Anda di halaman 1dari 6

1. Bagaimana pendapat anda terkait situasi diatas ?

Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi (SPM Dikti) bertujuan untuk menjamin
pemenuhan Standar Dikti secara sistemik dan berkelanjutan, sehingga budaya mutu dapat
bertumbuh dan berkembang. Dengan demikian, SPMI sebagai salah satu sub sistem dari SPM
Dikti, bertujuan meningkatkan mutu pendidikan tinggi secara sistemik dan berkelanjutan
melalui PPEPP Standar Dikti, sehingga budaya mutu dapat bertumbuh dan berkembang
(Kemenristek, 2018). Tujuan ini hanya dapat dicapai apabila setiap perguruan tinggi telah
mengimplementasikan SPMI dengan baik dan benar, dan luarannya dimintakan akreditasi
(SPME). Mutu pendidikan tinggi perlu senantiasa ditingkatkan karena menurut Undang-
undang Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2012 Tentang Pendidikan Tinggi bahwa
pendidikan tinggi sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional memiliki peran strategis
dalam mencerdaskan kehidupan bangsa dan memajukan teknologi dengan memperhatikan
dan menerapkan nilai humaniora serta pembudayaan dan pemberdayaan bangsa Indonesia
yang berkelanjutan. Untuk itu diperlukan rencana strategis perguruan tinggi dalam
mengimplementasikan SPMI dan SPME dengan baik dan optimal sesuai dengan standar
nasional pendidikan tinggi.

2. Uraikan hambatan dan kendala yang sering dialami/ dijumpai dalam mengimplementasikan
SPMI di Perguruan Tinggi
Basri (2018) memaparkan beberapa hambatan dan kendala yang dihadapi dalam
implementasi SPMI di perguruan tinggi, antara lain:
1) Kurangnya pemahaman oleh seluruh civitas akademika dan seluruh tenaga kependidikan
dalam Perguruan Tinggi sehingga menurunkan keterlibatan dalam proses pelaksanaan
penjaminan mutu dalam sebuah perguruan tinggi.
2) Adanya Kelemahan konsistensi, loyalitas serta komitmen dari otoritas PT dan seluruh
perangkat dalam perguruan tinggi baik internal maupun perangkat external. Hal ini
merupakan hal yang urgen karena jika kelemahan ini terjadi maka penyusunan
dan implementasi SPMI menjadi tidak optimal sehingga Sikap dan pendapat bahwa
tanggungjawab untuk menjamin, meningkatkan, dan membudayakan mutu hanya terletak
pada Pimpinan atau para pejabat struktural, dan bukan pada setiap individu yang terlibat
dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi.
3) Adanya ketidaksesuaian pemikiran dan tindakan dalam perguruan tinggi misalnya antara
pemilik yayasan dengan pengelola/manajemen dari perguruan tinggi juga akan menjadi
pemicu tidak komitmennnya penyusunan dan implementasi SPMI.
4) Kepemimpinan yang lemah dari Pejabat struktural dalam perguruan tinggi sehingga akan
memberikan kesan ketidakmampuan dalam menginplementasikan SPMI dalam perguruan
tinggi.
5) Kurangnya Penopangan dasar hukum dalam melakukan penerapan Sistem Penjaminan
Mutu Internal (SPMI) misalnya tidak adanya Surat Keputusan dari yayasan sehingga
upaya yang dilakukan untuk pendapatkan dukungan penuh pelaksanaan SPMI dari semua
elemen yang memiliki otoritas dalam perguruan tinggi menjadi tidak optimal dan
ketiadaan serta lemahnya dasar hukum juga tidak memberikan kekuatan kepada perguruan
tinggi untuk menjamin legalitas dan efektivitas pelaksanaan SPMI.
6) Kurangnya sosialisasi dokumen SPMI kepada semua pemangku kepentingan dalam
Perguruan Tinggi secara intens, berkala, bertahap, sistematis dan berkelanjutan.
7) Kurangnya pelatihan penyusunan SPMI bagi perguruan tinggi yang dilakukan
secara berkala dan bertahap sehingga masih banyak perguruan tinggi yang belum paham
tentang SPMI, serta keterkaitannya dengan SPME. Serta sering timbul pemahaman yang
salah dari pejabat struktural, dosen dan tenaga kependidikan yang mengartikan SPMI
identik dengan Audit Mutu Akademik Internal.
