Anda di halaman 1dari 7

Jurnal Sosial Ekonomi dan Humaniora (JSEH) p-ISSN: 2461-0666

Volume 5 Nomor 1 2019 (PP. 1-7) e-ISSN: 2461-0720

FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KEPUNAHAN BAHASA DAERAH DI


TANAH RANTAU
Atri Dewi Azis*, Mahyuni, Syahdan, dan Kamaluddin Yusra

Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Mataram


Jl. Majapahit No. 62 Mataram

Kata Kunci Abstrak


bahasa daerah, etnis Bahasa merupakan alat komunikasi dan berinteraksi antar sesama Dalam
bugis, tanah rantau interaksi sosial ini sudah menjadi keniscayaan adanya saling memengaruhi
di antara bahasa-bahasa yang digunakan. Bahasa yang mayoritas digunakan
akan bertahan dan mempersempit ruang gerak bahasa-bahasa lain yang jarang
digunakan oleh penuturnya. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah
menganalisis faktor-faktor penyebab kepunahan bahasa daerah dan
memberikan gambaran tentang kondisi penggunaan bahasa daerah di tanah
rantau dengan pembatasan pada Bahasa Bugis (BB) di pulau Lombok.
Penelitian telah dilakukan pada bulan Maret sampai dengan Agustus 2017 di
Labuhan Haji Lombok Timur. Pertimbangan pemilihan lokasi penelitian
didasarkan oleh letak geografis yang termasuk salah satu daerah yang banyak
dihuni oleh perantau asal Sulawesi Selatan. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa Bahasa Bugis sebagai bahasa interaksi intrasuku Bugis di Lombok
masih sering digunakan oleh penutur suku Bugis. Hal ini berarti bahwa Bahasa
Bugis sangat sulit ditemukan di pulau Lombok. Bahasa daerah dapat terus
hidup dan berkembang dengan menjadikannya berprestise dengan cara
mendorong seluruh anggota keluarga untuk tetap berusaha berbahasa daerah
sebagai bahasa komunikasi pertama di dalam keluarga. Penelitian ini
merekomen-dasikan perluasan sampel penelitian untuk dikembangkan supaya
gambaran detail tentang kondisi bahasa Bugis di Lombok dapat terpetakan
lebih memadai.

Abstract
Language is one means of communication to interact each other. In social
traditional interaction has become the inevitability of influence each other among the
language, bugis languages spoken The language that the majority used will survive and limited
etnic, overseas lands the space of other languages that are rarely used by speakers. Therefore, the
purpose of this study is to analyze the causal factor of regional language death
and provide description about condition of the use of regional language on
overseas lands with limited to Bugis language (BB) in Lombok. The research
was conducted from March until October 2017 in Labuhan Haji East Lombok.
The consideration of the choice of research location is based on geographical
area which is one of the areas inhabited by many native Bugis speakers from
South Sulawesi. The finding of the research shows that Bugis language as
Bugis interpersonal interaction language in Lombok is still spoken by them.
However, finding the native speakers is like a needle in a haystack. It means
that Bugis language is very difficult to find inL ombok. Regional languages

1
Jurnal Sosial Ekonomi dan Humaniora (JSEH) p-ISSN: 2461-0666
Volume 5 Nomor 1 2019 (PP. 1-7) e-ISSN: 2461-0720

can continue to live and grow by making them berprestise by encouraging all
family to use the regional language as the first language to communicate in
the family.

