Anda di halaman 1dari 15

KASUS Endokrin

Studi Kasus – Diabetes Melitus Tipe 2


Tn. Asok Dass, 60 tahun dari Fiji dibawa kerumah sakit setempat empat hari yang
lalu dan diagnosis serta ditangani sebagai pasien infark miokard akut. Sebelumnya,
Tn Dasss didiagnosis menyandang DM tipe 2, tetapi tanpa riwayat penyakit arteri
koronaria. Dia menggunakan glibenklamid 5 mg/ hari selama dua tahun terakhir.
Dia tidak meminum alkohol maupun merokok dan tidak memiliki masalah medis
lain. Tn Dass bekerja sebagai akuntan dan menjalani kehidupan kurang aktivitas
(tidak aktif secara fisik). Selain uji laboratorium rutin yang dilakukan pada pasien
infark miokard akut, uji laboratorium rutin yang dilakukan pada pasien infark
miokard akut, uji laboratorium selanjutnya mencakup kadar serum puasa berikut:
1. Kadar glycosylated haemoglobin (HbA1C) 11,5% (nilai normal 4% hingga
6 %);
2. Kadar glukosa darah 13mmol/L (nilai normal 3,0 hingga 5,5 mmol/ L);
3. Kadar kolesterol total 6,5 mmol/L (nilai normal < 5,5 mmol/L); dan
4. Kadar trigliserida 2,40 mmol/L (nilai normal 0,10 hingga 2,10 mmol/L).
Selama hospitalisasi, Tn Dass mendapat terapi rutin untuk mengatasi infark
miokard yang dialaminya. Dia juga menjalani terapi injeksi insulin subkutan.
Infark miokard yang dialami Tn. Dass merupakan salah satu komplikasi utama
penyakit DM tipe 2. Penyebab kematian yang paling sering terjadi pada pengidap
DM adalah penyakit makrovaskular dengan penyakit arteri koronaria (coronary
artery disease, CAD) sebagai penyebab yang paling lazim. Faktor resiko
kardiovaskular yang paling sering ditemukan diantara penyadang DM tipe 2
meliputi dislipidemua dan hipertensi.
Studi kasus Hipotiroidisme
Janice cohen, 54 tahun adalah ibu dengan 4 anak. Dia bercerita kepada
sahabatnya, seorang perawat bahwa dia khawatir mengenai keadaannya yang
merasa tidak bertenaga dan berat badannya terus naik hingga lebih dari 12 kilogram
(kendati selera makan berkurang) selama dua bulan terakhir akhir. Dia juga
mengatakan bahwa dirinya selalu mengalami konstipasi dan mengeluh merasa
“mengantuk”. Ketika ditanya lebih rinci, perawat menemukan bahwa Janice merasa
kedinginan dan mengira dirinya sedang mengalami depresi ringan. Perawat juga
menemukan adanya goiter (pembesaran kelenjar tiroid).
Ketika memeriksakan diri ke dokter berdasarkan saran sahabatnya, Janice
didiagnosis menyandang Tiroiditis Hashimoto- suatu keadaan yang
dimanifestasikan dengan hipotiroidisme dan goiter. Jika penyakit ini berat, akan
ditemukan miksedema (yang sering ditandai dengan edema nonpiting atau
penebalan kulit). Tirioiditis Hashimoto merupakan bentuk hipotiroidisme yang
paling sering ditemukan, terutama terjadi pada wanita usia menengah dan lanjutt.
Diagnosis dipastikan melalui uji fungsi tiroid dan antibodi antitiroid. Selanjutnya,
Janice mulai menjalani terapi sulih hormon dengan preparat tiroid oral.
Studi Kasus Hipertiroidisme
Jannie Tsardos usia 38 tahun masuk rumah sakit karena luka bakar
kedalaman parsial pada kedua tangan. Dia dibawa ke unit gawat darurat di pagi hari
karena mengalami luka bakar kimia pada kedua tangannya yang disebabkan oleh
bahan pembersih oven. Dia memberitahu staf perawat bahwa luka bakar itu terjadi
setelah dia membersihkan oven tanpa sarung tangan. Luka bakarnya kemudian
dibersihkan dan diobati dengan krim silver sulfdiazin dan diselubungi dengan
kantong plastik. Kedua tangannya dielevasi dan diberi tramadol hidroklorida per IV
untuk mengurangi rasa nyeri sebelum dipindahkan ke bangsal perawatan.
