Anda di halaman 1dari 9

A.

PENDAHULUAN

Hadist merupakan perkataan, perbuatan dan tindakan Nabi Muhammad SAW dan sumber
ajaran Islam kedua setelah al-quran. Nabi Muhammad pada zaman itu diutus oleh Allah SWT
menjadi Rasul. Sebelum ataupun sesudah Nabi Muhammad SAW diutus menjadi Rasul, saat
itu sudah ada berbagai permasalahan yang terjadi di kalangan umat Islam. Permasalahan
tersebut berkaitan dengan hubungan personal, keluarga, keagamaan, sosial dan politik.
Diutusnya Nabi Muhammad SAW menjadi Rasul, memberikan titik terang pada berbagai
permasalahan yang terjadi saat itu, sehingga berbagai permasalahan yang terjadi dapat
diselesaikan dengan baik.

Setiap perkataan, perbuatan maupun ketetapan yang mendapatkan persetujuan dari Nabi
Muhammad SAW yang bersumber pada al-qur’an pada waktu itu kemudian diriwayatkan
menjadi sebuah hadist. Kemudian oleh para sahabat hadist-hadist tersebut mulai ditulis dan
dikumpulkan sehingga dapat dijadikan pedoman kedua setelah Al-Qur’an dalam
menyelesaikan permasalahan yang terjadi pada waktu itu.

Salah satu yang menjadi permasalahan pada zaman Rasulullah adalah mengenai wanita.
Saat itu wanita cenderung dianggap inferior daripada laki laki dan tidak memiliki hak untuk
berpartisipasi dalam keputusan. Bahkan wanita dianggap memiliki status lebih rendah dari laki-
laki. Padahal sejatinya wanita memliliki hukum dan status yang jelas sebagaimana tertuang
dalam Al-Qur’an maupun hadist. Oleh karena itu, pada makalah ini akan dibahas lebih lanjut
tentang anak perempuan, wanita yang sudah menikah, wanita bercerai, janda dan budak wanita.

B. PEMBAHASAN
1. Status Anak Perempuan di Masyarakat Islam

Pada zaman pra Islam banyak pembunuhan bayi perempuan yang terjadi di Arab.
Tidak hanya di sepanjang wilayah Arab tetapi beberapa wilayah di seluruh dunia.
Pembunuhan bayi perempuan ini dikaitkan dengan tradisi dan budaya orang-orang
tidak beriman. Hal ini dilakukan oleh beberapa suku-suku di Hijaz. Penyebab
keberadaan anak perempuan tidak diinginkan disebabkan beberapa alasan, yakni dari
segi ekonomi, sosial dan kepercayaan1

1
Salma Saad, The Legal And Sosial Status Of Women In The Hadith Literature, hlm 29
a. Alasan Ekonomi

Dari segi ekonomi, kelaparan, kemiskinan dan muslim paceklik yang


melanda merupakan penyebab utama terjadinya pembunuhan bayi besar-
besaran pada zaman tersebut.

b. Alasan Sosial

Alasan social terjadinya pembunuhan bayi perempuan pada zaman


tersebut bermula dari terjadinya konflik-konflik yang diukur kekuatannya
berdasarkan jumlah laki-laki dewasa dan merupakan harapan satu-satunya
dari suatu suku. Perempuan dianggap makhluk terlemah dan cenderung
dijadikan tawanan perang atau musuh ketika suku mereka dikalahkan.

Alasan kedua, bayi-bayi perempuan dibunuh adalah untuk mengurangi


jumlah perempuan dan anak-anak. Selain itu dari segi social alasan
pembunuhan bayi perempuan adalah orang tua khususnya bapak-bapak tidak
menginginkan anak peremouannya dinikahkan pada laki-laki yang statusnya
lebih rendah atau tidak sepadan, yang mana sebagian besar pernikahan anak
yang usianya 7 atau 8 tahun dianggap normal dan tradisi tersebut bertahan
hingga perkembangan Islam muncul.

c. Alasan Kepercayaan atau Keagamaan

Dari segi kepercayaan, alasan pembunuhan bayi perempuan


dikarenakan adanya anggapan bahwa masyarakat pada zama tersebut perlu
mengorbankan anak-anak mereka demi apa yang mereka sembahkans

