Anda di halaman 1dari 78

KETERAMPILAN KLINIS 8

FORENSIK MEDIKOLEGAL & EMERGENCY II

UNIT PENDIDIKAN KEDOKTERAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
MODUL KETERAMPILAN KLINIS 8

Cetakan Pertama – 2018

Penulis :
 Mustika Chasanatusy Syarifah, dr., Sp.F
 Ainul Rofiq, dr., Sp.An
Editor :
 Irmawan Farindra, dr., M.Si
 Warda El-Maida R, dr., M.Ked.Trop

“JAZAKALLAH KHAIR”
KATA PENGANTAR

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Segala puji bagi Allah Azza wa Jalla, satu-satunya Tuhan yang berhak
disembah dan diibadahi. Sholawat serta salam kepada Rasulullah Muhammad
shallallahu alaihi wasallam. Atas nikmat, rahmat serta hidayah Allah Azza wa Jalla,
sehingga Modul Keterampilan Klinis 8 ini dapat terselesaikan. Pada modul ini
mahasiswa semester 8 dihadapkan pada keterampilan klinik (KK) Forensik dan
Ilmu Kegawatdaruratan. Penyusunan modul ini telah sesuai dengan kompetensi
level 4 Standar Kompetensi Dokter Indonesia tahun 2012. Mahasiswa diharapkan
dapat menguasai seluruh materi keterampilan klinik yang disajikan sebagai salah
satu syarat dalam menempuh pendidikan dokter layanan primer. Setiap materi
dalam modul ini telah didiskusikan secara seksama guna memenuhi tujuan
pembelajaran.
Kami sangat menghargai saran dan kritik dari para dosen Instruktur KK
serta mahasiswa dalam penyempurnaan buku modul keterampilan klinik ini.
Demikian panduan modul ini disusun, semoga memberikan manfaat dalam
mengasah keterampilan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul
Ulama Surabaya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Surabaya, April 2018


TIM UPK
SAMBUTAN DEKAN

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh


Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, bimbingan, petunjuk dan kekuatan-Nya kepada kita, buku
modul keterampilan klinis ini dapat diselesaikan. Buku ini terdiri dari 7 buku
modul keterampilan klinis. Buku ini merupakan hasil karya dan kerja keras tim
UPK (Unit Pendidikan Kedokteran), dosen preklinik dan klinik FK UNUSA.
Perkembangan pendidikan kedokteran Indonesia memasuki era penerapan
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) yang merupakan penyerapan dari problem-
based learning dan prinsip integrasi berbagai ilmu kedokteran. Penerapan sistem
ini mengharuskan mahasiswa menjalani ujian kompetensi, salah satu ujian
kompetensi yang diarahkan Konsil Kedokteran Indonesai (KKI) adalah uji
keterampilan klinik berupa OSCE. Ujian OSCE ini harus dipersiapkan sebaik
mungkin oleh mahasiswa, bekal yang dapat dipersiapkan oleh FK UNUSA berupa
buku modul keterampilan klinis.
Sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya,
saya mengucapkan selamat dan penghargaan yang tinggi kepada pihak-pihak yang
telah bekerja keras dalam penyelesaian buku modul keterampilan klinis ini.
Semoga buku modul keterampilan medik ini bermanfaat bagi kita semua dan
segala upaya yang telah dilakukan ini akan bermanfaat dalam mencapai tujuan kita
bersama.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Surabaya, April 2018


Dekan FK UNUSA

Dr. Handayani, dr., M.Kes


DAFTAR TOPIK KETERAMPILAN KLINIS 8

NO TOPIK HAL
1. Deskripsi dan pemeriksaan derajat luka 7
2. Pembuatan surat keterangan medis 16
3. Pembuatan visum et repertum I (HIDUP) 22
4. Pembuatan visum et repertum II (MAYAT) 35
5. Edukasi dan penatalaksanaan DM tanpa komplikasi 41
6. Edukasi terkait gangguan metabolisme dan endokrin 56
7. Transport pasien 63
8. BLS I 68
9. BLS II 73
10. Intubasi dewasa 84
DESKRIPSI LUKA DAN PEMERIKSAAN DERAJAT LUKA
Mustika Chasanatusy Syarifah, dr., Sp.F

TUJUAN:
Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan luka pada kasus forensik klinik dan
patologi forensik.

LEARNING OBYEKTIF:
1. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan deskripsi luka.
2. Mahasiswa mampu menentukan derajat luka.

ALAT DAN BAHAN:


1. Penggaris L atau meteran
2. Senter
3. Kamera
4. Alat tulis
5. Probandus atau manekin

REFERENSI:
1. Panduan Ketrampilan Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Kesehatan Primer, PB IDI,
Edisi I, 2017.
2. Modul Kepaniteraan Klinik Forensik dan Etiko-Medikolegal, AFKSI, Jakarta,
2014.

TEORI:
Pengertian luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan atau
tubuh.Keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul,
perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik, gigitan hewan, dll.
Deskripsi luka harus dibuat seobyektif mungkin, meliputi:
1. Lokasi luka (regio)
Lokasi berdasarkan regio anatominya: kepala, wajah, leher, dada, punggung,
perut, bahu, lengan/tungkai atas, lengan/tungkai bawah, tangan, jari tangan,
jari kaki.
2. Koordinat luka
Patokan anatomis dalam menentukan koordinat luka menggunakan: garis
pertengahan depan (GPD), garis pertengahan belakang (GPB), puncak kepala,
batas tumbuh rambut depan/samping/belakang, alis, sudut mata luar/dalam,
pipi, dahi, cuping hidung, cuping telinga, liang telinga, daun telinga, rahang
bawah, dagu, jakun, tulang selangka, putting susu (hanya untuk laki-laki),
pusat, tulang taju usus, tulang ekor, tulang kemaluan, puncak bahu, lengan
atas/bawah sisi depan/samping/belakang, tungkai atas/bawah sisi
depan/samping/belakang, tepat siku, tepat lutut, lipat siku, lipat pantat, lipat
lutut, pergelangan tangan/kaki, punggung tangan/kaki.
Koordinat “x” luka ditentukan dengan mengukur jarak pusat luka dari garis
pertengahan badan, sedangkan koordinat “y” luka ditentukan dengan
mengukur jarak pusat luka diatas/dibawah dari suatu patokan anatomis tubuh.
Pada kasus kekerasan tajam dan luka tembak, selain menentukan koordinat “x”
dan y”, ditentukan juga koordinat “z” luka dengan mengukur jarak pusat luka
diatas dari tumit.
3. Jumlah luka
Jumlah luka disebutkan berdasarkan letak anatomis yang dimaksud,
masing-masing luka diberikan deskripsi berdasarkan jenis lukanya. Misalkan,
ditemukan dua buah luka lecet pada lengan atas kanan sisi depan, luka lecet
pertama berwarna merah ukuran dua sentimeter kali satu sentimeter
4. Jenis luka
Jenis luka berdasarkan kekerasan bentuk lukanya, baik akibat
trauma/kekerasan mekanik misalnya luka lecet, luka robek, memar, luka tusuk,
luka bacok. Akibat trauma kimia atau trauma suhu misalnya luka bakar.
5. Ukuran luka
Ukuran luka meliputi ukuran masing-masing sisi luka, misalnya panjang
luka, lebar luka, diameter luka, kedalaman luka. Ukuran panjang luka dilakukan
sebelum dirapatkan dan sesudah dirapatkan jika luka terbuka akibat kekerasan
tajam.
6. Karakteristik/Sifat luka
Karakteristik luka meliputi bentuk luka (teratur atau tidak teratur), tepi
luka (rata atau tidak rata), sudut luka (lancip atau tidak), terdapat jembatan
jaringan atau tidak, dasar luka (dapat berupa jaringan apa, warnanya,
perabaannya), daerah sekitar luka meliputi apa
(memar/tatoase/jelaga/bekuan darah).

Karena deskripsi luka bersifat obyektif, maka tidak boleh dikemukakan hal-hal
yang bersifat interpretatif. Misalnya jika ditemukan luka tusuk atau luka tembak
maka kata-kata tusuk/tembak tersebut tidak boleh diutarakan tetapi harus
dideskripsikan.

Contoh deskripsi luka:


Pada pipi kanan, tiga sentimeter dari garis pertengahan depan, dua sentimeter
di bawah sudut mata kanan sisi luar, ditemukan satu buah luka terbuka tepi luka
tidak rata, sudut tumpul, bentuk tidak beraturan warna merah berukuran lima
sentimeter kali tiga sentimeter.
Jenis-jenis luka:

Gambar 1 Gambar 2

Gambar 3 Gambar 4

Gambar 5 Gambar 6

Gambar 7 Gambar 8
Gambar 9 Gambar 10

Derajat luka merupakan bagian kesimpulan dalam sebuah visum et repertum


kasus hidup yang mengacu pada KUHP. Ada tiga derajat luka yaitu, derajat 1
(ringan) sesuai dengan KUHP pasal 352, derajat 2 (sedang) sesuai dengan KUHP
pasal 351(1), dan derajat 3 (berat) sesuai dengan KUHP pasal 90. Hal-hal yang
perlu diperhatikan dalam menentukan derajat luka adalah hasil pemeriksaan dari
korban dan akibat yang ditimbulkan dari luka tersebut. Interpretasi derajat luka
bersifat ilmiah dari fakta yang ditemukan dengan memperhatikan maksud dan
tujuan permintaan visum et repertum tersebut. Standar yang harus ada dalam
dalam kesimpulan visum et repertum hidup dengan permintaan pemeriksaan luka
(kasus penganiayaan, kecelakaan, KDRT) adalah: identitas korban (jenis kelamin,
umur); jenis luka; jenis kekerasan; derajat luka.

