Anda di halaman 1dari 14

TUGAS KELOMPOK

PEMERIKSAAN AKUNTANSI LANJUTAN

ANALISA KASUS SUN PRIMA NUSANTARA (SNP) FINANCE

KELOMPOK 5 :
1. MUMPUNI WAHYUDIARTI ( 123011801054 )
2. ELVY CAMELIA (123011801023 )
3. NILA RAHMAWATI ( 123011801058 )
4. HENDRA (123011801034 )

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM MAGISTER AKUNTANSI
UNIVERSITAS TRISAKTI
2019

A. KRONOLOGI KASUS SUN PRIMA NUSANTARA (SNP) FINANCE

Lima orang direksi dan manajer PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP


Finance) diamankan pihak berwajib terkait kasus dugaan tindak pidana pemalsuan
dokumen, penggelapan, penipuan, dan pencucian uang dalam aktivitas usahanya sebagai
perusahaan pembiayaan (multifinance).
SNP Finance merupakan bagian usaha Columbia, jaringan ritel yang menawarkan
pembelian barang rumah tangga secara kredit atau cicil. Dalam kegiatannya, SNP lah
yang menyokong pembelian barang yang dilakukan oleh Columbia dengan sumber
pendanaan dari perbankan atau surat utang.

Di industri multifinance, SNP Finance boleh dibilang pemain kelas menengah ke


bawah. Lihatlah, total pembiayaan yang disalurkannya pun tidak lebih dari Rp5 triliun
per tahun. Maklum, barang yang dibiayainya hanya kasur, lemari, sofa, dan perabot
rumah tangga lainnya.

Berbeda dengan multifinance sekaliber BCA Finance, Astra Sedaya Finance, FIF,
dan Adira Finance yang membiayai kendaraan roda empat dan sepeda motor. Tak heran,
pembiayaan yang mereka salurkan selalu berkisar puluhan triliun per tahun. Wajarlah,
teman-teman seprofesi SNP Finance itu berinduk usaha pada bank umum.

SNP Finance diketahui menerima fasilitas kredit modal kerja dari 14 bank. Salah
satu dan yang paling besar berasal dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. SNP Finance
sendiri telah 20 tahun menjadi nasabah Bank Mandiri. Namun, pada 2016, perusahaan
mengajukan restrukturisasi kredit.

Saat itu, Bank Mandiri memasukkan SNP Finance dalam kelompok kolektibilitas
2 (kol 2) atau dalam perhatian khusus. Restrukturisasi kredit diperlukan bukan karena
perusahaan menunggak pembayaran, melainkan agar perusahaan bisa mendapat kucuran
dana dari bank lain.

Alih-alih membaik, Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas


mengatakan SNP Finance malah menunjukkan itikad buruk. Dalam beberapa bulan
terakhir, kreditnya mulai macet dan manajemen perusahaan mengajukan pailit sukarela.
Padahal, kredit macetnya saat itu mencapai Rp1,2 triliun.

PKPU itu terbit pada 4 Mei 2018, setelah dikabulkan majelis hakim Pengadilan
Negeri Jakarta Pusat. Dalam PKPU disebutkan total tagihan SNP Finance mencapai
Rp4,07 triliun dari 14 bank sebagai kreditur dengan jaminan Rp2,2 triliun, serta 336
pemegang MTN senilai Rp1,85 triliun.

Pada Desember 2017, menurut Sistem Informasi Debitur (SID) Bank Indonesia
kategori SNP Finance sebetulnya masih ada di kol 1 dengan status lancar. Tapi, Januari
2018, terjadi peralihan dan di bawah kontrol OJK, yakni Sistem Layanan Informasi
Keuangan (SLIK) yang kemudian statusnya berubah menjadi kol 2.

Hal itu berimbas pada timbulnya pertanyaan bank-bank yang mengucurkan dana
mereka ke SNP Finance dan berbuntut pada seretnya aliran kredit dari bank-bank lain. Di
sisi lain, sistem manajemen penagihan di kantor-kantor cabang SNP Finance semakin
lemah.

