Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi umat manusia karena
dengan pendidikan umat manusia bisa merubah kelangsungan hidupnya.
Pendidikan adalah proses mentransfer ilmu pengetahuan kepada peserta didik agar
peserta didik menjadi manusia yang memiliki pengetahuan dan akhlak yang mulia.
Salah satu harapan yang diinginkan oleh pendidikan nasional adalah
pendidikan sebagai proses pembebasan karena pendidikan memanusiakan
manusia, menjadikan mandiri, bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk,
dan juga membebaskan kebodohan.
Realitas pendidikan nasional yang terjadi saat ini ialah pendidikan
cendrung mendiktekan pemikirannya kepada para siswa, keberadaan siswa masih
terbelenggu oleh aturan – aturan yang kurang manusiawi, seta pendidikan masih
jauh dari kata demokratis. Idealnya, suatu pendidikan menjadi sebuah jalan
menuju kebebasan.
Berdasarkan kenyataaan yang telah diuraikan diatas dari berbagai masalah
pendidikan yang ada dimana pendidikan yang sejatinya sebagai proses
pembebasan individu dari belenggu – belenggu yang tidak memerdekakan. Paper
ini disusun guna menguraiakan mengenai pendidikan sejatinya sebagai proses
pembebasan individu dalam pendidikan.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah hakikat pendidikan itu ?
2. Seperti apakah pendidikan sebagai proses pembebasan itu ?
3. Apa inti dari proses pembebasan ?
4. Apa tujuan pendidikan ?
C. Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu hakikat pandidikan.
2. Untuk menjelaskan pendidikan sebagai proses pembebasan.
3. Untuk mengetahui inti dari pembebasan.
4. Agar mengetahui tujuan pendidikan.

1
BAB II
PEMBAHASAN
PENDIDIKAN SEBAGAI PROSES PEMBEBASAN
KAJIAN TEORI
Paulo Freire :
Dalam perspektifnya pendidikan sebagai proses pembebasan yang berarti
ketidakadanya paksaan. Maka, dengan ungkapan lain pembebasan itu berasal dari
kata bebas, yang berarti adalah merdeka. Artinya tidak terbelenggu dalam
kegelapan atau kemunduran yang menimpa suatu individu dalam hal ini adalah
manusia. Sehingga dapat dipahami bahwa pendidikan pembebasan itu secara
eksplisit adalah usaha sadar yang dilakukan manusia dalam mendidik manusia
menjadi individu yang sadar terhadap sekelilingnya, yang memunculkan sikap
merdeka dan mampu berkontribusi dalam tatanan kemasyarakatan.
A. Hakikat Pendidikan
Pendidikan merupakan hak setiap manusia sebagai upaya pengembangan
potensi manusia untuk kelangsungan hidup ( survive ). Pendidikan secara umum
bertujuan membantu manusia menemukan akan hakikat kemanusiaanya.
Maksudnya, pendidikan harus mampu mewujudkan manusia seutuhnya.
Pendidikan berfungsi melakukan proses penyadaran terhadap manusia
untuk mampu mengenal, mengerti dan memahami realita kehidupan yang ada di
sekelilingnya. Dengan adanya pendidikan, diharapkan manusia mampu menyadari
potensi yang ia miliki sebagai makluk yang berfikir. Potensi yang dimaksud
adalah potensi ruhaniyah (spiritual), nafsiyah (jiwa) aqiliyah (pikiran) dan
jasmaniyah (tubuh) dengan melakukan proses berfikir manusia akan menemukan
eksistensi kehadirannya sebagai makhluk yang telah diberi akal oleh Tuhan Yang
Maha Esa.
Pendidikan merupakan landasan utama serta mendasar dalam mewujudkan
sebuah perubahan. Hanya dengan pendidikanlah paradigma, sikap, dan perilaku
umat manusia dapat berubah dan tercerahkan. Dengan demikian, sangat benar
adanya ketika Jhon Locke, seorang filsuf Inggris, menggemakan pentingnya
pendidikan, menurut Jhon Locke, “sejak lahir manusia merupakan sesuatu yang