Ketika masuk bangsak perawatan, Jeannie terlihat gelisah dan agitasi. Dia
berbicara dengan cepat dan tanpa henti sehingga perawatan mengalami kesulitan
melakukan amnesia. Hasil observasi menunjukkan: denyut nadi 110 kali permenit,
suhu tubuh 37,70C, frekuensi pernapasan 24 kali permenit, tekanan darah 150/ 100
mmHg. Ketika mengobservasi keadaan Jeannie, perawat mengetahui bahwa
Jeannie mengalami diaforesis ringan dan mengeluh merasa panas. Jeannie meminta
jendela dibuka agar udara segar dapat masuk. Jeannie bertubuh kurus dan perawat
menduga Jeannie memiliki berat badan yang kurang. Perawat juga menemukan
adanya goiter, bola mata yang menonjol, rambut tipis serta rontok. Jeannie
mengatakan bahwa dia hidup seorang diri karena baru saja berpisah dengan
suaminya dan penurunan berat badannya terjadi saat pernikahannya hancur.
Perawat mengkhawatirkan tanda-tanda vital Jeannie dan tingkat agitasinya serta
meminta dokter untuk segera melakukan pemeriksaan.
Setelah pemeriksaaan yang cermat, dokter meneggakkan diagnosis
sementara penyakit Grave. Pemeriksaan fungsi tiroid yang meliputi uji antibodi
tiroid segera diprogramkan dan hasil uji memastikan diagnosis tersebut. Jeannie
mulai mendapat terapi propranolol 40 mg tiga kali sehari dan karbimazol 10 mg
tiga kali sehari.
Penyakit Grave merupakan keadaan yang ditandai dengan hipertiroidisme,
goiter dan eksfotalmus (penonjolan bola mata). Penyakit ini merupakan penyebab
hipertiroidisme yang paling sering dan umumnya terjadi pada wanita, sering kali
pada usia antara 20 sampai 40 tahun.
KASUS Sistem Kardiovaskular
Studi Kasus Fibrilasi Atrium
Tn. Arthur Collins berusia 56 tahun menemui dokter umum dengan keluhan
dada berdebar-debar (palpitasi). Dokter menemukan denyut nadi tidak teratur dan
hipertensi (TD 190/90 mmHg). Pemeriksaan EKG yang dilakukan menunjukkan
fibrilasi atrium dan Tn. Arthur dirujuk ke dokter spesialis kardiologi untuk
pemeriksaan dan penatalaksanaan lebih lanjut yang dapat meliputi tindakan
kardioversi elektif. Fibrilasi atrium terjadi ketika atrium tidak berkontraksi secara
sistematis dan terkoordinasi. Keadaan ini diduga terjadi karena peningkatan
regangan atrium dan terdapatnya sirkuit re-entrant multipel dalam miokardium
atrium sehingga timbul pola detak jantung yang tidak teratur dan berubah. Dokter
menjelaskan kepada Tn. Arthur bahwa dia mempunyai sejumlah faktor resiko yang
dapat diubah, yaitu : obesitas (indeks masa tubuh 38), hipertensi, kebiasaan
merokok, dan kehidupan sedentari (jarang melakukan aktivitas fisik). Terapi
dengan inhibitor ACE dimulai untuk mengatasi hipertensi dan warfarin diberikan
sebagai trombo profilaksis. Tn. Arthur bersama dokternya merundingkan rencana
untuk mengelola faktor resiko sehingga daoat mencegah msalah kardiovaskular
berikutnya.
Kasus Sistem Pernapasan
Studi Kasus Trauma Pernapasan
Paul Tomasavic, 19 tahun, datang ke unit gawat darurat setelah mengalami
serangan nyeri dada kiri dan kesulitan bernapas secara mendadak. Tinggi badan
Paul 190 cm dengan berat badan sekitar 85 kg. Paul sedang bermain bola basket
ketika serangan nyeri terjadi. Pada saat datang, tanda-tanda vital Paul adalah:
tekanan darah 125/85 mmHg denyut jantung 105 kali/menit (sinus takikardia), dan
frekuensi pernapasan 32 kali permeni. Paul mengatakan bahwa dirinya “sehat dan
bugar” dan tidak menggunakan obat apapun.
Staf dokter memeriksa kondisi fisik Paul. Perkusi dada menghasilkan bunyi
hiperesonan pada sisi kiri sementara auskultasi menunjukkan penurunan bunyi
pernapasn pada dada kiri. Terapi oksigen diberikan melalui masker wajah
sederhana dengan kecepatan 4 L/menit dan pemberian infus larutan saline 0,9%30
Ml/jam dilakukan untuk menjaga agar vena tidak kolaps. Pemeriksaan
elektrokardiografi 12-sadapan dan sianr X dada segera direncanakan. Pasien
dicurigai menderita pneumotoraks sisi kiri.
