Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

PROFESI PERAWAT DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Oleh

1. ADI KISWOYO
2. HENI ROHMAWATI
3. RITA SALEH
4. YOGA RIZKI WIBOWO
5. ALFIYAN PRIMA GINANJAR
6. ANNA WULANDARI

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN KONVERSI


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN (STIKes) MUHAMMADIYAH
PRINGSEWU LAMPUNG
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur marilah kita panjatkan kehadirat tuhan YME. Karena atas
limpahan rahmat dan hidayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
sederhana ini. Makalah dengan judul “Analisa Kewirausahaan dan Faktor
Kewirausahaan“ ini kami buat sebagai salah satu tugas dari mata kuliah kesehatan
reproduksi lanjut itu sendiri.

Seperti yang kita ketahui bahwa “tak ada gading yang tak retak” seperti itu
pula adanya dengan makalah ini, kami menyadari bahwa makalah ini masih
sangat jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran dari teman-teman
serta pembaca sangat kami butuhkan untuk makalah kami selanjutnya.

Pringsewu, Februari 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL........................................................................................ i
KATA PENGANTAR ..................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................... iii

BAB IPENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah............................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ...................................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan........................................................................................ 2
D. Manfaat Penulisan...................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian ................................................................................................... 2
B. Analisis 9 Aspek Usaha ............................................................................. 2
C. Faktor-Faktor Keberhasilan atau Kegagalan Usaha ................................... 5
D. Contoh analisis kewirausahaan .................................................................. 6
E. Analisis Keberhasilan................................................................................. 7

BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan ............................................................................................... 9
B. Saran .......................................................................................................... 9

DAFTAR PUSTAKA

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam adalah salah satu agama yang diakui keberadaaannya di Indonesia.


Jumlah penganut agama Islam di Indonesia sangat banyak dibandingan
penganut agama non Islam. Islam adalah agama yang benar disisi Allah dan
hamba-hambanya, sehingga Allah menurunkan Al-Qur’an untuk menjadi
pedoman hidup bagi manusia(muslim) khusus untuk umat Nabi Muhammad
Saw. Didalam Al-Qur’an ada ayat yang menerangkan bahwa salah satu tujuan
diturunkannya Al-Qur’an adalah sebagai obat dan rohmat bagi orang – orang
mukmin. Misalnya dengan ilmu8 kesehatan, ilmu ini zaman nabi pun ada tapi
belum semaju sekarang karena adanya pengaruh globalisasi. Tokoh Islam
yang terkenal di dunia kesehatan salah satunya yaitu Ibnu Sina.

Islam sangat menyarankan untuk selalu menjaga kesehatan karena dengan


jiwa yang sehat akan mempermudah sekali kita untuk beribadah kepada Allah
karena tujuan kita diciptakan adalah untuk beribadah kapada-Nya.

B. Tujuan
Kita sebagai umat Islam terkadang tidak menegetahui apa fungsi Islam dalam
bidang kesehatan, kita hanya berfikir Islam adalah agama. Sebenarnya banyak
sekali yang kita belum ketahui tentang Islam. Islam merupakan salah satu
agama yang membahas seluruh aspek kehidupan misalnya dalam hal penyakit.
Maka dari itu penulis dalam makalah ini mengambil judul “PROFESI
PERAWAT DALAM PERSPEKTIF ISLAM” dengan tujuan untuk
menambah wawasan kita (muslim) dalam memahami Islam tentang
manfaatnya dalam dunia kesehatan.

1
C. Rumusan Masalah
Dalam pembuatan makalah ini penulis menggunakan metode kajian pusataka
yang artinya mencari dari buku – buku yang ada kaitannya dengan
pembahasan mengenai Profesi Perawat Dalam Perspektif Islam, sebagai
referensi lainya juga diperoleh dari Al-Qur’an, Kitab-kitab karangan para
ulama dan situs web di internet yang membahas mengenai hal tersebut disertai
dengan pemikiran penulis sendiri.