8) Kebiasaan sumber daya dan manajemen yang masih menganut pola pikir konvensional dan
bekerja tidak berdasarkan standarisasi yang terpola dengan baik. Kebiasaan tersebut
menjadikan elemen dalam perguruan tinggi hanya bekerja secara sendiri-sendiri dan tidak
terkoneksi dengan penjaminan mutu yang terdokumentasi dengan baik.
9) Adanya sumberdaya manusia dalam perguruan tinggi yang memiliki wewenang
namun tidak jelas dalam melaksanakan Tugas dan fungsi pokok dari wewenang tersebut
dalam perguruan tinggi dan mengerjakan tupoksi dengan tumpang tindih dengan
wewenang juga akan menyulitkan implementasi SPMI dalam perguruan tinggi.
10) Keterbatasan sumber daya yang memiliki kompeten tentang SPMI, baik dalam
hal penyusunan maupun perancangan sampai pada evaluasi termasuk misalnya tenaga
auditor internal karena penyusunan, pelaksanaan dan evaluasi SPMI membutuhkan sumber
daya yang komitmen, jujur dan handal. Keterbatasan ini akan memberikan kelemahan
dalam merumuskan isi kebijakan, standar dan manual dalam SPMI, termasuk kelemahan
dalam perumusan indikator keberhasilan yang terukur.
11) Kurangnya kepemilikan sumber daya manusia oleh perguruan tinggi yang memiliki
komitmen dan pemahaman tentang SPMI yang benar baik pada pejabat struktural maupun
pada seluruh elemen dalam perguruan tinggi termasuk mahasiswa dan tenaga kependidikan
yang dimiliki.
12) Rendahnya dukungan teknologi informasi khususnya bagi perguruan tinggi yang masih
tersebar dipelosok negeri yang memiliki akses transportasi yang sangat terbatas karena
teknologi informasi merupakan salah satu aspek penting yang akan menggerakkan
pelaksanaan SPMI di perguruan tinggi.
13) Ketersediaan dana yang kurang untuk melakukan pembiayaan persiapan, implementasi,
evaluasi, dan pengembangan SPMI sehingga menyebabkan kurang komitmen perangkat
dalam perguruan tinggi dalam implementasi SPMI termasuk ketidak-siapan sarana dan
prasarana di bidang teknologi informasi.
14) Sulitnya perguruan tinggi melakukan pengukuran dan penentuan instrumen keberhasilan
pelaksanaan SPMI sehingga dapat menimbulkan gerakan menjadi acuh dan meremehkan
pelaksanaan dari SPMI.
15) Adanya ketidakmampuan dari sumber daya manusia dalam perguruan tinggi yang tidak
atau kurang bisa memahami tentang SPMI secara utuh dan benar sehingga akan
memunculkan budaya penolakan terhadap setiap perubahan, termasuk perubahan ke
arah perbaikan mutu.
16) Kurangnya sosialisasi terhadap pentingnya SPMI pada perguruan tinggi sehingga seluruh
elemen dalam perguruan tinggi termasuk seluruh pemangku kepentingan, akan
melakukan cenderung lebih apatis bahkan menolak adanya perupahan pola dalam
penjaminan mutu bahkan termasuk juga kesalahan dalam penyusunan dan implementasi
SPMI.
17) Adanya rasa ketidak-pedulian dari para pemangku kepentingan internal dan eksternal
tentang pentingnya penjaminan mutu dalam penyelenggaraan pendidikan tinggi untuk
memperoleh dan memperkuat kepercayaan masyarakat dan stakeholder terhadap
perguruan tinggi.
3. Uraikan rencana strategis dalam menyelesaikan permasalahan pada situasi diatas
Rencana strategis yang dapat dilakukan oleh perguruan tinggi menurut Basri (2018) yaitu:
1) Dalam penyusunan SPMI selalu berusaha Mengupayakan untuk memperoleh dukungan
penuh dari seluruh elemen perguruan tinggi yang memiliki otoritas dalam perguruan
tinggi termasuk yayasan dan pemakai lulusan.
2) Membentuk tim kerja yang solid, loyal dan berkomitmen untuk memulai menyiapkan
perencangan dan penyusunan serta pelaksanaan SPMI PT.
3) Pada saat Tim kerja mulai bekerja menyusun kebijakan, strategi, standar, dan manual
SPMI dengan menggunakan semua bahan yang telah diperoleh dan dipelajari, serta
menjadikan visi, misi, tujuan institusi sebagai payung dari SPMI PT tersebut maka
seluruh elemen pemangku kepentingan baik internal dan mapun external harus
mendukung secara nyata dan penuh dalam rangka suksenya penyusunan SPMI.
