Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH

DASAR REKAYASA BIOPROSES


GLUKONEOGENESIS

Disusun Oleh :
Kiki Rustiani 1710516320008
M. Aldi Wardana 1710516310010
Puspa Ikka Prabandari 1710516320015

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2018
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha Panyayang, Kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan
inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ilmiah tentang
Glukoneogenesis.

Makalah ilmiah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan dari
berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk itu kami menyampaikan
banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.

Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari
segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena itu dengan tangan terbuka kami menerima
segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.

Akhir kata kami berharap semoga makalah ilmiah tentang Glukoneogenesis ini dapat
memberikan manfaat maupun inpirasi terhadap pembaca.

Banjarbaru, 25 Oktober 2018

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR.............................................................................................................…i
DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………ii
BAB I. PENDAHULUAN……………………………………………………………………..1
1.1 Latar Belakang……………………………………………………………………...1

1.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………………..2

1.3 Tujuan……………………………………………………………………………….2

BAB II. PEMBAHASAN……………………………………………………………………..3

2.1 Pengertian Glukoneogenesis………………………………………………………..3

2.2 Pengaturan Glukoneogenesis…………………………………………………….....7

2.3 Jalur Glukoneogenesis………………………………………………………………8

2.4 Glukoneogenesis Melibatkan Glikolisis Siklus Asam Sitrat

Dan Beberapa Reaksi Khusus……………………………………………………..8

2.5 Glikolisis Dan Glukoneogenesis Mempunyai Lintasan

Yang Sama Tetapi Arahnya Berbeda, Maka Kedua Proses

Ini Harus Diatur Secara Timbal Balik……………………………………………..11

2.6 Proses dan tahapan Glukoneogenesis……………………………………………….16

BAB III. PENUTUP

Kesimpulan……………………………………………………………………….21

DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Glukoneogenesis merupakan istilah yang digunakan untuk mencakup semua mekanisme


dan lintasan yang bertanggung jawab untuk mengubah senyawa nonkarbohidrat menjadi glukosa
atau glikogen. Subtrat utama bagi glukoneogenesis adalah asam amino glukogenik, laktat,
gliserol dan propionat. Hati dan ginjal merupakan jaringan utama yang terlibat, Karena kedua
organ tersebut mengandung komplemen enzim-enzim yang diperlukan.

Glukoneogenesis memenuhi kebutuhan tubuh akan glukosa pada saat karbohidrat tidak
tersedia dalam jumlah yang cukup di dalam makanan. Pasokan glukosa yang terus menerus
diperlukan sebagai sumber energi, khususnya bagi sistem syaraf dan eritrosit. Kegagalan pada
Glukoneogenesis biasanya berakibat fatal. Kadar glukosa darah di bawah nilai yang kritis akan
menimbulkan disfungsi otak yang dapat mengakibatkan koma dan kematian. Glukosa juga
dibutuhkan di dalam jaringan adiposa sebagai sumber gliserida-gliserol, dan mungkin
mempunyai peran di dalam mempertahankan kadar intermediat pada siklus asam sitrat dibanyak
jaringan tubuh. Bahkan dalam keadaan lemak memasok sebagian besar kebutuhan kalori bagi
organisme tersebut, selalu terdapat kebutuhan basal tertentu aaakan glukosa. Glukosa merupakan
satu-satunya bahan bakar yang yang memasok energi bagi otot rangka pada keadaan anaerob.
Unsur ini merupakan prekursor gula susu (laktosa) di kelenjar payudara dan secara aktif diambil
oleh janin. Selain itu, mekanisme glukoneogenik dipakai untuk membersihkan berbagai produk
metabolisme jaringan lainnya dari darah, missal laktat yang dihasilkan oleh otot dan eritrosit, dan
gliserol yang secara terus-menerus diproduksi oleh jaringan adipose. Propionat, yaitu asam
lemak glukogenik utama yang dihasilkan dalam proses digesti karbohidrat oleh hewan pemamah
biak, merupakan substrat penting untuk Glukoneogenesis di dalam tubuh spesies ini.

1
1.2 Tujuan
Makalah ini bertujuan sebagai berikut :
a. Mengetahui ganguan ketiadaan enzim-enzim neoglikolisis (Glukoneogenesis)
b. Mengetahui ketiadaan enzim fruktosa bisfofatase dalam hati
c. Mengetahui penggunaan obat Penofarmin oleh penderita Diabestes militus

1.3 Rumusan Masalah


a. Apa yang dimaksud dengan Glukoneogenesis
b. Bagaimana Pengaturan Glukoneogenesis
c. Bagaimana Jalur Glukoneogenesis
d. Bagaimana Proses dan tahapan Glukoneogenesis

