Anda di halaman 1dari 13

JURNAL APLIKASI

KEPERAWATAN MATERNITAS
DI PUSKESMAS MANGKANG
PENGARUH EFEKTIFITAS PEMBERIAN SEDUHAN DAUN
PEPPERMINT PADA IBU HAMIL TERHADAP PENURUNAN
FREKUENSI EMESIS GRAVIDARUM

Kelompok 3:
1. Endah Selvi Rukmana
2. Eni Mufarida
3. Erma Imawati
4. Erva nurochim
5. Hadri Sutriatna

PROGRAM PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG
SEMARANG
2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Kehamilan merupakan suatu peristiwa yang dinanti hampir setiap
pasangan suami istri. Kehamilan terjadi karena adanya pembuahan, yaitu
proses penyatuan antara sel sperma dan sel telur di tuba falopi, sel telur yang
sudah dibuahi akan mengalami pengerasan pada bagian luarnya, dan inti sel
telur yang telah dibuahi akan mengalami pembelahan menjadi dua bagian
setelah 30 jam (Harsono, 2013). Kehamilan biasanya terjadi selama 40
minggu, dan selama kehamilan akan terjadi perubahan pada ibu baik
fisiologis maupun patologis (Molika, 2015)

Pada awal kehamilan sangat berpengaruh pada perubahan hormonal,


perubahan tersebut terjadi akibat adanya ketidakseimbangan hormon estrogen
dan progesteron dimana akan mengakibatkan beberapa keluhan yang
membuat ibu merasa tidak nyaman diantaranya adalah mual dan muntah atau
bisa disebut emesis gravidarum.

Berdasarkan studi pendahuluan di BPM Umi Salamah, Amd. Keb Desa


Peterongan Kec. Peterongan Kab. Jombang didapatkan data ibu hamil tahun
2015 sejumlah 83 ibu hamil, yang mengalami emesis gravidarum pada primi
gravidarum maupun multi gravidarum sebanyak 69 ibu hamil. (berdasarkan
buku kunjungan ibu hamil 2015).
Meskipun keluhan mual muntah dianggap wajar bagi ibu hamil dan tidak
membahayakan janin dalam kandungan. Namun, apabila frekuensi mual dan
muntahnya berlebihan, tetap harus diwaspadai. Mual yang diikuti dengan
muntah-muntah parah dapat menjadi pertanda adanya gangguan dalam
kehamilan. Misalnya pada hamil anggur, dimana plasenta berkembang
menjadi sekelompok kista abnormal. Kemungkinan lain adalah hyperemesis
gravidarum, yaitu kondisi saat ibu hamil kehilangan berat badan dan cairan
tubuh dalam jumlah banyak. Sehingga mual muntah perlu dihindari dengan
diberikan obat-obatan atau alternatif lain untuk mengurangi keluhan itu.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui Rerata penurunan intensitas mual sesudah diberikan
seduhan daun pappermint pada ibu hamil s
2. Untuk mengetahui Rerata penurunan intensitas muntah sesudah diberikan
seduhan daun pappermint pada ibu hamil
3. Untuk mengetahui pengaruh pemberian seduhan daun pappermint terhadap
penurunan muntah pada ibu hamil
BAB II

A. Nama peneliti
1. Sri Banun Titi Istiqomah
2. Dian Puspita Yani
3. Suyati

B. Tempat penelitian
Desa Peterongan Kec. Peterongan Kab. Jombang

C. Tujuan penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian seduhan
daun peppermint terhadap penurunan frekuensi mual dan muntah pada ibu
hamil

