Anda di halaman 1dari 24

PTK: PENGARUH METODE SIMULASI TERHADAP PRESTASI BELAJAR

SISWA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Paradigma mengukur kemajuan suatu bangsa saat ini sudah bergeser, yaitu dari yang

semula mengukur kemajuan suatu bangsa dengan bertumpu semata-mata pada kekayaan sumber

daya alam (SDA), menjadi mengukur kemajuan suatu bangsa dengan bertumpu pada kekuatan

sumber daya manusia (SDM).

Kemajuan suatu bangsa mengharuskan adanya sumber daya manusia yang unggul di

segala bidang kehidupan.Untuk mencapai taraf tersebut maka langkah yang ditempuh adalah

dengan memperkuat sektor pendidikan. Dengan pendidikan, potensi dan kemampuan serta

keterampilan seseorang diharapkan dapat tumbuh berkembang, sehingga pada akhirnya menjadi

sumber daya manusia unggul dan berkualitas yang relevan dengan perkembangan zaman.

Sejalan dengan hal itu, menyadari arti pentingnya pendidikan demi proses peningkatan

mutu sumber daya manusia yang menjadi indikasi kemajuan suatu bangsa, Indonesiapun

berusaha memperbaiki kualitas mutu sumber daya manusianya dengan berusaha mencapai tujuan

pendidikan nasional seperti yang tertuang dalam Undang-undang No.20 tahun 2003

1
tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berisi mengenai fungsi dan tujuan

Pendidikan Nasional sebagai berikut.1[1]

"Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak

serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia

yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,

cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung

jawab”.

Adanya undang-undang tersebut dapat diartikan sebagai peningkatan mutu pendidikan

adalah bagian terpadu dari upaya peningkatan kualitas manusia, baik aspek kemampuan,

kepribadian maupun tanggung jawab sebagai warga negara.

Marsigit menyatakan bahwa “ahli-ahli kependidikan telah menyadari bahwa mutu

pendidikan sangat bergantung kepada kualitas guru dan praktek pembelajarannya sehingga

peningkatan kualitas pembelajaran merupakan isu mendasar bagi peningkatan mutu

pendidikan secara nasional”.

Peningkatan mutu pendidikan tersebut tercermin dari pencapaian ranah kognitif,

afektif dan psikomotorik siswa dalam pembelajaran. Sering kali pembelajaran ditekankan

pada metode ceramah sehingga hasil yang dicapai kurang maksimal, oleh karena itu di era

baru paradigma pendidikan ditekankan pada siswa sebagai pusat belajar (student centre) yang

pada akhirnya memunculkan banyak metode belajar yang menekankan pada peran aktif siswa

selam proses pembelajaran berlangsung, metode tersebut misalnya demonstrasi, simulasi,

1[1] Trianto. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progesif .Kencana, Jakarta, 2009 hal 1

2
Diskusi, symposium, karya wisata, penugasan, pemecahan masalah, eksperimen, inquiry dan

sebagainya.

Munculnya berbagai metode pembelajaran tersebut diharapkan dapat meningkatkan

kualitas pembelajaran yang berujung pada peningkatan prestasi belajar siswa. Pada umumnya

materi pelajaran yang mempunyai tingkat komplektisitas yang tinggi cenderung mempunyai

nilai prestasi belajar yang rendah oleh karena itu diperlukan strategi dan metode belajar yang

tepat agar dapat mencapai prestasi belajar optimal.

Di tingkat Madrasah Ibtidaiyah salah satu materi pelajaran tersebut adalah IPA yang

mempunyai tinggkat komplektisistas yang tinggi dalam bebebarapa bab seperti sistem

peredaran darah manusia yang terdapat pada kelas 5 dengan kendala sering diketahui siswa

tidak dapat mengurutkan alur peredaran darah manusia serta mengetahui bagian dan fungsi

jantung.

Permasalahan yang muncul tersebut dikarenakan adanya suatu pemahaman yang

harus terperinci mengenai bagian-bagian atau fungsi jantung sehingga dalam memahami alur

peredaran darah manusia runtut tidak terbolak balik dan tercipta pemahaman siswa terhadap

alur peredaran darah manusia yang tepat. Faktor lain yaitu siswa cenderung hanya

mendengarkan pelajaran yang disampaikan oleh guru dengan kata lain metode pembelajaran

yang dilakukan oleh guru terbatas pada metode ceramah yang menjenuhkan bagi siswa dan

berdampak prestasi belajar siswa kurang maksimal dengan nilai rata-rata siswa 65 dan hanya

sebesar 60 % dari siswa dinyatakan tuntas belajar.

