Anda di halaman 1dari 34

Pendirian[sunting | sunting sumber]

Artikel utama untuk bagian ini adalah: Masa Transisi Sui-Tang

Lukisan Kaisar Yang dari Sui. Pembuatan lukisan ini ditugaskan pada tahun 643 oleh Kaisar Taizong.
Lukisan dibuat oleh Yan Liben (600–673).

Kaisar Taizong (berkuasa 626–649) menerima Ludongzan, duta besar Tibet, di istananya; lukisan dibuat
pada tahun 641 oleh Yan Liben (600–673.)

Pada 18 Juni 618, Li Yuan menyatakan diri sebagai kaisar dinasti baru, Tang.[8][9] Peristiwa ini
berlangsung setelah pembunuhan Kaisar Yang, sepupu Li Yuan,[3] oleh Jenderal Yuwen
Huaji.[8][9] Li Yuan (yang nantinya mengganti namanya menjadi Kaisar Gaozu dari Tang) mulai
naik ke tampuk kekuasaan saat menjabat sebagai Adipati Tang dan gubernur Taiyuan selama
masa keruntuhan Dinasti Sui, yang salah satunya disebabkan oleh kegagalan Sui dalam
menaklukkan Goguryeo selama Perang Goguryeo-Sui.[10][11] Li Yuan memperoleh martabat dan
pengalaman militer, dan pada tahun 617 ia memberontak bersama dengan putranya dan
putrinya yang juga militan, Putri Pingyang (kematian 623); sang putri bahkan mengumpulkan
tentaranya sendiri dan memerintah mereka langsung.[8] Pada tahun 617, Li Yuan
menduduki Chang'an dan menjadi wali Kaisar Gong dari Sui, kaisar yang masih anak-anak. Li
Yuan menempatkan Kaisar Yang ke posisi Taishang Huang atau kaisar yang sudah
pensiun/ayah dari kaisar saat ini.[8] Setelah mendengar kabar pembunuhan Kaisar Yang oleh
Jenderal Yuwen Huaji (kematian 619), Li Yuan menyatakan dirinya sebagai kaisar dinasti
baru.[8][9] Sebagai Kaisar Gaozu dari Tang, ia menguasai Tang sebagai kaisar pertama dari
tahun 618 hingga 626.
Keluarga Li Yuan berasal dari kalangan aristokrat militer barat laut pada masa Dinasti
Sui[10][12] dan mengklaim sebagai keturunan Laozi,[13] Jenderal Dinasti Han Li Guang,[14][15]dan
penguasa Liang Barat Li Gao.
Li Yuan berkuasa hingga tahun 626; pada saat itu, ia dijatuhkan oleh putranya Li Shimin,
Pangeran Qin. Li Shimin telah memerintah pasukan semenjak umur 18 tahun, cakap dalam
menggunakan panah, pedang, dan tombak, serta mampu melancarkan serbuan kavaleri yang
efektif.[3][16] Walaupun melawan angkatan bersenjata dengan jumlah yang lebih besar, ia berhasil
mengalahkan Dou Jiande (573–621) di Luoyang dalam Pertempuran Hulao pada 28 Mei
621.[17][18] Dalam upaya pemberangusan keluarga kerajaan karena takut dibunuh, Li Shimin
menyergap dan membunuh dua saudaranya Li Yuanji (lahir 603) dan putra mahkota Li
Jiancheng (lahir 589) dalam Insiden Gerbang Xuanwu pada 2 Juli 626.[19]Segera setelah itu,
ayahnya mengundurkan diri dan Li Shimin naik tahta. Ia kemudian dikenal dengan julukan Kaisar
Taizong (唐太宗).
Walaupun tindakannya ini bertentangan dengan nilai xiao dalam
ajaran Konfusianisme,[19] Taizong terbukti merupakan pemimpin yang cakap dan mau
mendengarkan saran-saran penasihat terbijaknya.[3] Pada tahun 628, Kaisar Taizong
mengadakan upacara peringatan Buddha untuk korban perang, dan pada tahun 629 ia
mendirikan biara-biara Buddha di tempat pertempuran-pertempuran besar agar para biksu dapat
berdoa untuk para korban dari kedua belah pihak.[20] Hal ini dilakukan selama kampanye militer
Kaisar Taizong di Tujue Timur, kekhanan Göktürk yang dihancurkan setelah pemimpinnya Illig
Qaghan ditangkap oleh perwira militer Tang Li Jing (571–649), yang kelak menjadi Kanselir
Dinasti Tang. Setelah memperoleh kemenangan ini, Göktürk menerima Taizong
sebagai khagan mereka. Maka dari itu, selain bergelar Kaisar Tiongkok, ia juga dijuluki Tian
Kehan (天可汗) oleh para nomaden Turk.[21][22]

Administrasi dan politik[sunting | sunting sumber]


Reformasi awal[sunting | sunting sumber]
Taizong mencoba menyelesaikan masalah pemerintahan yang menghantui dinasti-dinasti
sebelumnya. Ia mengeluarkan undang-undang hukum baru yang didasarkan pada undang-
undang pada masa Sui. Undang-undang ini kemudian menjadi dasar bagi undang-undang
dinasti-dinasti Tiongkok berikutnya, dan juga negara-negara tetangga seperti Vietnam, Korea,
dan Jepang.[3] Hukum paling awal yang berhasil ditemukan dikeluarkan pada tahun 653, yang
terbagi menjadi 500 pasal yang merincikan kejahatan-kejahatan dan hukumannya yang
bervariasi dari dipukul sepuluh kali dengan tongkat ringan, seratus kali dengan tongkat berat,
pembuangan, perhambaan, hingga hukuman mati.[23]
Undang-undang Tang membedakan tingkatan hukuman berdasarkan kelompok sosial dan
politik, walaupun kejahatan yang dilakukan adalah kejahatan yang sama.[24] Misalnya, tingkatan
hukuman untuk seorang pelayan yang membunuh tuannya berbeda dengan hukuman untuk tuan
yang membunuh pelayannya.[24]
Sebagian besar isi undang-undang Tang masih dapat ditemui dalam undang-undang pada masa
setelahnya, seperti undang-undang Dinasti Ming pada tahun 1397.[25] Namun, terdapat pula
perbaikan, seperti peningkatan hak properti perempuan pada masa Dinasti Song (960–
1279).[26][27]
Dinasti Tang memiliki tiga departemen (Tradisional: 省; Pinyin: shěng), yang bertugas untuk
membuat, meninjau, dan menerapkan kebijakan-kebijakan. Terdapat pula enam kementerian
(Tradisional: 部; Pinyin: bù) di bawah pemerintahan yang menerapkan kebijakan, dan masing-
masing memiliki tugas yang berbeda. Kementerian-kementerian ini meliputi kementerian
pegawai administrasi, keuangan, ritus, militer, peradilan, dan pekerjaan umum. Model Tiga
Departemen dan Enam Kementerian ini tetap diterapkan hingga jatuhnya Dinasti Qing (1644–
1912).[28]
Meskipun pendiri Dinasti Tang merasa terkait dengan kejayaan Dinasti Han (abad ke-3 SM–
abad ke-3 M), dasar organisasi administrasi Tang sangat mirip dengan Dinasti Selatan dan
Utara sebelumnya.[3] Sistem fubingdari Dinasti Zhou Utara (abad ke-6) masih dilanjutkan oleh
Tang, dan dalam sistem ini para milisi diberi tanah dan ditugaskan untuk menggarap tanah
tersebut untuk waktu tertentu. Sistem juntian dari masa Wei Utara(abad ke-4-abad ke-6) juga
dipertahankan, walaupun terdapat beberapa perubahan.[3]

Mangkuk emas dari masa Dinasti Tang dengan motif teratai dan hewan.

Walaupun pemerintah pusat dan lokal menyimpan banyak sekali catatan mengenai tanah untuk
menentukan pajak, di Tang banyak orang melek huruf dan kaya yang membuat dokumen pribadi
mereka sendiri dan menandatangani kontrak.[29] Mereka memiliki tanda tangan mereka sendiri,
dan dalam proses pembuatan kontrak terdapat saksi dan juru tulis untuk pembuktian di
pengadilan bahwa klaim kepemilikan mereka sah (apabila perlu).[29] Pendahulu sistem ini
sebenarnya sudah ada semenjak masa Dinasti Han kuno, tetapi bahasa perjanjian menjadi
semakin umum dan tertanam dalam budaya literer Tiongkok pada masa dinasti-dinasti
berikutnya.[29]
Pusat kekuatan politik Tang terletak di ibukotanya di Chang'an (kini Xi'an). Di kota tersebut,
kaisar memiliki kompleks istana yang besar. Di tempat tersebut, ia dapat menghibur pada
perwakilan politik dengan musik, olahraga, pertunjukan ketangkasan akrobatik, puisi, lukisan,
dan pertunjukan teater. Di Chang'an juga terdapat banyak sumber daya yang dapat
dimanfaatkan. Saat pejabat pemerintah tingkatan prefektur di Tiongkok mendatangi ibukota pada
tahun 643 untuk memberikan laporan tahunan wilayah mereka, Kaisar Taizong mendapati
bahwa banyak dari antara mereka yang tidak punya tempat beristirahat yang layak sehingga
harus menyewa kamar dari pedagang.[30] Oleh sebab itu, Kaisar Taizong memerintahkan badan
pemerintah yang bertugas dalam pembangunan kota untuk membangun rumah pribadi khusus
untuk setiap pejabat yang mengunjungi ibukota.[30]
Ujian kenegaraan[sunting | sunting sumber]
Patung pegawai negeri Tang yang sedang bersiap untuk memberi laporan kepada atasannya.

Ujian kenegaraan diterapkan dan dimulai sejak Dinasti Sui, namun sistem ujian kenegaraan
masa itu masih relatif belum sempurna karena masih sarat dengan dominasi kelompok-
kelompok tertentu yang berkuasa pada masa itu. Dinasti Tang lalu mereformasi sistem ini pada
zaman Maharani Wu yang memutuskan untuk memperbolehkan dan mengangkat pejabat-
pejabat kekaisaran dari kaum rakyat biasa yang tidak mempunyai latar belakang dan hubungan
dengan penguasa waktu itu.[31]
Murid-murid ilmu Konfusianisme merupakan calon potensial, dan mereka yang lulus ujian dapat
diangkat menjadi birokrat negara di tingkatan lokal, provinsi, atau pusat. Terdapat dua jenis ujian
yang ditawarkan yaitu mingjing dan jinshi.[32] Ujian mingjing didasarkan pada teks-teks klasik
Konfusianisme dan menguji pengetahuan calon akan berbagai teks.[32] Ujian jinshi menguji
kemampuan menulis calon; mereka diberi pertanyaan esai mengenai masalah pemerintahan dan
politik, dan kemampuan menulis puisi mereka turut diuji.[33] Selain itu, calon dinilai berdasarkan
tingkah laku, penampilan, cara berbicara, dan kemampuan menulis kaligrafi; semua ini
merupakan kriteria subjektif yang memungkinkan orang kaya untuk lebih dipilih daripada mereka
yang miskin dan tak terlatih dalam retorika atau kemampuan menulis.[34] Akibatnya, jumlah
pegawai negeri yang berasal dari kalangan aristokrat tidak sepadan dengan mereka yang bukan
berasal dari kalangan tersebut.[34] Ujian boleh diikuti oleh semua laki-laki asalkan ayahnya bukan
seorang pengrajin atau pedagang,[35] walaupun kekayaan atau kebangsawanan bukan syarat
untuk mendapat rekomendasi.[34] Sementara itu, untuk mendorong penyebaran pendidikan
Konfusianisme, pemerintah Tang juga mendirikan sekolah-sekolah negara dan mengeluarkan
versi standar lima karya klasik Konfusian beserta penjelasannya.[24]
Prosedur yang kompetitif ini dirancang untuk merekrut orang-orang paling berbakat dalam
pemerintahan. Namun, terdapat pula alasan lain yang lebih dipertimbangkan oleh penguasa
Tang. Mereka sadar bahwa bila mereka terlalu bergantung pada keluarga aristokrat dan
pemimpin perang, dapat terjadi destabilisasi. Maka dari itu, mereka mencoba membuat badan
pemerintahan dengan pejabat-pejabat yang tidak memiliki basis kekuatan teritorial atau
fungsional. Undang-undang Tang memastikan pembagian warisan properti para pejabat ini
kepada penerus yang sah agar memungkinkan mobilitas sosial dan agar keluarga mereka tidak
menjadi keluarga bangsawan melalui primogenitur.[36] Pada akhirnya, para pejabat memperoleh
status di komunitas lokal dan keluarga mereka, walaupun mereka masih tetap terikat kepada
istana kekaisaran. Dari masa Dinasti Tang hingga berakhirnya Dinasti Qing pada tahun 1912,
para pejabat berfungsi sebagai perantara akar rumput dengan pemerintahan. Namun, potensi
sistem ujian masuk pegawai negeri masih belum dimaksimalkan hingga masa Dinasti Song,
ketika para pejabat yang terpilih berdasarkan kemampuan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan
aristokratiknya dan mendefinisikan status sosialnya melalui sistem ujian masuk.[37][38][39] Seperti
yang dijelaskan oleh sejarawan Patricia Ebrey mengenai pejabat pada masa Dinasti Song:
Sistem ujian masuk pegawai negeri, yang hanya digunakan dalam skala kecil pada masa Sui
dan Tang, memainkan peran utama dalam membuat elit baru ini. Kaisar-kaisar Song awal, yang
memikirkan bagaimana menghindari dominasi pemerintahan oleh orang militer, memperluas
sistem ujian masuk pegawai negeri dan sekolah pemerintahan.[40]
Meskipun begitu, Dinasti Sui dan Tang telah menginstitusikan dan menetapkan dasar sistem
ujian masuk pegawai negeri beserta kelas elit pejabat baru yang dihasilkan oleh sistem tersebut.
Agama dan politik[sunting | sunting sumber]

Kaisar Xuanzong dari Tangmengenakan jubah dan topi seorang ahli.