D. Metode penelitian
Metode sampling digunakan dalam penelitian ini. Objek penelitian
adalah ibu hamil di lingkungan BPM Ibu Salamah, Amd. Keb Desa
Peterongan Kec. Peterongan Kab. Jombang. Ada 30 sampel ibu hamil
dijadikan responden dengan kategori primi, multi, pada trimester dan
mengalami keluhan emasis. Bahan penelitian adalah daun peppermint yang
dikeringkan kemudian disedu dan dikonsumsi ibu hamil dua kali dalam
sehari, pagi dan siang. Metode Lebih lanjut, penelitian ini menggunakan
pendekatan One Group Pre-test – Post test designya itu jenis preexperimental
ini dilakukan dengan cara sebelum diberikan treatment/perlakuan, variable
diobservasi/diukur terlebih dahulu (Pre-test) setelah itu dilakukan treatmen/
perlakuan dan setelah treatmen dilakukan pengukuran /observasi. (Post test).
Untuk mengetahui pengaruh pemberian seduhan daun peppermint terhadap
penurunan frekuensi mual dan muntah pada ibu hamil, maka peneliti
melakukan uji statistik Paired T-Test dan dianalisa menggunakan SPSS versi
16.0
E. Hasil penelitian
Berdasarkan hasil observasi awal, dari 30 sampel yang dipilih
sebagian besar responden ibu hamil mengalami mual muntah dalam masa
kehamilannya. Sekitar 26 orang (87%) dari 30 responden ibu hamil
mengalami keluhan mual muntah sedang, sedangkan 4 orang (13%) ibu hamil
mengalami keluhan mual ringan. Setelah dilakukan tindakan pemberian
seduhan daun peppermint pada 30 responden ibu hamil, pada hari ketiga
dilakukan observasi. Hasil observasi kedua ini sudah mulai menunjukan
perubahan frekuensi mual dan muntah pada ibu hamil. Tetapi karena
perubahan belum signifikan maka pemberian seduhan daun peppermint harus
terus dilakukan. Begitu pula pada observasi ketiga yang dilakukan pada hari
ke delapan sudah didapatkan perubahan frekuensi mual dan muntah semakin
menurun. Pada observasi keempat menunjukan perubahan frekuensi mual
muntah yang signifikan menurun. Sebagian besar responden mengalami
penurunan mual muntah setelah diberikan seduhan daun peppermint.
Sebanyak 13 orang (43,3%) hanya mengalami mual 2 kali saja, ada 5 orang
(16,7%) hanya mengalami mual 3 kali saja, dan juga 12 orang (40%) hanya
mengalami mual 4 kali saja. Ini menunjukkan bahwa seduhan daun
peppermint benar terbukti bermanfaat mengurangi keluhan mual dan muntah
apa ibu hamil pada trimester 1. Hasil uji Paired T-Test yang telah dilakukan
dengan program SPSS versi 16.0 diketahui nilai Sig. (2-tailed): Nilai
probabilitas/p value uji T Paired: Hasil = 0,000. Artinya ada perbedaan
signifikan frekuensi mual muntah antara sebelum dan sesudah perlakuan
pemberian seduhan daun peppermint pada ibu hamil. Sebab nilai p value <
0,05 (95 % kepercayaan). Mean: 2.600 bernilai positif, artinya terjadi
kecenderungan penurunan frekuensi mual dan muntah pada ibu hamil sesudah
perlakuan pemberian seduhan daun peppermint.

F. Saran penelitian
G. Kesimpulan
Kesimpulan Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji Paired
T-Test dengan program SPSS 16.0 diperoleh Sig. (2-tailed): Nilai
probabilitas/p value uji T Paired: Hasil = 0,000 Artinya ada perbedaan
signifikan frekuensi mual muntah antara sebelum dan sesudah perlakuan
pemberian seduhan daun peppermint pada ibu hamil. Sebab nilai p value <
0,05 (95% kepercayaan). Nilai rata-rata adalah 2.600 bernilai positif, artinya
terjadi kecenderungan penurunan frekuensi mual dan muntah pada ibu hamil
sesudah perlakuan pemberian seduhan daun peppermint. Sehingga dari data
tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian rutin seduhan daun peppermint
dapat berpengaruh pada penurunan frekuensi mual dan muntah pada ibu hamil
di BPM
BAB III
PEMBAHASAN
A. Hasil Aplikasi jurnal
Tabel 1 Intensitas mual pada ibu hamil sebelum dan sesudah pemberian
seduhan daun peppermint
No Intensitas mual Sebelum Sesudah
F % F %
1 tidak mual (0) 0 0 0 0
2 ringan (1-3) 3 30 8 80
3 Sedang (4-6) 7 70 2 20
4 Berat (7-10) 0 0 0 0
Jumlah 10 100 10 100

