemungkinan adanya
meningitis.
Pengobatan kejang demam ditujukan pertama untuk segera mengatasi
kejang yang terjadi dengan pemberian diazepam per rektal (0.5 mg/kg) atau
per oral 1 mg/kg/24 jam dalam 3 dosis biasanya selama -3 hari, dan antipiretik
untuk segera menurunkan peningkatan suhu tubuh. Penyebab demam segera
diidentifikasi dan diatasi dengan pemberian obat yang sesuai. Pemberian
antikonvulsan untuk upaya pencegahan dianggap kontroversi karena kurang
efektif dan pengaruh efek samping yang tak dikehendaki. Bila demam (38.50C
atau lebih) untuk mencegah terjadinya kejang dapat diberi antipiretik.

1.2 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian kejang demam.
2. Untuk mengetahui etiologi kejang dema.
3. Untuk mengetahui patofisiologi kejang demam.
4. Untuk mengetahui pathway kejang demam.
5. Untuk mengetahui manifestasi klinik kejang demam.
6. Untuk mengetahui pengobatan kejang demam.
7. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang kejang demam.
8. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada anak yang mengalami kejang
demam.

2
BAB II
KONSEP DASAR MEDIS

2.1 Pengertian Kejang Demam


Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu
tubuh (suhu rektal lebih dari 380C) yang disebabkan oleh suatu proses step.
Kejang demam terjadi pada anak usia 3 bulan hingga 5 tahun. Setelah kejang
demam pertama, ada kemungkinan terulang kembali. Pada anak, resiko
kejang demam berulang pada anak akan meningkat bila didapatkan faktor-
faktor sebagai berikut :
a. Usia dini pada saat pertama mengalami kejang demam.
b. Cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul.
c. Suhu tubuh yang rendah saat kejang.
d. Adanya riwayat keluarga yang kejang demam dan adanya riwayat keluarga
yang epilepsi. (Febry, AB, Marendra, Z. 2010
Kejang merupakan salah satu komplikasi demam yang menakutkan bagi
orangtua. Kejang disebut sebagai komplikasi demam, bila memang tidak ada
penyakit intrakranial (penyakit di selaput otak/di dalam otak) yang mendasari
terjadinya kejang, misal pada kasus meningitis atau ensefalitis. Kejang akibat
demam terjadi pada 5-10% populasi (Asia). Kejang demam umumnya terjadi
pada usia antara 6 bulan – 6 tahun dengan puncak kejadian pada usia sekitar
18 bulan. Faktor resiko terjadinya kejang demam adalah faktor
genetik/keturunan, misalnya :
a. Orangtua dengan riwayat kejang demam (pada masa kanak-kanak).
b. Saudara kandung dengan riwayat kejang demam.
c. Orangtua dengan riwayat epilepsi (kejang tanpa demam). (Handy, Fransisca.
2016).

2.2 Etilogi Kejang Demam


Penyebab kejang demam hingga kini belum diketahui. Namun, kondisi
ini sering disebabkan oleh infeksi saluran pernapasan atas, infeksi telinga