2
kosong dan dapat disi dengan pengalaman – pengalaman yang diberikan lewat
pendidikan dan pembentukan yang terus-menerus.
Pendidikan menurut Jhon Dewey dalam bukunya Democracy and
Education (1950 : 8990 ) dikatakan bahwa pendidikan merupakan rekontruksi atau
reorganisasi pengalaman yang menambah makna pengalaman, dan yang
menambah kemampuan untuk mengarahkan pengalaman selanjutnya.
Menurut pandangan George F. Kneller dalam bukunya yang berjudul
Fondations of Education (1967 : 63 ) pendidikian dalam arti luas adalah suatu
tindakan / pengalaman yang mempunyai pengaruh yang berhubungan dengan jiwa
(mid), watak (character), kemampuan fisik. Dalam arti teknis pendidikan
merupakan proses dimana masyarakat, melalui lembaga pendidikan (sekolah PT)
dengan sengaja mentransformasikan warisan budayanya, yaitu pengetahuan, nilai
– nilai dan keterampilan dan generasi ke generasi.
Dalam UU No. 20 Tahun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan
terencana mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
B. Pendidikan sebagai Proses Pembebasan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Depdikbud, 1990 : 90 yang
dimaksud kebebasan ialah kebebasan yang berasal kata dari bebas memiliki
beberapa pengertian, seperti : lepas sama sekali, lepas dari tuntutan, kewajiban dan
perasaan takut, tidak dikenakan hukuman, tidak terikat / terbatas oleh aturan –
aturan dan merdeka.
Tujuan pendidikan yakni melakukan proses “humanisasi” (memanusiakan
manusia) yang berujung pada proses pembebasan. Hal ini berangkat dari asumsi
bahwa manusia dalam sistem dan struktur sosial mengalami dehumanisasi, karena
ekspoitasi kelas, dominasi gender, maupun hegemoni budaya lain. Oleh karena itu,
pendidikan merupakan sarana untuk memproduksi kesadaran dalam
mengembalikan kemanusiakan manusia. Dalam kaitan ini, pendidikan berperan
untuk membangkit kesadaran kritis sebagai prasyarat upaya untuk pembebasan.

3
Kebebasan secara umum berarti ketiadaan paksaan. Ada beberapa fisik,
yaitu secara fisik bebas bergerak kemana saja. Kebebasan moral, yaitu kebebasan
dari paksaan moral, hukum, dan kewajiban (termasuk di dalamnya kebebasan
berbicara). Kebebasan psikologi, yaitu memilih berniat atau tidak sehingga
kebebasan ini sering disebut sebagai kebebasan untuk memilih. Manusia juga
mempunyai kebebasan berfikir, berkreasi, dan berinovasi. Kalau disimpulkan, ada
dua kebebasan yang dimiliki manusia, yaitu kebebasan vertikal yang arahnya
kepada Tuhan dan kebebasan horizontal yang arahnya kepada sesama makhluk.
Semua hal di atas merupakan tujuan ideal pendidikan, namun bagaimana
kenyataan di lapangan ? ternyata, praktik pendidikan ysng terjadi justru
sebaliknya. Pendidikan dijadikan cara untuk melanggengkan doktrin tertentu dan
sebagai alat hegemoni kekuasaan. Peserta didik hanya dijadikan objek dan dilatih
untuk menjadi penurut dengan tujuan keseragaman nasional. Apabila hal ini
terjadi, pendidikan tidak lagi mampu menjadikan manusia sebagai insan kamil,
tetapi justru menjadikan manusia sebagai robot – robot kebuasaan yang tidak bisa
berfikir secara kritis dan bebas terhadap realitas yang ada disekelilingnya.
Kenyataan inilah yang kemudian menjadikan manusia mengalami kehampaan
eksistensi sebagai manusia yang pada dasarnya secara fitriah memiliki potensi
berfikir bebas dan berkesadaran.
Kondisi pendidikan seperti ini sama sekali menaifkan peserta didik sebagai
manusia yang berpotensi untuk berfikir dan akan muncul kelompok masyarakat
terbelakang dan bodoh, yang sebanarnya merupakan akibat dari penindasan,
struktual, ketertindasan struktual inilah yang pada tataran global melahirkan
proses kemiskinan, baik dibidang sosial, politik, ekonomi, dan budaya sebagai
akibatnya terjadi teransformasi budaya yang bermakna dekaden, yaitu dari budaya
kritis menjadi budaya oportunis dan pragmatis. Dengan demikian, penjinakan
yang dilakukan oleh struktur kekuasaan melalui cara penyeragaman berfikir telah
mengakibatkan suatu kondisi ketika kesadaran yang muncul bukanlah kesadaran
kritis sebagai manusia yang dikaruniai akal, melainkan kesadaran naif yang
bertumpu pada pemikiran pragmatis.