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Perawat Sebagai Profesi


Islam menaruh perhatian yang besar sekali terhadap dunia kesehatan dan
keperawatan guna menolong orang yang sakit dan meningkatkan kesehatan.
Kesehatan merupakan modal utama untuk bekerja, beribadah dan
melaksanakan aktivitas lainnya. Ajaran Islam yang selalu menekankan agar
setiap orang memakan makanan yang baik dan halal menunjukkan apresiasi
Islam terhadap kesehatan, sebab makanan merupakan salah satu penentu sehat
tidaknya seseorang.
"Wahai sekalian manusia, makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa
yang terdapat di bumi. Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari apa
yang baik-baik yang Kami rezekikan kepadamu" (QS al-Baqarah: l68, l72).
Makanan yang baik dalam Islam, bukan saja saja makanan yang halal, tetapi
juga makanan yang sesuai dengan kebutuhan kesehatan, baik zatnya,
kualitasnya maupun ukuran atau takarannya. Makanan yang halal bahkan
sangat enak sekalipun belum tentu baik bagi kesehatan.
Sebagian besar penyakit berasal dari isi lambung, yaitu perut, sehingga apa
saja isi perut kita sangat berpengaruh terhadap kesehatan. Karena itu salah
satu resep sehat Nabi Muhammad SAW adalah memelihara makanan dan
ketika makan, porsinya harus proporsional, yakni masing-masing sepertiga
untuk makanan, air dan udara (HR. Turmudzi dan al-Hakim)..
Anjuran Islam untuk hidup bersih juga menunjukkan obsesi Islam untuk
mewujudkan kesehatan masyarakat, sebab kebersihan pangkal kesehatan, dan
kebersihan dipandang sebagai bagian dari iman. Itu sebabnya ajaran Islam
sangat melarang pola hidup yang mengabaikan kebersihan, seperti buang
kotoran dan sampah sembarangan, membuang sampah dan limbah di
sungai/sumur yang airnya tidak mengalir dan sejenisnya. Islam sangat

3
menekankan kesucian (al-thaharah), yaitu kebersihan atau kesucian lahir dan
batin. Dengan hidup bersih, maka kesehatan akan semakin terjaga, sebab
selain bersumber dari perut sendiri, penyakit seringkali berasal dari
lingkungan yang kotor.
Islam juga sangat menganjurkan kehati-hatian dalam bepergian dan
menjalankan pekerjaan, dengan selalu mengucapkan basmalah dan berdoa.
Agama sangat melarang perilaku nekad dan ugal-ugalan, seperti bekerja tanpa
alat pengaman atau ngebut di jalan raya yang dapat membahayakan diri
sendiri dan orang lain.
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (al-
Baqarah:: l95).
Hal ini karena sumber penyakit dan kesakitan, tidak jarang juga berasal dari
pekerjaan dan risiko perjalanan. Sekarang ini kecelakaan kerja masih besar
disebabkan kurangnya pengamanan dan perlindungan kerja. Lalu lintas jalan
raya; darat, laut dan udara juga seringkali diwarnai kecelakaan, sehingga
kesakitan dan kematian karena kecelakaan lalu lintas ini tergolong besar
setelah wabah penyakit dan peperangan.
Jadi walaupun seseorang sudah menjaga kesehatannya sedemikian rupa, risiko
kesakitan masih besar, disebabkan faktor eksternal yang di luar
kemampuannya menghindari. Termasuk di sini karena faktor alam berupa
rusaknya ekosistem, polusi di darat, laut dan udara dan pengaruh global yang
semakin menurunkan derajat kesehatan penduduk dunia. Karena itu Islam
memberi peringatan antisipatif: jagalah sehatmu sebelum sakitmu, dan jangan
abaikan kesehatan, karena kesehatan itu tergolong paling banyak diabaikan
orang. Orang baru sadar arti sehat setelah ia merasakan sakit.

B. Adanya Perawat
Mengingat kompleksnya faktor pemicu penyakit dan kesakitan, maka profesi
keperawatan tidak bisa dihindari. Kapan dan di mana pun, keperawatan sangat
dibutuhkan, baik yang dilakukan secara sederhana dan tradisional sampai pada
yang semi modern dan supermodern.