3
bagian tengah, infeksi paru-paru, infeksi saluran pencernaan dan infeksi
saluran kemih. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi. Kadang-
kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang.
Umumnya, kejang demam berlangsung singkat, berupa serangan
kejang klonik (kejang dengan kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan
berirama) atau tonik-klonik bilateral (kejang dengan kontraksi dan kekakuan
otot menyeluruh bergantian dengan kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan
berirama). Bentuk kejang yang lain dapat juga terjadi seperti mata terbalik ke
atas dengan disertai kekakuan atau kelemahan, gerakan sentakan berulang
tanpa didahului kekakuan, atau bisa juga hanya berupa sentakan atau terjadi
kekakuan keseluruhan. Sebagian besar kejang berlangsung kurang dari 6
menit dan 8% berlangsung lebih dari 15 menit. (Febry, AB, Marendra, Z.
2010). Menurut Nationall Collaborative Perinatal Project membagi kejang
demam menjadi 2 kategori yaitu:
a. Kejang demam sederhana
Disebut kejang demam sederhana jika : kejang dibawah 15 menit,
kejang umum (kejang mengenai seluruh bagian tubuh), kejang 1 kali saja
dalam 24 jam (tidak berulang dalam 1 kali episode demam).
b. Kejang demam kompleks
Disebut kejang demam kompleks jika : kejang diatas 15 menit , kejang
fokal (hanya bagian tubuh tertentu , misalnya kaki kanan saja atau tangan
kanan saja) kejang lebih dari 1 kali dalam 24 jam (lebih dari 1 kali episode
demam).
Kejang demam kompleks biasanya membutuhkan pengobatan anti-
kejang hingga 1 tahun. Kejang demam kompleks berhubungan dengan
terjadinya epilepsi dikemudian hari. Anak dengan tipe kejang demam
kompleks berisiko 1,4 lebih besar menderita kekambuhan kejang demam
kembali dikemudian hari.

4
2.3 Patofisiologi Kejang
Patofisiologi kejang demam adalah akibat meningkatnya suhu tubuh
menyebabkan peningkatan metabolisme tubuh meski sedang tidak
berkegiatan. Dengan meningkatnya metabolisme maka pasokan oksiegen ke
otak menurun. Pada anak yang peka terjadilah kejang demam. Apabila
berkurangnya oksigen keotak sampai meningkatkan tekanan intra cranial
(TIK) maka dapat terjadi gangguan suplaai (perfusi) nutrisi ke jaringan
seluruh tubuh sehingga terjadilah gangguan tumbuh kembang.
Pada demam, kenaikan suhu 100C akan mengakibatkan kenaikan
metabolisme basal 10-15% dan kebutuhan O2 meningkat 20%. Pada seorang
anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh tubuh
dibandingkan dengan orang dewasa hanya 15%. Oleh karena itu, kenaikan
suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan membran sel neuron dan dalam
waktu singkat terjadi difusi dari ion kalium dan natrium melalui membran
listrik dengan bantuan “neurotransmitter”, perubahan yang terjadi secara tiba-
tiba ini dapat menimbulkan kejang (Ngastiyah, 2005).

5
2.4 Pathway

Peningkatan suhu
tubuh

Metabolisme basal Resiko tinggi


meningkat gangguan
kebutuhan
nutrisi

O2 ke otak
menurun

TIK
Kejang demam meningkat

Gangguan
Kejang demam Kejang demam
perfusi jaringan
sederhana komplek

Resiko tinggi
Resiko Resiko tinggi
gangguan
infeksi berulang
tumbuh
kembang

6
2.5 Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis Tanda- tanda kejang demam meliputi:
a. Demam yang biasanya di atas (38,9 º C).
b. Jenis kejang (menyentak atau kaku otot).
c. Gerakan mata abnormal (mata dapat berputar-putar atau ke atas).
d. Suara pernapasan yang kasar terdengar selama kejang.
e. Penurunan kesadaran.
f. Kehilangan kontrol kandung kemih atau pergerakan usus.
g. Muntah.
h. Dapat menyebabkan mengantuk atau kebingungan setelah kejang dalam
waktu yang singkat (Lyons, 2012).

2.6 Pengobatan Demam Kejang


Pertolongan pertama yang dilakukan pada pasien ini adalah pemberian
oksigenasi sebagai tindakan awal dalam mengatasi kejang merupakan
tindakan yang tepat, hal ini dikerenakan pada saat seorang anak sedang dalam
keadaan kejang maka suplai oksigen ke otak semakin berkurang.
Pengobatan fase akut pada waktu kejang dengan memiringkan untuk
mencegah aspirasi ludah atau muntahan dan diusahakan jalan nafas harus
bebas agar oksigenisasi terjamin. Perhatikan keadaan vital seperti kesadaran,
tekanan darah, suhu, pernafasan, dan fungsi jantung. Pengobatan demam
kejang pada anak terdapat 2 cara yaitu:
a. Pengobatan fase akut.
b. Pengobatan prokfilaksis terhadap berulangnya kejang.