Contoh menyatakan derajat luka pada bagian kesimpulan:


1. Pada dahi orang tersebut ditemukan luka lecet akibat kekerasan tumpul yang
tidak menimbulkan penyakit atau halangan dalam menjalankan pekerjaan atau
mata pencahariannya.
2. Pada orang tersebut ditemukan luka terbuka pada bahu kiri akibat kekerasan
tajam yang menimbulkan penyakit atau halangan dalam pekerjaan atau mata
pencahariannya untuk sementara waktu.
3. Pada orang tersebut ditemukan luka terbuka pada dada kiri yang menembus ke
paru kiri yang menyebabkan paru tersebut mengempis dan menimbulkan
perdarahan akibat kekerasan tajam. Luka tersebut dapat mendatangkan
bahaya maut.
CHECK LIST
PEMERIKSAAN DESKRIPSI LUKA DAN DERAJAT LUKA

No Aspek Penilaian Nilai


0 1 2 3
1 Mengucapkan “Assalamualaikum wr.wb.”
2 Memperkenalkan diri dan menjelaskan tindakan yang
akan dilakukan sesuai permintaan VeR.
3 Memperoleh informed consent dari pasien.
4 Menggunakan cairan antiseptik di tangan dan APD.
5 Mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”
6 Melakukan anamnesa identitas pasien.
7 Melakukan pemeriksaan deskripsi luka:
 Regio
 Koordinat
 Jumlah
 Jenis
 Ukuran
 Karakteristik
8 Meringkas hasil pemeriksaan dan menentukan derajat
luka.
9 Menyampaikan hasil pemeriksaan dan rencana tindakan
selanjutnya (diberikan perawatan atau pemeriksaan
tambahan).
10 Mengucapkan terima kasih dan “Jazakumullah khairan
katsiron”
PEMBUATAN SURAT KETERANGAN MEDIS
Mustika Chasanatusy Syarifah, dr., Sp.F

TUJUAN:
Mahasiswa memahami ketentuan pembuatan surat keterangan medis.

LEARNING OBYEKTIF:
Mahasiswa mampu membuat/mengisi format surat keterangan medis dengan
benar.

ALAT DAN BAHAN:


1. Stetoskop
2. Tensimeter
3. Termometer
4. Senter
5. Alat timbang badan
6. Alat ukur tinggi badan
7. Probandus

REFERENSI:
1. Sampurna, B., Samsu, Z PERANAN ILMU FORENSIK DALAM PENEGAKAN
HUKUM: sebuah pengantar, edisi kedua, bagian Kedokteran Forensik. Fakultas

Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2004. 


2. Kode Etik Kedokteran Indonesia Tahun 2012.

TEORI:
Ketentuan dalam membuat surat keterangan medis, seorang dokter hendaknya
memberikan keterangan yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya dan dapat
dibuktikan kebenarannya. Pedoman hukum bagi seorang dokter dalam pembuatan
surat keterangan medis adalah:
1. Kode Etik Kedokteran Indonesia, dalam pasal 7 disebutkan:
“Seorang dokter wajib hanya memberi surat keterangan dan pendapat yang
telah diperiksa sendiri kebenarannya”.
2. KUHP pasal 267

Format surat keterangan medis:


1. Nama dan alamat instansi
2. Judul surat keterangan
3. Identitas pasien yang bersangkutan
4. Isi keterangan
5. Tempat dan tanggal pembuatan surat keterangan
6. Nama lengkap dan tanda tangan dokter yang memberi surat keterangan

Contoh surat keterangan medis:


Gambar 1

Gambar 2

Gambar 3
Gambar 4
CHECK LIST
PEMBUATAN SURAT KETERANGAN MEDIS

No Aspek Penilaian Nilai


0 1 2 3
1 Mengucapkan “Assalamualaikum wr.wb.”
2 Memperkenalkan diri dan menjelaskan tindakan yang
akan dilakukan sesuai permintaan VeR.
3 Memperoleh informed consent dari pasien.
4 Menggunakan cairan antiseptik di tangan.
5 Mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”
6 Melakukan anamnesa identitas pasien.
7 Melakukan pemeriksaan sesuai format surat keterangan
medis (surat keterangan sehat/surat keterangan sakit).
8 Meringkas hasil pemeriksaan dan mengisi format surat
keterangan medis.
9 Mengucapkan terima kasih dan “Jazakumullah khairan
katsiron”
PEMBUATAN VISUM ET REPERTUM I (KORBAN HIDUP)
Mustika Chasanatusy Syarifah, dr., Sp.F

TUJUAN:
Mahasiswa memahami ketentuan pembuatan visum et repertum korban hidup.

LEARNING OBYEKTIF:
1. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan pada korban hidup.
2. Mahasiswa mampu membuat visum et repertum korban hidup.

ALAT DAN BAHAN:


1. Surat Permintaan VeR
2. Stetoskop
3. Tensimeter
4. Termometer
5. Meteran/penggaris
6. Alat timbang badan
7. Alat ukur tinggi badan
8. Probandus

REFERENSI:
1. Yudianto, Ahmad. Aspek Medikolegal Visum et Repertum dan Perlukaan.
Program Magister Ilmu Forensik Program Pascasarjana Unair. Surabaya. 2017
2. Budianto, A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik Edisi I Cetakan II. Ilmu Kedokteran
Forensik FKUI. Jakarta. 1997.
TEORI:
Pengertian visum et repertum adalah suatu laporan tertulis yang dibuat oleh
seorang dokter atau ahli forensik berdasarkan sumpah atas apa yang dilihat dan
ditemukan pada barang bukti (manusia hidup / mati dan bagian-bagiannya)
bersifat obyektif sepanjang pengetahuannya yang sebaik-baiknya.
Visum et repertum merupakan bagian dari bantuan medis pada peradilan seperti
yang tertuang dalam KUHAP pasal 184. Macam-macam visum et repertum:
1. Visum et repertum korban hidup (perlukaan, kejahatan seksual, keracunan)
2. Visum et repertum mayat
3. Visum et repertum pemeriksaan TKP
4. Visum et repertum penggalian mayat
5. Visum et repertum mengenai umur dan jenis kelamin
6. Visum et repertum psikiatrik
7. Visum et repertum mengenai barang bukti

Bagian-bagian visum et repertum adalah:


1. Pembukaan (Pro Justisia)
Bagian ini menandakan bahwa dokumen yang dibuat adalah khusus untuk
kepentingan peradilan.
2. Pendahuluan
Memuat identitas dari dokter pemeriksa, institusi tempat dokter bertugas,
tanggal dan tempat pemeriksaan, institusi penyidik yang meminta, tanggal
surat permintaan, obyek pemeriksaan (sesuai uraian identitas dalam SPV)
3. Pemberitaan
Memuat hasil pemeriksaan medik tentang kelainan yang berkaitan dengan
perkara, termasuk luka korban dan tindakan yang sudah dilakukan oleh dokter
yang diuraikan secara rinci dan obyektif.
4. Kesimpulan
Memuat kesimpulan dokter pemeriksa (berdasarkan keilmuannya) tentang
temuannya pada pemeriksaan.
5. Penutup
Memuat penegasan bahwa visum et repertum ini dibuat dengan sejujur-
jujurnya berdasarkan keilmuan yang dimiliki oleh dokter tersebut di bawah
sumpah, sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Pada bagian kesimpulan visum et repertum korban hidup antara kasus perlukaan
dan kasus kejahatan seksual terdapat perbedaan, yaitu:
1. VeR Perlukaan
 Identitas
 Jenis luka
 Jenis kekerasan
 Derajat luka / kualifikasi luka
2. VeR Kejahatan Seksual
 Identitas
 Jenis luka
 Jenis kekerasan
 Tanda persetubuhan
Gambar 1. SPV Gambar 2. Bagian Pendahuluan

Gambar 3 . Bagian pemberitaan Gambar 4. Bagian kesimpulan dan penutup


CHECK LIST
PEMBUATAN VISUM et REPERTUM (Korban Hidup)

No Aspek Penilaian Nilai


0 1 2 3
1 Mengucapkan “Assalamualaikum wr.wb.”
2 Memperkenalkan diri dan menjelaskan tindakan yang
akan dilakukan sesuai permintaan VeR.
3 Memperoleh informed consent dari pasien.
4 Menggunakan cairan antiseptik di tangan dan APD.
5 Mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”
6 Melakukan anamnesa identitas pasien.
7 Melakukan pemeriksaan:
 Keadaan Umum
 Kesadaran
 Tanda-tanda vital
 Berat Badan, Tinggi Badan
 Properti/pakaian
 Tanda-tanda kekerasan pada tiap bagian tubuh
 Tanda-tanda kekerasan dan kelainan pada alat
kelamin pada kasus kejahatan seksual (selaput
dara utuh/tidak, robekan baru/lama, cairan
ejakulat)
 Pemeriksaan penunjang yang diperlukan
(laboratorium, radiologi, serologi)
 Tindakan/terapi yang telah diberikan
8 Mengucapkan terima kasih dan “Jazakumullah khairan
katsiron”
9 Membuat dan mengisi format visum et repertum sesuai
permintaan.
10 Melaporkan hasil visum et repertum kepada penyidik
yang meminta.
PEMBUATAN VISUM ET REPERTUM II (MAYAT)
Mustika Chasanatusy Syarifah, dr., Sp.F

TUJUAN:
Mahasiswa memahami ketentuan pembuatan visum et repertum mayat.