Berdasarkan pada keadaan tersebut hal yang perlu diperhatikan adalah perubahan

metode belajar sehingga materi pelajaran yang terkesan rumit dan seringkali hanya melalui

penjelasan dapat diubah dengan metode pembelajaran yang menekankan keterlibatan aktif

siswa selama pembelajaran berlangsung.

Salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengatasi permasalahan

3
tersebut adalah metode simulasi. Metode simulasi adalah cara penyajian pelajaran dengan

menggunakan situasi tiruan atau berpura-pura dalam proses belajar dengan tujuan untuk

memperoleh suatu pemehaman tentang hakikat sustu konsep, prinsip atau keterampilan

tertentu.Metode simulasi ini bertujuan untuk membangun pemahaman siswa terhadap materi

pelajaran tentang alaur peredaran darah sehinggga siswa melakukan simulasi seolah ruangan

kkelas sebagai jantung dan siswa dapat mengikuti alur peredaran darah dengan tepat dan

benar yang menjadikan pencapaian prestasi belajar siswa meningkat.

Berdasarkan pada uraian penjelasan diatas maka penulis menyusun sebuah penelittian

tindakan kelas yang berjudul “ Upaya meningkatkan prestasi belajar mata pelajaran IPA

melalui metode simulasi pada siswa kelas V MI Syafi’iyah Sukosari Jogoroto Jombang

Tahun Pelajaran 2011/2012 ”.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah penerapan metode pembelajaran simulasi dapat meningkatkan Prestasi

Belajar Mata Pelajaran IPA pada siswa kelas V MI Syafi’iyah Sukosari Jogoroto

Jombang Tahun Pelajaran 2011/2012?

2. Bagaimanakah respon siswa kelas V MI Syafi’iyah Sukosari Jogoroto Jombang

Tahun Pelajaran 2011/2012 pada pembelajaran IPA setelah menggunakan metode

pembelajaran simulasi?

C. Tujuan Penelitian

4
1. Untuk menjelaskan pengaruh penerapan metode pembelajaran simulasi dalam

meningkatkan Prestasi Belajar Mata Pelajaran IPA pada siswa kelas V MI Syafi’iyah

Sukosari Jogoroto Jombang Tahun Pelajaran 2011/2012.

2. Untuk menjelaskan respon siswa kelas V MI Syafi’iyah Sukosari Jogoroto Jombang

Tahun Pelajaran 2011/2012 pada pembelajaran IPA setelah menggunakan metode

pembelajaran simulasi.

D. Manfaat Penelitian

Bagi siswa, dengan metode pembelajaran simulasi diharapkan memberikan

pengalaman baru dan diharapkan memberikan kontribusi terhadap peningkatan prestasi

belajarnya.

Bagi guru, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan profesional, dan

pembelajaran dengan metode inovatif yang menjadi alternative pembelajaran IPA untuk

meningkatkan prestasi siswa. Memberikan kesadaran guru untuk memperbaiki dan

meningkatkan kualitas pembelajaran yang disesuaikan dengan tujuan, materi, karakteristik

siswa, dan kondisi pembelajaran.

Bagi Sekolah, Dengan penelitian ini diharapkan memberikan gambaran tentang perbedaan

hasil pembelajaran menggunakan metode konvensional dengan motede kooperatif yakni metode

simulasi sehingga terdapat suatu sinergi antara pihak sekolah dalam ahla ini adalah kepala sekolah

untuk memfasilitasi dan mendukung metode pembelajaran inovatif yang dilaksanakan oleh guru di

lingkungan Madrasah Ibtidaiyah Syafi’iyah Sukosari Jogoroto Jombang.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian tindakan kelas ini adalah sebagai berikut:

5
1. Permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah masalah peningkatan prestasi

belajar siswa.

2. Pemecahan dari masalah adalah dengan penggunaan metode simulasi pada mata

pelajaran IPA

3. Penelitian tindakan kelas ini dikenakan pada siswa kelas V

4. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di MI Syafi’iyah Sukosari Jogoroto

Jombang

5. Dalam penelitian ini dilaksanakan pada semester I tahun pelajaran 2011/2012

6. Penelitian tindakan kelas ini dibatasi pada kompetensi dasar 1.4 yaitu

mengidentifikasi organ peredaran darah manusia materi sistem peredaran darah

manusia.

