Anda di halaman 1dari 42

Strategi Indonesia

Menghadapi Turbulensi
Perekonomian Dunia
2020

Malam Silaturahmi ISEI


Jakarta, 1 November 2019

KEMENTERIAN KEUANGAN 0
Outline
1 Perekonomian
3Strategi
Terkini
Implementasi
APBN 2020

2 Kebijakan
APBN 2020
KEMENTERIAN KEUANGAN

Perekonomian
Terkini
Perekonomian Global menghadapi
ketidakpastian, berdampak pada
pelemahan ekonomi di banyak negara
termasuk perekonomian domestik
RISIKO GLOBAL
• Stimulus ECB

• Perlambatan Ekonomi
• Perang Tarif dengan US

Mitigasi Non Deal Brexit :


• Proyeksi defisit akan melebar
• Krisis politik di Hongkong akibat
• Ancaman resesi 2020
demonstrasi yang terus berlanjut
• Perang tarif dengan US

• Stimulus PBOC melalui tambahan

UK likuiditas 200 miliar yuan melalui


pinjaman ke sistem perbankan
dengan tenor 1 tahun

US EUROZONE
Japan Perang
China
South Korea Dagang

• Belum tercapai kesepakatan Vietnam


perdagangan antara US dan China Ekuador Krisis Politik akibat Ancaman downgrade karena
• Ancaman impeachment Trump oleh penghapusan permasalahan institusional
Kongres subsidi yang berdampak
keterlambatan pembayaran
• Stimulus moneter The Fed dengan kewajiban utang
penurunan 25 bps menyebabkan
pelonggaran likuiditas global
Argentina Ketegangan di Timur Tengah:
• Serangan Turki ke pemberontak Kurdi dukungan US di
Suriah
• Serangan terhadap tanker minyak Iran (dikhawatirkan
memicu serangan balasan)
Resesi • Penempatan pasukan tambahan US di Arab Saudi yang
dpt dianggap sbg persiapan serangan ke Iran
• Demonstrasi di Irak menuntut perbaikan kondisi
ekonomi
3
Ekonomi global
tumbuh terendah Pertumbuhan
sejak krisis ekonomi 3,4% 3,8% 3,6% 3,0% 3,4%
keuangan global global
2008 Dengan risiko
turun

2016 2017 2018 Proyeksi 2019 Proyeksi 2020


• Proyeksi pertumbuhan
ekonomi global terus direvisi
Pertumbuhan
ke bawah. Dalam 1 tahun volume 2,2 3,2
terakhir, proyeksi perdagangan 5,5% 3,6% 1,1%
% %
pertumbuhan global 2019
turun 0,7 percentage point.
global
Dengan risiko
• Perlambatan terjadi baik di Sumber: WEO October, IMF
turun
negara maju maupun negara
berkembang, termasuk mitra
dagang utama Indonesia.
Risiko global
• Perlambatan direspon dengan
penurunan suku bunga dan yang harus Penurunan
Perang Resesi Tensi
kebijakan fiskal ekspansif. diwaspadai Manufaktur &
Dagang Ekonomi Geopolitik
Investasi 4
Outlook Pertumbuhan Global
Terus Terkoreksi
Perlambatan
3.6
Pertumbuhan Ekonomi 3.8 3.3
3.4
Terjadi di Banyak Negara
3.6

Sumber: IMF
3.0

Lemahnya Perang Melambatnya Tensi


2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019e 2020f
perdagangan dagang Aktivitas geopolitik WEO Apr 2019 WEO Jul 2019 WEO Okt 2019
manufaktur

Sumber: Bloomberg
8.0
7.1
6.8 6.8
6.3 6.2

5.3 5.5
5.1 5.0 4.9
4.5 4.7
4.2

3.2

2.3 2.1 2.3 2.3


1.5
1.2 1.3 1.3 1.0
0.4 0.1

AS Jerman Tiongkok Indonesia Singapura Vietnam Eropa Inggris Jepang India Malaysia Thailand Filipina

Sumber: Bloomberg 2018 Q1 2018 Q2 2018 Q3 2018 Q4 2019 Q1 2019 Q2


KEMENTERIAN KEUANGAN 5
TRANSMISI RISIKO Perlambatan ekonomi global
KE DOMESTIK berdampak ke perekonomian Indonesia
Aliran Modal ke Indonesia (miliar dolar) lewat 3 jalur:
Quantitative easing taper tantrum Normalisasi suku bunga
10

5 Pasar finansial
0

-5
Aliran modal ke Indonesia dipengaruhi
oleh kebijakan moneter negara maju
2014
2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2015

2016

2017

2018

2019*
Sumber: Haver, *) Agustus
Perkembangan FDI (USD miliar)
Penanaman Modal Asing (FDI)
Sentimen negatif global dapat
2013
2007

2008

2009

2010

2011

2012

2014

2015

2016

2017

2018

Sem 1
2019
mempengaruhi investor confidence
Sumber: Bank Indonesia
Neraca Perdagangan (USD miliar)
30
20
10
0
Perdagangan
-10
-20
Kinerja neraca non migas tertekan,
defisit neraca migas masih tinggi
2007

