Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN FARMAKOGNOSI

PEMBUATAN SIMPLISIA

OLEH :
DEVI PUSPITA
HERMILA NOPIANTI
NAQILA RAMADHANI

SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI PADANG


2018
KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kami panjatkan kepada Allah Swt, atas berkat dan
rahmatNya lah kami bisa menyelesaikan pembuatan simplisia ini dengan lancar.

Berikut ini kami menjabarkan segala proses pembuatan simplisia dari


SOLANUM TUBEROSUM L.

Melalui kata pengantar ini kami mohon maaf jika terdapat banyak
kekurangan dan mungkin ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan standar
pembuatan simplisia.

Dengan ini kami mempersembahkan laporan dari pembuatan simplisa


kami ini, semoga bermanfaat untuk kita semua.

Padang,

Penulis
BABI
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
 Kentang (Solanum tuberosum L.)

Merupakan komoditas tanaman sayuran hortikultura yang berasal dari Amerika


Selatan yang memiliki nilai ekonomis tinggi dan pangsa pasar yang stabil. Tanaman ini
menyebar luas di dataran Eropa yang dibawa pada masa penjajahan oleh Spanyol dan
Protugis dan akhirnya menyebar ke seluruh penjuru dunia termasuk Indonesia. Kentang
adalah sayuran umbi yang banyak mengandung karbohidrat, dan dapat dikonsumsi sebagai
makanan pokok pengganti beras dan jagung. Komoditi ini dapat di panen umur 90-120 hari
setelah tanam tergantung jenis dan speciesnya (Niniek, A, 2010).
Kentang di Indonesia adalah tanaman hortikultura yang penting, tetapi produksinya
belum cukup baik, begitu juga dengan kualitas dan kuantitas. Dapat di lihat dari rata-rata
produksi di Indonesia sayuran ini masih cukup rendah yaitu 4,1 ton/ha, dibandingkan dengan
negara-negara di Eropa seperti Spanyol (19,7 ton/ha dan Protugis 16,2 ton/ha (Dimango, J,
2015). Data terakhir (FAO, 2002) menunjukan Amerika Selatan adalah negara produsen
kentang terbesar di dunia dengan kontribusi sekitar 14 % diikuti oleh Spanyol 9 %,
sedangkan kontribusi Indonesia terhadap produksi kentang dunia hanya sekitar 0,43 %. Hal
ini disebabkan tanah yang kurang subur, ketersediaan unsur hara makro dan mikro yang
rendah, serangan hama dan penyakit, pemupukan yang tidak berimbang dan pemakaian
pupuk kimia dalam konsentrasi tinggi, serta teknis budidaya yang kurang tepat (Suhaeni, N,
2010).
Serangan hama dan penyakit merupakan kendala terbesar dalam budidaya tanaman
kentang. Hama yang umum menyerang kentang adalah Trips sp yang menghisap cairan batang
dan daun sehingga tampak kuning, mengering dan akhirnya mati, dan ulat tanah (Agrotis ipstilon)
yang menyerang akar tanaman kentang sewaktu muda yang menyebabkan kinerja akar terganggu,
tanaman menjadi layu dan akhirnya mati muda. Penyakit yang menyerang kentang disebabkan
oleh jamur seperti busuk daun (Phytophtora infestans), becak coklat (Altenaria solani) dan layu
fusarium (Fusarium oxysporum) (Semangun, 2000).
Salah satu cara untuk mengoptimalkan produksi tanaman kentang adalah pemberian
pupuk organik cair. POC adalah larutan yang berasal dari bahan organik yang telah tercampur
dengan bahan tambahan, di fermentasi dalam jangka waktu tertentu dan memiliki kandungan
hara lebih dari satu unsur. Jenis POC yang banyak dikembangkan adalah dari bahan dasar
daun tithonia, daun paitan jepang, daun kirinyuh, dan lain sebagainya.
Menurut Sukarmin, (2008), POC daun kirinyuh merupakan pupuk cair dari bahan
dasar daun kirinyuh (Chiromolaena odorata) dicampur dengan molase (makanan bakteri),
terasi, EM 4, dan air sebagai pelarut, difermentasi selama 1 bulan. Bioplasma adalah pupuk
organik cair yang memiliki bahan dasar urine sapi dengan memanfaatkan mikro organisme
algae hijau lumut dan bakteri yang diproduksi langsung dari petani produsen POC Merek,
Sumatera Utara. POC umumnya digunakan sebagai upaya meningkatkan ketersediaan unsur
hara untuk produksi tanaman. Penambahan nutrisi juga dapat menyediakan unsur hara di
dalam tanah yang tidak dapat diserap tanaman menjadi bisa dimanfaatkan untuk
pertumbuhannya lewat perantara sel tunggal (Mikro organisme).