LEARNING OBYEKTIF:
1. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan pada mayat.
2. Mahasiswa mampu membuat visum et repertum mayat.

ALAT DAN BAHAN:


1. Surat Permintaan VeR
2. Alat pelindung diri
3. Meteran/penggaris
4. Probandus

REFERENSI:
1. Yudianto, Ahmad. Aspek Medikolegal Visum et Repertum dan Perlukaan.
Program Magister Ilmu Forensik Program Pascasarjana Unair. Surabaya. 2017
2. Budianto, A., dkk. Ilmu Kedokteran Forensik Edisi I Cetakan II. Ilmu Kedokteran
Forensik FKUI. Jakarta. 1997.

TEORI:
Pengertian visum et repertum adalah suatu laporan tertulis yang dibuat oleh
seorang dokter atau ahli forensik berdasarkan sumpah atas apa yang dilihat dan
ditemukan pada barang bukti (manusia hidup / mati dan bagian-bagiannya)
bersifat obyektif sepanjang pengetahuannya yang sebaik-baiknya.
Visum et repertum merupakan bagian dari bantuan medis pada peradilan seperti
yang tertuang dalam KUHAP pasal 184.

Bagian-bagian visum et repertum adalah:


1. Pembukaan (Pro Justisia)
Bagian ini menandakan bahwa dokumen yang dibuat adalah khusus untuk
kepentingan peradilan.
2. Pendahuluan
Memuat identitas dari dokter pemeriksa, institusi tempat dokter bertugas,
tanggal dan tempat pemeriksaan, institusi penyidik yang meminta, tanggal
surat permintaan, obyek pemeriksaan (sesuai uraian identitas dalam SPV)
3. Pemberitaan
Memuat hasil pemeriksaan medik tentang kelainan yang berkaitan dengan
perkara, termasuk luka korban dan tindakan yang sudah dilakukan oleh dokter
yang diuraikan secara rinci dan obyektif.
4. Kesimpulan
Memuat kesimpulan dokter pemeriksa (berdasarkan keilmuannya) tentang
temuannya pada pemeriksaan.
5. Penutup
Memuat penegasan bahwa visum et repertum ini dibuat dengan sejujur-
jujurnya berdasarkan keilmuan yang dimiliki oleh dokter tersebut di bawah
sumpah, sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku.

Teknik pemeriksaan luar pada mayat:


1. Label mayat
2. Bungkus mayat
3. Benda di sekitar mayat
4. Pakaian mayat
5. Perhiasan mayat
6. Antropometri (jenis kelamin, ras, warna kulit, status gizi)
7. Ciri khusus (tato, jaringan parut/bekas luka/operasi, kelainan kongenital, cacat
didapat)
8. Lebam mayat (distribusi pada tubuh bagian paling bawah, warna merah
kebiruan/keunguan, terbentuk 20-30 menit saat kematian)
9. Kaku mayat (persendian digerakkan, apakah masih lemas/kaku tidak
sempurna/kaku sempurna)
10. Tanda-tanda pembusukan (perut kanan bawah tampak warna kehijauan, kulit
mengelupas, bola mata menonjol, dll)
11. Tanda-tanda kekerasan dan kelainan pada tiap bagian tubuh (kepala-ujung
kaki)

Pada bagian kesimpulan visum et repertum mayat memuat tentang:


1. Identitas
2. Jenis luka
3. Jenis kekerasan
4. Sebab kematian

Sebab kematian adalah kekerasan/penyakit/racun yang mengakibatkan


rangkaian gangguan fisiologi tubuh yang berakhir dengan kematian. Sebab
kematian pada seorang klinisi berbeda dengan sebab kematian pada patologi
forensik. Untuk menentukan sebab kematian korban tindak pidana dengan cara
melalui autopsi forensik. Bila permintaan pemeriksaan dari penyidik tidak berupa
permintaan autopsi, maka sebab kematian tidak dapat ditentukan.
Gambar 1. Lebam mayat

Gambar 2. Tanda pembusukan


Gambar 3. SPV

Gambar 4. Label mayat


Gambar 5. Bagian pemberitaan

Gambar 6. Bagian kesimpulan dan penutup


CHECK LIST
PEMBUATAN VISUM et REPERTUM (Mayat)

No Aspek Penilaian Nilai


0 1 2 3
1 Mengucapkan “Assalamualaikum wr.wb.”
2 Memperkenalkan diri dan menjelaskan tindakan yang
akan dilakukan sesuai permintaan VeR.
3 Memperoleh informed consent dari keluarga pasien.
4 Menggunakan cairan antiseptik di tangan dan APD.
5 Mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”
6 Melakukan pemeriksaan mayat:
 Identifikasi (jenis kelamin, usia, status gizi)
 Tanda-tanda pasti kematian (lebam mayat, kaku
mayat, tanda-tanda pembusukan)
 Properti/pakaian mayat
 Kelainan dan luka pada mayat (tanda-tanda
kekerasan yang ditemukan pada seluruh bagian
tubuh)
 Pemeriksaan tambahan yang diperlukan
(laboratorium, histoPA, DNA)
7 Membuat dan mengisi format visum et repertum sesuai
permintaan.
8 Melaporkan hasil visum et repertum kepada penyidik
yang meminta.
9 Mengucapkan terima kasih dan “Jazakumullah khairan
katsiron”
EDUKASI DAN PENATALAKSANAAN DM TANPA KOMPLIKASI
Ardyarini Dyah Savitri, dr., Sp.PD & Mustika Chasanatusy Syarifah, dr., Sp.F

TUJUAN:
Mahasiswa mampu melakukan edukasi dan penatalaksanaa pasien DM tanpa
komplikasi.

LEARNING OBYEKTIF:
1. Mahasiswa mampu melakukan diagosa DM tanpa komplikasi.
2. Mahasiswa mampu melakukan penatalaksanaan pasien DM tipe 2 tanpa
komplikasi.
3. Mahasiswa mampu melakukan edukasi pasien DM tipe 2 tanpa komplikasi.

ALAT DAN BAHAN: -

REFERENSI:
Perkeni, PB. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di
Indonesia 2015.

TEORI:
Diabetes mellitus (DM) merupakan suatu kelompok penyakit metabolik
dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kerja insulin atau kedua-duanya. Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan
kadar glukosa darah. Keluhan klasik DM: poliuria, polidipsia, polifagia dan

penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya.
 Keluhan lain:

lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi ereksi pada pria, serta
pruritus vulva pada wanita.
Gambar 1. Kriteria diagnosa DM

Penatalaksanaan Diabetes Mellitus


Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup
penyandang diabetes. Tujuan penatalaksanaan meliputi :

1. Tujuan jangka pendek: menghilangkan keluhan DM, 
 memperbaiki kualitas

hidup, dan mengurangi risiko komplikasi 
 akut. 


2. Tujuan jangka panjang: mencegah dan menghambat 
 progresivitas penyulit

mikroangiopati dan makroangiopati. 


3. Tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan 
 mortalitas DM. 


Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan 
 pengendalian glukosa

darah, tekanan darah, berat badan, dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien
secara komprehensif.

Langkah-langkah Penatalaksanaan Umum


Perlu dilakukan evaluasi medis yang lengkap pada pertemuan pertama, yang

meliputi:


1. Riwayat Penyakit (usia, pola makan, status nutrisi, status aktifitas fisik, 

riwayat perubahan berat badan, pengobatan yang sedang dijalani, termasuk

obat yang digunakan, perencanaan makan dan program latihan 
 jasmani,

faktor risiko, riwayat penyakit 
 keluarga, pendidikan, dan 
 status ekonomi).

2. Pemeriksaan Fisik 
 (pengukuran tinggi, berat badan, tekanan darah).

3. Evaluasi Laboratorium (pemeriksaan kadar glukosa darah puasa dan 2 jam 


setelah TTGO, pemeriksaan kadar HbA1c). 


4. Penapisan Komplikasi
 (pemeriksaan profil lipid pada keadaan puasa, tes

fungsi hati, tes fungsi ginjal, tes urin rutin, foto toraks, EKG). 


Langkah-langkah Penatalaksanaan Khusus 


1. Edukasi
Edukasi dengan tujuan promosi hidup sehat, perlu selalu dilakukan sebagai
bagian dari upaya pencegahan dan merupakan bagian yang sangat penting dari
pengelolaan DM secara holistik. Materi edukasi terdiri dari materi edukasi
tingkat awal dan materi edukasi tingkat lanjutan.
a. Materi edukasi pada tingkat awal dilaksanakan di Pelayanan Kesehatan

Primer yang meliputi:


 Materi tentang perjalanan penyakit DM.