2008

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

2017

2018

Sd. Sept-2019

Sumber: BPS Nonmigas Migas Neraca Perdagangan 6


Di tengah Pertumbuhan Ekonomi (%, yoy)

perlambatan ekonomi 5.4


5.3

global, fundamental 5.2


5.1
5.03 5.07
5.17
5.06
ekonomi Indonesia
5.0
4.9
4.88
4.8

masih sehat ditopang 4.7


4.6

oleh permintaan 4.5


4.4
4.74 5.21 5.01 5.27 5.05

Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2 Q3 Q4 Q1 Q2
domestik. 2015 2016 2017 2018 2019

Inflasi (%, yoy)


Ekonomi Indonesia masih
mampu tumbuh 5,05 persen 7
6
di Q2-2019 didorong oleh 3.35
5 3.02
permintaan domestik yang 3.61
4 3.13 3.39
kuat dan kinerja positif lintas 3
sektor, khususnya sektor jasa. 2
1
Inflasi juga berada di level 0

Jan
Jan

Jan

Jan

Jan
Sep

Sep

Sep

Sep

Sep
Mei

Mei

Mei

Mei

Mei
Jul

Jul

Jul

Jul

Jul
Mar

Nov

Nov

Nov

Nov
Mar

Mar

Mar

Mar
terkendali untuk mendukung
stabilitas konsumsi sebagai 2015 2016 2017 2018 2019
mesin utama pertumbuhan
ekonomi. Sumber: CEIC dan Kemenkeu
7
Kue ekonomi didominasi permintaan domestik
Konsumsi RT dan investasi sebagai engine of growth
Konsumsi Pemerintah • Kondisi global volatile ekspor Indonesia tertekan
Rata2 2006-2018: 5,1%
2015: 5.3
• Sumber pertumbuhan Indonesia adalah perekonomian domestik
2016: -0.1 (konsumsi RT, konsumsi pemerintah, dan investasi )
2017: 2.1
2018: 4.8 Arah kebijakan:
PMTB
2019 S1: 6.9 7.6 Rata2 2006-2018: 6,5% •Menjaga konsumsi dan
2015: 5.3
Konsumsi RT dan LNPRT 31.7 2016: -0.1 daya beli RT, stabilitas
Rata2 2006-2018:5,1%
2015: 4.8
2017: 2.1 pasokan dan harga.
2016:5.0
2018: 4.8 •Mendorong investasi
2019 S1: 6.9
2017: 5.0 dengan insentif fiskal, peran
2018: 5.1
2019 S1: 5.3
Net Ekspor kuasi-fiskal, dan partisipasi
57.6 3.7 -0.6
Ekspor Impor
swasta.
Rata2 2006-2018: Rata2 2006- •Mendorong ekspor sektor
5,0% 2018: 5,0% manufaktur dan
2015: -2.1 2015: -6.2
2016: -1.7 2016: -2.4 menggalakkan pariwisata.
2017: 8.9 2017: 8.1
AGGREGATE DEMAND 2018: 6.5 2018: 12.0
2019 S1: -1.8 2019 S1: -7.0 8
Pertumbuhan ekonomi sektoral
AGGREGATE SUPPLY
2015 2016 2017 2018 2019 -S1
Perubahan share Share
Pertanian 3.8 3.4 3.9 3.9 3.7 Sektor
2006-2015 (%) 2019 S1 (%)
Pertambangan -3.4 0.9 0.7 2.2 0.8
Primer -2,8 20,7
Industri 4.3 4.3 4.3 4.3 3.7
Konstruksi 6.4 5.2 6.8 6.1 5.8 Sekunder -3,6 31,7
Perdagangan 2.5 4.0 4.5 5.0 4.9 Tersier 3,2 44,1
Transportasi 6.7 7.4 8.5 7.0 5.5
Lain-lain 3,2 3,7
Akomodasi 4.3 5.2 5.4 5.7 5.7
Informasi dan Komunikasi 9.7 8.9 9.6 7.0 9.3
Jasa Keuangan 8.6 8.9 5.5 4.2 5.9
PDB 4.9 5.0 5.1 5.2 5.1