BAB II

2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Glukoneogenesis


Glukoneogenesis berasal dari kata Yunani yaitu glykys (manis/gula), neo (baru), genesis
(asal atau pembentukan). Awalan “gluko” dan “gliko” berakar pada kata Yunani yaitu glykys
(Stryer, 2000). Jadi glukoneogenesis bisa diartikan sebagai pembentukan gula baru.
Pada dasarnya glukoneogenesis adalah sintesis glukosa dari senyawa bukan karbohidrat.
misalnya asam laktat dan beberapa asam amino. Proses glukoneogenesis berlangsung terutama
dalam hati. Asam laktat yang terjadi pada proses glikolisis dapat dibawa oleh darah ke hati. Di
sini asam laktat diubah menjadi glukosa kembali melalui serangkaian reaksi (Poedjiadi, 2012).
Sebenarnya glukoneogenesis ini adalah sintesis glukosa dari senyawa bukan
karbohidrat, contohnya asam laktat dan beberapa asam amino. Karena senyawa yang digunakan
bukan karbohidrat, maka sumber karbonnya adalah sejumlah senyawa glukogenik terutama
berasal dari asam amino-L, laktat atau gliserol. Proses ini terjadi jika makanan yang dimakan
tidak cukup mengandung D-glukosa yang dapat menyebabkan turunnya kadar glukosa darah. D-
glukosa harus dibentuk karena senyawa ini penting untuk fungsi sebagian besar sel dan mutlak
dibutuhkan oleh sistem syaraf dan eritrosit. Jalur metabolisme ini terjadi terutama di hati dan
ginjal, tetapi glukoneogenesis secara fisiologis tidak berarti dalam otot karena otot tidak
mempunyai enzim glukosa 6-fosfatase yang mengubah glukosa 6-fosfat menjadi glukosa untuk
dilepaskan ke darah. Proses glukoneogenesis berlangsung terutama dalam hati. Asam laktat yang
terjadi pada proses glikolisis dapat dibawa oleh darah ke hati. Di sini asam laktat diubah menjadi
glukosa kembali melalui serangkaian reaksi dalam suatu proses yaitu glukoneogenesis
(pembentukan gula baru).
Glukoneogenesis yang dilakukan oleh hati atau ginjal, menyediakan suplai glukosa yang
tetap. Kebanyakan karbon yang digunakan untuk sintesis glukosa akhirnya berasal dari
katabolisme asam amino. Laktat yang dihasilkan dalam sel darah merah dan otot dalam keadaan
anaerobik juga dapat berperan sebagai substrat untuk glukoneogenesis. Glukoneogenesis
mempunyai banyak enzim yang sama dengan glikolisis, tetapi demi alasan termodinamika dan
pengaturan, glukoneogenesis bukan kebalikan dari proses glikolisis karena ada tiga tahap reaksi
dalam glikolisis yang tidak reversibel, artinya diperlukan enzim lain untuk reaksi kebalikannya.

3
Dengan adanya tiga tahap reaksi yang tidak reversible tersebut, maka proses glukoneogenesis
berlangsung melalui tahap reaksi lain, yaitu:
a. Glukokinase = Glukosa + ATP Glukosa-6-fosfat + ADP
b. Fosfofruktokinase = Fruktosa-6-fosfat + ATP fruktosa-1,6-difosfat + ADP
c. Piruvatkinase = Fosfenol piruvat + ADP asam piruvat + ATP
Fosfenolpiruvat dibentuk dari asam piruvat melalui pembentukan asam oksalo asetat
a. Asam piruvat + CO2 + ATP + H2O asam oksalo asetat + ADP + fosfat + 2 H
b. Oksalo asetat + guanosin trifosfat fosfoenol piruvat + guanosin difosfat + CO2
Reaksi (a) menggunakan katalis piruvatkarboksilase dan reaksi (b) menggunakan
fosfoenolpiruvat karboksilase. Fruktosa-6-fosfat dibentuk dari fruktosa-1,6-difosfat dengan cara
hidrolisis oleh enzim fruktosa-1,6-difosfatase
“Fruktosa-1,6-difosfat + fosfenolpiruvat + ADP + GDP + fosfat + 2”
Glukosa dibentuk dengan cara hidrolisis glukosa-6-fosfat dengan katalis glukosa-6-fosfatase
“Glukosa-6-fosfat + glukosa + fosfat”
Enzim glikolitik yang terdiri dari glukokinase, fosfofruktokinase, dan piruvat kinase
mengkatalisis reaksi yang ireversibel sehingga tidak dapat digunakan untuk sintesis
glukosa. Dengan adanya tiga tahap reaksi yang tidak reversibel tersebut, maka proses
glukoneogenesis berlangsung melalui tahap reaksi lain.
Reaksi tahap pertama glukoneogenesis merupakan suatu reaksi kompleks yang melibatkan
beberapa enzim dan organel sel (mitokondrion), yang diperlukan untuk mengubah piruvat
menjadi malat sebelum terbentuk fosfoenolpiruvat.
Tiga reaksi pengganti yang pertama mengubah piruvat menjadi fosfoenolpiruvat (PEP),
jadi membalik reaksi yang dikatalisis oleh piruvat kinase. Perubahan ini dilakukan dalam 4
langkah:
1. Piruvat mitokondria mengalami dekarboksilasi membentuk oksaloasetat. Reaksi ini
memerlukan ATP (adenosin trifosfat) dan dikatalisis oleh piruvat karboksilase. Seperti
banyak enzim lainnya yang melakukan reaksi fiksasi CO2, pada reaksi ini memerlukan
biotin untuk aktivitasnya.
2. Oksaloasetat direduksi menjadi malat oleh malat dehidrogenase mitokondria. Pada
reaksi ini, glukoneogenesis secara singkat mengalami overlap (tumpang tindih) dengan
siklus asam sitrat.