4
Keperawatan secara umum dapat dibagi dua, yaitu pelayanan kesehatan dan
pelayanan medis. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pelayanan
kesehatan diartikan sebagai pelayanan yang diterima seseorang dalam
hubungannya dengan pencegahan, diagnosis dan pengobatan suatu gangguan
kesehatan tertentu (KBBI, l990: 504).

Menurut Benjamin Lumenta (l989: l5)

* Pelayanan kesehatan ialah kegiatan yang sama, yang dilakukan oleh pranata
sosial atau pranata politik terhadap keseluruhan masyarakat sebagai tujuannya.
Pelayanan kesehatan merupakan kegiatan makrososial yang berlaku antara
pranata atau lembaga dengan suatu populasi, masyarakat atau komunitas
tertentu.

* Sedangkan pelayanan medis ialah suatu upaya dan kegiatan pencegahan dan
pengobatan penyakit, semua upaya dan kegiatan peningkatan dan pemulihan
kesehatan yang dilaksanakan atas dasar hubungan individual antara para ahli
pelayanana medis dengan individu yang membutuhkannya.

Pelayanan medis ini merupakan kegiatan mikrososial yang berlaku antara


orang perorangan (Lumenta, l989: l5). Al Purwa Hadiwardoyo (l989: l6)
menambahkan, pelayanan medis mengandung semangat pelayanan dan usaha
maksimal dengan mengutamakan kepentingan pasien dan mengandung nilai
ethos yang tidak egoistis dan materialistis.

Dengan demikian, pelayanan kesehatan lebih bersifat hubungan antarlembaga


atau institusi kesehatan dengan kelompok masyarakat yang lebih bersifat
massal, sedangkan pelayanan medis lebih bersifat hubungan individual antara
pemberi layanan medis, dalam hal ini dokter, paramedis dan perawat dengan
pengguna, pasien atau orang yang membutuhkan pelayanan medis, dengan
lebih menekankankan kepada ethos kerja profesional dan tidak materialistis.

Dalam tulisan ini, perbedaan istilah di atas tidak terlalu dipersoalkan, karena
muaranya juga sama, yakni mencegah penyakit dan peningkatan derajat

5
kesehatan. Lumenta mengatakan, pelayanan kesehatan dan pelayanan medis
mempunyai tujuan yang sama, yakni memenuhi kebutuhan individu atau
masyarakat untuk mengatasi, menetralisasi atau menormalisasi semua masalah
atau semua penyimpangan terhadap keadaan kesehatan, atau semua masalah
dan penyimpangan terhadap keadaan medis normatif. Karena itu pranata sosial
atau politik, seperti ormas kepemudaan, keagamaan dan partai politik,
memang bisa saja memberikan pelayanan kesehatan, misalnya untuk
meningkatkan pengabdian pada masyarakat, bakti sosial dan sejenisnya, tetapi
tetap harus bekerjasama dengan institusi dan pemberi layanan medis yang
profesional. Sebab tanpa melibatkan para profesional di bidang kesehatan dan
medis, pelayanan yang diberikan tidak akan berhasil, bahkan akan
kontraproduktif.

Di tengah tingginya tuntutan kepada profesionalisme kerja sekarang serta daya


kritis masyarakat yang juga meningkat, setiap pekerjaan harus dijalankan
secara profesional. Terlebih pekerja di bidang kesehatan dan medis, sebab
pekerjaan ini sangat berisiko dan berkaitan dengan hidup matinya manusia,
yang dalam sumpah dunia kedokteran, harus dilindungi dan diselamatkan
sejak calon manusia itu masih berada di dalam perut ibunya.

C. Mulianya Profesi Perawat


Menurut mantan Rektor Universitas Al-Azhar, Syeikh Mahmoud Syaltout
(l973: l24), banyak sekali petunjuk Nabi Muhammad SAW yang jelas sekali
menuntut perlunya profesi keperawatan. Perintah untuk berobat, peringatan
terhadap penyakit menular, perintah mengasingkan diri terhadap penyakit
menular, penjenisan makanan-makanan sehat untuk tubuh, dll, menunjukkan
bahwa baik secara tersurat maupun tersirat Islam sangat menuntut hadirnya
para perawat di tengah masyarakat manusia. Sebab orang yang memiliki
kompetensi di bidang pengobatan dan perawatan kesehatan tidak lain adalah
institusi beserta individu perawat yang mengabdi di dalamnya.