Korespondensi: Atri Dewi Azis


Email: atridewi75@unram.ac.id

PENDAHULUAN daerah adalah bahasa yang digunakan secara


Bahasa merupakan alat komunikasi dan turun-temurun oleh warga negara Indonesia di
interaksi antar sesama. Dalam interaksi sosial daerah-daerah di wilayah Negara Kesatuan
ini sudah menjadi keniscayaan adanya saling Republik Indonesia (NKRI). Kemudian pada
memengaruhi di antara bahasa-bahasa yang Pasal 42, ayat (1) dinyatakan bahwa pemerintah
digunakan. Bahasa yang mayoritas daerah wajib mengembangkan, membina, dan
digunakan akan bertahan dan mempersempit melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap
ruang gerak bahasa-bahasa lain yang jarang memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam
digunakan oleh penuturnya. kehidupan bermasyarakat sesuai dengan
Beberapa bahasa daerah yang ada di perkembangan zaman dan agar tetap menjadi
Indonesia memiliki penutur yang banyak, bagian dari kekayaan budaya Indonesia.”
namun jarang digunakan dalam percakapan Dari segi jumlah penutur, BB masih
sehari-hari. Arief Rachman (2007) telah tergolong bahasa yang safe, yaitu bahasa yang
memetakan beberapa bahasa daerah yang masih aman karena memiliki penutur yang
terancam punah, diantaranya lebih 50 bahasa sangat banyak dan secara resmi didukung oleh
daerah di Kalimantan, satu diantaranya pemerintah (Krauss, 1992). Dalam hal ini, BB
terancam punah. Di Sumatera, dari 13 bahasa yang juga dikenali dengan sebutan Bugis, Basa
daerah yang ada, dua diantaranya terancam Ugi atau Ugi dipertuturkan oleh etnik atau suku
punah dan satu sudah punah. Namun bahasa Bugis, yaitu sebanyak 4 juta di Indonesia,
Jawa tidak terancam punah. Adapun di terutama di Sulawesi Selatan dan Malaysia. BB
Sulawesi dari 110 bahasa yang ada, 36 bahasa tergolong dalam keluarga bahasa Austronesia.
terancam punah dan 1 sudah punah, di Maluku Penuturnya tersebar di beberapa kabupaten
dari 80 bahasa yang ada 22 terancam punah dan yang ada di Sulawesi Selatan, seperti Luwu,
11 sudah punah, di daerah Timor, Flores, Bima Wajo, Bone, Soppeng, Sinjai, Bulukumba,
dan Sumbawa dari 50 bahasa yang ada, 8 bahasa Sidrap, Barru, Pangkep, Parepare, Maros, dan
terancam punah. Di daerah Papua dan Pinrang.
Halmahera dari 271 bahasa, 56 bahasa Dalam hubungan itu, tantangan yang
terancam punah. dihadapi adalah sudah tidak diperoleh dan
Data di atas menunjukkan bahwa dipelajari oleh semua anak dan usia dewasa
beberapa bahasa daerah di Indonesia telah dalam kelompok etnik masing- masing
punah. Muhammad Jusuf Kalla menegaskan sebagaimana disyaratkan oleh Grimes (2000).
bahwa bahasa daerah tidak dapat dicegah Artinya, BB sudah mulai terdesak
kepunahannya, walaupun diadakan seminar pertumbuhannya. Anak-anak dari suku ini yang
bahasa daerah berkali-kali (Darwis, 1985). bermukim di perkotaan, termasuk di tanah
Walaupun pemerintah telah rantau, bahkan sebagian perdesaan sudah tidak
memberikan instrumen kepada bahasa daerah mendapatkan bahasa daerah sebagai bahasa
untuk bertahan sebagai bahasa pertama dan pertama dalam lingkungan keluarga. Yang
bahasa pergaulan antar suku, namun bahasa dijadikan sebagai bahasa pertama ialah bahasa
daerah akan tetap mengikuti hukum alam, yaitu Indonesia.
tidak dapat terhindar dari ancaman kepenuhan. Pada aspek lain, tradisi leluhur bangsa
Dalam Undang-undang tentang Bendera, diharapkan masih dapat dilestarikan karena
Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu kegunaannya tidak dapat tergantikan oleh
Kebangsaan, Pasal 1 disebutkan bahwa bahasa sarana lain dalam pembinaan karakter bangsa.