Gali Lubang Tutup Lubang Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus
Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Besar Daniel Tahi Monang Silitong mengatakan
pengungkapan kasus ini berawal dari laporan Bank Panin pada awal Agustus 2018 lalu.
Menurutnya, SNP Finance mengajukan pinjaman fasilitas kredit modal kerja dan
rekening koran kepada Bank Panin periode Mei 2016 sampai 2017 dengan plafon kepada
debitur sebesar Rp425 miliar.

Salah satu tindakan yang dilakukan oleh SNP Finance untuk mengatasi kredit
macetnya adalah menerbitkan surat utang berbentuk Medium Term Notes (MTN), yang
diperingkat oleh Pefindo, lembaga pemeringkat, berdasarkan laporan keuangan yang
diaudit oleh KAP DeLoitte.

Mengutip siaran pers Pefindo, biro kredit independen tersebut mendapuk SNP
Finance dengan peringkat idA- (single A minus) sejak Desember 2015-November 2017.
Lalu, peringkat itu dinaikkan menjadi idA (single A) pada Maret 2018. Padahal, saat itu,
keuangan SNP Finance mulai bermasalah.

Dua bulan setelahnya, yakni Mei 2018, OJK mengeluarkan sanksi Pembekuan
Kegiatan Usaha (PKU) terhadap SNP Finance melalui Surat Deputi Komisioner
Pengawas IKNB II Nomor S-247/NB.2/2018.
Pefindo pun buru-buru menyematkan peringkat idCCC (triple C) atau credit
watch negative sebelum akhirnya menarik peringkat terhadap SNP Finance. Namun,
sampai berita ini diturunkan, pihak Pefindo belum merespons pertanyaan. Dengan
diberlakukannya PKU, maka SNP Finance dilarang melakukan kegiatan usaha
pembiayaan. Jika mangkir dari hal itu, maka OJK dapat langsung mengenakan sanksi
pencabutan izin usaha.

Tak cuma itu, selama masa sanksi PKU, SNP Finance juga wajib menyampaikan
dan melakukan tindakan korektif. "Dalam jangka waktu 6 bulan sejak PKU, SNP Finance
tidak memenuhi tindakan tersebut, maka dapat dikenakan sanksi pencabutan izin usaha,"
imbuhnya. Dengan kondisi itu, Anto menambahkan, OJK akan terus memonitor
perkembangan kasus SNP Finance, serta memantau tim audit internal bank yang
melakukan investigasi internal dan akan memberikan sanksi jika ada pegawai bank yang
terlibat.

OJK akan terus berkoordinasi dengan instansi terkait, seperti Kepolisian dan
Kementerian Keuangan untuk penindakan yang diperlukan. OJK juga melarang
penerbitan MTN tanpa seizin OJK dan menyiapkan langkah koordinasi dengan
Kemenkeu berkaitan dengan kerja Kantor Akuntan Publik

Langgar Standar Audit Kemenkeu menyebut dua akuntan publik yang mengaudit
laporan keuangan SNP Finance, yakni Akuntan Publik Marlinna dan Merliyana Syamsul
melanggar standar audit profesional. Mengutip data resmi Pusat Pembinaan Profesi
Keuangan (PPPK), dalam mengaudit SNP Finance tahun buku 2012 - 2016, mereka
belum sepenuhnya menerapkan pengendalian sistem informasi terkait data nasabah dan
akurasi jurnal piutang pembiayaan. Akuntan publik tersebut juga belum menerapkan
pemerolehan bukti audit yang cukup dan tepat atas akun piutang pembiayaan konsumen
dan melaksanakan prosedur memadai terkait proses deteksi risiko kecurangan, serta
respons atas risiko kecurangan.

Selain dua akuntan publik di atas, Kemenkeu juga menyoroti DeLoitte Indonesia.
Mereka diberi sanksi berupa rekomendasi untuk membuat kebijakan dan prosedur dalam
sistem pengendalian mutu akuntan publik terkait ancaman kedekatan anggota tim
perikatan senior.