Pengobatan Fase Akut


Bila anak mengalami kejan harus dijamin terbukanya jalan nafas, obat
pilihan utama adalah diazepam yang di berikan secara intervena atau
intarektal. Suhu yang tinggi di turunkan dengan kompres air dingin dan
pemberian antipiretik.

7
Pengobatan Prokfilaksis

Pencegahan berulannya kejang demam perlu dilakukan karena


menakutkan dan bila sering berulan menyebabkan kerusakan otak
yan menetap. Terdapat 2 cara prokfilaksis, yaitu:
a. Prokfilaksis intermittent pada saat demam
Antikonvulsan hanya diberikan pada waktu pasien demam dengan
ketentuan orang tua pasien atau pengasuh menetahui dengan cepat adanya
demam pada penderita. Obat yang diberikan harus cepat diabsorbsi dan
cepat masuk ke otak. Diazepam intermittent memberikan hasil yang baik
karena cepat diabsorbsi. Dapat diunakan diaepam intrarektal tiap 8 jam,
pada saat suu tubuh 38,5 C atau lebih. Dapat juga diberikan melalui oral
pada saat demam.
Knudsen (1985) mendapatkan bahwa pemberian diazepam seaktu
dalam bentuk larutan pada seorang anak saat mengalami demam dapat
mencegah kecepatan berulangnya kejang, frekuensi berulang kejang dan
berulangnya kejang yang lama. Keuntunan dari cara ini adalah :
1. Tidak perlu diberikan setiap hari, hanya pada kenaikan suhu kurang
lebih 380C atau bila kejang kembvali.
2. Tidak mempenaruhi kehidupan sehari-hari, seperti gangguan tinkah
laku, gangguan tidur atau gangguan fungsi kognitif.

b. Prokfilaksis terus menerus dengan anti konvulsan setiap hari


Beberapa penelitian menyatakan bahwa 40-70 % risiko
berulangnya kejang dapat dikurangi dengan pemberian pengobatan
(fenobarpital) setiap hari dengan dosis yang cukup untuk mencapai kadar
terapi minimal di dalam darah (15 ug/ml).
Sedangkan konsesnsus bersama menenai kejang demam yang di
adakan oleh National Institutes of Health (1980), menganjurkan untuk
mempertimbangkan pemberian prokfilaksis antikonvulsan, jika pada anak
terdapat keadaan :

8
1. Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan neurologis
atau perkembangan.
2. Ada riayat kejang tanpa demam pada oran tua atau saudara kandung.
3. Kejang lebih dari 15 menit, fokal atau diikuti kalainan neurolois
sementara atau menetap.
4. Frekuensi kejang lebih dari 2 kali dalam 24 jam (kejang multipel).
5. Bayi berumur kuran dari 12 bulan.
Indikasi pemberian pada nomor 1-4 karena faktor resiko timbulnya kejang
tanpa demam setelah kejang demam. Sedangkan usia kurang dari 12 bulan
merupakan faktor resiko terjadinya kejang demam berulang.
Antikonvulsan prokfilaksis terus menerus di berikan selama 1-2 tahun
setelah kejang terakhir, kemudian di hentikan secara bertahap selama 1-2
bulan.
Obat lain yang dapat di gunakan sebagai prokfilaksis kejang
demam adalah asam valporat yang sama atau bahkan lebih baik
dibandingkan fenobarpital tatapi kadang menunjukkan efek samping
hepatotoksisk.
Pemberian fenobarpital atau asam valporat secara terus menerus
dan dipertahankan dalam kadar terapi dapat mencegah berulangnya kejang
demam hingga 900% dari jumlah penderita.

