Anda di halaman 1dari 18

LK-9 Sistematika Laporan Best Practice

DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
BIODATA PENULIS
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR LAMPIRAN

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
B. Jenis Kegiatan
C. Manfaat Kegiatan

BAB II PELAKSANAAN KEGIATAN


A. Tujuan dan Sasaran
B. Bahan/Materi Kegiatan
C. Metode/Cara Melaksanakan Kegiatan
D. Alat/Instrumen
E. Waktu dan Tenpat Kegiatan

BAB III HASIL KEGIATAN


(menjelaskan hasil yang diperoleh, masalah yang dihadapi dan cara mengatasi masalah
tersebut)

BAB IV SIMPULAN DAN REKOMENDASI


A. Simpulan
B. Rekomendasi

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
HALAMAN PENGESAHAN

Pengembangan dalam bentuk best practice berjudul Pembelajaran tentang Irisan Dua
Himpunan atau lebih melalui Pendekatan Saintifik dengan Model Problem Based Learning
(PBL) di SMPN 6 Tanjungpinang.

Nama : Dwi Julianti Ningsih, S.Pd

Asal Sekolah : SMP Negeri 6 Tanjungpinang

Telah disetujui dan disahkan pada / oleh :

Hari : Jum’at

Tanggal : 1 November 2019

Kepala SMP Negeri 6 Tanjungpinang

IRMALINDA, S. Pd,M. M. Pd
NIP. 19670611 199403 2 011
BIODATA PENULIS

1 Nama Dwi Julianti Ningsih, S.Pd


2 Nip -
3 NUPTK 5042764665300103
4 Jabatan Guru Smp Negeri 6 Tanjungpinang
5 Pangkat / Gol.Ruang -
6 Tempat / tanggal lahir Tanjungpinang, 10Juli 1986
7 Jenis kelamin Perempuan
8 Agama Islam
9 Pendidikan terakhir S1
10 Unit Kerja SMPN 6 Tanjungpinang
11 Alamat rumah Jln. Pramuka Lorong Pulau Raja 5 No.
17

Tanjungpinang, 1 November 2019


Penulis

Dwi Julianti Ningsih, S.Pd


KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan karuniaNya
sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan Best Practice pada tanggal 1 November 2019.

Dalam penyusunan Best Practice penulis banyak menerima bantuan dan bimbingan
dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Kepala Dinas Pendidikan Kota Tanjungpinang


2. Kepala SMP Negeri 6 Tanjungpinang telah memberi izin, kesempatan dan
kepercayaan kepada penulis untuk melaksanakan kegiatan PKP di SMPN 6
Tanjungpinang.
3. Semua rekan guru di SMPN 6 Tanjungpinang yang telah memberi bantuan selama
proses kegiatan PKP sampai dengan terwujud dalam bentuk Best Practice ini.
4. Suami dan anak – anak tercinta yang selalu memberi dukungan doa dan memberikan
kekuatan dalam setiap langkah.
5. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu yang telah memberikan
bantuan berupa apapun dalam menyelesaikan best practice ini.

Penulis menyadari bahwa karya ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik
dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi perbaikan karya ini.

Tanjungpinang, 1 November 2019


Penulis

Dwi Julianti Ningsih, S.Pd


BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melalui Peningkatan


Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi merupakan salah satu upaya Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
(Ditjen GTK) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan meningkatkan kualitas lulusan.
Program ini dikembangkan mengikuti arah kebijakan Kemendikbud yang menekankan pada
pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order
Thinking Skills (HOTS). Keterampilan berfikir Untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas,
serta pemerataan mutu pendidikan, maka pelaksanaan Program PKP mempertimbangkan
pendekatan kewilayahan, atau dikenal dengan istilah zonasi. Melalui langkah ini, pengelolaan
Pusat Kegiatan Guru (PKG) TK, kelompok kerja guru (KKG) SD dan musyawarah guru mata
pelajaran (MGMP) SMP yang selama ini dilakukan melalui Gugus atau Rayon dalam
zonasinya, dapat terintegrasi melalui zonasi pengembangan dan pemberdayaan guru. Zonasi
memperhatikan keseimbangan dan keragaman mutu pendidikan di lingkungan terdekat,
seperti status akreditasi sekolah, nilai kompetensi guru, capaian nilai rata-rata UN/USBN
sekolah, atau pertimbangan mutu lainnya.

Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada HOTS dan disarankan dalam
implementasi Kurikulum 2013 adalah pembelajaran Model Problem Based Learning.
Model Problem Based Learning adalah model pembelajaran berbasis masalah merupakan
pembelajaran yang menggunakan berbagai kemampuan berpikir dari peserta didik secara individu
maupun kelompok serta lingkungan nyata untuk mengatasi permasalahan sehingga bermakna,
relevan, dan kontekstual (Tan Oon Seng, 2000).

Tujuan Problem Based Learning adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam menerapkan
konsep – konsep pada permasalahan baru/nyata, pengintegrasian konsep Higher Order Thinking Skills
(HOTS), keinginan dalam belajar, mengarahkan belajar diri sendiri and keterampilan (Norman and
Schmidt).
Setelah melaksanakan pembelajaran dengan Model Problem Based Learning, penulis
menemukan bahwa proses pembelajaran dan hasil belajar siswa meningkat dibandingkan
pembelajaran sebelumnya. Ketika Model Problem Based Learning ini diterapkan pada kelas
VII yang lain ternyata proses pembelajaran dan hasil belajar siswa sama baiknya. Oleh
karena itu penulis melaporkan perbaikan pembelajaran tersebut sebagai kegiatan best practice
berjudul “Implementasi model pembelajaran Problem Based Learning melalui pendekatan
saintifik materi Irisan Dua Himpunan atau Lebih pada siswa kelas VII SMP Negeri 6
Tanjungpinang tahun pelajaran 2019/2020.”

B. JENIS KEGIATAN

Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan melalui Peningkatan


Kompetensi Pembelajaran Berbasis Zonasi merupakan salah satu upaya Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan
(Ditjen GTK) untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan meningkatkan kualitas lulusan.
Program ini dikembangkan mengikuti arah kebijakan Kemendikbud yang menekankan pada
pembelajaran berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order
Thinking Skills (HOTS). Keterampilan berfikir tingkat tinggi adalah proses berfikir kompleks
dalam menguraikan materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, menganalisis
dan membangun hubungan dengan melibatkan aktifitas mental yang paling dasar yang
sebaiknya dimiliki oleh seorang guru professional.

Unit Pembelajaran yang sudah tersusun diharapkan dapat meningkatkan


pembelajaran. Unit Pembelajaran yang dikembangkan dikhususkan untuk Pendidikan Dasar
yang dalam hal ini akan melibatkan KKG SD dan MGMP SMP. Kami ucapkan terima kasih
dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh tim penyusun yang berasal dari
PPPPTK, LPMP, maupun Perguruan Tinggi dan berbagai pihak yang telah bekerja keras dan
berkontribusi positif dalam mewujudkan penyelesaian Unit Pembelajaran ini
C. MANFAAT KEGIATAN

Untuk meningkatkan efisiensi, efektifitas, serta pemerataan mutu pendidikan, maka


pelaksanaan Program PKP mempertimbangkan pendekatan kewilayahan, atau dikenal dengan
istilah zonasi. Melalui langkah ini, pengelolaan Pusat Kegiatan Guru (PKG) TK, kelompok
kerja guru (KKG) SD dan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) SMP yang selama ini
dilakukan melalui Gugus atau Rayon dalam zonasinya, dapat terintegrasi melalui zonasi
pengembangan dan pemberdayaan guru. Zonasi memperhatikan keseimbangan dan
keragaman mutu pendidikan di lingkungan terdekat, seperti status akreditasi sekolah, nilai
kompetensi guru, capaian nilai rata-rata UN/USBN sekolah, atau pertimbangan mutu lainnya.

Semoga Unit Pembelajaran ini bisa menginspirasi guru untuk mengembangkan


materi dan melaksanakan pembelajaran dengan berorientasi pada kemampuan berpikir
tingkat tinggi.
BAB II
PELAKSANAAN KEGIATAN

A. TUJUAN DAN SASARAN


TUJUAN
1. Untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, serta pemerataan mutu pendidikan,
maka pelaksanaan Program PKP mempertimbangkan pendekatan kewilayahan,
atau dikenal dengan istilah zonasi.
2. menginspirasi guru untuk mengembangkan materi dan melaksanakan
pembelajaran dengan berorientasi pada kemampuan berpikir tingkat tinggi

SASARAN

Melalui langkah ini, pengelolaan Pusat Kegiatan Guru (PKG) TK, kelompok
kerja guru (KKG) SD dan musyawarah guru mata pelajaran (MGMP) SMP yang
selama ini dilakukan melalui Gugus atau Rayon dalam zonasinya, Semoga Unit
Pembelajaran ini bisa menginspirasi guru untuk mengembangkan materi dan
melaksanakan pembelajaran dengan berorientasi pada kemampuan berpikir tingkat
tinggi. Semoga Allah SWT senantiasa meridhoi upaya yang kita lakukan.

