Anda di halaman 1dari 39

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM

ICHTYOLOGI

Dosen Pembimbing : 1. Rani Ekawaty, S.Pi., M.Env.Man

2. Ayu Putu Wiweka Krisna Dewi, S.ST.Pi., MP

3. Endang Wulandari Suryaningtyas.,S.Pi.,MP

Asisten Dosen : Indah Nurtira

Disusun Oleh :
Kelompok 3
Kristina Merykit Tuyes Sianturi
1813521035

PROGRAM STUDI MANAJEMEN SUMBERDAYA PERAIRAN


FAKULTAS KELAUTAN DAN PERIKANAN
UNIVERSITAS UDAYANA
BUKIT JIMBARAN
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNya sehingga
laporan ini dapat tersusun hingga selesai. Tidak lupa penulis juga mengucapkan
banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan
memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.
Penulis menyampaikan ucapan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah
membantu, adapun pihak-pihak yang telah membantu penulis antara lain:

1. Kepada ibu Rani Ekawaty, S.Pi.,M.Env.Man, ibu Endang Wulandari


Suryaningsih.,S.Pi.,MP, dan ibu Ayu Putu Wiweka Krisna Dewi, S.ST.Pi.,MP
yang telah membibing dan mengajari mata kuliah Ichtyology.
2. Asisten dosen kelompok tiga yaitu Indah Nurtira yang telah membimbing dan
mengajari selama praktikum berlangsung. Serta pihak-pihak yang terlibat selama
praktikum berlangsung.
3. Orang tua ,keluarga, sahabat, dan pihak-pihak lainnya yang tidak bisa penulis
sebutkan satu-persatu.
Meskipun penulis berharap isi dari laporan praktikum ini bebas dari kekurangan
dan kesalahan, namun tidak ada didunia ini yang sempurna selalu ada yang kurang.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar tugas
laporan akhir praktikum ikhtiologi ini dapat lebih baik lagi kedepannya. Akhir kata
penulis mengucapkan terima kasih, semoga hasil laporan praktikum ini dapat
bermanfaat.

Bukit Jimbaran, 31 Maret 2019

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Ikhtiologi berasal dari gabungan dua kata Yunani, yaitu ichtyes yang artinya
ikan dan logos yang artinya ajaran atau ilmu. Dengan demikian ichtyologi adalah
suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari ikan dengan segala aspek kehidupannya,
termasuk morfologi, anatomi, fisiologi, taksonomi, serta bagaimana
mengidentifikasinya. Ichtyologi mampu memberikan gambaran ikan secara lengkap
kepada dunia perikanan baik secara external maupun internal, tidak hanya sekedar
anatomi ikan saja (Rahardjo, 1985). Sejak abad XVIII ikhtiologi telah berkembang
meliputi beberapa cabang ilmu antara lain ; Klasifikasi, Anatomi, Evolusi dan
genetik, Natural history dan ekologi, Fisiologi dan biokimia (Nontji, 1993).
Ikan merupakan binatang vertebrata yang berdarah dingin (poikiloterm), hidup
didalam lingkungan air, pergerakan dan keseimbangan tubuhnya terutama
menggunakan sirip dan umumnya bernapas dengan insang. Struktur internal dan
eksternal ikan memberi gambaran bentuk tubuh dan bagian tubuh ikan yang akan
menunjukkan pola makan, membedakan jenis kelamin, dan diagnosis penyakit
(Rahardjo, 1985). Ikan telah menyediakan makanan bagi jutaan umat manusia di
dunia. Selain menyediakan makanan ikan pun dapat memberikan kesenangan yaitu
sebagai ikan hias yang dipelihara di aquarium (Hadiwiyoto, 1993).
Tubuh ikan pada umumnya mempunyai atau terbagi menjadi tiga bagian, yaitu
bagian kepala, badan, dan ekor. Ikan umumnya berbentuk simetris bilateral namun
ada juga yang berbentuk tidak simetris bilateral (Rahardjo, 1985). Ciri-ciri umum
ikan adalah mempunyai rangka betulang sejati dan bertulang rawan, mempunyai sirip
tunggal atau berpasangan dan mempunyai operculum, tubuh ditutupi oleh sisik dan
berlendir, serta mempunyai bagian tubuh yang jelas antara kepala, badan dan ekor.
Kebanyakan ikan berbentuk torpedo pipih, namun ada juga berbentuk tidak teratur
(Siagian, 2009).
Dalam mengidentifikasi ikan, dapat dilakukan dengan mengamati morfologi
dimana morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk luar dari tubuh akhluk hidup,
morfologi terbagi dua yaitu morfometrik dan meristik. Morfometrik adalah ukuran
bagian-bagian tertentu dari struktur tubuh ikan (measuringmethods). Karakter
morfometrik yang sering digunakan antara lain: panjang total, panjang baku, panjang
cagak, tinggi dan lebar badan, tinggi dan panjang sirip, dan diameter mata. Berbeda
dengan karakter morfometrik yang menekankan pada pengukuran bagian-bagian
tertentu tubuh ikan, karakter Meristik berkaitan dengan penghitungan jumlah bagian-
bagian tubuh ikan (countingmethods). Variabel yang termasuk dalam karakter
meristik antara lain: jumlah jari-jari sirip, jumlah sisik, jumlah gigi, jumlah tapis
insang, jumlah kelenjar buntu (pyloriccaeca), jumlah vertebra, dan jumlah gelembung
renang (Lagleretal., 1977).
Praktikum ikhtiologi ini dilakukan adalah untuk mengembangkan pengetahuan
sebagai mahasiswa perikanan secara ilmiah mengenai struktur tubuh dan sistem organ
yang ada pada ikan. Serta mengetahui perbedaan mengenai perhitungan morfologi
meristik dan morfometrik pada ikan.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah pada praktikum tersebut adalah :
1. Bagaimana morfologi dan klasifikasi pada ikan?
2. Bagaimana ciri meristik dan morfometrik pada ikan?
3. Bagaimana rangka, sistem otot, dan saraf pada ikan?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari Praktikum Ikhtiologi yang dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui morfologi dan klasifikasi pada ikan.
2. Untuk mengetahui ciri meristik dan ciri morfometrik pada ikan.
3. Untuk mengetahui rangka, sistem otot, dan saraf pada ikan.