• Sektor pertanian, industri dan perdagangan selalu tumbuh di bawah rata-rata nasional,
padahal total kontribusi terhadap PDB sebesar 46%
• Pertumbuhan sektor pertambangan fluktuatif seiring pergerakan harga komoditas
• Sektor jasa selalu tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan nasional
9
KEMENTERIAN KEUANGAN
Defisit Neraca Berjalan masih menjadi tantangan
Transaksi Berjalan (USD miliar)
• Defisit transaksi berjalan masih lebar antara lain
0
2015 2016 2017 2018 S-1 2019
disebabkan penurunan surplus neraca
-0.2
perdagangan serta meningkatnya defisit neraca
-5 jasa dan pendapatan primer.
-0.7 • Peningkatan daya saing menjadi kunci utama
-10 untuk perbaikan kinerja transaksi berjalan.
-1.2 • Neraca transaksi modal dan finansial masih
-15.4
-15 -16.2 mampu mencatatkan surplus. Namun, pada di
-17.5 -17
-1.6
-1.7
tengah gejolak ekonomi global yang tinggi,
-20 -2.0 Indonesia harus waspada terhadap risiko
-1.8
pengetatan likuiditas ketat.
-2.2
-25
Rasio terhadap PDB (%) • Indonesia harus terus memperkuat sumber
pembiayaan yang lebih sustainable seperti FDI.
-30 -31.2 -2.7 Untuk itu, iklim investasi akan terus diperbaiki.
-2.8

-35 -3.0 -3.2


10
Pelemahan Ekonomi
Juga tercermin pada melambatnya penerimaan pajak dari beberapa sektor usaha dan jenis pajak

Realisasi Pajak & Kontribusinya berdasarkan sektor Realisasi Pajak & Kontribusinya berdasarkan jenis pajak
(s.d 30 September 2019) (s.d 30 September 2019)

KEMENTERIAN KEUANGAN 11
Kinerja Belanja KL s.d. Triwulan III 2019
memiliki penyerapan yang lebih tinggi dibanding tahun-tahun sebelumnya

Kinerja Penyerapan 10 KL Terbesar s.d September, 2017-2019


persen thd APBN/P

Realisasi Belanja KL s.d September, 2015-2019 48.5


KEMEN PU PERA
Triliun Rp % APBN
1,200.0 70.0 66.4
65.0 KEMENHAN
60.4
76.8
55.8 56.4 60.0 POLRI
1,000.0
48.4
68.0
50.0 KEMENAG
800.0
83.3
40.0 KEMENSOS

600.0
75.3
30.0 KEMENKES

847.4 855.4 60.8


400.0 795.5 767.8 798.6 KEMENKEU
20.0

511.5 556.1 50.4


200.0 428.6 450.2 KEMENHUB
384.7 10.0
68.6
KEMENRISTEK DIKTI
- -
2015 2016 2017 2018 2019 61.4
KEMENDIKBUD
APBN/APBNP Real. s.d 30 September % thd APBN/APBNP
- 5.0 10.0 15.0 20.0 25.0 30.0 35.0 40.0 45.0 50.0 55.0 60.0 65.0 70.0 75.0 80.0 85.0 90.0

2019 2018 2017


12
Belanja K/L akan terus didorong agar tetap on track dan produktif dalam mendorong pertumbuhan
ekonomi dan peningkatan kesejahteraan  instrumen counter cyclical
Belanja pegawai K/L s.d 30 September 2019 mencapai Belanja Barang K/L s.d. 30 September mencapai
82,3%, lebih tinggi dibanding 4 tahun terakhir 59,2%, lebih tinggi dibanding 4 tahun terakhir
Triliun Rp Persen Triliun Rupiah Persen
• Membiayai
59.2
200 72.8 72.6 67.2 72.5
82.3
• Mendukung 180 52.5
56.3 57.3 63 operasional
80
reformasi 160 56 pelayanan publik
140 41.7 49
130 birokrasi 120 42
184.7 20
150.3
164.8 100
194.0 204.2 35 • Kebutuhan
133.7 80 166.6 28
151.7 • Peningkatan 159.1 sarana prasarana
60 60 108.2 21
-40
kualitas 40 14 publik (rumah
pelayanan 20 7 MBR, alat mesin
0 0
-10
2015 2016 2017 2018 2019
-100
publik 2015 2016 2017 2018 2019
pertanian,
pemeliharaan
Realisasi s.d 30 September % thd Pagu Realisasi s.d 30 September % thd Pagu
jalan, dll)

Realisasi Belanja Modal K/L s.d 30 September mencapai Belanja Bantuan Sosial K/L s.d. 30 September 2019
42,5%, relatif sama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya mencapai 89,5%, lebih tinggi dibanding 4 tahun terakhir

Triliun Rupiah Persen • Meningkatkan Triliun Rupiah Persen

produktivitas
100 40.0 40.3 44.1 42.5 100 89.5 100
30.4 81.2
• Meningkatkan
0 80 80 • Penurunan
75 iklim investasi 66.4
52.3
58.6
kemiskinan
60 60
50 • Mendorong
90.6 89.9
76.8 82.6 80.4 -200 pertumbuhan 40 66.1 40 • Peningkatan
25 ekonomi & 20
62.8 86.9
20
kesejahteraan
investasi 25.8 32.0
0 -400 pemerintah 0 0
2015 2016 2017 2018 2019 2015 2016 2017 2018 2019
(jalan, waduk,
Realisasi s.d 30 September % thd Pagu jembatan, dll) Realisasi s.d 30 September % thd Pagu

KEMENTERIAN KEUANGAN 13
Penting menjaga stabilitas domestik
di tengah ketidakpastian global