2
Jurnal Sosial Ekonomi dan Humaniora (JSEH) p-ISSN: 2461-0666
Volume 5 Nomor 1 2019 (PP. 1-7) e-ISSN: 2461-0720

Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah dokumeentasi ini diharapkan data yang
untuk menganalisis faktor-faktor penyebab diperlukan menjadi valid dan akurat.
kepunahan bahasa daerah dan memberikan
gambaran tentang kondisi penggunaan bahasa Analisis Data
daerah di tanah rantau dengan pembatasan Teknik analisis data yang digunakan
pada Bahasa Bugis (BB) di pulau Lombok.. adalah analisis deskriptif, yaitu mendeskripsikan
dan memaknai data dari masing-masing
METODE PENELITIAN komponen yang dievaluasi. Hasil perhitungan
Waktu dan Tempat Penelitian statistik deskriptif akan disajikan dalam bentuk
Penelitian ini telah dilakukan pada bulan tabel berdasarkan presentase yang diperoleh dari
Mei sampai dengan Oktober 2017 Labuhan Haji hasil penilaian.
Lombok Timur. Dasar pertimbangan pemilihan Data kuantitatif yang telah terkumpul
lokasi penelitian ini adalah letak geografis yang dianalisis dengan menerapkan beberapa
termasuk salah satu daerah yang banyak dihuni langkah, yaitu (1) melakukan penyekoran
oleh perantau dari Sulawesi Selatan. terhadap jawaban responden, (2) menjumlahkan
skor total masing-masing komponen, dan (3)
Jenis dan Pendekatan Penelitian mengelompokkan skor yang diperoleh
Penelitian ini merupakan penelitian responden berdasarkan tingkat
evaluasi menggunakan pendekatan kuantitatif kecenderungannya.
deskriptis. Data yang diperoleh, baik dari
jawaban responden melalui wawancara maupun HASIL DAN PEMBAHASAN
dari dokumentasi dianalisis kemudian disajikan Bahasa Sebagai Identitas
dalam bentuk numerik dan diinterpretasikan Setiap suku bangsa di dunia ini memiliki
sesuai dengan karakteristik pendekatan bahasa daerah yang berbeda-beda sebagai
kuantitatif deskriptis. Dengan demikian, akan identitas etnis. Identitas ini menjadi penting
diperoleh pemahaman yang lebih mendalam, untuk dipertahankan sebagai bentuk tanggung
komprehensif, dan dapat terungkap dengan jelas. jawab perhatian individu terhadap identitas
mereka. Sama halnya dengan Bahasa Bugis
Subyek Penelitian (BB) yang sudah lama digunakan oleh suku
Subyek penelitian yang dipilih adalah Bugis dimanapun mereka berada.
masyarakat asal Sulawesi Selatan yang sudah Berdasarkan hasil wawancara dengan
menetap lebih dari 10 tahun di Kota Mataram responden diketahui bahwa penggunaan Bahasa
dan sekitarnya. Jumlah responden dalam Bugis di Lombok masih sering digunakan oleh
penelitian ini sekitar 20 orang. penutur asal suku Bugis. Walaupun demikian,
menemukan penutur asli bagaikan mencari
Teknik Pengumpulan Data jarum di tengah tumpukan jeramih. Hal ini
Teknik pengumpulan data yang berarti bahwa Bahasa Bugis sudah sangat sulit
digunakan adalah metode wawancara dan ditemukan di pulau Lombok. Hal yang sama
dokumentasi. Wawancara dilakukan untuk pernah diungkap oleh Arief Rachman (2007)
memperoleh data primer dengan bertanya bahwa dari 110 bahasa daerah yang ada di
langsung kepada responden (Lerbin, 1992). Sulawesi Selatan, 36 diantaranya terancam
Wawancara dilakukan dengan tanya jawab punah dan 1 sudah punah.
secara sepihak dan sistematis berlandaskan Kenyataan ini menunjukkan bahwa
tujuan penelitian. Tanya jawab sepihak proses kepunahan bahasa daerah juga berkaitan
dilakukan oleh peneliti, sedangkan responden dengan ancaman kepunahan budaya daerah.
aktif memberikan jawaban atau tanggapan. Muhammad Jusuf Kalla menegaskan bahwa
Pengumpulan data melalui teknik bahasa daerah tidak dapat dicegah
dokumentasi diperlukan sebagai data pelengkap kepunahannya, walaupun diadakan kongres
tentang aktivitas warga Sulawesi Selatan di atau seminar bahasa daerah berkali-kali. Pada
Mataram dan sekitarnya. Dengan teknik dasarnya bahasa daerah akan tetap mengikuti