1.4 Manfaat
Adapun manfaat yang diharapkan untuk praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk Mahasiswa
Dapat memahami dalam morfologi ikan dan kalsifikasi pada ikan, mengenai
metode ciri meristik dan ciri morfometrik sebagai pengukuran ikan dari mulut,
tubuh sampai ekor sampai sebagai referensi dalam identifikasi ikan.
2. Untuk Masyarakat
Dapat memberikan pengetahuan dalam mengetahui mengidentifikasi ikan
berdasarkan ciri meristik dan ciri morfometrik yang akan klasifikasi ikan dan
mengetahui ciri morfologinya dapat mempermudah mengklasifikasi ikan
tersebut.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Morfologi
Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk luar suatu organisme. Bentuk
luar dari organisme ini merupakan salah satu ciri yang mudah dilihat dan diingat
dalam mempelajari organisme. Adapun yang dimaksud dengan bentuk luar organisme
ini adalah bentuk tubuh, termasuk di dalamnya warna tubuh yang kelihatan dari luar.
Pada dasarnya bentuk luar dari ikan dan berbagai jenis hewan air lainnya mulai dari
lahir hingga ikan tersebut tua dapat berubah-ubah, terutama pada ikan dan hewan air
lainnya yang mengalami metamorfosis dan mengalami proses adaptasi terhadap
lingkungan (habitat). Namun demikian pada sebagian besar ikan bentuk tubuhnya
relatif tetap, sehingga kalaupun terjadi perubahan, perubahan bentuk tubuhnya relatif
sangat sedikit (Djuhanda, 1985).

2.1.1 Pengukuran Meristik


Pengukuran Meristik merupakan ciri-ciri dalam taksonomi yang dapat
dipercaya, karena sangat mudah digunakan. Ciri meristik ini meliputi apa saja pada
ikan yang dapat dihitung antara lain jari-jari dan duri pada sirip, jumlah sisik, panjang
linea literalis dan ciri ini menjandi tanda dari spesies. Salah satu hal yang menjadi
permasalahan adalah kesalahan penghitungan pada ikan kecil. Faktor lain yang dapat
mempengaruhi ciri meristik yaitu suhu, kandungan oksigen terlarut, salinitas, atau
ketersediaan sumber makanan yang mempengaruhi pertumbuhan larva ikan (Saanin,
1986).

2.1.2 Pengukuran Morfometrik


Pengukuran Morfometrik merupakan beberapa pengukuran standar yang
digunakan pada ikan antara lain panjang standar, panjang moncong atau bibir,
panjang sirip punggung atau tinggi batang ekor. Keterangan mengenai pengukuran–
pengukuran ini dibuat oleh Hubbs & Lagler (1964). Pada pengukuran ikan yang
sedang mengalami pertumbuhan digunakan rasio dari panjang standar. Ikan yang
digunakan adalah ikan yang diperkirakan mempunyai ukuran dan kelamin yang sama.
Hal ini disebabkan pertumbuhan ikan tidak selalu proporsional dan dimorfime
seksual sering muncul pada ikan (tetapi seingkali tidak jelas). Pengukuran
morfometrik merupakan pengukuran yang penting dalam mendekripsikan jenis ikan
(Saanin, 1986).

2.2 Jenis Ikan


2.2.1 Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus)

Gambar 2.1 Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus)


(Sumber : Novriyanto, 2010)
Secara umum, ikan lele sangkuriang dikenal sebagai ikan berkumis atau catfish.
Tubuh ikan lele sangkuriang ini berlendir dan tidak bersisik serta memiliki mulut
yang relatif lebar yakni ¼ dari panjang total tubuhnya. Ciri khas dari lele sangkuriang
adalah adanya empat pasang sungut yang terletak di sekitar mulutnya. Keempat
pasang sungut tersebut terdiri dari dua pasang sungut maxiral/ rahang atas dan dua
pasang sungut mandibula/rahang bawah sebagai alat peraba ketika berenang dan
sebagai sensor ketika mencari makan. Sirip lele sangkuriang terdiri atas lima bagian
yaitu sirip dada, sirip perut, sirip dubur, sirip ekor, dan sirip punggung. Sirip dada lele
sangkuriang dilengkapi dengan patil (sirip yang keras) yang berfungsi untuk alat
pertahanan diri (Lukito, 2002).
Alat pernafasan lele sangkuriang berupa insang yang berukuran kecil sehingga
lele sangkuriang sering mengalami kesulitan dalam memenuhi kebutuhan oksigen,
akibatnya lele sangkuriang sering mengambil oksigen dengan muncul ke permukaan.
Alat pernafasan tambahan terletak di rongga insang bagian atas, alat berwarna
kemerahan penuh kapiler darah dan mempunyai tujuk pohon rimbun yang biasa
disebut “arborescent organ”. Ikan lele berwarna kehitaman atau keabuan memiliki
bentuk badan yang memanjang pipih kebawah (depressed), berkepala pipih dan
memiliki empat pasang kumis yang memanjang sebagai alat peraba (Djoko, 2006).

