Anda di halaman 1dari 2

Pembahasan oleh Bella Nabila (171411037)

Reverse Osmosis adalah suatu proses perpindahan zat terlarut dari larutan dengan
konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah dengan melewatkan zat tersebut melalui membrane semi
permeable. Prinsip kerja dari alat Reverse Osmosis ini adalah zat terlarut ini (air keran) diberikan
tekanan hidrostatik yang nilainya lebih tinggi dari tekanan osmotik dari larutan tersebut sehingga
pelarut dapat melewati membrane dan berpindah dari larutan yang berkonsentrasi tinggi ke larutan
yang berkonsentrasi rendah. Larutan berkonsentrasi rendah pada percobaan ini dapat di katakan
bahwa larutan tersebut memiliki konsentrasi zat terlarut yang berupa kation bernilai rendah atau
dapat di katakan jumlah ion yang terdapat pada larutan tersebut rendah. Maka dari itu dapat dilihat
dari data yang didapatkan bahwa kadar Daya Hantar Listrik (DHL) pada aliran permeat (produk)
kadarnya lebih rendah daripada aliran konsentrat (buangan) serta aliran influen. Kadar Daya
Hantar Listrik (DHL) pada aliran permeat tersebut lebih rendah, karena tertahan pada membrane
semipermeable yang digunakan pada alat ini. Kadar daya hantar listrik pada aliran konsentrat
tersebut lebih besar daripada aliran permeat, hal tersebut karena ion ion yang tidak lolos pada
membrane semi-permeable tersebut akan terbawa ke aliran konsentrat sehingga daya hantar listrik
nya pun meningkat.

Selain itu, kadar Total Dissolved Solid (TDS) pada larutan yang dihasilkan pada aliran
permeat tersebut pun semakin rendah, hal tersebut karena padatan terlarut yang dibawa oleh aliran
influen tertahan pada membrane semi permeable, sehingga larutan yang dihasilkan pun semakin
jernih. Maka dapat dikatakan bahwa hubungan antara daya hantar listrik dengan total dissolved
solid berbanding lurus. Jadi semakin besar nilai TDS yang didapatkan maka semakin besar pula
nilai DHL pada larutan tersebut. Semakin banyak garam-garam terlarut yang dapat terionisasi,
semakin tinggi pula nilai DHL. Kemurnian dari air hasil Reverse Osmosis dapat dilihat dari nilai
kandungan zat terlarut dan daya hantar listrik yang didapatkan dalam percobaan. Lalu kita juga
menghitung kadar kekeruhan yang terdapat pada larutan tersebut. Hal tersebut dilakukan untuk
menguji kualitas air yang dihasilkan dari alat Reverse Osmosis ini. Maka dapat dikatakan bahwa
semakin kecil nilai kekeruhan yang didapatkan, semakin bagus kualitas air yang dihasilkan dari
proses yang dilakukan ini.

Dari nilai Total Dissolved Solid (TDS) dan daya hantar listrik dapat kita tentukan nilai %
𝐶𝑚−𝐶𝑝
rejection yang didapatkan. Dengan menggunakan rumus %𝑅 = 𝑥 100% maka kita dapat
𝐶𝑚
menentukan nilai persen rejection pada percobaan kali ini. Persen rejection tersebut merupakan
persentase jumlah zat terlarut yang ditolak oleh membran RO. Dapat dikatakan bahwa semakin
besar nilai %Rejection yang didapatkan, maka proses pemisahan semakin baik, artinya permeat
yang dihasilkan semakin murni. Pada percobaan kali ini didapatkan nilai %Rejection sebesar 100%
hal tersebut menunjukkan bahwa alat tersebut menghasilkan produk dengan kualitas yang sangat
baik

Dari grafik pengaruh waktu terhadap daya hantar listrik dapat dilihat bahwa pada aliran
permeat pada run 1 dan run 2 nilai TDS seiring waktu dilakukan proses konstan dengan nilai 0
μS/cm. Sedangkan pada aliran konsentrat pada run 1 nilai TDS yang didapatkan cenderung agak
menurun cenderung konstan walaupun terlihat terjadi fluktuaktif. Lalu, untuk run 2 dilihat dari
grafik yang terbentuk seiring berjalan waktu proses nilai TDS yang didapatkan semakin tinggi.
Maka dapat dikatakan bahwa semakin lama proses berlangsung semakin banyak ion ion yang
terbawa pada aliran konsentrat tersebut. Nilai yang didapatkan fluktuaktif tersebut akibat dari
perubahan tekanan pada waktu tertentu dan laju alir umpan yang tidak konstan pada proses ini.

Dari grafik pengaruh waktu terhadap padatan terlarut (TDS) dapat dilihat bahwa pada
aliran permeat pada run 1 dan run 2 didapatkan nilai TDS yang konstan sehingga terbentuk garis
lurus, karena nilai TDS konstan seiring waktu tetap pada kadar 0 mg/L. Hal tersebut berarti aliran
permeat tersebut kemurniannya tinggi. Selain itu, pada grafik pengaruh waktu terhadap padatan
terlarut pada aliran konsentrat pada run 1 didapatkan nilai TDS yang semakin menurun seiring
lamanya waktu proses. Sedangkan pada run 2 semakin lama waktu proses semakin tinggi kadar
TDS yang didapatkan walaupun fluktuatif. Waktu operasi tersebut berhubungan dengan kinerja
dari membran, pada saat tertentu tentu dapat terjadi akumulasi padatan dalam membran, sehingga
tidak hanya membran yang berfungsi sebagai filter, tetapi juga padatan yang menempel tersebut
berfungsi menyaring padatan. Sehingga produk semakin baik atau banyak padatan yang terbawa
ke aliran konsenstrat. Lalu nilai TDS yang didapatkan fluktuaktif tersebut dapat disebabkan oleh
laju alir umpan yang tidak konstan. Sebab laju alir sebanding dengan konsenstrasi padatan terlarut
pada umpan.