Anda di halaman 1dari 7

Nama : Ni Putu Ayu Cindy Paramitha

NIM : 118211039

Kebocoran Data yang Dialami oleh Facebook

Facebook merupakan salah satu media social yang saat ini penggunannya paling
banyak dibandingkan media social lainnya, namun parahnya hal ini menjadi sorotan dari
seluruh penjuru dunia. Bagaimana tidak, Facebook mengalami kebocoran data dari 50
penggunanya ke pihak Cambridge Analytica. CEO Facebook, Mark Zuckerberg mengatakan
bahwa kebocoran ini sepenuhnya tidak menjual data ke Pihak yang disebut sebelumnya.

Perusahaan atau aplikasi pihak ketiga dapat mengambil data jika pihak Facebook
memberi izin (permission) saat melakukan pendaftaran akun Facebook. Hal ini lah yang
menyebabkan Facebook dapat mengetahui kebiasaan kita, yang sebenarnya bisa kita
dapatkan secara privasi (pribadi) pada bagian lama pengaturan Facebook, Hal ini lah yang
dicuri oleh pihak tidak bertanggung jawab yang menyebabkan data dan informasi tersebut
didapatkan dengan tidak resmi / tidak legal.

Berdasarkan laporan The New York Times dan The Observer, perusahaan konsultan
politik Cambridge Analytica telah mencuri informasi akun Facebook dan memanfaatkan data
tersebut. Cambridge merancang peranti lunak guna memprediksi dan mempengaruhi pemilik
suara dalam pemilihan Presiden AS Tahun 2014. Kecurangan itu terungkap berkat kesaksian
Christopher Wylie. Mantan kepala peneliti Cambridge itu mengungkapkan kepada The
Observer perihal perilaku Cambridge yang menggunakan informasi personal yang diambil
tanpa izin pada awal 2014 untuk merancang iklan politik.

Cambridge Analytica mengambil 50 juta pengguna Facebook dengan cara


mengundang 270 ribu pengguna Facebook untuk melakukan tes kepribadian dengan
menggunakan apps yang diberi nama thisisyourdigitallife tanpa diketahui oleh para
responden bahwa apps tersebut juga bisa mengambil data teman-teman para responden yang
terhubung lewat hubungan pertemanan mereka di Facebook.

Yang membuat data facebook istimewa adalah, data mereka jauh lebih detail daripada
data kita yang tertera di KTP, kartu keluarga, dan juga data di bank. Dengan menganalisis
likes, Facebook bisa jadi tahu preferensi politik kita. Dengan mengumpulkan jawaban-
jawaban yang pernah kita kasih lewat berbagai kuis, Facebook bisa tahu apa yang kita suka
dan tak suka juga yang kita setujui dan tak setujui. Bagi konsultan politik, adalah sebuah
privilese untuk mendapatkan data seperti itu. Mereka bisa menggalang kampanye yang lebih
tepat sasaran dan lebih efisien. Ini yang mengakibatkan Facebook dimanfaatkan dan
disalahgunakan.

Menurut saya, pencurian data ini jelas tidak bisa dibenarkan apalagi dengan cara
mengelabui responden sehingga hal ini sudah dianggap melanggar etika. Cambridge
Analytica tentunya harus mendapat kecaman keras atas cara mereka dalam mengambil data
yaitu dengan mengelabui responden. Kecaman keras juga tertuju pada Facebook karena
sudah memberikan akses kepada aplikasi luar untuk bisa mengambil data pengguna yang
seharusnya tidak diberikan berdasarkan hak privacy. Seperti diketahui, saat isu skandal ini
mulai berembus, Mark Zuckerberg (CEO Facebook) tak kunjung bersuara, bahkan untuk
sekadar memberikan pernyataan. Aksinya itu pun berakibat pada kondisi finansial
perusahaan. Selama masa bungkamnya itu, saham Facebook bahkan turun hingga 8,5 persen.
Terlihat Zuckerberg tidak begitu tanggap menghadapi masalah. Saat seorang pemimpin
senior dari platform sosial terbesar di dunia diam, saya pikir itu telah melanggar kepercayaan.

Hal lain yang tak kalah penting untuk diperhatikan saat berbicara tentang privasi data
adalah adanya kemampuan untuk mengontrol informasi apa yang boleh dibagikan dan mana
yang tidak. Namun ironisnya sulit untuk dilakukan di era big data dan revolusi digital ini.
Maka, di sinilah negara juga seharusnya berperan, yakni dengan membuat kebijakan yang
memungkinkan serta mendorong adanya kontrol oleh pemilik data.
Kasus Skimming BRI

Pembobolan dana nasabah di rekening bank masih marak terjadi di Indonesia.