Menjaga konsumsi Meningkatkan daya Melakukan reformasi Meningkatkan kualitas


sebagai mesin utama saing untuk menarik FDI struktural dan menjaga sumber daya manusia
pertumbuhan ekonomi dan menggenjot ekspor stabilitas ekonomi-politik sebagai aktor ekonomi
Indonesia

APBN sebagai instrumen kebijakan fiskal untuk mendukung


perekonomian melalui fungsi alokasi, distribusi, dan stabilisasi
KEMENTERIAN KEUANGAN 14
Pemerintah akan Mengoptimalkan
peran Kebijakan Fiskal & APBN di
Alokasi
Tengah Ketidakpastian Global Sumber Daya
• Belanja yang berkualitas,
produktif dan mendukung
Stabilitas pembangunan
• Prioritas pada belanja
3 FUNGSI UTAMA Makroekonomi infrastruktur dan SDM
• Tingkat defisit dan utang yang • Penyediaan layanan publik yang
KEBIJAKAN FISKAL & terkendali memadai
APBN • Pembiayaan yang pruden
• Mitigasi risiko bencanadan
pengembangan sumber daya Distribusi
STABILITAS terbarukan
• Penguatan fiscal buffer Pendapatan
• Optimalisasi penerimaan
• Kebijakan perpajakan yang adil
• Program-program bantuan
DISTRIBUSI sosial yang tepat sasaran
• Penguatan desentralisasi fiskal

ALOKASI
15
Outlook

KEMENTERIAN KEUANGAN 16
KEMENTERIAN KEUANGAN

Kebijakan
APBN 2020
APBN tahun 2020 diarahkan untuk
mendukung penguatan daya saing
dan sumber daya manusia
Arahan Presiden
pada Pelantikan Tanggal 20
Oktober 2019 Penyederhanaan segala
bentuk kendala regulasi
● Mengajak DPR untuk menerbitkan 2 undang-
Pembangunan undang besar, yaitu:
 UU Cipta Lapangan Kerja

Infrastruktur  UU Pemberdayaan UMKM Penyederhanaan


● UU tersebut merevisi UU menghambat
● Pembangunan infrastruktur terus dilanjutkan tercapainya lapangan kerja dan UMKM Birokrasi
untuk mendukung aktivitas masyarakat ● Memotong birokrasi yang panjang dan
● Termasuk pembangunan infrastruktur untuk penyederhanaan eselonisasi
mendukung pengembangan perekonomian ● Membuat eselon menjadi dua level
dan kemudahan aksesibilitas. saja, dengan tingkat fungsional yang
menghargai kompetensi dan keahlian.

Pembangunan
SDM Transformasi
● Prioritas utama merespons
Ekonomi
5
bonus demografi
● Menciptakan generasi pekerja
keras, dinamis, & menguasai ● Dari ekonomi yang tergantung
IPTEK pada SDA menjadi ekonomi
● Perlunya endowment fund untuk dengan daya saing manufaktur dan
manajemen SDM jasa modern yang mempunyai nilai
● Kerja sama dengan industri PROGRAM PRIORITAS tambah tinggi.

KEMENTERIAN KEUANGAN 18
KEMENTERIAN KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
VISI INDONESIA 2045:
MENJADI NEGARA MAJU

KEMENTERIAN KEUANGAN 19
Indikator Ekonomi Makro dan Pembangunan Tahun 2020
memperhatikan perkembangan perekonomian dan prospek serta risiko ke depan

Indikator
Ekonomi Makro
Terdapat perubahan pada harga
dan lifting minyak dengan
mempertimbangan harga minyak
dunia dan prospek lifting minyak
ke depan
5,3 3,1 14.400 5,4 63 755 1.191

Target
Pengangguran (%) Kemiskinan (%)
Pembangunan Gini Rasio (indeks) Indeks Pembangunan
Manusia
Upaya meningkatkan
kesejahteraan a.l ditunjukkan
dengan kesepakatan untuk 4,8 – 5,0 8,5 – 9,0 0,375 – 0,380 72,51
menurunkan target tingkat
pengangguran di dalam APBN
2020

KEMENTERIAN KEUANGAN 20
Postur
APBN 2020
diarahkan untuk
mendukung pencapaian
sasaran pembangunan
namun tetap mampu
adaptif menghadapi risiko
perekonomian

KEMENTERIAN KEUANGAN 21
APBN 2020 terus dijaga agar mendukung
pertumbuhan namun tetap pruden
 Rasio defisit terhadap PDB
Defisit APBN tahun 2020 terendah dalam
Tahun 2020 dijaga lima tahun terakhir
1,76% PDB  Defisit Kesimbangan Primer
diarahkan semakin diturunkan bertahap ke arah
sehat dan adaptif positif
menghadapi risiko
perekonomian  Penerimaan perpajakan untuk
mendukung daya saing
 Belanja Negara semakin fokus
pada program yang produktif
Optimalisasi Tax Ratio  Pembiayaan anggaran semakin
penerimaan 11.6 menurun dimanfaatkan untuk
11.6
negara 10.8
11.4 11.1 mendukung peningkatan daya
10.7
disertai dengan target saing
yang realistis
2015 2016 2017 2018 Outlook 2019 APBN 2020