6
BAB II

KAJIAN TEORI

A. Pengertian Prestasi Belajar

Belajar dapat membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan ini

merupakan pengalaman tingkah laku dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Menurut

Poerwodarminto Pengalaman dalam belajar merupakan pengalaman yang dituju pada hasil

yang akan dicapai siswa dalam proses belajar di sekolah. prestasi belajar adalah hasil yang

dicapai (dilakukan, dekerjakan), dalam hal ini prestasi belajar merupakan hasil pekerjaan,

hasil penciptaan oleh seseorang yang diperoleh dengan ketelitian kerja serta perjuangan yang

membutuhkan pikiran. 2[2]

Prestasi belajar mengandung arti sebagai suatu bentuk keberhasilan belajar yang dapat

dioperasionalkan dalam bentuk indikator-indikator berupa nilai rapor, indeks prestasi studi,

angka kelulusan, prediket keberhasilan dan semacamnya 3[3]

Berdasarkan uraian diatas dapat dikatakan bahwa prestasi belajar yang dicapai oleh

siswa dengan melibatkan seluruh potensi yang dimilikinya setelah siswa itu melakukan

kegiatan belajar. Pencapaian hasil belajar tersebut dapat diketahui dengan mengadakan

penilaian tes hasil belajar. Penilaian diadakan untuk rnengetahui sejauh mana siswa telah

berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Di samping itu guru dapat mengetahui

sejauh mana keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar di sekolah.

Dengan kata lain menyangkut prestasi belajar dalam riilnya adalah nilai yang dipreoleh

siswa setelah melibatkan secara langsung/aktif seluruh potensi yang dimilikinya baik aspek

2[2] Dimyati dan Mujiono, Belajar dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta 2002 hal 23

3[3] Azwar Syaefudin.Pengantar Psikologi Intelegensia, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2006 hal 166

7
kognitif (pengetahuan), afektif (sikap) dan psikomotor (keterampilan) dalam proses belajar

mengajar IPA.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar

Menurut Slameto Faktor yang mempengaruhi prestasi belajar banyak jenisnya, tetapi

dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern

adalah faktor yang ada dalam diri individu yang sedang belajar, sedangkan faktor ekstern

adalah faktor yang ada di luar individu. 4[4]

1. Faktor intern

Di dalam membicarakan faktor intern ini akan dibahas menjadi tiga faktor, yaitu

jasmaniah, faktor psikologis dan faktor kelelahan.

1. Faktor Jasmaniah yang terdiri dari Faktor kesehatan dan faktor cacat tubuh

2) Faktor psikologis

Yang termasuk dalam faktor-faktor psikologis yang mempengaruhi prestasi belajar

adalah antara lain: intelegensia, perhatian ,minat, bakat, motivasi, kematangan, kesiapan

3. Faktor Kelelahan

Kelelahan dapat terjadi baik dari segi jasmani ataupun rohani. Kelelahan akan

mengakibatkan berkurangnya keinginan untuk belajar sehingga hasil belajar siswa tidak akan

mencapai taraf optimal.

2. Faktor ekstern

Adalah faktor dari luar peserta didik yang mempengaruhi prestasi belajar dan

dikelompokkan menjadi 3 faktor, yaitu faktor keluarga, faktor sekolah dan faktor masyarakat.

4[4]Slameto, Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, Rineka Cipta, Jakarta, 2004:54

8
1. Faktor Keluarga, yang termasuk ke dalam faktor keluarga adalah cara orang tua

mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi

keluarga.

2. Faktor Sekolah, yang termasuk faktor sekolah adalah metode mengajar,

kurikulum,relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat

pengajaran waktu sekolah, standar peelajaran diatas ukuran, keadaan gedung, metode

belajar, dan tugas rumah.

3. Faktor Masyarakat, adalah kegiatan siswa dalam masyarakat, mass media, teman

bergaul, serta bentuk kehidupan masyarakat

C. Sistem Peredaran Darah Manusia

Sistem peredaran darah pada manusia tersusun atas jantung sebagai pusat peredaran

darah, pembuluh-pembuluh darah dan darah itu sendiri. Seperti dikutip dari buku BSE kelas

V maka bagian dari sitem peredaran darah manusia sebagai berikut.5[5]

1. Jantung

Jantung mempunyai empat ruang yang terbagi sempurna yaitu dua serambi (atrium) dan

dua bilik (ventrikel) dan terletak di dalam rongga dada sebelah kiri di atas diafragma. Jantung

terbungkus oleh kantong perikardium yang terdiri dari 2 lembar.

Jantung memiliki katup yang terdapat di antara serambi dan bilik jantung yang

berfungsi mencegah aliran dari bilik keserambi selama sistol dan katup semilunaris (katup

aorta dan pulmonalis) yang berfungsi mencegah aliran balik dari aorta dan arteri pulmonalis

kiri ke bilik selama berkontraksi.