Studi Kasus Asma
Jason Nguyen, 23 tahun, datang ke unit gawat darurat dengan keluhan sesak
napas dan tampak pucat serta cemas. Riwayat Jason meliputi pekerjaan sebagai
pekerja tidak tetap pada sebuah perusahaan kontraktor. Dia mengatakan bahwa
dirinya kadang mengalami hay fever kendati merasa sehat dan tidak memiliki
riwayat alergi terhadap makanan ataupun obat. Dia memberitahukan pernah dirawat
pada usia 4 tahun karena asma; kini Jason menganggap dirinya sudah sembuh
sehingga tidak minum obat asma selama bertahun-tahun. Pada pemeriksaan dada,
diketahui bahwa Jason menggunakan otot aksesori yang ekstensif saat inspirasi dan
terdengar mengi bilateral saat ekspirasi. Tanda-tanda vital berupa frekuensi
pernapasan 32 kali/menit, tekanan darah 147/86 mmHg frekuensi nadi 108 x/menit,
suhu tubuh 37 oC dan saturasi 0ksigen 86 % pada suhu ruangan. Sampel AGD
meniunjukan nilai PH 7,33 ( 7,35-7,45) paO2 70 mmHg (80-100 mmHG) paCo2
52 mmHg (35-45 mmHg), Hco3 24 mmol/L (22-26 mmol/L).awalnya Jason
mendapat 6L oksigen/menit melalui sungkup wajah dan dia duduk tegak di kursi.
Dokter meresepkan 2 kali hirupan inhaler salbutamol melalui spacer, yang diulang
sebanyak tiga kali dalam waktu 15 menit berikutnya.
Kasus Sistem Perkemihan
Studi Kasus Gagal Ginjal Akut
Sandra Henderson, 65 tahun, tinggal dirumah bersama suaminya.Ny. Henderson
didiagnosis mengalami kanker kolon transversum dan menjalani kolektomi total
dengan pembentukan ileostomi dua hari yang lalu. Pasca bedah, Ny. Henderson
mengalami ileus paralitik sehingga harus dipasang slang nasogatrik (NGT) yang
dihubungkan dengan alat suction kontinu bertekanan rendah. Pada malam hari,
catatan keseimbangan cairan menunjukkan hasil berikut: asupan 2,5 L (semua
cairan infus) dan haluaran 3,2 L (1,8 L melalui NGT dan 0,5 L urine). Pada pukul
9.00 pagi keesokan harinya hasil observasi Ny. Henderson memperlihatkan: TD
105/55 mmHg, Nadi 104 x/menit, suhu tubuh 38,8oC dan Yn. Henderson tidak
berkemih sepanjang malam. Staf medis meninjau keadaan Ny. Henderson dan
memulai pemberian 1 g ampisiln reguler 4 kali sehari dan segera diberikan
gentamicin 240 mg. Pada pukul 16.00, tekanan darahnya 95/55 dan urine total 200
mL. Hasil pemeriksaan biokimia yang terakhir menunjukkan kelainan berikut: K+
4,5 mmol/L, ureum 10,9 mmol/L dan kreatinin 280 µmol/L. Staf medis, kemudian
memeriksa Ny. Henderson dan mencurigai terjadi gagal ginjal akut.
Studi Kasus Gagal Ginjal Kronis
Peter Jones, 68 tahun, adalah seorang pria menikah yang menyandang
diabetes melitus tipe 2 selama 23 tahun. Dokter pribadinya merujuk Tn. Jones ke
dokter spesialis nefrologi untuk menjalani pemeriksaan dan penatalaksanaan lanjut
fungsi ginjal sejak tiga tahun yang lalu ketika beliau mengalami proteinuria. Hari
ini dokter spesialis nefrologi mengevaluasi kondisi Tn. Jones dan diketahui bahwa
fungsi ginjal Tn. Jones mengalami penurunan yang signifikan. Hasil pemeriksaan
darah terbaru memperlihatkan kelainan berikut: K+ 5,9 mmol/L, ureum 28,9
mmol/L, kreatinin 870 µmol/L, dan Hb 8,8 g/dL. Dokter nefrologi mengatur
perawatan di bangsal perawatan penyakit ginjal untuk menjalani pemasangan
kateter dialisis peritoneal besok.