Agama turut berperan dalam politik Dinasti Tang. Dalam upayanya untuk memperoleh
kekuasaan, Li Yuan berhasil mendapat pengikut dengan menyatakan diri sebagai keturunan
pendiri Taoisme, Laozi (abad ke-6 SM).[41] Orang yang menginginkan suatu jabatan juga
meminta pendeta di kuil-kuil Buddha agar berdua untuk mereka di muka umum, dan sebagai
gantinya kuil akan mendapat sumbangan atau hadiah apabila orang tersebut terpilih. Sebelum
Buddhisme ditindas pada abad ke-9, Buddhisme dan Taoisme diterima berdampingan,
dan Kaisar Xuanzong (berkuasa 712–56) mengundang pemuka agama keduanya untuk datang
ke istananya.[42] Pada saat yang sama, Xuanzong memuliakan Laozi dengan memberinya gelar-
gelar besar, menulis penjelasan tentang Laozi, mendirikan sekolah untuk membekali calon-calon
ujian pegawai negeri dengan pengetahuan akan buku-buku Taoisme, dan memanggil biksu
India Vajrabodhi (671–741) untuk melakukan ritus Tantrik pada tahun 726 dengan maksud untuk
menghindari kekeringan.[42] Pada tahun 742, Kaisar Xuanzong secara langsung memegang
pembakar dupa selama upacara yang dipimpin oleh Amoghavajra (705–74, patriark dari mazhab
Shingon) yang membacakan "mantera-mantera mistis untuk membawa kemenangan bagi
tentara Tang."[42]
Walaupun agama berperan dalam politik Tang, politik juga berperan terhadap agama. Pada
tahun 714, Kaisar Xuanzong melarang penjualan salinan sutra oleh toko dan penjual di kota
Chang'an; hak untuk membagikan sutra kepada orang awam diberikan khusus kepada para
biksu di biara.[43] Sebelumnya, pada tahun 713, Kaisar Xuanzong melikuidasi "Perbendaharaan
Yang Tiada Habisnya", yang dijalankan oleh biara Buddha penting di Chang'an. Biara ini
mengumpulkan banyak uang, kain sutra, dan harta karun yang merupakan hasil sumbangan dari
banyak orang yang datang untuk menyatakan pertobatannya.[44] Walaupun biara tersebut sering
berderma, Kaisar Xuanzong mengeluarkan perintah pembubaran perbendaharaan mereka
karena praktik keuangan mereka dianggap menipu; harta mereka disita dan kemudian dibagi-
bagikan kepada biara Buddha dan Taoisme lainnya, dan digunakan pula untuk memperbaiki
patung, balai, dan jembatan di kota.[44]
Pajak dan sensus[sunting | sunting sumber]

Seorang Laki-Laki Menggiring Kuda, oleh Han Gan (706–783), seorang artis istana di bawah
kepemimpinan Xuanzong.

Pemerintah Dinasti Tang mencoba mengadakan sensus yang menghitung jumlah penduduk
kekaisaran secara akurat agar dapat memperkirakan jumlah pajak yang efektif. Pemerintahan
Tang awal menetapkan pajak gandum dan pakaian yang rendah untuk setiap rumah tangga. Hal
ini dimaksudkan untuk mendorong pembayaran pajak dan mengurangi penghindaran pajak,
sehingga memberikan perkiraan jumlah penduduk yang seakurat mungkin.[3] Berdasarkan
sensus tahun 609, jumlah penduduk terhitung sebesar 9 juta rumah tangga, atau sekitar 50 juta
jiwa.[3] Sensus Tang pada tahun 742 sekali lagi memperkirakan jumlah penduduk sebesar 50
juta jiwa.[45] Menurut Patricia Ebrey, meskipun diasumsikan bahwa banyak orang yang
menghindari proses pendaftaran sensus pajak, jumlah penduduk Tiongkok tidak bertumbuh
pesat semenjak masa Dinasti Han awal (menurut sensus pada tahun 2, jumlah penduduk
Tiongkok tercatat sebesar 58 juta jiwa).[3][46]S.A.M. Adshead tidak setuju dan memperkirakan
bahwa terdapat sekitar 75 juta penduduk pada tahun 750.[47]
Menurut sensus Tang tahun 754, terdapat 1.859 kota, 321 prefektur, dan 1.538 kabupaten di
seluruh kekaisaran.[48] Meskipun terdapat banyak kota besar dan penting pada masa Dinasti
Tang, 80 hingga 90% penduduk Tang tinggal di wilayah pedesaan dan pertanian.[49] Terdapat
pula perpindahan penduduk dari utara ke selatan: pada awal masa Dinasti Tang, 75% penduduk
tinggal di utara, tetapi pada masa akhirnya berkurang menjadi 50%.[50]
Jumlah penduduk Tiongkok tidak akan bertambah banyak hingga masa Dinasti Song, ketika
jumlah penduduk meningkat dua kali lipat menjadi 100 juta jiwa akibat penanaman beras di
Tiongkok tengah dan selatan, ditambah dengan melimpahnya hasil panen yang dapat dikirim ke
pasar.[51]

Militer dan kebijakan luar negeri[sunting | sunting sumber]


Protektorat dan kerajaan bawahan[sunting | sunting sumber]

Relief seorang tentara dan kudanya di makam Kaisar Taizong.


Abad ke-7 dan awal pertengahan abad ke-8 pada umumnya dianggap sebagai puncak kejayaan
Dinasti Tang. Di bawah kekuasaan mereka, wilayah Tiongkok menjadi lebih luas dari
sebelumnya; wilayah Tang terbentang dari Vietnam utara di selatan hingga titik di sebelah
utara Kashmir yang berbatasan dengan Persia di barat dan Korea utara di timur laut.[52]
Beberapa kerajaan yang membayar upeti kepada Dinasti Tang
meliputi Kashmir, Nepal, Khotan, Kucha, Kashgar, Korea, Champa, dan kerajaan-kerajaan di
lembah Amu Darya dan Syr Darya.[53][54] Para nomaden Turk menjuluki Kaisar Tang
sebagai Tian Kehan.[22] Setelah pemberontakan Göktürk yang dilancarkan oleh Shabolüe
Khan (kematian 658) dipadamkan di Issyk Kul pada tahun 657 oleh Su Dingfang (591–667),
Kaisar Gaozong mendirikan beberapa protektorat yang diperintah oleh Jenderal Protektorat atau
Jenderal Protektorat Agung, dan lingkup pengaruh Tiongkok meluas hingga ke Herat di
Afganistan Barat.[55] Jenderal Protektorat diberi otonomi untuk menangani krisis lokal tanpa
harus menunggu persetujuan dari pusat. Setelah masa kekuasaan Xuanzong, gubernur militer
(jiedushi) diberi banyak kewenangan, termasuk wewenang untuk memiliki angkatan bersenjata
sendiri, memungut pajak, dan mewariskan gelar mereka. Tindakan ini pada umumnya dianggap
sebagai permulaan kejatuhan pemerintahan Tang.[56][57]
Tentara dan wajib militer[sunting | sunting sumber]
Pada tahun 737, Kaisar Xuanzong membatalkan sistem perekrutan tentara yang digantikan
setiap tiga tahun, dan menggantikannya dengan tentara dengan masa tugas yang panjang,
sehingga lebih berpengalaman dalam pertempuran dan efisien.[58] Secara ekonomi, kebijakan
tersebut juga lebih baik karena pelatihan anggota baru dan pengiriman mereka ke perbatasan
menguras kas negara.[58] Pada akhir abad ke-7, tentara dalam sistem fubingmulai meninggalkan
tugas militernya dan rumah yang diberikan kepada mereka dalam sistem juntian. Standar tanah
yang seharusnya seluas 100 mu untuk setiap keluarga kenyataannya semakin berkurang di
tempat yang mengalami pertumbuhan penduduk dan yang sebagian besar dibeli oleh orang
kaya.[59] Petani dan gelandangan kemudian terdorong untuk ikut tugas militer agar tidak
dikenakan pajak dan kerja rodi, dan juga agar memperoleh tanah pertanian dan tempat tinggal
untuk anggota keluarga yang menemani tentara ke perbatasan.[60] Pada tahun 742, jumlah
tentara yang terdaftar dalam angkatan bersenjata Tang tercatat sebesar 500.000 tentara.[58]
Wilayah Turk dan barat[sunting | sunting sumber]

Guci perak dari masa Dinasti Sang yang berbentuk seperti gaya tas kulit nomaden utara.[61] Guci ini
berdekorasi kuda yang sedang menari dengan secangkir wine di mulutnya; kuda-kuda Kaisar Xuanzong
dilatih untuk melakukan hal tersebut.[61]

Dinasti Sui dan Tang telah berhasil melancarkan kampanye militernya terhadap para nomaden.
Kebijakan luar negeri Tiongkok di sebelah utara dan barat pada saat itu berkaitan dengan para
nomaden Turk, yang menjadi kelompok etnis yang paling dominan di Asia Tengah.[62][63] Untuk
menangani dan menghindari ancaman dari orang-orang Turk, pemerintah Sui memperbaiki
benteng-benteng dan menerima misi perdagangan dan pemberian upeti mereka.[33] Sui mengirim
empat putri kekaisaran untuk menikahi pemimpin klan masing-masing pada tahun 597, 599, 614,
dan 617. Pada saat yang sama, Sui memicu permasalahan dan konflik antara berbagai
kelompok etnis dengan orang-orang Turk.[64][65] Semenjak masa Dinasti Sui, orang-orang Turk
telah menjadi kekuatan militer yang dimanfaatkan oleh orang Tiongkok. Saat orang-
orang Khitan mulai menyerang Tiongkok timur laut pada tahun 605, seorang jenderal Tiongkok
memimpin 20.000 orang Turk untuk melawan mereka, dan membagikan ternak dan perempuan
Khitan kepada orang-orang Turk sebagai hadiah.[66] Dua kali antara tahun 635 dan 636, putri
kekaisaran Tang dinikahkan dengan tentara bayaran atau jenderal Turk yang bekerja untuk
Tiongkok.[65] Pada masa Dinasti Tang hingga akhir tahun 755, terdapat kurang lebih sepuluh
jenderal Turk yang melayani Tang.[67][68]Walaupun sebagian besar angkatan Tang berasal dari
sistem fubing, sebagian besar tentara yang dipimpin oleh jenderal-jenderal Turk adalah tentara
non-Tionghoa, dan seringkali melancarkan kampanye militer di perbatasan barat yang tidak
banyak dijaga oleh tentara dari sistem fubing.[69] Beberapa tentara "Turk" merupakan orang Han
Tionghoa yang ternomadisasi atau terdesinisasi.[70]
Perang saudara di Tiongkok hampir sepenuhnya dipadamkan pada tahun 626, dan pada tahun
628 tuan tanah Tionghoa di Ordos, Liang Shidu, berhasil dikalahkan; setelah konflik internal
tersebut selesai, Tang memulai serangan terhadap orang-orang Turk.[71] Pada tahun 630,
angkatan bersenjata Tang merebut wilayah Gurun Ordos di provinsi Mongolia Dalam dan
wilayah Mongolia selatan dari orang-orang Turk.[66][72] Setelah kemenangan ini, Kaisar Taizong
memperoleh gelar Khan Agung di antara orang-orang Turk yang menyatakan kesetiannya
kepada kaisar dan Tiongkok (dan beberapa orang Turk pergi ke Tiongkok untuk tinggal di
Chang'an). Pada 11 Juni 631, Kaisar Taizong juga mengirim utusan yang membawa emas dan
kain sutra ke Xueyantuo untuk meminta pelepasan tawanan-tawanan Tiongkok yang ditangkap
di perbatasan utara selama transisi dari Sui ke Tang; misi ini berhasil membebaskan 80.000 laki-
laki dan perempuan Tiongkok.[73][74]
Patung terakota seorang penjaga makam (wushi yong) dari masa Dinasti Tang pada abad ke-8.

Sementara orang-orang Turk menetap di wilayah Ordos (bekas wilayah Xiongnu), pemerintah
Tang melancarkan kebijakan militer yang dimaksudkan untuk mendominasi wilayah stepa di Asia
Tengah. Seperti pada masa Dinasti Han, Dinasti Tang dan sekutu Turknya menaklukkan dan
menundukkan Asia Tengah pada tahun 640-an dan 650-an.[33] Pada masa Kaisar Taizong,
kampanye militer besar tidak hanya dilancarkan terhadap orang-orang Göktürk, tetapi juga
terhadap Tuyuhun, negara-negara Xiyu, dan Xueyantuo. Di bawah kepemimpinan Kaisar
Gaozong, jenderal Su Dingfang memimpin kampanye militer terhadap orang-orang Turk
Barat yang dipimpin oleh Ashina Helu.[75]
Dinasti Tang bersaing dengan Kekaisaran Tibet dalam memperebutkan wilayah Asia Dalam dan
Tengah, dan kadang-kadang persaingan tersebut diselesaikan lewat pernikahan, seperti
pernikahan Putri Wencheng (kematian 680) dengan Songtsän Gampo (kematian
649).[76][77] Sebuah tradisi Tibet menyebutkan bahwa tentara Tiongkok merebut Lhasa setelah
kematian Songtsän Gampo,[78] namun serangan tersebut tidak pernah disebutkan baik dalam
catatan sejarah Tiongkok maupun dalam manuskrip Dunhuang Tibet.[79] Antara tahun 670 hingga
692, berlangsung konflik panjang antara Tang dan Tibet yang memperebutkan wilayah
di Cekungan Tarim, dan pada tahun 763 bangsa Tibet merebut ibukota Tiongkok, Chang'an,
selama lima belas hari saat meletusnya Pemberontakan An Shi.[80][81] Nyatanya, selama
pemberontakan ini, Tang menarik garnisun baratnya di Gansu dan Qinghai, yang kemudian
diduduki oleh Tibet bersamaan dengan wilayah Xinjiang.[82] Permusuhan antara Tang dan Tibet
terus berlanjut hingga mereka menandatangani perjanjian damai resmi pada tahun
821.[83] Syarat-syarat perjanjian ini, yang meliputi penetapan perbatasan antara kedua negara,
tercatat dalam prasasti dua bahasa di pilar batu di luar kuil Jokhang di Lhasa.[84]
Selama penaklukan Islam di Persia (633–656), putra dari penguasa terakhir Kekaisaran
Sassaniyah, Pangeran Pirooz, melarikan diri ke Tang.[53][85] Menurut Buku Tua Tang, Pirooz
dijadikan kepala Kegubernuran Persia di wilayah yang kini merupakan bagian dari Zaranj,
Afganistan. Selama penaklukan Persia, khalifah Islam Uthman Ibn Affan (berkuasa 644–656)
mengirim duta besar ke istana Tang di Chang'an.[68] Pada tahun 740-an,
orang Arab dari Khurasan telah menetap di cekungan Ferghana dan di Sogdiana.
Dalam Pertempuran Talas yang meletus pada tahun 751, tentara bayaran Qarluq berkhianat dan
membantu tentara Arab dari kekhalifahan dalam mengalahkan tentara Tang di bawah
kepemimpinan Gao Xianzhi. Pertempuran tersebut merupakan momen penting dalam sejarah;
teknologi pembuatan kertas dari Tiongkok menyebar ke dunia Islam karena orang-orang
Tiongkok yang ditawan membocorkan rahasia pembuatan kertas kepada orang-orang
Arab.[86][87] Teknik ini pada akhirnya mencapai Eropa pada abad ke-12 melalui Spanyol yang saat
itu dikuasai orang-orang Arab. Walaupun kedua negara bertempur di Talas, pada tanggal 11
Juni 758 duta besar Abbasiyah tiba di Chang'an bersamaan dengan orang-orang Turk Uyghur,
dan mereka membawa hadiah untuk Kaisar Tang.[88] Lebih jauh lagi dari barat, duta
besar Patriark Antiokhiayang membawa upeti datang ke istana Kaisar Taizong pada tahun
643.[89] Pada tahun 788–9, Tang beraliansi dengan orang-orang Turk Uyghur, yang kemudian
dua kali mengalahkan orang-orang Tibet pada tahun 789 di dekat kota Kuch'eng di Jungharia
dan pada tahun 791 di dekat Ning-hsia di Sungai Kuning.[90]
Korea dan Jepang[sunting | sunting sumber]

Haniwa kapal dari Jepang pada periode Kofun (250–538).