 Kumis kucing (Orthosipon aristatus)

Atau dikenal dengan nama kumis kucing termasuk tanaman dari famili lamiaceae,
tanaman ini merupakan salah satu tanaman obat asli indonesia yang mempunyai manfaat dan
kegunaan yang cukup banyak dalam menanggulangi berbagai penyakit.

Kumis kucing merupakan tanaman obat yang berbatang basah yang tegak. Tanaman
ini dikenal dengan berbagai istilah seperti : kidney tea plants/java tea dan lain sebagainya.
Tanaman kumis kucing berasal dari wilayah afrika tropis, kemudian menyebar kewilayah asia
dan australia. Daun kumis kucing basah maupun kering digunakan sebagai penanggulangi
penyakit , diindonesia daun yang kering(simplisia) sebagai obat pelancar pengeluaran air
kemih (diueretik) sedangkan diindia untuk mengobati rematik.

Masyarakat menggunakan kumis kucing sebagai obat tradisional sebagai upaya


penyembuhan batuk encok, masuk angin dan sembelit. Disamping itu daun tanaman ini juga
bermanfaat untuk pengobatan radang ginjal, batu ginjal, kencing manis, albuminuria dan
penyakit syphilis, reumatik dan menurunkan kadar glukosa.
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. apa yang dimaksud dengan simplisia ?
2. bagaimana cara pembuatan simplisia yang baik dan benar?

1.3 TUJUAN
1. Untuk mengetahui apa itu simplisia
2. Untuk mengetahui pembuatan simplisa kentang
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Simplisia
Simplisia menurut Departemen Kesehatan RI adalah bahan alami yang digunakan
untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apa pun, dan kecuali dinyatakan lain
umumnya berupa bahan yang telang dikeringkan.

Simplisia dibagi menjadi tiga golongan., yaitu :

1. Simplisia nabati
Simplisia nabati adalah simplisia yang dapat berupa tanaman utuh, bagian tanaman,
eksudat tanaman, atau gabungan antara ketiganya, misalnya datura folium dan piperis
nigri fructus. Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman
atau dengan cara tertentu sengaja dikeluarkan dari sel nya. Eksudat tanaman dapat
berupa zat-zat atau bahan-bahan nabati lainnya yang dengan cara tertentu
dipisahkan/diisolasi dari tanaman nya.
2. Simplisia hewani
Simplisia hewani adalah simplisia yang dapat berupa hewan utuh atau zat-zat berguna
yang dihasilkan oleh hewan dan belum berupa bahan kimia murni, misalnya minyak
ikan(oleum lecoris asselli) dan madu (mel depuratum)
3. Simplisia pelikan atau mineral
Simplisa pelikan atau mineral adalah berupa bahan pelikan bahan pelikan atau
mineral yang belum diolah atau telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa
bahan kimia murni, contoh serbuk seng dan serbuk tembaga.