Pada saat masuk bangsal, hasil observasi terhadap keadaan Tn. Jones
menunjukkan TD 165/95 mmHg; Nadi 86 x/menit; suhu tubuh 37,00C; kadar
glukosa darah 14,7 mmol/L. Pengobatan yang disarankan kepada Tn. Jones adalah
Actrapid 24 unit 3 kali sehari; Protophane 36 unit sekali sehari; ramipril 2,5 mg
sekali sehari, atenolol 50 mg dua kali sehari; Caltrate 1500 mg tiga kali sehari,
natrium bikarbonat 840 mg tiga kali sehari , dan Lasix 250 mg dua kali sehari. Pada
saat datang di unit ginjal, Tn. Jones menjalani pemeriksaan EKG yang
menunjukkan irama sinus normal. Tn. Jones juga mendapatkan Resonium 30 g yang
segera diberikan.
Studi Kasus Hiperplasia Prostat
Alfred Talford, 75 tahun, masuk rumah sakit untuk menjalani prostatektomi
radikal retropubis. Riwayat medis Tn. Talford menunjukkan bahwa tiga tahun yang
lalu beliau didiagnosis menderita gejala saluran kemih bawah (lower urinary tract
symptoms, LUTS) yang meliputi, disuria, pancaran urine lemah, pelan dan terputus
diikuti oleh tetesan urine. Sesudah dilakukan pemeriksaan colok dubur dan tes PSA
(prostatic-spesific antigen) yang memperlihatkan kadar PSA 12,5 ng/mL,
ditegakkan diagnosis hiperplasian prostat benigna (BPH). Pengendalian gejala
awalnya dilakukan dengan “observasi cermat” dan penggunaan Minipres. Tn.
Talford mengeluh semakin sulit mengatasi gejala dan memutuskan untuk menjalani
tindakan reseksi transuretral guna mengangkat prostatnya (transurethral resection
of prostate, TURP). Saat ini, kadar PSA Tn. Talford meningkat (27,5 mg/mL) dan
hasil biopsi prostat menunjukkan adenokarsinoma yang membuatnya dirawat di
rumah sakit.
Selama prosedur masuk rumah sakit, perawat menyampaikan informasi
tentang tujuan pembedahan, efek pembedahan pada eliminasi urine dan fungsi
seksual. Perawat yang merawat Tn.Talford pada periode awal pasca bedah terkejut
ketika beliau mengatakan bahwa beliau “tidak yakin tentang apa yang diharapkan
dari pembedahan”.
Studi Kasus Batu Ganjil
Tn. John Hendrick , 45 tahun, datang ke unit gawat darurat dengan keluhan
demam, menggigil, hematuria dan nyeri hebat yang hilang timbul pada inguinal kiri
yang dimulai sejak kemarin.Nyeri yang dialami Tn. Hendrick terus mengganggu,
menjalar ke atas bagian sisi tubuh dan punggung. Ginjal kanan teraba ballottement
dan sangat nyeri ketika ditekan. Selama tiga minggu ini,Tn. Hendrick mengalami
kesulitan berkemih. Lima hari yang lalu, ia memeriksakan diri ke dokter umum
yang meresepkan Augmentin Duo Forte 250 mg 3 kali sehari.
Tn. Hendrick mengalami demam dengan suhu 38,40C, berkeringat, dan
tampak pucat. Hasil observasi dan pemeriksaan fisik lainnya normal. Hasil
urinalisis menunjukkan adanya darah dan leukosit dalam jumlah besar, nitrit positif,
pH 7,5 dan berat jenis 1,025. Kultur urine memperlihatkan keberadaan bakteri
Escherichia coli. Tn. Hendrick kemudian mulai mendapat terapi sefaleksin dan
naproksen. Tn. Hendrick dirawat di bangsal untuk menjalani ekstraksi batu melalui
tindakan bedah endoskopik dengan anestesi umum yang dilakukan keesokan
harinya.
KASUS GASTROINTESTINAL
Studi Kasus Kolesistitis
Ny. Leslie Wynne, 42 tahun, datang ke rumah sakit karena mengalami nyeri
abdomen akut. Rasa nyeri menyebar ke bahu kanan dan semakin parah pada saat
inspirasi dan bergerak. Ny. Wynne juga merasa mual dan pernah muntah. Tekanan
darah Ny. Wynne normalm frekuensi jantung 94 kali/menit, dan suhu tubuh 38,20C.
Pada pemeriksaan terdapat distensi abdomen dan tidak terdengar bising usus.Ny.
Wynne juga memperlihatkan gejala ikterus ringan.
