Anda di halaman 1dari 14

KATA PENGANTAR

Pertama, dengan mengucap puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan praktikum yang berjudul “Titrasi Asam Basa” pada mata kuliah
Kimia Dasar tepat pada waktunya.
Dalam penulisan laporan ini tentunya tidak lepas dari kekurangan, dan
berbagai hambatan yang dialami oleh penulis. Semua ini didasarkan dari
keterbatasan yang dimiliki penulis. Laporan ini selesai tidak lepas dari bantuan
dan bimbingan serta dukungan dari pihak-pihak terkait. Untuk itu penulis
berterimakasih kepada pihak-pihak terkait, diantaranya :
1. Ibu Winda Nurtiana S.TP., M.Si selaku dosen mata kuliah Kimia Dasar.
2.Saudari Della Kamelia Nadiva dan saudari Mila Srihardianti selaku asisten
laboratorium Kimia Dasar
3. Serta pihak-pihak yang telah memberi dukungan dam bimbingan pada proses
penyusunan laporan praktikum ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan laporan ini masih jauh dari kata
sempurna. Hal ini karena adanya keterbatasan waktu dan tenaga yang penulis
miliki. Penulis sangat mengharap kritik dan saran yang bersifat membangun guna
mencapai kesempurnaan penulisan laporan ini. Semoga laporan yang masih
sederhana ini dapat memberikan manfaat kepada semua pihak.

Serang, Oktober 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................ i


DAFTAR ISI................................................................................................ ii
DAFTAR TABEL ....................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................... 1
1.2 Tujuan ............................................................................................ 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Titrasi Asam Basa .......................................................................... 2
2.2 Kesalahan Pada Titrasi ................................................................... 2
2.3 Indikator Titrasi Asam Basa .......................................................... 3
2.4 Titik Ekuivalen............................................................................... 4
BAB III METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat ......................................................................... 5
3.2 Alat dan Bahan ............................................................................... 5
3.3 Cara Kerja ...................................................................................... 5
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil ............................................................................................... 6
4.2 Pembahasan .................................................................................... 6
BAB V PENUTUP
5.1 Simpulan ........................................................................................ 10
5.2 Saran .............................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 11
LAMPIRAN

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Hasil Pengamatan Asam Basa ................................................. 6

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Titrasi asam-basa memerlukan indikator untuk menunjukkan perubahan
warna pada setiap interval derajat keasaman (pH). Titrasi adalah suatu cara
untuk menentukan konsentrasi asam atau basa dengan menggunakan
larutan standar. Larutan standar dapat berupa asam atau basa yang telah
diketahui konsentrasinya dengan teliti. Prinsip dasar titrasi asam basa
didasarkan pada reaksi netralisasi asam basa.
Zat yang akan ditentukan kadarnya disebut sebagai “titrant” dan biasanya
diletakan di dalam Erlenmeyer, sedangkan zat yang telah diketahui
konsentrasinya disebut sebagai “titer” dan biasanya diletakkan di dalam
“buret”. Keberhasilan dalam titrasi asam-basa sangat ditentukan oleh kinerja
indikator yang mampu menunjukkan titik akhir dari titrasi.
Dengan adanya kegiatan praktikum ini diharapkan para praktikan bisa
lebih mengetahui bagaimana cara melakukan titrasi, dan dapat membedakan
antara titrat dan titran.

2.1 Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah :
1. Untuk mengetahui prinsip titrasi asam basa.
2. Untuk mengetahui konsentrasi titran.

1
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Titrasi Asam Basa


Titrasi adalah suatu cara untuk menentukan konsentrasi asam atau basa
dengan menggunakan larutan standar. Larutan satandar dapat berupa asam
atau basa yang telah diketahui konsentrasinya dengan teliti. Keadaan dengan
jumlah ekivalen asam sama dengan basa disebut titik ekivalen. Dalam titrasi
asam basa nilai tetapan kesetimbangan ionisasi digunakan sebagai tolok ukur
dalam penentuan pH larutan yang menanadai tercapainya titik ekivalen. Titik
ekivalen atau titik akhir teoritis adalah saat banyaknya asam atau basa yang
terdapat dalam larutan (Supardi, 2006).
Titik akhir titrasi adalah titik pada saat titrasi diakhiri/dihentikan. Dalam
titrasi biasanya diambil sejumlah alikuot tertentu yaitu bagian dari
keseluruhan larutan yang dititrasi kemudian dilakukan proses pengenceran
(Haryadi, 1990).
Asam dan basa kuat dalam air akan terurai sempurna menjadi ionionnya..
Asam kuat terurai menjadi ion hidronium (H30 + ) dan basa konjugatnya.
Basa kuat dalam air terurai menjadi ion hidroksida (OH- ) dan asam
konjugatnya. Titrasi asam kuat dan basa kuat pada dasarnya merupakan reaksi
penetralan, sehingga titik ekivalen tercapai jika pH larutan sama dengan pH
air murni yaitu 7. Untuk mengetahui tercapainya titik ekivalen dapat
dilakukan dengan pH meter, potensiometer atu dengan suatu zat penunjuk yang
dinamakan dengan indiakor pH (Partana, 2003).
Jika larutan asam ditetesi dengan larutan basa maka pH larutan akan naik,
sebaliknya jika larutan basa ditetesi larutan asam maka pH larutan akan turun.
Grafik yang menyatakan perubahan pH pada penetesan asam dengan basa atau
sebaliknya disebut kurva titrasi. Kurva titrasi berbentuk S, yang pada titik
tengahnya merupakan titik ekivalen (Michael,1997).