4
3. Malat meninggalkan mitokondria dan dalam sitoplasma dioksidasi membentuk kembali
oksaloasetat.
4. Kemudian oksaloasetat sitoplasma mengalami dekarboksilasi membentuk PEP pada
reaksi yang tidak memerlukan GTP (guanosin trifosfat) yang dikatalisis oleh PEP
karboksikinase.
Reaksi pengganti kedua dan ketiga dikatalisis oleh fosfatase. Fruktosa-1,6-bisfosfatase
mengubah fruktosa-1,6-bisfosfat menjadi fruktosa-6-fosfat, jadi membalik reaksi yang dikatalisis
oleh fosfofruktokinase. Glukosa-6-fosfatase yang ditemukan pada permulaan metabolisme
glikogen, mengkatalisis reaksi terakhir glukoneogenesis dan mengubah glukosa-6-fosfat menjadi
glukosa bebas.
Dengan penggantian reaksi-reaksi pada glikolisis yang secara termodinamika ireversibel,
glukoneogenesis secara termodinamika seluruhnya menguntungkan dan diubah dari lintasan
yang menghasilkan energi menjadi lintasan yang memerlukan energi. Dua fosfat berenergi tinggi
digunakan untuk mengubah piruvat menjadi PEP. ATP tambahan digunakan untuk melakukan
fosforilasi 3-fosfogliserat menjadi 1,3-bisfosfogliserat. Diperlukan satu NADH pada perubahan
1,3-bisfosfogliserat menjadi gliseraldehida-3-fosfat. Karena 2 molekul piruvat digunakan pada
sintesis satu glukosa, maka setiap molekul glukosa yang disintesis dalam glukoneogenesis, sel
memerlukan 6 ATP dan 2 NADH. Glikolisis dan glukoneogenesis tidak dapat bekerja pada saat
yang sama. Oleh karena itu, ATP dan NADH yang diperlukan pada glukoneogenesis harus
berasal dari oksidasi bahan bakar lain, terutama asam lemak.
Walaupun lemak menyediakan sebagian besar energi untuk glukoneogenesis, tetapi lemak
hanya menyumbangkan sedikit fraksi atom karbon yang digunakan sebagai substrat. Ini sebagai
akibat struktur siklus asam sitrat. Asam lemak yang paling banyak pada manusia yaitu asam
lemak dengan jumlah atom karbon genap didegradasi oleh enzim -oksidasi menjadi asetil-KoA.
Asetil KoA menyumbangkan fragmen 2-karbon ke siklus asam sitrat, tetapi pada permulaan
siklus 2 karbon hilang sebagai CO2.
Jadi, metabolisme asetil KoA tidak mengakibatkan peningkatan jumlah oksaloasetat yang
tersedia untuk glukoneogenesis. Bila oksaloasetat dihilangkan dari siklus dan tidak diganti,
kapasitas pembentukan ATP dari sel akan segera membahayakan. Siklus asam sitrat tidak
terganggu selama glukoneogenesis karena oksaloasetat dibentuk dari piruvat melalui reaksi
piruvat karboksilase.

5
Kebanyakan atom karbon yang digunakan pada sintesis glukosa disediakan oleh
katabolisme asam amino. Beberapa asam amino yang umum ditemukan mengalami degradasi
menjadi piruvat. Oleh karena itu masuk ke proses glukoneogenesis melalui reaksi piruvat
karboksilase. Asam amino lainnya diubah menjadi zat antara 4 atau 5 karbon dari siklus asam
sitrat sehingga dapat membantu meningkatkan kandungan oksaloasetat dan malat mitokondria.
Dari 20 asam amino yang sering ditemukan dalam protein, hanya leusin dan lisin yang
seluruhnya didegradasi menjadi asetil-KoA yang menyebabkan tidak dapat menyediakan substrat
untuk glukoneogenesis.
Proses glukoneogenesis dengan siklus asam sitrat berhubungan , yaitu suatu reaksi kimia
yang mengubah asam piruvat menjadi 〖CO〗_2 + H_2 O dan menghasilkan energi dalam bentuk
ATP, dengan proses oksidasi aerob. Apabila aerob otot berkontraksi karena digunakan untuk
bekerja, maka asam piruvat dan asam laktat dihasilkan oleh proses glikolisis. Asam piruvat
digunakan dalam siklus asam sitrat. Ketika otot digunakan, jumlah asam piruvat yang dihasilkan
melebihi jumlah asam piruvat yang digunakan dalam siklus asam sitrat. Dalam keadaan
demikian sejumlah asam piruvat diubah menjadi asam laktat dengan proses reduksi. Reaksi ini
akan menghasilkan 〖NAD〗^+ dari NADH.
Pada proses glikolisis, asam laktat adalah hasil yang terakhir. Untuk metabolisme lebih
lanjut, asam laktat harus diubah kembali menjadi asam piruvat terlebih dahulu. Demikian pula
untuk proses glukoneogenesis.
Glukoneogenesis terjadi jika sumber energi dari karbohidrat tidak tersedia lagi. Maka
tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi. Jika lemak juga tak tersedia, barulah
memecah protein untuk energi yang sesungguhnya. Protein berperan pokok sebagai pembangun
tubuh. Jadi bisa disimpulkan bahwa glukoneogenesis adalah proses pembentukan glukosa dari
senyawa-senyawa non karbohidrat, bisa dari lipid maupun protein. Secara ringkas, jalur
glukoneogenesis dari bahan lipid maupun protein dijelaskan sebagai berikut:
a. Lipid terpecah menjadi komponen penyusunnya yaitu asam lemak dan gliserol. Asam
lemak dapat dioksidasi menjadi asetil KoA. Selanjutnya asetil KoA masuk dalam siklus
Krebs. Sementara itu gliserol masuk dalam jalur glikolisis.
b. Untuk protein, asam-asam amino penyusunnya akan masuk ke dalam siklus Krebs.