2.2.2 Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer)

Gambar 2.2 Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer)


(Sumber : FAO, 2006)
Ikan kakap putih (Lates calcarifer) memiliki bentuk badan memanjang, gepeng,
batang sirip ekor lebar dengan bentuk bulat, mata berwarna merah cemerlang, bukaan
mulut lebar sedikit serong dengan gigi-gigi halus dan tidak memiliki taring, terdapat
lubang kuping bergerigi pada bagian penutup insang, sirip punggung terdiri dari jari-
jari keras sebanyak 3 buah dan jari-jari lemah sebanyak 7-8 buah. Ikan kakap putih
yang berumur 1-3 bulan berwarna terang, selanjutnya ikan kakap putih yang melewati
umur 3 bulan akan berubah menjadi keabu-abuan dengan sirip berwarna gelap. Badan
atau sirip tidak terdapat corak bintik-bintik (FAO, 2001).
Kakap putih memiliki toleransi yang cukup besar terhadap kadar garam dan
hidupnya dari air laut keair payau. Kakap putih sebenarnya adalah ikan liar yang
hidup di laut. Kakap putih akan menuju daerah habitat aslinya jika akan memijah
yaitu pada salintas 3032 ppt (Mayunar, 2002).

2.2.3 Ikan Tongkol (Euthynnus affinis)


Gambar 2.3 Ikan Tongkol (Euthynnus affinis)
(Sumber : Chaerudin, 2008)
Ikan tongkol mempunyai ciri-ciri yakni tubuh berukuran sedang, memanjang
seperti torpedo, mempunyai dua sirip punggung yang dipisahkan oleh celah sempit.
Sirip punggung pertama diikuti oleh celah sempit, sirip punggung kedua diikuti oleh
8-10 sirip tambahan. Ikan tongkol tidak memiliki gelembung renang. Warna tubuh
pada bagian punggung ikan ini adalah gelap kebiruan dan pada sisi badan dan perut
berwarna putih keperakan (Oktaviani, 2008).
Ikan tongkol memiliki sirip punggung pertama berjari-jari keras sebanyak 10
ruas, sedangkan yang kedua berjari-jari lemah sebanyak 12 ruas, dan terdapat enam
sampai sembilan jari-jari sirip tambahan. Terdapat dua tonjolan antara kedua sirip
perut. Sirip dada pendek dengan ujung yang tidak mencapai celah diantara kedua sirip
punggung. Sirip dubur berjari-jari lemah sebanyak 14 dan memiliki 6-9 jari-jari sirip
tambahan. Sirip-sirip kecil berjumlah 8-10 buah terletak di belakang sirip punggung
kedua (Agustini, 2000).

2.2.4 Ikan Barakuda (Sphyraena barracuda)

Gambar 2.4 Ikan Barakuda (Sphyraena barracuda)


(Sumber : Susan, 2010)
Ikan barakuda (Sphyraena barracuda) bergigi tajam memiliki bentuk tubuh
bulat, panjang dengan kepala menirus kebagian moncong dengan mulut lebar, rahang
bawah lebih panjang dari pada rahang atas, dikedua rahangnya memiliki gigi yang
cukup besar dan relatif panjang hal ini dikarenakan ikan ini merupakan jenis
karnivora. Pinggir tubuh dan perutnya berwarna keperakan dan mengkilat tetapi
punggungnya berwarna hijau dan abu-abu (Djuanda, 1981). Sirip ikan Barakuda
berjumlah dua dan terpisah jauh, sirip punggung kedua terdapat diatas sirip anal, sirip
ekornya berbentuk cagak, didada agak ke bawah (Murtidjo, 2001).
Ikan barakuda (Sphyraena barracuda) berpotensi dalam menyerap logam berat
melalui rantai makanan dan air karena logam hampir selalu ditemukan dalam air,
walaupun secara alami konsentrasi logam dalam jumlah relatif rendah. Ikan barakuda
dapat digunakan sebagai bioindikator karena bersifat karnivora yang memakan ikan-
ikan kecil. Ikan barakuda hidup di teluk dan terumbu karang. Mereka pada umumnya
tertangkap di perairan pesisir dangkal dan estuari (FAO 2001).

2.2.5 Ikan Layang (Decapterus ruselli)

Gambar 2.5 Ikan Layang (Decapterus ruselli)


(Sumber : Chairita, 2008)
Ikan Layang (Decapterus ruselli) termasuk ikan pelagis, dan berdasarkan
ukurannya dikelompokkan sebagai ikan pelagis kecil. Ikan ini yang tergolong suku
Carangidae ini bisa hidup bergerombol. Ukurannya sekitar 15 cm meskipun ada pula
yang mencapai 25 cm. Ciri khas yang sering dijumpai pada ikan layang ialah
terdapatnya sirip kecil (filet) di belakang sirip punggung dan sirip dubur dan terdapat
sisik berlingin yang tebal (lateral scute) pada bagian garis sisi (lateral line) (Nontji,
2002).
Warna tubuh ikan layang pada bagian punggungnya biru kehijauan dan putih
perak pada bagian perutnya. Bentuk tubuh memanjang dapat mencapai 30 cm, rata-
rata panjang badan ikan layang pada umumnya adalah 20-25 cm dan warna sirip-
siripnya kuning kemerahan. Ikan layang memiliki dua sirip punggung, selain sirip-
sirip yang ada pada umumnya, ikan layang memiliki sirip tambahan dua buah di
belakang sirip punggung kedua dan satu buah di belakang sirip dubur. Ikan layang
memiliki finlet yang merupakan ciri khas dari genus Decapterus (Saanin 1984).
2.2.6 Ikan Hiu Lanjaman (Carcharhinus dussumieri)

Gambar 2.6 Ikan Hiu Lanjamam (Carcharhius dussumieri)