Di timur, kampanye militer Tiongkok tidak seberhasil di tempat lain. Seperti kaisar-kaisar Dinasti
Sui, Taizong mencoba melancarkan kampanye militer melawan Goguryeo pada tahun 644;
namun, kampanye militer pertama ditarik mundur karena gagal mengalahkan pertahanan
Jenderal Yeon Gaesomun. Tang kemudian bersekutu dengan Kerajaan Silla di Korea dan
bertempur melawan Baekje dan Jepang Yamato dalam Pertempuran Baekgang pada Agustus
663; pertempuran tersebut dimenangkan oleh Tang dan Silla. Dalam pertempuran tersebut,
angkatan laut Dinasti Tang memiliki beberapa jenis kapal yang berbeda yang dapat digunakan
dalam pertempuran laut (kapal-kapal tersebut dideskripsikan oleh Li Quan dalam
karyanya Taipai Yinjing pada tahun 759).[91] Pertempuran Baekgang sebenarnya merupakan
upaya restorasi oleh sisa tentara Baekje, karena kerajaan mereka sebelumnya dijatuhkan pada
tahun 660 oleh serangan gabungan Tang dan Silla yang dipimpin oleh jenderal Tiongkok Su
Dingfang dan jenderal Korea Kim Yushin (595–673). Dalam serangan gabungan lainnya, Tang
dan Silla berhasil melemahkan Kerajaan Goguryeo di utara dengan mengambil benteng luarnya
pada tahun 645. Serangan gabungan Silla dan Tang di bawah pimpinan komandan Li Shiji (594–
669) pada akhirnya berhasil menghancurkan Goguryeo pada tahun 668.[92]

Lukisan dinding di Gua Mogao di Dunhuang dari abad ke-10 yang menunjukkan arsitektur biara
dari Gunung Wutai, Dinasti Tang; arsitektur Jepang pada periode ini dipengaruhi oleh arsitektur Tang.
Meskipun sebelumnya saling bermusuhan, Tang menerima masuk pejabat dan jenderal
Goguryeo ke dalam pemerintahan dan militer Tang, seperti dua bersaudara Yeon
Namsaeng (634–679) dan Yeon Namsan (639–701). Dari tahun 668 hingga 676, Dinasti Tang
mengendalikan Korea utara. Namun, pada tahun 671, Silla mulai berperang melawan Tang.
Pada saat yang sama, Tang menghadapi ancaman di perbatasan barat ketika angkatan
bersenjata Tiongkok dikalahkan oleh Tibet di Sungai Dafei pada tahun 670.[93] Pada tahun 676,
tentara Tang diusir dari Korea oleh Silla Bersatu.[94] Setelah meletusnya pemberontakan Turk
Timur pada tahun 679, Tang menghentikan kampanye militernya di Korea.[93]
Walaupun Tang pernah bertempur melawan Jepang, hubungan antar keduanya masih baik.
Jepang mengirim duta besar ke Tiongkok hingga dihentikan oleh Kaisar Uda (berkuasa 887-897)
pada tahun 894 setelah kaisar diyakinkan oleh Sugawara no Michizane (845–903).[95] Kaisar
Temmu (berkuasa 672–686) bahkan meniru gaya Tiongkok dalam merekrut militer, mengadakan
upacara negara, dan membangun istana di Fujiwara.[96]
Banyak biksu Tiongkok yang datang ke Jepang untuk membantu menyebarkan Buddhisme. Dua
biksu dari abad ke-7 yang bernama Zhi Yu dan Zhi You mengunjungi istana Kaisar
Tenji (berkuasa 661–672) dan membawa hadiah berupa kereta yang menghadap ke
selatan yang mereka rancang sendiri.[97] Kereta berupa kompas yang digerakkan secara
mekanik ini (dengan menggunakan gigi diferensial) kemudian direproduksi beberapa kali dengan
model yang berbeda untuk Kaisar Tenji pada tahun 666, seperti yang tercatat dalam Nihon
Shoki pada tahun 720.[97] Biksu Jepang juga mengunjungi Tiongkok, seperti Ennin (794–864)
yang menulis catatan perjalanannya, termasuk perjalanan di sepanjang Terusan Besar
Tiongkok.[98][99] Biksu Jepang Enchin (814–891) menetap di Tiongkok dari tahun 839 hingga 847
dan lagi dari tahun 853 hingga 858; dalam perjalanan keduanya, ia berlabuh di dekat Fuzhou,
Fujian, dan kembali ke Jepang dari Taizhou, Zhejiang.[100][101]

Perdagangan dan penyebaran budaya[sunting | sunting sumber]


Dengan memanfaatkan jalur perdagangan di Jalur Sutera dan jalur laut, Dinasti Tang mampu
memperoleh berbagai teknologi, budaya, barang mewah langka, dan barang-barang lain pada
masa itu. Tang memperoleh gagasan baru dalam bidang fashion, jenis keramik, dan pandai
perak dari Timur Tengah, India, Persia, dan Asia Tengah.[102] Bangsa Tionghoa juga secara
bertahap mulai menggunakan kursi untuk duduk, sementara sebelumnya mereka selalu duduk di
tikar yang diletakkan di lantai.[103] Sementara itu, dunia Islam menginginkan dan membeli banyak
barang-barang Tiongkok seperti kain sutra, kerajinan pernis, dan kerajinan porselen.[104] Di sisi
lain, nyanyian, tarian, dan alat musik dari luar negeri menjadi populer di Tiongkok pada masa
Dinasti Tang.[105][106] Alat-alat musik tersebut meliputi obo, seruling, dan drum pernis kecil
dari Kucha di Cekungan Tarim, dan alat musik ketuk dari India seperti simbal.[105] Di istana
terdapat sembilan ansambel musik (dari yang tadinya tujuh pada masa Dinasti Sui) yang
mewakili musik-musik dari Asia.[107]
Terdapat pula hubungan dan ketertarikan dengan India sebagai pusat pengetahuan Buddhisme,
dan pengelana-pengelana terkenal seperti Xuanzang (kematian 664) pergi ke negara yang
terletak di Asia Selatan tersebut. Setelah melalui perjalanan selama 17 tahun, Xuanzang berhasil
membawa pulang teks-teks berbahasa Sansekerta yang akan diterjemahkan ke bahasa
Tionghoa. Sementara itu, kamus bahasa Turk juga tersedia untuk para ahli dan murid,
sementara lagu rakyat Turk menginspirasi beberapa puisi Tiongkok.[108][109]Di Tiongkok sendiri,
perdagangan difasilitasi oleh Terusan Besar dan pemanfaatan kanal tersebut oleh pemerintah
Tang mengurangi biaya pengangkutan gandum dan komoditas lainnya.[110] Selain itu, negara
mengelola sekitar 32;100 km (19;900 mi) jalur pos lewat kuda atau kapal.[111]
Jalur Sutra[sunting | sunting sumber]
Arca kuda dari masa Dinasti Tang.

Meskipun Jalur Sutra dari Tiongkok ke Barat pertama kali dibuat pada masa Kaisar Wu (141–87
SM) dari Dinasti Han, jalur ini dibuka kembali oleh Tang pada tahun 639 ketika Hou
Junji (meninggal 643) menaklukkan wilayah barat. Jalur sutra tetap dibuka selama hampir empat
dasawarsa, tetapi kemudian ditutup lagi saat orang-orang Tibet merebutnya pada tahun 678.
Namun, pada tahun 699, pada masa kekuasaan Maharani Wu, Jalur Sutra dibuka lagi setelah
Tang menaklukkan kembali Empat Garnisun Anxi yang pada awalnya dipasang oleh Tang pada
tahun 640,[112] sehingga Tiongkok kembali terhubung dengan Barat.[113] Tang merebut dari Tibet
jalur penting yang melewati Lembah Gilgit pada tahun 722, lalu diambil lagi oleh Tibet pada
tahun 737, tetapi kemudian ditaklukkan kembali oleh Tang di bawah komando Jenderal
Goguryeo Gao Xianzhi.[114] Saat pemberontakan An Lushan berakhir pada tahun 763, wilayah
barat Tang sekali lagi direbut oleh Tibet, sehingga akses Tiongkok ke Jalur Sutra kembali
ditutup.[83] Pemberontakan internal pada tahun 848 berhasil menjatuhkan penguasa Tibet,
sehingga Tang dapat merebut kembali prefekturnya di barat laut pada tahun 851. Wilayah
tersebut merupakan wilayah penggembalaan yang penting untuk memelihara kuda yang sangat
dibutuhkan oleh Tang pada masa itu.[83][115]
Walaupun banyak pengelana dari barat yang datang ke Tiongkok untuk menetap dan
berdagang, banyak pengelana (terutama biksu) yang mencatat hukum perbatasan Tiongkok
yang ketat.[104] Seperti yang dilihat oleh Xuanzang dan banyak biksu lainnya, terdapat banyak
pos pemeriksaan pemerintah Tang di sepanjang Jalur Sutra yang memeriksa izin masuk ke
Dinasti Tang.[104] Selain itu, perampok merupakan masalah di pos pemeriksaan dan kota-kota
di oasis, dan Xuanzang sendiri mencatat bahwa kelompoknya diserang oleh perampok beberapa
kali.[104]
Jalur Sutra juga berdampak terhadap seni Dinasti Tang. Kuda menjadi lambang kesejahteraan
dan kekuatan dan digunakan dalam militer dan diplomasi. Selain itu, kuda dihormati sebagai
saudara naga.[116]
Pelabuhan dan perdagangan laut[sunting | sunting sumber]
Utusan Tiongkok telah berlayar ke India melalui Samudra Hindia semenjak abad ke-2
SM,[117][118] namun baru pada masa Dinasti Tang banyak kapal Tiongkok yang dapat ditemui
di Teluk Persia dan Laut Merah; kapal-kapal tersebut berlayar ke Persia, Mesopotamia(berlayar
di Sungai Efrat), Arabia, Mesir, Aksum (Etiopia), dan Somalia.[119] Pada saat yang sama,ribuan
orang asing datang dan menetap di beberapa kota di Tang untuk berdagang, termasuk orang-
orang Persia, Arab, India Hindu, Melayu, Sinhala, Khmer, Cham, Yahudi, dan Kristen
Nestorian.[120][121] Konon, Sa'ad bin Abi Waqqas yang berasal dari suku Quraysh yang sama
dengan Muhammad berlayar ke Tiongkok, menjadi orang pertama memperkenalkan Islam di
Tiongkok, dan mendirikan masjid pertama Tiongkok pada masa Kaisar Gaozong.[122][123] Namun,
para ahli tidak dapat menemukan bukti bahwa Sa'ad bin Abi Waqqas benar-benar pernah
mengunjungi Tiongkok, meskipun mereka setuju bahwa orang Muslim pertama telah tiba di
Tiongkok pada abad ke-7.[123]
Arca pedagang asing dari abad ke-7.

Pada tahun 748, biksu Jian Zhen mendeskripsikan Guangzhou sebagai pusat perdagangan yang
sibuk dan didatangi oleh kapal-kapal asing besar. Ia menulis bahwa "banyak kapal-kapal besar
yang datang dari Borneo, Persia, Qunglun (Indonesia/Jawa)...dengan...rempah-rempah,
permata, dan giok yang menumpuk setinggi gunung",[124][125] seperti yang ditulis dalam Yue Jue
Shu (Catatan Negara Yue yang Hilang). Selama Pemberontakan An Lushan, bajak laut Arab dan
Persia membakar dan menjarah Guangzhou pada tahun 758,[83] sementara pada tahun 760 para
pedagang Arab dan Persia dibantai di Yangzhou. Akibatnya, pemerintah Tang menutup
pelabuhan Kanton selama kurang lebih lima desawarsa, dan sebagai gantinya kapal asing
berlabuh di Hanoi.[126] Walaupun begitu, pelabuhan tersebut kembali sibuk setelah dibuka
kembali. Pada tahun 851, pedagang Arab Sulaiman al-Tajir mengamati
pembuatan porselenTiongkok di Guangzhou dan mengagumi ketransparanannya.[127] Ia juga
menulis deskripsi masjid di Guangzhou, lumbung padinya, pemerintahan lokalnya, beberapa
catatan tertulisnya, cara mereka memperlakukan pengelana, dan pemanfaatan keramik, nasi,
wine, dan teh.[128] Namun, pada tahun 879, kembali terjadi peristiwa berdarah ketika
pemberontak Tiongkok Huang Chao menjarah kota dan membantai ribuan orang Tionghoa
beserta orang-orang Yahudi, Kristen, Zoroastrian, dan Muslim.[129][130][131] Pemberontakan Huang
pada akhirnya akan dipadamkan pada tahun 884.
Kapal-kapal dari kerajaan Silla, Balhae, dan Provinsi Hizen di Jepang turut serta dalam
perdagangan di Laut Kuning yang didominasi oleh Silla.[132] Setelah Silla dan Jepang kembali
bermusuhan pada akhir abad ke-7, sebagian besar pedagang Jepang memilih untuk berlayar
dari Nagasaki ke mulut Sungai Huai, Sungai Yangzi, dan bahkan Teluk Hangzhou di selatan
untuk menghindari kapal-kapal Korea di Laut Kuning.[132][133] Untuk berlayar kembali ke Jepang
pada tahun 838, duta besar Jepang untuk Tiongkok menggunakan sembilan kapal dan enam
puluh pelaut Korea dari kawasan Korea di Chuzhou dan Lianshui di sepanjang Sungai
Huai.[134] Selain itu, kapal-kapal pedagang Tiongkok berlayar ke Jepang dari berbagai pelabuhan
di pesisir provinsi Zhejiang dan Fujian.[135]

Sebuah peti Buddhis emas dengan dekorasi penjaga bersenjata, dari Silla pada abad ke-7.