3
Jurnal Sosial Ekonomi dan Humaniora (JSEH) p-ISSN: 2461-0666
Volume 5 Nomor 1 2019 (PP. 1-7) e-ISSN: 2461-0720

hukum alam, yaitu tidak dapat menghindar dari dan dipelajari oleh semua anak dan usia dewasa
ancaman kepenuhan. dalam kelompok etnik masing-masing
sebagaimana disyaratkan oleh Grimes (2000).
Faktor-faktor Kepunahan Bahasa Bugis Artinya, BB sudah mulai terdesak
Pemerintah memberikan peluang pertumbuhannya. Anak-anak dari suku ini yang
kepada bahasa daerah untuk bertahan sebagai bermukim di perkotaan, bahkan sebagian
bahasa pertama dan bahasa pergaulan antar perdesaan sudah tidak mendapatkan bahasa
suku. Dalam Undang-undang tentang Bendera, daerah sebagai bahasa pertama dalam
Bahasa, dan Lambang Negara, serta Lagu lingkungan keluarga. Yang dijadikan sebagai
Kebangsaan, Pasal 1 disebutkan bahwa bahasa bahasa pertama ialah bahasa Indonesia.
daerah adalah bahasa yang digunakan secara
turun-temurun oleh warga negara Indonesia di Peluang dan Tantangan Bahasa Daerah
daerah- daerah di wilayah Negara Kesatuan Berdasarkan hasil wawancara dengan
Republik Indonesia. Kemudian pada Pasal 42, responden diketahui bahwa ada tiga alasan
ayat (1) dinyatakan bahwa pemerintah daerah terjadinya pergeseran dari bahasa daerah ke
wajib mengembangkan, membina, dan bahasa Indonesia. Pertama, lingkungan
melindungi bahasa dan sastra daerah agar tetap pergaulan yang majemuk bahasa dan suku.
memenuhi kedudukan dan fungsinya dalam Kedua, medan tugas yang relatif tidak tetap.
kehidupan bermasyarakat sesuai dengan Ketiga, orang tua berlainan suku. Pada
perkembangan zaman dan agar tetap menjadi masyarakat perdesaan tampaknya faktor
bagian dari kekayaan budaya Indonesia. kehadiran lembaga pendidikan Taman Kanak-
Dari segi jumlah penutur, Bahasa Kanak (TK) yang menjadi pemicu utama. Di
Bugis masih tergolong bahasa yang masih TK guru-guru menggunakan bahasa Indonesia
aman karena memiliki penutur yang sangat sebagai bahasa pengantar, bukan bahasa daerah.
banyak dan secara resmi didukung oleh Itulah sebabnya para orang tua terkondisi
pemerintah (Krauss, 1992). Dalam hal ini, BB mempersiapkan anak-anak mereka menguasai
yang juga dikenali dengan sebutan Bugis, Basa bahasa Indonesia sebagai bahasa pertama.
Ugi atau Ugi dipertuturkan oleh etnik atau suku Menurut Stewart (2005), daya hidup
Bugis, yaitu sebanyak 4 juta di Indonesia, suatu bahasa adalah use of the linguistic system
terutama di Sulawesi Selatan dan Malaysia. BB by an unisolated community of native speakers.
tergolong dalam keluarga bahasa Austronesia. Jika suatu bahasa secara terus-menerus
Penuturnya tersebar di beberapa kabupaten, mengalami pengurangan jumlah penutur, maka
seperti Luwu, Wajo, Bone, Soppeng, Sinjai, pada akhirnya kehilangan atau kehabisan
Bulukumba, Sidrap, Barru, Pangkep, Parepare, jumlah penutur asli sama sekali, bahasa itu
Maros, dan Pinrang (World Almanac 2005). sudah jelas bernasib punah. Dalam kaitan ini,
Sehubungan dengan daya hidup bahasa Grimes (2000) mengemukakan enam gejala
secara lintas-generasi, dengan mengambil yang menandai kepunahan bahasa pada masa
analogi spesies biologi, Krauss (1992) misalnya depan, yaitu (1) penurunan secara drastis
mengategorikan daya hidup bahasa menjadi jumlah penutur aktif, (2) semakin berkurangnya
tiga. Pertama, moribund, yaitu bahasan yang ranah penggunaan bahasa, (3) pengabaian
tidak lagi dipelajari oleh anak-anak sebagai bahasa ibu oleh penutur usia muda, (4) usaha
bahasa ibu. Kedua, endangered, yaitu bahasa merawat identitas etnik tanpa menggunakan
yang meskipun sekarang masih dipelajari atau bahasa ibu, (5) penutur generasi terakhir sudah
diperoleh oleh anak-anak, tetapi sudah tidak tidak biasa lagi menggunakan bahasa ibu
digunakan pada abad yang akan datang. Ketiga, (understanding without speaking), dan (6)
safe, yaitu bahasa yang secara resmi didukung contoh-contoh mengenai semakin punahnya
oleh pemerintah dan memiliki penutur yang dialek-dialek satu bahasa.
sangat banyak. Summer Insitute of Linguistics (SIL)
Dalam hubungan itu, tantangan yang (2008) menyebutkan 12 (dua belas) faktor yang
dihadapi oleh BB adalah sudah tidak diperoleh berhubungan dengan kepunahan bahasa, yaitu