2. Pembuluh Darah

5[5] Sulistyowati,Ilmu Pengetahuan Alam, Penerbit Pusat Perbukuan DEPDIKNAS,Jakarta, 2009 Hal 19

9
Pembuluh darah terdiri atas arteri dan vena. Arteri berhubungan langsung dengan vena

pada bagian kapiler dan venula yang dihubungkan oleh bagian endotheliumnya.

Arteri dan vena terletak bersebelahan. Dinding arteri lebih tebal dari pada dinding vena.

Dinding arteri dan vena mempunyai tiga lapisan yaitu lapisan bagian dalam yang terdiri dari

endothelium, lapisan tengah yang terdiri atas otot polos dengan serat elastis dan lapisan

paling luar yang terdiri atas jaringan ikat ditambah dengan serat elastis. Cabang terkecil dari

arteri dan vena disebut kapiler. Pembuluh kapiler memiliki diameter yang sangat kecil dan

hanya memiliki satu lapisan tunggal endothelium dan sebuah membran basal.

3. Macam Peredaran Darah

Peredaran darah manusia merupakan peredaran darah tertutup karena darah yang

dialirkan dari dan ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah dan darah mengalir melewati

jantung sebanyak dua kali sehingga disebut sebagai peredaran darah ganda yang terdiri dari :

1. Peredaran darah panjang/besar/sistemik

Adalah peredaran darah yang mengalirkan darah yang kaya oksigen dari bilik

(ventrikel) kiri jantung lalu diedarkan ke seluruh jaringan tubuh. Oksigen bertukar dengan

karbondioksida di jaringan tubuh. Lalu darah yang kaya karbondioksida dibawa melalui vena

menuju serambi kanan (atrium) jantung.

2. Peredaran darah pendek/kecil/pulmonal

Adalah peredaran darah yang mengalirkan darah dari jantung ke paru-paru dan kembali

ke jantung. Darah yang kaya karbondioksida dari bilik kanan dialirkan ke paru-paru melalui

arteri pulmonalis, di alveolus paru-paru darah tersebut bertukar dengan darah yang kaya akan

oksigen yang selanjutnya akan dialirkan ke serambi kiri jantung melalui vena pulmonalis.

D. Metode Simulasi

10
1. Pengertian metode simulasi

Simulasi berasal dari kata simulate yang artinya berpura-pura atau berbuat seakan-akan.

Sebagai metode mengajar, simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar

dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau

keterampilan tertentu.6[6]

Simulasi dapat digunakan sebagai metode mengajar dengan asumsi tidak semua proses

pembelajaran dapat dilakukan secara langsung pada objek yang sebenarnya. Gladi resik

merupakan salah satu contoh simulasi, yakni memperagakan proses terjadinya suatu upacara

tertentu sebagai latihan untuk upacara sebenarnya supaya tidak gagal dalam waktunya nanti.

Demikian juga untuk mengembangkan pemahaman dan penghayatan terhadap suatu

peristiwa, penggunaan simulasi akan sangat bermanfaat.

Simulasi adalah sebuah replikasi atau visualisasi dari perilaku sebuah sistem, misalnya

sebuah perencanaan pendidikan, yang berjalan pada kurun waktu yang tertentu. Jadi dapat

dikatakan bahwa simulasi itu adalah sebuah model yang berisi seperangkat variabel yang

menampilkan ciri utama dari sistem kehidupan yang sebenarnya. Simulasi memungkinkan

keputusan-keputusan yang menentukan bagaimana ciri-ciri utama itu bisa dimodifikasi secara

nyata.7[7]

Metode simulasi merupakan salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan

dalam pembelajaran kelompok. Proses pembelajaran yang menggunakan metode simulasi

cenderung objeknya bukan benda atau kegiatan yang sebenarnya, melainkan kegiatan

mengajar yang bersifat pura-pura. Kegiatan simulasi dapat dilakukan oleh siswa pada kelas

6[6] ,KBBI,Balai Pustaka, Jakarta, 1990

7[7] Udin Syaefudin, Perencanaan Pendidikan Pendekatan Komprehensif. PT Remaja Rosdakarya


Bandung, 2005 hal 129

11
tinggi di sekolah dasar.8[8]

Dalam pembelajaran yang menggunakan metode simulasi, siswa dibina

kemampuannya berkaitan dengan keterampilan berinteraksi dan berkomunikasi dalam

kelompok. Di samping itu, dalam metode simulasi siswa diajak untuk dapat bermain peran

beberapa perilaku yang dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran.