Paling tidak semenjak masa Dinasti Tang, orang-orang Tiongkok telah melakukan produksi
berskala besar untuk diekspor ke luar negeri. Hal ini dibuktikan dengan penemuan bangkai kapal
Belitung, bangkai kapal layar Arab berjenis dhow yang mengangkut 63.000 buah keramik, perak,
dan emas dari Tiongkok (termasuk mangkuk Changsha yang bertanggal: "hari ke-16 pada bulan
ketujuh tahun kedua masa kekuasaan Baoli", atau tahun 826, dan ini telah dikonfirmasi oleh
teknik penanggalan radiokarbon terhadap bunga lawang di bangkai kapal).[136] Semenjak tahun
785, orang Tiongkok mulai mendatangi Sufala di pesisir Afrika Timur agar tidak harus melewati
perantara orang Arab,[137] dan berbagai sumber Tiongkok pada masa itu merincikan
perdagangan di Afrika. Pejabat dan ahli geografi Jia Dan (730–805) mencatat dua jalur laut yang
umum pada masa itu: yang satu dari Laut Bohai ke Korea, dan yang lain dari Guangzhou
melalui Malaka ke Kepulauan Nikobar, Sri Lanka, India, pesisir timur dan utara Laut Arab, dan
Sungai Efrat.[138] Pada tahun 863, penulis Tiongkok Duan Chengshi (kematian 863) menuliskan
rincian perdagangan budak, gading, dan ambardi negara yang disebut Bobali (menurut
sejarawan Bobali adalah Berbera di Somalia).[139] Di Fustat (Kairo lama), Mesir, ketenaran
keramik Tiongkok mengakibatkan tingginya permintaan akan barang-barang Tiongkok; maka
dari itu, orang Tiongkok sering berkelana ke sana (dan ini berlanjut hingga periode Fatimiyah di
Mesir).[140][141] Pada masa-masa tersebut, pedagang Arab Shulama pernah menuliskan
kekagumannya akan kapal jung Tiongkok, tetapi menurutnya kapal tersebut terlalu masuk ke
dalam air sehingga tidak dapat memasuk Sungai Efrat dan harus menggunakan kapal kecil
untuk mengirim penumpang dan kargo.[142] Shulama juga mengamati bahwa kapal Tiongkok
biasanya sangat besar, dengan kapasitas hingga 600-700 penumpang.[138][142]

Maharani Wu dan Kaisar Xuanzong[sunting | sunting sumber]


Informasi lebih lanjut: Wu Zetian dan Maharani Xuanzong dari Tang
Pengambilalihan kekuasaan oleh Wu Zetian[sunting | sunting sumber]

Perempuan-perempuan istana di dalam sebuah kebun. Lukisan dinding ini terletak di makam Li
Xian di Mausoleum Qianling, yang juga merupakan tempat dikuburnya Wu Zetian pada tahun 706.

Meskipun ia memasuki istana Kaisar Gaozong sebagai selir Wu Zhao, Wu Zetian mencapai
puncak kekuasaan pada tahun 690 dan mendirikan Dinasti Zhou Akhir yang berusia pendek.
Maharani Wu memperoleh kekuasaan dengan taktik yang kejam dan diperhitungkan dengan
matang: menurut teori konspirasi populer, ia membunuh bayi perempuannya sendiri dan
menyalahkan maharani Gaozong lainnya agar maharani tersebut dijatuhkan.[34] Kaisar Gaozong
menderita stroke pada tahun 655, dan Wu mulai mengambil keputusan untuknya dari balik
layar.[143] Ketika putra sulung Wu yang merupakan putra mahkota mulai menegaskan otoritasnya
dan menganjurkan kebijakan yang ditentang oleh Wu, ia tiba-tiba meninggal pada tahun 675.
Banyak yang menduga bahwa ia dibunuh oleh Maharani Wu. Meskipun calon penerus
berikutnya tidak banyak bertingkah, pada tahun 680 ia dituduh melakukan rencana
pemberontakan oleh Wu, sehingga ia dibuang (dan nantinya dipaksa bunuh diri).[144]
Pada tahun 683, Kaisar Gaozong meninggal. Ia digantikan oleh Kaisar Zhongzong, anak laki-laki
Wu. Zhongzong mencoba mengangkat Wu sebagai kanselir: setelah enam minggu berkuasa, ia
dijatuhkan oleh Maharani Wu dan digantikan oleh adiknya, Kaisar Ruizong yang berusia 12
tahun.[144] Akibatnya, pangeran-pangeran Tang memberontak pada tahun 684, tetapi angkatan
bersenjata Wu memadamkannya dalam waktu dua bulan.[144] Ia kemudian memproklamirkan era
Tianshou Dinasti Zhou pada 16 Oktober 690,[145] dan tiga hari kemudian menurunkan status
Kaisar Ruizong menjadi putra mahkota.[146] Ia juga dipaksa untuk mengganti nama keluarga
ayahnya Li dengan nama keluarga Wu.[146] Wu Zetian kemudian menjadi satu-satunya kaisar
wanita dalam sejarah Tiongkok. Namun, kudeta istana pada 20 Februari 705 memaksa dirinya
untuk melepaskan posisinya pada 22 Februari. Pada hari berikutnya, putranya Zhongzong
kembali berkuasa, dan Dinasti Tang dipulihkan pada 3 Maret. Segera sesudahnya, Wu Zetian
meninggal dunia.[147]
Untuk melegitimasi kekuasaannya, ia menyebarkan dokumen yang disebut Sutra Awan Besar,
yang memprediksikan bahwa reinkarnasi Maitreya Buddha adalah seorang penguasa
perempuan yang akan menghilangkan penyakit, rasa khawatir, dan bencana dari
dunia.[148][149] Pada masa kekuasaannya, ia memperkenalkan beberapa perubahan dalam aksara
Tionghoa, yang kemudian dikembalikan seperti semula setelah kematiannya.[150] Salah satu
warisannya yang paling penting adalah berkurangnya kekuatan aristokrat di barat laut, sehingga
orang-orang dari klan dan wilayah lain di Tiongkok menjadi lebih terwakilkan dalam politik dan
pemerintahan Tiongkok.[151][152]
Bangkitnya Xuanzong[sunting | sunting sumber]

Pagoda Angsa Liar Raksasa, Chang'an (kini Xi'an), yang dibangun pada tahun 652 dan diperbaiki oleh Wu
Zetian pada tahun 704.

Terdapat banyak perempuan penting di istana kekaisaran pada masa Maharani Wu dan
sesudahnya, seperti Shangguan Wan'er (664–710), seorang penyair, penulis, dan pejabat
perempuan yang mengurus kantor pribadi Wu.[153] Pada tahun 706, istri Kaisar Zhongzong dari
Tang, Maharani Wei (kematian 710), meyakinkan suaminya untuk mengangkat saudara
perempuan dan putrinya menjadi pegawai pemerintahan, dan pada tahun 709 meminta agar ia
memberi perempuan hak untuk menyerahkan hak istimewa turun temurunyna ke anak laki-
lakinya (yang sebelumnya merupakan hak untuk laki-laki saja).[154] Maharani Wei pada akhirnya
meracuni Zhongzong, dan kemudian ia menempatkan putranya yang berusia lima belas tahun di
atas tahta pada tahun 710.[42] Dua minggu kemudian, Li Longji (nantinya menjadi Kaisar
Xuanzong) memasuki istana dengan beberapa pengikut dan membunuh Maharani Wei dan
faksinya.[42] Ia kemudian menempatkan ayahnya Kaisar Ruizong (berkuasa 710–712) di atas
tahta.[42] Sementara Kaisar Zhongzong didominasi oleh Maharani Wei, Ruizong juga didominasi
oleh Putri Taiping.[155] Keadaan ini berakhir setelah kegagalan upaya kudeta Putri Taiping pada
tahun 712 (ia gantung diri pada tahun 713), dan Kaisar Ruizong mengundurkan diri dan
memberikan jabatannya kepada Kaisar Xuanzong.[42][154]
Pada masa Kaisar Xuanzong selama 44 tahun, Dinasti Tang mencapai masa keemasannya
dengan inflasi ekonomi yang rendah.[110][152] Ia dianggap sebagai pemimpin yang progresif dan
penuh kebajikan. Pada tahun 747, ia menghapuskan hukuman mati; sebelumnya semua
hukuman mati harus disetujui oleh kaisar sendiri (sebagai catatan, pada tahun 730, terdapat 24
orang yang dihukum mati).[156] Xuanzong mengikuti konsensus menteri-menterinya dalam
pembuatan kebijakan dan berupaya mengisi jabatan kementerian dari berbagai faksi
politik.[155] Kanselirnya Zhang Jiuling (673–740) yang merupakan seorang
penganut Konfusianisme yang kuat berupaya untuk mengurangi deflasi dan meningkatkan
jumlah uang yang beredar dengan mendorong penggunaan koin pribadi, sementara penerusnya
yang merupakan seorang aristokrat dan teknokrat Li Linfu (kematian 753) mendukung monopoli
pemerintah atas pengeluaran koin.[157] Setelah tahun 737, Xuanzong sangat memercayai
kanselirnya Li Linfu, yang mendukung kebijakan perekrutan jenderal non-Tionghoa yang lebih
agresif. Kebijakan ini pada akhirnya menghasilkan keadaan yang memungkinkan terjadinya
pemberontakan besar-besaran terhadap Kaisar Xuanzong.[158]

Kemunduran[sunting | sunting sumber]


Pemberontakan An Lushan dan bencana[sunting | sunting sumber]
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Pemberontakan An Lushan

Buddha Raksasa Leshan, dengan tinggi 71 m (233 ft); pembangunan dimulai pada tahun 713 dan
diselesaikan tahun 803.

Kejayaan Dinasti Tang berakhir pada abad ke-8 ketika Pemberontakan An Lushan (16
Desember 755 – 17 Februari 763) menghancurkan kekaisaran. An Lushan adalah seorang
komandan setengah Sogdiana, setengah Turk, semenjak tahun 744, dan berhasil memenangkan
sebuah pertempuran melawan orang-orang Khitan di Manchuria pada tahun
744,[56][159] walaupun kampanye militernya melawan orang-orang Khitan secara keseluruhan
tidak berhasil.[160] Ia memperoleh tanggung jawab yang besar di Hebei, yang memungkinkannya
untuk memberontak dengan lebih dari seratus ribu tentara.[56] Setelah merebut Luoyang, ia
menyatakan dirinya sebagai kaisar negara Yan yang baru dan berusia pendek.[159] Meskipun
pada awalnya jenderal Tang Guo Ziyi (697–781) berhasil memperoleh kemenangan, tentara-
tentara yang baru direkrut di ibukota tidak dapat menandingi tentara An Lushan yang sudah
berpengalaman, sehingga kaisar melarikan diri dari Chang'an.[56] Saat calon penerus kaisar
merekrut pasukan di Shanxi dan Xuanzong melarikan diri ke provinsi Sichuan, mereka meminta
bantuan orang-orang Turk Uyghurpada tahun 756.[161] Khan Uyghur Moyanchur sangat senang
akan tawaran ini, dan menikahkan putrinya dengan utusan diplomatik Tiongkok yang datang,
dan sebagai gantinya ia dapat menikahi seorang putri Tiongkok.[161]Orang-orang Uyghur
membantu merebut kembali ibukota Tang dari para pemberontak, tetapi mereka menolak pergi
sebelum diberi banyak upeti berupa kain sutra.[56][161] Selain itu, orang-orag Arab dari
Kekhalifahan Abbasiyah juga membantu Tang dalam memadamkan pemberontakan An
Lushan.[161][162] Di sisi lain, orang-orang Tibet mencoba memanfaatkan situasi dan menjarah
banyak wilayah Tiongkok, dan setelah jatuhnya Kekaisaran Tibet pada tahun 842 (dan Uyghur
segera sesudahnya) Tang tidak dapat merebut kembali Asia Tengah setelah tahun
763.[56][163] Kemunduran ini begitu besar hingga setengah abad kemudian peserta
ujian jinshi diharuskan untuk menulis esai mengenai penyebab kemunduran Tang.[164] Meskipun
An Lushan pada akhirnya dibunuh oleh salah satu kasimnya pada tahun 757,[161] masa-masa
sulit dan pemberontakan terus berlanjut hingga pemberontak Shi Simingdibunuh oleh putranya
sendiri pada tahun 763.[161]
Gulungan sutra dari Dunhuangpada abad ke-8, yang menunjukkan nirwana Amithaba.