2.7 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan anak dengan kejang demam antara lain :
a. Pemeriksaan darah , seperti hitung darah lengkap untuk mencari penyebab
demam.
b. Jika anak berusia dibawah 2 tahun , biasanya dilakukan pemeriksaan
cairan otak untuk memastikan adanya infeksi atau peradangan di otak.
c. Pemeriksaan CT Scan , misalnya jika anak kejang tanpa demam.

9
BAB III
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN KEJANG DEMAM ANAK

3.1 Pengkajian
Pengumpulan data pada kasus kejang demam ini meliputi :
a. Data Subjektif
1. Biodata/Identitas
Biodata anak mencakup nama, umur, jenis kelamin.Biodata orang tua
perlu dipertanyakan untuk mengetahui status sosial anak meliputi
nama, umur, agama, suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, penghasilan,
alamat.
2. Riwayat Penyakit (Darto Suharso, 2000)
Riwayat penyakit yang diderita sekarang tanpa kejang ditanyakan :
a) Apakah betul ada kejang ?
Diharapkan ibu atau keluarga yang mengantar dianjurkan
menirukan gerakan kejang si anak
b) Apakah disertai demam ?
Dengan mengetahui ada tidaknya demam yang menyertai kejang,
maka diketahui apakah infeksi infeksi memegang peranan dalam
terjadinya bangkitan kejang. Jarak antara timbulnya kejang dengan
demam.
c) Lama serangan
Seorang ibu yang anaknya mengalami kejang merasakan waktu
berlangsung lama. Lama bangkitan kejang kita dapat mengetahui
kemungkinan respon terhadap prognosa dan pengobatan.
d) Pola serangan
Perlu diusahakan agar diperoleh gambaran lengkap mengenai pola
serangan apakah bersifat umum, fokal, tonik, klonik ?
e) Apakah serangan berupa kontraksi sejenak tanpa hilang kesadaran
seperti epilepsi mioklonik ?

10
f) Apakah serangan berupa tonus otot hilang sejenak disertai
gangguan kesadaran seperti epilepsi akinetik ?
g) Apakah serangan dengan kepala dan tubuh mengadakan flexi
sementara tangan naik sepanjang kepala, seperti pada spasme
infantile ?
h) Frekuensi serangan
i) Apakah penderita mengalami kejang sebelumnya, umur berapa
kejang terjadi untuk pertama kali, dan berapa frekuensi kejang per
tahun. Prognosa makin kurang baik apabila kejang timbul pertama
kali pada umur muda dan bangkitan kejang sering timbul.
j) Sebelum kejang perlu ditanyakan adakah aura atau rangsangan
tertentu yang dapat menimbulkan kejang, misalnya lapar, lelah,
muntah, sakit kepala dan lain-lain. Dimana kejang dimulai dan
bagaimana menjalarnya. Sesudah kejang perlu ditanyakan apakah
penderita segera sadar, tertidur, kesadaran menurun, ada paralise,
menangis dan sebagainya ?
3. Riwayat penyakit sekarang yang menyertai
Apakah muntah, diare, truma kepala, gagap bicara (khususnya pada
penderita epilepsi), gagal ginjal, kelainan jantung, DHF, ISPA, OMA,
Morbili dan lain-lain.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Sebelum penderita mengalami serangan kejang ini ditanyakan apakah
penderita pernah mengalami kejang sebelumnya, umur berapa saat
kejang terjadi untuk pertama kali ? Apakah ada riwayat trauma kepala,
radang selaput otak, KP, OMA dan lain-lain.
5. Riwayat Kehamilan dan Persalinan
Kedaan ibu sewaktu hamil per trimester, apakah ibu pernah mengalami
infeksi atau sakit panas sewaktu hamil. Riwayat trauma, perdarahan
per vaginam sewaktu hamil, penggunaan obat-obatan maupun jamu
selama hamil. Riwayat persalinan ditanyakan apakah sukar, spontan
atau dengan tindakan ( forcep/vakum ), perdarahan ante partum, asfiksi