(Sumber : Sharktrust, 2009)
Hiu Lanjaman (Carcharhinus dusuumieri) merupakan jenis hiu yang paling
banyak ditangkap di Indonesia. Hiu Lanjaman hidup pada daerah pantai kedalaman
18 m sampai laut dalam. Hiu ini memiliki sirip punggung pertama lumayan tinggi,
berbentuk segitiga serta tidak melengkung lancip, ujung sirip punggung kedua
berwarna hitam tetapi sirip yang lainnya polos. Biasanya terdapat gurat diantara sirip
punggung, tetapi untuk bagian ini belum ditemukan pada saat penelitian berlangsung.
Moncong agak panjang dan parabolic, gigi sangat miring pada bagian ujungnya,
terdapat tonjolan pada bagian yang diapit serta bergerigi pada bagian tonjolan
tersebut (White et al., 2006).
Hiu ini berperan menjadi predator tingkat atas dan menjadi komponen terbesar
di perikanan pelagis. Hiu ini merupakan komoditi expor yang memiliki nilai jual
yang tinggi terutama pada bagian siripnya. Spesies ini sering kali menjadi tangkapan
sampingan pada kapal longline perikanan tuna dan lainnya. Selain itu ukuran yang
juvenil (kecil) sering tertangkap pada alat tangkap drift net dan pancing diperairan
yang dangkal (Fahmi & Dharmadi, 2013).
BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Pelaksanaan Praktikum
3.1.1 Praktikum I
Hari, Tanggal : Selasa, 25 Maret 2019
Waktu : Pukul 17.00 WITA
Tempat : Laboratorium Perikanan Fakultas Kelautan dan Perikanan
3.1.2 Praktikum II
Hari, Tanggal : Selasa, 2 April 2019
Waktu : Pukul 17.00 WITA
Tempat : Laboratorium Perikanan Fakultas Kelautan dan Perikanan
3.1.3 Praktikum III
Hari, Tanggal : Selasa, 9 April 2019
Waktu : Pukul 17.00 WITA
Tempat : Laboratorium Perikanan Fakultas Kelautan dan Perikanan

3.2 Alat
Tabel 3.1 Alat yang digunakan dalam praktikum
No Alat Gambar Kegunaan
1. Pisau Untuk membedah ikan

2. Penggaris Untuk menentukan


ukuran pada bagian-
bagian tubuh ikan

3. Dissectingset Untuk alat bantu


dalam membedah ikan
4. Nampan Untuk tempat ikan
yang akan
dipraktikumkan

5. Benang Untuk mengukur


bagian-bagian tubuh
ikan

6. Mikroskop Untuk mengamati


sisik pada ikan

7. Koran Untuk alas ikan yang


dipraktikumkan

8. Tisu Untuk membersihkan


alat-alat praktikum
9. Glove Untuk alas tangan saat
praktikum

10. Alat tulis Untuk menulis hasil


pengukuran yang
didapat

11. Masker Untuk menutup mulut


dan hidung pada saat
praktikum

3.3 Bahan
3.3.1 Bahan Praktikum Pertemuan Ke I
Tabel 3.2 Bahan Yang Digunakan Dalam Praktikum Pertemuan Ke I
No Nama Bahan Gambar Kegunaan
1. Ikan Lele Sebagai sampel yang
(Clarias diamati
gariepinus)
2. Kakap Putih Sebagai sampel yang
(Lates calcarifer) diamati

3.3.2 Bahan Praktikum Pertemuan Ke II


Tabel 3.3 Bahan Yang Digunakan Dalam Praktikum Pertemuan Ke II
No Nama Bahan Gambar Kegunaan
1. Barakuda Sebagai sampel yang
(Sphyraena diamati
barracuda)

2. Tongkol Sebagai sampel yang


(Euthynnus diamati
affinis)

3.3.3 Bahan Praktikum Pertemuan Ke III


Tabel 3.4 Bahan Yang Digunakan Dalam Praktikum Pertemuan Ke III
No Nama Bahan Gambar Kegunaan
1. Layang Sebagai sampel yang
diamati

2. Hiu Lanjaman Sebagai sampel yang


diamati
3.4 Prosedur Praktikum
Adapun prosedur praktikum ikhtiologi adalah sebagai berikut :
1. Dipelajari modul terlebih dahulu agar pada saat praktikum dapat
mengamatinya dengan mudah
2. Disiapkan alat dan bahan untuk praktikum
3. Diambil ikan yang dipraktikumkan dan diletakkan dinampan
4. Diamati morfologi meristik dan morfometrik pada ikan yang
dipraktikumkan
5. Diukur bagian-bagian tubuh ikan dari kepala hingga ekor
6. Ditulis hasil pengamatan dan pengukuran
7. Dibedah ikan yang dipraktikumkan untuk mengetahui organ-organ yang
ada pada ikan
8. Dibersihkan alat-alat yang telah digunakan dalam praktikum
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
4.1.1 Klasifikasi Ikan
4.1.1.1 Klasifikasi Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus)
Klasifikasi Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus) adalah sebagai berikut
dengan didasari oleh sumber Saanin (1984).
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Kelas : Pisces
SubKelas : Teleostei
Ordo : Ostariophysoidei
SubOrdo : Silaroidae
Family : Claridae
Genus : Clarias
Species : Clarias gariepinus
Common Name : Common catfish
Local Name : Lele sangkuriang

4.1.1.2 Klasifikasi Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer)


Klasifikasi Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer) adalah sebagai berikut dengan
didasari oleh sumber FAO (2006).
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Kelas : Pisces
SubKelas : Teleostei
Ordo : Percomorphi
SubOrdo : percoidea
Family : Centropomidae
Genus : Lates
Species : Lates calcarifer
Common Name : Seabass
Local Name : Kakap putih

4.1.1.3 Klasifikasi Ikan Barakuda (Sphyraena barracuda)


Klasifikasi Ikan Barakuda (Sphyraena barracuda) adalah sebagai berikut
dengan didasari oleh sumber Mojeta (1992).
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Kelas : Actinopterygii
SubKelas : Teleostei
Ordo : Perciformes
SubOrdo : Scombroidei
Family : Sphyraenidae
Genus : Sphyraena
Species : Sphyraena barracuda
Common Name : Barracuda fish
Local Name : Barakuda

4.1.1.4 Klasifikasi Ikan Tongkol (Euthynnus affinis)


Klasifikasi Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) adalah sebagai berikut dengan
didasari oleh sumber Saanin (1984).
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Kelas : Teleostei
SubKelas : Actinopterygii
Ordo : Perciformes
Subordo : Scrombidei
Family : Scrombidae
Genus : Euthynnus
Species : Euthynnus affinis
Common Name : Eastern little tuna
Local Name : Ikan tongkol