Salah satu warisan yang ditinggalkan oleh pemerintah Tang semenjak tahun 710 adalah
kebangkitan gubernur militer regional (jiedushi) yang perlahan-lahan mulai menentang
kekuasaan pemerintah pusat.[57] Setelah Pemberontakan An Shi, otonomi dan otoritas yang
dikumpulkan oleh jiedushi di Hebei berada di luar kendali pemerintahan. Antara tahun 781
hingga 784, beberapa pemberontakan meletus di Hebei, Shandong, Hubei, dan Henan, dan
seusai peristiwa tersebut pemerintah harus mengakui kekuasaan turun temurun jiedushi.
Pemerintah Tang bergantung pada jiedushi dan angkatan bersenjatanya untuk perlindungan dan
pemadaman pemberontakan. Sebagai gantinya, pemerintah Tang harus mengakui hak gubernur
untuk memiliki angkatan bersenjata sendiri, memungutkan pajak, dan mewariskan gelar mereka
kepada penerusnya.[56][165] Seiring berjalannya waktu, keberadaan jiedushi mulai mengurangi
pentingnya ujian masuk pegawai negeri, dan otonomi mereka menjadi semakin
besar.[56] Kekuasaan gubernur-gubernur militer tersebut berlangsung hingga tahun 960, ketika
Dinasti Song didirikan dan membawa tatanan baru. Selain itu, dengan ditinggalkannya sistem
juntian, rakyat dapat membeli dan menjual tanah dengan bebas. Banyak orang miskin yang
terpuruk dalam hutang akibat hal tersebut, dan mereka terpaksa menjual tanah mereka kepada
orang kaya.[56] Dengan jatuhnya sistem alokasi tanah pada tahun 755, pemerintah pusat
Tiongkok tidak dapat mengelola pertanian dan hanya menjadi pemungut pajak selama kurang
lebih satu milenium, dengan pengecualian saat upaya nasionalisasi tanah Dinasti Song yang
gagal selama perang melawan orang-orang Mongol pada abad ke-13.[166]
Akibat melemahnya kendali pemerintah Tang atas wilayah-wilayahnya, pada tahun 845 tercatat
bahwa para perampok dan bajak laut sungai mulai menjarah permukiman di sepanjang Sungai
Yangtze tanpa menghadapi perlawanan yang berarti.[167] Pada tahun 858, Terusan Besar
Tiongkok meluap dan menenggelami banyak tanah di Dataran Tiongkok Utara dan puluhan ribu
orang.[167] Kepercayaan Tiongkok akan Mandat Surga yang diberikan kepada Tang mulai sirna
ketika bencana-bencana alam terjadi, dan banyak orang yang merasa bahwa Surga sudah tidak
senang lagi dengan Tang sehingga mereka tidak lagi memiliki hak untuk berkuasa. Kemudian,
pada tahun 873, kegagalan panen mengguncang kekaisaran; di beberapa wilayah hasil panen
berkurang setengah, dan puluhan ribu orang mengalami kelaparan.[167] Pada masa awal Dinasti
Tang, pemerintah dapat menangani kegagalan panen, seperti pada tahun 714–719 ketika
pemerintah Tang dapat menanggapi bencana alam secara efektif dengan menerapkan sistem
regulasi harga.[167] Pemerintah pusat pada saat itu dapat mengumpulkan persediaan makanan
untuk menghadapi kemungkinan bencana kelaparan dan meningkatkan produktivitas pertanian
melalui reklamasi tanah.[110][167] Namun, pada abad ke-9, pemerintah Tang tidak dapat berbuat
apa-apa dalam menghadapi bencana alam.
Delapan Puluh Tujuh Orang Surga, lukisan dinding oleh Wu Daozi (c. 685–758).

Pembangunan kembali dan pemulihan[sunting | sunting sumber]

Pagoda Xumi, dibangun tahun 636.

Meskipun bencana alam dan pemberontakan merusak nama baik pemerintah, pada awal abad
ke-9 Dinasti Tang sempat dipulihkan.[168] Akibat ketidakmampuan pemerintah dalam mengelola
ekonomi, perdagangan menjadi lebih terdrong karena dengan kurangnya hambatan birokrasi
semakin banyak pasar baru yang bermunculan.[169][170] Pada tahun 780, pajak gandum dan wajib
kerja digantikan oleh pajak semi-tahunan yang dibayar dalam bentuk kas, yang menunjukkan
pergeseran ke ekonomi uang yang didorong oleh kelas pedagang.[162] Kota-kota di
wilayah Jiangnan di selatan, seperti Yangzhou, Suzhou, dan Hangzhou, mengalami
pertumbuhan ekonomi yang pesat pada periode Tang akhir.[169] Monopoli pemerintah atas
produksi garam, yang melemah setelah Pemberontakan An Shi, berada di tangan Komisi
Garam, yang menjadi salah satu badan pemerintah terkuat dan dijalankan oleh menteri-menteri
spesialis yang paling cakap. Komisi tersebut memulai praktik penjualan hak monopoli garam
kepada para pedagang, yang digunakan oleh para pedagang tersebut untuk mengangkut dan
menjual di pasar lokal. Pada tahun 799, lebih dari setengah pendapatan pemerintah berasal dari
sektor garam.[56] S. A. M. Adshead menulis bahwa penetapan pajak garam merupakan "pertama
kalinya pajak tidak langsung, dan bukan upeti, memungut pajak dari tanah atau uang, atau
[pertama kalinya] keuntungan dari badan pemerintahan seperti [badan] pertambangan menjadi
sumber daya utama negara besar."[171] Bahkan setelah kekuatan pemerintah pusat berkurang
pada pertengahan abad ke-8, pemerintah masih dapat berfungsi dan memberi perintah dalam
skala besar. Tangshu (Buku Tua Tang) yang disusun pada tahun 945 mencatat bahwa pada
tahun 828 pemerintah Tang mengeluarkan dekret yang menstandardisasi pompa
rantai untuk irigasi:
Pada tahun kedua masa kekuasaan Taihe [828 M], pada bulan kedua...model standar pompa
rantai dikeluarkan oleh istana, dan rakyat Jingzhao Fu (ibukota) diperintahkan oleh kaisar untuk
membuat banyak mesin untuk dibagikan kepada rakyat di sepanjang Kanal Zheng Bai untuk
keperluan irigasi.

— [172]

Lukisan seorang ahli yang bernama Fu Sheng, dibuat oleh penyair, musisi, dan pelukis Tang Wang
Wei (701–761).

Dinasti Tang pada masa-masa ini sempat dikuasai oleh seorang kaisar yang ambisius yang
bernama Kaisar Xianzong (berkuasa 805–820); periodenya terbantu oleh reformasi fiskal yang
sebelumnya dilancarkan pada tahun 780-an.[173] Ia memiliki angkatan bersenjata yang terlatih
dengan baik di ibukota dan dipimpin oleh kasim istananya; angkatan bersenjata ini adalah
Angkatan Bersenjata Strategi Ilahi, dengan jumlah pasukan sebesar 240.000 tentara pada tahun
798.[174] Antara tahun 806 hingga 819, Kaisar Xianzong melancarkan tujuh kampanye militer
besar untuk memadamkan pemberontakan di provinsi-provinsi yang mengklaim otonomi dari
pemerintah pusat, tetapi hanya mampu menundukkan dua saja.[101][175] Di bawah kekuasaannya
sistem jiedushi sempat berakhir karena Xianzong mengangkat perwira militernya sendiri dan
menempatkan pegawai-pegawai negeri di birokrasi regional.[101][175]Namun, penerus Xianzong
tidak secakap dirinya dan lebih tertarik berburu, berpesta, dan berolahraga, sehingga para kasim
dapat mengumpulkan lebih banyak kekuatan karena para pegawai negeri berseteru dengan
faksi-faksi.[175] Kekuatan para kasim menjadi tidak dapat ditentang lagi setelah kegagalan
upaya Kaisar Wenzong (berkuasa 826–840) untuk menjatuhkan mereka; sekutu Kaisar
Wenzong malah dihukum mati di muka umum di Pasar Barat Chang'an atas perintah para
kasim.[169]
Keruntuhan[sunting | sunting sumber]
Selain bencana alam dan jiedushi yang menjadi semakin otonom, Pemberontakan Huang
Chao (874–884) meletus dan berlangsung selama satu dasawarsa sebelum dapat dipadamkan;
selama pemberontakan tersebut, para pemberontak berhasil merebut dan menjarah Chang'an
dan Luoyang.[176] Meskipun pada akhirnya dapat mengalahkan para pemberontak, Tang tidak
dapat pulih kembali sesudahnya, sehingga ke depannya kekuatan militer lain dapat
menghancurkannya. Terdapat pula banyak kelompok perampok yang beraksi di pedesaan,
menyelundupkan garam, menyerang pedagang, dan mengepung beberapa kota.[129]
Zhu Wen, yang pada awalnya merupakan seorang penyelundup garam di bawah pimpinan
pemberontak Huang, menyerah kepada tentara Tang. Dengan membantu mengalahkan Huang,
ia berhasil naik pangkat dengan cepat dalam militer Tang.[177] Pada tahun 907, Dinasti Tang
runtuh ketika Zhu Wen, yang saat itu telah menjadi gubernur militer, menjatuhkan kaisar Tang
terakhir, Kaisar Ai dari Tang, dan mengambilalih tahta untuk dirinya sendiri (setelah meninggal ia
dikenal sebagai Kaisar Taizu dari Liang Akhir). Ia mendirikan Dinasti Liang Akhir, yang menandai
dimulainya Periode Lima Dinasti dan Sepuluh Kerajaan. Setahun kemudian, Kaisar Ai yang telah
dijatuhkan diracuni oleh Zhu Wen.

Masyarakat dan budaya[sunting | sunting sumber]


Lihat pula: Seni Dinasti Tang

Piring bergaya sancai dari Dinasti Tang pada abad ke-8.

Koin Kai Yuan Tong Bao (開元通寶) Dinasti Tang, dibuat pertama kali pada tahun 621 di Chang'an, yang
kemudian menginspirasi Wadōkaichin Jepang pada abad ke-8.

Baik Dinasti Sui maupun Tang menjauhi budaya feudal Dinasti-Dinasti Utara sebelumnya dan
mengikuti ajaran Konfusianisme.[3] Sistem pemerintahan Tang didukung oleh kelas intelektual
Konfusian yang terpilih melalui ujian masuk pegawai negeri atau rekomendasi. Pada masa
tang, Daoisme dan Buddhisme juga berperan sebagai ideologi inti dan memengaruhi kehidupan
sehari-hari rakyat. Di sisi lain, penduduk Tang senang berpesta, meminum minuman keras,
berlibur, berolahraga, dan menikmati hiburan lainnya, sementara sastra Tiongkok dapat dinikmati
oleh lebih banyak pembaca dengan munculnya metode percetakan baru.

Waktu luang di Dinasti Tang[sunting | sunting sumber]


Dinasti Tang dikenal akan banyaknya waktu luang untuk bersenang-senang, terutama di antara
orang-orang kelas atas.[178] Orang-orang Tang menikmati berbagai olahraga dan aktivitas,
seperti memanah,[179] berburu,[180] polokuda,[181] sepak bola cuju,[182] sabung ayam,[183] dan
bahkan tarik tambang.[184] Pejabat pemerintah diberi hari libur selama masa tugasnya. Agar
dapat mengunjungi keluarga mereka, pejabat-pejabat juga diberi 30 hari libur setiap tiga tahun
apabila tempat asal mereka terletak sejauh 1;000 mi (1;600 km) dari tempat kerjanya, atau 15
hari libur bila orang tua mereka tinggal sejauh 167 mi (269 km) (waktu perjalanan tidak
termasuk).[178] Terdapat pula sembilan hari libur bila anak laki-laki atau perempuan mereka
menikah, dan lima, tiga, atau satu hari libur untuk upacara perkawinan kerabat dekat (waktu
perjalanan tidak termasuk).[178] Lebih lagi, para pejabat diberi tiga hari libur untuk menghadiri
upacara kedewasaan anak laki-laki mereka, dan satu hari libur untuk upacara kedewasaan anak
laki-laki kerabat dekat.[178]
Hari libur tradisional Tionghoa seperti Tahun Baru Tionghoa, Festival Lampion, dan Festival
Makanan Dingin merupakan hari libur di Dinasti Tang. Pada hari-hari tersebut, diadakan
perayaan yang meriah di Chang'an, terutama saat Festival Lampion karena jam malam kota
dicabut oleh pemerintah selama tiga hari berturut-turut.[185] Antara tahun 628 hingga 758, kaisar
mengadakan enam puluh sembilan kirab besar di seluruh negeri, yang biasanya diadakan pada
saat-saat khusus seperti kemenangan militer, melimpahnya hasil panen setelah kekeringan
panjang atau kelaparan, pemberian amnesti, atau pengangkatan putra mahkota baru.[186] Dalam
perayaan khusus di Tang, pesta besar-besaran yang mewah kadang-kadang disiapkan, dan
kekaisaran telah mendirikan badan khusus untuk menyiapkan makanan.[187] Salah satu
contohnya adalah pesta yang disiapkan untuk 1.100 orang tua di Chang'an pada tahun 664,
pesta untuk 3.500 perwira Angkatan Bersenjata Strategi Ilahi pada tahun 768, dan pesta untuk
1.200 perempuan istana dan anggota keluarga kekaisaran pada tahun 826.[187] Dalam budaya
Tiongkok, terdapat budaya meminum wine dan minuman beralkohol setiap diadakannya suatu
acara sosial.[188] Seorang pejabat istana dari abad ke-8 konon memiliki struktur yang berbentuk
seperti ular yang disebut 'Gua Bir' yang dibangun dari 50.000 batu bata yang di tanah, dan di
masing-masing batu terdapat sebuah mangkuk berisi bir yang dapat diminum oleh teman-
temannya.[189]

Chang'an, ibukota Tang[sunting | sunting sumber]


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Chang'an

Lukisan dinding yang menggambarkan sebuah menara, kemungkinan di Chang'an. Gambar berasal dari
makam Pangeran Yide(kematian 701) di Mausoleum Qianlingdari tahun 706.