11
dan lain-lain. Keadaan selama neonatal apakah bayi panas, diare,
muntah, tidak mau menetek, dan kejang-kejang.
6. Riwayat Imunisasi
Jenis imunisasi yang sudah didapatkan dan yang belum ditanyakan
serta umur mendapatkan imunisasi dan reaksi dari imunisasi. Pada
umumnya setelah mendapat imunisasi DPT efek sampingnya adalah
panas yang dapat menimbulkan kejang.
7. Riwayat Perkembangan
Ditanyakan kemampuan perkembangan meliputi :
1) Personal sosial (kepribadian/tingkah laku sosial) : berhubungan
dengan kemampuan mandiri, bersosialisasi, dan berinteraksi
dengan lingkungannya.
2) Gerakan motorik halus : berhubungan dengan kemampuan anak
untuk mengamati sesuatu, melakukan gerakan yang melibatkan
bagian-bagian tubuh tertentu saja dan dilakukan otot-otot kecil dan
memerlukan koordinasi yang cermat, misalnya menggambar,
memegang suatu benda, dan lain-lain.
3) Gerakan motorik kasar : berhubungan dengan pergerakan dan sikap
tubuh.
4) Bahasa : kemampuan memberikan respon terhadap suara,
mengikuti perintah dan berbicara spontan.
8. Riwayat kesehatan keluarga.
Adakah anggota keluarga yang menderita kejang (+ 25 %
penderita kejang demam mempunyai faktor turunan). Adakah anggota
keluarga yang menderita penyakit syaraf atau lainnya ? Adakah
anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ISPA, diare atau
penyakit infeksi menular yang dapat mencetuskan terjadinya kejang
demam.

12
9. Riwayat sosial
Untuk mengetahui perilaku anak dan keadaan emosionalnya perlu
dikaji siapakah yanh mengasuh anak ? Bagaimana hubungan dengan
anggota keluarga dan teman sebayanya ?
10. Pola kebiasaan dan fungsi kesehatan
a) Aktivitas atau Istirahat
1) Keletihan, kelemahan umum.
2) Keterbatasan dalam beraktivitas, bekerja, dan lain-lain
b) Sirkulasi
1) Iktal : Hipertensi, peningkatan nadi sinosis
2) Posiktal : Tanda-tanda vital normal atau depresi dengan
penurunan nadi dan pernafasan
c) Intergritas Ego
1) Stressor eksternal atau internal yang berhubungan dengan
keadaan dan atau penanganan
2) Peka rangsangan : pernafasan tidak ada harapan atau tidak
berdaya
3) Perubahan dalam berhubungan
d) Eliminasi
1) Inkontinensia epirodik
e) Kebutuhan Nutrisi
1) Sensitivitas terhadap makanan, mual atau muntah yang
berhubungan dengan aktivitas kejang
f) Neurosensori
1) Riwayat sakit kepala, aktivitas kejang berulang, pinsan, pusing
riwayat trauma kepala, anoreksia, dan infeksi serebal.
2) Adanya area (rasangan visual, auditoris, area halusinasi)
3) Posiktal : Kelamaan, nyeri otot, area paratise atau paralisis
g) Kenyamanan
1) Sakit kepala, nyeri otot, (punggung pada periode posiktal)
2) Nyeri abnormal proksimal selama fase iktal