Data penelitian tentang intensitas mual dibagi menjadi 4 yaitu, tidak mual,
mual ringan , mual sedang, dan mual berat. Berdaarkan tabel 1 didapatkan
bahwa sebelum diberikan seduhan daun pappermint dari (70%) responden
mengalami mual sedang, dan tidak satupun mengalami mual berat, setelah
diberikan seduhan daun pappermint hampir sseluruhnya (80%) responden
mengalami mual ringan.

Tabel 2 intensitas muntah pada ibu hamil sebelum dan sesudah


pemberin seduhan daun peppermint

No Intensitas Sebelum Sesudah


F % F %
muntah
1 tidak mual (0) 0 0 0 0
4 40 8 80
2 ringan (1-3)
3 Sedang (4-6) 6 60 2 20
4 Berat (7-10) 0 0 0 0
Jumlah 10 100 10 100

Berdasarkan tabel 2, didapatkan hasil bahwa intensitas responden mengalami


muntah sebelum mengkonsumsi seduhan daun pappermint (60%) muntah sedang,
seelah diberikan seduhan daun pappermint responden (80%) menjadi muntah
ringan dan (20%) responden masih mengalami muntah sedang.
Tabel 3 pengaruh pemberian seduhan daun pappermint terhadap muntah pada ibu
hamil
No Muntah Mean Hasil paired
sampel T- test
1 Pre 1.60 t = 2.449
2 Post 1.20 Sig 2-tailed =
0,037
X skala penurunan 0,40

Berdasarkan tabel 3 dapat dijelaskan bahwa rerata frekuensi muntah responden


sebelum diberikan seduhan daun pappermint adalah 1,60 dan sesudah diberikan
seduhan daun pappermint turun menjadi 1,20 sehingga penurunan skala frekuensi
muntah sesudah diberikan seduhan daun pappermint adalah 0,40. Dari hasil uji
paired sampel T-test didapatkan nilai t = 2.449 dan p= 0,037 dimana p<0,05 maka
H1 diterima, artinya ada pengaruh pemberian seduhan daun pappermint dalam
menurunkan muntah pada ibu hamil.

Tabel 4 pengaruh pemberian seduhan daun pappermint terhadap mual pada ibu hamil
No Mual Mean Hasil paired sampel
T- test
1 Pre 4.50 t = 2.905
2 Post 3.40 Sig 2-tailed = 0.017