6
Islam tidak membedakan apakah ia dokter, paramedis atau perawat, sepanjang
ia mengabdi di bidang pengobatan dan perawatan penyakit, maka ia
merupakan orang mulia. Bahkan dalam banyak kitab fikh dan hadits, selalu
ada bab khusus yang membahas tentang penyakit dan pengobatan (kitab al-
maridh wa al-thib). Di dalam Islamic Code of Medical Ethics diterangkan
bahwa pengobatan dan keperawatan merupakan profesi mulia. Allah
menghormatinya melalui mukjizat Nabi Isa bin Maryam dan Nabi Ibrahim
yang pandai mengobati penyakit dan selalu menyebut nama Allah sebagai
penyembuh penyakitnya. Sama halnya dengan semua aspek ilmu pengetahuan,
ilmu kedokteran dan keperawatan adalah sebagian dari ilmu Allah, karena
Allah-lah yang mengajarkan kepada manausia apa yang tidak diketahuinya.

Allah berfirman:
Iqra wa rabbukal akram, alladzi allama bil qalam, allamal insana ma lam
ya’lam (Bacalah dan Tuhanmulah yang paling mulia, yang mengajar manusia
dengan perantaraan qalam (baca tulis), dan Dia mengajarkan kepada manusia
segala apa yang tidak diketahuinya. (QS al-Alaq: 3-5).
Melalui ayat ini Allah menyuruh mempelajari alam semesta beserta segenap
organisme dan anorganisme yang ada di dalamnya dengan nama dan
kemuliaan Tuhan, melalui baca tulis, eksperimen, penelitian, diagnonis, dsb.
Ini terbukti dengan semakin banyaknya studi di bidang kedokteran dan
kesehatan, semakin terungkap tanda-tanda kekuasaan Allah terhadap
makhluk-makhluk-Nya.
Berkaitan dengan ini pengadaan praktik kedokteran dan perawatan adalah
perintah agama kepada masyarakat, yang disebut fardlu kifayah, yang diwakili
oleh beberapa institusi untuk melayani kebutuhan kesehatan dan pengobatan
masyarakat dan dapat dinikmati oleh setiap orang tanpa kecuali, tanpa melihat
kepada perbedaan ras, agama dan status sosialnya. Kewajiban ini merupakan
tugas negara untuk menjamin kebutuhan bangsa akan para dokter dan perawat
dalam berbagai bidang spesialisiasi. Dalam Islam hal ini merupakan
kewajiban negara terhadap warganegaranya.

7
Kesehatan harus menjadi tujuan, dan keperawatan kedokteran sebagai cara,
pasien adalah tuan, dokter dan perawat sebagai pelayannya. Peraturan-
peraturan, jadwal-jadwal, waktu dan pelayanan harus dilaksanakan sedemikian
rupa untuk menentukan keadaan pasien dan ditempatkan paling atas dengan
kesejahteraan dan kesenangan yang pantas. Status istimewa harus diberikan
kepada pasien selama ia menjadi pasien, tidak membedakan siapa dan apa dia.
Seorang pasien berada pada tempat perlindungan karena penyakitnya dan
bukan karena kedudukan sosialnya, kekuasaan atau hubungan pribadinya.
Karena itulah dokter dan perawat mengemban tugas mulia, yang dalam
sumpah jabatannya mereka sudah bersumpah dengan nama Tuhan, berjanji
untuk mengingat Tuhan dalam profesinya, melindungi jiwa manusia dalam
semua tahap dan semua keadaan, melakukan semampu mungkin untuk
menyelamatkannya dari kematian, penyakit, rasa sakit dan kecemasan.
Allah berjanji akan menolong setiap orang di akhirat dan di hari pembalasan,
siapa saja yang menolong saudaranya di dunia. Walaupun kematian
merupakan hak prerogatif Allah menentukannya, namun manusia diberi
kewenangan yang maksimal untuk mengatasi penyakitnya dengan bantuan
dokter dan perawat. Itu sebabnya terhadap penyakit yang parah sekalipun,
dokter dan perawat tetap melakukan usaha maksimal dan memberi semangat
hidup para pasien bersangkutan.