4
Jurnal Sosial Ekonomi dan Humaniora (JSEH) p-ISSN: 2461-0666
Volume 5 Nomor 1 2019 (PP. 1-7) e-ISSN: 2461-0720

(1) kecilnya jumlah penutur, (2) usia penutur, lampau. Kedua, bahasa daerah merupakan
(3) digunakan-atau-tidak digunakannya bahasa bahasa orang miskin dan tidak berpendidikan.
ibu oleh anak-anak, (4) penggunaan bahasa lain Ketiga, bahasa daerah tidak berguna di luar
secara reguler dalam latar budaya yang kampung. Keempat, bahasa daerah
beragam, (5) perasaan identitas etnik dan sikap menghalangi kemajuan.
terhadap bahasanya secara umum, (6) Bahasa daerah terpandang kuno karena
urbanisasi kaum muda, (7) kebijakan bahasa ini tidak pernah dihubungkan dengan
pemerintah, (8) penggunaan bahasa dalam hal-hal kemodernan. Kalau gedung-gedung dan
pendidikan, (9) intrusi dan eksploitasi ekonomi, fasilitas modern diberi nama dengan ungkapan-
(10) keberaksaraan, (11) kebersastraan, dan (12) ungkapan bahasa daerah, masyarakat akan
kedinamisan para penutur membaca dan dengan sendirinya mengidentifikasikan bahasa
menulis sastra. Selain itu, ada pula tekanan daerah itu dengan nilai-nilai kemodernan.
bahasa dominan dalam suatu wilayah Umpamanya, gedung olah raga kebanggaan
masyarakat multibahasa. masyarakat Sulawesi Selatan bernama Stadion
Apabila kedua belas variabel kepunahan Mattoanging. Fasilitas olah raga ini memiliki
bahasa sebagaimana dinyatakan oleh SIL di nilai historis yang sangat tinggi dan telah
atas dikenakan kepada BB, maka hampir semua mendunia. Hal ini disebabkan oleh keunggulan
relevan dengan keterancaman bahasa daerah sumberdaya manusia pesebak bola dari Kota
tersebut. Kalau diadakan persentase, maka Makassar yang telah mengukir prestasi dunia.
terlihat adanya pengurangan jumlah penutur. Karena menggunakan ungkapan bahasa daerah
Penutur yang masih setia berbahasa daerah yang dapat menjadi spirit prestise bahasa daerah
sangat terbatas pada usia lanjut; generasi muda pada evel kemodernan saat ini.
dan anak-anak cenderung beralih ke Kalau saja mereka mempunyai
penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa kepedulian untuk berbahasa daerah pada situasi
asing yang berstatus bahasa internasional. Hal dan kondisi yang tepat, maka ancaman