22
Kebijakan Penerimaan Negara
Optimalisasi penerimaan negara disertai dukungan terhadap perekonomian,
dunia usaha melalui insentif fiskal, dan peningkatan layanan kepada masyarakat

Kebijakan Perpajakan Kebijakan PNBP


Pengelolaan dan Pemanfaatan SDA yang Optimal, Efektif dan Efisien
Meningkatkankepatuhan Perbaikan kualitas  Penyempurnaan regulasi dan kontrak.
wajibpajak pelayanan, penyuluhan,  Efisiensi kegiatan.
dan pengawasan melalui  Peningkatan kepatuhan dan intensifikasi pengawasan.
Ekstensifikasibarang penguatan sistem ITdan
kena cukai dan administrasi perpajakan
Penyesuaian tarifcukai Peningkatan Pelayanan dan Penyesuaian Tarif
hasil tembakau Implementasi  Mempertimbangkan daya beli dan pengembangan dunia usaha.
Keterbukaan Informasi  Optimalisasi pengelolaan Barang Milik Negara (BMN).
Mengurangi tingkat
Perpajakan (AEoI)
penyelundupan dan
Pengembangan/ Peningkatan Efisiensi BUMN dan Kinerja BLU
Menurunkan dwelling  Mempertimbangkan cashflow BUMN dan kemampuan keuangan BUMN.
perluasan fasilitas time/waktu bongkar
KITE dan IKM  Pengembangan usaha dan penugasan Pemerintah.
muat kapal  Pelayanan BLU yang lebih profesional.
PPh dan PPN menjadi
instrumen yang
mendukung iklim Penyempurnaan Tata Kelola
investasi dan daya  implementasi UU PNBP dan penyempurnaan regulasi pelaksanaan UU
saing PNBP.
 Perluasan penggunaan teknologi informasi dalam rangka pelaksanaan
Legal Administrasi dan peningkatan pelayanan.
23
Insentif Fiskal untuk Mendorong Investasi
Kebijakan perpajakan juga diarahkan untuk mendorong investasi melalui fasilitas perpajakan dan bea dan cukai

Fasilitas Pajak Fasilitas PPN


Penghasilan • Penguragan PPN:
Insentif Fiskal • Barang Modal
dalam pipeline: • Tax Holiday
• Pelayanan kesehatan dan
• Tax Allowance
Pendidikan
• Super Deduction Padat • Pengurangan pajak • Pelayanan Sosial
Karya penghasilan impor • Jasa ekspor
Mendorong Peran • Super Deduction
Swasta dalam Investasi untuk R&D and
Padat Karya vocational training

• Omnibus Law
Mendorong Investasi
dan dunia usaha melalui
penurunan tarif PPh
badan Fasilitas
Bea & Cukai Fasilitas Khusus
• Pembebasan bea masuk impor • Fasilitas di Kawasan Ekonomi
untuk barang modalKITE Khusus (KEK)
• Bonded Storage Area • Fasilitas di kawasan industri
• Bea masuk ditanggung • Free Trade Zone
pemerintah
24
Fokus Belanja Pemerintah Pusat Tahun 2020 untuk mendukung pelaksanaan
prioritas pembangunan dan penyelenggaraan Pemerintah  efisien dan efektif

01 03
SDM yang berkualitas AKSELERASI PEMBANGUNAN
• Peningkatan produktivitas/daya saing SDM INFRASTRUKTUR
• Perluasan akses pendidikan, peningkatan
skill, enterpreneurship, ICT, penelitian
1 3 • Meningkatkan daya saing investasi dan
ekspor
• Percepatan pengurangan stunting, • Mendukung tranformasi industrialisasi
promotif preventif, program jaminan • Mendorong skema pembiayaan kreatif
kesehatan nasional
2 4 (KPBU: VGF atau AP)

Anggaran Pendidikan Rp508,1 T


Anggaran Kesehatan Rp132,2 T
5 Anggaran Infrastruktur
Rp423,3 T

02 05 04
PENGUATAN PROGRAM ANTISIPASI BIROKRASI YANG EFISIEN,
PERLINDUNGAN SOSIAL KETIDAKPASTIAN EKONOMI MELAYANI, DAN BEBAS
• Mengakselerasi pengentasan kemiskinan GLOBAL & DOMESTIK KORUPSI
• Peningkatan akurasi data dan perbaikan • Mitigasi risiko bencana, pelestarian • Mendorong efektivitas birokrasi
penyaluran, lingkungan, dan pengembangan Energi • Menjaga tingkat kesejahteraan aparatur
• Sinergi/sinkronisasi antar program Baru Dan Terbarukan dan pensiunan
• Subsidi yang tepat sasaran dan efektif • Penguatan cadangan risiko fiskal • Birokrasi yang berbasis kemajuan ICT