Menurut Al Qur’an dan hadis, pembunuhan terhadap bayi perempuan harus


dihapuskan, dikarenakan pembunuham merupakan suatu perbuatan dosa besar. Bayi
perempuan merupakan makhluk yang seharusnya dimuliakan. Tidak seharusnya
mereka membunuh mereka dengan berbagai alasan. Bahkan Rasulullah memerintahkan
umatnya untuk berbahagia atas kelahiran anak perempouannya. Seperti yang
diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu;

ُ‫صا ِب َعه‬ َ ‫اريَتَي ِْن َحتَّى ت َ ْبلُغَا َجا َء يَ ْو َم ْال ِقيَا َم ِة أَنَا َوه َُو َو‬
َ َ ‫ض َّم أ‬ ِ ‫َم ْن َعا َل َج‬
“Barangsiapa yang mengayomi dua anak perempuan hingga dewasa maka ia akan
datang pada hari kiamat bersamaku.” Dapat dijelaskan bahwa ada ganjaran pahala bagi
orang tua yang mengayomi anak perempuan berupa nikmat surga, terbebas dari siksa
api neraka dan kedekatan bersama Rasulullah.

Sikap membeda-bedakan atau melebihkan anak yang satu dengan yang lain bukan
hal yang patut dilakukan di dalam ajaran Islam. Anak laki-laki dan perempuan tetap
diperlakukan baik dan setara meskipun mereka memiliki kodrat yang berbeda. Adapun
hal-hal yang membedakan hak anak laki-laki dan perempuan adalah hak dalam
mendapatkan warisan, aqiqah dan nama.

2. Pernikahan Dalam Agama Islam


Pernikahan adalah fitrah manusia. Maka dari itu Islam menganjurkan untuk
menikah. Salah satu hal dianjurkannya manusia untuk menikah adalah agar tidak terjadi
penyimpangan serta menghindari perbuatan zina. Tanpa pernikahan, umat tidak dapat
melanjutkan keturunan dalam ikatan pernikahan yang sah.
Shahabat Anas bin Malik R.A berkata: “Telah bersabda Rasulullah shallallaahu
‘alaihi wa sallam:
‫ف ْالبَاقى‬ ِ َّ ‫ فَ ْليَت‬،‫ان‬
ْ ِِّ‫ق هللاَ فِي الن‬
ِ ‫ص‬ ِ ‫ف اْ ِإل ْي َم‬ ْ ِ‫َم ْن ت َزَ َّو َج فَقَ ِد ا ْست َ ْك َم َل ن‬
َ ‫ص‬
“Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh imannya. Dan
hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.”
Selain itu, Rasulullah SAW melarang keras kepada orang tidak mau menikah.
Apabila seseorang belum mampu untuk menikah maka solusinya seseorang itu hendak
berpuasa.
Dalam agama Islam, sebelum pernikahan ada proses melamar atau meminang
yang disebut dengan khitbah. Khitbah merupakan langkah pertama menuju pernikahan
yang memungkinkan disetujui atau tidaknya sesuai kesepakatan antara kedua keluarga.
Pernikahan tidak sah jika dilaksanakan tanpa kehadiran wali nikah dan saksi. Wali
nikah dan saksi merupakan bagian penting dari rukun nikah. Biasanya wali yang paling
diutamakan adalah ayah. Apabilah ayah dari pihak wanita sudah meninggal maka wali
nikah bisa diwalikan oleh kakek (ayahnya ayah), saudara laki-laki kandung dari ayah,
paman dan anak laki-laki paman dari pihak ayah. Adapun persyaratan menjadi wali
nikah ialah beragama Islam, baligh (dewasa), laki-laki (pernikahan dianggap tidak sah
jika wali atau saksi perempuan) dan berakal sehat.
Mahar merupakan bagian dari perkawinan dan laki-laki memiliki kewajiban
membayar mahar kepada mempelai perempuannya. Kewajiban membayar mahar dari
laki-laki telah disebutkan dalam hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dawud adalah
sebagai berikut;2
َ ‫أ َ ْي‬
ُ‫ﺴـﺮُﻩُ ِِالنِِّ َكـاﺡ َﺧ ْيـﺮ‬

“Sebaik-baik pernikahan ialah yang paling mudah.’’