B. BAHAN DAN MATERI

Bahan/Materi Kegiatan
Bahan yang digunakan dalam praktik baik pembelajaran ini adalah materi kelas VII
untuk materi Irisan Dua Himpunan atau lebih berikut ini.

Matematika
Membandingkan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan
beberapa teks information report lisan dan tulis dengan memberi dan
3.9
meminta informasi terkait mata pelajaran lain di Kelas IX, pendek dan
sederhana, sesuai dengan konteks penggunaannya
4.9. Teks Information Report
4.9.1 Menangkapmakna secara kontekstual terkait fungsi sosial, struktur teks,
dan unsur kebahasaan teks information report lisan dan tulis, sangat
pendek dan sederhana, terkait topik yang tercakup dalam mata pelajaran
lain di Kelas IX
4.9.2 Menyusun teks information report lisan dan tulis, sangat pendek dan
sederhana, terkait topik yang tercakup dalam mata pelajaran lain di Kelas
IX, dengan memperhatikan fungsi sosial, struktur teks, dan unsur
kebahasaan, secara benar dan sesuai konteks

C. Metode/Cara Melaksanakan Kegiatan

Metode

1. penggunaan aspek HOTS, 5M, 4 Dimensi Pengetahuan dan Kecapakan Abad 21 di


dalam proses pembelajaran.

2. Karena K-13 mengamanatkan penerapan pendekatan saintifik (5M) yang meliputi


mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/ mengasosiasikan, dan
mengomunikasikan. Lalu optimalisasi peran guru dalam melaksanakan pembelajaran
abad 21 dan HOTS (Higher Order Thinking Skills). Selanjutnya ada integrasi
literasi dan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) dalam proses belajar mengajar
(PBM). Pembelajaran pun perlu dilaksanakan secara kontekstual dengan
menggunakan model, strategi, metode, dan teknik sesuai dengan karakteristik
Kompetensi Dasar (KD) agar tujuan pembelajaran tercapai.Pembelajaran abad 21
secara sederhana diartikan sebagai pembelajaran yang memberikan kecakapan abad
21 kepada peserta didik, yaitu 4C yang meliputi: (1) Communication (2)
Collaboration, (3) Critical Thinking and problem solving, dan (4) Creative and
Innovative. Berdasarkan Taksonomi Bloom yang telah direvisi oleh Krathwoll dan
Anderson, kemampuan yang perlu dicapai siswa bukan hanya LOTS (Lower Order
Thinking Skills) yaitu C1 (mengetahui) dan C-2 (memahami), MOTS
(Middle Order Thinking Skills) yaitu C3 (mengaplikasikan) dan C-4 (mengalisis),
tetapi juga harus ada peningkatan sampai HOTS (Higher Order Thinking Skills),
yaitu C-5 (mengevaluasi), dan C-6 (mengkreasi).Penerapan pendekatan saintifik,
pembelajaran abad 21 (4C), HOTS, dan integrasi literasi dan PPK dalam
pembelajaran bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam rangka
menjawab tantangan, baik tantangan internal dalam rangka mencapai 8 (delapan)
SNP dan tantangan eksternal, yaitu globalisasi.Melalui berbagai pelatihan atau
bimbingan teknis (bimtek) K-13 yang telah dilakukan selama ini diharapkan mampu
mengubah paradigma guru, juga meningkatkan kompetensi guru dalam
pembelajaran. Pendekatan saintifik, pembelajaran abad 21 (4C), HOTS, integrasi
literasi dan PPK, dan pembelajaran kontekstual sebenarnya bukan hal yang baru bagi
guru. Secara sadar ataupun tidak sebenarnya sudah hal tersebut dilakukan, hanya
dalam K-13 lebih ditegaskan lagi untuk dilaksanakan pada PBM, dan hasilnya
dilakukan melalui penilaian otentik yang mampu mengukur ketercapaian kompetensi
siswa.

