Anda di halaman 1dari 3

KRISIS AIR

Beberapa hari terakhir semua media di Tanah Air gencar memberitakan krisis air
bersih yang meluas di sejumlah daerah. Kemarau telah membuat sebagian wilayah
Indonesia dilanda kekeringan, yang kemudian berdampak krisis air.
Diberitakan, apabila sampai awal Oktober belum juga turun hujan, enam dari 16
waduk utama di Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi terancam kekeringan.
Masih terkait dengan air, belum lama ini Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB)
melaporkan bahwa saat ini—untuk pertama kali dalam sejarah peradaban
manusia—jumlah penduduk dunia di perkotaan menempati angka tertinggi: 3,3
miliar jiwa!
Penambahan jumlah penduduk di perkotaan berlangsung sangat cepat, setiap detik
bertambah dua orang. Kondisi itu, antara lain, disebabkan oleh peningkatan secara
alami populasi perkotaan (50 persen), reklasifikasi dari area pedesaan menjadi
area perkotaan (25 persen), dan karena urbanisasi (25 persen).
Pesatnya pertumbuhan penduduk kota membawa konsekuensi makin beratnya
beban negara dalam menyediakan berbagai kebutuhan sosial dasar penduduk.
Salah satu di antaranya adalah kebutuhan air bersih dan sanitasi. Banyak negara di
dunia, terutama negara berkembang, tidak mampu menyediakan kebutuhan hidup
paling hakiki tersebut. Saat ini terdapat 827,6 juta orang tinggal di kawasan
kumuh tanpa akses air minum dan sanitasi yang memadai. Kondisi buruk ini
memicu berjangkitnya berbagai macam penyakit.
Pragmatis
Pengelolaan sumber daya air telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun
2004 tentang Sumber Daya Air. Pasal 2 undang-undang itu menegaskan bahwa
sumber daya air dikelola berdasarkan asas kelestarian, keseimbangan,
kemanfaatan umum, keterpaduan dan keserasian, keadilan, kemandirian, serta
transparansi dan akuntabilitas. Selanjutnya, Pasal 4 dan 5 menegaskan bahwa
sumber daya air memiliki fungsi sosial, lingkungan hidup, dan ekonomi yang
diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras. Negara menjamin hak setiap
orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna
memenuhi kebutuhan hidup yang sehat, bersih, dan produktif.
Namun, seiring dengan bergulirnya era reformasi dan otonomi daerah, makin
banyak pihak yang berpikiran pragmatis dalam mengelola sumber daya air di
daerah. Saat ini telah muncul banyak gugatan terhadap pengelolaan sumber air
yang sudah berlangsung ratusan tahun dan ujung-ujungnya adalah tuntutan
pembagian uang. Kondisi seperti ini harus disikapi dengan serius, terutama bagi
daerah yang secara alami tidak memiliki sumber daya air di wilayah sendiri.
Konflik kepentingan pengelolaan sumber daya air akan selalu terjadi di berbagai
sektor kehidupan, antara lain sektor pertanian, air bersih/air minum, industri, serta
keperluan rumah tangga. Pengambilan air untuk pemenuhan air bersih perkotaan
dari sumber air yang semula untuk pertanian sangat berpotensi menimbulkan
konflik.
Apalagi jika pengurangan debit itu menurunkan indeks pertanaman (cropping
index) dan mengakibatkan gagal panen. Oleh karena itu, pemanfaatan air dengan
prinsip berbagi air secara proporsional (proportional water sharing) harus
dilakukan sejak dini. Dalam prinsip ini, pengelolaan air memperhitungkan laju
pertumbuhan penduduk, kontribusi sektor pertanian, industri, air minum, air untuk
kepentingan sanitasi, serta potensi lestari sumber daya air.
Domain negara
Pemenuhan air bersih dan sanitasi merupakan domain negara/pemerintah. Pada
umumnya kota-kota besar di Indonesia saat ini terlihat kedodoran dalam
memenuhi kebutuhan air bersih dan sanitasi bagi warganya. Pemerintah Provinsi
DKI Jakarta, misalnya, saat ini baru mampu memasok 62 persen dari kebutuhan
yang ada. Dari angka 62 persen itu pun banyak yang belum memenuhi standar
pelayanan minimal.
Untuk mengatasi permasalahan air ini, pemerintah kota di Indonesia dapat
mencontoh berbagai pendekatan yang telah ditempuh pemerintah kota di sejumlah
negara, seperti Accra (Ghana), Alexandria (Mesir), Belo Horizonte (Brasil),
Granada (Nikaragua), Lima (Peru), dan Zaragoza (Spanyol).
Kota-kota tersebut mengutamakan peningkatan akses kepada sistem suplai air,
peningkatan akses ke fasilitas sanitasi, air bersih untuk warga miskin, partisipasi
sosial masyarakat, manajemen permintaan, peminimalan kehilangan, serta
peningkatan kesadaran melalui pendidikan.
Proyek percontohan yang pernah dilakukan di Alexandria fokus pada perbaikan
infrastruktur dasar air minum dan saluran air kotor (drainase) serta menghadirkan
sebuah model bagaimana mengimplementasikan manajemen air perkotaan yang
terintegrasi (integrated urban water management). Aktivitas yang ditempuh antara
lain menggunakan peralatan penghemat air dan memanfaatkan sumber air
alternatif untuk pengamanan kualitas air minum dengan memanfaatkan air tanah
untuk irigasi areal hijau.
Upaya lain yang ditempuh adalah meminimalkan kehilangan air dari jaringan pipa
dengan memperbaiki dan memasang instalasi pengukur meter air yang baru.
Pemantauan dilakukan secara reguler terhadap produksi air dan pengiriman ke
lain wilayah, termasuk menindaklanjuti permintaan dan kehilangan air.
Aktivitas lain yang ditempuh untuk mengatasi permasalahan air di perkotaan
adalah dengan melakukan pemanenan air hujan. Di Anne Frank and Pedro Guerra
Schools di Belo Horizonte, ada proyek percontohan yang memfokuskan pada
penyimpanan dan penggunaan air hujan untuk irigasi kebun, lahan komoditas
pertanian, serta untuk menyiram halaman sekolah. Demonstrasi seperti ini sangat
baik untuk ajang pendidikan bagi siswa menyangkut berbagai isu tentang air
(konsumsi, pemanfaatan, penghematan, dan kualitas).
Gerakan hemat air perlu digalakkan kembali di semua sendi kehidupan. Gerakan
ini dapat dimulai dari hal-hal paling kecil, misalnya dengan memanfaatkan ulang
air buangan untuk menyiram tanaman di halaman atau untuk mengguyur toilet,
bahkan juga pada kegiatan ekonomi yang paling banyak membutuhkan air, yaitu
sektor pertanian. Kampanye more crop per drop (makin banyak tanaman dengan
setitik air) perlu dimasyarakatkan kepada petani melalui berbagai teknologi
budidaya yang lebih hemat air.
Toto Subandriyo Bergiat di Lembaga Nalar Terapan (Lentera)
sumber: http://cetak.kompas.com/read/2011/09/17/04322160/mewaspadai.krisis.a
ir