13
h) Pernafasan
1) Fase iktal : Gigi menyetup, sinosis, pernafasan menurun cepat
peningkatan sekresi mulus.
2) Fase posektal : Apnea
i) Keamanan
1) Riwayat terjatuh
2) Adanya alergi
j) Interaksi Sosial
1) Masalah dalam hubungan interpersonal dalam keluarga
lingkungan sosialnya
2) Perubahan kekuatan atau tonus otot secara menyeluruh
b. Data Objektif
1. Pemeriksaan Umum
Pertama kali perhatikan keadaan umum vital : tingkat
kesadaran, tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu. Pada kejang
demam sederhana akan didapatkan suhu tinggi sedangkan kesadaran
setelah kejang akan kembali normal seperti sebelum kejang tanpa
kelainan neurologi.
2. Pemeriksaan Fisik
a) Kepala
Adakah tanda-tanda mikro atau makrosepali? Adakah dispersi
bentuk kepala? Apakah tanda-tanda kenaikan tekanan intrakarnial,
yaitu ubun-ubun besar cembung, bagaimana keadaan ubun-ubun
besar menutup atau belum ?
b) Rambut
Dimulai warna, kelebatan, distribusi serta karakteristik lain rambut.
Pasien dengan malnutrisi energi protein mempunyai rambut yang
jarang, kemerahan seperti rambut jagung dan mudah dicabut tanpa
menyebabkan rasa sakit pada pasien.

14
c) Muka/ Wajah
Paralisis fasialis menyebabkan asimetri wajah; sisi yang paresis
tertinggal bila anak menangis atau tertawa, sehingga wajah tertarik
ke sisi sehat. Adakah tanda rhisus sardonicus, opistotonus, trimus ?
Apakah ada gangguan nervus cranial ?
d) Mata
Saat serangan kejang terjadi dilatasi pupil, untuk itu periksa pupil
dan ketajaman penglihatan. Apakah keadaan sklera, konjungtiva ?
e) Telinga
Periksa fungsi telinga, kebersihan telinga serta tanda-tanda adanya
infeksi seperti pembengkakan dan nyeri di daerah belakang telinga,
keluar cairan dari telinga, berkurangnya pendengaran.
f) Hidung
Apakah ada pernapasan cuping hidung? Polip yang menyumbat
jalan napas ? Apakah keluar sekret, bagaimana konsistensinya,
jumlahnya ?
g) Mulut
Adakah tanda-tanda sardonicus? Adakah cynosis? Bagaimana
keadaan lidah? Adakah stomatitis? Berapa jumlah gigi yang
tumbuh? Apakah ada caries gigi ?
h) Tenggorokan
Adakah tanda-tanda peradangan tonsil ? Adakah tanda-tanda
infeksi faring, cairan eksudat ?
i) Leher
Adakah tanda-tanda kaku kuduk, pembesaran kelenjar tiroid ?
Adakah pembesaran vena jugulans?
j) Thorax
Pada infeksi, amati bentuk dada klien, bagaimana gerak
pernapasan, frekwensinya, irama, kedalaman, adakah retraksi
Intercostale ? Pada auskultasi, adakah suara napas tambahan ?

15
k) Jantung
Bagaimana keadaan dan frekwensi jantung serta iramanya ?
Adakah bunyi tambahan ? Adakah bradicardi atau tachycardia ?
l) Abdomen
Adakah distensia abdomen serta kekakuan otot pada abdomen ?
Bagaimana turgor kulit dan peristaltik usus ? Adakah tanda
meteorismus? Adakah pembesaran lien dan hepar ?
m) Kulit
Bagaimana keadaan kulit baik kebersihan maupun warnanya?
Apakah terdapat oedema, hemangioma ? Bagaimana keadaan
turgor kulit ?
n) Ekstremitas
Apakah terdapat oedema, atau paralise terutama setelah terjadi
kejang? Bagaimana suhunya pada daerah akral ?
o) Genetalia
Adakah kelainan bentuk oedema, sekret yang keluar dari vagina,
tanda-tanda infeksi ?

3.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit (terganggunya sistem
termoregulasi).
2. Risiko cedera berhubungan dengan adanya kejang.
3. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan intake cairan yang tidak
adekuat.
4. Defisiensi pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.