D. Alat/Instrumen

model-model pembelajaran yang sudah banyak dikenal oleh guru, guru pun
diharapkan untuk menggunakan atau mengembangkan mode-model pembelajaran yang lebih
variatif agar pembelajaran lebih menyenangkan dan menantang.Pembelajaran yang HOTS
ditindaklanjuti dengan penilaian HOTS. Soal-soal yang diberikan harus mengukur
ketercapaian siswa pada ranah C-4, C-5, dan C-6, disesuaikan dengan KKO yang telah
ditetapkan pada RPP. Instrumen test yang digunakan bisa dalam bentuk soal Pilihan Ganda
(PG) atau uraian.Soal PG dan HOTS yang berorientasi pada HOTS tentunya bukan sekedar
menanyakan sekedar menanyakan "apa?", "siapa?", "kapan?" dan "dimana?", tetapi
menanyakan "mengapa?" dan "bagaimana?". Berdasarkan kepada hal tersebut, maka guru
harus banyak membiasakan soal-soal HOTS kepada siswa, agar siswa terbiasa mengasah
nalar, meningkatkan kemampuan berpikir kritis, analitis, dan solutif.
Media pembelajaran yang digunakan dalam praktik terbaik ini adalah (a) contoh
Report Text berjudul “Is Television Good or Bad?”, (b) buku guru dan buku siswa when
english rings the bell, kelas IX kemendikbud 2017.

Instrumen yang digunakan dalam praktik baik ini ada 2 macam yaitu (a) instrumen
untuk mengamati proses pembelajaran berupa lembar observasi dan (b) instrumen untuk
melihat hasil belajar siswa dengan menggunakan uraian singkat.
E. Waktu dan Tempat Kegiatan
Waktu kegiatan

Best practice ini dilaksanakan pada tanggal 1 sampai 2 November tahun 2019
bertempat di SMP Negeri 6 Tanjungpinang.
BAB III
HASIL KEGIATAN

Diimplementasikannya kurikulum 2013 (K-13) membawa konsekuensi guru yang


harus semakin berkualitas dalam melaksanaan kegiatan pembelajaran. Karena K-13
mengamanatkan penerapan pendekatan saintifik (5M) yang meliputi mengamati, menanya,
mengumpulkan informasi, menalar/ mengasosiasikan, dan mengomunikasikan. Lalu
optimalisasi peran guru dalam melaksanakan pembelajaran abad 21 dan HOTS (Higher Order
Thinking Skills). Selanjutnya ada integrasi literasi dan Penguatan Pendidikan Karakter
(PPK) dalam proses belajar mengajar (PBM). Pembelajaran pun perlu dilaksanakan secara
kontekstual dengan menggunakan model, strategi, metode, dan teknik sesuai dengan
karakteristik Kompetensi Dasar (KD) agar tujuan pembelajaran tercapai.Pembelajaran abad
21 secara sederhana diartikan sebagai pembelajaran yang memberikan kecakapan abad 21
kepada peserta didik, yaitu 4C yang meliputi: (1) Communication (2) Collaboration, (3)
Critical Thinking and problem solving, dan (4) Creative and Innovative. Berdasarkan
Taksonomi Bloom yang telah direvisi oleh Krathwoll dan Anderson, kemampuan yang perlu
dicapai siswa bukan hanya LOTS (Lower Order Thinking Skills) yaitu C1 (mengetahui) dan
C-2 (memahami), MOTS (Middle Order Thinking Skills) yaitu C3 (mengaplikasikan) dan C-
4 (mengalisis), tetapi juga harus ada peningkatan sampai HOTS (Higher Order Thinking
Skills), yaitu C-5 (mengevaluasi), dan C-6 (mengkreasi).Penerapan pendekatan saintifik,
pembelajaran abad 21 (4C), HOTS, dan integrasi literasi dan PPK dalam pembelajaran
bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam rangka menjawab tantangan, baik
tantangan internal dalam rangka mencapai 8 (delapan) SNP dan tantangan eksternal, yaitu
globalisasi.Melalui berbagai pelatihan atau bimbingan teknis (bimtek) K-13 yang telah
dilakukan selama ini diharapkan mampu mengubah paradigma guru, juga meningkatkan
kompetensi guru dalam pembelajaran. Pendekatan saintifik, pembelajaran abad 21 (4C),
HOTS, integrasi literasi dan PPK, dan pembelajaran kontekstual sebenarnya bukan hal yang
baru bagi guru. Secara sadar ataupun tidak sebenarnya sudah hal tersebut dilakukan, hanya
dalam K-13 lebih ditegaskan lagi untuk dilaksanakan pada PBM, dan hasilnya dilakukan
melalui penilaian otentik yang mampu mengukur ketercapaian kompetensi siswa.
Masalah yang dihadapi terutama adalah belum terbiasanya siswa belajar degan model
Problem Based learning. Dengan tujuan untuk mendapat nilai ulangan yang baik guru selalu
mengguakan metode ceramah, siswa pun merasa lebih percaya diri menghadapi ulangan
(penilaian) setelah mendapat penjelasan guru melalui ceramah.
Agar siswa yakin bahwa pembelajaran tematik dengan Discovery Learnng. dapat
membuat mereka lebih meguasai materi pembelajaran, guru memberi penjelasan sekilas
tentang apa, bagaimana, mengapa, dan manfaat belajar berorientasi pada keterampilan
berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/HOTS).
BAB IV
SIMPULAN DAN REKOMENDASI

A. Simpulan

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut.