4) Melakukan pendokumentasian seluruh kegiatan dan seluruh elemen dalam SPMI
perguruan tinggi secara sistematis dan terencana, untuk disahkan oleh otoritas PT yang
bersangkutan.
5) Melakukan suatu studi kepustakaan tentang hal-hal yang berkaitan dengan perencangan
dan penyusunan serta pelaksanaan SPMI PT dalam rangka memberikan ilmu dan
motivasi kepada tim kerja penyusun SPMI.
6) Bagi seluruh perangkat/unit kerja dan semua sumberdaya manusia dalam perguruan
tinggi yang secara konsisten, loyal dan komitmen melaksanakan dan
mengimplementasikan SPMI dalam kegiatan rutinitas sehari-hari diberikan
sistem rewards and punishment dalam rangka memacu dan memberikan semangat
dalam mengimplementasi SPMI.
7) Melakukan suatu studi banding di perguruan tinggi yang memiliki nama dan sistem
SPMI yang baik, agar tim memperoleh pengetahuan teoritis dan/atau praktis tentang
SPMI PT.
8) Melakukan pertemuan secara rutin dan intens serta berkala antara tim kerja
penyusun SPMI dengan semua stakeholder dan civitas akademika serta pejabat
struktural yang memiliki kaitan dengan penyusunan, pelaksanaan, evaluasi dan
peingkatan SPMI perguruan tinggi dalam rangka menampung dan menyelesaikan
kendala dan masalah yang dihadapi dalam SPMI perguruan tinggi.
9) Melakukan senantiasa pengujian secara kecil-kecilan pada setiap langkah dalam
penyusunan dan pelaksanaan SPMI pada satuan/bagian unit kerja dalam perguruan
tinggi tanpa ada pemberitahuan sebelumnya misalnya sidak penyusunan dan
pelaksanaan SPMI oleh pejabat internal perguruan tinggi.
10) Membuat suatu kotak saran untuk menghimpun seluruh informasi dan dan saran serta
kritik yang membangun dari para pemiliki kepentingan didalam dan diluar perguruan
tinggi agar sistem ini secara serentak dan terintegrasi secara nyata dan sempurna.
11) Membuat semboyan yang dirumuskan secara singkat dengan bahasa sederhana, tetapi
tepat sasaran untuk memotivasi semua dosen,tenaga kependidikan, dan mahasiswa
agar bekerja sesuai dengan standar yang digariskan dalam SPMI perguruan tinggi mulai
dari pelaksanaan, penyusunan dan evaluasi serta peningkatan pada SPMI.
12) Melakukan analisis - analisis secara mendalam misalnya analisis SWOT untuk menilai
kondisi riil perguruan tinggi dan diselaraskan dan dibandingkan visi, misi, dan tujuan
dari PT untuk mengetahui sejauh mana kondisi riil PT saat ini telah sejalan atau sesuai
dengan visi, misi, dan tujuan tersebut.
13) Senantiasa memberikan pemahaman kepada seluruh perangkat dalam perguruan tinggi
bahwa SPMI itu sendiri sebagai sebuah sistem yang utuh, yang dapat dilakukan secara
internal ataupun eksternal.
14) Senantiasa melakukan penilaian dan peningkatan mutu terhadap SPMI secara berkala
dan juga melakukan penilaian SPMI setelah misalnya berakhirnya siklus SPMI sebagai
sebuah sistem utuh dalam kurun waktu 5 (lima) tahunan.
15) Seluruh elemen dalam Perguruan tinggi harus memiliki Keterbukaan terhadap
kemungkinan terjadinya perubahan atau dinamika dalam menyelenggarakan pendidikan
tinggi sesuai dengan tugas pokok dan fungsi serta wewenang masing-masing.
16) Perguruan tinggi harus selalu melibatkan sebanyak mungkin sumberdaya manusia dan
mahasiswa ketika akan melakukan, menetapkan, melaksanakan, mengevaluasi dan
mengembangkan berbagai standar.
17) Tim Kerja harus selalu menggunakan pendekatan kepada seluruh elemen dalam
perguruan tinggi secara lebih efektif dan efisien dengan tetap mempertahankan
komitmen dan loyalitas serta kemauan dari dalam internal dalam melakukan
penyusunan dan implementasi dari SPMI dari perguruan tinggi tersebut.
18) Perguruan tinggi harus selalu meyiapkan dan meningkatkan peranan dari audit internal
dalam rangka menjamin terlaksananya implementasi SPMI secara optimal dan
menyeluruh dalam sistem.