2.2 Kesalahan Pada Titrasi


Kesalahan titrasi merupakan kesalahan yang terjadi bila titik akhir titrasi
tidak tepat sama dgn titik ekivalen (≤ 0,1%), disebabkan ada kelebihan titran,

2
indikator bereaksi dgn analit, atau indikator bereaksi dgn titran, diatasi dgn
titrasi larutan blanko. Larutan blanko larutan yg terdiri atas semua pereaksi
kecuali analit.Untuk mengetahui titik ekivalen secara eksperimen biasanya
dibuat kurva titrasi yaitu kurva yang menyatakan hubungan antara –log [H + ]
atau –log [X- ] atau –log [Ag+ ] atau E (volt) terhadap volum (Haryadi, 1990).

2.3 Indikator Titrasi Asam Basa


Indikator adalah suatu zat yang warnanya berbeda-beda sesuai dengan
konsentrasi ion hidrogen. Indikator umumya berupa suatu asam atau basa
organik lemah yang dipakai dalam larutan yang sangat encer (Winarni,2003).
Indikator asam-basa adalah zat yang berubah warnanya atau membentuk
fluoresen atau kekeruhan pada suatu range (trayek) pH tertentu.. Perubahan
warna disebabkan oleh resonansi isomer elektron. Berbagai indikator
mempunyai tetapan ionisasi yang berbeda dan mengakibatkan warna pada
range pH yang berbeda (Khopkar, 1990).
Indikator asam basa yang sering digunakan di laboratorium untuk titrasi
asam basa merupakan indikator sintetis contohnya fenolftalein (PP) dan metil
jingga (MJ). Setiap indikator sintetis memiliki harga yang cukup mahal, serta
dapat menyebabkan polusi lingkungan. Harga indikator titrasi asam basa yang
mahal membuat terbatasnya percobaan titrasi tersebut terutama di sekolah-
sekolah yang berada jauh dari perkotaan (Underwood, 1986).
Fenolftalein atau 3,3-Bis (4-hidroksifenil)-1- (3H)-isobenzofuranon
merupakan senyawa kimia yang sering digunakan sebagai indikator dalam
titrasi alkalimetri. Pada abad 20, fenolftalein merupakan obat yang populer
digunakan sebagai pencahar. Pada bulan Agustus 1999, US Food and Drug
Administration (FDA) mengumumkan bahwa fenolftalein merupakan obat
yang secara umum tidak aman dan efektif serta tidak dapat digunakan sebagai
obat over the counter (OTC) (Coogan, et al, 2000).

3
2.4 Titik Ekuivalen
Titik ekuivalen adalah titik ketika jumlah basa yang ditambahkan sama
dengan jumlah asam yang ada. Titik akhir titrasi adalah titik ketika zat yang
dititrasi mengalami perubahan warna indikator setelah penambahan zat
penitrasi (Tiopan,2006).
Ada dua cara umum untuk menentukan titik ekuivalen pada titrasi asam
basa, yaitu yang pertama dengan memakai pH meter untuk memonitor
perubahan pH selama titrassi dilakukan, kemudian membuat plot antara pH
dengan volume tittran untuk memperoleh kurva titrasi. Titik tengah dari kurva
titrasi tersebut adalah titik ekuivalen. Cara yang kedua untuk menentukan titik
ekuivalen adalah dengan memakai indikator asam basa. Indikator
ditambahkan dua hingga tiga tetes (sedikit mungkin) pada titran sebelum
proses titrasi dilakukan. Indikator ini akan berubah ketika titik ekuivalen
terjadi dan pada saat ini lah titrasi diberhentikan. Indikator yang dipkai pada
titrasi asam basa adalah indikator yang perubahan warna nya dipengaruhi oleh
pH (Brady, 1999).