Di beberapa hadis tidak disebutkan seberapa mahar yang harus dibayar. Akan
tetapi dengan maharnya dapat membuat pernikahan berkah. Agar membantu
meringankan beban laki-laki dalam membayar mahar ketika hendak menikahi
mempelai wanita.3 Pernyataan tersebut didukung oleh hadist yang diriwayatkan oleh
Ahmad sebagai berikut;

ْ َ ‫ظ َم النَّكَـاحِ بَ َر َكةً أ‬
ً‫يََ َس ُرهُ ُمؤْ نَة‬ َ ‫إِ َّن أ َ ْع‬.

“Pernikahan yang paling besar keberkahannya ialah yang paling mudah


maharnya.”

Selain pernikahan monogami, adapula pernikahan poligami. Poligami sudah


ada sebelum kedatangan zaman Islam dan dilakukan oleh hampir semua bangsa.
Poligami diperbolehkan ketika suami meminta izin atau persetujuan kepada istri
pertamanya untuk memiliki lebih dari satu istri. Adapun bukti sebuah ayat dari Al
Quran mengatakan tentang poligami;

‫ع‬ َ ‫اء َمثْنَى َوث ُ ََل‬


َ ‫ث َو ُربَا‬ ِ ‫س‬ ِ َ‫اب لَ ُك ْم ِمن‬
َ ‫الن‬ َ ‫ط‬َ ‫طوا فِي ْاليَت َا َمى فَا ْن ِك ُحوا َما‬
ُ ‫َوإِ ْن ِخ ْفت ُ ْم أ َ ََّّل ت ُ ْق ِس‬

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak)
perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita
(lain) yang kamu senangi: dua, tiga, atau empat.” (QS an-Nisaa’:3)

Dalam ayat tersebut, Allah tidak menunjukkan perintah atau wajibnya poligami.
Akan tetapi pernikahan poligami dapat dilakukan jika laki-laki dianggap mampu

2
Boedi Abdullah, Beni Ahmad, Perkawinan dan Perceraian Keluarga Muslim, 2013, Bandung : CV
Pustaka Setia,

3
Salma Saad, The Legal And Sosial Status Of Women,.., hlm 63
bertanggung jawab dan memperlakukan istri-istri dengan adil. Disebutkan suatu
larangan bagi laki-laki untuk menikahi lebih dari empat istri sekaligus.

3. Wanita yang Sudah Menikah


Di dalam rumah tangga, mentaati suami merupakan kewajiban seorang istri.
Apabila wanita sudah menikah maka hak suami kepada istri berada di atas hak
siapapun manusia termasuk hak kedua orang tua. Hak suami bahkan harus didahulukan
oleh seorang istri daripada ibadah-ibadah yang bersifat sunnah.4 Diantara kewajiban
seorang istri atas suaminya adalah tidak keluar rumah kecuali dengan izin suami, tidak
berpuasa tanpa persetujuan suami, tidak menghabiskan uangnya tanpa sepengetahuan
suami, mematuhi perintah suami dan menjaga amanah suami.5
Menurut Rasulullah SAW, istri diperbolehkan pergi dari rumah tanpa meminta
ijin suaminya dalam dua kasus;
(1) pergi dalam waktu singkat dan melakukan aktivitas tertentu seperti pergi
berbelanja di pasar, mengikuti kegiatan masyarakat dan sebagainya
(2) pergi ke masjid
Sebagaimana seperti yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar, “suatu hari ada
seorang perempuan datang kepada Nabi SAW. dan berkata, “Wahai Rasulullah, apa
saja hak suami atas istrinya?”Beliau menjawab, “Hak suami atas istrinya adalah istrinya
tidak keluar rumah kecuali atas izinnya; jika tetap keluar rumah maka Allah, malaikat
pembawa rahmat, dan malaikat pembawa murka akan melaknatnya sampai ia bertobat
dan kembali pulang.”6 Dapat dijelaskan bahwa hak suaminya wajib dipenuhi, oleh
karena itu, istri tidak boleh melanggar kecuali memiliki alasan yang dapat diterima.