 Makna dan perlunya pengendalian dan pemantauan DM secara
berkelanjutan.

 Penyulit DM dan risikonya.


 Intervensi non-farmakologis dan farmakologis serta target


pengobatan.
 Interaksi antara asupan makanan, aktivitas fisik, dan obat
antihiperglikemia oral atau insulin serta obat-obatan lain.


 Cara pemantauan glukosa darah dan pemahaman hasil glukosa darah


atau urin mandiri (hanya jika pemantauan glukosa darah mandiri
tidak tersedia).
 Mengenal gejala dan penanganan awal hipoglikemia.

 Pentingnya latihan jasmani yang teratur.


 Pentingnya perawatan kaki.


 Cara mempergunakan fasilitas perawatan kesehatan.


b. Materi edukasi pada tingkat lanjut dilaksanakan di Pelayanan Kesehatan
Sekunder dan / atau Tersier, yang meliputi:
 Mengenal dan mencegah penyulit akut DM.

 Pengetahuan mengenai penyulit menahun DM.


 Penatalaksanaan DM selama menderita penyakit lain.


 Rencana untuk kegiatan khusus (contoh: olahraga prestasi).


 Kondisi khusus yang dihadapi (contoh: hamil, puasa, hari-hari sakit).
 Hasil penelitian dan pengetahuan masa kini dan teknologi mutakhir
tentang DM.
 Pemeliharaan/perawatan kaki.

2. Terapi Nutrisi Medis (TNM)


TNM merupakan bagian penting dari penatalaksanaan DM Tipe 2 secara
komprehensif. Kunci keberhasilannya adalah keterlibatan secara menyeluruh
dari anggota tim (dokter, ahli gizi, petugas kesehatan yang lain serta pasien
dan keluarganya). Guna mencapai sasaran terapi TNM sebaiknya diberikan
sesuai dengan kebutuhan setiap penyandang DM.
a. Komposisi Makanan yang Dianjurkan terdiri dari:
 Karbohidrat
 (sebesar 45-65% total asupan energi, sukrosa tidak

boleh lebih dari 5% total asupan energi, dianjurkan makan tiga kali
sehari dan bila perlu dapat diberikan makanan selingan seperti
buah atau makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori
sehari).

 Lemak 
 (sekitar 20-25% kebutuhan kalori, dan tidak

diperkenankan melebihi 30% total asupan energi, bahan makanan


yang perlu dibatasi antara lain daging berlemak dan susu
fullcream).

 Protein
 (sebesar 10 – 20% total asupan energi, sumber protein

yang baik adalah ikan, udang, cumi, daging tanpa lemak, ayam
tanpa kulit, produk susu rendah lemak, kacang-kacangan, tahu dan
tempe).

 Natrium 
 (anjuran asupan natrium yaitu <2300 mg perhari,

sumber natrium antara lain adalah garam dapur, vetsin, soda, dan
bahan pengawet seperti natrium benzoat dan natrium nitrit).

 Serat 
 (kacang- kacangan, buah dan sayuran serta sumber

karbohidrat yang tinggi serat, anjuran konsumsi serat adalah 20-35


gram/hari).

 Pemanis Alternatif
 (pemanis alternatif aman digunakan sepanjang

tidak melebihi batas aman (Accepted Daily Intake/ADI), pemanis


tak berkalori termasuk: aspartam, sakarin, acesulfame potassium,
sukralose, neotame).
b. Kebutuhan Kalori
Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan
penyandang DM, antara lain dengan memperhitungkan kebutuhan
kalori basal yang besarnya 25-30 kal/kgBB ideal. Beberapa cara
perhitungan berat badan ideal adalah sebagai berikut:
 Perhitungan berat badan ideal (BBI) menggunakan rumus Broca
yang dimodifikasi:

Berat badan ideal = 90% x (TB dalam cm - 100) x 1 kg.


 Bagi pria dengan tinggi badan di bawah 160 cm dan wanita di


bawah 150 cm, rumus dimodifikasi menjadi:
Berat badan ideal (BBI) = (TB dalam cm - 100) x 1 kg.
BB Normal: BB ideal ± 10 %
Kurus: kurang dari BBI - 10 %
Gemuk: lebih dari BBI + 10 %
 Perhitungan berat badan Indeks Massa Tubuh (IMT). Indeks massa
tubuh dapat dihitung dengan rumus:
2
IMT = BB(kg)/TB(m )
Klasifikasi IMT:

BB Kurang <18,5


BB Normal 18,5-22,9
BB Lebih ≥23,0
c. Jasmani
Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan jasmani dilakukan secara
secara teratur sebanyak 3-5 kali perminggu selama sekitar 30-45 menit,
dengan total 150 menit perminggu. Jeda antar latihan tidak lebih dari 2
hari berturut-turut. Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan glukosa
darah sebelum latihan jasmani. Apabila kadar glukosa darah <100
mg/dL pasien harus mengkonsumsi karbohidrat terlebih dahulu dan
bila >250 mg/dL dianjurkan untuk menunda latihan jasmani. Kegiatan
sehari-hari atau aktivitas sehari-hari bukan termasuk dalam latihan
jasmani meskipun dianjurkan untuk selalu aktif setiap hari. Latihan
jasmani selain untuk menjaga kebugaran juga dapat menurunkan berat
badan dan memperbaiki sensitivitas insulin, sehingga akan
memperbaiki kendali glukosa darah. Latihan jasmani yang dianjurkan
berupa latihan jasmani yang bersifat aerobik dengan intensitas sedang
(50-70% denyut jantung maksimal) seperti: jalan cepat, bersepeda
santai, jogging, dan berenang. Denyut jantung maksimal dihitung
dengan cara mengurangi angka 220 dengan usia pasien.
d. Terapi Farmakologis
Terapi farmakologis diberikan bersama dengan pengaturan makan dan
latihan jasmani (gaya hidup sehat). Terapi farmakologis terdiri dari obat
oral dan bentuk suntikan.
 Obat Antihiperglikemia Oral (sulfonilurea, glinid, metformin, dll)
 Obat Antihiperglikemia Suntik (insulin, agonis GLP-1 dan
kombinasi insulin dan agonis GLP-1).
CHECK LIST
EDUKASI DAN PENATALAKSANAAN DM TANPA KOMPLIKASI

No Aspek Penilaian Nilai


0 1 2 3
1 Mengucapkan “Assalamualaikum wr.wb.”
2 Memperkenalkan diri dan menjelaskan tindakan yang
akan dilakukan.
3 Memperoleh informed consent dari pasien.
4 Menggunakan cairan antiseptik di tangan.
5 Mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”
6 Memperoleh informasi dengan melakukan auto/allo
anamnesa sesuai keluhan pasien:
 Riwayat penyakit sekarang
 Riwayat penyakit dahulu
 Riwayat penyakit keluarga
 Riwayat pengobatan, dll
7 Menjelaskan penatalaksanaan pada pasien DM tipe 2:
 Penatalaksanaan umum
 Penatalaksanaan khusus (edukasi
individu/kelompok)
8 Mengucapkan terima kasih dan “Jazakumullah khairan
katsiron”

EDUKASI PADA GANGGUAN METABOLISME DAN ENDOKRIN


Ardyarini Dyah Savitri, dr., Sp.PD & Mustika Chasanatusy Syarifah, dr., Sp.F

TUJUAN:
Mahasiswa mampu melakukan edukasi pada pasien dengan gangguan
metabolisme dan endokrin.

LEARNING OBYEKTIF:
1. Mahasiswa mampu melakukan penatalaksanaan dan edukasi pada
tirotoksikosis.
2. Mahasiswa mampu melakukan penatalaksanaan dan edukasi pada
hipoglikemia.
3. Mahasiswa mampu melakukan penatalaksanaan dan edukasi pada malnutrisi
energi protein (MEP).

ALAT DAN BAHAN: -


REFERENSI:
Panduan Ketrampilan Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Kesehatan Primer. PB IDI Edisi
I. 2017.

TEORI:
Tirotoksikosis adalah manifestasi klinis akibat kelebihan hormon tiroid yang
beredar didalam sirkulasi. Sebagian besar kejadian tiroroksikosis akibat
hipertiroidisme sehingga kelenjar tiroid memperoleh perintah salah untuk
menghasilkan hormon tiroid yang banyak.. Sehingga perlu diperhatikan bahwa
tirotoksikosis dapat dengan atau tanpa hipertiroidisme, oleh sebab itu
tiroktosikosis di bagi dalam 2 kategori, yaitu:

a. Kelainan yang berhubungan dengan Hipertiroidisme.


b. Kelainan yang tidak berhubungan dengan Hipertiroidisme.

Tirotoksikosis dapat berkembang menjadi krisis tiroid yang merupakan suatu


keadaan klinis hipertiroidisme paling berat karena dapat menyebabkan kematian.
Tirotoksikosis yang fatal biasanya disebabkan oleh autoimun Grave’s disease pada
ibu hamil. Janin yang dikandungnya dapat mengalami tirotoksikosis pula, dan
keadaaan hipertiroid pada janin dapat menyebabkan retardasi pertumbuhan,
kraniosinostosis, bahkan kematian janin.

