Anda di halaman 1dari 4

Konsep Asuhan Keperawatan pada Pasien HIV dengan CMV

1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas
Identitas pasien meliputi nama, umur, agama, tanggal lahir, jenis kelamin, alamat,
suku atau ras, tanggal masuk, tanggal pengkajian, dan diagnosa medik.
b. Keluhan utama
Keluhan pasien biasanya dikarenakan timbulnya gejala-gejala
seperti demam hingga lebih dari 380C, tubuh terasa lelah, nyeri otot dan tenggorokan,
serta pembengkakan kelenjar getah bening.
c. Riwayat Kesehatan
1) Riwayat penyakit sekarang
Biasanya pasien datang ke RS karena gejala-gejala yang ditimbulkan seperti
demam, nyeri tenggorokan, dan pembengkakan kelenjar getah bening. Pada pasien
HIV AIDS dengan CMV akan mengalami infeksi lainnya dikarenakan adanya
penurunan sistem imun dari pasien.
2) Riwayat penyakit dahulu
a) Adanya riwayat tranfusi
b) Adanya riwayat transplantasi organ
3) Riwayat penyakit keluarga
a) Ibu pasien penderita infeksi CMV
b) Suami/istri penderita CMV
d. Pemeriksaan fisik
1) TTV : Suhu (demam), pernapasan (takipnea, dispnea), tekanan darah, nadi
2) Kulit : Petekia dan ekimosis, lesi berwarna ungu disebabkan oleh
eritripoiesis kulit.
3) Penurunan berat badan.
e. Pemeriksaan Penunjang
1) Kultur virus dari urin, secret faring, dan leukosit perifer.
2) Pemeriksaan mikroskopik pada sediment urin, cairan tubuh, dan jaringan untuk
melihat vius dalam jumlah besar (pemeriksaan urin untuk mengetahui adanya
iklusi intra sel tidaklah bermanfaat; verifikasi infeksi congenital harus dilakukan
dalam 3 minggu pertama dari kehidupan).
3) Skrining toksoplasmosis, rubella, sitomegalo virus, herpes dan lain-lain
(toxoplasmosis, other, rubella, cytomegalovirus, herpes [TORCH]) digunakan
untuk mengkaji adanya virus lain.
4) Uji serologis
a) Titer antibody IgG dan IgM( IgM yang meningkat mengindikasikan pajanan
terhadap virus; IgG neonatal yang meningkat mengindikasikan infeksi yang
didapat pada masa prenatal; IgG maternital negative dan IgG neonatal positif
mengindikasikan didapatnya infeksi pada saat pascanatal.
b) Uji factor rheumatoid positif ( positif pada 35%-45% kasus)
5) Studi radiologist: foto tengkorak atau pemindaian CT kepala dengan maksud
mengungkapkan kalsifikasi intra cranial.
2. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), maka didapatkan
diagnosa keperawatan CMV sebagai berikut:
a. Pola nafas tidak efektif b.d.hambatan upaya napas (kelemahan otot pernapasan)
(D.0005)
b. Defisit nutrisi b.d. peningkatan kebutuhan metabolisme (D.0019)
c. Hipertermia b.d. proses penyakit (infeksi) (D.0130)
d. Resiko infeksi b.d. ketidakadekuatan pertahanan tubuh sekunder: imunosupresi
(D.0142)
3. Intervensi Keperawatan
No. Diagnosis Kriteria Hasil Intervensi
1 Pola nafas tidak Setelah dilakukan Manajemen jalan napas (I.01011)
efektif tindakan keperawatan Observasi:
b.d.hambatan diharapkan pola napas 1. Monitor pola napas
upaya napas membaik (L.01004). 2. Monitor bunyi napas
(kelemahan otot Dengan KH: Terapeutik
pernapasan) 1. Tidak ada dispnea 3. Pertahankan kepatenan jalan
(D.0005) 2. Tidak ada penggunaan napas dengan head-tilt dan chin-
otot bantu napas lift
3. Frekuensi napas 4. Posisikan semi fowler atau
normal (12-20x/menit) fowler
5. Berikan oksigen, jika perlu
Edukasi
6. Ajarkan teknik batuk efektif
Kolaborasi
7. Kolaborasi pemberian
bronkodilator, ekspektoran,
mukolitik, jika perlu
2 Defisit nutrisi Setelah dilakukan Manajemen nutrisi (I.03119)
b.d. peningkatan tindakan keperawatan Observasi
kebutuhan diharapkan 1. Identifikasi status nutrisi
metabolisme Status nutrisi membaik 2. Identifikasi kebutuhan kalori dan
(D.0019) (L.03030) dengan KH: jenis nutrien
1. Porsi makanan yang 3. Monitor berat badan
dihabiskan meningkat Terapeutik
2. Berat badan 4. Berikan makanan tinggi serat
meningkat untuk mencegah konstipasi
3. Indeks masa tubuh 5. Berikan makanan tinggi kalori
normal (18,5-22,9 tinggi protein
kg/m2) Edukasi
Nafsu makan membaik 6. Anjurkan posisi duduk, jika
(L.03024) dengan KH: mampu
4. Keinginan makan 7. Ajarkan diet yang diprogramkan
meningkat Kolaborasi
5. Asupan makan 8. Kolaborasi dengan ahli gizi
membaik untuk menentukan jumlah kalori
dan jenis nutrien yang
dibutuhkan
3 Hipertermia b.d. Setelah dilakukan Observasi
proses penyakit tindakan keperawatan 1. Monitor suhu tubuh
(infeksi) diharapkan Termoregulasi 2. Monitor komplikasi akibat
(D.0130) membaik (L.14134) hipertermia
dengan KH: Terapeutik
1. Suhu tubuh dalam 3. Sediakan lingkungan yang dingin
rentang normal N=36,5oC 4. Berikan cairan oral
2. Nadi dan RR dalam 5. Hindari pemberian antipiretik atau
rentang normal aspirin
3. Tidak ada perubahan 6. Berikan oksigen, bila perlu
warna kulit dan tidak ada Edukasi
pusing 7. Anjurkan tirah baring
Kolaborasi
8. Kolaborasi pemberian cairan dan
elektrolit intravena, jika perlu
4 Resiko infeksi Setelah dilakukan Observasi
b.d. tindakan keperawatan 1. Monitor tanda dan gejala infeksi
ketidakadekuatan diharapkan kontrol risiko lokal dan sistemik
pertahanan tubuh membaik (L.14128) Teraupetik
sekunder: dengan KH : 2. Cuci tangan sebelum dan sesudah
imunosupresi 1. Kemampuan kontak dengan pasien dan
(D.0142) modifikasi gaya hidup lingkungan pasien
meningkat 3. Pertahankan teknik aseptik pada
2. Kemampuan pasien berisiko tinggi
mengidentifikasi faktor Edukasi
risiko meningkat 4. Jelaskan tanda dan gejala infeksi
3. Imunisasi meningkat 5. Anjurkan meningkatkan asupan
nutrisi
Kolaborasi
6. Kolaborasi pemberian imunisasi