3.3 INTERVENSI KEPERAWATAN


No.
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Dx
Setelah dilakukan tindakan Fever Treatment ( 3740 )
1
keperawatan ....x... jam diharapkan 1. Berikan Tappid Water

16
masalah dapat teratasi dengan kriteria Sponge
hasil 2. Monitor suhu setiap 2 jam
Thermoregulation ( 0800 ) sekali
1. Suhu tubuh dalam rentang normal 3. Kompres pasien
dari skala 1 (sangat terganggu) ke menggunakan air hangat
skala 5 (tidak terganggu) pada bagian ubun-ubun,
2. Tidak ada perubahan warna kulit axilla, perut, leher, dan lipat
dari skala 1 (sangat terganggu) ke paha
skala 5 (tidak terganggu) 4. Tingkatkan intake cairan
dan nutrisi klien
5. Sesuaikan suhu lingkungan
pasien
6. Anjurkan keluarga klien
untuk memberikan pakaian
yang tipis yang dapat
menyerap keringat
7. Anjurkan untuk tidak
memakai selimut
8. Tingkatkan istirahat yang
cukup
9. Berikan minum air putih
yang banyak untuk
mencegah dehidrasi
10. Kolaborasi pemberian cairan
intravena
11. Berikan antipiretik
Setelah dilakukan tindakan Environment Management (
keperawatan selama ...x.... jam 6480 )
2 diharapkan risiko cedera tidak terjadi 1. Anjurkan keluarga untuk
dengan kriteria : menemani pasien
Risk Control ( 1902 ) 2. Pasang side rail tempat tidur

17
1. Klien terbebas dari cidera dari 3. Anjurkan keluarga untuk
skala 1 (sangat terganggu) ke skala tidak panik dan tetap tenang
5 (tidak terganggu). saat anak kejang
2. Mampu menjelaskan untuk 4. Longgarkan jalan nafas
mencegah cedera dari skala 1 5. Jangan memasukkan benda
(sangat terganggu) ke skala 5 apapun kedalam mulut saat
(tidak terganggu) kejang
6. Jika akan memasukan benda
ke mulut gunakan bahan
yang aman, tidak mudah
patah dan tidak berbahaya
7. Longgarkan pakaiannya jika
ketat khususnya pada leher
8. Identifikasi karakteristik dari
lingkungan yang dapat
menjadikan potensial jatuh
9. Jangan memberikan
makanan atau minuman
10. Melindungi anak selama
kejang dengan
menyingkirkan barang
berbahaya di sekitar tempat
tidur anak
11. Jangan memegangi anak
untuk melawan kejang
12. Miringkan anak saat terjadi
kejang
13. Perawat juga berkolaborasi
dengan dokter dalam
pemberian obat antikovulsan
dengan dosis tepat sesuai

18
anjuran dokter
Setelah melakukan tindakan 1. Monitor diare dan muntah.
keperawatan selama ...×... jam 2. Monitor balance cairan.
masalah risiko defisit volume cairan 3. Monitor pemberian cairan
b.d Intake cairan yang tidak adekuat parenteral.
dapat teratasi dengan kriteria hasil : 4. Monitor tanda dehidrasi.
3 1. Irama nadi normal dari skala 1 5. Awasi tanda-tanda
(sangat terganggu) ke skala 5 hipovolemik
(tidak terganggu).
2. Tidak ada tanda dehidrasi dari
skala 1 (sangat terganggu) ke skala
5 (tidak terganggu).
Setelah melakukan tindakan 1. Kaji pengetahuan keluarga
keperawatan selama ...×... jam tentang proses penyakit.
masalah defisiensi pemgetahuan b.d 2. Jelaskan tentang
kurang informasi dapat teratasi dengan patofisiologi penyakit dan
kriteria hasil : tanda gejala penyakit.
4 1. Mengetahui penyakit yang dialami 3. Jelaskan penanganan
dari skala 1 (sangat terganggu) ke penyakit.
skala 5 (tidak terganggu). 4. Identifikasi penyebab
2. Mengetahui penanganan penyakit penyakit
dari skala 1 (sangat terganggu) ke 5. Berikan penkes
skala 5 (tidak terganggu).

