Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN MATA KULIAH PENYEHATAN UDARA

MINI RISET PENGUKURAN PARAMETER UDARA DI PERPUSTAKAAN


KAMPUS 7 POLTEKKES KEMENKES SEMARANG

Dosen pembimbing :
Tri Cahyono, SKM., M.Si.

Disusun Oleh :
Elvi Marya Ningsih P1337433118093 (2B)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN SEMARANG


JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO
PRODI D-III KESEHATAN LINGKUNGAN PURWOKERTO TAHUN
AKADEMIK 2019/2020

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat dan karuniaNya
sehingga saya dapat menyelesaikan Laporan Mini Riset Penyehatan Udara di
Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang dengan baik. Praktikum ini
dilaksanakan untuk menambah keterampilan serta dapat mengaplikasikan ilmu yang
telah diterima di kampus sebagai penunjang selama melaksanakan praktik pengukuran
parameter udara.
Selain itu, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada Bapak Tri Cahyono, SKM.,
M.Si. sebagai dosen pembimbing mata kuliah penyehatan udara dan semua pihak yang
telah membantu, dan memberikan dukungan kepada saya dalam pelaksanaan praktik
pengukuran parameter udara.
Apabila terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penyusunan laporan ini, harap
dimaklumi karena saya seorang mahasiswa yang sedang belajar. Semoga laporan ini
bisa bermanfaat bagi pembaca.

Purwokerto, 26 Oktober 2019

Elvi Marya Ningsih

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL...................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................... ii
DAFTAR ISI.................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Tujuan ................................................................................................ 2
C. Manfaat .............................................................................................. 2
D. Metode ............................................................................................... 2
BAB II HASIL ............................................................................................... 3
A. Gambaran Umum Lokasi ................................................................... 3
B. Data Hasil........................................................................................... 3
BAB III PEMBAHASAN .............................................................................. 5
A. Gambaran Umum Lokasi ................................................................... 5
B. Pembahasan Hasil .............................................................................. 5
C. Solusi.................................................................................................. 9
BAB IV PENUTUP ....................................................................................... 11
A. Kesimpulan ........................................................................................ 11
B. Saran................................................................................................... 11
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 12
LAMPIRAN................................................................................................... 13

iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Udara menurut para ahli merupakan komponen alam yang sangat dibutuhkan oleh
makhluk hidup. Kebutuhan udara jauh lebih penting dibandingkan dengan kebutuhan
lainnya. Udara juga dapat sebagai airborne diseases atau media penularan penyakit.
Penyakit menular ini dapat terjadi dimana saja seperti rumah sakit, tempat-tempat
umum, dan termasuk di lingkungan kecil seperti di rumah yang dapat terjadi pada antar
penghuni rumah. Udara merupakan komponen penting pernafasan untuk kelangsungan
hidup manusia dan berbagai mahluk hidup yang lain. Komposisi kimiawi, biologis, dan
fisik udara berpengaruh langsung terhadap kualitas pernapasan. Kualitas udara dalam
ruang tidak hanya dipengaruhi oleh pencemaran kimia tetapi juga oleh faktor
lingkungan fisik seperti suhu dan kelembaban (Abdullah, 2011).
Kualitas udara bisa menurun dikarenakan aktivitas manusia yang menyebabkan
gangguan kesehatan. Beragam aktifitas manusia seperti kegiatan industri, transportasi,
dan kegiatan lainnya memiliki peranan yang signifikan dalam mendorongnya terjadi
pencemaran udara. Kualitas udara di dalam ruangan juga dapat mempengaruhi kondisi
kesehatan seseorang, karena dimana orang tersebut berada setiap harinya juga
merupakan penggambaran dari kualitas lingkungannya. Suhu, kelembapan, kebisingan,
pencahayaan, dan debu merupakan komponen yang ada di dalam suatu ruangan
(Nirmala, 2013). Seiring dengan meningkatnya tingkat pendidikan Indonesia, banyak
tempat untuk mengembangkan informasi dan pengetahuan sekaligus sebagai sarana
edukatif untuk membantu memperlancar cakrawala pendidik dan peserta didik dalam
kegiatan belajar mengajar, sehingga perlu upaya untuk menjaga kenyamanan dan
kesehatan agar tetap nyaman dalam beraktivitas didalamnya.
Gangguan kesehatan sick building syndrome yang disebabkan kualitas dalam ruangan
yang buruk, seperti ventilasi yang buruk, kelembaban terlalu rendah atau tinggi, suhu
ruangan yang terlalu panas atau dingin, debu, jamur, bahan kimia pencemar udara, dan
lain sebagainya. Untuk menghindari terjadinya gangguan kesehatan akibat aktivitas
terus menerus yang dilakukan, harus kita ketahui terlebih dahulu kualitas udara pada
ruangan. Untuk mengetahui kualitas udara ruangan harus dilakukan pengukuran