Walaupun Chang'an pernah menjadi ibukota Dinasti Han dan Jin, ibukota Tang di Chang'an
mengikuti gaya seperti pada masa Dinasti Sui. Kota yang kurang lebih berbentuk persegi ini
dilindungi oleh tembok luar sepanjang 10 km dari barat ke timur dan 8 km dari utara ke
selatan.[20] Istana kerajaan, Istana Taiji, berdiri di sebelah utara poros utama kota.[190] Dari
Gerbang Mingde besar yang terletak di tengah tembok selatan, jalanan kota terbentang ke arah
utara dan mengarah ke Gerbang Chentian yang melindungi istana kekaisaran. Jalan ini
berpotongan dengan empat belas jalan utama dari barat ke timur, sementara terdapat sebelas
jalan utama yang membentang dari utara ke selatan. Jalan-jalan utama yang saling berpotongan
ini membentuk 108 kawasan berbentuk persegi panjang yang masing-masing memiliki tembok
dan empat gerbang dan terdiri dari beberapa blok kota. Kota ini dikenal akan polanya yang
seperti papan catur akibat adanya distrik-distrik yang bertembok, dan tata ruang ini bahkan
disebutkan dalam salah satu puisi Du Fu.[191] Selama periode Heian, kota Heian kyō (kini Kyoto)
di Jepang dirancang dengan pola jalan seperti papan catur layaknya ibukota Tang.[33] Dari 108
kawasan di Chang'an, dua di antaranya (masing-masing sebesar 2 kawasan kota biasa)
digunakan untuk pasar yang diawasi oleh pemerintah, dan sisanya untuk kuil, kebun, atau
kolam.[20] Di seluruh kota, terdapat 111 wihara Buddha, 40 biara Taoisme, 38 altar keluarga, 2
kuil resmi, 7 gereja agama asing, 10 kawasan kantor transmisi provinsial, 12 penginapan besar,
dan 6 permakaman.[192] Beberapa kawasan kota diisi oleh lapangan terbuka untuk bermain atau
taman belakang rumah-rumah mewah untuk bermain polo kuda atau sepak bola cuju.[193] Pada
tahun 662, Kaisar Gaozong memindahkan istana kekaisaran ke Istana Daming, yang kemudian
menjadi pusat politik kekaisaran dan tempat kediaman kaisar-kaisar Tang selama lebih dari 220
tahun.[194]

Lonceng Jingyun yang terbuat dari perunggu dari tahun 711. Tingginya 247 cm, massanya 6.500 kg. Saat
ini lonceng ini disimpan di Menara Lonceng Xi'an.

Ibukota Tang merupakan kota terbesar di dunia saat itu, dengan jumlah penduduk di kota dan
wilayah pinggirannya sebesar 2 juta jiwa.[20] Chang'an merupakan kota yang sangat
kosmopolitan dan dihuni oleh berbagai kelompok etnis, seperti orang-orang Persia, Asia Tengah,
Jepang, Korea, Vietnam, Tibet, dan India. Dengan beragamnya kelompok etnis di Chang'an,
terdapat pula berbagai macam agama yang dianut oleh penduduknya,
seperti Buddhisme, Nestorianisme, Manichaeisme, Zoroastrianisme, Yudaisme, dan Islam.
Banyak orang asing yang dapat menetap di Tiongkok karena Tiongkok terhubung dengan Jalur
Sutra, dan kota Chang'an sendiri dihuni oleh kurang lebih 25.000 orang asing.[104][195] Di
beberapa kedai minuman, perempuan-perempuan Tocharia yang bermata hijau dan berambut
pirang menyajikan wine dalam cangkir akik dan ambar, menyanyi, dan menari.[196] Apabila orang
asing di Tiongkok hendak menikahi seorang perempuan Tionghoa, ia diharuskan untuk tinggal di
Tiongkok dan tidak boleh membawa pasangannya kembali ke tanah airnya, seperti yang diatur
oleh hukum yang ditetapkan pada tahun 628 untuk melindungi perempuan dari pernikahan
sementara dengan utusan asing.[197] Beberapa hukum yang mengatur segregasi antara orang
asing dan Tionghoa juga diloloskan pada masa Dinasti Tang. Pada tahun 779, Dinasti Tang
mengeluarkan perintah yang memaksa orang-orang Uyghur di ibukota untuk mengenakan
pakaian etnis mereka, berhenti menikahi perempuan Tionghoa, dan tidak boleh berlaku seperti
orang Tionghoa.[198]
Chang'an merupakan pusat pemerintahan, rumah keluarga kaisar, dan dipenuhi dengan
kekayaan dan kemegahan. Namun, kota ini bukanlah pusat ekonomi Dinasti Tang.
Kota Yangzhou di tepi Terusan Besar Tiongkok dan dekat dengan Sungai Yangtze merupakan
pusat ekonomi terbesar pada masa Dinasti Tang.[120][199]
Tamasya Musim Semi Istana Tang, oleh Zhang Xuan (713–755).

Yangzhou merupakan pusat monopoli pemerintah atas garam, dan pusat industri terbesar
Tiongkok; kota tersebut berperan sebagai perantara pengiriman barang-barang asing ke kota-
kota besar di utara.[120][199] Seperti pelabuhan Guangzhou di Selatan, di Yangzhou terdapat
banyak pedagang asing dari berbagai tempat di Asia.[199][200]
Dinasti Tang juga memiliki ibukota kedua di Luoyang, yang merupakan ibukota
kesukaan Maharani Wu. Pada tahun 691, ia memindahkan 100.000 keluarga (lebih dari 500.000
orang) dari sekitar wilayah Chang'an ke Luoyang.[120] Dengan jumlah penduduk sekitar satu juta
jiwa, Luoyang menjadi ibukota terbesar kedua di kekaisaran, dan kedekatannya dengan Sungai
Luo membuatnya menjadi subur dan terhubung dengan lalu lintas di Terusan Besar.[120] Namun,
istana Tang pada akhirnya menurunkan status Luoyang dan tidak lagi mengunjunginya setelah
tahun 743 karena permasalahan Chang'an dalam memperoleh persediaan tahunan telah
diselesaikan.[120] Semenjak tahun 736, lumbung-lumbung telah dibangun di titik-titik penting di
sepanjang rute dari Yangzhou ke Chang'an, sehingga menyelesaikan masalah penundaan
pengiriman, kerugian, dan pencurian.[201] Sebuah danau buatan yang digunakan untuk
pengiriman telah digali di sebelah timur Chang'an pada tahun 743, dan dengan itu penduduk
Chang'an dapat melihat kapal-kapal membawa pajak dan upeti ke ibukota kekaisaran
mereka.[202]

Sastra[sunting | sunting sumber]


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Sastra Tionghoa dan Puisi Tang

Kaligrafi tertulis Kaisar Taizong di sebuah prasasti dari masa Dinasti Tang.
Masa Dinasti Tang merupakan zaman keemasan sastra dan seni Tionghoa. Terdapat kurang
lebih 48.900 puisi yang dibuat oleh sekitar 2.200 penulis Tang yang masih bertahan hingga
zaman modern.[203][204] Kemampuan dalam menyusun puisi perlu dikuasai oleh mereka yang
ingin lulus ujian masuk pegawai negeri,[205] sementara dunia puisi di Tang sendiri sangat
kompetitif; sering diadakan pertandingan puisi antara tamu acara perjamuan dan antara orang-
orang istana.[206] Gaya puisi yang populer di Tang adalah gaya gushi dan jintishi; penyair
ternama yang bergaya gushi adalah Li Bai (701–762), sementara untuk gaya jintishi yang
terkenal adalah Wang Wei (701–761) dan Cui Hao (704–754). Puisi bergaya jintishi, atau bait
teratur, adalah sejenis stanza delapan baris atau tujuh karakter per baris dengan pola nada tetap
yang harus berlawanan dengan bait kedua atau ketiga (perbedaan nada ini seringkali tidak dapat
diterjemahkan ke bahasa lain).[207] Puisi Tang tetap populer pada masa Dinasti Song, dan
banyak puisi yang meniru gaya puisi Tang; pada periode tersebut, Yan Yu (嚴羽; aktif 1194–
1245) adalah orang pertama yang menganggap pada masa Tang Tinggi (c. 713–766) sebagai
tradisi puisi klasik. Yan Yu sangat megagumi Du Fu (712–770) di antara penyair Tang lainnya,
sementara pada masanya Du Fu dianggap oleh rekan sejawatnya sebagai seorang pemberontak
anti-tradisional.[208]
Pergerakan Prosa Klasik dipicu oleh tulisan-tulisan Liu Zongyuan (773–819) dan Han Yu (768–
824). Gaya prosa baru ini berbeda dengan tradisi puisi 'piantiwen' yang berasal dari masa
Dinasti Han. Walaupun penulis dari Pergerakan Prosa Klasik meniru 'piantiwen', mereka
mengkritiknya karena isinya yang samar-samar dan tidak menggunakan bahasa sehari-hari,
sehingga Pergerakan Prosa Klasik memusatkan perhatian pada kejelasan dan ketelitian tulisan
mereka.[209] Gaya guwen (prosa kuno) ini dapat ditilik kembali ke Han Yu, dan akan dikaitkan
dengan Neo-Konfusianisme yang ortodoks.[210]
Cerita pendek juga populer pada masa Dinasti Tang, seperti Biografi Yingying oleh Yuan
Zhen (779–831) yang tersebar luas pada masa hidupnya dan kemudian dijadikan opera
Tiongkok pada masa Dinasti Yuan (1279–1368).[211][212] Timothy C. Wong menempatkan kisah ini
dalam konteks kisah cinta Tang yang lebih luas, yang seringkali memiliki alur cerita tentang
hasrat, tekanan masyarakat yang mengharuskan seseorang untuk meninggalkan cinta, yang
diikuti oleh rasa pilu.[213] Wong menyatakan bahwa dalam alur cerita ini, tidak terdapat tema 'janji
yang tak akan pernah mati' dan 'komitmen sepenuhnya terhadap cinta' yang biasanya ditemui
dalam romansa-romansa Barat seperti Romeo dan Juliet; namun, nilai tradisional Tionghoa
tentang ketakterpisahan seseorang dari lingkungannya (termasuk masyarakat) dijadikan alat
untuk membuat romansa dalam cerita.[214]

Pagoda Angsa Liar Kecil, dibangun pada tahun 709, terletak di dekat Kuil Dajianfu di Chang'an, tempat
para biksu dari India dan tempat lain datang untuk menerjemahkan teks-teks berbahasa Sansekerta ke
dalam bahasa Tionghoa.[215]

Terdapat beberapa ensiklopedia besar yang diterbitkan di Tang. Ensiklopedia Yiwen


Leiju disusun pada tahun 624 oleh kepala penyunting Ouyang Xun (557–641) dan juga Linghu
Defen(582–666) dan Chen Shuda (kematian 635). Ensiklopedia Risalah mengenai Astrologi
pada Era Kaiyuan selesai disusun pada tahun 729 oleh Gautama Siddha (berkarya pada abad
ke-8), seorang astronom, astrolog, dan ahli beretnis India yang lahir di Chang'an.
Para ahli geografi Tionghoa seperti Jia Dan menulis rincian akurat mengenai tempat-tempat
yang terletak jauh di luar negeri. Dalam karyanya yang ditulis antara tahun 785 hingga 805, ia
mendeskripsikan jalur laut menuju mulut Teluk Persia, dan ia mencatat bahwa orang-orang
Iran (yang ia sebut rakyat Luo-He-Yi) telah mendirikan 'pilar-pilar ornamental' di laut yang
berperan sebagai mercu suar untuk kapal-kapal yang mungkin tersesat.[216] Satu abad setelah
Jia menulis laporannya, orang-orang Arab penulis-penulis Arab seperti al-Mas'udi dan al-
Muqaddasi juga mendeskripsikan struktur yang sama, sehingga memastikan kebenaran tulisan
Jia. Sementara itu, diplomat Tionghoa dari masa Dinasti Tang Wang Xuance berkelana
ke Magadha (kini India timur laut) pada abad ke-7.[217] Sesudahnya, ia menulis buku Zhang
Tianzhu Guotu (Catatan-Catatan Bergambar mengenai India Tengah), yang berisi banyak
informasi mengenai geografi.[218]
Sejarah-sejarah dinasti sebelum Tang disusun antara tahun 636 hingga 659 oleh pejabat-pejabat
istana selama dan beberapa saat sesudah masa kekuasaan Kaisar Taizong dari Tang. Hasilnya
adalah Buku Liang, Buku Chen, Buku Qi Utara, Buku Zhou, Buku Sui, Buku Jin, Sejarah Dinasti-
Dinasti Utara, dan Sejaah Dinasti-Dinasti Selatan. Walaupun tidak termasuk dalam
kompilasi Dua Puluh Empat Sejarah yang resmi, Tongdian dan Tang Huiyao juga merupakan
karya sejarah yang penting dari masa Dinasti Tang. Sementara itu, Shitong yang ditulis oleh Liu
Zhiji pada tahun 710 berisi tentang sejarah historiografi Tiongkok sebelum masa
hidupnya. Catatan-Catatan Tang Raya mengenai Wilayah-Wilayah Barat, yang disusun
oleh Bianji, menceritakan kisah perjalanan Xuanzang, seorang biksu dari masa Dinasti Tang.
Salah satu karya sastra penting lain dari masa Dinasti Tang adalah Youyang Zazu karya Duan
Chengshi (kematian 863), yang merupakan sebuah kumpulan legenda dan desas-desus asing,
laporan mengenai fenomena alam, anekdot pendek, kisah mitos dan duniawi, dan juga catatan
mengenai berbagai subjek. Namun, para ahli dan sejarawan masih memperdebatkan klasifikasi
yang tepat untuk karya Duan.[219]

Agama dan filsafat[sunting | sunting sumber]


Artikel utama untuk bagian ini adalah: Agama di Tiongkok dan Filsafat Tiongkok

Patung Bodhisattwa dari masa Dinasti Tang.