Hasil Anamnesis

Keluhan
 Pasien dengan tirotoksikosis memiliki gejala antara lain: berdebar-

debar, tremor, iritabilitas, intoleran terhadap panas, keringat berlebihan,


penurunan berat badan, peningkatan rasa lapar (nafsu makan bertambah), diare,
gangguan reproduksi (oligomenore/amenore dan libido turun), mudah lelah,
pembesaran kelenjar tiroid, umumnya penderita merasa sukar tidur, dan rambut
rontok.
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana
Pada pemeriksaan fisik didapatkan: eksoftalmus, takikardia sampai 130-200
x/menit, demam tinggi sampai 40°C, tremor halus, kulit hangat dan basah, rambut
rontok, pembesaran kelenjar tiroid, bruit pada tiroid, dermopati lokal, akropaki,
dapat ditemukan gagal jantung kongestif dan ikterus.

Pemeriksaan Penunjang:


a. Pemeriksaan laboratorium: TSHs sangat rendah, T4/ fT4/ T3 tinggi, anemia


normositik normokrom, limfositosis, hiperglikemia, enzim transaminase hati

meningkat, azotemia prerenal.


b. EKG: sinus takikardia atau fibrilasi, atrial dengan respon ventrikuler cepat.

Diagnosis Klinis


Untuk kasus hipertiroidisme yang biasa, diagnosis yang tepat adalah dengan
melakukan pengukuran langsung konsentrasi tiroksin bebas di dalam plasma
(serum free T4 & T3 meningkat dan TSH sedikit / tdk ada) dengan menggunakan

cara pemeriksaan radioimunologik yang tepat.
 Diagnosis tirotoksikosis sering

dapat ditegakkan secara klinis tanpa pemeriksaan laboratorium, namun untuk


menilai kemajuan terapi tanpa pemeriksaan penunjang sulit dideteksi.

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif

Penatalaksanaan


a. Pemberian obat simptomatis


b. Propanolol dosis 40-200 mg dalam 4 dosis.

Konseling dan edukasi perlu dilakukan agar terbangun dukungan keluarga dalam
hal kepatuhan meminum obat.
Hipoglikemia adalah keadaan dimana kadar glukosa darah <60 mg/dL, atau
dengan gejala klinis dan kadar glukosa darah <80 mg/dL. Hipoglikemia merupakan
komplikasi akut dari penyandang diabetes melitus dan geriatri. Hipoglikemia
dapat terjadi karena:
1. Kelebihan obat/ dosis obat, terutama insulin atau obat hipoglikemia oral yaitu

sulfonilurea. 


2. Kebutuhan tubuh akan insulin yang relatif menurun; gagal ginjal kronik pasca

persalinan. 


3. Asupan makan tidak adekuat: jumlah kalori atau waktu makan tidak tepat. 


4. Kegiatan jasmani berlebihan. 


Hasil Anamnesis
Tanda dan gejala hipoglikemia dapat bervariasi pada setiap individu dari yang
ringan sampai berat, sebagai berikut: rasa gemetar, perasaan lapar, pusing,
keringat dingin, jantung berdebar, gelisah, terjadi penurunan kesadaran bahkan
sampai koma dengan atau tanpa kejang. Koma hipoglikemi dapat mengakibatkan
kerusakan sel otak permanen sampai meninggal.
Pada pasien atau keluarga perlu ditanyakan adanya riwayat penggunan
preparat insulin atau obat hipoglemik oral, dosis terakhir, waktu pemakaian
terakhir, perubahan dosis, waktu makan terakhir, jumlah asupan makanan,
aktivitas fisik yang dilakukan.

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana


Pemeriksaan Fisik: pucat, diaphoresis/keringat dingin, tekanan darah
menurun, frekuensi denyut jantung meningkat, penurunan kesadaran, defisit
neurologik fokal (refleks patologis positif pada satu sisi tubuh) sesaat.
Pemeriksaan Penunjang: kadar glukosa darah.

Penegakan Diagnosis
Diagnosis hipoglikemia ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya dan hasil
pemeriksaan kadar gula darah. Penyebabnya bisa ditentukan berdasarkan riwayat
kesehatan penderita, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium sederhana.
Trias whipple untuk hipoglikemia secara umum:
1. Gejala yang konsisten dengan hipoglikemia

2. Kadar glukosa plasma rendah


3. Gejala mereda setelah kadar glukosa plasma meningkat

Rencana Penatalaksanaan Komprehensif


Penatalaksanaan
1. Stadium permulaan (sadar):
a. Berikan gula murni 30 gram (2 sendok makan) atau sirop/permen atau
gula murni (bukan pemanis pengganti gula atau gula diet/ gula

diabetes) dan makanan yang mengandung karbohidrat. 


b. Hentikan obat hipoglikemik sementara. Pantau glukosa darah sewaktu

tiap 1-2 jam. 


c. Pertahankan GD sekitar 200 mg/dL (bila sebelumnya tidak sadar). 


d. Cari penyebab hipoglikemia dengan anamnesis baik auto maupun 
 allo

anamnesis. 

2. Stadium lanjut (koma hipoglikemia atau tidak sadar dan curiga 


hipoglikemia):
a. Diberikan larutan destrosa 40% sebanyak 2 flakon (=50 mL) bolus intra
vena.

b. Diberikan cairan dekstrosa 10 % per infuse, 6 jam perkolf. 


Konseling dan Edukasi


Seseorang yang sering mengalami hipoglikemia (terutama penderita diabetes),


hendaknya selalu membawa tablet glukosa karena efeknya cepat timbul dan
memberikan sejumlah gula yang konsisten.

Kriteria Rujukan
 Pasien hipoglikemia dengan penurunan kesadaran harus

dirujuk ke layanan sekunder (spesialis penyakit dalam) setelah diberikan


dekstrose 40% bolus dan infus dekstrose 10% dengan tetesan 6 jam per kolf.
MEP adalah penyakit akibat kekurangan energi dan protein umumnya disertai

defisiensi nutrisi lain.
 Klasifikasi dari MEP adalah: kwashiorkor, marasmus,

marasmus kwashiorkor.

Hasil Anamnesis
Kwashiorkor, dengan keluhan:
1. Edema
2. Wajah sembab
3. Pandangan sayu
4. Rambut tipis, kemerahan seperti warna rambut jagung, mudah dicabut
tanpa sakit, rontok.
5. Anak rewel, apatis.
Marasmus, dengan keluhan: 


1. Sangat kurus
2. Cengeng
3. Rewel

4. Kulit keriput 


Marasmus Kwashiorkor, dengan keluahan kombinasi dari ke 2 penyakit tersebut

diatas. 


Faktor Risiko:
1. Berat badan lahir rendah
2. HIV
3. Infeksi TB
4. Pola asuh yang salah

Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana


Pemeriksaan Fisik Patognomonis

a. BB/TB < 70% atau < -3SD 


b. Marasmus: tampak sangat kurus, tidak ada jaringan lemak bawah kulit, 


anak tampak tua, baggy pants appearance. 


c. Kwashiorkor: edema, rambut kuning mudah rontok, crazy pavement 


dermatoses 


d. Tanda dehidrasi 


e. Demam 

f. Frekuensi dan tipe pernapasan: pneumonia atau gagal jantung 


g. Sangat pucat 


h. Pembesaran hati, ikterus 


i. Tanda defisiensi vitamin A pada mata: konjungtiva kerig, ulkus kornea, 


keratomalasia 


j. Ulkus pada mulut 


k. LILA < 11,5 cm untuk anak 6-59 bulan 


Pemeriksaan Penunjang

a. Laboratorium: gula darah, Hb, Ht, preparat apusan darah, urine rutine, 


feses. 


b. Antropometri. 


c. Foto toraks. 


d. Uji tuberkulin. 


Diagnosis ditegakkan berdasarkan tanda dan gejala klinis serta pengukuran


antropometri. Anak didiagnosis dengan gizi buruk, apabila:

a. BB/TB < -3SD atau 70% dari median (marasmus). 


b. Edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh (kwashiorkor: 


BB/TB >-3SD atau marasmik-kwashiorkor BB/TB <-3SD). 



Penanganan pasien dengan MEP, yaitu:

1. Vitamin A dosis tinggi diberikan pada anak gizi buruk dengan dosis 
 sesuai

umur pada saat pertama kali ditemukan. 


2. Makanan untuk pemulihan gizi dapat berupa makanan lokal atau 


pabrikan.

a. Jenis pemberian ada 3 pilihan: makanan therapeuticatau gizi siap 


saji, F100 atau makanan lokal dengan densitas energi yg sama 


terutama dari lemak (minyak/santan/margarin). 


b. Pemberian jenis makanan untuk pemulihan gizi disesuaikan masa 


pemulihan (rehabilitasi): 


 1 minggu pertama pemberian F100.


 Minggu berikutnya jumlah dan frekuensi F100 dikurangi


seiring dengan penambahan makanan keluarga.

Konseling dan Edukasi


1. Menyampaikan informasi kepada ibu/pengasuh tentang hasil penilaian

pertumbuhan anak.