D. Keperawatan, Islam, Masa Kini dan Mendatang


Di negara-negara timur tengah, konteks keperawatan sendiri banyak
dipengaruhi oleh sejarah keperawatan dalam Islam, budaya dan kepercayaan
di Arab, keyakinan akan kesehatan dari sudut pandang islam (Islamic health
belief), dan nilai-nilai profesional yang diperoleh dari pendidikan
keperawatan. Tidak seperti pandangan keperawatan di negara barat, keyakinan
akan spiritual islam tercermin dalam budaya mereka.

Di Indonesia mungkin hal serupa juga terjadi, tinggal bagaimana keperawatan


dan islam dapat berkembang sejalan dalam harmoni percepatan tuntutan

8
asuhan keperawatan, kompleksitas penyakit, perkembangan tehnologi
kesehatan dan informatika kesehatan. Agar tetap mengenang dan menteladani
sejarah perkembangan keperawatan yang di mulai oleh Rufaida binti Sa'ad.

E. Pendekatan HolistiK Dalam Asuhan Keperawatan


Holistik merupakan salah satu konsep yang mendasari tindakan keperawatan
yang meliputi dimensi fisiologis, psikologis, sosiokultural, dan spiritual.
Dimensi tersebut merupakan suatu kesatuan yang utuh, apabila satu dimensi
terganggu akan mempengaruhi dimensi lainnya. Holistik terkait dengan
kesejahteraan (Wellnes). Untuk mencapai kesejahteraan terdapat lima dimensi
yang saling mempengaruhi yaitu: fisik, emosional, intelektual, sosial dan
spiritual. Untuk mencapai kesejahteraan tersebut, salah satu aspek yang harus
dimiliki individu adalah kemampuan beradaptasi terhadap stimulus. Teori
adaptasi Sister Callista Roy dapat digunakan.
Teori ini menggunakan pendekatan yang dinamis, di mana peran perawat
dalam memberikan asuhan keperawatan dengan memfasilitasi kemampuan
klien untuk melakukan adaptasi dalam menghadapi perubahan kabutuhan
dasarnya. Tindakan direncanakan dengan tujuan mengubah stimulus dan
difokuskan pada kemampuan individu dalam beradaptasi terhadap stimulus.
Sedangkan evaluasi yang dilakukan dengan melihat kemampuan klien dalam
beradaptasi dan mencegah timbulnya kembali masalah yang pernah dialami.
Kemampuan adaptasi ini meliputi seluruh aspek baik bio, psiko maupun sosial
(holistik). Sebagai pemberi asuhan keperawatan, konsep holistik dan adaptasi
ini merupakan konsep yang harus di pahami oleh perawat agar dapat
memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas kepada klien
Bicara tentang konsep holistic dari dulu perawat telah lama mengenal. Dalam
literatur keperawatan dikatakan perawat memandang manusia sebagai
makhluk yang utuh bio,psiko, sosio, spiritual. Karena konsep yang dibahas
cukup luas teman saya ada yang memplesetkan sebagai
“ipolesosbudhankamrata”nya perawat. Saking luasnya jangkauan yang “harus
dijangkau” oleh perawat bahkan ada yang bersikap skeptis.

9
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Dari apa yang dijabarkan di atas, dapatlah disimpulkan bahwa ketika seorang
menganggap dirinya sebagai seorang professional maka ia harus memliki
unsur bertauhid, amanah, berakhlaq, memiliki ilmu, ikeahlian dan tanggung
jawab. Sebagai sebagai calon perawat sudah seharusnya menganut hal tersebut
karena sebagai landasan seorang perawat yang profesional.

B. Saran
Allah menciptakan manusia sebagai pemimpin di muka bumi ini, tapi apabila
manusia sudah menjadi pemimpin mereka lupa dengan masyarakat yang dia
pimpin. Sebagai calon pemimpin dalam bidang keperawatan atau kesehtan
jangan membeda-bedakan masyarakat antara sikaya dan si miskin apabila
dalam merawat pasien.

10