Anggaran Perlindungan Anggaran Birokrasi


Sosial Rp372,5 T Rp261,3 T
KEMENTERIAN KEUANGAN 25
Pendidikan Usia Dini Pendidikan Dasar Pendidikan Tinggi

APBN untuk • BOP PAUD • Kartu Indonesia Pintar • KIP Kuliah


(DAK Non Fisik) (SD/SMP/SMA sederajat) • Rp 6,7 T
mempersiapkan • Rp 4,5 T • Rp 11,2 T
• 20,1 juta jiwa
• 818,1 ribu mahasiswa
• Beasiswa LPDP (S2/S3)
• 7,4 juta anak
generasi muda • Bantuan Operasional
Sekolah
• Rp 1,8 T
• 5.000 mahasiswa baru
untuk peningkatan • Rp 63,0 T dan 12.333 mahasiswa
• 54,6 juta jiwa
kualitas SDM lanjutan

• Sarpras PAUD • Bangun/Rehab Ruang Kelas • Bangun/Rehab Kampus


• Rp 307,6 M • Rp 7,8 T • Rp 4,4 T
diarahkan untuk peningkatan kualitas • 5.841 ruang kelas • 15,1 ribu ruang kelas • 87 kampus
SDM sebagai bagian mewujudkan dan 2.677 sekolah
kesejahteraan dan keadilan rakyat

• Riset oleh LPDP • Riset oleh Kemenristekdikti


• Rp 284,1 M • Rp 1,5 T
Anggaran Pendidikan • 104 riset • 1.450 riset

Rp508,1 T • Tunjangan Profesi Guru PNS


• Rp 63,5 T
• Tunjangan Profesi Guru Non
PNS
• 1,3 juta guru • Rp 10,7 T
• 407,7 ribu guru

KEMENTERIAN KEUANGAN 26
Insentif Baru:
Super Deduction
(PP 45 Tahun 2019)
Selain melalui
belanja APBN,
Pelatihan Proyek Padat
Swasta digandeng R&D Vokasional Karya
untuk peningkatan
kualitas SDM
melalui instrumen
pajak untuk
mendorong daya 300% 200% 60%
saing Pengurangan pendapatan Pengurangan pendapatan Pengurangan pendapatan
kotor paling banyak 300% kotor paling banyak 200% bersih sebesar 60% dari total
dari biaya aktivitas R&D dari total biaya aktivitas investasi untuk industri
activities yang dilakukan di vokasional. padat karya.
Indonesia

KEMENTERIAN KEUANGAN 27
KEMENTERIAN KEUANGAN 28
Peningkatan Kesejahteraan
APBN Tahun 2020 Program Keluarga Harapan
Rp29,1 T Pemberdayaan Masyarakat
untuk Peningkatan 10,0 juta keluarga miskin Pembiayaan Ultra Mikro
Bantuan Pangan/Kartu Sembako Rp1,0 T bagi 241 rb debitur
Kesejahteraan Rp28,1 T
15,6 juta keluarga miskin
(1,6 juta debitur akumulasi)
Subsidi Bunga Kredit Usaha Rakyat
Masyarakat Rp13,8 T bagi 16,47 juta debitur
(akumulasi)
Bantuan Sosial Usaha Ekonomi Produktif
Berpenghasilan Mendukung Pengembangan Rp270 M bagi 135 ribu KK

Perekonomian Desa
Rendah, Miskin dan Dana Desa
Bantuan untuk Nelayan
a.l. Premi Asuransi Rp33,0 M untuk
170 rb nelayan
Rentan Miskin Rp72,0 T untuk 74.954 desa termasuk:
• 20.588 desa tertinggal
• 6.835 desa sangat tertinggal Akses Perumahan
Subsidi Uang Muka Perumahan
Rp600 M bagi 150 rb Keluarga (MBR)
Peningkatan Produktivitas Subsidi Bunga Kredit Perumahan
Pertanian Rp3,9 T bagi 677 rb Keluarga (MBR)

Rp372,5 T Subsidi Pupuk


Rp26,6 T bagi 16,2 juta petani

KEMENTERIAN KEUANGAN 29
Anggaran
Infrastruktur
Untuk membangun infrastruktur dan daerah terpencil

Rp423,3 T

KEMENTERIAN KEUANGAN 30
Percepatan Pengembangan 5 Destinasi Super Prioritas dilakukan melalui sinergi
lintas K/L dan Pemda
1. Pariwisata  sektor utama pembangunan nasional (visi
Indonesia 2015-2045)