2. Tujuan Simulasi

Metode simulasi memiliki beberapa tujuan diantaranya (1) melatih keterampilan

tertentu baik bersifat profesional maupun bagi kehidupan sehari-hari, (2) memperoleh pe-

mahaman tentang suatu konsep atau prinsip, (3) melatih memecahkan masalah, (4)

meningkatkan keaktifan belajar, (5) memberikan motivasi belajar kepada siswa, (6) melatih

siswa untuk mengadakan kerjasama dalam situasi kelompok, (7) menumbuhkan daya kreatif

siswa, dan (8) melatih siswa untuk mengembangkan sikap toleransi.9[9]

3. Prosedur Penggunaan Metode Simulasi

Prosedur yang harus ditempuh dalam penggunaan metode simulasi adalah:10[10]

1. Menetapkan topik simulasi yang diarahkan oleh guru,

2. Menetapkan kelompok dan topik-topik yang akan dibahas,

3. Simulasi diawali dengan petunjuk dari guru tentang prosedur, teknik, dan peran yang

dimainkan,

4. Proses pengamatan pelaksanaan simulasi dapat dilakukan dengan diskusi,

8[8] Sri Anitah, W. DKK Strategi Pembelajaran di SD. Universitas Terbuka, Jakarta .2007 hal 22

9[9] Ibid Hal 23

10[10] Ibid hal 23

12
5. Mengadakan kesimpulan dan saran dari hasil kegiatan simulasi.

4. Keunggulan dan Kelemahan Metode Simulasi

Terdapat beberapa kelebihan dengan menggunakan simulasi sebagai metode

mengajar, di antaranya adalah:11[11]

1. Simulasi dapat dijadikan sebagai bekal bagi siswa dalam menghadapi si-tuasi yang

sebenarnya kelak, baik dalam kehidupan keluarga, masyarakat, maupun menghadapi

dunia kerja.

2. Simulasi dapat mengembangkan kreativitas siswa, karena melalui simulasi siswa

diberi kesempatan untuk memainkan peranan sesuai dengan topik yang disimulasikan.

3. Simulasi dapat memupuk keberanian dan percaya diri siswa.

4. Memperkaya pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diperlukan dalam

menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis.

5. Simulasi dapat meningkatkan gairah siswa dalam proses permbelajaran.

Di samping memiliki kelebihan, simulasi juga mempunyai kelemahan, diantaranya:

1. Pengalaman yang diperoleh melalui simulasi tidak selalu tepat dan sesuai dengan

kenyataan di lapangan.

2. Pengelolaan yang kurang baik, sering simulasi dijadikan sebagai sistem hiburan,

sehingga tujuan pembelajaran menjadi terabaikan.

3. Faktor psikologis seperti rasa malu dan takut sering memengaruhi siswa dalam

melakukan simulasi.

11[11] Ibid hal 24

13
5. Jenis-jenis Simulasi

Simulasi terdiri dari beberapa jenis, di antaranya:12[12]

1. Sosiodrama. Sosiodrama adalah metode pembelajaran bermain peran untuk

memecahkan masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena sosial, permasalahan

yang menyangkut hubungan antara manusia seperti masalah kenakalan remaja,

narkoba, gambaran keluarga yang otoriter, dan lain sebagainya. Sosiodrama

digunakan untuk memberikan pemahaman dan penghayatan akan masalah-masalah

sosial serta mengembangkan kemampuan siswa untuk memecahkannya.

2. Psikodrama. Psikodrama adalah metode pembelajaran dengan bermain peran yang

bertitik tolak dari permasalahan-permasalahan psikologis. Psikodrama biasanya

digunakan untuk terapi, yaitu agar siswa memperoleh pemahaman yang lebih baik

tentang dirinya, menemukan konsep diri, menyatakan reaksi terhadap tekanan-tekanan

yang dialaminya.

3. Role Playing. Role playing atau bermain peran adalah metode pembelajaran sebagai

bagian dari simulasi yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa sejarah, mengkreasi

peristiwa-peristiwa aktual, atau kejadian-kejadian yang mungkin muncul pada masa

mendatang. Topik yang dapat diangkat untuk role playing misalnya memainkan peran

sebagai juru kampanye suatu partai atau gambaran keadaan yang mungkin muncul

pada abad teknologi informasi.

4. Peer Teaching. Peer teaching merupakan latihan mengajar yang dilakukan oleh siswa

kepada teman-teman calon guru. Selain itu peer teaching merupakan kegiatan

pembelajaran yang dilakukan seorang siswa kepada siswa lainnya dan salah satu

siswa itu lebih memahami materi pembelajaran.

12[12] Ibid hal 25

14
5. Simulasi Game. Simulasi game merupakan bermain peranan, para siswa berkompetisi

untuk mencapai tujuan tertentu melalui permainan dengan mematuhi peraturan yang

ditentukan.