4.1.1.5 Klasifikasi Ikan Layang (Decapterus ruselli)


Klasifikasi Ikan Layang (Decapterus ruselli) adalah sebagai berikut dengan
didasari oleh sumber Saanin (1984).
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Kelas : Pisces
SubKelas : Teleostei
Ordo : Percomorphi
Subordo : Percoidea
Family : Carangidae
Genus : Decapterus
Species : Decapterus ruselli
Common Name : Mackerel scad
Local Name : Ikan layang

4.1.1.6 Klasifikasi Ikan Hiu Lanjaman (Carcharhinus dussumieri)


Klasifikasi Ikan Hiu Lanjaman (Carcharhinus dussumieri) adalah sebagai
berikut dengan didasari oleh sumber Muller & Henle (1983).
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Kelas : Chondrichthyes
SubKelas : Elasmobranchii
Ordo : Carcharhiniformes
Subordo : Galeomorphi
Family : Carcharhinidae
Genus : Carcharhinus
Species : Carcharhinus dussumieri
Common Name : Whitecheek shark
Local Name : Ikan hiu lanjaman

4.1.2 Hasil Pengamatan Morfologi


4.1.2.1 Hasil Pengamatan Morfologi Praktikum Pertemuan Pertama
Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Morfologi Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus)
Gambar Utuh

Bentuk Tubuh : Fussiform


Kepala/Mulut Gigi

Letak Mulut : Terminal Bentuk Gigi : Viliform


Insang Sisik
Tidak ada sisik

Jenis Insang :Omnivora


Ekor Lain lain

Tipe Ekor : Diphycercal Tambahan : Arborescent


Bentuk Ekor : Rounded

Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Morfologi Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer)
Gambar Utuh

Bentuk Tubuh : Compressed


Kepala/Mulut Gigi

Letak Mulut : Terminal Bentuk Gigi : Conical


Insang Sisik

Jenis Insang : Karnivora Bentuk Sisik : Ctenoid


Ekor Lain-lain

Tipe Ekor : Homocercal


Bentuk Ekor : Emerginate

4.1.2.2 Hasil Pengamatan Morfologi Praktikum Pertemuan Kedua


Tabel 4.3 Hasil Pengamatan Morfologi Ikan Barakuda (Sphyraena barracuda)
Gambar Utuh

Bentuk Tubuh : Sagitiform


Kepala/Mulut : Gigi

Letak Mulut : Superior Bentuk Gigi : Canince


Insang Sisik

Jenis Insang : Karnivora Bentuk Sisik : Ctenoid


Ekor Lain-lain

Tipe Ekor : Homocercal


Bentuk Ekor : Forked
Tabel 4.4 Hasil Pengamatan Morfologi Ikan Tongkol (Euthynnus affinis)
Gambar Utuh

Bentuk Tubuh : Fusiform


Kepala/Mulut Gigi

Letak Mulut : Superior Bentuk Gigi : Viliform


Insang Sisik

Jenis Insang : Pemakan Plankton Bentuk Sisik : Ctenoid


Ekor Lain-lain

Tipe Ekor : Homocercal


Bentuk Ekor : Forked Tambahan : Finlet
4.1.2.3 Hasil Pengamatan Morfologi Praktikum Pertemuan Ketiga
Tabel 4.5 Hasil Pengamatan Morfologi Ikan Layang (Decapterus ruselli)
Gambar Utuh

Bentuk Tubuh : Fusiform


Kepala/Mulut Gigi

Letak Mulut : Terminal Bentuk Gigi : Viliform


Insang Sisik

Jenis Insang : Pemakan Plankton Bentuk Sisik : Cycloid


Ekor Lain-lain

Tipe Ekor : Homocercal


Bentuk Ekor : Forked Tambahan : Finlet
Tabel 4.6 Hasil Pengamatan Morfologi Ikan Hiu Lanjam (Carcharhinus dussumieri)
Gambar Utuh

Bentuk Tubuh : Fusiform


Kepala/Mulut Gigi

Letak Mulut : Inferior Bentuk Gigi : Canince


Insang Sisik

Bentuk Sisik : Placoid


Jenis Insang : Karnivora
Ekor Lain-lain

Tipe Ekor : Heterocercal


Bentuk Ekor : Tambahan : Clasper
4.1.3 Hasil Pengukuran Meristik
4.1.3.1 Hasil Pengukuran Meristik Praktikum Pertemuan Pertama
Tabel 4.7 Hasil Perhitungan Meristik Ikan Lele (Clarias gariepinus) dan Kakap Putih
(Lates calcarifer)
Jenis pengukuran Ikan Lele (Clarias Ikan Kakap Putih (Lates
gariepinus) Calcarifer)
Panjang Sirip A 9,2 4,5
Panjang Sirip D 12,8 10
Panjang Sirip P 2,5 5
Panjang Sirip V 1 4,7
Panjang Sirip C 2,2 4,6
Tinggi Sirip A 0,5 2
Tinggi Sirip D 1,2 3,5
Tinggi Sirip P 0,6 1,5
Tinggi Sirip V 0,2 1,4
Rumus Sirip D vi.18 D X.v.4
1
P i.5 P1 IV.iii.4
P2 8 P2 V.iii.5
V1 v V1 VI
V2 vi V2 viii
A xxiv.23 A IV.iv.6
C 14 C IV.vi.7
Rumus L L 1 1
Bentuk / jumlah L L 15,8 1,5
Ltr - -

