Anda di halaman 1dari 2

Refleksi Diri Awal Kolaborasi Kesehatan

Oleh Natasya Rosa Fariska Alexandra, 1806140193, IPE-39

Sebagai mahasiswa rumpun ilmu kesehatan yang suatu hari nanti akan
terjun ke masyarakat untuk memberikan pelayanan kesehatan dengan optimal,
bukanlah suatu hal yang mudah. Untuk menjadi seorang tenaga kesehatan, tidak
hanya dibutuhkan tingkat pendidikan yang tinggi, tetapi juga komitmen untuk
mengabdi pada bangsa dan negara. Di Indonesia, tak jarang ditemukan tenaga
kesehatan yang lalai dan menganggap remeh tanggung jawab mereka untuk
mengabdi kepada masyarakat. Padahal, hal tersebut menyangkut nyawa orang lain.
Banyaknya kasus tenaga kesehatan yang lalai dan menganggap remeh
tanggung jawab mereka untuk melayani masyarakat ini telah dirasakan oleh sahabat
saya. Pengalaman tersebut terjadi belum lama ini, tepatnya pada bulan Desember
2018. Saya mendengar pengalaman sahabat saya terkait dengan pelayanan
kesehatan di salah satu rumah sakit yang berlokasi di daerah tempat saya berasal,
yaitu Kediri, Jawa Timur.
Semua berawal ketika almarhum ayah dari sahabat saya mengalami sakit,
yang mengharuskan beliau untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari, beliau
mengalami masa kritis, namun perawat tidak segera mengambil tindakan yang tepat.
Sudah beberapa jam berlalu, namun perawat yang sedang bertugas belum juga
mengambil tindakan medis. Pihak keluarga yang menyadari hal ini segera
mengatakan kepada perawat tersebut untuk segera mengambil tindakan. Namun,
tetap saja tidak ada tindakan nyata dari perawat yang sedang bertugas pada hari itu.
Setelah berkali-kali melapor namun tetap tidak ada tindakan, akhirnya pihak
keluarga mendesak perawat supaya cepat melakukan tindakan medis kepada
almarhum ayah sahabat saya tersebut. Desakan dari pihak keluarga akhirnya
membuat perawat melakukan tindakan medis, walaupun tindakan medis ini
terkesan terlambat dalam pelaksanaannya.
Pihak keluarga dari sahabat saya merasa kecewa dengan tindakan perawat
yang tidak cekatan dalam bertugas. Padahal sudah jelas, bahwa almarhum ayah
sahabat saya sudah mengalami kritis dan harus segera mendapatkan tindakan medis
yang tepat. Dari cerita yang dialami oleh sahabat saya, dapat terlihat bahwa
memang beberapa tenaga kesehatan pada saat ini masih menganggap remeh
tanggung jawab mereka sebagai tenaga kesehatan. Mungkin sebagian dari mereka
hanya mementingkan gengsi dan semata-mata hanya untuk mencari uang, bukan
untuk melayani masyarakat dalam rangka memenuhi kebutuhan kesehatan di
Indonesia. Saya merasa bahwa kualitas pelayanan terhadap masyarakat masih
rendah, dan harus ditingkatkan di masa yang akan datang.
Saya menyadari bahwa menjadi seorang tenaga kesehatan di masa yang
akan datang merupakan sebuah tantangan besar. Menjadi seorang tenaga kesehatan
bukan hanya tentang materi, tetapi bagaimana seorang tenaga kesehatan mampu
menjunjung tinggi keselamatan pasien, melayani pasien dengan upaya terbaik, dan
tidak memandang pasien sebagai objek. Hal yang akan saya lakukan ketika menjadi
seorang tenaga kesehatan di masa yang akan datang adalah, untuk tidak hanya
membuktikan kemampuan diri saya dengan jenjang pendidikan yang tinggi saja,
namun juga mewujudkan hal tersebut dalam pelayanan nyata kepada pasien, dan
mementingkan pelayanan kesehatan yang optimal, sehingga pasien merasa nyaman
dan puas terhadap pelayanan kesehatan yang saya berikan.