Biasanya pencuri menggunakan berbagai macam cara, salah satunya adalah Skimming.
Skimming adalah tindakan pencurian informasi kartu debit atau kredit dengan cara menyalin
informasi yang terdapat pada strip magnetik kartu debit atau kredit secara ilegal untuk
memiliki kendali atas rekening korban. ATM termasuk media elektronik yang menggunakan
internet untuk terhubung ke jaringan komunikasi bank yang memungkinkan nasabah dalam
melakukan transaksi keuangan secara mandiri tanpa bantuan teller. Contoh dampak negatif
dalam ATM adalah skimming ATM. Skimming ATM termasuk kejahatanan internet
atau cybercrime yaitu pengcopyan data nasabah dari kartu ATM melalui alat yang
disebut skimmer. Maraknya kasus tersebut mempengaruhi nilai kualitas pelayanan pada bank,
apakah bank tersebut dapat mengevaluasi kualitas pelayanan menjadi lebih baik untuk
mempertahankan kepercayaan nasabah.

Salah satu contoh kasus Skimming yang terjadi di Indonesia yaitu kasus yang
menimpa BRI di Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Dimana puluhan nasabah
uangnya tiba-tiba berkurang masing-masing antara Rp500 ribu hingga Rp10 juta.
Korban menerima laporan transaksi melalui pesan singkat, padahal tidak melakukan transaksi
apapun. Transaksi misterius itu terjadi dalam rentang 10-11 Maret 2018. Korban dan nasabah
yang khawatir lantas mengajukan pemblokiran ke bank terkait.

Kepolisian akhirnya menangkap tiga warga Rumania, seorang warga Hungaria, dan
seorang WNI. Sindikat itu telah beroperasi sejak Juli 2017. Para tersangka menyasar nasabah
bank dengan modus menyimpan alat skimmer pada mesin ATM di Jakarta, Bandung,
Tangerang, Yogyakarta dan Denpasar Bali.

Menurut saya, maraknya kasus pembobolan rekening nasabah bermodus salin data
atau skimming ini karena lemahnya pengawasan bank. Khususnya pengawasan terhadap
pihak ketiga sebagai perpanjangan layanan dari bank tersebut, seperti penggunaan
mesin cashless dengan fitur sama seperti di mesin ATM (Anjungan Tunai Mandiri).
Maraknya penggunaan mesin cashless bukan hanya di lingkungan bank, tetapi di lingkungan
pihak ketiga. Misalnya minimarket dan toko atau restoran. Dengan begitu akan meningkatkan
potensi terjadinya kasus-kasus seperti ini. Selain itu, perbankan harus segera membuat SOP
yang ketat untuk pengawasan penggunaan mesin cashless oleh pihak ketiga. Dan terus
mengembangkan sistem deteksi fraud yang lebih canggih. Hal ini untuk mengantisipasi agar
kasus kejahatan skimming di Kediri tidak terulang kembali. Dengan deteksi awal fraud ini
diharapkan bank bisa lebih proaktif dalam mengatasi fraud. Nantinya akan ada big data yang
menganalisis perilaku nasabah dan transaksi agar ketika terjadi penyimpangan bisa mudah
diinfokan ke nasabah.

Bank juga harus memberikan edukasi kepada nasabah dan masyarakat bahwa bank
memiliki jaminan yang transparan dan mudah. Sistem apapun tidak akan mampu memberikan
keamanan 100 persen. Hanya saja ketidakamanan tersebut menjadi tidak berakibat sedikitpun
karena adanya jaminan kehilangan sebesar apapun tetap akan diganti oleh pihak bank.

Pemerintah pun harus turut berperan dalam mencegah modus Skimming, dengan
membuat kebijakan penggunaan kartu debit, mesin cashless, serta pihak ketiga. Misal
pembatasan fitur pada mesin cashless. Aturan seperti ini pernah diterapkan pada kartu uang
elektronik, yang mana kartu uang elektronik tidak boleh gabung dalam kartu debit. Lalu pada
kartu uang elektronik diterapkan limit maksimum saldo yang bisa disimpan di dalamnya.

Lalu pada nasabah agar saat ini tetap mengikuti apa yang telah diedukasi oleh pihak
bank dalam penggunaan kartu debit atau kredit. Seperti pengetikan nomor pin secara tertutup
dengan tangan. Kemudian jangan memberikan pin kepada siapa pun yang berusaha
memberikan bantuan untuk melaksanakan transaksi dengan pin tersebut. Meski begitu,
nasabah tidak perlu mengurangi transaksinya di pihak ketiga atau merchant.
Pembajakan Hak Cipta BitTorrent

Pada masa sekarang ini, seseorang saling berbagi dokumen, lagu, film, video,
permainan, atau apapun juga secara langsung memberikan CD (compact disc), flash disk,
ataupun media penyimpanan lainnya. Untuk memudahkan pembagian bermacam-macam file
tersebut, disediakanlah suatu aplikasi bernama torrent.