1
parameter udara yang meliputi pengukuran parameter fisik, kimia, dan biologi kemudian
hasil dicocokan dengan nilai ambang batas yang sesuai dengan tempat
perpustakaan/ruang baca.

B. TUJUAN
1. Untuk mengetahui metode pengukuran parameter fisik udara di ruang
Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang.
2. Untuk mengetahui hasil pengukuran parameter fisik udara pada Perpustakaan
Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang dan membandingkan dengan nilai
ambang batas.
3. Untuk mengetahui kualitas udara di Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes
Semarang.

C. MANFAAT
1. Mahasiswa dapat mengetahui metode pengukuran parameter fisik udara di
Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang.

2. Mahasiswa dapat mengetahui hasil pengukuran parameter fisik udara pada


Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang dan membandingkan
dengan nilai ambang batas.
3. Mahasiswa dapat mengetahui Kualitas Udara di Perpustakaan Kampus 7
Poltekkes Kemenkes Semarang.

D. METODE
Metode pengukuran mini riset di Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes
Semarang dengan cara pengukuran secara langsung di tempat, dan saya mengukur
kualitas fisik udara nya. Saya memilih Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes
Semarang (ruang diskusi) karena ruang tersebut banyak dikunjungi oleh
mahasiswa/dosen dalam mencari referensi/membaca buku dan juga tempat untuk
berdiskusi. Saya melakukan pengukuran di ruang diskusi perpustakaan dengan empat
parameter fisik yaitu suhu, kelembaban, pencahayaan, dan kecepatan angin
menggunakan alat termohygro meter untuk mengukuru suhu dan kelembaban, lux
meter/light meter untuk mengukur pencahayaan, dan anemo meter untuk mengukur
kecepatan angin.

2
BAB II HASIL

A. GAMBARAN UMUM LOKASI


Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang terletak di Kampus 7 Poltekkes
Kemenkes Semarang. Jl Raya Baturraden KM. 12, Dusun II Karangmangu, Kec.
Baturraden, Kab. Banyumas, Jawa Tengah 53151. Terdapat ruangan yaitu ruang
administrasi, ruang informasi, ruang baca, ruang diskusi, ruang KTI/Skripsi dan ruang
buku. Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang khusus nya ruang
diskusi, dinding terbuat dari batu bata dengan warna tembok putih, luas ruangan ± 20 m2
dengan bentuk ruangan persegi panjang, lantai dengan keramik warna putih, langit-
langit dengan cat warna putih, ada 2 jendela di bagian samping ruangan, yang masing-
masing diatas jendela ada ventilasi dan dilengkapi dengan gorden. Terdapat meja diskusi
dan 10 kursi. Ruang diskusi dilengkapi pula dengan fasilitas Wi-Fi.

B. DATA HASIL
1. Suhu
Hari/Tanggal : Rabu, 2 Oktober 2019, Ruang Diskusi Perpustakaan
Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang

Alat ukur: Termo-Hygrometer

Pengukuran ke- Waktu (WIB) Hasil Rata-rata


1 11.10 250 C
2 11.30 250 C 250 C
3 11.50 250 C

3
2. Kelembaban
Hari/Tanggal : Rabu, 2 Oktober 2019, Ruang Diskusi
Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang

Alatke-
Pengukuran ukur Waktu:Termo-Hygrometer
(WIB) Hasil Rata-rata
1 11.10 WIB 52%
2 11.30 WIB 52% 52%
3 11.50 WIB 52%