4.1.3.2 Hasil Pengukuran Meristik Praktikum Pertemuan Kedua


Tabel 4.8 Hasil Perhitungan Meristik Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) dan Barakuda
(Sphyraena barracuda)
Jenis pengukuran Ikan Tongkol Ikan Barakuda
Panjang Sirip A 1,2 4
Panjang Sirip D 2,3 4,4
Panjang Sirip P 3,1 6,3
Panjang Sirip V 2,6 4
Panjang Sirip C 3,6 9,5
Tinggi Sirip A 0,7 5
Tinggi Sirip D 2,8 4,5
Tinggi Sirip P 1,2 2,1
Tinggi Sirip V 1,4 1,9
Rumus Sirip A I.8 A I.iii.3
D1 III.ii.3 D1 V
D2 7 D2 II.iii.4
P1 V.7 P V.6
P2 VI.9 V I.v
V1 II.iii.4 C IX.10
V2 III.ii.3
C1 VI.iii.3
C2 V.v.4
Rumus L L 1 1
Bentuk / jumlah L L 13,6 Melengkung/145
Ltr - -

4.1.3.3 Hasil Pengukuran Meristik Praktikum Pertemuan Ketiga


Tabel 4.9 Hasil Perhitungan Meristik Ikan Layang (Decapterus ruselli) dan Hiu
Lanjaman (Carcharhinus dussumieri)
Jenis pengukuran Ikan Layang Ikan Hiu Lanjaman
Panjang Sirip A 3,2 7,6
Panjang Sirip D 2,5 7,8/5,3
Panjang Sirip P 1 7,5/7,3
Panjang Sirip V 2,5 5,4/5,6
Panjang Sirip C 1,2 20,6
Tinggi Sirip A 1,8 1,6
Tinggi Sirip D 3,2 6,5/1,6
Tinggi Sirip P 2 9,6/9,5
Tinggi Sirip V 1 1,8/1,9
1
Rumus Sirip D V.2 D1 V.2
D2 IV.ii.7 D2 IV.ii.7
A III.iv.4 A III.iv.4
1
P V.10 P1 V.10
P2 ix.9 P2 ix.9
V1 III.7 V1 III.7
V2 IV.5 V2 IV.5
C VI.iv.6 C VI.iv.6
Rumus L L 1 9
Bentuk / jumlah L L 12 Memannjang/43,3
Ltr 7,5 -
4.1.4 Hasil Pengukuran Morfometrik
4.1.4.1 Hasil Pengukuran Morfometrik Praktikum Pertemuan Pertama
Tabel 4.10 Hasil Pengukuran Morfometrik Ikan Lele (Clarias gariepinus) dan Kakap
Putih (Lates calcarifer)
Jenis Pengukuran Ikan Lele Ikan Kakap Putih
1. TL 23,3 25,5
2. SL 22 20,5
3. FL - 21
4. Hd L 2,5 6,4
5. Pre D L 7 9
6. Snt L 2 2,7
7. Post Orb L 2,4 2,5
8. Eye L 0,2 0,6
9. Orb L 2,2 1
10. C Ped L 2 4,5
11. Tinggi Badan 4 16,2
12. Tinggi Kepala 3 10,3
13. Tinggi Pipi 2,2 3
14. Tinggi bawah mata 0,3 2,4
15. Tebal badan 6,4 19
16. Tebal kepala 4,3 14

4.1.4.2 Hasil Pengukuran Morfometrik Praktikum Pertemuan Kedua


Tabel 4.11 Hasil Pengukuran Morfometrik Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) dan
Barakuda (Sphyraena barracuda)
Jenis Pengukuran Ikan Tongkol Ikan Barakuda
1. TL 27,2 63,3
2. SL 24 55,7
3. FL 25,5 -
4. Hd L 7,2 16,9
5. Pre D L 7,6 22,6
6. Snt L 1,6 9
7. Post Orb L 4 6,6
8. Eye L 0,5 6,7
9. Orb L 1,2 3,6
10. C Ped L 5,5 10,8
11. Tinggi Badan 9,8 12,1
12. Tinggi Kepala 4,7 7,5
13. Tinggi Pipi 1,9 4
14. Tinggi bawah mata 1 4,3
15. Tebal badan 13 19,4
16. Tebal kepala 11 12,6

4.1.4.3 Hasil Pengukuran Morfometrik Praktikum Pertemuan Ketiga


Tabel 4.12 Hasil Pengukuran Morfometrik Ikan Layang (Decapterus ruselli) dan Hiu
Lanjaman (Carcharhinus dussumieri)
Jenis Pengukuran Ikan Layang Ikan Hiu Lanjaman
1. TL 21,5 82,3
2. SL 19 62,1
3. FL 19,5 -
4. Hd L 5,5 17,5
5. Pre D L 7,5 24,3
6. Snt L 2,4 8
7. Post Orb L 2,3 9,5
8. Eye L 1,3 1,2
9. Orb L 0,7 8
10. C Ped L 7 8,7
11. Tinggi Badan 8,8 12,4
12. Tinggi Kepala 4,5 15,1
13. Tinggi Pipi 8,7 6,3
14. Tinggi bawah mata 0,9 3,5
15. Tebal badan 9 20,2
16. Tebal kepala 8,2 13,6

4.2 Pembahasan
4.2.1 Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus)

Gambar 2.1 Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus)


(Sumber : Novriyanto, 2010)
Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus) ini memiliki morfologi bentuk
tubuh Fussiform, dengan letak mulut ikan lele sangkuriang yaitu terminal, bentuk gigi
lele sangkuriang yaitu viliform, jenis insang lele sangkuriang omnivora, lele
sangkuriang pada ikan lele tidak ditemukan sisik, tipe ekor lele sangkuriang
diphycercal, bentuk ekor ikan lele rounded, dan ikan lele sangkuriang memiliki
tambahan yaitu arborescent. Hal ini diperkuat dengan pernyataan oleh Djoko (2006)
mengatakan alat pernafasan tambahan terletak di rongga insang bagian atas, alat
berwarna kemerahan penuh kapiler darah dan mempunyai tujuk pohon rimbun yang
biasa disebut “arborescent organ”. Ciri khas dari lele sangkuriang adalah adanya
empat pasang sungut yang terletak di sekitar mulutnya. Keempat pasang sungut
tersebut terdiri dari dua pasang sungut maxiral/ rahang atas dan dua pasang sungut
mandibula/rahang bawah sebagai alat peraba ketika berenang dan sebagai sensor
ketika mencari makan. Sirip lele sangkuriang terdiri atas lima bagian yaitu sirip dada,
sirip perut, sirip dubur, sirip ekor, dan sirip punggung. Sirip dada lele sangkuriang
dilengkapi dengan patil (sirip yang keras) yang berfungsi untuk alat pertahanan diri.