(3) Labuan Bajo


2. Arahan Presiden  infrastruktur di 5 Destinasi Pariwisata Super
Prioritas (Danau Toba, Borobudur, Labuan Bajo, Mandalika,
(1) Danau Toba
dan Likupang) dituntaskan tahun 2020 : tata ruang, akses dan
konektivitas, fasilitas di destinasi wisata, SDM, produk lokal,
dan promosi terintegrasi  sinergi lintas K/L dan Pemda
3. Alokasi anggaran tahun 2020 Rp10,17 T  meningkat 6 kali
(4) Mandalika lipat dari alokasi 2019 (Rp1,69 T)
4. Target Kinerja Kemenpar Tahun 2020, a.l. :
(2) Borobudur - Kontribusi PDB Nasional 4,8%
- Devisa sebesar USD 19-21 Milyar
- Kunjungan Wisman 18,5 juta orang dan Wisnus 312 juta orang
- Jumlah Tenaga Kerja Pariwisata sebanyak 13 juta orang
(5) Likupang

K/L yang terlibat, a.l: Rp10,17 T


1. Kemen PUPR  Rp7,8 T 5. Kemen ESDM  Rp0,05 T
Sumber gambar: persona.travel
2. Kemenhub  Rp1,02 T 6. Kemendes PDTT  Rp0,08 T
3. Kemenpar  Rp1,0 T 7. Kemendikbud  Rp0,05 T
Terdapat tambahan destinasi pariwisata, dari sebelumnya 4 destinasi
(sebagaimana disampaikan dalam Pidato Pengantar RAPBN) menjadi 4. KLHK  Rp0,15 T 8. Bekraf  Rp0,02 T
5 destinasi Catatan: anggaran di atas merupakan anggaran untuk pengembangan 10 destinasi wisata prioritas
KEMENTERIAN KEUANGAN 31
Desentralisasi Fiskal Melalui Transfer Ke
Daerah dan Dana Desa
Dana Transfer Umum Dana Transfer Khusus Dana
DTU Rp544,7 T DTK Rp202,5 T Desa Rp72,0 T

Diserahkan ke daerah, dilaksanakan Dilaksanakan oleh daerah dengan Dilaksanakan oleh Desa dengan arahan
sesuai prioritas dan kebutuhan control, monitoring dan evaluasi dari penggunaan, monitoring dan evaluasi dari
daerah masing-masing K/L Pengampu kemendes PDTT dan kemendagri

PUSAT DAERAH PUSAT DAERAH PUSAT DAERAH


S  Alokasi  Perencanaan
 Alokasi  Perencanaan  Penilaian I  Pengusulan
 Evaluasi  Susun N  Pelaksanaan  Arah  Pelaksanaan
 Pelaksanaan K
APBD  Pertanggung Juknis/ R  Monev Penggunaan  Pertanggung
O
 Monev jawaban Jukop N  Pertanggung  Monev jawaban
I
 Reward &  Monev S jawaban
A
Punishment S
I

KEMENTERIAN KEUANGAN 32
Target Output Dana Transfer Khusus TA 2020
Dana Alokasi Khusus (DAK) FISIK
KEMENDIKBUD & DIKTI KEMENTERIAN PUPR
PENDIDIKAN
• 14.392 Ruang kelas JALAN AIR MINUM
• 7.968 perpustakaan sekolah Jaringan Air Minum 549.266
Pemeliharaan/Peningkatan/ Sambungan Rumah
• 6.779 Laboratorium dan Ruang Praktik Pembangunan Jalan 5.971 Km

IRIGASI SANITASI
KEMENKES & BKKBN Rehabilitasi dan Pembangunan 177.401 Tangki Septik
Irigasi 167.755 Ha 838 Sambungan Rumah
KESEHATAN DAN KB 42 Truk Tinja
• Kesehatan Dasar 6.452 Puskesmas dan 642 RS
• 258 unit Puskesmas DTPK
• 12 Kab/kota Pembangunan RS Pratama PERUMAHAN PERMUKIMAN
• 18 unit Puskesmas Pariwisata Pembangunan/peningkatan kuallitas rumah
49.266 unit

KEMENTERIAN KEUANGAN 33
Target Output Dana Transfer Khusus TA 2020
Dana Alokasi Khusus (DAK) Non Fisik
KEMENDIKBUD & DIKTI KEMENKES & BKKBN

KEMENKOP&UKM

KEMENDAGRI

KEMENPAR

KEMENLHK

KEMENTERIAN KEUANGAN 34
Kebijakan Defisit APBN
Kebijakan fiskal ekspansif sebagai countercyclical
terhadap kondisi ekonomi yang melambat

KEMENTERIAN KEUANGAN 35
KEMENTERIAN KEUANGAN

Strategi Implementasi
APBN 2020

Kementerian Keuangan akan menggunakan


leverage yang dimiliki untuk menciptakan
belanja yang berkualitas di tengah
ketidakpastian global

36
KEBIJAKAN FISKAL
KEMENTERIAN KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA EKONOMI MAKRO PENYEHATAN FISKAL PERBAIKAN NERACA
 Meningkatkan pertumbuhan;  Mobilisasi pendapatan; PEMERINTAH PUSAT
 Mendorong daya saing;  Spending Better;  Peningkatan aset;
 Meningkatkan investasi.  Pembiayaan kreatif dan  Pengendalian Liabilitas
Pengendalian Risiko  Peningkatan Ekuitas