3. Pencahayaan
Hari/Tanggal : Rabu, 2 Oktober 2019, Ruang Diskusi
Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang

Alat ukur : Lux meter / Light meter


Pengukuran ke- Waktu (WIB) Hasil Rata-rata
1 11.10 WIB 116 Lux
2 11.30 WIB 268 Lux 267,3 lux
3 11.50 WIB 418 Lux

4. Kecepatan Angin
Hari/Tanggal : Rabu, 2 Oktober 2019, Ruang Diskusi
Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang

Alat ukur : Anemo meter


Pengukuran ke- Waktu (WIB) Hasil Rata-rata
1 11.10 WIB 0.0m/s
2 11.30 WIB 1.0m/s 0,8m/s
3 11.50 WIB 1.4 m/s

4
BAB III
PEMBAHASAN

A. GAMBARAN UMUM LOKASI


Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang terletak di Kampus 7 Poltekkes
Kemenkes Semarang. Jl Raya Baturraden KM. 12, Dusun II Karangmangu, Kec.
Baturraden, Kab. Banyumas, Jawa Tengah 53151. Terdapat ruangan yaitu ruang
administrasi, ruang informasi, ruang baca, ruang diskusi, ruang KTI/Skripsi dan ruang
buku. Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang khusus nya ruang
diskusi, dinding terbuat dari batu bata dengan warna tembok putih, luas ruangan ± 20 m2
dengan bentuk ruangan persegi panjang, lantai dengan keramik warna putih, langit-
langit dengan cat warna putih, ada 2 jendela di bagian samping ruangan, yang masing-
masing diatas jendela ada ventilasi dan dilengkapi dengan gorden. Terdapat meja diskusi
dan 10 kursi. Ruang diskusi dilengkapi pula dengan fasilitas Wi-Fi.

B. PEMBAHASAN HASIL
PARAMETER WAKTU HASIL NAB
11.10 WIB 250 C
23 0C – 26 0C
Suhu 11.30 WIB 250 C
(Permenkes No
11.50 WIB 250 C
48 Tahun 2016)
Rata-rata 250 C
11.10 WIB 52%
40 % - 60 %
Kelembaban 11.30 WIB 52%
(Permenkes No
11.50 WIB 52%
48 Tahun 2016)
Rata-rata 52%
11.10 WIB 122 Lux
300 lux
Pencahayaan 11.30 WIB 268 Lux
(Permenkes No
11.50 WIB 418 Lux
48 Tahun 2016)
Rata-rata 269,3 Lux
11.10 WIB 0.0m/s
0,15-0,50m/s
Kecepatan Angin 11.30 WIB 1.0m/s
(Permenkes No
11.50 WIB 1.4 m/s 48 Tahun 2016)
Rata-rata 0,8m/s

5
a. Suhu/Temperatur
Temperatur ruang diskusi perpustakaan harus memenuhi aspek kebutuhan kesehatan dan
kenyamanan pemakai ruangan. Untuk dapat memenuhi syarat kesehatan dan
kenyamanan suhu ruang perkantoran berkisar 23 oC sampai 26 oC.
Pengukuran suhu pada Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang dengan
3 kali waktu pengukuran di titik yang sama yaitu titik tengah ruang diskusi diperoleh
hasil yang sama di 3 waktu pengukuran tersebut dan masing- masing dari pengukuran
semuanya sesuai dengan nilai ambang batas yaitu 23 oC sampai 26 oC sesuai baku mutu
Peraturan Menteri Kesehatan No 48 Tahun 2016 Tentang Standar Keselamatan
dan Kesehatan Kerja Perkantoran.