6. Langkah-langkah Simulasi

1) Persiapan Simulasi

 Menetapkan topik atau masalah serta tujuan yang hendak dicapai oleh simulasi.

 Guru memberikan gambaran masalah dalam situasi yang akan disimulasikan.

 Guru menetapkan pemain yang akan terlibat dalam simulasi, peranan yang harus

dimainkan oleh para pemeran, serta waktu yang disediakan.

 Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya khususnya pada siswa

yang terlibat dalam pemeranan simulasi.

2) Pelaksanaan Simulasi

 Simulasi mulai dimainkan oleh kelompok pemeran.

 Para siswa lainnya mengikuti dengan penuh perhatian.

 Guru hendaknya memberikan bantuan kepada pemeran yang mendapat kesulitan.

 Simulasi hendaknya dihentikan pada saat puncak. Hal ini dimaksudkan untuk

mendorong siswa berpikir dalam menyelesaikan masalah yang sedang disimulasikan.

3) Penutup

 Melakukan diskusi baik tentang jalannya simulasi maupun materi cerita yang

disimulasikan.Guru harus mendorong agar siswa dapat memberikan kritik dan

tanggapan terhadap proses pelaksanaan simulasi.

 Merumuskan kesimpulan.
15
E. Hubungan Prestasi Belajar Terhadap Metode Pembelajaran Simulasi

Prestasi belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa dengan melibatkan seluruh

pctensi yang dimilikinya setelah siswa itu melakukan kegiatan belajar. Untuk mencapai

tujuan kegiatan belajar maka dibutuhkan suatu metode belajar yang tepat agar pembelajaran

dapat berlangsung secara efektif dan efisien.

Salah satu metode pembelajaran yang inovatif dan efisien adalah metode simulasi

yaitu suatu metode pembelajaran yarg memberikan kesempatan dan menuntut siswa terlibat

secara aktif di dalam mencapai tujuan pembelajaran dengan menberikan informasi singkat.

Pengetahuan yang diperoleh dengan belajar simulasi akan bertahan lama, mempunyai efek

transfer yang lebih baik dan meningkatkan siswa dan kemampuan berfikir secara bebas.

Secara umum belajar dengan metode simulasi ini melatih keterampilan kognitif untuk

menemukan dan memecahkan masalah berdasarkan sesuatu yang konkret sehingga dapat

meningkatkan pengetahuan anak menjadi lebih mudah untuk menerima pelajaran yang

berimbas pada meningkatnya prestasi belajar.

16
BAB III

PROSEDUR PENELITIAN TINDAKAN KELAS

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (class room action research) yang

bersifat reflektif, partisipatif, kolaboratif, dan spiral, bertujuan untuk melakukan perbaikan –

perbaikan terhadap sistim, cara kerja, proses, isi, dan kompetensi atau situasi pembelajaran

dan bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa mata pelajaran IPA materi sistem

peredaran darah manusia pada siswa kelas V MI syafi’iyah tahun 2011. Tindakan yang akan

dilakukan adalah penggunaan metode pembelajaran simulasi pada mata pelajaran IPA materi

sistem peredaran darah Manusia.

Rancangan penelitian yang digunakan mengikuti prosedur penelitian berdasarkan pada

prinsip Kemmis S, MC Toggar R (1988) yang mencakup kegiatan perencanaan (planning),

tindakan (action), observasi (observation), refleksi (reflection) atau evaluasi. Keempat

kegiatan ini berlangsung secara berulang dalam bentuk siklus.

B. Latar Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di MI Syafiiyah Sukosari Jogoroto Jombang Tahun 2011.

Pemilihan lokasi ini karena peneliti sekaligus menjadi guru di tempat ini. Dengan demikian,

peneliti mengetahui permasalahan dan mencoba mencari pemecahan masalah terhadap

kemampuan siswa menyerap meteri sistem peredaran darah manusia.

2. Subjek Penelitian

Subjek penelitian dalam penelitian ini adalah siswa kelas V di MI syafiiyah Sukosari

17
Jogoroto Jombang yang berjumlah 17 siswa yang difokuskan pada mata pelajaran IPA materi

sistem peredaran darah manusia.

C. Definisi Operasional

Agar tidak terjadi salah persepsi terhadap judul penelitian ini, maka perlu didefinisikan

hal-hal sebagai berikut:

1. Metode pembelajaran simulasi dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan

menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan

tertentu.

2. Prestasi belajar adalah hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk

skor, setelah siswa mengikuti pelajaran.