Untuk memenuhi keamanan , keseragaman senyawa aktif maupun kegunaannya,


maka simplisia harus memenuhi persyaratan minimal. Dan untuk memenuhi persyaratan
minimal tersebut, ada beberapa faktor yang berpengaruh yaitu :

a. Bahan baku simplisia


b. Proses pembuatan simplisia termasuk cara penyiapan bahan baku simplisia
c. Cara pengepakan dan penyimpanan simplisia

Agar simplisia memenuhi persyaratan minimal yang ditetapkan, maka ketiga faktor
tersebut harus memenuhi persyaratan minimal yang telah ditetapkan.
2.2. Cara pembuatan simplisia yang baik dan benar
Proses pembuatan simplisia terdiri dari :

1. Pengumpulan bahan baku/ panen

Tahapan ini sangat menentukan kualitas bahan baku, dimana faktor yang paling berperan
adalah masa panen. Pada waktu panen peralatan dan tempat yang digunakan harus bersih dan
usahakan tidak ada kecacatan pada bahan baku .

Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda antara lain tergantung pada:

1. Bagian tanaman yang digunakan.


2. Umur tanaman yang digunakan
3. Waktu panen
4. Lingkungan tempat tumbuh

2. Sortasi basah

Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran-kotoran atau bahan asing lainnya dari
bahan simplisia. Misalnya pada simplisia yang dibuat dari akar suatu tanaman obat, bahan-
bahan asing sepertitanah,kerikil,rumput dan lain-lainnya.

3. Pencucian

Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan pengotoran lainnya yang melekat
pada bahan simplisia. Pencucian dilakukan dengan air bersih, misalnya dengan mata air ,air
sumur atau air PAM. Bahan simplisia yang mengandung zat yang mudah larut didalam air
yang mengalir, pencucian agar dilakukan dalam waktu yang sesingkat mungkin.

4. Perajangan

Beberapa jenis bahan simplisia perlu mengalami proses perajangan. Perajangan bahan
simplisia dilakukan untuk mempermudah proses pengeringan, pengepakkan dan
penggilingan. Tanaman yang baru diambil jangan langsung dirajangtetapi dijemur dalam
keadaan utuh selama 1hari. Perajangan dapat dilakukan dengan menggunakan pisau, dengan
alat mesin perajang khusus sehingga diperoleh irisan tipis atau potongan dengan ukuran yang
dikehendaki.

5. Pengeringan

Tujuan pengeringan ialah untuk mendapatkan simplisia yang tidak mudah rusak, sehingga
dapat disimpan dalam waktu yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air dan
menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu atau perusakan simplisia.
Pengeringan terdapat dua cara yaitu pengeringan secara ilmiah atau buatan.

1. Pengeringan alamiah

Tergantung dari senyawa aktif yang dikandung dalam bagian tanaman yang dikeringkan,
dapat dilakukan dengan dua cara pengeringan yaitu :

a. Dengan panas sinar matahari langsung


Cara ini digunakan untuk mengeringkan bahan baku simplisia yang relatif keras ,
seperti kayu,kulit kayu , biji dan lain sebagainya.
b. Dengan diangin-anginkan dan tidak dipanaskan dengan sinar matahari langsung.
Cara ini terutama digunakan untuk mengeringkan bagian tanaman yang lunak seperti,
bunga,daun dan sebagainya dan mengandung senyawa aktif mudah meneguap.

2. Pengeringan buatan

Kerugian yang mungkin tejadi jika melakukan pengeringan dengan menggunakan sinar
matahari dapat diatasi jika melakukan pengeringan buatan yaitu dengan menggunakan suatu
alat atau mesin pengering yang suhu kelembapan, tekanan dan aliran udaranya dapat diatur.

6. Sortasi kering

Sortasi setelah pengeringan sebenarnya merupakan tahap akhir pembuatan simplisia.


Tujuan sortasi untuk memisahkan benda-benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang
tidak diinginkan yang tertinggal pada simplisia kering. Proses ini dilakukan sebelum
simplisia dibungkus untuk kemudian disimpan.