4.2.2 Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer)

Gambar 2.2 Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer)


(Sumber : FAO, 2006)
Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer) ini memiliki morfologi bentuk tubuh yaitu
Compressed, dengan letak mulut kakap putih yaitu terminal, bentuk gigi kakap putih
yaitu conical, jenis insang kakap putih yaitu karnivora, bentuk sisik kakap putih yaitu
ctenoid, tipe ekor kakap putih yaitu homocercal, dan bentuk ekor kakap putih yaitu
emerginate. Hal ini diperkuat dengan pernyataan oleh FAO (2001) mengatakan kakap
putih memiliki bentuk badan memanjang, gepeng, batang sirip ekor lebar dengan
bentuk bulat, mata berwarna merah cemerlang, bukaan mulut lebar sedikit serong
dengan gigi-gigi halus dan tidak memiliki taring, terdapat lubang kuping bergerigi
pada bagian penutup insang, sirip punggung terdiri dari jari-jari keras sebanyak 3
buah dan jari-jari lemah sebanyak 7-8 buah.

4.2.3 Ikan Barakuda (Sphyraena barracuda)

Gambar 2.4 Ikan Barakuda (Sphyraena barracuda)


(Sumber : Susan, 2010)
Ikan Barakuda (Sphyraena barracuda) ini memiliki morfologi bentuk tubuh
yaitu Sagitiform, dengan letak mulut barakuda yaitu superior, bentuk gigi barakuda
yaitu canince, jenis insang barakuda yaitu karnivora, bentuk sisik barakuda yaitu
ctenoid, tipe ekor barakuda yaitu homocercal, dan bentuk ekor barakuda yaitu forked.
Hal ini diperkuat dengan pernyataan oleh Djuanda (1981) menagatakan ikan
barakuda bergigi tajam memiliki bentuk tubuh bulat, panjang dengan kepala menirus
kebagian moncong dengan mulut lebar, rahang bawah lebih panjang dari pada rahang
atas. Dikedua rahangnya memiliki gigi yang cukup besar dan relatif panjang hal ini
dikarenakan ikan ini merupakan jenis karnivora. Pinggir tubuh dan perutnya berwarna
keperakan dan mengkilat tetapi punggungnya berwarna hijau dan abu-abu. Sirip ikan
Barakuda berjumlah dua dan terpisah jauh, sirip punggung kedua terdapat diatas sirip
anal, sirip ekornya berbentuk cagak, didada agak ke bawah. Ikan barakuda juga dapat
digunakan sebagai bioindikator karena bersifat karnivora yang memakan ikan-ikan
kecil.
4.2.4 Ikan Tongkol (Euthynnus affinis)

Gambar 2.3 Ikan Tongkol (Euthynnus affinis)


(Sumber : Chaerudin, 2008)
Ikan Tongkol (Euthynnus affinis) ini memiliki morfologi bentuk tubuh yaitu
Fusiform, dengan letak mulut ikan tongkol yaitu superior, bentuk gigi ikan tongkol
yaitu viliform, jenis insang ikan tongkol yaitu pemakan plankton, bentuk sisik ikan
tongkol yaitu ctenoid, tipe ekor ikan tongkol yaitu homocercal, dan bentuk ekor ikan
tongkol yaitu forked, dan ikan tongkol memiliki tambahan finlet. Hal ini diperkuat
dengan pernyataan oleh Oktaviani (2008) mengatakan ikan tongkol mempunyai ciri-
ciri yakni tubuh berukuran sedang, memanjang seperti torpedo, mempunyai dua sirip
punggung yang dipisahkan oleh celah sempit. Sirip punggung pertama diikuti oleh
celah sempit, sirip punggung kedua diikuti oleh 8-10 sirip tambahan. Ikan tongkol
tidak memiliki gelembung renang. Warna tubuh pada bagian punggung ikan ini
adalah gelap kebiruan dan pada sisi badan dan perut berwarna putih keperakan.

4.2.5 Ikan Layang (Decapterus ruselli)

Gambar 2.5 Ikan Layang (Decapterus ruselli)


(Sumber : Chairita, 2008)
Ikan Layang (Decapterus ruselli) ini memiliki morfologi bentuk tubuh yaitu
Fusiform, dengan letak mulut ikan layang yaitu terminal, bentuk gigi ikan layang
yaitu viliform, jenis insang ikan layang yaitu pemakan plankton, bentuk sisik ikan
layang yaitu cycloid, tipe ekor ikan layang yaitu homocercal, dan bentuk ekor ikan
layang yaitu forked, dan ikan layang memiliki tambahan finlet. Hal ini diperkuat
dengan pernyataan oleh Saanin (1984) mengatakan ikan layang memiliki finlet yang
merupakan ciri khas dari genus Decapterus. Ciri khas yang sering dijumpai pada ikan
layang ialah terdapatnya sirip kecil (filet) di belakang sirip punggung dan sirip dubur
dan terdapat sisik berlingin yang tebal (lateral scute) pada bagian garis sisi (lateral
line). Warna tubuh ikan layang pada bagian punggungnya biru kehijauan dan putih
perak pada bagian perutnya. Bentuk tubuh memanjang dapat mencapai 30 cm, rata-
rata panjang badan ikan layang pada umumnya adalah 20-25 cm dan warna sirip-
siripnya kuning kemerahan. Ikan layang memiliki dua sirip punggung, selain sirip-
sirip yang ada pada umumnya, ikan layang memiliki sirip tambahan dua buah di
belakang sirip punggung kedua dan satu buah di belakang sirip dubur.