Penggunaan torrent sudah tidak asing atau setidaknya sudah pernah di lihat. Media
populer ini mampu menyediakan berbagai jenis program, film, foto, video,
hingga ebook berbayar, bisa didapatkan dengan mudah dan gratis dengan menggunakan
torrent. Media ini memungkinkan seseorang dapat berbagi file (file sharing) dengan orang
lain tanpa perlu men-download-nya secara sekaligus. Tapi, dapat dilakukan bertahap.
Walaupun kapasitas file-nya hingga ratusan Gigabyte. Inilah yang menjadikan torrent sebagai
primadona bagi para pemburu file berbayar secara gratis dan praktis. Program media torrent
ada beberapa macam. Diantaranya adalah Utorrent, Bittorrent, Deluxe, dsb.

Torrent adalah sebuah media alternatif yang digunakan untuk meng-upload dan men-
download file berukuran besar melalui internet. File yang di-download dengan torrent,
biasanya dapat di-download dengan lebih cepat. Karena dibagi ke dalam beberapa partisi
kecil dan memiliki sistem “Seed” dan “Peers”. Yang anda perlukan untuk men-download
torrent adalah sebuah “Client Torrent” seperti Utorrent atau Bittorrent, lalu men-download
file torrent dari website tertentu.

Torrent adalah suatu metode mendistribusikan data dalam jumlah yang besar secara
luas tanpa harus menanggung semua beban resource/kinerja hardware, hosting, dan bandwith,
pada distributor asli data/file tersebut. Ketika data didistribusikan menggunakan protokol
torrent, setiap pengguna yang men-download file tersebut juga ikut mendistribusikan
sebagian kecil data kepada pengguna baru yang men-download file tersebut. Hal ini
mengurangi biaya dan kinerja dari sang distributor asli, serta ikut mengurangi ketergantungan
terhadap distributor file yang asli. Torrent adalah file yang kecil, yang berukuran hanya
sekitar beberapa Kilobyte saja dengan ekstensi torrent. File ini berisi informasi yang
dibutuhkan untuk men-download file tertentu. Informasi yang terkandung dalam file torrent
meliputi nama file, ukurannya, tempat download-nya, dsb.

Namun, dibalik segala kelebihan yang dimiliki oleh torrent, media ini ternyata bisa
menjadi “bumerang” bagi si pengguna. File-file hasil download yang ditawarkan,
kemungkinan merupakan malware yang menyamar. Terkadang yang terdapat pada torrent
adalah file bajakan. Bisa jadi merupakan crack suatu software atau games, hasil scan atau
salinan buku, rekaman film menggunakan kamera pribadi, dan lain sebagainya. Isu hak cipta,
pembajakan, dan malware inilah yang menjadikan torrent seolah seperti pasar hitam gratis.
Dari aplikasi ini terkadang terdapat suatu malware yang merugikan pengunduhnya sehingga
mereka menjadi botnet bagi penyebar malware untuk menambang bitcoin.

Salah satu kasus pelanggaran hak cipta terkait dengan pengunduhan (download) karya
sinematografi melalui internet adalah yang dilakukan oleh Voltage Pictures atas pengunduhan
ilegal yang dilakukan oleh puluhan ribu pengguna situs BitTorrent di Amerika, yang
kemudian Voltage Pictures mengajukan gugatan hukum kepada 24. 583 pengguna BitTorrent
yang dianggap telah mengunduh film The Hurt Locker secara ilegal. Gugatan yang diajukan
oleh voltage pictures akan menjadi kasus terbesar yang di hadapi oleh BitTorrent sebagai
situs penyedia film yang dapat diunduh secara ilegal.

Pembajakan jelas-jelas mengakibatkan kerugian baik secara materil maupun


immaterial dari si pencipta, mengingat disamping biaya dan tenaga yang dikeluarkan oleh
pencipta yang tidak sedikit, perlindungan hak kekayaan intelektual juga ditujukan untuk
mendorong inovasi orang-orang kreatif dengan adanya perlindungan terhadap hak cipta,
diharapkan dapat memicu persaingan ditengah masyarakat berbasis kreatifitas.

Berdasarkan kasus di atas, maka jika ada pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab
menggunakan karya sinematografi itu yang menimbulkan penyalinan secara meluas yang
merugikan hak eksklusif pencipta yang diberikan oleh pencipta dan pemegang hak cipta,
maka negara yang terikat kepada perjanjian TRIPs termasuk Indonesia harus mengatur
tentang perlindungan karya sinematografi yang di unggah melalui internet oleh pencipta
kemudian digunakan oleh “user” atau pihak yang tidak bertanggungjawab memanfaatkan
film tersebut tanpa seizin dari pengunggahnya maka dapat dimintai pertanggungjawaban.
Kegiatan cyber meskipun bersifat virtual dapat dikategorikan sebagai tindakan hukum dan
dapat di pertanggungjawabkan dimuka hukum.

Dan seharusnya setiap lapisan masyarakat memiliki mentalitas untuk tidak


menggunakan produk bajakan. Caranya dengan menggunakan produk yang lebih murah tapi
original. Untuk masalah kasus pelanggaran hak cipta sendiri cara untuk menuntaskannya
dengan meningkatkan kualIkitas hidup manusia dan membiasakan taat pada peraturan
sehingga dapat tercipta mentalitas yang baik yang selalu taat akan segala aturan.