7. Pengawetan

Simplisia nabati atau simplisia hewani harus di hindarkan dari serangga atau cemaran
atau mikroba dengan penambahan kloroform,CCL4, eter atau pemberian bahan atau
penggunaan cara yang sesuai, sehingga tidak meninggalkan sisa yang membahayakan
kesehatan.

8. Wadah

Wadah adalah tempat penyimpanan simplisia dan dapat berhubungan langsung atau tidak
langsung dengan simplisia. Wadah langsung(wadah primer) adalah wadah yang langsung
berhubungan dengan simplisia sepanjang waktu sedangkan, wadah sekunder adalah wadah
yang tidak bersentuhan langsung dengan simplisia.

9. Suhu penyimpanan

Dingin: suhu tidak lebih dari 80c, lemari pendingin mempunyai suhu antara 2˚c-8˚c ,
sedangkan lemari pembeku mempunyai suhu antara -20˚c dan -10˚c

Sejuk : suhu antara 8˚c dan 15˚c. Kecuali dinyatakan lain, bahan yang harus disimpan
pada suhu sejuk dapat disimpan pada lemari pendingin.
Suhu kamar : suhu pada ruang kerja. Suhu kamar terkendali adalah suhu yang diatur
antara 15˚c dan 30˚c.

Hangat : hangat adalah suhu antara 30˚c dan 40˚c.

10. Tanda dan penyimpanan

Semua simplisia yang termasuk daftar narkotika , diberi tanda palang mendali berwarna
merah diatas putih dan harus disimpan dalam lemari terkunci. Semua simplisia yang
termasuk dalam daftar obat keras kecuali yang termasuk daftar narkotika, diberi tanda
tengkorak dan harus disimpan dalam lemari terkunci.

2.3. Klasifikasi dan morfologi sampel


Solanum tuberosum L.
Kentang atau nama lainnya yaitu solanum tuberosum L merupakan tanaman yang hanya
tumbuh semusim dengan bentuk tanaman berupa semak atau herba. Tanaman ini termasuk
tanaman dengan biji berkeping dua (dikotil).

Tanaman ini dibudidayakan pada daerah yang beriklim dingin. Kentang memiliki batang
yang berada diatas permukaan tanah berwarna hijau, kemerahan , maupun ungu tua.

KLASIFIKASI :

Kingdom : plantae (tumbuhan)

Divisi : magnoliophyta

Kelas : magnoliopsida

Ordo : solanales

Famili : solanaceae

Genus : solanum

Spesies : s.ruberosum

MORFOLOGI TANAMAN KENTANG :

 Morfologi batang tanaman kentang

Tanaman kentang memiliki batang yang berongga dan tidak berkayu, akan tetapi pada
tanaman kentang yang sudah tua pada bagian bawah batang terdapat kayu. Secara umum
tanaman kentang bersudut dan bersayap.

Tanaman kentang memiliki batang dengan tipe pertumbuhan, diantaranya sebagai berikut :
a. Tegak : dari permukaan tanah membentuk sudut 45˚
b. Menyebar : dari permukaan tanah membentuk sudut antara 30 hingga 45 drajat.
c. Menjalar : tipe ini terjadi pada tanaman non komersial.
 Morfologi daun tanaman kentang

Tanaman kentang memiliki daun majemuk yang tediri dari tangkai daun atau rachis , anak
daun primer atau pinnae, dan anak daun sekunder atau folioles yang tumbuh diantara anak
daun primer pada tangkai daun utama.

 Morfologi bunga tanaman kentang

Bunga pada tanaman kentang mempunyai bidang simetris atau zigomorf, dengan mahkota
bunga atau corolla berwarna putih, merah jambu, maupun ungu serta berjenis kelamin dua.

 Morfologi buah dan biji kentang

Bakal buah membesar dan mulai berkembang menjadi buah kentang setelah
penyerbukkan selama satu minggu . tanaman buah kentang mengandung bakal biji berjumlah
500 dan yang dapat berkembang menjadi biji hanya berkisar antara 0 hingga 300 biji.