2.2 Pengaturan Glukoneogenesis

6
Hati dapat membuat glukosa melalui glukoneogenesis dan menggunakan glukosa melalui
glikolisis sehingga harus ada suatu sistem pengaturan yang mencegah agar kedua lintasan ini
bekerja serentak.Sistem pengaturan juga harus menjamin bahwa aktivitas metabolik hati sesuai
dengan status gizi tubuh yaitu pembentukan glukosa selama puasa dan menggunakan glukosa
saat glukosa banyak. Aktivitas glukoneogenesis dan glikolisis diatur secara terkoordinasi dengan
cara perubahan jumlah relatif glukagon dan insulin dalam sirkulasi.
Bila kadar glukosa dan insulin darah turun, asam lemak dimobilisasi dari cadangan
jaringan adipose dan aktivitas -oksidasi dalam hati meningkat. Hal ini mengakibatkan
peningkatan konsentrasi asam lemak dan asetil-KoA dalam hati. Karena asam amino secara
serentak dimobilisasi dari otot, maka juga terjadi peningkatan kadar asam amino terutama alanin.
Asam amino hati diubah menjadi piruvat dan substrat lain glukoneogenesis. Peningkatan kadar
asam lemak, alanin, dan asetil-KoA semuanya memegang peranan mengarahkan substrat masuk
ke glukoneogenesis dan mencegah penggunaannya oleh siklus asam sitrat. Asetil-KoA secara
alosterik mengaktifkan piruvat karboksilase dan menghambat piruvat dehidrogenase. Oleh
karena itu, menjamin bahwa piruvat akan diubah menjadi oksaloasetat. Piruvat kinase dihambat
oleh asam lemak dan alanin, jadi menghambat pemecahan PEP yang baru terbentuk menjadi
piruvat.
Pengaturan hormonal fosfofruktokinase dan fruktosa-1,6-bisfosfatase diperantarai oleh
senyawa yang baru ditemukan yaitu fruktosa 2,6-bisfosfat. Pembentukan dan pemecahan
senyawa pengatur ini dikatalisis oleh enzim-enzim yang diatur oleh fosforilasi dan defosforilasi.
Perubahan konsentrasi fruktosa-2,6-bisfosfat sejajar dengan perubahan untuk glukosa dan insulin
yaitu konsentrasinya meningkat bila glukosa banyak dan berkurang bila glukosa langka.
Fruktosa-2,6- bisfosfat secara alosterik mengaktifkan fosfofruktokinase dan menghambat
fruktosa 1,6-bisfosfatase. Jadi, bila glukosa banyak maka glikolisis aktif dan glukoneogenesis
dihambat. Bila kadar glukosa turun, peningkaan glukagon mengakibatkan penurunan konsentrasi
fruktosa-2,6-bisfosfat dan penghambatan yang sederajat pada glikolisis dan pengaktifan
glukoneogenesis.

2.3 Jalur Glukoneogenesis

7
Proses glukoneogenesis dengan siklus asam sitrat berhubungan, yaitu suatu reaksi kimia
yang mengubah asam piruvat menjadi (CO_2 + H_2O) dan menghasilkan energi dalam bentuk
ATP, dengan proses oksidasi aerob. Apabila aerob otot berkontraksi karena digunakan untuk
bekerja, maka asam piruvat dan asam laktat dihasilkan oleh proses glikolisis. Asam piruvat
digunakan dalam siklus asam sitrat. Ketika otot digunakan, jumlah asam piruvat yang dihasilkan
melebihi jumlah asam piruvat yang digunakan dalam siklus asam sitrat. Dalam keadaan
demikian sejumlah asam piruvat diubah menjadi asam laktat dengan proses reduksi. Reaksi ini
akan menghasilkan (NAD) + dari NADH. Pada proses glikolisis, asam laktat adalah hasil yang
terakhir. Untuk metabolisme lebih lanjut, asam laktat harus diubah kembali menjadi asam piruvat
terlebih dahulu. Demikian pula untuk proses glukoneogenesis.
Glukoneogenesis terjadi jika sumber energi dari karbohidrat tidak tersedia lagi. Maka
tubuh menggunakan lemak sebagai sumber energi. Jika lemak juga tak tersedia, barulah
memecah protein untuk energi yang sesungguhnya. Protein berperan pokok sebagai pembangun
tubuh. Jadi bisa disimpulkan bahwa glukoneogenesis adalah proses pembentukan glukosa dari
senyawa-senyawa non karbohidrat, bisa dari lipid maupun protein. Secara ringkas, jalur
glukoneogenesis dari bahan lipid maupun protein dijelaskan sebagai berikut :
a. Lipid terpecah menjadi komponen penyusunnya yaitu asam lemak dan gliserol. Asam
lemak dapat dioksidasi menjadi asetil KoA. Selanjutnya asetil KoA masuk dalam siklus
Krebs. Sementara itu gliserol masuk dalam jalur glikolisis.
b. Untuk protein, asam-asam amino penyusunnya akan masuk ke dalam siklus Krebs.