2. Mewawancarai ibu untuk mencari penyebab
 kurang gizi.

3. Memberi nasihat sesuai penyebab
 kurang gizi.

4. Memberikan anjuran pemberian makan sesuai umur dan kondisi anak dan
cara menyiapkan makan formula, melaksanakan anjuran makan dan
memilih atau mengganti makanan.
Kriteria Rujukan


1. Bila terjadi komplikasi, seperti: sepsis, dehidrasi berat, anemia berat,

penurunan kesadaran.


2. Bila terdapat penyakit komorbid, seperti: pneumonia berat.


CHECK LIST
EDUKASI PADA GANGGUAN METABOLISME DAN ENDOKRIN

No Aspek Penilaian Nilai


0 1 2 3
1 Mengucapkan “Assalamualaikum wr.wb.”
2 Membuka sesi dengan menyapa pasien (membangun
sambung rasa)
3 Mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”
4 Memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan
edukasi.
5 Menyampaikan waktu edukasi dan kapan pertanyaan
boleh diajukan.
6 Menyampaikan materi edukasi secara ringkas, padat, dan
menggunakan bahasa yang sederhana.
7 Apabila diperlukan dapat menggunakan alat bantu dan
media yang sesuai tujuan edukasi.
7 Beberapa kali mengecek pemahaman pasien.
8 Memberikan kesempatan kepada pasien untuk
mengajukan pertanyaan.
9 Menyampaikan kesimpulan.
10 Mengucapkan terima kasih dan “Jazakumullah khairan
katsiron”
TRANSPORT PASIEN
Ainul Rofiq, dr., Sp.An (K) & Mustika Chasanatusy Syarifah, dr., Sp.F

TUJUAN:
Mahasiswa mampu memindahkan pasien dengan cara yang tepat.

LEARNING OBYEKTIF:
1. Mahasiswa mampu memindahkan korban darurat.
2. Mahasiswa mampu memindahkan korban non darurat.

ALAT DAN BAHAN: -

REFERENSI:
Perry, Petterson, Potter. Ketrampilan Prosedur Dasar. Penerbit Buku Kedokteran
EGC. Jakarta. 2005.

TEORI:
Dasar-dasar pengangkatan:

1. Rencanakan setiap gerakan.


2. Pertahankan sikap tegak saat berdiri, berlutut, maupun duduk, jangan

membungkuk.

3. Konsentrasikan beban pada otot paha bukan punggung.


4. Gunakan otot fleksor (otot untuk menekuk bukan meluruskan).


5. Saat mengangkat dengan tangan, telapak tangan menghadap ke arah depan.

6. Jaga titik berat badan sedekat mungkin ke tubuh anda.


7. Gunakan alat bantu.


8. Jarak antara kedua lengan dan tungkai adalah selebar bahu.


9. Posisi awal dalam posisi berlutut, satu tungkai bertekuk pada lutut dengan
tungkai bawah sejajar lantai. Tungkai lain bertekuk pada lutut dengan telapak
kaki bertumpu pada lantai.

Memindahkan korban darurat:

1. Menggendong korban di belakang punggung.


2. Menopang korban dari sisi sambil berjalan oleh satu penolong.


3. Membopong korban oleh satu penolong seperti membawa anak kecil.


4. Cara mengangkat lalu membopongnya seperti cara pemadam kebakaran.


Gambar 7.1 menggendong Gambar 7.2 menopang Gambar 7.3 membopong

Memindahkan korban non darurat

1. Dapat menunggu bantuan untuk mengangkat korban


2. Dua penolong, masing-masing di sisi kepala dan kaki korban


3. Pengangkatan dilakukan pada keempat ekstremitas


4. Jangan gunakan cara ini jika terdapat cedera pada lengan dan tungkai korban
atau jika kemungkinan ada patah tulang belakang

Gambar 7.4 memindahkan dengan 2 penolong


CHECK LIST
TRANSPORT PASIEN

No Aspek Penilaian Nilai


0 1 2 3
1 Mengucapkan “Assalamualaikum wr.wb.”
2 …….
3 Mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”
4 Melakukan teknik transport pasien:
 Darurat
 Non darurat
5 ………
6 ………
7 Menyampaikan hasil tindakan transport pasien.
8 Mengucapkan terima kasih dan “Jazakumullah khairan
katsiron”
BASIC LIFE SUPPORT I (DEWASA)
Ainul Rofiq, dr., Sp.An (K) & Mustika Chasanatusy Syarifah, dr., Sp.F

TUJUAN:
Mahasiswa mampu melakukan bantuan hidup dasar pada dewasa sesuai
kompetensi dokter.

LEARNING OBYEKTIF:
1. Mahasiswa mampu melakukan penilaian respon pasien dewasa.
2. Mahasiswa mampu melakukan pertolongan bantuan hidup dasar pada pasien
dewasa.

ALAT DAN BAHAN:

1. Alat pelindung diri (APD).


2. Sungkup


3. Kantung pernapasan (bag valve mask)

4. Sumber oksigen

5. OPA (oropharyngeal airway)

REFERENSI:
1. Panduan Ketrampilan Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Kesehatan Primer. PB IDI.
Edisi I. 2017.
2. Perhimpunan dokter spesialis kardiovaskular Indonesia. Buku Panduan
Bantuan Hidup Jantung Dasar BCLS Indonesia. Jakarta: PP PERKI. 2012.

TEORI:
Basic Life Support adalah tindakan pertolongan medis sederhana pada
penderita yang mengalami henti jantung sebelum diberikan tindakan pertolongan
medis lanjutan.
Tujuan dari BLS adalah memberikan bantuan sirkulasi dan pernapasan yang
adekuat sampai keadaan henti jantung teratasi atau sampai penderita dinyatakan
meninggal.
Teknik Tindakan
1. Penilaian respons dilakukan setelah penolong yakin bahwa dirinya sudah aman
untuk melakukan pertolongan. Penilaian respons dilakukan dengan menepuk-

nepuk dan menggoyangkan penderita sambil memanggil penderita.


a. Jika penderita menjawab atau bergerak terhadap respons yang diberikan,


usahakan tetap mempertahankan posisi seperti pada saat ditemukan atau

posisikan ke posisi mantap.


b. Jika penderita tidak merespons serta tidak bernapas atau bernapas tidak

normal, maka dianggap mengalami kejadian henti jantung.


2. Jika pasien tidak respons, aktivasi sistem layanan gawat darurat dengan minta
bantuan orang terdekat atau penolong sendiri yang menelepon jika tidak ada

orang lain.

3. Periksa denyut nadi arteri karotis dalam waktu maksimal 10 detik.

Gambar 8.1 Palpasi A. Karotis

4. Lakukan kompresi dada:

a. Penderita dibaringkan di tempat yang datar dan keras. 


b. Tentukan lokasi kompresi dada dengan cara meletakkan telapak tangan


yang telah saling berkaitan di bagian setengah bawah sternum.


c. Frekuensi minimal 100 kali per menit dengan kedalaman minimal 5 cm.
d. Penolong melakukan kompresi dengan perbandingan kompresi dan
ventilasi 30:2.

Gambar 8.2 Teknik Kompresi Dada


Gambar 8.3 Teknik gerakan kompresi dada

5. Setelah lakukan kompresi 30 kali, lakukan ventilasi dengan membuka jalan

napas dengan teknik:


a. Head tilt chin lift maneuver.


 Dorong kepala korban dengan mendorong dahi ke belakang (head tilt)
dan pada saat yang bersamaan dagu korban (chin lift)

Gambar 8.4 Head tilt chin lift maneuver

b. Jaw thrust

 Letakkan siku-siku pada bidang datar tempat korban dibaringkan. Cari
rahang bawah. Pegang rahang bawah dengan jari-jari kedua tangan dari

sisi kanan dan kiri korban


 Dorong rahang bawah dengan mendorong kedua sudutnya ke depan

dengan jari-jari kedua tangan


 Buka mulut korban dengan ibu jari dan jari telunjuk kedua tangan

Gambar 8.5 Jaw thrust

c. Pasang OPA jika tersedia.

Gambar 8.6 Oropharyngeal Airway

Pengelolaan jalan napas dengan head tilt-chin lift dan jaw thrust. Head tilt
chin lift tidak dianjurkan pada korban yang dicurigai menderita cedera
kepala, cedera leher, dan cedera tulang belakang.
6. Berikan napas bantuan dengan metode:
Mulut ke mulut:
a. Pertahankan posisi head tilt chin lift. Jepit hidung dengan menggunakan ibu
jari dan telunjuk tangan.
b. Buka sedikit mulut penderita, tarik napas panjang, dan tempelkan rapat
bibir penolong melingkari mulut penderita. Hembuskan napas lambat
setiap tiupan selama 1 detik. Pastikan dada terangkat.
c. Lepaskan mulut penolong dari mulut penderita, lihat apakah dada
penderita turun waktu ekshalasi.

Gambar 8.7 Resusitasi mulut ke mulut

Mulut ke hidung:
a. Katupkan mulut penderita disertai chin lift, kemudian hembuskan udara
seperti pernapasan mulut ke mulut. Buka mulut penderita waktu ekshalasi.
Gambar 8.8 Resusitasi mulut ke hidung

Mulut ke sungkup:
a. Letakkan sungkup pada muka penderita dan dipegang dengan kedua ibu
jari.
b. Lakukan head tilt chin lift / jaw thrust. Tekan sungkup ke muka penderita

dengan rapat.


c. Hembuskan udara melalui lubang sungkup hingga dada terangkat.

d. Amati turunnya pergerakan dinding dada.