3. IPA adalah salah satu mata pelajaran tingakat Madrasah Ibtidaiyah yang bertujuan untuk

mengembangkan pengetahuan, keterampilan tentang alam sekitar maupun menerapkan

berbagai konsep IPA untuk menjelaskan gejala-gejala alam yang harus dibuktikan

kebenarannya di laboratorium, dengan demikian IPA tidak saja sebagai produk tetapi juga

sebagai proses.

D. Rencana Tindakan

Studi Awal

Permasalahan rendahnya hasil belajar IPA di MI Syafiiyah pada sub bab sistem

peredaran darah manusia perlu segera ditanggulangi, dan guru perlu melakukan refleksi atas

kinerjanya selama perolehan hasil belajar IPA. Berdasarkan hasil yang diperoleh terdapat

beberapa factor yang menyebabkan rendahnya prestasi belajar siswa pada sub bab sistem

peredaran darah manusia di kelas 5 MI Syafi’iyah. Faktor tersebut adalah penggunaan

metode balajar ceramah oleh guru dan siswa terbatas memperoleh dan mengolah informasi

18
hanya melalui indera pendengaran yang menampakkan kesan jenuh dan bosan bagi siswa

selama pembelajaran berlangsung, akibatnya pemahaman siswa terhadap peredaran darah

bersifat abstrak dan sulit diingat sehingga siswa tidak dapat optimal dalam memahmi sub bab

sistem peredaran darah manusia terutama menunjukkan alur peredaran darah manusia.

Berdasarkan hal tersebut diatas, dengan demikian untuk memperbaiki dan

meningkatkan kualitas pembelajaran IPA di MI Syafi’iyah maka perlu menerapkan metode

pembelajaran simulasi (permainan simulasi) yang mengundang keterlibatan aktif siswa untuk

memahami sistem atau alur perdaran darah manusia melalui kondisi kelas yang disimulasikan

(ditirukan) seperti bagian jantung manusia dengan siswa yang berperan sebagai darah dan

bergerak layaknya saat terjadi alur perdaran darah manusia.

Dengan keterlibatan aktif siswa maka materi pelajaran abstrak akan diwujudkan

dalam kondisi ruang kelas yang dikondisikan seperti bagian jantung sesungguhnya dengan

demikian siswa lebih mudah memahami dan mengingat alur peredaran darah manusia yang

juga akan meningkatkan prestasi belajar siswa kels 5 MI Syafii’iyah Sukosari Jogoroto

Jombang.

Setelah mengetahui gambaran kondisi siswa maka peneliti memulai merancang

konsep penelitian yang terdiri dari:

1. Perencanaan

Yang dimaksud dengan perencanaan adalah persiapan menjelang pelaksanaan tindakan

siklus pertama seperti menyusun rumusan masalah, tujuan dan membuat rencana tindakan,

termasuk di dalamnya instrumen penelitian dan perangkat pembelajaran.menggunakan

metode simulasi sebagai alternatif pemecahan masalah. Menyiapkan perlengkapan dan

konsep pengkondisian ruang simulasi belajar menyerupai bagian jantung.

2. Pelaksanaan Tindakan

19
Guru melaksanakan langkah-langkah kegiatan sesuai perencanaan pembelajaran

melakukan apersepsi dan menggali pengetahuan siswa terkait dengan sistem peredaran darah

manusia. Kemudian membagi kelas menjadi 7 kelompok dengan masing-masing kelompok

mendapatkan tempat pada ruang simulasi yang dibagi seperti bagian jantung. Kemudian guru

memberikan sedikit penjelasan materi dengan tanggung jawab kepada setiap kelompok untuk

saling berbagi informasi (sharring) pengetahuan terkait yang disampaikan oleh guru sehingga

setiap kelompok mengerti dan faham apa yang akan dikerjakan. Guru menerapkan metode

pembelajaran simulasi pada pelajaran Sains materi sistem peredaran darah manusia dengan

mengarahkan peran siswa sebagaai darah mengikuti alur peredaran darah seperti darah

berpindah dari serambi kanan ke bilik kanan dan seterusnya. Demikian hingga masing-

masing kelompok melakukan gerakan dalam peredaran darah manusia.

3. Observasi

Berdasarkan hasil tindakan yang telah dilakukan guru melakukan pengamatan

terhadap apa yang telah dilakukan siswa seperti antusias atau motivasi dalam belajar dengan

melihat keaktifan siswa dalam memperagakan gerakan peraedaran darah, mengamati hasil

diskusi dalam kelompok dengan atau kerja sama (sharring) untuk memahami proses

pembelajaran yang akan dilakukan. Serta melakukan pengamatan terhadap hasil dan

perbedaan proses pembelajaran menggunakan metode ceramah dan metode simulasi.