4
Pendidikan sebagai arena pembebasan manusia diperkenalkan petama kali
oleh Paulo Freire, seorang padagog dari Brasil. Dalam tulisannya, Freire
mengatakan :
“pendidikan harus menjadi area pembebasan manusia sehingga mengantar orang
menemukan dirinya sendiri, untuk kemudian menghadapi realitas sekitar dengan
kritis dan mengubah dunia secara kreatif (Freire 1991).
Paulo Freire mengintrodusi metode pendidikan yang disebut sebagai
pendidikan dialogis pada metode dialogis unsur dialog sangat penting. Terdapat
suatu dinamika dialektis antara pendidik dengan anak didik (Freire, 1991) : 80)
penekanannya adalah dengan menyadarkan pendidik dan anak didik agar dapat
berani bertindak dan mengubah situasi mereka.
Seorang tokoh pendidikan Indonesia yakni mengemukaan bahwa
pendidikan merupakan sarana pembebasan dimana pembebasan yang dimaksud
yakni memerdekakan, yang artinya pendidikan menjadikan manusia yang
merdeka, kuat tidak tergantung pada orang lain, berdiri sendiri dan dapat dapat
mengatur dirinya sendiri.
Orientasi pembebasan bagi manusia harus ditempatkan pada posisi yang
integral antara dimensi sekuler dan transender. Kebebasan sebagai potensi dasar
harus, dimanefestarikan dengan bertanggung jawab karena ia merupakan amanat
dari Tuhan, pencipta alam semesta dan realita kehidupan.
Dengan mengkombinasikan paradigma pendidikan horizontal dan vertikal
tersebut tidak lain adalah untuk membentuk manusia yang terbebas dari
ketindasan dan kebodohan serta biadab. Hal ini sebagaimana tujuan pendidikan
yang tidak hanya sekedar transfer of knowledge (transfer ilmu pengerahuan) akan
tetapi juga tranfer of value (tranfer nilai).
Secara sederhana, fungsi pendidikan adalah untuk menjadikan manusia
yang tidak mudah dibodohi dan tidak mau membodohi. Tidak mudah dibodohi
artinya bahwa manusia itu memiliki kecerdasan intelektual yang dengannya
manusia mampu berfikir kritis, sementara tidak membodohi adalah bahwa
manusia yang berpendidikan itu memiliki moral dan etika yang mulia sehingga
menjadi manusia yang mulia pula serta mampu mengenal Tuhannya.

5
Kondisi pendidikan di Indonesia harus mulai diarahkan pada peningkatan
kesadaran peserta didik dalam memandang objek yang ada, peran pendidik yang
sangat dominan dan otoriter harus dikurangi, peranan pemerintahpun dalam
mengacak – acak kurikulum harus dikaji secara cermat, kalaupun itu harus
dilakukan maka terlebih dahulu harus dilakukan penyerapan aspirasi secara
demokratis.
Oleh karena itu pendidikan memiliki peran yang sangat strategis dalam
mencapai manusia seutuhnya. Sehingga pendidikan harus berlangsung sepanjang
hayat (long life education) sehingga manusia bisa terus dapat menyesuaikan diri
agar dapat hidup secara wajar dalam lingkungan masyarakat yang selalu berubah.

C. Inti Proses Pembebasan


Freire mendeskripsikan Conscientientizaco sebagai sebuah proses untuk
menjadi manusia yang selengkapnya. Proses perkembangan ini dapat dibagi
menjadi tiga fase; kesadaran magis (magical consciousness), naif (naival
consciousness) dan kritis (critical consciousness).Kesadaran magis yaitu suatu
kesadaran masyarakat yang tidak mampu melihat kaitan antara satu faktor dengan
faktor lainnya. Misalnya masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan
antara kemiskinan mereka dengan sistem politik dan kebudayaan. Kesadaran
magis lebih melihat faktor di luar manusia (natural maupun supra natural) sebagai
penyebab dan ketidakberdayaan. Kesadaran naif, keadaan yang dikategorikan
dalam kesadaran ini adalah lebih melihat aspek manusia menjadi akar penyebab
masalah masyarakat. Sedangkan kesadaran kritis lebih melihat aspek dan struktur
sebagai sumber masalah. Pendekatan struktural menghindari "blaming the
victims" dan
lebih menganalisis. Untuk selanjutnya secara kritis menyadari struktur dan sistem
sosial, politik, ekonomi budaya dan akibatnya pada keadaan masyarakat.
Proses penyadaran ini merupakan proses yang bersifat internal dan
psikologis, dan perubahan-perubahan bagaimana individu-individu memahami
dunia mereka, atau setidaknya aspek-aspek sosio-politik dunia mereka. Perlu
ditegaskan bahwa perubahan-perubahan internal semacam itu memiliki