Gambar 8.9 Mulut ke sungkup


Dengan kantung pernapasan
a. Tempatkan tangan untuk membuka jalan japas.
b. Letakkan sungkup menutupi muka dengan teknik E-C clamp (bila seorang
diri) yaitu dengan meletakkan jari ketiga, keempat, kelima membentuk
huruf E dan diletakkan dibawah rahang bawah dan mengekstensi dagu
serta rahang bawah; ibu jari dan telunjuk membentuk huruf C untuk
mempertahankan sungkup.
c. Bila 2 penolong, 1 penolong berada pada posisi di atas kepala penderita dan
dengan menggunakan ibu jari dan telunjuk tangan kiri dan kanan
mencegah agar tidak terjadi kebocoran disekitar sungkup. Jari-jari yang lain
mengektensikan kepala sambil melihat pergerakan dada. Penolong kedua
memompa kantung sampai dada terangkat.

7. Cek irama jantung dan ulangi siklus setiap 2 menit.

Gambar 8.10 Pertolongan dengan 2 penolong

Indikasi bantuan hidup dasar:

- Henti jantung

- Henti napas


- Tidak sadarkan diri

Gangguan jalan napas adalah berupa sumbatan jalan napas:

- Sumbatan di atas laring


- Sumbatan pada laring


- Sumbatan di bawah laring

Kondisi yang menyebabkan gangguan oksigenasi dan ventilasi:


- Infeksi

- Aspirasi


- Edema paru


- Kontusio paru


- Kondisi tertentu yang menyebabkan rongga paru tertekan oleh benda asing.

Sebab-sebab henti jantung:


- Faktor primer (dari jantung sendiri)
- Faktor sekunder

Keberhasilan bantuan hidup dasar (basic life support):


- Warna kulit berubah dari sianosis menjadi kemerahan


- Pupil akan mengecil
- Pulihnya denyut nadi spontan
CHECK LIST
BASIC LIFE SUPPORT I (DEWASA)

No Aspek Penilaian Nilai


0 1 2 3
1 Mengucapkan “Assalamualaikum wr.wb.”
2 Mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”
3 Penilaian respons dilakukan setelah penolong yakin
bahwa dirinya sudah aman untuk melakukan
pertolongan. Penilaian respons dilakukan dengan
menepuk- nepuk dan menggoyangkan penderita sambil
memanggil penderita.
4 Jika pasien tidak respons, aktivasi sistem layanan gawat
darurat dengan minta bantuan orang terdekat atau
penolong sendiri yang menelepon jika tidak ada orang
lain.

5 Periksa denyut nadi arteri karotis dalam waktu maksimal
10 detik.
6 Lakukan kompresi dada.
7 Setelah lakukan kompresi 30 kali, lakukan ventilasi
dengan membuka jalan napas.
7 Berikan napas bantuan, dengan perbandingan kompresi
dan ventilasi 30:2.
8 Cek irama jantung dan ulangi siklus setiap 2 menit.
9 Lakukan sampai kriteria berhasil/dihentikan.
10 Mengucapkan terima kasih dan “Jazakumullah khairan
katsiron”

BASIC LIFE SUPPORT II (ANAK)


Ainul Rofiq, dr., Sp.An (K) & Mustika Chasanatusy Syarifah, dr., Sp.F

TUJUAN:
Mahasiswa mampu melakukan bantuan hidup dasar pada anak sesuai kompetensi
dokter.

LEARNING OBYEKTIF:
1. Mahasiswa mampu melakukan penilaian respon pasien anak.
2. Mahasiswa mampu melakukan pertolongan bantuan hidup dasar pada pasien
anak.

ALAT DAN BAHAN:

1. Alat pelindung diri (APD).


2. Sungkup


3. Kantung pernapasan (bag valve mask)

4. Sumber oksigen


5. OPA (oropharyngeal airway)

REFERENSI:
1. Panduan Ketrampilan Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Kesehatan Primer. PB IDI.
Edisi I. 2017.
2. Perhimpunan dokter spesialis kardiovaskular Indonesia. Buku Panduan
Bantuan Hidup Jantung Dasar BCLS Indonesia. Jakarta: PP PERKI. 2012.

TEORI:
Teknik tindakan pada anak:
1. Pemeriksaan nadi bayi kurang dari satu tahun dilakukan pada arteri brachialis
atau arteri femoralis. Untuk anak diatas satu tahun, pemeriksaan dilakukan
sama seperti pada orang dewasa.
2. Jika pulsasi teraba, berikan 1 bantuan napas tiap 3 detik. Berikan kompresi jika
denyut jantung <60/menit dengan perfusi yang buruk walaupun setelah
oksigenasi dan ventilasi yang adekuat.

3. Kompresi pada anak usia 1-8 tahun:


a. Menekan sternum sekitar 5 cm dengan kecepatan minimal 100 kali per


menit.
b. Setelah 30 kali kompresi, buka jalan napas dan berikan 2 kali napas

bantuan sampai dada terangkat (1 penolong).


c. Kompresi dan napas buatan dengan rasio 15:2 (2 penolong).

Gambar 9.1 Cek nadi pada bayi

4. Kompresi dada pada bayi:


a. Letakkan 2 jari satu tangan pada setengah bawah sternum; lebar 1 jari

berada di bawah garis intermammari.


b. Menekan sternum sekitar 4 cm kemudian angkat tanpa melepas jari dari

sternum dngan kecepatan minimal 100 kali per menit.


c. Setelah 30 kali kompresi, buka jalan napas dan berikan 2 kali napas

bantuan sampai dada terangkat (1 penolong).


d. Kompresi dan napas bantuan dengan rasio 15:2 jika 2 penolong.


Gambar 9.2 Kompresi dada pada bayi

Gambar 9.3 Pemakaian sungkup pada bayi

Gambar 9.4 Kompresi dada pada dewasa, anak-anak dan bayi

5. Jika bayi atau anak sudah kembali ke dalam sirkulasi spontan, maka baringkan
anak atau bayi ke posisi mantap.
a. Gendong bayi di lengan penolong sambil menyangga perut dan dada bayi
dengan kepala bayi terletak lebih rendah.

b. Usahakan tidak menutup mulut dan hidung bayi. 



c. Monitor dan rekam tanda vital, kadar respons, denyut nadi, dan

pernapasan. 


Gambar 9.5 Posisi recovery pada bayi dan anak

CHECK LIST
BASIC LIFE SUPPORT II (ANAK)

No Aspek Penilaian Nilai


0 1 2 3
1 Mengucapkan “Assalamualaikum wr.wb.”
2 Mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”
3 Pemeriksaan nadi bayi kurang dari satu tahun dilakukan
pada arteri brachialis atau arteri femoralis. Untuk anak
diatas satu tahun, pemeriksaan dilakukan sama seperti
pada orang dewasa.
4 Jika pulsasi teraba, berikan 1 bantuan napas tiap 3 detik.
Berikan kompresi jika denyut jantung <60/menit dengan
perfusi yang buruk walaupun setelah oksigenasi dan
ventilasi yang adekuat.

5 Lakukan kompresi dada:
a. pada anak:
 Menekan sternum sekitar 5 cm dengan
kecepatan minimal 100 kali per menit.
 Setelah 30 kali kompresi, buka jalan napas
dan berikan 2 kali napas bantuan sampai
dada terangkat (1 penolong).

 Kompresi dan napas buatan dengan rasio
15:2 (2 penolong).
b. pada bayi:
 Letakkan 2 jari satu tangan pada setengah
bawah sternum; lebar 1 jari berada di
bawah garis intermammari.

 Menekan sternum sekitar 4 cm kemudian
angkat tanpa melepas jari dari sternum
dngan kecepatan minimal 100 kali per
menit.

 Setelah 30 kali kompresi, buka jalan napas
dan berikan 2 kali napas bantuan sampai
dada terangkat (1 penolong).

 Kompresi dan napas bantuan dengan rasio
15:2 jika 2 penolong.
6 Jika bayi atau anak sudah kembali ke dalam sirkulasi
spontan, maka baringkan anak atau bayi ke posisi
mantap.
7 Mengucapkan terima kasih dan “Jazakumullah khairan
katsiron”

INTUBASI DEWASA
Ainul Rofiq, dr., Sp.An (K) & Mustika Chasanatusy Syarifah, dr., Sp.F

TUJUAN:
Mahasiswa mampu melakukan pemasangan endotracheal tube pada dewasa sesuai
kompetensi dokter.

LEARNING OBYEKTIF:
1. Mahasiswa mengetahui indikasi pemasangan intubasi pipa endotrakeal (ETT).
2. Mahasiswa mampu melakukan pemasangan intubasi pipa endotrakeal (ETT)
pada pasien dewasa.