- Pengukuran suhu
Suhu ruangan pukul 11.10 WIB yaitu 250 C sama dengan pukul 11.30 WIB dan 11.50
WIB, dikatakan standar karena diantara nilai ambang batas yaitu 23 oC sampai 26 oC.
Suhu standar karena kondisi cuaca cerah tetapi tidak panas.

b. Kelembaban
Kelembaban ruang perpustakaan harus memenuhi aspek kebutuhan kesehatan dan
kenyamanan pemakai ruangan. Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan dalam ruang
perpustakaan diperlukan kadar uap air dengan tingkat kelembaban 40-60%. Kelembaban
erat kaitanyya dengan suhu, namun tidak selalu berbanding lurus antara suhu dengan
kelembaban.
Pengukuran kelembaban pada Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang
dengan 3 kali waktu pengukuran di titik yang sama yaitu titik tengah ruang diskusi
diperoleh hasil yang berbeda di 3 waktu pengukuran tersebut dan masing-masing dari
pengukuran semuanya tidak sesuai dengan nilai ambang batas yaitu 40 % - 60 % sesuai
baku mutu Peraturan Menteri Kesehatan No 48 Tahun 2016 Tentang Standar
Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perkantoran.
- Pengukuran kelembaban
Kelembaban ruangan pukul 11.10 WIB yaitu 52% sama dengan pukul 11.30 WIB dan
11.50 WIB, dikatakan standar karena diantara nilai ambang batas 40 % - 60 %.
Kelembaban standar karena pada saat itu cuaca nya cerah sehingga udara/cahaya luar
dapat masuk melalui ventilasi yang terdapat di ruang diskusi dengan baik.

6
c. Pencahayaan
Aspek kebutuhan (visual performance) dan harapan pemakai ruangan kantor intensitas
pencahayaan harus terpenuhi untuk menunjang kinerja, rasa nyaman, kesehatan, dan
tidak mengakibatkan gangguan kesehatan. Untuk kenyamanan mata disyaratkan
pencahayaan di ruang kerja minimum 300 lux sesuai baku mutu Peraturan Menteri
Kesehatan No 48 Tahun 2016 Tentang Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Perkantoran.
Pengukuran pencahayaan pada Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang
dengan 3 kali waktu pengukuran di titik yang sama yaitu titik tengah ruang diskusi
menggunakan alat lux meter pengukuran dilakukan dengan tinggi ± 85 cm dari lantai
diperoleh hasil yang berbeda di 3 waktu pengukuran tersebut dan masing-masing dari
pengukuran ada yang sesuai dan tidak sesuai dengan nilai ambang batas.
a. Pengukuran pencahayaan
Pencahayaan ruangan pada pukul 11.10 WIB yaitu 122 lux, dikatakan kurang dari nilai
ambang batas. Pencahayaan pada waktu itu lebih kecil dari sesudahnya karena pada saat
pengukuran cuaca sedikit berawan dan terhalang gorden.
b. Pengukuran pencahayaan
Pencahayaan ruangan pada pukul 11.30 WIB yaitu 268 lux, dikatakan kurang dari nilai
ambang batas. Meskipun pencahayaan lebih tinggi dari sebelum nya tetapi masih tidak
sesuai standar nilai ambang batas.
c. Pengukuran pencahayaan
Pencahayaan ruangan pada pukul 11.50 WIB yaitu 418 lux, dikatakan sesuai dari nilai
ambang batas. Karena pencahayaan pada saat itu cuaca kembali cerah dan gorden yang
menutupi jendela di buka lebih lebar sehingga cahaya dapat masuk dengan maksimal.