2.4 Glukoneogenesis Melibatkan


Glikolisis Siklus Asam Sitrat Dan Beberapa Reaksi Khusus
 Penghalang Termodinamik Mencegah Pembalikan Sederhana Glikolisis Krebs
menegaskan bahwa penghalang energi merintangi pembalikan sederhana reaksi glikolisis
antara piruvat dan fosfoenolpiruvat, antara fruktosa 1,6-bisfosfat dan fruktosa6-fosfat
antara glukosa 6-fosfat dan glukosa, serta antara glukosa 1-fosfat dan glikogen. Semua
reaksi ini bersifat non-ekuilibrum dengan melepas banyak energi bebas dalam bentuk
panas dan karenanya secara fisiologis tidak reversibel. Reakri-reaksi tersebut dielakkan
oleh sejumlah reaksi khusus.

a. Piruvat dan Fosfoenolpiruvat: Di dalam mitokondria terdapat enzim Piruvat


karboksilase, yang dengan adanya ATP, Vitamin B biotin dan CO 2 akan mengubah

8
piruvat menjadi oksaloasetat. Biotin berfungsi untuk mengikat CO 2 dari bikarbonat
pada enzim sebelum penambahan CO2 pada piruvat.
b. Enzim kedua, fosfoenolpiruvat karboksinase, mengatalisis konversi oksaloasetat
menjadi fosfoenolpiruvat. Fosfat energi tinggi dalam bentuk GTP atau ITP diperlukan
dalam reaksi ini, dan CO2 dibebaskan. Jadi, dengan bantuan dua enzim yang
mengatalisis transformasi endergonik ini dan laktat dehidrogenase, maka laktat dapat
diubah menjadi fosfoenolpiruvat sehingga mengatasi penghalang energi antara piruvat
dan fosfoenolpiruvat.
c. Fruktosa 1,6-bisfosfat dan fruktosa 6-fosfat: Konversi fruktosa 1,6-bisfosfat menjadi
fruktosa 6-fosfat, yang diperlukan untuk mencapai pembalikan glikolisis, dikatalisis
oleh suatu enzim spesifik, yaitu fruktosa 1,6-bisfosfatase. Enzim ini sangat penting
bila dilihat dari sudut pandang lain, karena keberadaanya menentukan dapat-tidaknya
suatu jaringan menyintesis glikogen bukan saja dari piruvat tetapi juga dari
triosafosfat. Enzim fruktosa 1,6-bisfosfatase terdapat di hati dan ginjal dan juga telah
diperlihatkan di dalam otot lurik. Enzim tersebut diperkirakan tidak terdapat dalam
otot jantung dan otot polos.
d. Glukosa 6-fosfat dan glukosa: Konversi glukosa 6-fosfat menjadi glukosa dikatalisis
oleh enzim fosfatase yang spesifik lainnya, yaitu glukosa 6-fosfatase. Enzim ini
terdapat di hati dan ginjal tetapi tidak ditemukan di jaringa adipose serta otot.
Keberadaanya memungkinkan jaringan untuk menambah glukosa ke dalam darah.
e. Glukosa 1-Fosfat dan Glukogen : Pemecahan glikogen menjadi glukosa 1-fosfat
dilaksanakan oleh enzim fosforilase Sintesis glikogen melibatkan lintasan yang sama
sekali berbeda melalui pembentukan uridin disfosfat glukosa dan aktivotas enzim
glikogen sintase.
Enzim yang penting ini memungkinkan pembalikan glikolisis memainkan peran utama di
dalam glukoneogenesis. Hubungan antara glukoneogenesis dan lintasan glikolisis. setelah
transminasi atau deaminasi, asam amino glukogenik membentuk piruvat atau anggota lain siklus
asam sitrat. Dengan demikian, reaksi yang diuraikan di atas dapat menjelaskan proses konversi
baik asam amino glukogenik maupun laktat menjadi glukosa atau glikogen. Jadi, senyawa laktat
membentuk piruvat dan harus memasuki mitokondria sebelum konversi menjadi oksaloasetat
serta konversi akhir menjadi glukosa langsung.