4. Perceraian
Pernikahan adalah hal yang sacral. Dalam suatu pernikahan, manusia tidak
luputb dari ujian pernikahan yang menimbulkan beberapa permasalahna. Ketika
permasalahan bermunculan dalam pernikahan dan tidak dapat diselesaikan dengan cara

4
https://muslim.or.id/ , diakses pada tanggal 27 Oktober 2019
5
Salma Saad, The Legal And Sosial Status Of Women,… hlm. 131-132
6
Ibid,. hlm. 133
apapun, maka jalan terakhir yang dapat dipilih adalah perceraian. Perceraian dapat
disebabkan oleh kematian suaminya, dapat pula karena rumah tangga tidak cocok dan
pertengkaran selalu terjadi bahkan ada yang bercerai karena salah satu dari suami atau
istri tidak lagi fungsional secara biologis.7 Akan tetapi perceraian harus dihindari
karena lebih banyak mendatangkan kemudharatan dan dimurkai oleh Allah SWT.
Talak menurut istilah Islam memiliki pengertian yang sama dengan perceraian
yaitu melepaskan ikatan pernikahan. Keputusan untuk menyatakan thalaq terletak di
tangan suami. Dan istri tidak dapat menolaknya.8 Namun istri memiliki hak yang sama
ketika bermaksud menceraikan suaminya disebut dengan gugat cerai meskipun hak
menyatakan talak atau cerai ada di tangan suami.
Seorang suami harus berhati-hati dalam mengucapkan talak atau akan mentalak
istrinya. Sebab, talak akan terhitung walaupun hanya diucapkan dengan niat bercanda.
Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah
Radhiyallahu anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: 9
ُ‫الﺮجْ عَة‬ َّ ‫ النِِّكَا ُﺡ َوال‬:ٌّ‫ َوه َْزلُ ُه َّن ِجد‬،ٌّ‫ث ِجدُّه َُّن ِجد‬
َّ ‫ َو‬،‫طالَ ُق‬ ٌ َ‫ثَال‬.
“Tiga hal yang bila dikatakan dengan sungguh-sungguh akan jadi dan bila
dikatakan dengan main-main akan jadi pula, yaitu nikah, talak dan rujuk.”
Disebutkan dalam Al Quran dan hadis bahwa ada jenis talak yaitu talak Raj’I dan
talak Ba’in. Talak Raji’I terjadi ketika talak dijatuhkan suami kepada istri yang telah
dikumpuli, bukan talak karena tebusan, bukan pula talak ketiga kalinya. Talak Ba’in
yaitu talak tidak dapat dirujuk oleh suami kecuali dengan perkawinan baru walaupun
dalam masa iddah seperti talak pada perempuan yang belum digauli.10
5. Janda

Janda merupakan sebutan yang disandarkan kepada wanita yang ditinggalkan


pergi atau meninggalnya suami. Sebagian dari para janda yang ditinggal pergi ataupun
meninggal suaminya tidak memiliki kecukupan finansial untuk memenuhi kebutuhan
sehari-hari. Oleh karena itu, Rasulullah SAW menganjurkan umat muslim membantu

7
Boedi Abdullah, Beni Ahmad, Perkawinan dan Perceraian Keluarga Muslim…, hlm. 49

8
Salma Saad, The Legal And Sosial Status Of Women In The Hadith Literature., hlm 167

9
https://muslim.or.id/ diakses pada tanggal 27 Oktober 2019

10
Boedi Abdullah, Beni Ahmad, Perkawinan dan Perceraian Keluarga Muslim,…, hlm 222
dan menyantuni janda. Dengan membantu dan menyantuni mereka, kita akan
mendapatkan balasan pahala berlimpah seperti orang berjihad di jalan Allah.