B. PENJELASAN DELOITTE ATAS KASUS SUN PRIMA NUSANTARA (SNP)


FINANCE
Kantor Akuntan Publik (KAP) di bawah entitas Deloitte - Indonesia disebut-sebut
terkait dengan kasus gagal bayar Medium Term Notes (MTN) yang diterbitkan PT
Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP Finance).

Marketing & Communications Lead of Deloitte - Indonesia, Steve Aditya


mengungkapkan Satrio Bing Eny & Rekan (SBE), KAP yang merupakan salah satu
entitas Deloitte - Indonesia memang melakukan general audit atas laporan keuangan SNP
Finance. Namun, laporan auditor independen atas Laporan keuangan SNP terakhir yang
dikeluarkan adalah untuk tahun buku 2016.

SBE terakhir kali menerbitkan laporan auditor Independen atas laporan keuangan
SNP untuk tahun buku 2016. Audit tersebut tidak terkait dengan keperluan penerbitan
MTN yang dilakukan SNP pada 2017 dan 2018. SBE juga tidak pernah dimintai
persetujuan maupun diberitahu oleh SNP jika laporan audit atas laporan keuangan SNP
digunakan sebagai rujukan dalam penerbitan Medium Term Notes (MTN).

SNP mencantumkan laporan keuangan yang telah diaudit pada offering circular
mereka tanpa memberitahu Auditor. Padahal, sesuai surat perikatan audit, jika SNP ingin
mencantumkan nama kami dalam dokumen apa pun, harus memberitahu Auditor.

Steve juga menegaskan, audit dilakukan SBE atas laporan keuangan SNP sudah
berdasarkan standar audit yang ditetapkan oleh Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI).

"Kami juga memiliki standar pengendalian mutu yang ketat. Sebelum laporan
auditor independen diterbitkan harus melalui penelaahan pengendalian mutu
internal yang ketat yang dilakukan oleh rekan/partner dan manajer yang tidak
terlibat dalam perikatan audit," paparnya.

Dalam kesempatan tersebut, Steve juga menegaskan sebagai KAP, tugas


dan tanggung jawab SBE sebatas pada mengaudit laporan keuangan perusahaan
dan memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan, dalam semua
hal yang material, apakah sudah disajikan sesuai standar akuntansi keuangan yang
berlaku di Indonesia.

"Sementara penyusunan dan penyajian wajar laporan keuangan


merupakan tanggung jawab manajemen perusahaan, dalam hal ini SNP,"
imbuhnya.

Steve menambahkan, untuk laporan keuangan SNP tahun 2017, SBE


masih dalam tahap awal proses audit dan belum mengeluarkan laporan auditor
independen. Semenjak izin SNP dibekukan, SBE sulit berkomunikasi dengan
manajemen SNP sehingga tidak dapat melanjutkan proses audit.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengaku telah


mengantongi sanksi terhadap KAP yang selama ini mengaudit laporan keuangan
SNP Finance.

Kepala Pusat Pembinaan Profesi Kementerian Keuangan Langgeng Subur


mengemukakan, pemerintah saat ini hanya tinggal menunggu tanda tangan
Sekretaris Jenderal perihal sanksi yang dikenakan bagi Deloitte.

Meski demikian, Langgeng enggan membeberkan secara rinci sanksi apa


yang bakal dikenakan kepada KAP yang bertanggung jawab tersebut.
Menurutnya, keputusan pemberian sanksi akan diberikan dalam beberapa hari ke
depan. Dalam pemeriksaan yang sudah dilakukan, bendahara negara mengakui
adanya indikasi kelalaian yang dilakukan KAP dalam mengaudit laporan
keuangan anak usaha Grup Columbia tersebut.

Namun di akhir pemeriksaan, ada beberapa temuan yang disoroti, antara


lain scepticisme yang dianggap perlu dimiliki auditor, serta pemahaman terhadap
sistem pencatatan yang digunakan perusahaan.