Studi Kasus Sirosis
Frank Sloane, 55 tahun, datang ke unit gawat darurat karena mengalami
hematemesis yang banyak (lebih dari 500 mL). Tn. Sloane berbadan kurus, terlihat
rapuh dan memiliki perut yang besar. Infus cairan dan produk darah dipasang untuk
resusitasi. Pemeriksaan endoskopi dilakukan untuk menemukan varises esofagus,
kemudian varises tersebut disuntik dengan adrenalin serta diligasi untuk
mengurangi perdarahan. Tn. Sloane mengalami perdarahan berulang kali karena
varises esofagus. Dia juga memiliki riwayat alkoholik berat dalam waktu lama.
Studi Kasus Pankreatitis
Paul Kelley, 52 tahun, datang ke unit gawat darurat dengan nyeri abdomen akut
seperti tertusuk pada abdomen bagian atas. Tn. Kelly bertubuh kurus, memiliki
turgor kulit yang buruk, dan mukosa oral kering. Tekanan darah 90/55 mmHg dan
suhu tubuh 38,20C. Frekuensi nadi 125 kali permenit dan pernapasan terlihat cepat
serta dangkal. Pada pemeriksaan, abdomen Tn. Kelly terasa nyeri ketika ditekan,
teraba kaku, dan bising usus tidak terdengar, Tn. Kelly menyatakan memiliki
kebiasaan minum 12 kaleng bir per hari.
Studi Kasus Hepatitis
Luke Straub, 28 tahun,memeriksakan diri pada dokter umum karena mengalami
keluhan penurunan selera makan, mual, demam, malaise, nyeri otot dan ikterus.
Luke mengatakan mengalami keluhan tersebut sejak tiga minggu yang lalu.
Biasanya Luke berada dalam kondisi yang sehat dan mengatakan kepada dokter
bahwa kadang dia memakai obat terlarang untuk bersenang-senang, seperti heroin
dan kokain. Pemeriksaan darah dilakukan dan dokter meminta Luke datang kembali
tiga hari kemudian untuk mengetahui hasil pemeriksaan darah. Luke merasa sangat
cemas ketika dirinya diberitahukan mengidap hepatitis C.
Kasus Stroke

Ny R 76 thn agama Islam suku sunda pekerjaan ibu rumah tanggga masuk rumah
sakit dengandiagnose Hemiparese kiri e.c. stroke infark system karotis kanan.
Riwayat kes sekarang: klien mengalamipenurunan kesadaran sejak masuk ke rumah
sakit, klien mengalami hemiparese kiri sehingga mengalamikelemahan otot pada
alat gerak sebelah kiri. Alat gerak sebelah kanan terlihat aktif, klien
terpasanginfuse, NGT, DC dan mayo serta terpasang NRM (oksigen lt). riwayat
kejadian sejak 3 jam SMRS klien ditemukan pingsan pada pukul 04.0 pagi. Tidak
ada kejang, tidak ada mual muntah, dipanggil dan digoyang tidak bangun. Lalu
klien dibawa ke RSHS. 1 hari SMRS klien mengeluh batuk, pusing dandemam, lalu
klien berobat ke puskesmas sukajadi dan diberi obat amoxilin dan parasetamol.
Saatberobat TD kien 160/110 mmHg, klien tidak pernah mengalami stroke, klien
memiliki riwayat hipertensi,asam urat, dan penyakit jantung. Menurut keluarganya
suami ny R memilki riwayat hipertensi, tapi tidakada anggota keluarga yang
menderita penyakit yang sama seperti klien.Pada saat pemeriksaan fisik ditemukan:
Kesadaran menurun GCS (E2 V1 M4) tampak lemah dan sakit berat, TD
150/100mmHg, HR 98x/mnt, RR 28 x/mnt,S 36oC. breathing: reflex batuk (+)
adanyapeningkatan sputum, sesak (-), ronchi (+). Blood: bunyi jantung murni
regular, s1, s2 normal, CRT <2 dtk. Brain: tampak lemah sering tertidur, tidak dapat
bicara, ekspresi apatis, tubuh bagian kiri lemah bagiankanan aktif. Saraf knanial
reflex pupil (+), bulat isokor, kesulitan membuka mulut, pemeriksaan saraf lannya
tidak dapat dikaji. Kekuatan otot: 4/0/4/0. Bowel: tidak ada muntah BAB 1-2 x/hr
lembek kuningpekat, bising usus 10x/mnt, terpasang NGT. Bone: kulit pucat dan
kering, tidak ada tanda dekubitus.