3.4 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN


Implementasi dilaksanakan sesuai dengan rencana keperawatan oleh perawat
terhadap pasien

19
3.5 EVALUASI
Diagnosa Keperawatan Evaluasi
Hipertermi berhubungan dengan Suhu tubuh dalam rentang normal, tidak
proses penyakit (terganggunya ada perubahan warna kulit.
sistem termoregulasi).
Risiko cedera berhubungan dengan Klien terbebas dari cidera, mampu
adanya kejang. menjelaskan untuk mencegah cidera.
Resiko defisit volume cairan Irama nadi normal, tidak ada tanda
berhubungan dengan intake cairan dehidrasi.
yang tidak adekuat.
Defisiensi pengetahuan berhubungan Mengetahui penyakit yang dialami,
dengan kurangnya informasi. mengetahui penanganan penyakit.

20
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kejang demam adalah suatu keadaan dimana bangkitan kejang yang
terjadi karena peningkatan suhu tubuh (suhu rectal > 380C) yang sering di
jumpai pada usia anak dibawah lima tahun.
Kejang demam merupakan kelainan neurologis yang sering dijumpai pada
saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf
pusat. Kejang demam biasanya terjadi pada awal demam. Anak akan terlihat
aneh untuk beberapa saat, kemudian kaku, kelojotan dan memutar matanya.
Anak tidak responsif untuk beberapa waktu, napas akan terganggu, dan kulit
akan tampak lebih gelap dari biasanya. Setelah kejang, anak akan segera
normal kembali. Kejang biasanya berakhir kurang dari 1 menit, tetapi
walaupun jarang dapat terjadi selama lebih dari 15 menit.
Oleh karena itu, sangat penting bagi para orang tua untuk melakukan
pemeriksaan sedini mungkin pada anaknya agar hal-hal yang tidak di inginkan
dapat diketahui secara dini sehingga kejang demam dapat dicegah sedini
mungkin

4.2 Saran
a. Untuk mahasiswa
Mahasiswa harus lebih memperdalam ilmu pengetahuan serta
keterampilan dengan cara terus membaca dan berlatih agar kualitas asuhan
yang diberikan pada klien lebih baik.
b. Untuk Pihak Akademik
Pihak Akademik diharapkan dapat menyediakan buku sumber yang
lebih lengkap untuk mempermudah mahasiswa mencari literatur yang
diperlukan dalam meningkatkan ilmu pengetahuannya.terutama buku
sumber yang berkaitan dengan kasus kejang demam.

21
DAFTAR PUSTAKA

Arif Triza. 2005. PERAN SIKAP ORANG TUA TERHADAP KEJADIAN KEJANG
DEMAM BERULANG (Tesis). Semarang (ID). Proram Pendidikan Dokter
Spesialis I Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang.
Berita Ilmu Keperawatan ISSN 1979-2697, Vol 2 No 3, September 2009: 143-146
Febry, AB, Marendra, Z. 2010. Smart Parents: Pandai Mengatur Menu
&Tanggap Saat Anak Sakit. Jakarta : Gagas Media.
Handy, Fransisca. 2016. A-Z Penyakit Langganan Anak. Jakarta : Pustaka Bunda.
Dr. Rendi Aji Prihaningtyas , Deteksi dan Cepat Obati 30+ Penyakit yang Sering
Menyerang Anak : Tangani dengan Tepat Agar Anak Tetap Sehat , Media
Pressindo ; 2014.
Keperaatan Share. 2011.
Wardhana. 2013. KEJANG DEMAM SEDERHANA PADA ANAK USIA SATU
TAHUN.Fakultas Kedokteran Universitas Lampung. 1(1) 6

22

Anda mungkin juga menyukai