X skala penurunan 1,1

Berdasarkan tabel 3 dapat dijelaskan bahwa rerata frekuensi mual responden


sebelum diberikan seduhan daun pappermint adalah 4,50 dan sesudah diberikan
seduhan daun pappermint turun menjadi 3,40sehingga penurunan skala frekuensi
mual sesudah diberikan seduhan daun pappermint adalah 0,40. Dari hasil uji
paired sampel T-test didapatkan nilai t = 2.905 dan p= 0,017 dimana p<0,05 maka
H1 diterima, artinya ada pengaruh pemberian seduhan daun pappermint dalam
menurunkan mual pada ibu hamil.
B. Pembahasan hasil
Tingkat Mual dan Muntah Pada Ibu Hamil Sebelum Dan Sesudah Diberikan
seduhan daun Pappermint Hasil penelitian pada tabel 1 menunjukkan bahwa
sebelum diberikan seduhan daun pappermint lebih dari sebagian (70%) ibu hamil
mengalami mual tingkat sedang. Setelah diberikan aromaterapi pappermint
hampir seluruhnya (80%) mengalami mual tingkat ringan.
Berdasarkan tabel 3 dapat dijelaskan bahwa rerata intensitas muntah ibu hamil
sebelum diberikan seduhan daun pappermint adalah 1,60 dan sesudah diberikan
seduhan daun pappermint turun menjadi 1,20 sehingga skala penurunan intensitas
muntah sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi pappermint adalah 0,40.
Hasil uji Paired Sampel T-Test ada pengaruh pemberian seduhan daun
pappermint dalam menurunkan muntah pada ibu hamil (p=0,037)
Dari data tersebut perlu menjadi perhatian para bidan karena mual dan muntah
sesuatu fenomena kehamilan yang relatif wajar (nomal) selama masih dapat
ditoleransi oleh tubuh ibu hamil, tetapi bila melebihi batas ambang normal, maka
perlu perawatan lebih baik karena mual dan muntah yang berlebihan akan
menjadikan masalah bagi ibu jan janin yang ada di dalam kandungan. Oleh karena
itu tenaga kesehatan bidan maupun perawat harus mampu mengidentifikasi
dengan baik tentang kondisi ibu hamil dan memberikan solusi terbaik
sebagaimana bentuk intervensi keperawatan pada saat kehamilan. Menurut
Alankar, Shrivastava (2009).
Berdasarkan tabel 4 dapat dijelaskan bahwa rerata intensitas mual ibu hamil
sebelum diberikan seduhan daun pappermint adalah 4,50 dan sesudah diberikan
seduhan daun pappermint turun menjadi 1,20 sehingga skala penurunan intensitas
mual sebelum dan sesudah diberikan aromaterapi pappermint adalah 3,40.
Hasil uji Paired Sampel T-Test ada pengaruh pemberian seduhan daun
pappermint dalam menurunkan mual pada ibu hamil (p=0,017)
Hal ini didukung oleh penelitian Parwitasari (2014), dengan judul penelitian
Perbandingan efektifitas pemberian rebusan jahe merah dan daun mint terhadap
mual muntah pada ibu hamil trimester I di Puskesmas Garuda. Berdasarkan hasil
uji statistik dengan menggunakan uji wilcoxon yang diperoleh p-value (0,000)<
α(0,05). Hal ini berarti terdapat perbedaan signifikan antara ratarata intensitas
derajat mual muntah sebelum dan sesuddah diberikan rebusan jahe, sedangkan
rata-rata intensitas derajat mual muntah ibu hamil sebelum dan sesudah diberikan
rebusan daun mint diperoleh p-value (0,003) < α (0,05) dengan kesimpulan
terdapat perbedaan rata-rata intensitas derajat mual muntah sebelum dan sesudah
diberikan rebusan jahe dan daun mint pada ibu hamil.
Daun mint mengandung menthol yang dapat mempercepat sirkulasi,
meringankan kembung, mual dan kram. Daun mint mengandung minyak atsiri
yaitu menthol yang berpotensi memperlancar sistem pencernaan dan meringankan
kejang perut atau kram karena memiliki efek anastesi ringan serta mengandung
efek karminatif dan antispasmodik yang bekerja di usus halus pada saluran
gastrointestinal sehingga mampu mengatasi atau menghilangkan mual muntah
(Tiran, 2008).Oleh sebab itu, dengan mengkonsumsi seduhan daun pappermint
secara teratur akan berinteraksi dengan senyawa yang ada pada pappermint
dengan sistem pencernaan ibu hamil. Kandungan anti mual yang ada pada
pappermint terdiri dari menthol (50%), menton (10-30%), mentil asetat (10%),
dan derivat menoterpen lain seperti pulegon, piperiton, dan mentafuran. (Afrizal,
2011).

C. Keterbatasan aplikasi jurnal


Keterbatasan pada aplikasi ini adalah jumlah responden yang
masih sedikit, membutuhkan waktu yang cukup lama , dan perawat tidak
dapat melihat langsung responden yang meminum seduhan daun
peppermint.
D. Implikasi keperawatan
Diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat menambah ilmu
pengetahuan perawat dan tenaga kesehatan lain dalam upaya menerapkan
tindakan maupun edukasi mengenai seduhan daun peppermint untuk
mengurangi mual muntah pada ibu hamil.