َ ‫ار َويَقُ ْو ُم اللَّيْل الﺴَّا ِعي َعلَى اْأل َ ْر َملَ ِة َو ْال ِم ْﺴ ِكي ِْن ك َْال ُم َجا ِه ِد فِي‬
ِ‫سبِ ْي ِل هللا‬ ُ َ‫َِأ َ ْو كَالَّذِي ي‬
َ ‫ص ْو ُم النَّ َه‬

Sesuai seperti yang diriwayatkan oleh Muttafaq Alaih, Rasulullah bersabda


“Orang yang membantu para janda dan orang miskin adalah seperti orang yang
berjihad di jalan Allah atau seperti orang yang selalu mengerjakan shaum di siang hari
dan shalat di malam hari.”

Di beberapa hadis menyebutkan tugas dan haknya yang dimiliki janda demi
memenuhi kepentingan untuk diri sendiri dan masyarakat Islam. Adapun kewajiban
yang diperbolehkan untuk seorang janda melakukan adalah berkabung, menantikan
masa iddah dan menggunakan haknya dalam urusan pernikahan, warisan dan mahar.
Wanita ditinggal kematian suaminya saat berkabung tidak diperkenankan merias diri,
menggunakan wewangian atau hal-hal lain yang dapat menarik perhatian laki-laki
selama masa iddahnya. Adapun pernyataan hadis dari Zainab bintu Abu Salamah,
adalah sebagai berikut :

‫ي‬َ ِّ‫َّللاِ إِ َّن ا ْبنَتِي ت ُ ُو ِف‬


َّ ‫سو َل‬ ُ ‫ت يَا َر‬ ْ َ‫سلَّ َم فَقَال‬ َّ ‫صلَّى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫َّللا‬ َّ ‫سو ِل‬ ُ ‫ت ْام َﺮأَة ٌ إِلَى َر‬ َ ‫س ِم ْعتُ أ ُ َّم‬
ْ ‫سلَ َمةَ تَقُو ُل َجا َء‬ َ
َ‫سلَّ َم ََل َم َّﺮتَي ِْن أ َ ْو ث َ َالثًا ُك َّل ذَلِك‬ َّ ‫ص َّلى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َ ِ‫َّللا‬ َّ ‫سو ُل‬ ُ ‫َت َع ْينَ َها أَفَت َ ْك ُحلُ َها فَقَا َل َر‬ ْ ‫َع ْن َها زَ ْو ُج َها َوقَدْ ا ْشتَك‬
‫َت ِإحْ دَا ُك َّن فِي ْال َجا ِه ِليَّ ِة ت َْﺮ ِمي‬ ْ ‫ِي أ َ ْربَ َعةُ أ َ ْش ُه ٍﺮ َو َع ْش ٌﺮ َوقَدْ َكان‬ َ ‫س َّل َم ِإنَّ َما ه‬ َّ ‫ص َّلى‬
َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه َو‬ َّ ‫سو ُل‬
َ ِ‫َّللا‬ ُ ‫يَقُو ُل ََل ث ُ َّم قَا َل َر‬
‫ِب ْال َب ْع َﺮ ِة َعلَى َرأْ ِس ْال َح ْو ِل‬

“Aku telah mendengar Ummu Salamah berkata: “Seorang wanita datang


menemui Rasulullah dan berkata,’Wahai, Rasulullah! Sesungguhnya putriku ditinggal
mati suaminya, dan ia mengeluhkan sakit pada matanya. Apakah ia boleh mengenakan
celak mata?.” Lalu Rasulullah menjawab “Tidak!” sebanyak dua atau tiga kali,
semuanya dengan kata tidak. Kemudian Rasulullah berkata: “Itu harus empat bulan
sepuluh hari, dan dahulu, salah seorang dari kalian pada zaman jahiliyah membuang
kotoran binatang pada akhir tahun.” Adapun hadist pendukung diantaranya;

‫ث إِ ََّل َعلَى زَ ْو ِج َها رواﻩ مﺴلم‬ ٍ ِِّ‫اَّللِ َو ْاليَ ْو ِم ْاْل ِﺧ ِﺮ أ َ ْن ت ُ ِحدَّ َعلَى َمي‬
ٍ ‫ت فَ ْوقَ ث َ َال‬ َّ ِ‫ََل يَ ِح ُّل َِل ْم َﺮأَةٍ تُؤْ ِمنُ ب‬