7
d. Kecepatan Angin
Kecepatan angin/laju ventilasi perpustakaan harus memenuhi aspek kebutuhan kesehatan
dan kenyamanan pemakai ruangan. Untuk mendapatkan tingkat kenyamanan dalam ruang
perpustakaan diperlukan standar laju ventilasi dengan tingkat 0,15-0,50m/s. Kecepatan
angin dalam ruangan atau gerakan angin dalam ruangan dapat menyebabkan
mikroorganisme atau kuman, debu, uap air akan lebih bertanah lama
mengapung/melayang di udara. Sehingga perlu diadakan mengecekan guna mengetahui
standar yang baik agar kondisi ruangan tetap nyaman dan produktif. Dengan persyaratan
yang sesuai baku mutu Peraturan Menteri Kesehatan No 48 Tahun 2016 Tentang
Standar Keselamatan dan Kesehatan Kerja Perkantoran.
Pengukuran kecepatan angin pada Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes
Semarang dengan 3 kali waktu pengukuran di titik yang sama yaitu titik tengah ruang
diskusi menggunakan alat anemometer pengukuran dilakukan dengan tinggi ± 85 cm dari
lantai diperoleh hasil yang berbeda di 3 waktu pengukuran tersebut dan masing-masing
dari pengukuran tidak sesuai dengan nilai ambang batas.
a. Pengukuran kecepatan angin
Kecepatan angin ruangan pada pukul 11.10 WIB yaitu 0,0 m/s, dikatakan kurang dari
nilai ambang batas, karena pada saat itu tidak ada angin yang masuk melalui ventilasi.
b. Pengukuran kecepatan angin
Kecepatan angin ruangan pada pukul 11.30 WIB yaitu 1,0m/s, dikatakan lebih dari nilai
ambang batas. Pada saat pengukuran ada semilir angin yang masuk melalui ventilasi
yang terdapat di ruang dikusi.
c. Pengukuran kecepatan angin
Kecepatan angin ruangan pada pukul 11.50 WIB yaitu 1,4m/s, dikatakan lebih dari nilai
ambang batas. Karena laju ventilasi pada saat itu bisa dikatakan kencang yang
disebabkan oleh cuaca yang cerah dan angin yang masuk melalui pintu dan ventilasi
terjadi dengan maksimal.

8
C. SOLUSI
Suhu
Untuk menurunkan suhu yang terlalu tinggi dalam ruangan dapat dilakukan dengan
menggunakan cara sebagai berikut :
 Dengan meletakkan tanaman hijau yang sesuai di dalam ruangan.
 Dengan membuka jendela lebar-lebar dan menggunakan tirai warna
gelap pada jendela.
 Dengan menambahkan AC (Air Conditioner).
 Gunakan kipas angin yang diputar berlawanan dengan arah jarum jam.
 Matikan alat elektronik yang tidak dipakai.
 Ketika membangun gedung sebaiknya platform ruangan dibuat tinggi.
Kelembaban
Untuk menurunkan kelembaban yang tinggi dalam ruangan dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
 Meletakkan tanaman hijau di dalam ruangan yang sesuai dan pilihlah
tanaman tidak menghasilkan banyak uap air.
 Menggunakan jendela dan ventilasi secara maksimal
 Dengan menambahkan AC (Air Conditioner).
 Pasang sensor kelembaban untuk mengetahui kelembaban
 Perhatikan perpipaan, karena pipa yang bocor dapat meningkatkan
kelembaban

Pencahayaan
Untuk mengatasi pencahayaan yang kurang dari batas minimal yaitu sebagai berikut :
 Dengan menggunakan furniture berwarna cerah seperti putih.
 Maksimalkan penggunaan jendela 15-20 % dari luas lantai dan ventilasi
10 % dari luas lantai.
 Gunakan tirai berwarna cerah.
 Gunakan cat warna putih pada tembok dan langit-langit, karena warna
tersebut dapat memantulkan cahaya
 Gunakan lampu pada ruangan.
 Pada saat membangu gedung kondisikan letak geografis gedung sesuai
peruntukannya.
9
Kecepatan Angin
Untuk mengatasi laju ventilasi yang kurang dari batas minimal yaitu sebagai berikut :
 Luas lubang ventilasi tetap (permanen) minimal 5% dari luas lantai
ruangan dan luas lubang ventilasi insidentil yaitu ventilasi yang dapat
dibuka dan ditutup minimal 5% dari luas lantai, sehingga luas ventilasi
permanen dan isedentil adalah 10% dari luas lantai ruangan.
 Udara yang masuk ke dalam ruangan harus udara yang bersih, tidak
dicemari oleh asap dari sampah. pabrik, knalpot, debu dan lain-lain.
 Udara diusahakan mengalir secara cross ventilation yaitu dengan
menempatkan lubang hawa yang saling berhadapan antara dua
dinding ruangan