BAB IV
PENUTUP
A. Simpulan
1) Rerata penurunan intensitas mual sesudah diberikan seduhan daun
pappermint pada ibu hamil sebesar 0,40
2) Rerata penurunan intensitas muntah sesudah diberikan seduhan daun
pappermint pada ibu hamil sebesar 1,1
3) Ada pengaruh pemberian seduhan daun pappermint terhadap penurunan
muntah pada ibu hamil p= 0,037
B. Saran
1) Bagi profesi dan institusi pelayanan keperawatan
Diharapkan perawat dan petugas pelayanan kesehatan yang lainnya dapat
menggunakan seduhan daun pappermint sebagai terapi non farmakologi
pilihan dalam mengatasi mual dan muntah pada ibu hamil.
2) Bagi responden
Hasil penelitian dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan ibu hamil
untuk mengurangi mual dan muntah dengan menggunakan terapi seduhan daun
pappermint.

DAFTAR PUSTAKA
.
Affandi, Brian. Dr,dkk. 2011. Buku Panduan Praktis pelayanan Kontrasepsi. Ed.
3. Jakarta : Pt Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

Bandiyah, Siti. 2009. Kehamilan, persalinan & Gangguan Kehamilan.


Yogjakarta : Medical Book
Dinkes Kab. Jombang. 2013. Lampiran Profil 2013. Diakses tanggal 27/01/15/jam
20.00 WIB.

J. Ramadhan, Ahmad. 2013. Rimpang Jahe. Yogjakarta : Diandra.

Maharani, Sabrina. 2010. Herbal Sebagai Obat bagi Penderita Penyakit


mematikan. Yogyakarta : A+ PLUS BOOKS.

Mahmuda, dkk. 2013. Jurnal Efektivitas Pemberian Wedang Jahe (Zingiber


Officinale Var. Rubrum) Terhadap Penurunan Emesis Gravidarum Pada
Trimester Pertama. Diakses tanggal 04/032015/jam 10.00 WIB.

Manuaba, dkk. 2010. Ilmu kebidanana, penyakit kandungan dan KB untuk


pendidikan Bidan, Ed. 2. Jakarta : ECG

Pantiawati, Ika, dkk. 2010. Asuhan Kebidanan 1. Yogjakarta: Mutia Medika.

Primadi, dkk. 2014. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2013. Jakarta : Kementrian
Kesehatan RI.

Rahayu, Sri Niken. 2010. Waspadai & Cegah Keguguran. Jogjakarta : Kata hati.

Roumali, Suryati. 2011. Buku ajar I : Konsep Dasar Asuhan Kehamilan.


Yogjakarta : Mutia Medika.

Soepardan, Suryani. 2008. Konsep Kebidanan. Jakarta : EGC.

Supari, Siti Fadilah. 2010. Penyelenggaraan Praktik Bidan. Jakarta : Mentri


Kesehatan Republik Indonesia.

---------------------. 2007. Standart Asuhan Kebidanan. Jakarta : Mentri Kesehatan


Republik Indonesia.

---------------------. 2007. Standart Profesi Bidan. Jakarta : Mentri Kesehatan


Republik Indonesia.

Walyani, Elisabeth Siwi. 2015. Asuhan Kebidanan Pada Kehamilan. Yogjakarta :


PB.

Wiknjosastro, hanifa. Dr, dkk. 2009. Ilmu Kandungan, Ed. 7. Jakarta : Pt Bina
Pustaka sarwono prawirohardjo

Yulaikhah, Lily. 2009. Seri Asuhan Kebidanan Kehamilan. Jakarta : ECG

Parwitasari, C. D., Utami, S. & Rahmalia, S. Perbandinganefektivitas pemberian


rebusan jahe dan daun mint terhadap mual muntah pada ibu hamil. (2014).