4
BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum “Pengukuran pH” dilaksanakan pada hari Kamis 24 Oktober
2019 pukul 13.30-15.30 WIB dilaboratorium Agroekoteknologi Jurusan
Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2 Alat dan Bahan


Alat yang digunakan saat praktikum “Titrasi Asam Basa” antara lain
beaker glass 250 mL, Buret 50 mL, Gelas ukur 25 mL, Erlenmeyer 250 mL
dan pipet tetes.
Bahan yang digunakan saat praktikum “Titrasi Asam Basa” antara lain
larutan HCl 0,1 N sebanyak 100 mL, Larutan NaOH, Indikator fenolptalein.

3.3 Cara Kerja


Adapun cara kerja pada praktikum ini adalah :
1. Dimasukan larutan standar HCl ke dalam buret 50 mL
2. Dimasukkan 25 mL larutan NaOH ke dalam erlenmeyer
3. Ditambahkan 2-3 tetes larutan indikator fenolptalein pada larutan NaOH
4. Dilakukan hingga terjadi perubahan warna pada larutan NaOH
5. Dicatat volume larutan standar yang dibutuhkan
6. Dilakukan titrasi dengan satu kali
7. Ditentukan konsentrasi larutan NaOH menggunakan rumus V1M1 = V2M2

5
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Tabel 1. Hasil Pengamatan Asam Basa
No Volume standar Volume standar Konsentrasi Konsentrasi
HCl NaOH Sample Standar
1 24, 7 25 0,1012 M 0,1 N
2 24,8 25 0,1008 M 0,1 N
3 24,7 25 0,1012 M 0,1 N
4 24,6 25 0,1016 M 0,1 N

4.2 Pembahasan
Pada praktikum kali ini, perlu diketahui bahwa titrasi merupakan suatu
proses analisis dimana suatu volume larutan standar ditambahkan kedalam
larutan dengan tujuan untuk mengetahui komponen yang tidak dikenal. Titrasi
asam basa sering disebut titrasi asidimetri-alkalimetri. Sesuai dengan literature
Supardi (2006) yaitu titrasi adalah suatu cara untuk menentukan konsentrasi
asam atau basa dengan menggunakan larutan standar. Larutan satandar dapat
berupa asam atau basa yang telah diketahui konsentrasinya dengan teliti.
Dalam titrasi asam basa nilai tetapan kesetimbangan ionisasi digunakan
sebagai tolok ukur dalam penentuan pH larutan yang menanadai tercapainya
titik ekivalen.
Menurut Chadijah (2011), prinsip titrasi asam basa melibatkan asam
maupun basa sebagai titer ataupun titran. Titrasi asam basa berdasarkan
reaksi penetralan. Kadar larutan asam ditentukan dengan menggunakan
larutan basa dan sebaliknya. Titrasi ditambahkan titer sedikit demi sedikit
sampai mencapai keadaan ekivalen.
Titik akhir titrasi diharapkan mendekati titik ekuivalen titrasi, yaitu kondisi pada
saat larutan asam habis bereaksi dengan larutan basa. Pendekatan antara titik akhir
titrasi dan titik ekuivalen titrasi bergantung pada pH perubahan warna dari larutan
indikator. Hal ini diperkuat oleh Haryadi (1990) yaitu titik akhir titrasi adalah

6
titik pada saat titrasi diakhiri/dihentikan. Dalam titrasi biasanya diambil
sejumlah alikuot tertentu yaitu bagian dari keseluruhan larutan yang dititrasi
kemudian dilakukan proses pengenceran.
Dalam melakukan titrasi asam basa pasti ada saja kesalahan dalam titrasi,
contohnya seperti Kesalahan dalam mengamati perubahan warna indikator
(biasanya phenolftalein), kesalahan dalam membaca skala ukur di buret,
kesalahan dalam menentukan titik ekivalen dan titik akhir titrasi, kesalahan
dalam menghitung M1V1 = M2V2. Teori tersebut diperkuat oleh Haryadi
(1990) yaitu kesalahan titrasi merupakan kesalahan yang terjadi bila titik akhir
titrasi tidak tepat sama dgn titik ekivalen (≤ 0,1%), disebabkan ada kelebihan
titran, indikator bereaksi dgn analit, atau indikator bereaksi dgn titran, diatasi
dgn titrasi larutan blanko. Larutan blanko larutan yg terdiri atas semua
pereaksi kecuali analit.
Indikator digunakan untuk menentukan titik ekuivalen dari titrasi asam-
basa. Karena indikator mempunyai interval pH yang berbeda-beda dan karena
titik ekuivalen dari titrasi asam-basa berubah-ubah sesuai dengan kekuatan
relatif asam basanya, maka pemilihan indikator merupakan hal terpenting.
Indikator yang digunakan saat titrasi asam basa biasanya adalah Fenolftalein.
Fungsi penambahan indikator phenophetalein pada penelitian ini adalah
sebagai indikator pembuktian bahwa sampel tersebut bersifat basa atau asam
pada saat penambahan indikator phenophetalein larutan tidak berwarna maka
larutan tersebut bersifat asam.
Pada saat praktikum titrasi asam basa, larutan sampel NaOH dilarutkan
dengan indikator fenolptalein 3 tetes. Sehingga menghasilakn perubahan
warna nya awalmya bening menjadi ungu. Hal ini disebabkan karena
penunjuk dari indikator sebagai penunjuk larutan dari titrasi. Selanjutnya
NaOH yang telah dilarutkan dengan PP ditetesi dengan HCl. Pada kelompok
5 dan 6 larutan NaOH dititrasi dengan HCl sebanyak 2 tetes atau 0,3 mL.
Sehingga volume titran dihasilkan adalah 24,7. Salah satu faktor dari berbeda
nya hassil titik ekivalen karena penggunaan larutan HCl yang berbeda.