“Tidak boleh seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk
berkabung atas kematian melebihi tiga hari, kecuali atas kematian suaminya. Dapat
diketahui bahwa wanita tidak diperkenankan berkabung untuk seseorang lebih dari tiga
hari terlebih itu anggota keluarganya sendiri kecuali suaminya. Masa iddah wanita
berlangsung selama 4 bulan 10 hari dan setelah itu dia mendapatkan hak untuk menikah
lagi.11

6. Budak Wanita

Meskipun Al Quran dan Rasulullah telah menyebutkan praktik perbudakan


dianggap hal yang biasa dan sempat diperbolehkan namun tidak diharamkan dalam
peradaban Islam. Praktik perbudakan pada zaman itu suatu bagian dari sistem yang ada
dan telah diakui banyak orang. Rasulullah menganjurkan beberapa hal yang dijadikan
patokan untuk meminimalisisr sistem perbudakan yang terjadi yaitu dengan membatasi
sumber perbudakan dan memberikan perlakuan baik terhadap budak.12 Yang dimaksud
Rasulullah dalam meminimalisirkan sumber-sumber perbudakan menjadi dua sumber
yang diperbolehkan secara sah diantaranya; (1) seseorang lahir dari orangtua budak,
artinya kedua orang tua juga budak dan (2) perbudakan tawanan yang diperoleh dari
medan perang kecuali orang islam mempercayai bahwa tidak ada perbudakan muslim
di Arab.

Wanita-wanita pada zaman itu dijadikan budak karena beberapa sebab ialah lahir
dari orang tua budak dan merupakan tawanan yang awalnya dibebaskan namun
dibudakkan ketika suku mereka dikalahkan di perang. Mereka diserahkan kepada
pemilik yang menangkap, membeli atau menerima mereka. Budak wanita dijadikan
wanita simpanan dan tinggal serumah dengan pemilik tanpa ikatan yang sah seperti
melayani segala kebutuhan pemilik termasuk kebutuhan biologis. Namun hal itu sangat
bertentangan dengan ajaran Islam. Budak wanita tidak boleh digauli sebelum dia
dinikahkan dan juga mendapatkan hak untuk menikah dan bercerai sebagaimana sama
dengan wanita pada umumnya.

Seiring dengan kemajuan zaman, sistem perbudakan tidak diperbolehkan, dan


Rasulullah memperingatkan orang yang memberikan beban berlebihan kepada para
budak, sebagaimana sabda Rasulullah ,”

‫َت أ َ ْي َمانُ ُك ْم‬


ْ ‫اتَّقُوا هللاَ َو َما َملَك‬

“Bertaqwalah kalian kepada Allah dan perhatikanlah budak-budak yang kalian


miliki”

11
Salma Saad, The Legal And Sosial Status…, hlm. 22
12
Ibid,.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

ُ ‫ف ِمنَ ْال َع َم ِل َما َلَ ي ُِط‬


‫يق‬ ُ ‫ط َعا ُمهُ َو ِكﺴ َْوتُهُ َوَلَ يُ َك َّل‬ ِ ُ‫ ِل ْل َم ْمل‬s
َ ‫وك‬

Dapat dijelaskan bahwa budak memiliki hak untuk makan makanan pokok dan
tidak boleh dibebani pekerjaan yang melampau batas kemampuannya. Selain itu budak
harus diperlakukan seperti saudara sebagaimana seperti orang umumnya. Tidak
dianjurkan kita untuk menyiksa atau menghukum mereka dengan kejam. Seharusnya
mereka para budak juga dihargai dan di angkat derajatnya.

Selain itu, beberapa hadist banyak mendorong untuk membebaskan perbudakan.


Tidak ada yang lebih baik daripada memerdekakan dan memberikan kebebasan pada
budak. Dengan melakukan kebaikan, ada jaminannya masuk surga dan dibebaskan dari
siksa api neraka seperti yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu
“Bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Siapapun orang muslim
yang memerdekakan seorang budak muslim, niscaya Allah akan menyelamatkan setiap
anggota tubuhnya dari api neraka dengan setiap anggota tubuh budak tersebut.” ”