9
Propionat merupakan sumber utama glukosa pada hewan pemamah-biak, dan memasuki
lintasa glukogenesis utama lewat siklus asam sitrat setelah proses konversi menjadi suksinil
KoA. Propionat pertama-tama diaktifkan dengan ATP dan KoA oleh enzim asil-KoA sintetase
yang tepat. Propionil –KoA, yaitu produk reaksi ini, menjalani reaksi fiksasi CO 2 untuk
membentuk D-metilmaloni-KoA, dan reaksi ini dikatalis oleh enzim propionil-KoA karboksilase.
Reaksi fiksasi ini analog dengan fiksasi CO2 dalam asetil-KoA oleh enzim asetil KoA
karboksilase , yaitu sama-sama membentuk derivat malonil dan memerlukan vitamin biotin
sebagai koenzim.D-Metilmalonil KoA harus diubah menjadi bentuk stereoisomernya, yakni L-
metilmalonil-KoA, oleh enzim metilmalonil-KoA rasemase, sebelum langsung isomerisasi akhir
senyawa tersebut menjadi suksinil KoA oleh enzim metilmalonil-KoA isomerase yang
memerlukan vitamin B12 sebagai koenzim. Definisi vitami B12 pada manusia dan hewan akan
mengakibatkan ekskresi sejumlah besar metil malonat (Basiduria metilmalonat).
Meskipun lintasan ke arah suksinat merupakan jalur utama metabolisme, propionat dapat
pula digunakan sebagai molekul yang mempersiapkan proses sintesis asam lemak di jaringan
adipose dan kelnjar payudara dengan jumlah atom karbon ganjil pada molekul tersebut. Asam
lemak C15 dan C17 terutama ditemukan di dalam lemak hewan pemamah-biak. Dalam bentuk
seperti itu, lemak tersebut merupakan sumber asam lemak yang penting di dalam makanan
manusia dan akhirnya akan dipecah menjadi propionat di jaringan tubuh.
Gliserol merupakan produk metabolisme jaringan adipose dan hanya jaringan yang
mempunyai enzim pengaktifnya, gliserolkinase, yang dapat menggunakan senyawa gliserol.
Enzim ini, yang memerlukan ATP, ditemukan di hati dan ginjal di antara jaringan lainya. Gliserol
kinase mengatalis proses konversi gliserol menjadi gliserol 3-fosfat. Lintasan ini berhubungan
dengan tahap triosafosfat pada lintasan glikolisis, karena gliserol 3-fosfat dapat dioksidasi
menjadi dihidroksiaseton fosfat oleh NAD+ dengan adanya enzim gliserol 3-fosfat
dehidrogenase. Hati dan ginjal mampu mengubah gliserol menjadi glukosa darah dengan
menggunakan enzim di atas, beberapa enzim glikolisis dan enzim spesifik pada lintasan
glukoneogenesis, yaitu fruktosa-1,6-biofosfatase serta glukosa–6-fosfatase.

2.5 Glikolisis Dan Glukoneogenesis

10
Mempunyai Lintasan Yang Sama Tetapi Arahnya Berbeda, Maka Kedua Proses Ini Harus
Diatur Secara Timbal Balik.
Perubahan keberadaan substrat bertanggung jawab langsung atau tidak langsung atas
sebagian besar perubahan di dalam metabolisme. Fluktuasi pada konsentrasi substrat di dalam
darah yang disebabkan oleh perubahan keberadaanya di makanan bisa mengubah laju sekresi
hormon yang selanjutnya akan mempengaruhi pola metabolisme pada lintasa metabolik-sering
dengan mempengaruhi aktivitas enzim-enzim penting, yang mencoba mengompensasi
perobahan-awal keberadaan substrat. Ada tiga tipoe mekanisme yang diketahui bertanggung
jawab atas pengaturan aktivitas enzim-enzim yang berhubungan dengan metabolisme
karbohidrat dan dapat dikenali di dalam tabel 21-1, yaitu : (1) Perubahan laju sintesis enzim, (2)
modifikasi kovalen oleh fosforilasi yang reversibel, dan (3) efek alosterik.

11
Tabel 1.1 Enzim – enzim pengatur dan adaptif pada tikus (terutama hati)

Aktivitas Pada

Pemberian Kelaparan dan Penginduksi Represor Aktivator Inhibitor


Karbohidrat diabetes

Enzim-enzim pada glikogenesis, glikolisis & Oksidasi piruvat

Sistem glikogen Insulin Insulin Glukosa 6- Glukagon (cAMP)


sintase fosfat fosforilase,
glikogen

Heksokinase Glukosa-6 Fosfat1

Glukokinase Insulin Glukagon (cAMP)

Fosfofruktokinase- Insulin Glukagon (cAMP) AMP, Fruktosa-6- Asam sitrat


1 fosfat, p fruktosa 2, (lemak badan
6-bisfosfat keton) 1
ATP1
glukagon (cAMP)

Piruvat kinase Insulin, fruktosa Glukagon (cAMP) Fruktosa 1,6- ATP, Alanin,
1
bisfosfat insulin glukagon (cAMP),
epinefrin

Piruvat KoA, NAD, Insulin2, Asetil-KoA,


dehidrogenase ADP, piruvat NADH, ATP
(asamlemak,

12
badan keton)

13
Enzim-enzim glukoneogenesis

Piruvat Glukortiroid, Insulin Asetil KoA ADP1


Karboksilase glukagon, epinefrin
(cAMP)

Fosfoenolpiruvat Glukortiroid, Insulin Glukagon?


karboksikinase glukagon, epinefrin
(cAMP)

Fruktosa 1,6- Glukortiroid, Insulin Glukagon (cAMP) Fruktosa 1-6-


bisfosfat glukagon, epinefrin Bisfosfat, AMP,
(cAMP) Fruktosa 2, 6-
bisfosfat1

Glukosa-6-fosfatase Glukortiroid, Insulin


glukagon, epinefrin
(cAMP)