4.2.6 Ikan Hiu Lanjaman (Carcharhinus dussumieri)

Gambar 2.6 Ikan Hiu Lanjamam (Carcharhius dussumieri)


(Sumber : Sharktrust, 2009)
Ikan Hiu Lanjamam (Carcharhius dussumieri) ini memiliki morfologi bentuk
tubuh yaitu Fusiform, dengan letak mulut ikan hiu lanjaman yaitu inferior, bentuk
gigi ikan hiu lanjaman yaitu canince, jenis insang ikan lanjaman yaitu karnivora,
bentuk sisik ikan hiu lanjaman yaitu placoid, tipe ekor ikan tongkol yaitu
heterocercal, dan bentuk ekor ikan hiu lanjaman yaitu epicercal, dan ikan tongkol
memiliki tambahan finlet. Hal ini diperkuat dengan pernyataan oleh White et al.,
(2006) mengatakan Hiu ini memiliki sirip punggung pertama lumayan tinggi,
berbentuk segitiga serta tidak melengkung lancip, ujung sirip punggung kedua
berwarna hitam tetapi sirip yang lainnya polos. Biasanya terdapat gurat diantara sirip
punggung, tetapi untuk bagian ini belum ditemukan pada saat penelitian berlangsung.
Moncong agak panjang dan parabolic, gigi sangat miring pada bagian ujungnya,
terdapat tonjolan pada bagian yang diapit serta bergerigi pada bagian tonjolan
tersebut.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Adapun hal yang dapat disimpulkan dari hasil praktikum ini adalah
1. Morfologi adalah ilmu yang mempelajari bentuk luar suatu organisme. Bentuk
luar dari organisme ini merupakan salah satu ciri yang mudah dilihat dan
diingat dalam mempelajari organisme. Klasifikasi berarti mengetahui
pengelompokan suatu individu berdasarkan perbedaan dan persamaannya.
Dimana variabelnya antara lain bentuk tubuh, letak mulut, bentuk gigi, jenis
insang, bentuk sisik, tipe ekor, dan bentuk ekor.
2. Ciri meristik pada ikan meliputi apa saja pada ikan yang dapat dihitung antara
lain jari-jari dan duri pada sirip, jumlah sisik, panjang linea literalis dan ciri
ini menjandi tanda dari spesies. Ciri morfometrik pada ikan berupa
pengukuran standar yang digunakan pada ikan antara lain panjang standar,
panjang moncong atau bibir, panjang sirip punggung atau tinggi batang ekor.
3. Rangka pada ikan berfungsi untuk menegakkan tubuh, menunjang atau
menyokong organorgan tubuh. Dan dibedakan menjad tiga macam, yaitu
rangka axial, viseral, apendikular. Sistem otot pada ikan dibedakan menjadi
tiga macam, yaitu otot licin, otot bergaris atau otot rangka, otot jantung. Saraf
pada ikan merupakan organ yang paling tinggi spesialisasinya di banding
organ lain. Saat embro otak ikan dibagi menjadi tiga bagian, yaitu
Prosencephalon (bagian depan), Mesenchephalon (bagian tengah), dan
Rhombencephalon (bagian belakang). Pada saat dewasa otak ikan dipisahkan
menjadi lima bagian, yaitu Telenchephalon, Dienchephalon, Mesenchephalon,
Metencephalon, Myelencephalon.
5.2 Saran
Saran dalam melakukan praktikum ini yaitu selalu berhati-hati dalam melakukan
setiap pengamatan, teliti saat melakukan pengkuran, menggunakan alat dan bahan
yang benar, serta mengikuti prosedur yang sudah tersedia agar tidak terjadi kesalahan
dalam praktikum. Dan juga diharapkan untuk praktikum berikutnya agar dapat
berjalan dengan lebih baik, kondusif, efisien dan efektif, agar tidak terjadi hal-hal
yang tidak seharusnya terjadi, serta kedisiplinan dalam praktikum lebih di tingkatkan.
DAFTAR PUSTAKA

Agus Bambang Murtidjo, 2001. Beberapa Metode Pembenihan Ikan Air Tawar,
(Jogjakarta: Kanisus).
Agustini, S. D. 2000. Aplikasi Metode Schaefer : Analisis Potensi Sumberdaya
Tongkol (Scrombidae) di Perairan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Jawa
Barat. Skripsi. Ilmu dan Teknologi Kelautan. Fakultas Perikanan dan
Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 67 hal.
Djoko. 2006. Lele Sangkuriang Alternatif Kualitas di Tanah Priangan. Trobos.
Jakarta. Agustus 80-81.
Djuhanda, T. 1981. Dunia Ikan. Armico. Bandung Press. 190 H.
FAO. (2001). Human Energy Requirements. Rome: Report of a Joint
FAO/WHO/UNU.
Hadiwiyoto, S, 1993. Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan. Penerbit Liberty,
Yogyakarta.
Lagler, K.F., J.E. Bardach, R.R. Miller, And D.R.M. Passino. 1977. Ichthyology.
Second Edition. John Wiley And Sons, Inc., New York.
Lukito, A. M. 2002. Lele Ikan Berkumis Paling Populer. Agromedia. Jakarta.
Mayunar dan A. Genisa. 2002. Budidaya Ikan Kakap Putih. Jakarta : PT Grasindo.
Nontji, A. 1993. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta.
Oktaviani, A. 2008. Studi Keragaman Cacing Parasitik pada Saluran Pencernaan Ikan
Gurami (Osphronemus gouramy) dan Ikan Tongkol (Euthynnus affinis).
Skripsi. Fakultas Kedokteran Hewan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. 51
hal.
Rahardjo, M.F. 1985. Ichtyologi Sebagai Pedoman Kerja Praktikum. IPB, Bogor
Saanin, H. 1986. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Bina cipta. Bandung.
Siagian, C. 2009. Keanekaragaman dan Kelimpahan Ikan Serta Keterkaitannya
Dengan Kualitas Perairan di Danau Toba Balige Sumatra Utara. [Tesis].