STRATEGI MAKRO FISKAL PERBAIKAN NERACA


PEMERINTAH PUSAT
Mobilisasi Pendapatan yang inovatif untuk
Kerangka Kebijakan 1 pelebaran fiscal space dalam rangka memperkuat
1 ASET
belanja pembentuk aset:
Fiskal:  Reformasi perpajakan +  Mobilisasi pendapatan akan berdampak
 Reformasi PNBP pada pelebaran fiscal space.
+  Pelebaran fiscal space dan spending better
 Insentif fiskal diharapkan dapat meningkatkan aset
•Mencapai Sasaran Makro produktif
Spending Better untuk efisiensi belanja dan
•Penyehatan Fiskal meningkatkan belanja modal pembentuk aset;

•Perbaikan Neraca
2  Penajaman belanja barang 2 LIABILITAS
 Penguatan belanja modal Pelebaran fiscal space dan spending better
Pemerintah Pusat  Reformasi belanja pegawai juga dapat memitigasi risiko di masa depan
 Efektivitas Bansos dan Subsidi - sehingga dapat mengendalikan Liabilitas
 Penguatan kualitas desentralisasi fiskal

Pembiayaan yang kreatif dan mitigasi risiko untuk


3 EKUITAS
mengendalikan liabilitas: Dengan spending better dan pengendalian
3  Pengendalian defisit dan utang
risiko yang solid akan dapat meningkatkan
Ekuitas
 Pembiayaan yang efisien dan kreatif
37
Pentingnya meningkatkan koordinasi dan sinergi
antar K/L serta dengan pemerintah daerah ...
Kemensos
Program Stunting
Perluasan sasaran menjadi
Kemen PUPR Pemda
KEMENKES 260 kab/kota
K/L lainnya

Kemen
Destinasi Wisata Prioritas PUPR
• Dukungan regulasi daerah
Kemenhub Pemda • Kesiapan masyarakat
KEMENPAR
K/L lainnya

Perlindungan Sosial dan TNP2K


Penurunan Kemiskinan Perlunya dukungan
BPS Pemda database akurat dan
Kemensos terpadu
K/L lainnya

KEMENTERIAN KEUANGAN 38
Upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas belanja
Performance-Based Budgeting

KONSEP LAMA KONSEP BARU

Starting Point: Starting Point:


Belanja Tahun Lalu Target Tahun Depan

Target Pendanaan: Target Pendanaan:


Sesuai K/L Sesuai Prioritas Outcome

Pengajuan Belanja oleh K/L: Pengajuan Belanja oleh K/L:


Bagaimana anggaran akan dibelanjakan Proposal untuk mencapai hasil

Perdebatan: Perdebatan:
Belanja apa yang harus dipotong Belanja apa yang harus dipertahankan

KEMENTERIAN KEUANGAN 3
BELANJA YANG LEBIH BERKUALITAS
Upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas belanja

SPENDING BETTER

BELANJA BARANG BELANJA PEGAWAI BELANJA MODAL BANSOS & SUBSIDI

1. Penghematan belanja barang al. 1. Belanja pegawai berpengaruh 1. Refocusing belanja modal untuk 1. Integrasi dan sinergi antarprogram
barang non-operasional (honor, positif terhadap efektivitas kinerja peningkatan kapasitas produksi bansos dan subsidi
bahan, dan ATK), perjalanan dinas pemerintahan dan penurunan dan daya saing al. energi,
dan paket meeting. 2. Bansos yang komprehensif: berbasis
tingkat korupsi pangan, air, penguatan
siklus hidup, antisipasi ageing
2. Penajaman dan sinkronisasi antara konektivitas, dan transportasi
2. Efektivitas birokrasi menjadi kunci population.
K/L & Pemda dalam belanja barang massal
untuk mendorong reformasi fiskal 3. Memperkuat kualitas implementasi
yang diserahkan kepada (pendapatan, belanja, dan 2. Pembatasan pengadaan
masyarakat/Pemda; program (peningkatan ketepatan
pembiayaan) kendaraan bermotor dan
sasaran, pemanfaatan ICT, dan
3. Pemanfaatan hasil efisiensi pembangunan gedung baru
3. Reformasi gaji dan pensiun dapat penguatan monev)
digunakan untuk penguatan dijadikan sebagai instrumen untuk 3. Mendorong agar K/L pro aktif
reformasi birokrasi 4. Mendorong pemberdayaan dan
mendorong efektivitas birokrasi mengembangkan skema
melindungi daya beli masyarakat miskin
pembiayaan kreatif dengan
4. Belanja pegawai didorong dan rentan (sinergi dengan program
memberdayakan peran swasta,
meningkat untuk mendukung kewirausahaan atau ketenagakerjaan)
BUMN/BUMD dan BLU
reformasi birokrasi dan
pertumbuhan ekonomi.

KEMENTERIAN KEUANGAN 40
KEMENTERIAN KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA

Terima Kasih

KEMENTERIAN KEUANGAN 41