10
BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan
Kualitas udara bisa menurun dikarenakan aktivitas manusia yang menyebabkan
gangguan kesehatan. Beragam aktifitas manusia seperti kegiatan industri, transportasi,
dan kegiatan lainnya memiliki peranan yang signifikan dalam mendorongnya terjadi
pencemaran udara. Kualitas udara di dalam ruangan juga dapat mempengaruhi kondisi
kesehatan seseorang, karena dimana orang tersebut berada setiap harinya juga
merupakan penggambaran dari kualitas lingkungannya. Suhu, kelembapan,
pencahayaan, dan debu merupakan komponen yang ada di dalam suatu ruangan.
Berdasarkan hasil mini riset pengukuran parameter fisik udara yang meliputi suhu,
kelembaban, pencahayaan, dan kecepatan angin yang saya lakukan di Perpustakaan
Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang hasilnya ada yang sesuai dengan nilai ambang
batas dan ada yang tidak. Yang sesuai nilai ambang batas yaitu nilai suhu dan
kelembaban. Walaupun parameter yang lainnya tidak memenuhi nilai ambang batas
tetapi hasil pengukuran nya tidak terlalu jauh dari nilai ambang batas. Dengan demikian
perlu dilakukan beberapa perbaikan kualitas fisik udara di Perpustakaan Kampus 7
Poltekkes Kemenkes Semarang khususnya ruang diskusi.

B. Saran
Saran saya untuk pihak Perpustakaan Kampus 7 Poltekkes Kemenkes Semarang yaitu
sebaiknya lebih memperhatikan kualitas fisik udara ruangan dan melakukan perbaikan
pada kualitas fisik udara ruangan yang belum baik demi menciptakan lingkungan kerja
yang nyaman, kesehatan yang baik, dan meningkatkan produktivitas.

11
DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, Tri. 2017. Penyehatan Udara. Yogyakarta : ANDI.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 48 Tahun 2016 Tentang Standar
Keselamatan Dan Kesehatan Kerja Perkantoran.
http://www.academia.edu/11401531/PENCAHAYAAN_DI_LINGKUNGAN_KE RJA.
Diakses pada 26-10-2019

https://www.homify.co.id/ideabooks/1685853/rahasia-mengusir-kelembaban-dari-
dalam-rumah. Diakses pada 26-10-2019

https://www.homify.co.id/ideabooks/3986810/7-tips-mengubah-suasana-ruangan-
gelap-menjadi-terang. Diakses pada 26-10-2019

https://www.mallardsgroups.com/cara-mengatasi-ruangan-yang-panas/. Diakses pada


26-10-2019
https://www.kajianpustaka.com/2012/11/perpustakaan.html. Diakses pada 26-10-2019
https://www.ilmusiana.com/2019/06/alat-untuk-mengukur-kecepatan-angin.html. Diakses
pada 26-10-2019

12
LAMPIRAN

Cara Kerja Termo-Hygrometer :


1. Letakkan alat pada titik pengambilan sampel
2. Tunggu hasil sampai 15 menit
3. Catat hasil pengukuran

Pengukuran suhu dan kelembaban

11.10 – 11.50 WIB

13
Cara Kerja Lux Meter/Light Meter :
1. Tekan tombol power pada alat
2. Buka tutup sensor pada alat
3. Arahkan alat pada tempat yang akan di ukur, tinggi dari lantai ± 85 cm,
ketika mengukur di meja kerja, jarak dengan operator 60-90 cm.
4. Lihat angka yang muncul, angka yang sering muncul adalah hasilnya
5. Tekan tombol hold untuk menghentikan laju angka
6. Tombol max dan min untuk melihat angka maximal dan minimal pada saat
pengukuran.
7. Untuk mematatikan alat tekan tombol power dan tutup kembali sensor.

Pengukuran Pencahayaan

11.10 WIB 11.30 WIB 11.50 WIB

14
Cara kerja anemo meter :
1. Tentukan arah angin. Pengamat harus menghadap ke arah yang berlawanan
dengan arah angin.
2. Nyalakan anemometer dengan cara menekan tombol power.
3. Layar tampilan (display) menghadap ke arah pengamat dan angin akan
datang dari arah belakang layar tampilan.
4. Perhatikan angka yang menunjukkan kecepatan angin pada layar tampilan.
5. Apabila angka kecepatan angin telah konstan tekan tombol hold. Catat
hasilnya.

Pengukuran kecepatan angin

15
Foto penulis saat melakukan pemeriksaan

16
17
18
19
12
0
20