ini bermula sejak penetapan bahasa Indonesia kepunahan bahasa daerah dapat terhindar.
sebagai bahasa pertama dalam kehidupan Dalam hal ini, kita perlu menaruh hormat
rumah tangga. kepada bangsa Jepang dan Korea yang dengan
Dalam kaitan ini, bahasa Indonesia penuh kebanggaan mengutip pepatah-pepatah
dalam politik nasional dengan sengaja dalam bahasa mereka setiap kali hendak
dikondisikan sebagai bahasa yang berprestise, menjelaskan segala sesuatu yang menjadikan
yaitu bahasa ini ditanggapi sebagai aspek mereka bermartabat dalam pandangan
kebudayaan yang tinggi, sehingga orang internasional.
terdorong untuk menggunakan dengan sebaik- Kesan bahwa bahasa daerah tidak
baiknya. Dengan cara ini warga masyarakat berguna di luar kampung perlu dihilangkan
mengidentifikasikan ketinggian derajat sosial segera dengan usaha meyakinkan bahwa
mereka melalui penggunaan simbol-simbol atau bahasa itu bukan sekadar sarana komunikasi,
bahasa prestise tersebut. Akibatnya, masyarakat melainkan juga identitas diri dan identitas itu
bersikap positif terhadap bahasa Indonesia sangat diperlukan dalam pergaulan nasional
sehingga pada gilirannya mereka bersikap dan global. Begitu pula, kesan bahasa daerah
negatif terhadap bahasa daerah. Lambat-laun menghalangi kemajuan dapat dihilangkan
bahasa daerah tidak diperlukan lagi sebagai dengan menyosialisasikan bahwa orang-orang
lambang identitas budaya dan daerah atau etnik. yang maju yang ada sekarang adalah orang-
Dalam hubungan itu, ada beberapa sikap orang yang mempunyai karakter budaya dan
negatif yang dilekatkan kepada bahasa daerah sosial. Sebaliknya, orang-orang yang
sehingga bahasa daerah terpandang tidak kehilangan identitas karakter akan terombang-
bermartabat. Hal ini perlu diungkapkan agar ambing di dalam ketidakmenentuan tatanan
dapat diusahakan untuk mengubahnya menjadi nilai globalisasi.
sikap positif. Pertama, bahasa daerah Adapun urbanisasi pada akhirnya akan
terpandang kuno dan telah menjadi milik masa menjadi masalah yang terkait dengan usaha

5
Jurnal Sosial Ekonomi dan Humaniora (JSEH) p-ISSN: 2461-0666
Volume 5 Nomor 1 2019 (PP. 1-7) e-ISSN: 2461-0720

pelestarian bahasa daerah. Di perkotaan generasi penerus tetap memiliki identitas