Adapun yang kedua, pengujian yang dilakukan KAP terhadap SNP


Finance tidak sampai pada dokumen dasar. Bagi KAP yang terbukti melakukan
pelanggaran. Sanksi yang akan dikenakan pun terbagi dengan berbagai jenis.
Seperti rekomendasi untuk melaksanakan kewajiban tertentu, peringatan tertulis,
sampai dengan pembatasan pemberian jasa kepada suatu entitas.

C. ANALISA KASUS SUN PRIMA NUSANTARA (SNP) FINANCE


Sun Prima Nusantara Pembiayaan (SNP) Finance merupakan
perusahaan multi finance, anak perusahaan dari grup bisnis Columbia. Siapa yang
tak kenal Columbia? Tentunya Anda mengetahui, Columbia adalah
perusahaan retail yang menjual produk perabotan rumah tangga seperti alat-alat
elektronik dan furnitur. Dalam menjual produknya, Columbia memberikan opsi
pembelian dengan cara tunai atau kredit cicilan kepada customernya. Nah, SNP
Finance inilah yang menjadi partner Columbia dalam memfasilitasi kredit dan
cicilan bagi customer Columbia. Columbia sendiri mempunyai jumlah outlet yang
sangat banyak, tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia, melihat kondisi
seperti itu, tentu SNP Finance harus memiliki modal kerja (working capital)
dalam jumlah yang besar untuk menutup kredit para customer Columbia.

Lalu dari mana SNP Finance memperoleh dana untuk mencukupi modal
kerja yang dibutuhkan? SNP Finance menghimpun dana melalui pinjaman Bank.
Kredit yang diberikan bank kepada SNP Finance terdiri dari dua jalur, yang
pertama melalui joint financing, dimana beberapa bank bergabung dan
memberikan pinjaman, dan yang kedua adalah secara langsung, dari sebuah bank
kepada SNP Finance. Bank Mandiri tercatat sebagai pemberi pijaman terbesar
kepada SNP Finance. Bank-bank yang memberikan pinjaman tersebut adalah
kreditor, mereka punya kepentingan untuk mengetahui bagaimana dana yang
mereka pinjamakan ke SNP Finance. Apakah dana tersebut dikelola dengan benar,
karena tentunya bank juga mengharapkan keuntungan berupa bunga/interest, dan
pengembalian pokok pinjaman. Dalam hal ini bank bergantung pada informasi
keuangan yang tertuang dalam laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen
SNP Finance. Untuk memastikan bahwa laporan keuangan yang disusun tersebut
terbebas dari kesalahan atau manipulasi, maka laporan keuangan tersebut diaudit.
SNP Finance menggunakan jasa Kantor Akuntan Publik (KAP) Deloitte Indonesia
yang merupakan salah satu Kantor Akuntan Publik (KAP) asing elit (disebut the
Big Four) untuk mengaudit laporan keuangannya.