Semenjak zaman kuno, orang-orang Tionghoa telah menganut kepercayaan tradisional yang
menggabungkan banyak dewa-dewa. Orang Tionghoa percaya bahwa dunia akhirat adalah
suatu dunia yang sejalan dengan dunia orang hidup, dan dunia akhirat memiliki birokrasi dan
mata uangnya sendiri untuk nenek moyang yang sudah meninggal.[220] Maka dari itu, pada saat
pemakaman, para penganut kepercayaan ini berusaha menyediakan berbagai kebutuhan di
akhirat. Kepercayaan ini digambarkan dalam seni Dinasti Tang,[116] dan juga dalam cerita-cerita
pendek Tang mengenai orang yang secara tidak sengaja berada di dunia orang mati, lalu
kemudian kembali dan menceritakan pengalamannya.[220]
Buddhisme yang berasal dari India pada masa Konfusius terus berkembang pada masa Dinasti
Tang dan dianut oleh keluarga kekaisaran; Buddhisme di Dinasti Tang mengalami proses
sinisasi dan menjadi bagian dari budaya tradisional Tionghoa. Sebelum munculnya Neo-
Konfusianisme dan tokoh-tokoh seperti Zhu Xi (1130–1200), Buddhisme mulai berkembang di
Tiongkok pada masa Dinasti Selatan dan Utara, dan menjadi agama yang dominan pada masa
Dinasti Tang. Wihara-wihara Buddha memainkan peran penting dalam masyarakat dengan
menawarkan penginapan bagi pengelana di wilayah terpencil, sekolah untuk anak-anak di
seluruh negeri, dan tempat diadakannya acara sosial dan perkumpulan kaum terpelajar di
kota.[221] Wihara-wihara juga terlibat dalam aktivitas ekonomi karena properti dan hamba biara
memberi keuntungan yang dapat dimanfaatkan untuk mendirikan penggilingan atau usaha
lain.[222][223][224] Meskipun wihara-wihara ini memiliki 'hamba', para hamba yang berganting
kepada wihara ini bisa memiliki properti sendiri dan mempekerjakan orang lain untuk
membantunya, termasuk bisa memiliki budak mereka sendiri.[225]
Agama Buddha mulai mengalami kemunduran saat pemerintah pusat Tang juga mengalami
kemunduran pada akhir abad ke-8 dan abad ke-9. Wihara-wihara Buddha yang sebelumnya
tidak dikenakan pajak mendadak dipungut pajak oleh pemerintah. Pada tahun 845, Kaisar
Wuzong dari Tang akhirnya menutup 4.600 wihara beserta 40.000 kuil dan altar, sehingga
260.000 biksu harus kembali ke kehidupan sekuler;[31][226] peristiwa ini belakangan dijuluki salah
satu dari Empat Penindasan Buddhisme di Tiongkok. Meskipun pelarangan akan dicabut
beberapa tahun kemudian, Buddhisme tidak lagi menjadi dominan seperti
sebelumnya.[31][226][227][228] Hal ini juga diakibatkan oleh munculnya ketertarikan akan filsafat asli
Tionghoa, seperti Konfusianisme dan Taoisme. Han Yu (786–824) adalah salah satu orang
pertama di Tang yang mencela Buddhisme.[229] Walaupun rekan-rekan sejawatnya menganggap
Han Yu kasar dan menjengkelkan, pemikirannya akan membayang-bayangi penindasan
Buddhisme di Tang dan pemulihan kembali teori Konfusian dengan bangkitnya Neo-
Konfusianisme pada masa Dinasti Song.[229] Meskipun begitu, Buddhisme Chán menjadi populer
di antara elit-elit terdidik.[31] Terdapat pula banyak biksu Chan yang terkenal dari masa Tang,
seperti Mazu Daoyi, Baizhang, dan Huangbo Xiyun. Selain itu, sekte Buddhisme Tanah
Murniyang diprakarsai oleh Huiyuan (334–416) turut populer seperti Buddhisme Chan pada
masa Dinasti Tang.[230]

Balai kayu yang dibangun pada tahun 857,[231] terletak di Kuil Foguangdi Gunung Wutai, Shanxi. Kuil ini
merupakan kuil Buddha.

Saingan Buddhisme pada masa Dinasti Tang adalah Taoisme, sistem kepercayaan asli
Tiongkok yang mengakar dari buku Daodejing (dikaitkan dengan Laozi dari abad ke-6 SM)
dan Zhuangzi. Keluarga Li yang berkuasa di Dinasti Tang mengklaim sebagai keturunan
Laozi.[232] Saat pangeran Tang akan menjadi putra mahkota atau putri Tang akan menjadi
pendeta Taoisme, kadang-kadang bekas rumah mewah mereka diubah menjadi biara dan
tempat ibadah Taoisme.[232] Sementara itu, banyak penganut Taoisme yang dikaitkan
dengan alkimia karena mereka mencoba menemukan eliksir kehidupan atau membuat emas dari
campuran bahan-bahan.[233] Meskipun mereka tidak pernah berhasil, mereka menyumbang
pengetahuan baru dengan menemukan campuran logam, produk porselen, dan pewarna
baru.[233] Sejarawan Joseph Needham menganggap karya alkimia para pengikut Taois sebagai
"proto-sains dan bukan sains semu."[233] Namun, keterkaitan antara Taoisme dan alkimia ditolak
oleh Nathan Sivin, yang menyatakan bahwa alkimia lebih sering dipraktikkan di ranah sekuler
dan juga dilakukan oleh orang awam.[234]
Dinasti Tang juga secara resmi mengakui agama-agama asing lainnya. Gereja Asiria
Timur atau Gereja Kristen Nestorian diakui oleh istana Tang. Pada tahun 781, Prasasti
Nestorian dibuat dengan maksud untuk menghormati pencapaian komunitas mereka di
Tiongkok. Sebuah biara Kristen didirikan di provinsi Shaanxi di tempat berdirinya Pagoda
Daqin yang berisi seni-seni bertema Kristen. Walaupun agama ini sempat mati setelah masa
Dinasti Tang, Nestorianisme muncul lagi pada masa invasi Mongol pada abad ke-13.[235]

Perempuan Tang[sunting | sunting sumber]

Perempuan Cantik Mengenakan Bunga-Bunga, oleh Zhou Fang dari abad ke-8.

Pemahaman akan hak dan status sosial perempuan pada masa Dinasti Tang tergolong cukup
liberal pada masa tersebut. Namun, hal ini hanya berlaku untuk perempuan-perempuan kota dari
kelas elit, karena laki-laki dan perempuan di pedesaan bekerja keras melakukan tugas yang
berbeda; istri dan anak perempuan biasanya bertanggung jawab atas tugas-tugas rumah tangga
seperti menenun tekstil dan mengurus ulat sutra, sementara laki-laki bekerja di
ladang.[49] Terdapat banyak perempuan pada masa Tang yang menjadi pendeta Taoisme.[232] Di
sisi lain, nyonya yang menjadi kepala rumah bordil di Chang'an memperoleh kekayaan dan
kekuasaan.[236] Perempuan-perempuan kelas atas mereka, yang mungkin
memengaruhi geisha di Jepang,[237] dihormati oleh masyarakat pada saat itu. Mereka merupakan
penyanyi dan penyair, mengawasi pesta kenduri, mengetahui semua peraturan permainan
meminum minuman alkohol, dan terlatih dalam tata cara makan yang paling
terhormat.[236] Walaupun dikenal akan perilakunya yang sopan, para perempuan ini mendominasi
perbincangan di antara orang-orang kelas atas, dan tidak takut mencela atau mengkritik tamu
laki-laki yang berbicara terlalu banyak atau keras, terlalu banyak pamer akan pencapaian
mereka, atau mengacaukan makan malam dengan kelakuan mereka yang kasar (bahkan
seorang perempuan pernah memukuli seorang laki-laki mabuk yang telah
menghinanya).[238] Ketika menyanyi untuk menghibur para tamu, para perempuan ini menggubah
lirik lagu mereka sendiri, dan mereka memopulerkan gaya baru dengan menyanyikan kalimat-
kalimat yang diutarakan oleh tokoh ternama dalam sejarah Tiongkok.[203]
Perempuan bermain polo, dari abad ke-8.

Pada masa Dinasti Tang, perempuan dianggap modis bila badannya berisi. Laki-laki cenderung
menyukai perempuan yang tegas dan aktif.[239][240] Olahraga polo dari Persia menjadi populer di
antara para elit, dan perempuan sering memainkan permainan ini (seperti yang digambarkan
oleh arca dari masa tersebut).[239] Gaya rambut perempuan yang disukai adalah gaya yang
menyatukan rambut mereka seperti "bangunan yang rumit di atas dahi,"[240] sementara
perempuan yang kaya mengenakan ornamen, sisir, kalung mutiara, bedak wajah, dan
parfum.[241] Sebuah hukum yang ditetapkan pada tahun 671 berusaha memaksa perempuan
untuk mengenakan topi dengan kerudung untuk mendorong kesopanan, tetapi hukum tersebut
diabaikan, dan beberapa perempuan mulai mengenakan pakaian dan sepatu berkuda laki-laki
serta pakaian berlengan ketat.[242]
Terdapat beberapa perempuan istana yang penting setelah masa Maharani Wu, seperti Yang
Guifei (719–756), yang berhasil meminta Kaisar Xuanzong untuk memberikan jabatan-jabatan
penting kepada saudara-saudara dan kroni-kroninya.[42]

Makanan, teh, dan kebutuhan sehari-hari[sunting | sunting sumber]


Patung seorang perempuan yang terbuat dari tanah liat dan berasal dari abad ke-7 hingga ke-8; pada
masa Dinasti Tang, tuan rumah perempuan mempersiapkan perjamuan, pesta teh, dan bermain permainan
meminum minuman alkohol dengan tamu mereka.

Pada masa awal Dinasti Selatan dan Utara (420–589), atau mungkin malah lebih awal lagi, teh
(Camellia sinensis) menjadi minuman yang populer di Tiongkok selatan. Pada masa itu teh
dianggap sebagai minuman dengan rasa yang enak dan memiliki khasiat.[203] Pada masa Dinasti
Teng, teh dikaitkan dengan kemajuan budaya dalam masyarakat. Sebagian besar puisi karya
penyair Lu Tong (790–835) berkaitan dengan kecintaannya akan teh. Penulis Lu Yu dari abad
ke-8 bahkan menulis risalah mengenai seni meminum teh yang disebut Chajing.[243] Sementara
itu, walaupun penggunaan kertas untuk membungkus sudah ada di Tiongkok semenjak abad ke-
2 SM,[244] pada masa Dinasti Tang orang-orang Tiongkok melipat kertas menjadi kantong
berbentuk kotak untuk menyimpan dan menjaga rasa daun teh.[244]
Sebelum masa dinasti Tang, penggunaan kertas toilet pertama kali tercatat pada tahun 589
oleh Yan Zhitui (531–591).[245] Pada tahun 851, seorang pengelana Muslim Arab mengomentari
bagaimana mereka merasa orang-orang Tang tidak bersih karena tidak membersihkan kotoran
buang air besar dengan air di kamar mandi; ia malah mengamati bahwa orang-orang Tionghoa
hanya menggunakan kertas saja.[245]
Pada masa kuno, orang-orang Tionghoa telah menguraikan lima makanan pokok
mereka: wijen, kacang-kacangan, gandum, jawawut, dan milet bergluten.[246] Penyusun
ensiklopedia dari masa Dinasti Ming Song Yingxing (1587–1666) mencatat bahwa beras tidak
termasuk dalam lima makanan pokok kuno karena pada masa tersebut wilayah Tiongkok selatan
yang cukup basah dan lembab untuk menanam padi masih belum dimukimi oleh orang-orang
Tionghoa.[246]

Chajing karya Lu Yu.

Pada masa Dinasti Tang, selain makanan pokok yang sudah disebutkan, terdapat pula bahan
masakan seperti jelai, bawang
putih, garam, turnip, kedelai, pir, aprikot, persik, apel, delima, jujube, rhubarb, kacang
hazel, kacang pinus, kastanya, walnut, yam, taro, dan lain-lain.[247] Berbagai jenis daging yang
dimakan meliputi babi, ayam, domba (terutama di utara), berang-berang laut, beruang (yang sulit
ditangkap, tetapi terdapat resep untuk merebus, mengukus, dan memasukkan daging beruang
ke dalam rendaman bumbu), dan bahkan unta baktria.[247] Di pesisir selatan makanan laut
merupakan makanan yang paling banyak dikonsumsi, dan orang-orang Tionghoa suka
memasak ubur-ubur dengan kayu manis, lada Sichuan, kapulaga, dan jahe,
serta tiram dengan wine, cumi-cumi goreng dengan jahe dan cuka, belangkas, kepiting, udang,
dan ikan buntal.[248]
Beberapa sumber makanan juga tidak boleh dimakan. Pemerintah Tang mengajak rakyatnya
untuk tidak memakan sapi (karena merupakan hewan pekerja yang berharga), dan dari tahun
831 hingga 833 Kaisar Wenzong dari Tang bahkan melarang penyembelihan hewan ternak
karena kepercayaan Buddhismenya.[249]
Melalu jalur perdagangan ke luar negeri, bangsa Tionghoa pada masa Dinasti Tang dapat
memperoleh persik dari Samarkand, kurma, pistacio, and buah ara dari Iran, kacang
pinus dan ginseng dari Korea, serta mangga dari Asia Tenggara.[250][251] Pada masa Dinasti
Tang, terdapat banyak permintaan akan gula; saat Harsha berkuasa di India Utara (606–647),
utusan India ke istana Tang membawa dua pembuat gula yang berhasil mengajarkan orang
Tionghoa cara menanam tebu.[252][253] Produk kapas yang sudah jadi juga datang dari
wilayah Benggala di India, meskipun pada masa Dinasti Tang orang Tionghoa sudah mulai
menanam dan mengolah kapas, dan pada masa Dinasti Yuan kapas telah menjadi bahan baku
tekstil utama di Tiongkok.[254]
Rakyat Tionghoa pada masa Dinasti Tang telah menggunakan metode-metode pengawetan
makanan. Metode yang paling umum digunakan adalah metode sederhana seperti penggalian
lubang yang dalam, perendaman dengan air garam, dan penggaraman makanan.[255] Kaisar
memiliki lubang-lubang es besar di taman-taman di Chang'an untuk mengawetkan makanan,
dan orang-orang kaya juga memiliki lubang esnya sendiri walau lebih kecil.[256] Setiap tahun
kaisar memerintahkan pembuatan 1000 balok es dari sungai yang beku di lembang pegunungan,
dan masing-masing balok memiliki ukuran 0,91 m x 0,91 m x 1,06 m.[256] Pada musim panas,
berbagai makanan beku juga dapat dinikmati, seperti melon yang didinginkan.[256]