1. Pembelajaran tematik dengan model pembelajaran Discovery learning layak dijadikan
praktik baik pembeljaran berorientasi HOTS karena dapat meingkatkan kemampuan
siswa dalam melakukan transfer pengetahuan, berpikir kritis, dan pemecahan masalah.
2. Dengan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) secara sistematis dan
cermat, pembelajaran tematik dengan model pembelajaran Discovery learning yang
dilaksanakan tidak sekadar berorientasi HOTS, tetapi juga mengintegrasikan PPK,
literasi, dan kecakapan abad 21.

B. Rekomendasi

Berdasarkan hasil praktik baik pembelajaran tematik dengan model pembelajaran Discovery
learning, berikut disampaikan rekomendasi yang relevan.
1. Guru seharusnya tidak hanya mengajar dengan mengacu pada buku siswa dan buku
guru serta jaring-jaring tema yang telah disediakan, tetapi berani melakukan inovasi
pembelajaran tematik yang kontekstual sesuai dengan latar belakang siswa dan situasi
dan kondisi sekolahnya. Hal ini akan membuat pembelajaran lebih bermakna.
2. Siswa diharapkan untuk menerapkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam
belajar, tidak terbatas pada hafalan teori. Kemampuan belajar degan cara ini akan
membantu siswa menguasai materi secara lebih mendalam dan lebih tahan lama (tidak
mudah lupa).
3. Sekolah, terutama kepala sekolah dapat mendorong guru lain untuk ikut
melaksanakan pembelajaran berorientasi HOTS. Dukungan positif sekolah, seperti
penyediaan sarana da prasarana yang memadai dan kesempatan bagi penulis utuk
mendesiminasikan praktik baik ini aka menambah wawasan guru lain tentang
pembelajaran HOTS.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

kegiatan pendahuluan

Kegiatan Inti

Aktivitas pembelajaran
Kegiatan penutup

R-9 Rubrik Laporan Best Practise

Rubrik ini digunakan fasilitator untuk menilai hasil refleksi dari peserta.

A. Langkah-langkah penilaian hasil kajian:

1. Cermati tugas yang diberikan kepada peserta pembekalan pada LK-9!


2. Berikan nilai pada hasil kajian berdasarkan penilaian anda terhadap hasil kerja peserta
sesuai rubrik berikut!

B. Kegiatan Praktik

1. Memuat Lembar Judul


2. Memuat Halaman Pengesahan yang ditanda tangani Kepala Sekolah
3. Memuat Biodata Penulis dengan lengkap
4. Memuat Kata Pengantar, Daftar Isi dan Daftar Lampiran
5. Menguraikan Latar Belakang Masalah dari kesenjangan harapan dengan kenyataan yang
ada dengan jelas
6. Menguraikan jenis dan manfaat kegiatan dengan jelas
7. Memuat tujuan dan sasaran, Bahan/Materi Kegiatan, Metode/Cara Melaksanakan
Kegiatan, Alat/Instrumen, Waktu dan Tenpat Kegiatan dengan jelas
8. Menguraikan hasil kegiatan dengan penjelasan hasil yang diperoleh, masalah yang
dihadapi dan cara mengatasi masalah tersebut dengan jelas
9. Memuat simpulan dan rekomendasi yang relevan
10. Memuat daftar pustaka sesuai materi yang dituangkan
11. Memuat lampiran yang dilengkapi dokumentasi, instrumen dan hasil pembelajaran
Rubrik Penilaian:
Nilai Rubrik
90  nilai 100 Sebelas aspek sesuai dengan kriteria
80  nilai 90 Sembilan aspek sesuai dengan kriteria, dua aspek kurang
sesuai
70  nilai 80 Tujuh sesuai dengan kriteria, empat aspek kurang sesuai
60  nilai 70 Lima sesuai dengan kriteria, enam aspek kurang sesuai
<60 Empat aspek sesuai dengan kriteria, tujuh aspek kurang sesuai