Kegagalan Bisnis dan Manipulasi oleh SNP Finance


Pada dasarnya perjanjian utang piutang antara SNP Finance dengan para
kreditornya (bank) tersebut adalah kerjasama yang sifatnya mutualistik. SNP
Finance membutuhkan dana, bank juga butuh menyalurkan kredit. Namun dalam
perjalanan waktu, ternyata bisnis retail Columbia yang merupakan induk dari SNP
Finance mengalami kemunduran. Apa penyebabnya? Kita bisa melihat bahwa
perilaku pembelian customer telah berubah, konsumen saat ini tidak lagi belanja
produk furniture dan elektronik dengan datang ke toko, melainkan mereka lebih
suka membeli secara online melalui perangkat gadgetnya. Mulai
dari survey harga, survey spesifikasi produk, sampai dengan pembelian, semua
dilakukan secara online. Bahkan para online shop tersebut juga memberikan
fasilitas kredit tanpa bunga (bunga 0%) untuk tenor yang bahkan sampai 12 bulan.
Kondisi perubahan perilaku pembelian customer inilah yang memukul pangsa
pasar dari Columbia, dan tentunya juga berdampak pada SNP Finance. Buntutnya
adalah kredit SNP Finance kepada para bank – bank/krediturnya tersebut menjadi
bermasalah, dalam istilah keuangan disebut Non Performing Loan (NPL).
Apa yang dilakukan SNP Finance untuk mengatasi utangnya kepada bank
tersebut? SNP finance membuka keran pendanaan baru melalui penjualan surat
utang jangka menengah, disebut dengan MTN (Medium Term Notes). MTN ini
sifatnya hampir mirip dengan obligasi, hanya saja jangka waktunya adalah
menengah, sedangkan obligasi jangka waktunya panjang. MTN ini diperingkat
oleh Pefindo (Pemeringkat Efek Indonesia) dan kembali lagi bahwa Pefindo juga
memberikan peringkat salah satunya adalah berdasarkan laporan keuangan SNP
Finance yang diaudit oleh Deloitte. Awalnya peringkat efek SNP Finance sejak
Desember 2015 – 2017 adalah A-, bahkan kemudian naik menjadi A di Maret
2018. Namun tidak lama kemudian, di bulan Mei 2018 ketika kasus ini mulai
terkuak, perikat efek SNP Finance turun menjadi CCC bahkan di bulan yang sama
tersebut turun lagi menjadi SD (Selective Default). Default dalam bahasa
sederhananya adalah gagal bayar. Berikutnya SNP Finance mengajukan
Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), sebesar kurang lebih Rp 4,07
Trilyun yang terdiri dari kredit perbankan 2,22 Trilyun dan MTN 1,85 Trilyun.
Mengapa debitur dan pemegang MTN mau percaya dan menyalurkan kredit
kepada SNP Finance? Karena awalnya pembayaran dari SNP Finance lancar, dan
para kreditur tersebut juga menganalisis kesehatan keuangan SNP Finance melalui
laporan keuangannya, yang diaudit oleh kantor akuntan publik ternama, yaitu
Deloitte. Namun ternyata terjadi pemalsuan data dan manipulasi laporan
keuangan yang dilakukan oleh manajemen SNP Finance. Diantaranya adalah
membuat piutang fiktif melalui penjualan fiktif. Piutang itulah yang dijaminkan
kepada para krediturnya, sebagai alasan bahwa nanti ketika piutang tersebut
ditagih uangnya akan digunakan untuk membayar utang kepada kreditor. Untuk
mendukung aksinya tersebut, SNP Finance memberikan dokumen fiktif yang
berisi data customer Columbia. Sangat disayangkan bahwa Deloitte sebagai
auditornya gagal mendeteksi adanya skema kecurangan pada laporan keuangan
SNP Finance tersebut. Deloitte malah memberikan opini wajar tanpa
pengecualian pada laporan keuangan SNP Finance.

Sanksi atas Kecurangan Laporan Keuangan

Untuk manajemen dari SNP Finance sendiri saat ini kasusnya telah
ditangani oleh Bareskrim Polri. Mereka diduga melanggar pasal berlapis, yaitu
KUHP 362 tentang pemalsuan surat, KUHP 362 tentang penggelapan dan KUHP
378 tentang penipuan. Sementara apa sanksi untuk Deloitte sebagai auditornya?
Sanksi kepada Deloitte diberikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), melalui
siaran pers tertanggal 1 Oktober 2018, OJK memberikan sanksi kepada Akuntan
Publik (AP) Marlina dan AP Merliyana Syamsul, keduanya dari KAP Satrio Bing
Eni dan rekan (pemegang afiliasi Deloitte di Indonesia), dan juga KAP Satrio
Bing Eny dan rekan sendiri. Sanksi yang diberikan adalah pembatalan hasil audit
terhadap kliennya yaitu SNP Finance dan pelarangan untuk mengaudit sektor
perbankan, pasar modal dan Industri Keuangan Non Bank (IKNB).