Enzim-enzim pada lintasan pentosa fosfat dan lipogenesis

Glukosa-6 fosfat Insulin


dehidrogenase

6-Fosfoglukonal Insulin
dehidrogenase

14
Enzim Malat Insulin

ATP-Sitratliase Insulin ADP

Asetil-KoA Insulin? Sitrat1, insulin Asil KoA


Karboksilase rantalpanjang,
CAMP, Glukagon

Asam lemak Insulin?


sintase
1
Alosentrik

2 Di Jaringan adipose di hati

15
2.6 Proses dan tahapan Glukoneogenesis
Proses glukoneogenesis berlangsung terutama dalam hati. Glukoneogenesis juga
berlangsung di korteks ginjal, tetapi jumlah total glukosa yang terbentuk di situ hanya
sedikit sepersepuluh dari yang terbentuk di hati, karena massa ginjal yang lebih kecil.
Sangat sedikit glukoneogenesis terjadi di otak, otot kerangka atau otot jantung. Bahkan,
glukoneogenesis di hati dan ginjal membantu memelihara kadar glukosa darah, agar otak
dan otot dapat mengekstraksi cukup glukosa dari darah untuk memenuhi kebutuhan
metabolisme (Stryer, 2000). Tiga sumber karbon yang utama
untuk glukoneogenesis adalah laktat, gliserol, dan asam amino, terutama alanin. Laktat
dihasilkan oleh glikolisis anaerobik di jaringan misalnya otot yang sedang bekerja atau
sel darah merah, gliserol dibebaskan dari simpanan triasilgliserol di jaringana adiposa dan
asam amino terutama berasal dari simpanan asam amino di otot yang mungkin berasal
dari penguraian protein otot. Alanin, asam amino glukoneogenik utama, dibentuk di otot
dari asam amino lain dan dari glukosa (Wakhianto, et al.).
Jalur glukoneogenesis yaitu mengubah piruvat menjadi glukosa. Kebalikan dari
proses glikolisis yang mengubah glukosa menjadi piruvat. Akan tetapi, glukoneogenesis
bukan kebalikan dari glikolisis, karena ada tiga tahap reaksi dalam glikolisis yang tidak
reversibel, yaitu yang dikatalis oleh heksokinase, fosfofruktokinase, dan piruvat kinase.
Artinya diperlukan enzim lain untuk reaksi kebalikannya.

Dengan adanya tiga tahap reaksi yang tidak reversible tersebut, maka proses
glukoneogenesis berlangsung melalui tahap reaksi lain yakni melalu 4 tahapan reaksi
dengan enzim yang berbeda.

 Perubahan piruvat menjadi fosfoenolpiruvat

16
Fosfoenolpiruvat dibentuk dari piruvat melalui oksaloasetat. Mula-mula piruvat
mengalami karboksilasi menjadi oksaloasetat dengan menggunakan satu ATP.
Pengubahan piruvat menjadi oksaloasetat, dikatalisis oleh enzim piruvat karboksilase.
Piruvat + CO2 + ATP + H2O → Oksaloasetat + ADP + Pi + 2H+
Oksaloasetat pada reaksi di atas terdapat pada mitokondria dan harus dikeluarkan
menuju sitoplasma. Namun molekul tersebut tidak dapat melalui membran mitokondria
sebeum diubah menjadi malat. Jadi oksaloasetat akan diubah menjadi malat agar dapat
keluar menuju sitoplasma dan akan segera diubah kembali menjadi oksaloasetat.
Pengubahan oksaloasetat menjadi malat, dikatalisis oleh enzim malat dehidrogenase.
Kemudian malat keluar dari mitokondria menuju sitoplasma. Di sitoplasma, malat diubah
manjadi oksaloasetat kembali yang dikatalisis oleh enzim malat dehidrogenase.
Selanjutnya Oksaloasetat serentak mengalami dekarboksilasi dan fosforilasi yang
dikatalisis oleh enzim phospoenolpiruvat karboksilase menghasilkan phospoenolpiruvat.
Oksaloasetat + GTP → fosfoenolpiruvat + GDP + CO2
 Perubahan Fosfoenolpiruvat menjadi Fruktosa 1,6-bisfosfat
Langkah glukoneogenesis selanjutnya berlangsung di dalam sitosol.
Fosfoenolpiruvat membalikkan langkah pada glikolisis untuk membentuk
gliserildehida3-fosfat yang terbentuk, 1 di ubah menjdi dihidroksi aseton fosfat (DHAP).
Kedua triosa fosfatni, DHAP dan gliserildehida3-fosfat, berkondenssi membentuk
fruktosa1,6-bisfosfat melalui kebalikan dari reaksi aldolase. Karena membentuk DHAP,
gliserol masuk ke dalam jalur glukoneogeneis pada tahap ini.
 Perubahan Fruktosa1,6-bisfosfat menjdi fruktosa 6-fosfat
Fruktosa 6-fosfat dibentuk dari Fruktosa1,6-bisfosfat dengan cara hidrolisis fosfat
pada C-1 yang dikatalis oleh enzim Fruktosa1,6-bisfosfatase.
Fruktosa1,6-bisfosfat + H2O → fruktosa 6-fosfat + Pi
 Perubahan Glukosa 6-Fosfat menjadi Glukosa
Glukosa dibentuk dengan cara hidrolisis glukosa 6-Fosfat pada reaksi yang
dikatalis oleh Glukosa 6-Fosfatase.
Glukosa 6-Fosfatase + H2O → Glukosa + Pi
Tahap akhir pembentukan glukosa ini tidak berlangsung dalam sitosol. Melainkan
glukosa 6-Fosfat diangkut ke dalam lumen retikulum endoplasma dan disitu dihidrolisis
oleh glukosa 6-Fosfatase, suatu enzim yang terikat pada membran. Untuk aktivitasnya,
fosfatase perlu distabilkan oleh suatu protein pengikat Ca 2+ . glukosa dan Pi kemudian
diangkut kembali ke sitosol oleh sepasang pengangkut ( ”trans-porter”).
Berikut bagan alir dari proses glukoneogenesis