7
Rumus yang digunakan untuk mengetahui molaritas dan volume larutan
yang telah dititrasi, yaitu V1 . M1 = V2 . M2

Kelompok pertama menggunakan ;

Diketahui : V1 = 25 ml NaOH Ditanya : M2 ?

M1 = 0,1

V2 = 24,7 ml HCl

maka perhitungannya :

V1 × M1 = V2 × M2

25 × 0,1 = 24,7 × M2
25 × 0,1
M2 = 24,7

M2 = 0,1012 M

Kelompok kedua menggunakan ;

Diketahui : V1 = 25 ml NaOH Ditanya : M2 ?

M1 = 0,1

V2 = 24,8 ml HCl

maka perhitungannya :

V1 × M1 = V2 × M2

25 × 0,1 = 24,8 × M2
25 × 0,1
M2 = 24,8

M2 = 0,1008 M

Kelompok ketiga menggunakan ;

Diketahui : V1 = 25 ml NaOH Ditanya : M2 ?

M1 = 0,1

V2 = 24,7 ml HCl

maka perhitungannya :

V1 × M1 = V2 × M2

8
25 × 0,1 = 24,7 × M2
25 × 0,1
M2 = 24,7

M2 = 0,1012 M

Dan yang keempat menggunakan ;

Diketahui : V1 = 25 ml NaOH Ditanya : M2 ?

M1 = 0,1

V2 = 24,6 ml HCl

maka perhitungannya :

V1 × M1 = V2 × M2

25 × 0,1 = 24,6 × M2
25 × 0,1
M2 = 24,6

M2 = 0,1016 M

9
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil pengamatan serta pembahasan diatas, dapat disimpulkan
bahwa prinsip titrasi asam basa adalah larutan asam atau basa dilibatkan
menjadi titer atau titran dan titrasi asam basa berdasarkan reaksi penetralan.
Dari percobaan diatas, praktikan bisa tahu cara titrasi dan cara membedakan
mana titer dan mana titran.
Pada titrasi asam basa praktikan harus mengetahui bahwa praktikum ini
memerlukan indikator PP. Indikator yang dipakai dalam titrasi asam basa
adalah indikator yang perubahan warna nya dipengaruhi oleh pH.

5.1 Saran
Saran yang diberikan untuk semua praktikan adalah agar semua praktikan
dapat memahami tentang titrasi asam basa. Dan para praktikan harus lebih
berhati-hati dalam menggunakan larutan HCl dan NaOH ini dikarenakan
masing-masing larutan mempunyai bahaya tersendiri.
Selain itu praktikan juga harus mengetahui cara titrasi, memperhatikan
alat-alat gelas dilaboratorium agar tidak pecah. Praktikan juga harus tertib saat
praktikum berlangsung.

10
DAFTAR PUSTAKA

Brady, J. E. 1999, Kimia Universitas Asas dan Struktur: Jakarta, Binarupa Aksara
Coogan, PF., Rosenberg L., Palmer, JR., Strom, BL., Zauber, AG., Stolley, PD.,
dan Shapiro S., 2000: Phenolphthalein Laxatives and Risk of Cancer,
Journal of the National Cancer Institute, 92(23).
Haryadi, (1990). Ilmu Kimia Analitik Dasar. Jakarta: Gramedia.
Khopkar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas
Indonesia.
Michael.1997. Buku Pelajaran Ilmu Kimia Untuk SMU kelas 2. Jakarta: Erlangga.
Partana, C.F. 2003. Kimia Dasar 2. (Edisi Revisi). Yogyakarta.: UPT. Universitas
Negeri Yogyakarta Press. Hal 33- 34.
Supardi, KI. 2006. Kimia Dasar II. Semarang: UPT UNNES Press. Hal 7.
Tiopan.2008. Kimia SMA Kelas XI Semester Kedua. Ghalia Indonesia.
Underwood,A.L.(1986). Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga.
Winarni.2003. Dasar Kimia Analitik. Semarang: Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang.

11