ALAT DAN BAHAN:

1. Laryngoscope lengkap.


2. Pipa endotrakeal (orotracheal)


3. Forceps magill

4. Anestesi lokal semprot


5. Spuit 10 cc atau 20 cc
6. Stetoskop, ambubag, dan masker oksigen
7. Alat penghisap lendir
8. Plester, gunting, jelli
9. Stilet

REFERENSI:
1. Materi Pelatihan General Emergency Life Support (GELS).
2. Advanced Trauma Life Support (ATLS)

TEORI:
Intubasi endotrakeal adalah tindakan memasukan pipa endotrakea ke dalam
trakea sehingga jalan nafas bebas hambatan dan pertukaran gas adekuat. Jalan
nafas yang terjaga menyebabkan pemberian ventilasi dan oksigen lebih terjamin.
Kemungkinan aspirasi cairan lambung lebih kecil. Tekanan udara pernafasan juga
menjadi mudah dikendalikan dan penggunaan Positive End Expiratory Pressure
(PEEP) dapat dilakukan dengan mengatur katup ekspirasi.

INDIKASI :
1. Pada keadaan darurat:
a. gagal napas akut
b. ventilasi atau oksigenasi yang tidak adekuat
c. proteksi jalan napas (hilangnya refleks pernapasan, koma, henti jantung,
obstruksi jalan napas, perdarahan faring, tindakan profilaksis pada pasien
tidak sadar)
2. Pada keadaan pre-operatif:

a. Pasien dengan anestesi umum. 


b. Tindakan operasi yang berhubungan dengan jalan napas. 


c. Tindakan operasi yang melibatkan posisi khusus. 
 


3. Pada keadaan lain:

a. Hiperventilasi jangka pendek untuk meningkatkan tekanan intrakranial. 


b. Untuk mengatasi lendir atau perdarahan dari jalan napas. 


TEKNIK PEMASANGAN PIPA ET PADA DEWASA:


a. Beritahukan pada penderita atau keluarga mengenai prosedur tindakan yang
akan dilakukan, indikasi dan komplikasinya, dan mintalah persetujuan dari

penderita atau keluarga (informed consent). 


b. Cek alat yang diperlukan, pastikan semua berfungsi dengan baik. Laringoskop
terdiri dari blade (bilah) dan handle (gagang). Pasang blade dan handle, cek
lampu harus menyala terang, memegang laringoskop dengan tangan kiri dan
posisi tangan memegang pada handle.

Gambar 10.1 Laringoskop

c. Pilih pipa endotrakeal (ET) yang sesuai ukuran, dewasa (6,5 - 8,5 atau kurang
lebih sebesar kelingking kiri pasien). Masukkan stilet ke dalam pipa ET. Jangan
sampai ada penonjolan keluar pada ujung balon, buat lengkungan pada pipa
dan stilet dan cek fungsi balon dengan mengembangkan dengan udara 10 ml.
Jika fungsi baik, kempeskan balon. Beri pelumas (lubrikasi) pada ujung pipa ET

sampai daerah cuff. 


Gambar 10.2 pipa ET


d. Pertahankan kepala sedikit ekstensi. (jika resiko fraktur servikal dapat
disingkirkan).
e. Bila perlu lakukan penghisapan lendir pada mulut dan faring dan berikan
semprotan bensokain atau tetrakain jika pasien sadar atau tidak dalam
keadaan anestesi dalam. 


f. Lakukan hiperventilasi minimal 30 detik melalui bag masker.


Gambar 10.3 Hiperventilasi


g. Buka mulut dengan cara cross finger dan tangan kiri memegang laringoskop.
h. Masukkan bilah laringoskop dengan lembut menelusuri mulut sebelah kanan,
sisihkan lidah ke kiri. Masukkan bilah sedikit demi sedikit sampai ujung
laringoskop mencapai dasar lidah, perhatikan agar lidah atau bibir tidak

terjepit di antara bilah dan gigi pasien.


Gambar 10.4 Posisi memasukkan laringoskop

i. Angkat laringoskop ke atas dan ke depan dengan kemiringan 30 samapi 40


sejajar aksis pengangan. Jangan sampai menggunakan gigi sebagai titik tumpu.

Gambar 10.5 Posisi tangan memegang laringoskop dan pipa ET

j. Bila pita suara sudah terlihat, tahan tarikan / posisi laringoskop dengan
menggunakan kekuatan siku dan pergelangan tangan. Masukkan pipa ET dari
sebelah kanan mulut ke faring sampai bagian proksimal dari cuff ET melewati
pita suara ± 1 – 2 cm atau pada orang dewasa atau kedalaman pipa ET ±19 -23
cm. Waktu memasang pipa ET lakukan penekanan pada krikoid (oleh asisten)
untuk mencegah regurgitasi yang mengakibatkan aspirasi. Tekanan tersebut
dipertahankan sampai setelah pipa ET masuk dan cuff dikembangkan.
k. Angkat laringoskop dan stilet pipa ET dan isi balon dengan udara 5 – 10 ml.
Waktu intubasi tidak boleh lebih dari 30 detik.
l. Hubungkan pipa ET dengan ambubag dan lakukan ventilasi sambil melakukan
auskultasi (asisten), pertama pada lambung, kemudian pada paru kanan dan
kiri sambil memperhatikan pengembangan dada. Bila terdengar gurgling pada
lambung dan dada tidak mengembang, berarti pipa ET masuk ke esofagus dan
pemasangan pipa harus diulangi setelah melakukan hiperventilasi ulang
selama 30 detik. Berkurangnya bunyi nafas di atas dada kiri biasanya
mengindikasikan pergeseran pipa ke dalam bronkus utama kanan dan
memerlukan tarikan beberapa cm dari pipa ET.
m. Setelah bunyi nafas optimal dicapai, kembangkan balon cuff dengan
menggunakan spuit 10 cc.

Gambar 10.6 Posisi balon cuff saat dikembangkan

n. Lakukan fiksasi pipa dengan plester agar tak terdorong atau 
 tercabut. 


o. Pasang orofaring untuk mencegah pasien menggigit pipa 
 ET jika mulai sadar.

p. Lakukan ventilasi terus dengan oksigen 100 % (aliran 10 
 sampai 12 liter per

menit). 


Gambar 10.7 Ventilasi setelah pipa ET terpasang


KOMPLIKASI

a. Pipa ET masuk ke dalam esofagus yang dapat menyebabkan hipoksia. 


b. Luka pada bibir dan lidah akibat terjepit antara laringoskop dengan gigi. 


c. Gigi patah. 


d. Laserasi pada faring dan trakea akibat stilet pada ujung 
 pipa. 


e. Kerusakan pita suara. 


f. Perforasi pada faring dan esofagus. 


g. Muntah dan aspirasi 



CHECK LIST
INTUBASI DEWASA

No Aspek Penilaian Nilai


0 1 2 3
1 Mengucapkan “Assalamualaikum wr.wb.”
2 Mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim”
3 Beritahukan pada penderita atau keluarga mengenai
prosedur tindakan yang akan dilakukan, indikasi dan
komplikasinya, dan mintalah persetujuan dari penderita
atau keluarga (informed consent).
4 Cek alat yang diperlukan.

5 Pertahankan kepala sedikit ekstensi. (jika resiko fraktur


servikal dapat disingkirkan).
6 Bila perlu lakukan penghisapan lendir pada mulut dan
faring dan berikan semprotan bensokain atau tetrakain
jika pasien sadar atau tidak dalam keadaan anestesi
dalam.
7 Lakukan hiperventilasi minimal 30 detik melalui bag
masker.
8 Buka mulut dengan cara cross finger dan tangan kiri
memegang laringoskop
9 Masukkan bilah laringoskop dengan lembut menelusuri
mulut sebelah kanan, sisihkan lidah ke kiri. Masukkan
bilah sedikit demi sedikit sampai ujung laringoskop
mencapai dasar lidah, perhatikan agar lidah atau bibir
tidak terjepit di antara bilah dan gigi pasien.
10 Angkat laringoskop ke atas dan ke depan dengan
kemiringan 30 samapi 40 sejajar aksis pengangan.
Jangan sampai menggunakan gigi sebagai titik tumpu.
11 Bila pita suara sudah terlihat, tahan tarikan / posisi
laringoskop dengan menggunakan kekuatan siku dan
pergelangan tangan. Masukkan pipa ET dari sebelah
kanan mulut ke faring sampai bagian proksimal dari cuff
ET melewati pita suara ± 1 – 2 cm atau pada orang
dewasa atau kedalaman pipa ET ±19 -23 cm.
12 Angkat laringoskop dan stilet pipa ET dan isi balon
dengan udara 5 – 10 ml. Waktu intubasi tidak boleh lebih
dari 30 detik.
13 Hubungkan pipa ET dengan ambubag dan lakukan
ventilasi sambil melakukan auskultasi (asisten), pertama
pada lambung, kemudian pada paru kanan dan kiri
sambil memperhatikan pengembangan dada.
14 Setelah bunyi nafas optimal dicapai, kembangkan balon
cuff dengan menggunakan spuit 10 cc.
15 Lakukan fiksasi pipa dengan plester agar tak terdorong
atau 
 tercabut. 

16 Pasang orofaring untuk mencegah pasien menggigit pipa

 ET jika mulai sadar.
17 Lakukan ventilasi terus dengan oksigen 100 % (aliran 10

 sampai 12 liter per menit).
18 Mengucapkan terima kasih dan “Jazakumullah khairan
katsiron”