17
Pengendalian (Pengaturan) Glukoneogenesis

Hati dapat membuat glukosa melalui glukoneogenesis dan menggunakan glukosa


melalui glikolisis sehingga harus ada suatu sistem pengaturan yang mencegah agar kedua
lintasan ini tidak bekerja serentak. Sistem pengaturan juga harus menjamin bahwa
aktivitas metabolik hati sesuai dengan status gizi tubuh yaitu pembentukan glukosa

18
selama puasa dan menggunakan glukosa saat glukosa banyak. Aktivitas glukoneogenesis
dan glikolisis diatur secara terkoordinasi dengan cara perubahan jumlah relatif glukagon
dan insulin dalam sirkulasi.

Bila kadar glukosa dan insulin darah turun, asam lemak dimobilisasi dari
cadangan jaringan adipose dan aktivitas oksidasi dalam hati meningkat. Hal ini
mengakibatkan peningkatan konsentrasi asam lemak dan asetil-KoA dalam hati. Karena
asam amino secara serentak dimobilisasi dari otot, maka juga terjadi peningkatan kadar
asam amino terutama alanin. Asam amino hati diubah menjadi piruvat dan substrat lain
glukoneogenesis. Peningkatan kadar asam lemak, alanin, dan asetil-KoA semuanya
memegang peranan mengarahkan substrat masuk ke glukoneogenesis dan mencegah
penggunaannya oleh siklus asam sitrat. Asetil-KoA secara alosterik mengaktifkan piruvat
karboksilase dan menghambat piruvat dehidrogenase. Oleh karena itu, menjamin bahwa
piruvat akan diubah menjadi oksaloasetat. Piruvat kinase dihambat oleh asam lemak dan
alanin, jadi menghambat pemecahan PEP yang baru terbentuk menjadi piruvat.

Pengaturan hormonal fosfofruktokinase dan fruktosa-1,6-bisfosfatase diperantarai


oleh senyawa yang baru ditemukan yaitu fruktosa 2,6-bisfosfat (F-2,6-BP) yakni suatu
molekul isyarat yang berasal dari fruktosa 6-fosfat. Pembentukan dan pemecahan
senyawa pengatur ini dikatalisis oleh enzim-enzim yang diatur oleh fosforilasi dan
defosforilasi. Perubahan konsentrasi fruktosa-2,6-bisfosfat sejajar dengan perubahan
untuk glukosa dan insulin yaitu konsentrasinya meningkat bila glukosa banyak dan
berkurang bila glukosa langka. Fruktosa-2,6- bisfosfat secara alosterik mengaktifkan
fosfofruktokinase dan menghambat fruktosa 1,6-bisfosfatase. Jadi, bila glukosa banyak
maka glikolisis aktif dan glukoneogenesis dihambat. Bila kadar glukosa turun,
peningkaan glukagon mengakibatkan penurunan konsentrasi fruktosa-2,6-bisfosfat dan
penghambatan yang sederajat pada glikolisis dan pengaktifan glukoneogenesis.

19
BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Glukoneogenesis adalah sintesis glukosa dari senyawa bukan karbohidrat,


misalnya asam laktat dan beberapa asam amino. Hati dapat membuat glukosa melalui
glukoneogenesis dan menggunakan glukosa melalui glikolisis sehingga harus ada suatu
sistem pengaturan yang mencegah agar kedua lintasan ini bekerja serentak. Penting untuk
diperhatikan bahwa obat-obatan golongan sulfonilurea yang digunakan untuk
menstimulasi sekresi insulin pada penyakit diabetes mulitus tipe II (diabetes militus yang
tidak bergantung insulin) memberikan khasiatnya dengan menghambat saluran K+ yang
sensitif terhadap ATP.

20
DAFTAR PUSTAKA

Stryer, Lubert. 2000. Biokimia Volume 2 Edisi 4 (diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Bagian
Biokimia FKUI). Jakarta : EGC.
Wakianto, et al. 2007. Glukoneogenesis, Glikogenolisis, Glikogenesis. Program Studi
Kedokteran Umum Universitas Mulawar
Poedjiadi, Anna. 2012. Dasar-Dasar Biokimia. Jakarta : UI Press.

21
22