hubungan-hubungan sosial makin kompleks. karakter sebagai orang Bugis di tanah rantau dan
Semua kemajemukan ada di kota. Karena itu, perlu dihidupkan usaha penggunaan bahasa
untuk mempertahankan bahasa daerah sebagai daerah formal pada upacara-upacara adat-
bahasa pertama di kota akan menemui kesulitan istiadat.
yang luar biasa. Biarpun kedua orang tua bukan
majemuk suku, misalnya sama-sama Ucapan Terima Kasih
menguasai bahasa Bugis, tidak ada jaminan Tim Peneliti menyampaikan terima kasih kepada
anak-anak yang lahir akan menjadi penutur Rektor Universitas Mataram atas dukungan
bahasa daerah di rumah tangga. Dalam hal dana yang telah diberikan melalui Skim
ini, perlu diberikan penghargaan kepada Penelitian PNBP 2018, sehingga penelitian ini
sejumlah komunitas etnik Bugis di perantauan, dapat terlaksana dengan baik. Begitu pula
misalnya di Lombok yang dengan penuh kepada seluruh pihak-pihak yang telah
semangat mempertahankan identitas kebugisan membantu kegiatan ini disampaikan terima
mereka dengan mempertahankan Bahasa Bugis kasih.
sebagai bahasa pertama di rumah tangga dan
sebagai bahasa komunikasi intrasuku. DAFTAR PUSTAKA
Dengan adanya kebijakan otonomi Abas, H. 2000. Fungsionalisasi Bahasa Melayu
daerah diharapkan juga adanya otonomi bahasa sebagai Norma Supra-nasional dan
daerah, tetapi kelihatannya hal ini masih Bahasa Komunikasi Luas: Suatu
merupakan cita-cita yang perlu diperjuangkan Perspektif Sosio-linguistik. Disertasi,
secara terus-menerus. Dalam sistem pendidikan Universitas Hasanuddin, Makassar
pun bahasa daerah bernasib marginal, apabila Aitchison, Jean. 2004. Language Change:
ditetapkan sebagai mata pelajaran muatan lokal, Progress or Decay. Cam-bridge: Cambridge
karena tidak sedikit sekolah yang memilih University Press
bahasa Inggris sebagai muatan lokal dengan Alwasilah, A.C. 1989. Sosiologi Bahasa.
alasan internasionalisasi. Bandung: Angkasa
Asmah, H.O. 1975.ed. Essays on Malaysian
KESIMPULAN DAN SARAN Linguistics. Kuala Lumpur: Dewan
Kesimpulan Bahasa dan Pustaka.
Bahasa Bugis sebagai bahasa interaksi Asmah, H.O.1979. Languages of Malaysia.
intrasuku Bugis di Lombok masih sering dalam Papers on Southeast Asian
digunakan oleh penutur asal suku Bugis. Languages, Llamzon, T.A., ed. (3-6).
Walaupun demikian, menemukan penutur asli Singapore: Singapore University Press
bagaikan mencari jarum di tengah tumpukan for SEAMEO RELC.
jeramih. Hal ini berarti bahwa Bahasa Bugis Darwis, Muhammad. 1985. Corak Pertumbuhan
sudah sangat sulit ditemukan di pulau Lombok. Bahasa Indonesia di Perkampungan PT
Bahasa daerah dapat terus hidup dan Arun Aceh Utara. Hasil Penelitian. Banda
berkembang dengan menjadikannya berprestise Aceh: PLPIIS Universitas Syiah Kuala.
dengan cara mendorong seluruh anggota Darwis, Muhammad. 2008. Reorien-tation of
keluarga untuk tetap berusaha berbahasa daerah Social Strata in Buginese Community. A
sebagai bahasa komunikasi pertama di dalam Sociolinguistic Analysis. Jurnal Buletin
keluarga. Bahasa daerah harus dijadikan mata Penelitian Universitas Hasanuddin,
pelajaran muatan lokal di sekolah. Pelembagaan Volume 7, Edisi Khusus.
nilai-nilai budaya etnis di tanah rantau perlu Grimes, B. F. Ed. 1988. Ethnologue:
digalakkan melalui ungkapan-ungkapan budaya languages of the world. Dallas, Texas:
tradisional. Summer Institute of Linguistics, Inc.
Saran Krauss, M. 1992. The world’s languages in
Perlu digalakkan usaha pembudayaan crisis. Dalam Language, 68(1): 45-53.
diri dalam nilai-nilai budaya yang menjadikan Poerwadi, Petrus. 2004. Penanganan Bahasa

6
Jurnal Sosial Ekonomi dan Humaniora (JSEH) p-ISSN: 2461-0666
Volume 5 Nomor 1 2019 (PP. 1-7) e-ISSN: 2461-0720

Dayak yang Hampir Punah dan Sudah


Punah”. Makalah FKIP Universitas
Palangkaraya.
Stewart, W.A. 1968. A Socolinguistic Typology
for Describing Multi-lingualism dalam
Fishman J.A. Readings in the Sociology of
Language. The Hague: Mouton.