Apa yang menjadi dasar dari OJK untuk pemberian sanksi tersebut?
Bahwa AP Marlinna, AP Merliyana Syamsul dan Deloitte telah melakukan
pelanggaran berat yaitu melanggar POJK Nomor 13/POJK.03/2017 tentang
Penggunaan Jasa Akuntan Publik dan Kantor Akuntan Publik. Pertimbangannya
antara lain adalah sebagai berikut:
1. Telah memberikan opini yang tidak mencerminkan kondisi keuangan
yang sebenarnya
2. Besarnya kerugian terhadap industri jasa keuangan dan masyarakat
yang ditimbulkan atas opini kedua AP tersebut atas Laporan Keuangan
Tahunan Audit (LKTA) SNP Finance
3. Menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap sektor jasa keuangan
akibat dari kualitas penyajian oleh akuntan publik.

Auditor di Pusaran Kecurangan Laporan Keuangan

Apa yang seharusnya dilakukan oleh Deloitte? Apa yang menjadi


kewajiban bagi auditor? Dalam hal ini seharusnya auditor mengetahui
betapa pentingnya laporan keuangan yang diaudit. Auditor mengetahui
persis siapa saja yang menjadi para pengguna utama (primary
beneficiary) dari laporan keuangan yang diaudit tersebut, pihak – pihak
yang akan melakukan pengambilan keputusan dari laporan keuangan
tersebut. Apalagi bukan setahun dua tahun Deloitte mengaudit SNP
Finance, tetapi dalam kurun waktu yang cukup lama. Deloitte yang
merupakan KAP big four melakukan kelalaian (negligence), yaitu
dengan kurang menerapkan prinsip kehati – hatian (professional
skepticism) dalam mengaudit kliennya tersebut. Ketika terjadi
peningkatan hutang dan hutang yang menjadi non performing loan,
harusnya ini sudah menjadi lampu kuning bagi Deloitte untuk
memberikan opini going concern atas laporan keuangan SNP Finance.
Opini going concern adalah informasi tambahan yang diberikan auditor
di paragraph penjelas dalam laporan auditor independen yang berfungsi
untuk menyatakan bahwa perusahaan dalam kondisi beresiko
mengalami kebangkrutan. Dengan adanya opini tersebut, akan
menjadi warning bagi para kreditornya untuk berhati – hati dalam
menyalurkan pinjaman. Selain itu dengan adanya kondisi kesulitan
keuangan yang dialami oleh SNP Finance, seharusnya Deloitte juga
mengetahui bahwa hal ini menjadi faktor tekanan/pressure bagi
perusahaan untuk melakukan kecurangan/fraud,yaitu dengan
memanipulasi laporan keuangan agar tampak baik. Deloitte seharusnya
mengkategorikan kliennya tersebut sebagai high risk, atau beresiko
tinggi melakukan fraud. Dengan adanya kondisi high risk tersebut,
mengacu pada standar audit yang dikeluarkan oleh International
Standard on Auditing (ISA) no 330 tentang respon auditor terhadap
resiko kecurangan klien, Deloitte seharusnya menambah porsi
pengujian substantive pada test of details, seperti menambah sampel
untuk konfirmasi piutang pelanggan. Sehingga dari prosedur audit
tersebut akan terungkap apabila ternyata banyak piutang fiktif yang
sengaja dibuat oleh kliennya.
Kasus SNP Finance dan Deloitte ini hendaknya menjadi pelajaran
bagi para pelaku bisnis dan auditor. Pelaku bisnis yang ingin
melakukan kecurangan, atau manipulasi laporan keuangan juga berpikir
dua kali, karena saat ini OJK telah bersikap kritis untuk menyelidiki
kasus kecurangan manajemen (white collar crime). Auditor dan Kantor
Akuntan Publik juga harus berhati-hati dalam memberikan opini audit,
jangan sampai opini yang diberikan menjadi menyesatkan bagi para
pengguna laporan keuangan, sehingga dampaknya jadi mengakibatkan
kerugian material dalam jumlah besar.

REFERENSI

https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20180926143029-78-333372/kronologi-snp-finance-
dari-tukang-kredit-ke-tukang-bobol
https://www.cnbcindonesia.com/market/20180802101243-17-26563/ada-apa-dengan-deloitte-
dan-snp-finance-ini-penjelasannya

http://accounting.binus.ac.id/2018/12/03/merunut-kasus-snp-finance-auditor-deloitte-indonesia-
2/