Orthosipon aristatus

MORFOLOGI TANAMAN KUMIS KUCING

Orthosipon Aristatus

KLASIFIKASI:

Kingdom : plantae

Kelas : magnoliopsida

Ordo : lamiales

Famili : lamiaceae

Genus : orthosipon

Spesies : orthosipon aristatus

 Morfologi tanaman kumis kucing ( orthosipon)


a. Pada bagian bawah beakar di bagian buku bukunya
b. Tinggi mencapai 2meter
c. Batang bersegi empat agak beralur berbulu pendek atau gundul.
d. Helai daun berbentuk bundar atau lonjong , lanset,bundar telur atau belah ketupat
yang dimulai dari pangkalnya.
e. Ukuran daun panjang 1-10cm dan lebarnya 7,5mm-1,5cm.
f. Urat daun berbulu tipis atau gundul
g. Panjang tangkai daun 7-29cm
h. Kelopak bunga berkelenjar
i. Helai bunga tumpul, bundar
j. Benang sari ukuran nya lebih panjang dari tabung bunga
k. Buah geluk berwarna coklat gelap.
BAB III
METODE KERJA

3.1. Alat dan bahan


3.1.1
a. Timbangan
b. Pisau
c. Parutan
d. Mangkok
e. Ayakan
f. Mikroskop
g. Cover dan objek glass
h. Oven
i. Krus porselen

3.1.2
a. daun segar kumis kucing
b. kentang segar
c.
d.
e.

3.2. Cara kerja


3.2.1. Pembuatan simplisia
a. Solanum tuberosum L
Panen kentang yang sudah siap dipanen → timbang kentang sesuai kebutuhan
pembuatan simplisia → pisahkan kentang dari kulitnya → cuci kentang yang
sudah dibersihkan → parut kentang dengan parutan → peras hasil parutan
kentang tersebut → endapkan air perasan kentang tersebut sehingga pati
mengendap diwadah → saat pati sudah mengendap buang air perasan tersebut
sehingga pati tertinggal → keringkan pati → ketika pati sudah kering lakukan
pengalusan agar pati tidak ada yang menggumpal → pati sudah halus,
masukkan kedalam wadah → lakukan pengujian simplisia.
b. Orthosipon aristatus
Panen daun orthosipon atau kumis kucing sesuai dengan kebutuhan
pembuatan simplisia → pisahkan daun dari batang nya → cuci daun yang akan
digunakan sebagai bahan simplisia → keringkan daun yang sudah dicuci →
jemur daun yang akan dijadikan simplisia → daun kering , haluskan daun
tersebut dengan belender atau alat penghalus lainnya → masukkan kedalam
wadah → lakukan pengujian simplisia.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
Solanum tuberosum
Orthosipon aristastus
BAB V
PENUTUP
Segala puji dan syukur kami hadiahkan kepada Allah swt , karna berkat rahmat dan
karunia nya kami dapat menyelesaikan pembuatan simplisia ini dengan lancar dan tiada
hambatan apapun mulai dari pengambilan bahan baku simplisa hingga proses dan hasil
simplisia itu sendiri.

5.1. kesimpulan

a. untuk mendapatkan simplisia dengan mutu yang baik adalah dengan melakukan
standarisasi simplisia.

b. parameter standarisasi simplisia yang dilakukan pada percobaan yaitu, uji


organoleptis, uji makroskopik, maserasi ,susut pengeringan dan pengabuan.

c. uji makroskopik dan uji organoleptik pada percobaan yang dilakukan sesuai dengan
literatur.

d. penetapan susut pengeringan dan pengabuan simplisia pada percobaan yang


dilakukan sudah memenuhi syarat pada literatur.
LAMPIRAN
 Solanum tuberosum L
 Orthosipon aristatus