4. Refleksi

Tahap refleksi dilakukan untuk mengetahui hasil pembelajaran menggunan metode

simulasi dengan cara memberikan umpan balik dan pertanayaan, serta mengarahkan siswa

per individu untuk membuat sebuah simpulan terhadap pengalaman yang telah dilaksanakan

dan dihubungkan dengan materi sistem peredaran darah manusia.

20
D. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan untuk menggali data, akan digunakan sebagai bahan evaluasi

dan refleksi adalah sebagai berikut.

1. Wawancara

Metode wawancara digunakan sebagai tekhnik pengumpulan data apabila peneliti

ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan

juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan

jumlah respondenya sedikit atau kecil 13[13]

Wawancara awal dilakukan pada guru dan siswa untuk menentukan tindakan.

Wawancara dilakukan untuk mengetahui kondisi awal siswa

2. Angket

Menurut Arikunto angket (kuesioner) adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang

digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadi

atau hal-hal yang diketahui.14[14]

Angket merupakan data penunjang yang digunakan untuk mengumpulkan informasi

terkait dengan respon atau tanggapan siswa terhadap penerapan pembelajaran metode

simulasi.

3. Observasi

13[13] Sugiyono.Metodologi Penelitian Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R$D. Alfabeta: Bandung, 2008
hal 194

14[14] Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta:,Jakarta, 2006
hal 140

21
Observasi dilaksanakan untuk memperoleh data kemampuan berpikir siswa yang

terdiri dari beberapa deskriptor yang ada selama pembelajaran berlangsung. Observasi ini

dilakukan dengan menggunakan lembar observasi yang telah disusun.

4. Test

Test dilaksanakan setiap akhir siklus, hal ini dimaksudkan untuk mengukur hasil yang

diperoleh siswa setelah pemberian tindakan. Test tersebut berbentuk multiple choise agar

banyak materi tercakup

5. Catatanlapangan

Catatan lapangan digunakan sebagai pelengkap data penelitian sehingga diharapkan

semua data yang tidak termasuk dalam observasi dapat dikumpulkan pada penelitian ini

E. Analisis Data

Mengetahui keefektifan suatu metode dalam kegiatan pembelajaran perlu diadakan

analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu

metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data

yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga

untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktifitas siswa selama

proses pembelajaran.

Menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses

belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal

tes tertulis pada setiap akhir putaran.

Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu:

1. Menilai ulangan atau

tes formatif

22
Nilai Rata-rata siswa = Jumlah semua nilai Siswa x 100
Jumlah Siswa

2. Ketuntasan Belajar

Prestasi belajar pada aspek kognitif dilihat dari hasil test perindividu dengan teknik

analisis berdasarkan KKM yang telah ditentukan yaitu pada taraf nilai 73. Dengan kata lain

untuk mencapai predikat tuntas belajar siswa minimal harus memperoleh nilai 73.

Dan untuk

mengetahui prosentase ketuntasan belajar kelas dapat dianalisis dengan rumus:

% Ketuntasan belajar siswa = Siswa yang tuntas KKM x 100%


Jumlah Siswa

F. Indikator Keberhasilan Tindakan

Untuk menentukan keberhasilan tindakan yang dilakukan dapat dilihat dari tingkat

prestasi belajar siswa yang tercermin dari nilai rata-rata siswadi tentukan mencapai nilai 73

sedangkan tingkat ketuntasan belajar siswa dalam satu kelas ditentukan mencapai 80 %.

Dengan kata lain apabila prosentase ketuntasan belajar siswa meningkat dari 50% menjadi

80 % menunjukkan prestasi belajar siswa mata pelajaran IPA materi sistem peredaran darah

manusia di kelas V MI syafi’iyah Sukosari Jogoroto Jombang tahun pelajaran 2011/2012

dapat ditingkankat dengan menggunakan metode simulasi.

23
DAFTAR PUSTAKA

Anitah, Sri, W, dkk. (2007). Strategi Pembelajaran di SD. Universitas Terbuka: Jakarta

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Rineka Cipta: Jakarta

Azwar, Saifudin. 2006. Pengantar Psikologi Intelegensia.Pustaka Pelajar: Yogyakarta

Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia.


Balai Pustaka: Jakarta

Dimyati dan Mujiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta

Slameto. 2004. Belajar dan Faktor-faktor Yang Mempengaruhinya. Rineka Cipta: Jakarta.

Sugiyono.2008.Metodologi Penelitian Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R$D. Alfabeta:


Bandung

Syaefudin, Udin., Syamsuddin, Abin. (2005) Perencanaan Pendidikan Pendekatan


Komprehensif. PT Remaja Rosdakarya: BAndung

24