6
manifestasi eksternal yang signifikan. Apakah perilaku individu-individu berubah
sebagai akibat cara berfikir yang berubah. Jika tingkat kesadaran ini bisa diukur,
maka pertanyaan menjadi penting, tetap belum bisa dijawab.
Penyadaran pada umumnya, dan Conscientientizaco pada khususnya,
memperhatikan perubahan-perubahan hubungan antarmanusia yang akan
memperbaiki penyelewengan manusia. Conscientientizaco bukanlah teknik untuk
transfer informasi, atau bahkan untuk pelatihan keterampilan, tetapi merupakan
proses dialogis yang mengantarkan individu-individu secara bersama-sama untuk
memecahkan masalah – masalah eksistensial mereka. Conscientientizaco
mengemban tugas pembebasan, dan pembebasan itu berarti penciptaan norma,
aturan, prosedur dan kebijakan baru. Pembebasan bermakna transformasi atas
sebuah sistem realitas yang saling terkait dan kompleks, serta reformasi beberapa
individu untuk mereduksi konsekuensi-konsekuensi negatif dari perilakunya.
Pembebasan hanya bisa dilakukan dalam artian yang sesungguhnya jika
seseorang memang benar-benar telah menyadari realitas dirinya sendiri dan dunia
sekitarnya, tidak pernah mampu mengenali apa yang sesungguhnya ia ingin
lakukan, tidak akan pernah dapat memahami apa yang sesungguhnya yang ia
ingin capai. Jadi sangatlah mustahil memahamkan seseorang bahwa ia harus
mampu, dan pada hakikatnya memang mampu, memahami realitas dirinya dan
dunia sekitarnya sebelum ia sendiri benar-benar sadar bahwa kemampuan itu
adalah fitrah kemanusiaan dan bahwa pemahaman itu sendiri adalah penting
dan mungkin baginya.
Dengan kata lain, langkah awal yang paling menentukan dalam upaya
pendidikan pembebasannya Freire yakni suatu proses yang terus menerus, suatu
"commencement", yang selalu "mulai dan mulai lagi", maka proses penyadaran
akan selalu ada dan merupakan proses yang sebagian (inherent) dalam
keseluruhan proses pendidikan itu sendiri. Maka proses penyadaran merupakan
proses inti atau hakikat dari proses pendidikan itu sendiri. Dunia kesadaran
seseorang memang tidak boleh berhenti, mandeg, ia senantiasa harus terus
berproses, berkembang dan meluas, dari satu tahap ke tahap berikutnya, dari
tingkat "kesadaran naïf", sampai ke tingkat "kesadaran kritis", sampai akhirnya

7
mencapai tingkat kesadaran tertinggi dan terdalam, yakni "kesadarannya
kesadaran" (the consice of the consciousness). Jika seseorang sudah mampu
mencapai tingkat kesadaran kritis terhadap realitas, orang itu mulai masuk dalam
proses pengertian dan bukan proses menghafal semata-mata. Orang yang mengerti
bukanlah orang yang menghafal, karena ia menyatakan diri atau sesuatu
berdasarkan suatu "sistem kesadaran", sedangkan orang yang menghafal hanya
menyatakan diri atau sesuatu secara mekanis tanpa (perlu) sadar apa yang
dikatakannya, dari mana i a telah menerima hafalan yang dinyatakannya itu, dan
untuk apa ia menyatakannya kembali pada saat tersebut.

D. Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan merupakan masalah sentral dalam pendidikan. Tujuan
utama pendidikan menurut Freire adalah conscientizacao, konsientisasi,
penyadaran.Yaitu peningkatan menuju kesadaran kritis sebagai fase kesadaran
tertinggi. Kata konsientisasi berasal dari bahasa Brazil conscientizacao, suatu
proses di mana manusia berpartisipasi secara kritis dalam aksi perubahan, tidak
seharusnya dipahami sebagai manipulasi kaum idealis. Bahkan jika visi kita
mengenai konsientasi bersifat dialogis, bukan subjektif atau mekanistik, maka kita
tidak dapat memberi label pada kesadaran ini dengan sebuah peran yang tidak
dimilikinya, yakni peran untuk melakukan perubahan terhadap dunia.
Munculnya kesadaran kritis manusia tidak bisa dipisahkan dari proses
dialog yang sejati, yang tentu saja melibatkan pemikiran kritis yaitu pemikiran
yang melihat suatu hubungan tak terpisahkan antara manusia dan dunia tanpa
melakukan dikotomi antara keduanya. Pemikiran kritis melihat realitas
sebagai proses dan perubahan, bukannya entitas yang statis.30 Oleh karenanya
pemikiran kritis tidak memisahkan dirinya dari tindakan, akan tetapi senantiasa
bergumul dengan masalah-masalah dunia tanpa gentar dan selalu siap
menghadapi resiko dalam kondisi bagaimanapun.
Untuk meningkatkan kesadaran menuju ke kesadaran tertinggi yakni
kesadaran kritis, yang dilakukan Freire adalah dengan melakukan pemilihan

8
tema-tema generatif,31 yang merupakan upaya aktualisasi realitas rakyat secara
sederhana, menggunakan bahasa rakyat dan sudut pandang mereka. Pemilihan
tema-tema tersebut akan mempermudah rakyat dalam memahami persoalan
yang dihadapinya. Oleh karenanya pemilihan dan pemilahan tema-tema
tersebut dilakukan bersama dengan rakyat dalam proses yang dialogis.
Setelah pemilihan dan pemilahan tema-tema generatif yang disesuaikan
dengan realitas obyektif, keinginan dan kebutuhan-kebutuhan rakyat- mereka
kemudian dirangkaikan dengan kodifikasi, yaitu fisualisasi tema-tema terpilih
secara eksternal. Artinya memberi pemahaman diri bersama rakyat atas realitas
secara lebih mendalam, mendetail, dan memiliki kemampuan untuk menguak
hal-hal substansial yang melingkupinya.
Ketajaman pemilihan dan pemilahan tema-tema generatif serta kodifikasi
yang dilakukan bersama rakyat, akan mengantarkan rakyat kepada pemahaman
diri rakyat dan realitasnya secara utuh dan lengkap bahwa ia ada dalam dan
bersama dengan dunia yang oleh karenanya ia bertanggung jawab atas proses
kemanusiannya sendiri tanpa harus menggantungkan diri pada orang lain (dalam
hal ini adalah kaum penindas). Akhirnya kesadaran rakyat akan semakin
meningkat dan semakin kritis, sebagai bentuk tertinggi dari tingkat kesadaran
yang dibangun dan sekaligus dicita-citakan Freire, sehingga dengan sendirinya
akan mengurangi bahkan bisa jadi dapat menghilangkan struktur penindas dan
yang tertindas secara gradual dan alamiah.
Dalam pelaksanaannya konsep tersebut terdiri dari tiga tahapan utama:
1. Tahap kodifikasi dan dekodifikasi, merupakan tahap pendidikan mereka
huruf elementer dalam konteks konkrit dan konteks teoritis (melalui
gambar-gambar, cerita rakyat dan sebagainya)
2. Tahap diskusi kultural, merupakan tahap lanjutan dalam satuan
kelompok-kelompok kerja kecil yang sifatnya problematis dengan
menggunakan kata-kata kunci (generatif words)

9
3. Tahap aksi kultural, merupakan tahap praksis yang sesungguhnya, di
mana tindakan setiap orang atau kelompok menjadi bagian langsung
dari realitas.

10
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
 Pendidikan adalah upaya untuk terbebas dari kebodohan, kemiskinan dan
kesenjangan sosial.
 Dengan pendidikan manusia akan menjadi tahu tentang berbagai hal, jadi
mereka terbebas dari ketidaktahuan (kebodohan)
 Tujuan pendidikan adalah menciptakan manusia yang bisa melangsungkan
hidupnya dengan baik.
 Tujuan pendidikan yang membebaskan pada hakekatnya adalah fitrah yang
sejalan-dengan hukum-hukum alam. Setiap orang berupaya menjadi
manusia sejati yang harus terwujud melalui dunia pendidikan. Lembaga
pendidikan sebagai wahana pengembangan ilmu dalam arti luas.
3.2 Saran
Agar pemerintah lebih meningkatkan program pendidikan dikalangan
masyarakat dan memberikan program beasisiwa kepada masyarakat yang kurang
mampu.

11