Sains, teknologi, dan kedokteran[sunting | sunting sumber]


Ilmu teknik[sunting | sunting sumber]

Patung-patung penjaga makam dari kayu; patung-patung kayu yang digerakkan secara mekanik menjadi
pemegang cangkir, penuang wine, penari, dan hal-hal lain.[257]

Teknologi pada masa Dinasti Tang berlandaskan pada teknologi yang sudah diciptakan pada
masa sebelumnya. Dalam bidang mesin jam dan ketepatan waktu , sistem gigi mekanik Zhang
Heng (78–139) dan Ma Jun (abad ke-3) memberi inspirasi kepada insinyur, astronom, dan
pendeta Tang Yi Xing (683–727) saat ia menciptakan mekanisme pengatur gerakan jam yang
disebut escapement pada tahun 725.[258] Metode ini digunakan bersamaan dengan jam air dan
penggunaan roda air untuk menggerakkan bola armilari.[259] Alat Yi Xing juga memiliki lonceng
yang sudah dirancang secara mekanis agar berbunyi setiap jam dan drum yang akan berbunyi
secara otomatis setiap seperempat jam.[260] Jam astronomi rancangan Yi Xing menjadi tersohor
di seluruh negeri, dan paling tidak sebelum tahun 730 orang-orang yang ingin lulus ujian masuk
pegawai negeri harus menulis esai mengenai alat ciptaan Yi Xing.[261] Namun, metode
pengaturan waktu yang paling banyak digunakan adalah inflow clepsydra. Racangan metode ini
diperbaiki pada tahun 610 oleh insinyur Dinasti Sui Geng Xun dan Yuwen Kai. Mereka
menggunakan timbangan dacin untuk melakukan penyesuaian pada pressure head yang
kemudian memungkinkan pengaturan perbedaan lama siang dan malam.[262]
Terdapat berbagai penemuan mekanik lain pada masa Dinasti Tang. Salah satunya adalah
penyaji wine mekanik setinggi 0,91 m dari awal abad ke-8 yang berbentuk gunung dan terbuat
dari besi.[263] Alat ini menggunakan pompa hidrolik yang menyedot wine dari keran logam
berkepala naga. Dalam alat ini juga terdapat mangkuk yang apabila diisi akan menuangkan wine
(dengan memanfaatkan gaya gravitasi ke dalam danau buatan yang memiliki daun besi yang
dapat digunakan sebagai baki dalam perjamuan.[263] Selain itu, seperti yang dideskripsikan oleh
sejarawan Charles Benn:
Di tengah jalan di bagian selatan terdapat seekor naga…sang naga membuka mulutnya dan
mengeluarkan bir ke dalam gelas yang ditempatkan di atas daun teratai [besi] besar. Ketika
gelasnya 80% penuh, naga berhenti mengeluarkan bir, dan tamu segera mengambil gelasnya.
Apabila ia lambat dalam meminum bir dan mengembalikan gelas ke atas daun, pintu di paviliun
di atas gunung terbuka dan penyaji wine mekanis, yang bertopi dan bergaun, muncul dengan
tongkat kayu di tangannya. Begitu tamu mengembalikan gelasnya, naga mengisinya kembali,
penyaji wine kembali ke tempatnya, dan pintu paviliun tertutup…Sebuah pompa menghisap bir
yang mengalir ke kolam bir melalui lubang tersembunyi dan mengembalikan bir ke sumbernya di
dalam gunung.[263]

Kaca perunggu persegi dengan motif fenghuang (burung api) dari abad ke-8.

Walaupun penggunaan boneka mekanik yang menggoda dalam alat penyaji wine ini merupakan
penemuan yang orisinil, penggunaan boneka mekanik di Tiongkok sudah ada semenjak
masa Dinasti Qin (221–207 SM),[264]sementara Ma Jun pada abad ke-3 menciptakan teater
boneka mekanik yang digerakkan oleh perputaran bola air.[264] Terdapat pula alat penyaji wine
otomatis di peradaban Yunani-Romawi, yaitu rancangan Heron dari Iskandariyah yang
menggunakan jambangan dengan katup dalam dan tuas yang mirip dengan alat yang
dideskripsikan di atas. Sementara itu, terdapat berbagai kisah mengenai alat yang bergerak
secara otomatis di Dinasti Tang, seperti patung pendeta kayu jenderal Yang Wulian yang
mengulurkan tangannya untuk mengumpulkan sumbangan; ketika jumlah koin mencapai berat
tertentu, patung mekanik ini menggerakkan tangannya untuk meletakkan koin di dalam sebuah
tas.[265] Mekanisme berat-dan-tuas ini mirip dengan mesin slot ciptaan Heron.[266] Salah satu
contoh alat lain di Dinasti Tang adalah "berang-berang kayu" karya Wang Ju yang konon dapat
menangkap ikan; Needham mencurigai bahwa alat ni menggunakan semacam pegas.[265]
Dalam bidang arsitektur, terdapat undang-undang mengenai standar bangunan, yang dijelaskan
dalam buku Yingshan Ling (Hukum Bangunan Nasional).[267] Sebagian dari buku ini masih
bertahan di Tang Lü (Undang-Undang Tang),[268] sementara panduan arsitektur Dinasti
Song Yingzao Fashi (Standar Bangunan Negara) karya Li Jie (1065–1101) merupakan risalah
arsitektur Tiongkok tertua yang masih bertahan sepenuhnya.[267]

Percetakan balok kayu[sunting | sunting sumber]


Sutra Intan, dicetak pada tahun 868, merupakan buku pertama yang dicetak secara luas (dengan
menggunakan percetakan balok kayu).

Percetakan balok kayu memungkinkan penyebaran tulisan untuk banyak pembaca. Salah satu
dokumen cetakan tertua di dunia adalah sutra dharani agama Buddha yang ditemukan
di Xi'an pada tahun 1974 dan diperkirakan berasal dari tahun 650 hingga 670.[269] Sutra
Intan adalah buku lengkap pertama yang dicetak secara luas; buku ini dilengkapi oleh ilustrasi
dan teks, dan berasal dari tahun 868.[270][271] Selain itu, salah satu dokumen pertama yang
dicetak adalah teks-teks agama Buddha serta kalender yang diperlukan untuk menghitung dan
menandai hari yang baik dan tidak.[272] Dengan banyaknya buku yang tersebar untuk pembaca,
tingkat melek huruf dapat meningkat, dan kelas bawah dapat memperoleh buku yang murah
untuk belajar. Maka dari itu, terdapat lebih banyak orang dari kelas bawah yang lulus ujian
masuk pegawai negeri pada masa Dinasti Song akhir.[37][273][274]Meskipun percetakan huruf
lepas karya Bi Sheng pada abad ke-11 merupakan penemuan baru pada masa Dinasti Song,
percetakan balok kayu yang tersebar pada masa Dinasti Tang akan tetap menjadi metode
percetakan utama di Tiongkok hingga percetakan dari Eropa yang lebih maju datang dan
menyebar di Asia Timur.[275]
Pada masa Dinati Tang, kartu remi untuk pertama kalinya dimainkan, dan ini dimungkinkan
dengan adanya teknologi percetakan.[276]

Kedokteran[sunting | sunting sumber]


Pada masa Dinasti Tang, terdapat upaya untuk mengklasifikasi semua obat-obatan yang
digunakan dalam farmakologi Tionghoa. Pada tahun 657, Kaisar Gaozong dari Tang (berkuasa
649–683) memerintahkan penerbitan materia medica resmi, lengkap dengan teks dan ilustrasi
untuk 833 zat medis yang diambil dari batu, mineral, tanaman, herba, hewan, sayur-sayuran,
buah-buahan, dan serealia.[277] Selain itu, pemerintah Tang mendorong studi kedokteran dengan
mendirikan perguruan tinggi medis kekaisaran, mengadakan ujian negara untuk para dokter, dan
membuat panduan forensik untuk dokter.[254] Beberapa penulis terkenal dalam bidang
kedokteran pada masa Dinasti Tang meliputi Zhen Chuan (kematian 643) dan Sun Simiao (581–
682); Zhen Chuan merupakan orang yang pertama kali menemukan bahwa
pasien diabetes memiliki kandungan gula yang tinggi di air seninya, sementara Sun Simiao
merupakan orang pertama yang mengetahui bahwa pasien diabetes perlu menghindari alkohol
dan makanan yang mengandung amilum.[278] Sementara itu, Zhen Chuan dan ahli lainnya pada
masa Dinasti Tang menulis bahwa kelenjar tiroid domba dan babi dapat digunakan untuk
menangani penyakit gondok; ekstrak tiroid baru digunakan untuk pasien gondok di Barat setelah
tahun 1890.[279] Lebih lagi, penggunaan amalgam gigi (yang dibuat dari timah dan perak)
pertama kali diperkenalkan dalam buku teks kedokteran Xinxiu Bencao yang ditulis oleh Su
Gong pada tahun 659.[280]

Kartografi[sunting | sunting sumber]


Peta Dunhuang, peta bintang yang menunjukkan wilayah Kutub Utara sekitar tahun 700.[281] Di peta
bintang ini terdapat lebih dari 1.300 bintang.[282]

Pada masa Dinasti Tang, terdapat beberapa kemajuan dalam ilmu kartografi. Ketika kanselir
Tang Pei Ju (547–627) bekerja untuk Dinasti Sui sebagai Komisioner Komersial pada tahun 605,
ia menciptakan peta grid (kotak-kotak) dengan skala berdasarkan tradisi ahli kartografi Pei
Xiu (224–271).[283] Kanselir Tang Xu Jingzong (592–672) juga dikenal akan peta Tiongkoknya
yang digambar pada tahun 658.[284] Pada tahun 785, di bawah perintah Kaisar Dezong, ahli
kartografi dan geografi Jia Dan (730–805) menyelesaikan peta Tiongkok dan bekas jajahannya
di Asia Tengah pada tahun 801.[284] Peta tersebut memiliki panjang 9,1 m dan tinggi 10 m,
digambar dengan skala grid satu inchi banding seratus li (1:100).[284] Sebuah peta Tiongkok yang
berasal dari tahun 1137 juga memiliki kompleksitas yang serupa dengan peta Jia Dan, dan diukir
di prasasti batu dengan skala grid 100 li.[285] Namun, satu-satunya jenis peta yang masih
bertahan dari Dinasti Tang adalah peta bintang. Sementara itu, peta relief Tiongkok pertama
berasal dari masa Negara Qin pada abad ke-4; peta-peta tersebut ditemukan pada tahun
1986.[286]

Alkimia, tabung gas, dan pengatur suhu udara[sunting | sunting


sumber]

Piring keramik dengan "tiga warna" (sancai) dari abad ke-8.

Orang-orang Tionghoa pada masa Dinasti Tang menggunakan rumus-rumus kimia yang
kompleks untuk berbagai macam tujuan, seringkali melalui percobaan alkimia. Salah satunya
adalah krim atau pernis tahan air dan antidebu untuk pakaian dan senjata, semen tahan api
untuk kaca dan porselen, krim tahan air untuk pakaian sutra para penyelam, krim untuk memoles
kaca perunggu, dan rumus-rumus lainnya.[287] Keramik porselen sendiri diciptakan di Tiongkok
pada masa Dinasti Tang, walaupun sebelumnya sudah ada berbagai macam keramik berlapis
glazur.[141][288]
Semenjak masa Dinasti Han (202 SM – 220 M), orang Tionghoa telah menggali lubang bor yang
dalam untuk mengangkut gas alam dari pipa-pipa bambu ke sebuah tungku, dan di tungku
tersebut air garam direbus di dalam sebuah panci yang terbuat dari besi cor untuk mengekstrak
garam.[289] Pada masa Dinasti Tang, seorang pewarta dari provinsi Sichuan melaporkan bahwa
di salah satu 'sumur api' sedalam 182 m, gas alam dimasukkan ke dalam tabung bambu; tabung
tersebut masih dapat menghasilkan api setelah dibawa sejauh lusinan kilometer.[290]Pada
dasarnya tabung ini merupakan tabung gas pertama; Robert Temple mengasumsikan bahwa
tabung ini menggunakan semacam sumbat.[290]

Tembikar kuda yang berasal dari masa Dinasti Tang.

Seorang penemu dari masa Dinasti Han Ding Huan menciptakan sebuah kipas pengatur suhu
udara yang digerakkan secara manual dan memiliki tujuh roda berdiameter 3 m.[291] Pada tahun
747, Kaisar Xuanzong memerintahkan pembangunan "Balai Dingin" di istana kekaisaran;
menurut buku Tang Yulin (唐語林), balai tersebut dilengkapi oleh roda kipas yang digerakkan
oleh air untuk mengatur suhu ruangan dan pancuran air dari air mancur.[292] Menurut sumber-
sumber tertulis, kipas angin digunakan secara lebih luas pada masa Dinasti Song.[293]

Historiografi[sunting | sunting sumber]


Karya klasik pertama mengenai Tang adalah Buku Tua Tang karya Liu Xu (887–946 AD) et
al. dari Dinasti Jin Akhir. Karya ini kemudian disunting menjadi Buku Baru Tang oleh
sejarawan Dinasti Song Ouyang Xiu (1007–1072) dan Song Qi (998–1061) et al. antara tahun
1044 hingga 1060. Kedua karya tersebut didasarkan pada tawarikh dari masa sebelumnya yang
kini sudah hilang.[294] Keduanya tergolong dalam kompilasi Dua Puluh Empat SejarahTiongkok.
Salah satu sumber Buku Tua Tang yang masih bertahan hingga kini adalah Tongdian yang
dipersembahkan oleh Du You kepada kaisar pada tahun 801.
Periode Dinasti Tang juga ditempatkan dalam teks sejarah universal yang berjudul Zizhi
Tongjian. Teks ini disunting, disusun, dan diselesaikan pada tahun 1084 oleh sekelompok ahli di
bawah pimpinan kanselir Dinasti Song Sima Guang (1019–1086). Teks sejarah ini, yang
mengandung 3 juta karakter Tiongkok dan terdiri dari 294 volume, meliputi sejarah Tiongkok dari
permulaan Periode Negara Berperang (403 SM) hingga awal Dinasti Song (960).

Lihat pula[sunting | sunting sumber]


 Daftar Kaisar Dinasti Tang

Catatan